Pemeriksaan MRI

Halo dari rumah sakit!
Sejak beberapa hari ini saya dirawat di rumah sakit karena mengalami cedera punggung atau yang biasa juga disebut lower back pain (LBP). Penyakit ini sebenarnya sudah ada sejak saya SMP dan selama ini hanya saya rawat dengan tusuk jarum, jika kambuh. Belakangan, cedera ini kembali karena saya batuk. Cuma batuk sekali langsung susah jalan. Batuk bukan hanya pemicunya, terlalu bersemangat sit-up rupanya memicu LBP. Saya memang lagi rajin sit-up karena sebel sering disangka hamil. Maksud hati punya flat belly, apa daya berakhir di rumah sakit dan mesti bidding farewell sama perut kotak-kotak.

image

Sebelum masuk rumah sakit saya juga sempet ngotot melawan sakit ini dengan tetap bekerja. Saya percaya sakitnya akan hilang sendiri. Ternyata saya salah, kondisi saya malah tambah parah dan konsentrasi kerja buyar. Bahkan jika bangkit dari tempat duduk, saya merintih kesakitan sambil bingung mencari pegangan. Buat yang sering duduk di tempat kerja, sering-sering berdiri, jalan, melenturkan tubuh dan minum air ya.

Sebelum ke dokter saraf saya sempat google cara untuk mencari tahu penyebab LBP dan yang banyak direkomendasikan adalah MRI (magnetic resonance imaging). Sejujurnya saya takut dengan ide untuk masuk ke dalam alat yang mirip peti mati ini. Takut jika saya claustrophobia. Saya sempat cek MRI di RS seberang Siloam, karena mereka punya open MRI, tapi ternyata alat itu tak canggih. Mesin MRI di RS MRCCC Siloam Semanggi kapasitasnya lebih tinggi, 3 tesla. Semakin tinggi teslanya semakin detail hasilnya. Akhirnya saya pasrah menuruti apa kata dokter.

Ruangan MRI itu dingin sekali, sekitar 15 derajat celcius. Di Dublin dengan suhu segitu saya bisa jalan-jalan pakai tank top, tapi karena ini AC otomatis rasa dinginnya berbeda. Proses scan punggung berlangsung selama 30 menit dan selama itu saya tak boleh bergerak. Bergerak akan membuat hasilnya goyang sehingga harus diulang lagi. Kalau masuk mesin ini kita juga tak boleh pakai benda metal, apalagi pasang cincin berlian segede kerikil dan menenteng tas Hermes kayak Mpok Rini. Konon, kita juga tak boleh kentut di dalam mesin. Mesin manja.

Sebelum masuk ke dalam MRI saya ditutup selimut agar tidak kedinginan dan dipasangi headset untuk mendengarkan musik, sayang saya tak bisa memilih musik. Tombol emergency juga diberikan hanya ketika emergency. Baru masuk dua detik, tombol itu langsung saya pencet berulang kali karena suara musiknya memekakkan telinga.

Rupanya suara musik sengaja dibesarkan untuk menutupi suara mesin yang super kencang. Tapi saya ngeyel minta musik dikecilkan karena saya yakin suara mesin ini tak akan mengerikan dan tak akan terlalu kencang. Di dalam mesin, ada dua sudut yang menyemburkan hawa dingin, untungnya, sebelum masuk MRI saya sempat diolesi counterpain, jadi panas counterpain membantu.

Saya juga sempat membuka mata, sepersekian detik dan rasanya kayak di dalam peti mati. Aduh, kesalahan banget karena mesin menghimpit sekali. Saya nggak bisa membayangkan bagaiman orang-orang bertubuh besar bisa masuk ke dalam mesin ini. Suara mesinnya sendiri ada aneka rupa dan kenceng banget. Ada yang seperti suara tembakan tanpa henti, macem di medan perang, hingga ada yang ada yang mirip tombol emergency, tot…tot…tot…tot…tot…(macan fire drilling) hingga ada yang seperti suara Palu memukul paku. Palu dan paku raksasa tentunya. Suara itu gak ada yang indah sama sekali bahkan, sedikit mengerikan dan mengintimidasi.

