Review Film: 12 Years a Slave

Awas spoiler!

Kali ini, Mas Gary dan saya pergi nonton di bioskop. Ongkos nonton di bioskop tak semahal di IFI, hanya dibandrol 8.50 Euro. Tiketnya bisa dibeli online dengan kartu kredit, terus pas tiba di bioskop tinggal ngambil tiket di computer yang disediakan. Saya, lagi-lagi, takjub dengan efisiensi negeri ini karena penonton tinggal masukin kode yang didapat saat beli online dan memverifikasi dengan memasukkan kartu kredit ke mesin EDC. Lalu keluarlah tiket kami.

Kalau di IFI tak banyak jajanan, di Bioskop Dundrum ini banyak jajanan, dari cotton floss (gula-gula kapas), es krim ben and jerry, aneka rupa permen yang bisa diambil sendiri (bayar ya bow) dan tentunya makanan wajib kalau nonton: pop corn. Soal penjagaan, di Indonesia, di tiap-tiap pintu akan dijaga oleh petugas tiket dan penonton bebas berkeliaran ke dekat pintu studio. Kalau iseng, penonton pun bisa masuk ke dalam studio ketika petugas sudah nggak ada (gak bayar!) Di Irlandia penjagaannya lebih efisien, satu orang menjaga akses menuju seluruh pintu studio. Yang nggak punya tiket jangan harap bisa masuk ke dekat pintu studio, ke toilet bioskop pun nggak akan bisa. Saking efisiennya, nggak ada petugas yang pegang pegang senter untuk memandu ke kursi masing-masing dan penonton harus memandu diri sendiri (eh tapi besokannya, kami nonton lagi dan ada petugas yang bawa senter).

Gimana filmnya? Film ini menceritakan tentang Solomon, pemain biola yang berkulit hitam. Ia ‘diculik’ dua pria berkulit putih dan dijual untuk menjadi budak. Jaman 1800-an, perbudakan (dan perdagangan budak) di beberapa area di Amerika, terutama daerah perkebunan belum dilarang. Proses jual beli budak sendiri menyayat hati, para budak yang dijual harus menanggalkan pakaiannya dan dijajarkan selayaknya manekin, supaya dapat diseleksi. Yang kuat, biasanya harganya mahal.

Salah satu nasihat yang diterima Solomon ketika menjadi budak adalah harus berpura-pura bodoh agar bisa bertahan hidup. Rupanya, kalau ketahuan terdidik, bisa baca dan tulis, budak akan dibunuh. Nggak cuma harus pura-pura bodoh, dia harus tutup mata atas semua kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, ketika melihat dua orang budak digantung mati, di depannya, Solomon pun harus cuek bebek.

movie

Adegan paling menyayat buat saya adalah ketika Solomon digantung karena melawan mandor gila. Ketika dia digantung, budak-budak lainnya melakukan aktivitas sehari-harinya, bahkan bermain dan tak memperdulikan dia. Menurut saya, manusia normal dengan hati tak akan melakukan itu, tapi para budak ini dipaksa dan dikondisikan untuk menjadi tak normal demi keselamatan dirinya masing-masing.

Adegan lainnya yang menyayat adalah ketika Patsy, yang diperankan dengan ciamik oleh aktris Kenya Lupita Nyong’o, mengalami kekerasan seksual, bahkan melahirkan seorang anak. Saking tersiksanya si Patsy sampai pengen mati aja.  Tak hanya itu, Patsy juga harus mengalami siksaan dari istri tuannya yang cemburu, dari dicakar, dilempar botol wiski, hingga dilukai matanya. Penyiksaan paling marah, menurut saya, ketika dia ditelanjangi dan dicambuk gara-gara dia pergi meminta sabun. Btw, saya jadi pengen tahu, anak-anak yang lahir dari hasil perkosaan di masa itu, apakah statusnya manusia bebas, atau termasuk budak juga ya?

slave

Film yang menyabet 9 nominasi Oskar ini berdasarkan kisah nyata dan juga dituangkan dalam buku berjudul sama. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton supaya kita sebagai manusia ingat, betapa manusia bisa berbuat kejam kepada manusia lainnya. Penggemar Brad Pitt juga wajib nonton film ini, kalau saya sih udah gak gemar lagi sama dia semenjak dia selingkuh sama Angelina Jolie. Di Indonesia sendiri belum diputar tapi akan segera diputar dan pasti banyak yang disensor. yang mau nonton, sabar ya.

