Belajar dari Florence Sihombing  

Setelah 12 hari berturut-turut kerja di Bali, saya yang super sibuk ini akhirnya bisa kembali mengurus blog. Saking sibuknya saya nggak tahu kalau dunia social media Indonesia dihebohkan dengan amarah dan kicauan Florence Sihombing di Path. Setelah membaca beberapa ocehan (dari yang baik hingga yang paling kejam) dan melihat videonya, saya merasa perlu menulis catatan kecil tentang pelajaran yang bisa kita ambil dari Florence Sihombing.

Antrian

Satu pelajaran berharga dari Florence yang wajib kita camkan dalam kehidupan sehari-hari adalah belajar ngantri. Perilaku Florence ini,kalau bener informasi yang bilang dia nyerobot antrian di bagian mobil, adalah perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran orang-orang di Indonesia untuk mengantri itu sangatlah lemah, bahkan kita terbiasa mengantri dengan cara brutal, saling menyerobot dan saling menyikut. Halte TransJakarta dan toilet perempuan merupakan salah satu tempat untuk melihat peradaban dan perilaku manusia yang seringkali tak berbudaya. Orang yang datang duluan tak selamanya harus masuk duluan, hanya mereka yang kuat, kuat malu dan kuat menyikut, yang boleh masuk duluan. Sudah kayak di hutan kah? Herannya, orang Indonesia bisa mengantri di tempat-tempat lain seperti bank dan mesin ATM atau jika berada di luar negeri.

Saya tak mengerti mengapa Florence tak mau mengantri, mungkin ia terburu-buru, mungkin pula ia pikir mengantri tak penting. Tapi sadarkah kita bahwa banyak dari kita yang juga tak mau mengantri karena banyak alasan. Salah satunya karena mentang-mentang kaya dan terbiasa masuk ruangan VIP bank. Kebanyakan angka nol di rekening tabungan tak otomatis membuat tata krama kita semakin baik. Tak hanya orang kaya, pengguna motor (mau motor ratusan juta sampai motor belasan juta) juga sama kelakukannya, sama-sama suka mendahului dan jarang bisa tertib. Berapa kali kita baca komplain tentang arogansi motor gede di koran? Mentalitas ini yang harus kita semua rubah. Saya rasa pelajaran bagi kita semua, memotong antrian itu hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang sakit atau diujung maut. Jadi kalau ada yang motong antrian sumpahin aja biar segera ketemu ujung mautnya. Lha?! Pejabat sekalipun nggak seharusnya motong antrian, udah digaji rakyat kok masih bikin rakyat sengsara.

Sosial Media

Kesalahan Florence lainnya adalah berteriak-teriak di social media. Sosial media, baik itu twitter, path, Facebook dan banyak lainnya adalah media yang bisa dianggap baru. Otomatis kita masih sama-sama belajar memakai dan belajar memahami etika menggunakan social media (mungkin sudah saatnya sosial media masuk kurikulum). Tanpa kita sadari, social media menjadi wadah untuk curhat ke seluruh dunia, ajang pamer kekayaan dan ajang pamer cinta ke pasangan (ya tolong ya kalau kangen sama pasangan itu sms aja, gak usah ngoceh di social media), ajang jualan (hallo buzzer!) dan tentunya menjadi ruang untuk mengkritik. Yang terakhir ini sering dilakukan banyak orang dan bisa sangat berbahaya bagi reputasi dan masa depan. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi semua pengguna social media untuk bertanya kepada diri sendiri sebelum menulis segala sesuatu. Tanya juga, apakah teman-teman yang ada di list itu layak membaca komplainan kita. Itu temennya Florence yang nyebarin screen shot bisa tidur nggak, happy gak ya ngelihat temennya sengsara?