Tak mau mengulang, saya bener-bener serius gak bergerak. Tegang tentunya. Untungnya saya pernah belajar teknik pernapasan yoga yang menenangkan, lumayan membantu. Saya mengambil napas-napas panjang sambil berkata pada diri sendiri untuk tidak mengacaukan hal ini. Beberapa kali saya sempat tergoda membuka mata lagi, tapi saya lawan. Melawan diri sendiri itu sungguh berat.

Ada satu hal yang membantu saya menghabiskan 30 menit secara cepat. Saya mengulang kembali cerita pertemuan saya dengan pasangan hati, sedetail mungkin dan selama mungkin. Saking detailnya saya sampai mendeskripsikan supir taksi yang pernah mengantarkan kami. It works well.  Begitu keluar dari mesin itu tubuh saya bermandikan keringat. Tapi bangga nggak pakai ngulang dan bangga telah mengalahkan ketakutan.

Menurut petugas MRI, banyak orang yang takut masuk ke dalam MRI, karena bentuknya yang sempit dan karena mereka gelisah. Akibatnya, banyak yang sesak napas karena stress. Kalau sudah begitu, terpaksa tak bisa diperiksa.

Selain menabung, karena biayanya yang mencapai jutaan rupiah (dan untungnya ditanggung asuransi – baca juga cara memilih asuransi disini), bagi yang akan menjalankan pemeriksaan MRI sebaiknya belajar pernapasan dan menenangkan diri. Lebih baik lagi kalau bawa penutup mata sehingga tak bisa melihat apa-apa. Eh tapi, Lebih baik lagi kalau nggak perlu masuk MRI dengan menjaga kesehatan diri.

Have a nice weekend.
Tjetje

Pengalaman Menggunakan Aplikasi Grab Taksi

Sebelum saya memulai tulisan ini ada baiknya kalau dinyatakan dulu bahwa saya nggak lagi buzzing grab taksi. Ini murni pengalaman pribadi sebagai konsumen yang bahagia. Walaupun sebenernya saya nggak nolak kalau dikasih diskon tambahan oleh grab taksi.

Grab taksi adalah applikasi baru  yang bertujuan untuk membuat hidup lebih mudah dengan membantu mencarikan taksi. Dengan aplikasi ini, kita gak perlu repot-repot nungguin taksi di pinggir jalan, cukup pencet-pencet lalu taksi datang ke tempat kita. Nggak ada yang salah dengan nungguin taksi di pinggir jalan sih, tapi di musim hujan begini, mendingan order taksi daripada beresiko terkena percikan air dari mobil yang lewat.

grab

Picture is courtesy of http://www.brandsvietnam.com/

Cara kerja aplikasi ini relatif gampang, kita cukup mengindikasikan dimana lokasi penjemputan dengan menyalakan GPS dan mengindikasikan tujuan kita. Setelah membuat order, aplikasi ini akan mencari pengemudi terdekat di sekitar kita, dari sekitar dua hingga tiga kilometer. Yang menyenangkan, kita bisa lacak dimana posisi taksi dan berapa menit lagi taksi tersebut akan tiba. Grab juga langsung memberikan nama, foto, plat nomor hingga nomor telpon pengemudi. Pengemudi ini bisa dari berbagai perusahaan taksi di Jakarta, selama mereka terdaftar di Grab. Perlu dicatat, grab taksi tak punya armada taksi, mereka hanya punya aplikasi yang disambungkan dengan handphone para pengemudi taksi, dari taksi biasa-biasa hingga taksi premium yang harganya dua kali lipat harga taksi biasa.

Untuk pemesanan grab taksi tidak ada biaya minimal; bahkan saking manjanya saya pernah order taksi yang argonya tak berubah dari buka pintu hingga turun. Pengemudi taksi mau repot-repot menjemput  dan mengantarkan ke jarak yang tak terlalu jauh karena selama masa promo ini para pengemudi mendapatkan insentif 20ribu untuk setiap penjemputan. Konon, bulan November lalu insentif untuk sekali menjemput adalah 30ribu rupiah. Gak heran kalau ada pengemudi taksi yang sudah bisa beli sepeda motor karena rajin mengambil order dari grab.

