[Dear Bule Hunter] Kawin Sama Bule itu Nggak Enak

Beberapa hari yang lalu ada yang searching dengan kata kunci “kawin sama bule enak gak, pindah ke negaranya dan ganti kewarganegaraan?” Semenjak saya beli domain binibule ini emang kata kuncinya selalu sensasional dan jadi hiburan tersendiri. Buat siapapun yang bertanya, ingatlah kalau hujan batu di negeri sendiri itu lebih enak ketimbang hujan emas di negeri orang. Hidup di Indonesia nggak bisa dibilang hujan batu karena sebenernya hidup di Indonesia itu enak banget. Mau bukti?

1)      Mau beli ini itu deket

Di negeri kita itu mau beli apa-apa deket dan gampang. Saya nggak ngomongin lipstick NARS yang nggak eksis di Indonesia *curhat*, tapi cabe, garam, atau air dalam kemasan. Mau beli mah selemparan batu aja, tinggal ke warung seberang, warung pojokan, warung ujung gang atau kalau lebih males lagi, angkat telpon dan minta dianterin. Di jalan, di dalam kereta pun kalau mau apa-apa gampang, bisa buka jendela beli dari asongan atau melipir bentar ke trotoar, cari pedagang. Kalau macet pun di Jakarta atau di Puncak, mendadak kita dimanjakan dengan aneka rupa penganan, dari kerupuk, bakpao, tahu, gemblong. Semua pedagana dengan leluasa jualan di tengah jalan.

Di luar negeri, nggak ada warung, asongan, apalagi delivery air kemasan galon. Jam 6 sore toko-toko udah pada tutup, jadi ya selamat kalau keabisan garam silahkan ketok tetangga atau makan tanpa garam aja. Kalau mau cabe, jauh bow harus ke Asia Market dulu. Mending kalau cabenya murah, sudah mahal, gak bisa beli segenggam macam di pasar-pasar tradisional.

2)      Tolong-menolong

Udah deket, kita pun suka males, alasannya PANAS. Nah kalau males enak tinggal whatsapp aja mbaknya pekerja rumah tangga untuk jalan, kasih tip 5000 juga udah cukup kan? Di kantor juga gitu, mau apa-apa tinggal minta office boy office helper untuk  nyariin. Kebiasaan tolong menolong ini juga berlaku di instansi-instasi, urus passport minta tolong, urus dokumen ini minta tolong. Beres dalam sekejap, enak kan? Di Irlandia mau nyuruh siapa bayar pekerja rumah tangga itu mahal, bayar supir nggak bakalan mampu deh kecuali kawin sama orang kaya, nyuruh-nyuruh orang ngasih 5000 bakalan dicekik kali. Nggak ada budaya suruh-suruh, apa-apa harus dikerjain sendiri, termasuk ngangkat barang yang beratnya kayak galon.

 3)      Pijet

Abis nyuruh-nyuruh kan capek tuh. Di Indonesia kalau capek gampang, tinggal pijet aja. Indonesia ini kan negeri surga jadi mau pijet tinggal nelpon aja, datang mbak-mbaknya, murah pula. Buat pria malah ada bonus mengeluarkan si pelari ulung dari dalam tubuh. Di luar negeri mau pijet, sejam bisa 50 – 60 Euro, mending enak, cuma macam kucing dielus-elus. Jangan dibayangin pula bahwa itu pijet plus-plus.

 4)      Aneka rupa pekerjaan ‘ajaib’

Di Indonesia pekerjaan-pekerjaan yang tak terpikirkan itu eksis. Tukang Anak dibawah umur yang jadi ojek payung berdedikasi menyelamatkan make up mbak cantik dari guyuran hujan berkeliaran di mana-mana. Di Irlandia dan negara barat lainnya, boro-boro. Lupa bawa payung berarti hujan, basah dan dingin kena angin cuy!

Di banyak kota, tukang parkir juga setia membimbing yang gak bisa parkir. Ngejagain pula, cukup ditukarkan dengan 5000 rupiah. Coba di Irlandia, mesin parkir yang nelen uang itu gak bisa teriak lurus, banting kiri, kiri patah, jadi kalau belajar nyetir kudu serius, nggak bisa tembak-menembak SIM.

Just married to get into the country.

5)      Jalan Kaki

Di luar negeri itu gak ada ojek, apalagi gerobak ojek untuk menyelamatkan diri dari hempasan banjir. Taksi juga mahal bow, alhasil kalau kemana-mana harus jalan kaki. Definisi jalan kaki di luar negeri itu nggak cuma 100 – 200 meter, tapi pakai kilometer ya bow. Kalau baru jalan 20 – 30 menit itu mah: deket. Udah gitu jangan disangka jalannya lambat kayak di Jakarta (Orang Jakarta itu jalannya lambat, coba ke Malang deh, disana jalannya p  e  l  a  n   b  a  n  g  e  t!). Di luar negeri itu kalau jalan mesti cepet, kalau gak cepet nanti kedinginan. Alhasil, betis kaku macam betisnya Gatot Kaca. Lihat lagi ke nomor 3, kalau betis kaku pijetnya mahal, jadi kalau mau dilemaskan kudu nempel koyo. Iya, koyo yang di Indonesia nggak dianggap keren itu!

Banyak orang berpikiran pendek bahwa kawin sama bule itu enak, bisa hura-hura, uangnya gak ada nomor serinya. Kebanyakan lihat expat di Indonesia sih, jadi mikirnya begitu. Di Indonesia mah mereka jadi expat, ada allowance expat, rumah dibayarin, mobil dibayarin, gaji banyak kelebihan karena rumah dibayarin. Pulang kembali ke tanah airnya, belum tentu mereka bisa naik taksi tiap hari, mabok bayarnya.

Kawin sama bule juga bukanlah jalan menuju keenakan dan kesuksesan. Duh, kalau mau enak itu kawin sama anaknya orang kaya di Indonesia, itu juga kalau kalian bisa ngegaetnya. Jadi anak orang kaya di Indonesia itu enak, nabrak orang sampai mati nggak perlu masuk penjara *Syid!*, kalau pengen ini itu tinggal tunjuk sana sini dan kalau pengen makan sesuatu tinggal minta dibayarin.

Kalau kawin sama bule nggak bisa. Kalau punya harga diri dan pengen hura-hura dan enak-enakan itu kerja keras, yang keras jangan santai-santai!

Wahai para bule hunter, bule itu manusia, bukan ATM, bukan juga PERURI yang nyetak uang setiap saat. Mereka manusia yang punya hati. Jadi kalau mau kawin sama mereka itu mbok ya yang tulus, pakai cinta. Daripada kualat karena niatnya nggak baik, mendingan kau batalkan niat cari bule buat tiket menuju kemakmuran. Mending pacaran sama anak pejabat aja deh, sumpah hidup lebih gampang, selama bapaknya gak ditangkap KPK ya!

Baca juga: [Dear Bule Hunter] Kalian Sungguh Menakjubkan
Kawin sama bule perbaiki keturunan
Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Gak Enak