Anyway, saya pernah berencana mengundang seroang pakar untuk menjadi pembicara, ini pakar dengan titel berjejer. Tapi, setelah saya lihat twitnya yang mengkritisi dengan cara tak elegan lembaga tempat saya bekerja, saya jadi urung. Nulis di sosial media memang harus hati-hati, karena sosial media adalah ruang reputasi kita, kalau nggak tawaran pekerjaan bisa melayang.

Florence

Bullying

Tak hanya belajar untuk bertanya sebelum posting, kita juga perlu menahan diri untuk tidak melakukan bullying. Florence Sihombing memang membuat kesalahan besar dengan tidak bisa mengantri dan menyakiti perasaan masyarakat Yogyakarta dengan melabeli mereka. Tapi, banyak netizen yang melakukan kesalahan yang sama, bahkan lebih buruk dengan membully dia. Florence itu perlu ditegur, diingatkan dan diberitahu mana yang baik dan benar, bukan di bully habis-habisan.

Parahnya, tak cuma dibully, Florence juga diancam dimasukkan bui (atau jangan-jangan sudah dimasukkan bui?). Masalah ini menurut saya cukup diselesaikan dengan minta maaf dan diberi pengertian tentang cara menggunakan social media. Daripada aparat disibukkan dengan kicauan di social media, kenapa aparat tak dikerahkan untuk memenjarakan mereka yang menabrak orang sampai meninggal dunia?

Hukuman sosial dari masyarakat sudah cukup berat bagi Florence dan keluarganya. Kalau ingin memperberat hukuman dia, jangan masukkan dia ke dalam penjara, tapi suruh saja dia angon bebek di sawah selama sebulan, supaya dia bisa belajar dari bebek. Belajar untuk mengatri dengan baik dan benar dan kitapun perlu belajar dari bebek juga. Wong sebagian dari kita masih sering nyerobot antrian.

Bebek aja bisa antri kok manusia nggak bisa disiplin ngantri?

xx,
Ailtje

Advertisements

Things Indonesians Do when Eating

I have a lot of respect to the nannies in Indonesia, their job is tough. In order to feed their employer’s kids, or should I call them the Queen and the King, they have to run around the mall, wedding hall, house, park or other places, while holding a bowl full of rice. The nannies, who are often wearing white, pink, or blue uniform with a rucksack on their back, have an important job to chase the kids and to feed them. Although we, Indonesians consider eat while walking (or even running) as rude, when it comes to kids, we make an exception.

Some, if not most, kids in Indonesia are not taught to eat by themselves. They need to be fed so that the nannies have job  so that their clothes and the tablecloth remain clean. Apparently, appearance is more important that the ability to be independent. Being fed feels good, the hands could freely doing anything else, while the mouth can chew the food. Maybe that is why many people do not want their parents to stop it until their adulthood. The menu however is replaced by cars, money, apartment, house, allowance for the monthly bills, or  a job. Providing for children is never wrong, but at some point the parents must teach their children to stand on their own feet.

Ailsa_Gary_WeddingDay_Bali_Inpairspho-0127

If the West opt for seating dinner during wedding party, many Indonesians opt for standing party. Some people might find it impolite, but standing party is the only way to accommodate hundreds if not thousands guests. In most of our wedding parties, chairs and tables are only reserved for VIP guests or family of the bride and groom. Eating while standing is impolite, but again, we make another exception.

Speaking about wedding, there a general rule about it, when invited, eat every single thing served at the buffet table. Mix the salad with the rice, pasta, beef, chicken, fish and the soup. If one can put everything in one plate, why put it in different plates? Our desire to mix food, might have been the reason for the invention of nasi campur, rice which served with many condiments. This meal allow us to taste as many food as possible. This might explain why set menu is not popular in this country, it is just too boring and not varied enough. Therefore, the next time you see Indonesia seating in a fancy French Restaurant, sharing foie gras or steak please do not be surprised. As I mentioned above, Indonesians tend to want to taste as many food as possible. Mr. Foreigner Chef, please do not complain about this. 