Pengemudi taksi juga bukan satu-satunya yang dapat insentif. Para pengguna app ini juga bisa mendapatkan diskon 20ribu dengan memasukkan kode “aman” pada setiap pemesanan. Begitu taksi datang, kita tinggal menunjukkan sms, maka pengemudi akan langsung memotong argo sesuai diskon. Pengguna Indosat malah dapat tambahan diskon 30ribu.

Insetif ini sayangnya dimanfaatkan oleh oknum-oknum pengemudi yang cukup cerdas. Menurut beberapa pengemudi taksi yang saya ajak ngobrol, banyak pengemudi yang bikin order palsu. Mereka beli handphone baru, beli beli nomor Indosat (karena Indosat ngasih potongan 30 ribu) dan bikin order palsu beberapa kali dalam sehari.

Sebagai applikasi baru, tentunya banyak kelemahan yang saya temukan. Yang paling menggemaskan adalah cara aplikasi ini menemukan taksi terdekat. Lokasi saya di Gatot Subroto, app ini bisa mencarikan taksi di Monas. Kalau sudah kayak gini terpaksa harus dibatalkan karena lokasinya yang kejauhan.

image

Mesen grab taksi juga penuh dengan kejutan, dikejutkan oleh pengemudi-pengemudi yang tak tahu jalan dan parahnya gak mau nanya, tau-tau ngeloyor nyasar aja. Pengalaman saya, kalau naik taksi kuda putih udah pasti ngomel-ngomel karena emosi jiwa. Buat yang picky macam saya, kalau order bisa diberi catatan untuk tidak dijemput taksi dari perusahaan-perusahaan tertentu. Tapi jangan ngarep naik burung biru ya, karena konon pengemudi burung biru dilarang keras pakai app ini.

Ada lagi yang bikin kesel-kesel gemes, sekarang nyari taksi pakai aplikasi ini susah banget karena (saya duga) penggunanya makin banyak. Kalau lagi hujan-hujan, jangan harap deh bisa nemu taksi. Yang ada handphone hang karena app gak bisa kebuka.

Saya dan teman menduga bagaimana cara Grab mendapatkan dana setelah masa promo habis. Dugaan kami pemesan akan dikenakan biaya sekian persen dari total argo. Mari kita asumsikan bahwa Grab akan mengenakan biaya 7%, berarti ketika argo 100ribu kita harus bayar 7ribu. Tak terlalu mahal, tapi metodologi perhitungannya harus diperjelas, karena sekarang applikasi ini suka bikin estimasi yang ngaco. Dari kos saya ke kantor normalnya 22ribu saja, tapi kalau pakai metodologi app Grab taksi, harganya jadi 50rb hingga 70rb. Kami duga juga akan adacancelation fee biar tamu tidak seenaknya membatalkan; lha tapi kalau taksinya di Monas saya di Gatot Subroto gimana? Dipaksa nunggu gitu? Eh ini dugaan lho ya ga beneran.

Hayo yang berminat cari diskonan taksi silahkan dicoba kode installnya CA6B52!

 

Tjetje

Pengguna Grab yang bahagia

Ramadan in Indonesia

This year, Ramadan-the holy month for Moslem- falls from July to August. For many Moslem, this is the best time to get closer to God. While for beggars, this is the best time for their business. Ramadan in Indonesia are very different than other part of the world, here are the interesting things about Ramadan in Indonesia

1. Traffic

Well, it is not unique, but traffic during Ramadan is dantesque. Working hours in Indonesia are normally cut to seven hours per day because people do not go out for lunch.  During Ramadan, people  leave the office as early as possible to enjoy iftar with the family. This mean, cars are on the road at the same time, heading to the same direction, housing areas outside Jakarta.

2. Early call

People, often children, walk around the neighborhood to wake people up so that they could have their early meals. They will bring any single thing that make noise and wake everyone.  One could also use the voice and screaming on the street to wake people up. This can be useful if those who are observing Ramadan are finding it difficult to wake up early, but for those who have sleeping problem, this can be a big issue.

