The Act of Killing – Jagal

Penantian saya selama satu bulan berbuah manis juga. Akhirnya kedapatan kesempatan nonton film documenter karya Joshua Oppenheinmer yang berdurasi 2 jam 39 menit dan ditaburi tokoh penting di Indonesia. Tokoh2 penting itu antara lain: Wapres Jusuf Kalla yang menggaris bawahi pentingnya pemuda, Ketua Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno, Rahmad Shah anggota DPR yang hobinya berburu dan punya museum hewan di Medan, Sakhyan Asmara salah satu pejabat di Kemenpora. Ada juga anggota DPRD Medan dari Partai Golkar yang berkicau tentang bisnis illegal Pemuda Pancasila.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ca/The_Act_of_Killing_(2012_film).jpg

Dipinjam dari Wikipedia

Adegan dibuka dengan enam orang perempuan cantik, Anwar Congo dan Erman (anggota Pemuda Pancasila) menari-nari di bawah sebuah air terjun. Sungguh awal yang mengejutkan untuk film  yang membahas tentang kejahatan anak manusia.

https://i2.wp.com/static.guim.co.uk/sys-images/Film/Pix/pictures/2012/9/14/1347638153352/The-Act-of-Killing-008.jpg
                                       Dipinjam dari Guardian.co.uk

Anwar Congo lalu muncul, mengenakan celana putih (baju piknik katanya) & atasan hijau muda menyala. Membawa kita berpiknik ke tempat dimana dia mengeksekusi anak manusia yang dianggap berafiliasi dengan Partai terlarang. Anak-anak manusia yang tak bisa diselamatkan lagi. Dengan tenangnya, si Anwar menunjukkan bagaimana ia menghabisi korbannya dengan seutas tali/ senar dan meminimalisasi pertumpahan darah. Tak lupa dia menunjukkan tarian cha cha-nya yang bikin dia ngetop. Teknik membunuh lain yang diceritakan adalah dengan meja. Leher korban diletakkan di salah satu kaki meja, lalu mereka pun beramai-ramai duduk di atas meja sambil bernyanyi dan memandangi jalanan di luar jendela.

Selain Anwar Congo, ada juga rekan penjagal lainnya, Adi Zulkadry. Si Bapak ini gak merasa berdosa sama sekali atas perbuatannya. Calon mertua yang kebetulan keturunan Tionghoa pun dihabisi sama dia. Konyolnya, si anak bapak ini muncul beberapa kali di film ini. Lagi nge-mall, foto-foto narsis, bahkan totok wajah. Ini film lagi ngebahas tentang aksi non-humanis dan si Mbak muncul dengan ibunya dengan wajah lempeng, belanja di Mall. Bolehkah saya asumsikan bahwa keluarga Bapak ini menganggap apa yang dilakukan oleh si Bapak sebagai hal yang wajar, normal or worse, something that she should be proud of? Atau jangan-jangan mereka nggak pernah tahu?

Anyway, si Pak Adi ini mengganggap apa yang dilakukannya sebagai hal yang heroic dan dia merasa tidak bersalah. Bahkan nantangin supaya dia bisa dibawa ke Pengadilan Internasional di Den Haag. Pas ditanya tentang Konvensi Genewa, si Bapak malah nantang mau bikin Konvensi tandingan. Konvensi Jakarta.

Ada satu adegan yang menggelitik, tentang bebek. Seekor anak bebek terluka kakinya. Si Anwar lalu menyuruh entah anaknya, entah cucunya, untuk meminta maaf karena telah melukai si bebek. Bahkan si adik kecil ini diminta mengelus-elus si Bebek sebagai tanda cinta kasih. Saking takjubnya, saya gak bisa berkomentar sama adegan ini. Emosi keaduk-aduk.

Adegan lain yang saya anggap penting dan membuat saya Prihatin adalah adegan wawancara dengan TVRI. Si Pembawa Acara, memasang senyum, mengatakan bahwa Anwar Congo telah menemukan cara pembunuhan yang paling efisien dan humanis. D’uh..ini Mbak dulu sekolah di mana sih?

Di akhir cerita, Anwar menerima kalungan medali dari salah satu korbannya sebagai simbol terimakasih karena telah membunuhnya dan mengirimnya ke surga. Kalau benar ide adegan datang dari Anwar dan teman-temannya, maka saya cuma bisa mengelus dada.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, mereka mengatakan bahwa PKI dianggap kejam. Tapi sebenarnya anggapan itu salah, karena yang lebih kejam itu adalah mereka, para penjagal ini. I couldn’t agree more.

Warning: Film ini mengganggu banget. Saya keluar dari tempat nonton dengan kondisi gemetar dan emosi bercampur aduk. Antara heran ada manusia yang menganggap dirinya tidak jahat padahal tangannya belumur darah dan gemas dengan ketidakadilan.

Yang berminat nonton film ini harap bersabar dan siapkan mental!

Update per 15/12/2013: Film ini sudah bisa didownload gratis buat yang di Indonesia. Bisa download disini: http://actofkilling.com/.

Advertisements

12 thoughts on “The Act of Killing – Jagal

  1. yang terpenting, rahmat shah anaknya cantik….. hehehe itu bintang iklan xl, shah siapa gitu. di museumnya, dipajang dimana2. btw, musiumnya rada menjijikkan, menyajikan narsisme tingkat + kebuasan pemburu hewan yg dibalut alasa konservasi

  2. Pingback: Menonton The Look of Silence | Ailtje Ni Dhiomasaigh

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s