Anyway, ada yang udah baca bukunya?

Ditulis 11 February 2014 di atas Kereta menuju Galway dan pemandangannya penuh dengan domba yang berjemur.

Nonton Journal de France di Irlandia

Ceritanya pacaran sama mas G, kami nonton film di IFI. IFI ini bukan Institute Francais Indonesia, tapi Irish Film Insitute. Rupanya selain nonton di bioskop orang Irlandia bisa nonton di tempat yang dibiayai oleh negara, duh enaknya! Tiket nonton dibandrol 10 Euro dan tanpa nomor kursi, jadi mesti cepet-cepetan karena Cuma ada 65 kursi (iya saya ngitung jumlah kursinya). Okelah, kalau soal cepet-cepetan dengan badan mungil ini saya bisa gesit, tapi masalahnya semua orang jalan dengan teratur dan gak rebutan kayak di Jakarta, jadi ya gak perlu sikut-sikutan. Kursinya sendiri model kursi yang dudukannya otomatis kelipat kayak di Gedung Kesenian Jakarta, bedanya kursi disini didesain buat orang Eropa (baca: orang gede-gede), jadi saya lumayan kesiksa karena sebagian layar ketutup kepala mas-mas di depan.

nougaretdepardon001

Jadi si Depardon itu jalan2 keliling Perancis dengan kamera kuno

Kami kebagian di Studio 3 yang harus dicapai dengan naik beberapa puluh anak tangga dan sayangnya nggak bisa diakses para penyandang disabilitas. Ini entah saya salah lihat atau emang gedung ini nggak akses, agak aneh kalau gedung ini nggak bisa diakses karena Irlandia termasuk negara maju dalam urusan disabilitas. Sebelum film dimulai ada pengumuman nggak boleh ribut, HP harus mati dan nggak boleh ngecek handphone pas film lagi main, karena sinarnya mengganggu orang lain. Pengumuman ini mestinya diadopsi oleh 21 cineplex karena di Jakarta Indonesia banyak orang nggak beradab yang ngecek HP pas film lagi main. Saya juga pernah melakukan hal serupa tapi sekarang, syukurnya, sudah tobat.

Anyway, di Jakarta kita bisa nonton film sambil makan pop corn, disini saya nggak lihat satupun orang bawa pop corn, rupanya nggak boleh. Tapi mbak-mbak di sebelah Gary sukses bawa sebotol wine dan gelas plastic, setelah itu si mbak sukses nyampah di lantai. Sayang udah keburu kabur kalau gak udah saya tegor ini mbak. Gak beradab!

Film ini berkisah tentang dua hal, yang satu tentang perjalanan Raymond Depardon menyusuri Perancis, memotret tabac (warung rokok) dan mencari ketenangan dengan dirinya sendiri dan satunya lagi potongan-potongan sejarah masa lalu yang berhasil direkam Raymond. Dua-duanya bagi saya menarik. Bahkan, adegan Nelson Mandela duduk diam selama satu menit pun jadi menarik. Raymond Depardon sendiri adalah seorang fotografer jurnalis, pembuat film documenter dan juga salah satu pendiri Gamma Photographer Agency di tahun 1966.

Salah satu potongan dalam film ini mengisahkan bagaimana Raymond ‘menyelamatkan’ nyawa V, seorang arkeolog Perancis yang diculik oleh suku Tubu di Chad selama tiga tahun. Dengan kesabarannya, saking sabarnya dia nunggu dua tahun, Raymond berhasil mendapatkan ijin dari para penculik untuk mewawancara Françoise. Dalam wawancara itu tampak bagaiman frustasi dan marahnya Francoise, bagaimana rindunya dia terhadap keluarganya, tapi saking menyakitkannya dia sampai nggak mau meingat keluarganya. Nggak cuma menyentuh, wawancara itu mencabik hati. Wawancara itu kemudian ditayangkan di TV dan berhasil menarik perhatian public Perancis, atau lebih tepatnya membuat public berang terhadap pemerintah, karena pemerintah tidak melakukan apa apa-apa untuk menyelamatkan Françoise.

depardon

Adegan menyentuh yang saya ingat adalah tentang orang dengan masalah kejiwaan di RS jiwa di Venice; RS itu sendiri sekarang sudah berubah menjadi Hotel mewah. Ia kemudian merekam lagi, seorang perempuan dengan masalah kejiwaan. Mbak ini nggak punya uang, ngemis nggak dapat uang, nggak punya bapak dan ibu dan di buang oleh saudara-saudaranya. Kata si Mbak “Je vais mourier comme un chien dans la rue”I will die like a dog on the street. Tragis lihatnya.