3. The THR

According the labour law, employers in Indonesia are oblige to give THR, Tunjangan Hari Raya (the holiday allowance) to its staff. The amount is equivalent to one month salary. If employers fail to do so, they will face prosecution. Theoretically, THR is only between employer and employee, but in reality, everyone has to give THR to other people. Here are my THR list this year:

  • A group of security guards in the area; I do not know these people.
  • A group of young people from the Mosque; same as above, I do not know these people.
  • Staff in the kost, who are hired by the landowner; and I am the tenant!
  • My aunt’s helper; she talked to me in sign language (she’s deaf) indicating she wants money. Beside her, my mom’s helper is also on the list as well. She would expect something from me.
  • Contribution box distributed for security and policemen (who are paid by the taxpayer money) in my office.
  • Ketua RT & Ketua RW (the leader in the community) through their assistant.

The spirit of THR is good, to share the fortune with other. But I feel that people are starting to abuse it by begging and forcing other to give. Anyway, look at this official letter from a forum in Jakarta, requesting money:

betawi rempong

Found in social media

4. The beggars

Ever wonder why jalan Pondok Indah or jalan Fatmawati is flooded by beggars? They are pengemis gerobak, the temporary beggars who live in wooden cart during Ramadan. For a month, they will stay in Jakarta, living with their kids on the street and begging for money. They do this simply because the Jakartans are well-known for their generosity. Thanks to that, some kids are now playing around the street until late and missing their classes.

alms

5. Eating in public is punishable?

Everyone should respect people who are observing Ramadan. Gus Dur was the only person who said the other way.  I’ve been so lucky that I’ve never sent on missions to Aceh during Ramadan. However, I lost my lucky charm when I was assigned to Banjarmasin early this July. The city regulates that restaurants, including the one in the hotel must be closed during puasa (from dawn to dusk). I even tried to find restaurant that open in the pecinan (chinatown) but nothing, everyone in Banjarmasin are not allowed to eat during Ramadan. However, in Jakarta, people can eat at anytime. Some restaurant will also give discount during lunch time; and of course the restaurant’s windows will be covered by curtain to protect those who are fasting.

6. Crowded Restaurant

Ramadan brings old friends back to catch up (and gossiping) over dinner, this tradition known as buka bersama. People start to have this dinner together in the second to the last week of Ramadan. Malls are usually crowded, while mosque started to be less attractive. Restaurants are usually fully booked, some even refused reservation and oblige its patrons to walk-in. Smart Indonesian will start to come at 4.30 pm, an hour and a half before the time to break the fast. If you happen to have a craving for something, please make sure it is earlier than 4.30 pm!

Ramadan in Indonesia is indeed different from other part of the world, but the spirit of Ramadan remains the same, to observe the religion’s duties and to be closer with family and friends. So Ramadan Mubarak everyone, I hope you are having a good one!

 

Waxing di Jakarta

Jadi perempuan itu emang nggak mudah. Banyak banget hal-hal printilan yang harus dilakukan demi kecantikan,  salah satunya bulu. Bulu di tubuh pria adalah hal biasa, malah kadang dibilang sexy. Tapi kalau perempuan berbulu dianggap turn off.

Urusan perbuluan ini perlu perhatian khusus,  salah satu mekanisme untuk mengurangi masalah perbuluan ini adalah dengan menggunduli dengan gula panas lalu dibersihkan dengan  threading.

Bagi saya wax dan threading adalah momen sakral yang membuat berdoa jadi super khusyuk. Biar semakin khusyuk tempatnya pun harus bersih. Lalu dimana tempat waxing di Jakarta?

Waxing Hair Removal for Men

Narsih

Salon rumahan ini terletak di sebuah gang di jalan Wijaya. Begitu masuk, kita harus menulis nama di buku kecil dan wax yang kita mau. Begitu ruangan waxing siap, kita akan dipanggil berdasarkan urutan di buku kecil tersebut.

Keunggulan Narsih ada pada harganya yang super murah. Gila deh murahnya. Terapisnya pun cekatan, kerjanya cepat, apalagi kalau Brazilian. Dijamin yang pengen berdoa gak bakal punya waktu yang cukup karena kecepatan tangan mereka.

Tapi yang bikin saya ogah balik adalah kebiasaan double dipping. Gula untuk waxing di Narsih diletakkan di satu wadah besar dan digunakan dari satu konsumen ke konsumen lainnya. Dari satu spatula ke spatula lain. Biarpun gula tersebut dipanaskan tetep aja bikin geli. Selain ‘kejorokan’ nya, hal lain yang bikin saya ga balik adalah antriannya, panjang!