Any foreigner Chef who work in Indonesia should also never be offended when Indonesians put ketchup on foie gras or salad. No matter how good (and how expensive) the food is, if it is not spicy, then it does not deserve a place in the stomach. Providing a bottle of ketchup, soy sauce, vinegar, sambal on the table is a must.  Italian might find it sinful to put sambal in spaghetti carbonara, but again, if they want to rest peacefully in the stomach, then it has to be spicy. One might find joy in juicy steak, while other find the comfort in a spicy steak.

Beside proper three times per day meal, Indonesians also have ngemil time! If tea times come in the morning or in the afternoon, ngemil or snacking, comes at anytime. We love it so much that we do it all the time, even during working hour. Having gorengan, kerupuk (chips), keripik (also chips), bread, and/or other snack during working hour is important for us. Never mind the silence that needed by the other colleagues, just keep chewing.

Having a box of snack during meeting is also a common practice here. An institution or company might be considered miser if there is no snack served. Should there is a budget limitation, then at least coffee or tea should be provided. Make sure you put few spoonful of sugar to show that your company is wealthy enough.

Another interesting thing about Indonesians is that many of us remember the lesson taught from our tender age: to burp after meal. These babies who have the elephant’s memory, bring the lesson to their adulthood and do it anywhere they want. Some do it at warung (small and often less expensive eatery), while some do it at restaurant. Basically everywhere. Burping, sometimes, is not considered rude here.

Finally, foreigners are often surprised by our table manner, custom and etiquette. They often feel that Indonesians are just impolite. They are able to afford expensive meal but lack of manner. They also find it weird that we eat pre-cooked and re-heated meals for breakfast, lunch and dinner. What these people should remember is that we, Indonesians enjoy food in different way, it doesn’t mean that we do it better, but not worse either. We just eat different things in different way and we are happy with it.

If there is only one thing that you should complain about our eating manner is when one could not close the mouth while chewing. That you can complain!

Birthday Party à la Indonesians

Having many friends from other countries exposed me to different style of birthday celebrations. In many of it, foreigners opt to go Dutch. Everyone pays for their own meal and chip in to cover the birthday person’s meal. To end the celebration, a present is usually given. There is of course a celebration where everyone is invited, and the cost borne by the birthday person, but it’s quite rare.

Contrarily, Indonesian students have a tradition to throw rotten eggs, flour and pour water to the birthday person. The tradition is being kept for years to make the birthday person feels special. Sometimes, it can go beyond, and one can be thrown to the pond. A friend of mine was so terrified with this idea, she put a sling on her hand the day after she was thrown out. Nobody cares, she still had to pay dinner for everyone. In Indonesia, paying lunch or dinner for everyone else, is a must. We call it, sharing happiness. In many cases, the birthday person ended up with neither present nor a birthday card.

As I grew up, birthday celebration changes, not much, but at least birthday no longer involved rotten eggs. Birthday person is still socially pushed to take their friends out for lunch or dinner. Upon wishing happy birthday, a friend (or acquaintance) will unashamedly ask the venue for lunch or dinner. The main problem is that Indonesians have too many friends; I think it’s because we categorized everyone as friend and do not segregate them into different level of friendship i.e acquaintance, travel buddy, colleagues or class mate.  Everyone that you meet, even for an hour, is a friend; hence more than 1000 Facebook friends.

20130210_180557

Invited these ‘friends’ for a nice meal and ended up soaking wet (2003)

Another problem, Indonesians do not know how to say NO to such request. They feel bad if they do not invite people for lunch or dinner. Consequently, someone who has lot of ‘friends’ must throw few dinners (and or karaoke) with different group. Wallet and credit cards will of course “scream in pain” as many of these friends often order the expensive meal (and pretended to forget the present). Amazingly, Indonesians do not mind feeding these friends (or maybe they do mind, but they couldn’t say that), even if the price to please these friends will make them live on budget for the next few months.