Ada juga mbak-mbak yang sukses ‘membunuh’ ibunya dan nggak punya penyesalan sama sekali karena kalau udah nggak punya orang tua bisa melakukan apapun yang dia mau. Adegan lainnya yang membuat saya terhenyak adalah perang Biafran dimana Raymond mewawancara tentara Perancis; tentara itu kemudian mati, tertembak, tanpa baju dan passportnya hilang. Sang fotografer juga berhasil merekam keributan di Prague lengkap dengan tanks dan gas air mata sebelum kemudian dijebloskan ke penjara.

Film yang dirilis tahun 2012 ini juga merekam bagaimana Valery Giscard menjelaskan strateginya untuk memenangkan pemilu dengan tidak melakukan apa-apa. Ada juga rekaman persidangan mas-mas yang menerabas lampu merah, tapi ngotot kalau dia harus menerobos karena kalau nggak dia bakal kehilangan pekerjaan. Adegan ini sendiri kocak banget dan bikin pengen ngejambak si mas yang duduk di kursi pesakitan. Hakimnya pun sampai sebel lihat pembelaan si mas.

Anyway, film ini layak ditonton, entah gimana caranya nonton film ini di Indonesia. Mungkin bisa kontak Institute Francais Indonesia untuk minjem DVD.

 

Apa film Perancis favoritmu? Favorit saya: Le prénom.

Film Soekarno & Sikap Kita Pada Lagu Kebangsaan

Yang belum noton film Soekarno, tak perlu cemas, saya nggak akan menulis review saya tentang film ini, apalagi membocorkan adegan-adegan dalam film ini. Cuma ada satu hal yang akan saya bahas, yaitu tentang lagu kebangsaan dan juga kebanggaan kita Indonesia Raya. Oh ya buat yang belum nonton, segeralah nonton film ini, karena film ini bagus.

soekarno

Dulu jaman saya masuk SMP saya pernah dapat pelajaran PPKN, PMP, Kewarganegaraan atau apalah namanya. Mata pelajaran ini sering sekali berganti nama, jadi saya nggak bisa mengingat dengan sempurna. Intinya satu: mencintai tanah air. Pada saat mata pelajaran itu dijelaskan bahwa kita harus menghormati lagu kebangsaan Indonesia Raya dan juga Sang Saka Merah Putih. Jika upacara sedang berlangsung di tempat lain dan Sang Saka Merah Putih sedang dinaikkan, berhentilah, berdiri dengan tegap dan berikan penghormatanmu. Hal itu melekat sekali di benak saya sementara sisa lainnya nggak ada yang saya ingat hingga saat ini.

Di negeri tentangga, Thailand, kecintaan rakyat terhadap sang Raja dan negaranya sangatlah tinggi. Mungkin mirip dengan kecintaan orang Yogya terhadap Sri Sultan. Mas Gary dan saya pernah berjalan-jalan di sebuah taman menjelang matahari terbenam. Semua orang sibuk, ada yang berfoto, ada yang berolahraga dan juga ada yang bercengkerama. Bukan kami yang bercengkerama lho ya, kami repot berfoto, lebih tepatnya saya repot ngomel karena foto yang diambil mas Bule nggak sesuai standard saya.

Tiba-tiba, ada suara lagu yang diputar dengan kencang dan semua orang yang sedang sibuk beraktivitas, berhenti melakukan aktivitasnya. Mas Bule dan saya sampai bingung, tapi ikutan diam dan berdiri. Fiuh…untuk kami memutuskan melakukan hal tersebut, karena ternyata lagu yang diputar adalah lagu kebangsaan mereka. Rupanya, lagu kebangsaan mereka diputar dua kali setiap harinya dan orang Thai akan berhenti melakukan aktivitas ketika lagu ini diputar. Tak hanya di tempat umum, di bioskop, sebelum film dimulai, penonton akan diminta berdiri ketika lagu penghormatan kepada sang Raja diputar. Konon, jika tidak berdiri, bisa ditangkap dan dipenjara.