Soal harga, waxing half leg, brazilian dan under arm gak habis lebih dari 125 ribu.

WL waxing

Tempat waxing ini terletak di lantai paling bawah Mall Ambassador. Tempatnya cukup sempit. Soal harga lebih tinggi dari Narsih. Tapi mendingan, ga double dipping. Tiap waxing 10x dikasih waxing gratis 1x.

WL waxing juga suka mengingatkan kita untuk treatment lewat sms. Tapi saya akhirnya berhenti waxing disini karena seorang terapis yang  ngintil terus demi tip. Service biasa-biasa, tapi ngintilin minta tips. malesin banget. Selain itu, threading disini tidak terlalu bersih. Mungkin karena tempatnya kurang terang.

Buat yang belum tahu, threading itu pencabutan bulu sisa pakai benang. Rasanya kayak digigit semut merah, tapi kalau di bagian Brazilian waxing, rasanya kayak dicakar beruang. Momen threading ini buat saya adalah momen yang lebih religius daripada waxing, karena sepanjang treatment mesti berdoa.

Catatan: saya kembali ke WL waxing, kali ini di Lotte Mall dan lag-lagi dibuat kecewa karena bed yang kotor dan dipenuhi dengan rontokan rambut halus bekas threading. Ketika ditegur, pegawainya bilang: “ya maklum saja mbak, ini kan tempat waxing!”. Setelah itu bed dibersihkan dengan handuk dan handuknya diletakkan kembali untuk alas. Eh halo, higienis apa kabar?

Caramello

Sampai saat ini Caramello masih tetap andalan. Harga sedikit lebih tinggi dari WL, tapi kebersihan memberikan ketenangan batin. Tempatnya lapang dan terang, bikin hati agak ceria. Keceriaan sebelum waxing itu penting, biar ga panik. Sama seperti WL waxing, diberikan satu kali treatment gratis setelah sepuluh pelayanan.

Caramello ada di Kemang dan Epicentrum. Konon akan segera buka di Central Park.

Waxing panggilan

Nah, kalau yang satu ini murah banget dan bisa dikerjakan di rumah kapan saja ketika waktu sama-sama cocok. Untuk menghindari double dipping, saya memiliki gula sendiri. Tetapi, Mbak Endah, sang terapis waxing panggilan, menerapkan metode non-double dipping. Ia memiliki dua buah panci, besar dan kecil. Lalu, gula untuk treatment akan dipindahkan dari panci besar ke wadah kecil.

Yang perlu disiapkan untuk pelayanan di rumah adalah alas kain untuk mengalasi tempat tidur supaya gula yang menetes tak mengotori tempat tidur, juga supaya bulu-bulu lebih mudah dibersihkan.  Awalnya, Mbak Endah menggunakan kain untuk mencabut bulu-bulu, tapi kemudian dia menggunakan kain yang jika berminat beli sendiri, bisa dibeli di awetcantik(dot)com. Untuk urusan gula, saya membeli langsung dari mbak Endah, karena gula di website tersebut kurang kuat untuk narik.

Selain murah, pengerjaan waxing dengan Mbak Endah lebih teliti dan seringkali dibaengi ngobrol. Ya maklum, dia gak dikejar target seperti pekerja salon lainnya. Hebatnya, si mbak juga tak pelit dengan ilmu, saya dibagi cara membuat gula serta diajari me-wax kaki sendiri. Target saya selanjutnya, belajar threading kaki dari si Mbak.

Yang mau menggunakan jasa mbak Endah bisa telpon atau whatsapp di: 085218906493. Perlu dicatat Mbak Endah ini nggak menerima waxing pria, jadi buat yang pria mohon cari tempat lain yang mau menerima. Biar dirayu kayak apa juga mbak Endah nggak bakal mau.

Buat yang takut sakit pas waxing, percayalah kalau harga diri akan mengalahkan segalanya. Pasti, malu teriak, biar sakit ditelan aja.


Sharing dong, biasanya waxing dimana?