I celebrate birthday different at work. The birthday person has to buy the cake themselves, give it to a colleague who will arrange a so-called surprise celebration. The birthday person has to act surprised (and touched) by this act of love and thank everyone. If the birthday person wishes, lunch can be arranged, but there is no social pressure for this. People gather, chat and laugh together over a nice cake. Simpler yet nicer.

20131127_111505

My last birthday was celebrated in the ICU

What about me? I am very selective in inviting friends for my birthday. Call me proud, call me miser, I do not care. For me, birthday is a moment that I shall only spend with family and close friends over a nice meal to celebrate life. Present is not something that I care about, presence is. I do appreciate birthday card more than the present.

A ritual that I do on the morning of my birthday is to call my mom and my aunt (who raised me) and thank both for showering me with her love.

What do you usually do?

Kondom Tak Selalu Berarti Seks Pranikah

Haduh…pusing deh kalau ngomongin kondom dan orang Indonesia. Orang Indonesia itu mengasosiasikan kondom dengan kegiatan seks bebas. Kalau kemudian dikasih kondom gratisan, ya harus dipakai. Ini otak bego atau otak porno saya nggak tahu. Yang jelas, tiga tahun saya kerja di kantor yang memberikan kondom gratis dan selama tiga tahun itu saya cuma ambil dua kondom untuk difoto, bukan  untuk seks bebas. Jadi pertanyaanya, salah siapa kalau dikasih kondom pengen dipakai? Kalau kata saya, salah otaknya yang memilih mengasosiakan kondom dengan seks bebas.

Kondom, yang selalu saya promosikan setiap Jumat, dalam seri #JumatKondom adalah produk yang terbuat dari lateks yang mengurangi resiko penyebaran infeksi seksual menular termasuk HIV/AIDS. Kondom juga mengurangi resiko kehamilan, tapi mengurangi ya nggak menghentikan. Gesekan dalam hubungan seksual masih bisa bikin kondom bocor dan perempuan hamil. Ingat Rachel dan Ross yang tiba-tiba jadi orang tua karena kondom bocor kan? Tak hanya itu, pelumas salah pun, kondom bisa langsung bocor. Ada dua macam pelumas oil based untuk skin to skin dan water based untuk yang menggunakan kondom. Jangan keliru, salah pelumas masa depan bisa hancur.

Kenapa saya gencar menginformasikan fakta-fakta ajaib tentang kondom, dari tentang anal seks dan kondom, sampai tentang bahan-bahan kondom? Pertama karena saya mendapatkan akses informasi, saya mendapatkan training tentang infeksi seksual menular dan HIV/AIDS. Sayang kalau ilmu saya cuma berakhir di otak saya, jadi lebih baik dibagikan. Kedua, karena seperti SBY, saya prihatin. Banyak teman-teman saya yang melakukan hubungan seks pranikah atau bahkan jajan dengan pekerja seksual tanpa pengaman. Bukan tugas saya menghakimi perilaku mereka, mereka toh manusia dewasa yang udah tahu apa mau mereka, tapi ketika mereka yang terpelajar ini mendadak jadi bodoh dan oon serta melupakan kondom, rasanya pengen diuyel-uyel deh. Nggak cuma pria yang menolak kondom, perempuan pun ada yang cukup bodoh dan menolak kondom karena ketidaknyamanannya, padahal kondom itu adalah satu-satunya alat kontrasepsi yang tidak merubah tubuh perempuan. Dengan kondom, badan perempuan nggak perlu berubah hormonnya seperti kalau nelan pil KB, suntik hormon. Tubuh juga gak tersiksa karena IUD yang cara memasukkannya pun sudah pengen bikin tutup telinga. Bayangkan, perempuan secara sadar membiarkan dirinya berhubungan dengan beberapa pria pada kesempatan yang berbeda-beda dan secara sadar memaparkan dirinya pada infeksi menular seksual hanya karena kondom dirasa tidak nyaman, kurang bodoh apa itu?