Hanung Bramantyo melakukan hal yang sama, meminta penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Awalnya banyak yang kaget ketika dilayar ditulis hadirin diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, permintaan ini pun ditulis dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Lalu, intro lagu Indonesia Raya diputar. Berdirilah saya dan dengan bangganya saya menyanyi. Terus terang, momen menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya selalu saya nantikan (apalagi kalau di dalam stadion bola), karena ini salah satu momen ini yang membuat saya, binibule, bangga menjadi orang Indonesia. Saya tahu juga, ketika saya akan pindah ke Dublin, momen ini akan saya rindukan. Apalagi gak ada kedutaan Indonesia di Dublin, jadi nggak bisa ikut upacara 17 Agustus. Saking rindunya saya dengan upacara 17 Agustus, tahun ini saya bangun jam 6 untuk ikut menonton (lewat TV), upacara kemerdekaan RI di Istana. Ternyata upacaranya baru mulai agak siang.

Balik lagi ke film Soekarno, beberapa orang di studio 1 Setiabudi kemarin memilih untuk tidak berdiri. Mereka lebih memilih untuk cekikikan melihat kami yang berdiri dan menyanyi dengan semangat dan tentunya, beberapa repot bermain blackberry. Nggak salah saya nulis tentang gadget dan orang Indonesia. Ada juga yang berdiri tapi repot mengabadikan kami semua yang sedang menyanyi dengan handphone. Nah kalau ini termasuk orang Indonesia yang pencinta foto, semua difoto. Terus mau diapain sih? Orang-orang yang nasionalismenya saya pertanyakan ini termasuk  mbak C 6 dan Mbak C 7 yang duduk di depan kami. Nasionalisme emang tak bisa diukur dari sekedar berdiri ketika lagu kebangsaan diperdengarkan. Tapi, sebegitu susahnya kah berdiri?

Saya sedih sekali. Saya yakin Bapak Wage Rudolf Supratman, Bung Karno, dimanapun mereka berada juga akan sedih melihat kelakuan orang-orang ini. Entah mengapa mereka memilih melakukan hal tersebut, tak banggakah dengan negeri ini? Lebih suka berdiri menyanyikan lagu K-pop kah? Atau dulu sekolahnya di luar negeri jadi nggak paham tata krama? Nggak segitunya kali, yang sekolah di luar negeri biasanya lebih cinta negeri dan suka ikut upacara 17 Agustusan di Kedutaan Besar.

Berdiri dengan tegap, menyanyikan teks Indonesia Raya yang sudah disajikan di layar (resiko ketahuan nggak hapal kayak Pak Menpora nggak ada lho) bukanlah hal yang susah. Suara jelek juga bukan alasan untuk tidak berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan. Saya aja yang suaranya bikin sakit telinga, pede menyanyi, walaupun pada beberapa baik suara saya kayak kejepit karena kehabisan nafas.

Kalau bule saja mau berdiri dan memberikan penghormatan kepada lagu kebangsaan kita, kenapa engkau wahai mbak C 6 dan mbak C 7, serta mbak dan mas lainnya tak mau berdiri? Lemahkah kakimu hingga kau tak sanggup berdiri? Semoga mbak C 6 dan C 7 membaca postingan ini dan semoga di masa depan kakinya memiliki kekuatan sehingga di lain kesempatan mereka bisa berdiri. 

Maukah kamu berdiri dengan tegap dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan bangga? 

The Act of Killing – Jagal

Penantian saya selama satu bulan berbuah manis juga. Akhirnya kedapatan kesempatan nonton film documenter karya Joshua Oppenheinmer yang berdurasi 2 jam 39 menit dan ditaburi tokoh penting di Indonesia. Tokoh2 penting itu antara lain: Wapres Jusuf Kalla yang menggaris bawahi pentingnya pemuda, Ketua Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno, Rahmad Shah anggota DPR yang hobinya berburu dan punya museum hewan di Medan, Sakhyan Asmara salah satu pejabat di Kemenpora. Ada juga anggota DPRD Medan dari Partai Golkar yang berkicau tentang bisnis illegal Pemuda Pancasila.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ca/The_Act_of_Killing_(2012_film).jpg