Catatan tambahan:

Bagi para pemilik tempat waxing, Blog saya bukan tempat ngiklan, jadi jangan spamming dengan naruh link dagangannya. Kalau berminat meminta saya mereview, silahkan contact saya di binibule.com@gmail.com.

 

Baca juga: Waxing tanpa rasa sakit yang juga mengulas tempat waxing pria.

The Awesome Recital Piano of Wibi Soerjadi

Wibi Soerjadi is a Dutch pianist who was born on 1970 in Leiden. Judging from his name, I am pretty sure that his parents are (or were) Indonesians. Supported by Erasmus Huis (and others sponsors), he came to Jakarta and held a free recital Piano which took place in Erasmus Huis few hours ago. Since it’s classic and free, I went there.

wibi Soerjadi

VIP guests were queuing to get into the building when I arrived. It was 45 minutes before the recital and I was already on number 63 of the waiting list. After the VIP guests got into the building, only 48 people allowed to get into the room. So, the unlucky-me ended up outside the building, sitting in front of a big screen, next to a very annoying man-who-does-not-like classic. Like me, he came because it was free. This guy was in the waiting list number 112, so I decided to address him as “112 man”.  This 112-man talked to me and kept talking, although my eyes were glued to a module that I found in my bag. My attempt to ignore him failed, he kept talking and told me that he prefers rock music rather than classic. Before listening to the music, he decided to stay for one round (satu babak!) only. Then he started to talk about the lost of the Netherlands during the world cup and the bla bla went on until the pianist showed up.

Soerjadi opened the program with a piece from Mozart, titled “Adagio” from Concerto KV 488 (Soerjadi), and followed by Bach (Feruccion Busoni) piece, Toccata and Fuge in D-Moll BWV 565. He then continued with “Adagio” un poco mosso from concerto no. 5 opus 73 (Soerjadi) and before the intermission he pampered our ears with a piece from Vincenzo Bellini (Franz Liszt), Réminiscences de Norma S. 394 (doca Soerjadi).

After 15 minutes of intermission (and lot of chips and soft drinks for everyone), the talented man went back to the stage to pamper our mind, heart and ears. I found that the second session of this recital was more interesting. During this session, he played only his compositions and started with a piece titled ‘Fearless’.  When Soerjadi was playing his second piece, a tribute to her mom, titled ‘To Mom’ a phone rang and the owner did not realize until few seconds. Oh come on, it was a beautiful tribute to his beloved mother.

I went to few recitals piano and other classic performances (even jazz concert) and during the performance (be it free or no) there’s always, at least one, idiot who forgot to switch off the mobile phone. I think Erasmus should stop providing snacks, soft drink or beers to spectators and start to invest on a good signal blocker. Well if it is too expensive, then banned any kind of mobile phone from the building and provide a good locker for this (@ America knows better how to do this).

At the end of his performance, Soerjadi played a nine-part composition titled “Apuleius’ Amor & Psyche”. This composition was written on 2009 when he was suffering from idiopathic sudden sensor neural hearing loss. It was the best part of the show as it was so beautiful. My favorite from this piece about Amore and Psyche are the Sinfonia (Overture) and the third part about Psiche. The latter sounds very feminine and soft to my ears. Just beautiful!

He, of course, got a standing applause for his brilliant performance and as a reward for the spectators (for standing, LOL), he gave an encore, music from “Pirates of The Caribbean”.  The best part was that the he played only with one hand, the left hand. Super awesome!!! The second encore was “Bengawan Solo”, a very beautiful Indonesian song written by Gesang. I am sure somewhere in heaven, Gesang listens to his performance and very proud of this talented man.

Soerjadi released his first CD titled “Dance of Devotion” on 2008 and the CD contains only his compositions. Unfortunately the CD was not available in Erasmus. If you are interest to see his great performance come to Gedung Kesenian Jakarta, tomorrow, 18 September 2011 at 20.00 (only if the ticket isn’t sold out). Well, if you can’t get any ticket, then wait until next year, he’ll be back and hopefully he will remember to bring his CDs.

Anyway, it was so awesome that the 112-man stayed until the end of the performance. Amazing huh?

To read more about this talented pianist, click his website he is also in twitter.