condom_vs_tampon706

Picture was taken from addfunny.com

Pemerintah dan Kondom

Bukan rahasia lagi kalau Ibu Menteri Kesehatan kita mendukung distribusi kondom ke berbagai pihak. Saya pribadi mendukung ini. Kenapa? karena mental orang Indonesia yang masih anti kondom. Asal ada kondom selalu diasosiasikan dengan seks pranikah, seks bebas ataupun homoseksual. Mentalitas ini yang harus dirubah, mengasosiakan kondom dengan hal negatif. Ada lagi perilaku menghakimi pasangan  homoseksual dan perilakuk seks mereka. Data membuktikan bahwa penyebaran HIV/AIDS terbanyak itu ada pada pasangan heteroseksual, bukan homoseksual. Nah lho?

Penderita HIV/AIDS yang banyak itu justru ibu rumah tangga. Lha kalau ini ibu rumah tangga baik-baik yang setia pada suaminya aja, darimanakah kira-kira dapat HIV/AIDS atau infeksi menular seksual lainnya? Ya dari mana lagi kalau gak dari bapak rumah tangga yang hobinya jajan, yang kalau dinas ke Jakarta pasti menyempatkan mampir ke utara Jakarta dan nggak pakai kondom. Entah karena tidak nyaman, tidak tahu dan tidak mau tahu fungsi kondom (karena anti kondom itu cool), atau karena emang mereka tidak punya akses pengetahuan terhadap infeksi menular seksual dan kondom. Tak hanya bagi-bagi kondom, bu Menteri harus mengedukasi para tukang jajan ini supaya lebih paham tentang resiko dan bisa memilih untuk mengurangi resiko.

Aktivitas Pranikah dan Remaja

Nggak bisa dipungkiri juga bahwa kegiatan seks pranikah di negeri ini emang cukup tinggi. Dari jaman saya sekolah dulu, kehamilan pranikah dan aborsi itu adalah hal yang biasa saya dengar. Catat ya, saya sekolah di Malang, kota biasa-biasa aja, bukan kota gaul. Banyak perempuan dari jaman saya dulu yang sudah sibuk berasyik masuk ketika usia belum memasuki 20, bahkan saya tahu beberapa teman yang melakukan aborsi ketika mereka belum lulus kuliah. Setelah aborsi langsung disuruh dokternya pulang, rahim baru diobok-obok, langsung disuruh pulang dari kabupaten Malang, naik bis ke Kotamadya Malang. Itu jaman saya sekolah, puluhan tahun lalu, ketika jaman Nanda dan Ahmed heboh bikin video Bandung Lautan Asmara.

Jaman sekarang, internet makin mudah diakses, film biru dengan mudahnya di download. Tifatul boleh aja bikin program internet sehat, tapi selalu ada banyak cara untuk mengunduh film porno dan mempraktikannya. Nggak ada yang bisa menghentikan anak-anak muda ini dalam mempraktikan keingintahuan mereka untuk mengeksplor seks. Rayuan maut selalu dilancarkan pria untuk membuat perempuan bertekuk lutut, tak hanya pria yang merayu, perempuan pun juga merayu pria. Ini udah hukum alam, dari jaman mama saya sekolah sampai jaman saya sekolah, selalu bisa menunjuk, siapa-siapa aja yang hamil di luar nikah. Anehnya, mereka selalu disalahkan karena kebodohan tidak mengeluarkan diluar, nggak pernah disalahkan karena tidak pakai kondom. Sementara, pendidikan seksual yang memadai tabu untuk diberikan dengan beribu alasan. Padahal informasi yang tepat adalah cara untuk mengurangi resiko. Anak-anak ini perlu dibuka matanya agar melek resiko infeksi sesual. Kalau masih nggak takut juga dan kalau agama pun ikutan gagal menghentikan mereka, ya sudah biarkan mereka melakukan, toh itu hidup mereka. Tapi beri mereka akses terhadap perlindungan. Setidaknya mereka bisa memilih, jalan mana yang mereka mau ambil, jalan aman atau jalan tidak aman.