Dipinjam dari Wikipedia

Adegan dibuka dengan enam orang perempuan cantik, Anwar Congo dan Erman (anggota Pemuda Pancasila) menari-nari di bawah sebuah air terjun. Sungguh awal yang mengejutkan untuk film  yang membahas tentang kejahatan anak manusia.

https://i0.wp.com/static.guim.co.uk/sys-images/Film/Pix/pictures/2012/9/14/1347638153352/The-Act-of-Killing-008.jpg
                                       Dipinjam dari Guardian.co.uk

Anwar Congo lalu muncul, mengenakan celana putih (baju piknik katanya) & atasan hijau muda menyala. Membawa kita berpiknik ke tempat dimana dia mengeksekusi anak manusia yang dianggap berafiliasi dengan Partai terlarang. Anak-anak manusia yang tak bisa diselamatkan lagi. Dengan tenangnya, si Anwar menunjukkan bagaimana ia menghabisi korbannya dengan seutas tali/ senar dan meminimalisasi pertumpahan darah. Tak lupa dia menunjukkan tarian cha cha-nya yang bikin dia ngetop. Teknik membunuh lain yang diceritakan adalah dengan meja. Leher korban diletakkan di salah satu kaki meja, lalu mereka pun beramai-ramai duduk di atas meja sambil bernyanyi dan memandangi jalanan di luar jendela.

Selain Anwar Congo, ada juga rekan penjagal lainnya, Adi Zulkadry. Si Bapak ini gak merasa berdosa sama sekali atas perbuatannya. Calon mertua yang kebetulan keturunan Tionghoa pun dihabisi sama dia. Konyolnya, si anak bapak ini muncul beberapa kali di film ini. Lagi nge-mall, foto-foto narsis, bahkan totok wajah. Ini film lagi ngebahas tentang aksi non-humanis dan si Mbak muncul dengan ibunya dengan wajah lempeng, belanja di Mall. Bolehkah saya asumsikan bahwa keluarga Bapak ini menganggap apa yang dilakukan oleh si Bapak sebagai hal yang wajar, normal or worse, something that she should be proud of? Atau jangan-jangan mereka nggak pernah tahu?

Anyway, si Pak Adi ini mengganggap apa yang dilakukannya sebagai hal yang heroic dan dia merasa tidak bersalah. Bahkan nantangin supaya dia bisa dibawa ke Pengadilan Internasional di Den Haag. Pas ditanya tentang Konvensi Genewa, si Bapak malah nantang mau bikin Konvensi tandingan. Konvensi Jakarta.

Ada satu adegan yang menggelitik, tentang bebek. Seekor anak bebek terluka kakinya. Si Anwar lalu menyuruh entah anaknya, entah cucunya, untuk meminta maaf karena telah melukai si bebek. Bahkan si adik kecil ini diminta mengelus-elus si Bebek sebagai tanda cinta kasih. Saking takjubnya, saya gak bisa berkomentar sama adegan ini. Emosi keaduk-aduk.

Adegan lain yang saya anggap penting dan membuat saya Prihatin adalah adegan wawancara dengan TVRI. Si Pembawa Acara, memasang senyum, mengatakan bahwa Anwar Congo telah menemukan cara pembunuhan yang paling efisien dan humanis. D’uh..ini Mbak dulu sekolah di mana sih?

Di akhir cerita, Anwar menerima kalungan medali dari salah satu korbannya sebagai simbol terimakasih karena telah membunuhnya dan mengirimnya ke surga. Kalau benar ide adegan datang dari Anwar dan teman-temannya, maka saya cuma bisa mengelus dada.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, mereka mengatakan bahwa PKI dianggap kejam. Tapi sebenarnya anggapan itu salah, karena yang lebih kejam itu adalah mereka, para penjagal ini. I couldn’t agree more.

Warning: Film ini mengganggu banget. Saya keluar dari tempat nonton dengan kondisi gemetar dan emosi bercampur aduk. Antara heran ada manusia yang menganggap dirinya tidak jahat padahal tangannya belumur darah dan gemas dengan ketidakadilan.

Yang berminat nonton film ini harap bersabar dan siapkan mental!

Update per 15/12/2013: Film ini sudah bisa didownload gratis buat yang di Indonesia. Bisa download disini: http://actofkilling.com/.