Susahnya Lebaran Tanpa Pedagang Kaki Lima

Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menghabiskan waktu di Jakarta pada saat Lebaran dan tidak ikut arus untuk menikmati liburan panjang. Alasannya sederhana, sebagai pegawai baru saya belum boleh cuti. Jadilah dengan amandel yang lagi meradang berat saya terdampar di Jakarta, bekerja.

Salah satu hal positif dari lebaran di Jakarta adalah jalanannya yang lengang. Sungguh indah. Hanya diperlukan waktu kurang dari 10 untuk mencapai kantor, tapi perlu setidaknya 15 menit untuk menunggu taksi. Menurut pengemudi Blurbird, hanya 30% pengemudi yang aktif, sisanya mudik. Tak heran taksi begitu susah didapat. Transjakarta juga mendadak menjadi nyaman, kosong tanpa antrian mengular, bahkan bisa tidur-tiduran, kalau diizinkan dan kalau tidak malu. Abang Kopaja yang biasanya galak suka maksa orang segera loncat dari bis juga menjadi baik, saat lebaran ini mereka nggak teriak-teriak maksa turun, berhenti dengan sabar menunggu turun. Mendadak, Jakarta menjadi menyenangkan.

Yang indah pada saat lebaran ternyata hanya jalanan yang kosong dan transportasi yang nyaman, karena urusan perut bagi saya sungguh menyiksa. Sebagian besar warung tidak buka. Di dekat kos saya hanya ada warung Padang (tapi medhok) yang buka. Terpaksa selama Lebaran in saya bikin moto “Padang lagi Padang lagi”. Masak indomie tak mungkin (karena saya tak makan indomie), makan pasta bosan, makan sardine apalagi. Ketika malam takbiran saya pun kembali lagi ke warung Padang dekat kos yang hampir sold out. Makanan yang tersisa hanya rendang dan ayam gulai. Berhubung saya nggak makan sapi, makan opsi satu-satunya adalah ayam gulai. Begitu melihat kondisi ayam yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam napsu makan nasi pun hilang. Gila ya ini urusan higienitas sungguh tak diperhatikan.

Saya pun pindah ke Indomaret yang terletak tak jauh dari kos. Indomaret ternyata dipenuhi tukang belanja dadakan, anak-anak kecil yang lagi banyak uangnya karena THR. Ada juga Ibu-ibu yang lagi mencari hidangan untuk lebaran sambil sibuk berdiskusi tentang mahalnya harga di Indomaret. Saya yang berniat mengganjal perut dengan roti batal belanaja karena antrian yang mengular panjang.

Satu-satunya pilihan tersisa adalah makan KFC, untungnya tahun ini saya tak puasa KFC. KFC pun sama-sama menguji kesabaran saya. Tiga kali mengulang pesanan, tapi ketika konfirmasi, orderan saya salah. Menurut outlet KFC ketika musim mudik seperti ini wajar pelayanan jadi kurang maksimal karena operator tembak. Seperti supir taksi tembak, operator ini hanya mengisi kekosongan posisi selama musim liburan. Tak heran banyak orderan yang pada hari itu salah karena mereka tidak seprofesional operator biasanya. Saya terpaksa makan KFC selama dua hari berturut-turut sementara banyak orang menikmati makanan lebaran yang enak. Ah sudahlah.

Hari ini, hari H lebaran, setelah berjalan beberapa meter dan menemukan warteg yang buka. Duh melihat warteg buka itu rasanya seperti melihat air di padang pasir (walaupun saya belum pernah ke padang pasir). Menunya gak banyak, tapi setidaknya ada telur dadar dan nasi. Cukuplah. Eh kok pas sampai kos kertas pembungkusnya berminyak, ternyata si telur dadar bermandikan minyak. Buyar sudah rencana makan.

Kalau sudah begini cuma bisa teriak-teriak, wahai 8 juta pemudik yang sekarang lagi makan opor ayam dan ketupat, cepatlah kembali ke Jakarta. Saya merindukanmu abang nasi goreng, abang mie ayam dan abang siomay. Biarpun kalian semua sering bikin perut saya sakit karena tidak higienis, tapi jasa kalian di saat seperti ini sungguh diperlukan. Ayo Abang-abang pedagang makanan cepat kembali dong!

xx,
Ailtje