Soal akses pengetahuan, berapa banyak sih dari yang anti kondom yang tahu cara buka bungkus kondom yang baik dan benar. Masih cara buka lho ya, belum cara pasang yang baik dan benar. Saya yakin, dari sekian banyak orang yang teriak nolak kondom itu, nggak semuanya tahu cara buka bungkus kondom dengan baik dan benar, apalagi cara pasang kondom. Yang saya mau garis bawahi, kalau dikasih kondom gratis dan anda pelaku seks pranikah, silahkan digunakan untuk keselamatan. Kalau nggak suka, buang aja. Gitu aja kok repot? Hidup udah ribet nggak usah ditambah ribet dengan kondom. Kondom itu bisa berguna banget, kalau otak emang niatnya menggunakan kondom untuk hal yang baik dan bisa juga menjadi tidak baik kalau emang niatnya udah nggak baik.

condom

Pictures was taken from http://www.69jokes.com

Saya ulang sekali lagi, di kantor saya ada puluhan orang yang tiap hari punya akses terhadap kondom gratis dan kami hanya membiarkan kondom-kondom itu berdebu hingga masa kadarluarsanya tiba. Entah mengapa kami nggak tertarik untuk mengambil kondom itu dan mencobanya. Mungkin karena kami tahu resiko seks pranikah, kami tahu resiko infeksi seksual menular, kami  menerima pengetahuan yang memadai tentang infeksi seksual menular dan kami memilih untuk tidak menuju jalan itu. Selain itu juga karena otak kami tidak mengasosiakan kondom dengan seks bebas, seks pranikah dan langsung iseng pengen nyoba kondom. Kami memilih mengasosiasikan kondom dengan perlindungan, sebagai benda yang mengurangi resiko penyakit seksual menular.

Lanjutkan bagi-bagi kondomnya ibu Menteri, saya mendukungmu untuk mengurangi resiko penyebaran HIV/AIDS! Kalau kemudian mereka pada ribut karena otak mereka memilih mengasosiakan kondom dengan seks pranikah ya biarkan saja, toh sudah pada besar, sudah seharusnya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Tahukah kamu kalau para pekerja seksual di Filipina tidak menggunakan kondom karena dilarang agama?

Ramadan in Indonesia

This year, Ramadan-the holy month for Moslem- falls from July to August. For many Moslem, this is the best time to get closer to God. While for beggars, this is the best time for their business. Ramadan in Indonesia are very different than other part of the world, here are the interesting things about Ramadan in Indonesia

1. Traffic

Well, it is not unique, but traffic during Ramadan is dantesque. Working hours in Indonesia are normally cut to seven hours per day because people do not go out for lunch.  During Ramadan, people  leave the office as early as possible to enjoy iftar with the family. This mean, cars are on the road at the same time, heading to the same direction, housing areas outside Jakarta.

2. Early call

People, often children, walk around the neighborhood to wake people up so that they could have their early meals. They will bring any single thing that make noise and wake everyone.  One could also use the voice and screaming on the street to wake people up. This can be useful if those who are observing Ramadan are finding it difficult to wake up early, but for those who have sleeping problem, this can be a big issue.

3. The THR

According the labour law, employers in Indonesia are oblige to give THR, Tunjangan Hari Raya (the holiday allowance) to its staff. The amount is equivalent to one month salary. If employers fail to do so, they will face prosecution. Theoretically, THR is only between employer and employee, but in reality, everyone has to give THR to other people. Here are my THR list this year:

  • A group of security guards in the area; I do not know these people.
  • A group of young people from the Mosque; same as above, I do not know these people.
  • Staff in the kost, who are hired by the landowner; and I am the tenant!
  • My aunt’s helper; she talked to me in sign language (she’s deaf) indicating she wants money. Beside her, my mom’s helper is also on the list as well. She would expect something from me.
  • Contribution box distributed for security and policemen (who are paid by the taxpayer money) in my office.
  • Ketua RT & Ketua RW (the leader in the community) through their assistant.

The spirit of THR is good, to share the fortune with other. But I feel that people are starting to abuse it by begging and forcing other to give. Anyway, look at this official letter from a forum in Jakarta, requesting money:

betawi rempong

Found in social media

4. The beggars

Ever wonder why jalan Pondok Indah or jalan Fatmawati is flooded by beggars? They are pengemis gerobak, the temporary beggars who live in wooden cart during Ramadan. For a month, they will stay in Jakarta, living with their kids on the street and begging for money. They do this simply because the Jakartans are well-known for their generosity. Thanks to that, some kids are now playing around the street until late and missing their classes.

alms

5. Eating in public is punishable?

Everyone should respect people who are observing Ramadan. Gus Dur was the only person who said the other way.  I’ve been so lucky that I’ve never sent on missions to Aceh during Ramadan. However, I lost my lucky charm when I was assigned to Banjarmasin early this July. The city regulates that restaurants, including the one in the hotel must be closed during puasa (from dawn to dusk). I even tried to find restaurant that open in the pecinan (chinatown) but nothing, everyone in Banjarmasin are not allowed to eat during Ramadan. However, in Jakarta, people can eat at anytime. Some restaurant will also give discount during lunch time; and of course the restaurant’s windows will be covered by curtain to protect those who are fasting.

6. Crowded Restaurant

Ramadan brings old friends back to catch up (and gossiping) over dinner, this tradition known as buka bersama. People start to have this dinner together in the second to the last week of Ramadan. Malls are usually crowded, while mosque started to be less attractive. Restaurants are usually fully booked, some even refused reservation and oblige its patrons to walk-in. Smart Indonesian will start to come at 4.30 pm, an hour and a half before the time to break the fast. If you happen to have a craving for something, please make sure it is earlier than 4.30 pm!

Ramadan in Indonesia is indeed different from other part of the world, but the spirit of Ramadan remains the same, to observe the religion’s duties and to be closer with family and friends. So Ramadan Mubarak everyone, I hope you are having a good one!

 

Berburu Berlian di Martapura

Kerjaan sudah selesai, pesawat tak bisa diganti jadwal, akhirnya kami memutuskan sewa mobil dan jalan-jalan ke Martapura saja. Sewa mobil di Banjarmasin itu ternyata gak murah ya bow, setengah hari aja 600 ribu termasuk BBM dan pengemudi. Jangan dibandingkan dengan Jakarta, karena bensin di sini, saya duga, tak selalu mudah didapatkan.

Jarak dari Banjarmasin ke Martapura sekitar 43 km kami tempuh selama 1 jam. Perhentian pertama, tempat penambangan berlian. Kami termasuk beruntung bisa menemukan penambang pada hari Jumat. Rupanya seperti di Arab, kegiatan menambang libur di hari Jumat. Daerah Banjarbaru ini cukup Islami, di beberapa tempat saya bahkan menemukan papan usaha yang memuat tulisan Arab gundul dan juga bahasa indonesia. Persis seperti di Aceh, minus polisi syariah tentunya.

image

Saya yang penasaran terhadap kehidupan para penambang menanyakan banyak pertanyaan pada si abang penambang. Tapi, abang-abang ini cukup malu diajak ngobrol. Cuma senyum-senyum dan menjawab sekenanya. Mungkinkah karena saya perempuan? Berhubung tak bisa mengorek banyak informasi, kami pun bersiap pergi. Oleh pengemudi kami ditawarkan untuk melihat berlian. Saya pun tak menolak, padahal uang di kantong cuma buku buat bayar sewa mobil.

 

image

Kira-kira kubangan ini bisa hijau lagi gak ya?

Supir kami kemudian ngobrol dengan seorang bapak dan bapak ini, sebut saja X, setuju untuk menunjukkan berlian kepada kami. Oleh bapak X kemudian kami dibawa ke sebuah rumah tradisional yang berlantai kayu ulin. Kami kemudian diminta menunggu karena si bapak pemilik berlian sedang tidur. Baru saya kemudian ngeh kalau bapak X ini rupanya hanya makelar berlian.

image

Rumah pedagang berlian berhiaskan foto sang Imam

Sang pemilik berlian muncul masih dengan muka bantal. Dibukanya sebuah dompet jelek yang di dalamnya berisikan sahabat perempuan. Berlian yang terbesar tak sampai 0,5 carat, kalau di lihat sekilas pakai mata telanjang sih nggak cemerlang-cemerlang amat. Sisanya berlian super mungil. Saya tadinya iseng ingin beli satu aja, siapa tahu cuma 100ribu.Ternyata, minimal pembelian setengah karat dan harga 1 carat dibandrol 5,3 juta. Berlian besar yang tak sampai 0,5 tadi dibandrol dengan harga 4 juta rupiah saja.

Berhubung saya bukan pakar berlian saya nggak tahu ini murah atau mahal. Untuk meyakinkan saya mereka pun menyediakan kursi lengkap dengan lampu. Biar dikasih 1000watt saya juga tetep ga paham. Tapi gaya dan tanya-tanya tetep dong. Biarpun cuma rumahan sederhana pembeli berlian di kampung ini ada yang dari India lho. Kampung international rupanya.

Si bapak X tadi masih terus ngintil di belakang saya sambil menyemangati. Wajarlah bapak calo berharap keuntungan; tapi saya juga gak punya duit. Lagian, kalau beneran punya uang buat jajan berlian, mendingan beli di toko yang sertifikatnya jelas lah, bukan di rumah penduduk. Bukan pakar berlian sih, kalau saya pakar mungkin lain ceritanya.

image

Mas-mas yang malu kalau ditanya

Pasar Batu Martapura

Hari jumat sekali lagi bukan hari baik karena banyak toko yang tutup. Toko Kalimantan yang banyak direkomendasikan ternyata tutup pada hari Senin dan Jumat. Tapi semangat belanja nggak padam. Keliling-keliling ke toko yang ada aja. Rekan saya berhasil menemukan kalung tiger eyes, kalau dalam bahasa lokal biduri sepah. Harga yang ditawarkan 800 ribu untuk kalung dan gelang. Entah ini mahal atau murah, yang jelas waktu saya tempelin, kalung ini dingin.

Saya sendiri malah membeli kalung manik-manik khas Kalimantan yang harganya murah meriah. Lebih murah dari harga kalung di pasar kebun sayur Balikpapan. Puas belanja, kami pun kembali ke bandara. Jarak dari Martapura ke bandara ternyata tak sampai dua puluh menit. Kondisi bandara ini ternyata memprihatinkan.

image

Maaf ya motretnya pakai kamera murahan

Dan tak hanya di satu sudut, banyak sudut bandara yang perlu direnovasi.

image

langit-langit jebol

Daerah boleh saja penghasil berlian tapi soal atap bolong, berlian segede apapun, kilaunya ga bakal bisa menutupi fakta bahwa bandara ini perlu renovasi. Segera!

 

Banjarmasin: Kota 1000 Sungai

Hal pertama yang terlintas di kepala ketika tahu kalau saya akan ditugaskan ke sini adalah Soto Banjar. Google dan nemu rekomendasi soto Banjar Haji Anang. Langsung bersemangat bahkan rela lapar dari Jakarta.

Begitu mendarat di Bandara saya segera menuju loket taksi. Dari bandara ke kota Banjarmasin di banderol 100.000. Harga tak mungkin ditipu karena kita diberi tiket. Jarak dari bandara ke tengah kota sekitar 50 menit, dengan sedikit macet karena ada pembangunan fly over. Kalau kata bule perhitungan pakai jam ini ngaco, mestinya ngitung jarak itu pakai satuan KM.

Continue reading