Milih Jokowi, Dibully

Pemilu sudah lama selesai, hasilnya sudah diumumkan dan pemerintah yang baru sudah mulai menjalankan tugasnya. Tapi bagi sebagian orang kehebohan dan drama paska pemilu masih harus dilanjutkan dengan membully para pemilih Jowoki, karena keputusan mereka untuk memilih Jokowi. Sekarang, saat kondisi politik sedang bergejolak merupakan waktu yang paling tepat untuk membully para pemilih Jokowi.

Saya tak akan membahas politik dan kebijakan-kebijakan Jokowi karena blog ini bukan blog politik.  Yang akan saya bahas adalah perilaku manusia yang suka menyalahkan orang lain karena menjalankan hak dan kewajiban politiknya untuk memilih Presiden.

Setiap manusia yang sudah cukup umur di negeri ini bebas memilih siapapun yang dirasa pantas dan layak menjadi pemimpin negara. Sekali lagi, bebas memilih siapa saja. Hak politik ini dilindungi dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Sayangnya, tak semua orang memahami konsep kebebasan ini. Bagi sebagian orang, menyalahkan orang lain karena pilihannya tak sesuai dengan pilihan mereka merupakan suatu hal yang patut dilakukan.  Tak cuma menyalahkan, tapi juga menghina, menertawakan serta membodoh-bodohkan. Situasi ini bagi saya menyedihkan, karena manusia satu merasa lebih cerdas dan lebih benar daripada manusia lain hanya karena pilihan politik. Disisi lain, ini tandanya belum ada kedewasaan dari sebagian pemilih untuk menghargai pilihan orang lain.

Lucunya, mereka yang memilih Jokowi seakan-akan dilarang mengkritisi keputusan dan kebijakan Jokowi. Lha kalau orang pacaran aja boleh saling mengkritik, mengapa pendukung Jokowi tak boleh mengkritik Jokowi? Kalau menurut saya justru pendukung Jokowi harus menjadi pengkritik yang paling pedas, karet lima.

Saya mencoba menerka-nerka mengapa orang menyalahkan dan bahkan membully pemilih Jokowi? Pertama tentunya karena mereka adalah target empuk dan target paling mudah untuk disalahkan ketika kebijakan Jokowi nyeleneh. Sosial media juga membuat bully-mebully menjadi hal yang mudah.  Kedua, saya melihat adanya amarah yang masih belum juga selesai, grudge, karena pemimpin terpilih adalah pemimpin yang tak sesuai kata hati mereka. Kekesalan ini terpendam dan siap meletup pada saat yang dirasa tepat. Hanya disaat yang mereka anggap tepat; saat kebijakannya tepat dan sesuai, jangan harap mereka akan melempar pujian.

Menurut saya, kepuasan pribadi karena berhasil menyalahkan orang lain adalah hal yang dicari dari membully orang. Ada ego pribadi yang secara tak langsung berkata, I am right while you are wrong. Padahal belum tentu juga mereka benar, tapi tetep mereka harus merasa benar demi kepuasan dan egonya. Apakah itu berarti mereka tak puas dalam kehidupan pribadinya? Mungkin saja, silahkan dilakukan riset bagi yang berminat.

Bagi saya, orang-orang yang punya waktu untuk membully orang lain adalah orang-orang yang patut dikasihani, karena itu berarti mereka punya banyak waktu yang bisa disia-siakan. Padahal waktu mereka bisa digunakan dengan baca hal-hal positif seperti melaukan pekerjaan, mengerjakan hobi atau bahkan berdoa. Coba kalau mereka punya pekerjaan yang membuat mereka sibuk, atau mungkin punya orang tersayang yang membuat mereka repot dengan hal-hal romantis, mereka gak akan membuang waktu dengan melakukan bullying kan?

regret

picture from coolnsmart.com

Bagaimanakah bereaksi terhadap pelaku bully? Reaksi terbaik adalah cuek karena orang-orang yang hobby membully ini punya banyak waktu yang bisa dibuang. Perlu dicatat juga mereka menginginkan perhatian dan reaksi balik. Ketimbang repot-repot menanggapi orang-orang kesepian dan butuh perhatian, lebih baik menghabiskan waktu yang lebih menyenangkan untuk membaca, ngurusi blog, atau bahkan hura-hura bersama Syahrince. Teorinya sih begitu, tapi prakteknya saya gak segan melawan bullying yang ga sehat, dari teman atau bahkan saudara sekalipun.

Berbeda pendapat dan berbeda pilihan itu wajar karena hal tersebut merupakan bagian dari demokrasi. Tapi kalau sudah sampai pada tahap tak menghormati pilihan orang, menghina-dina, bullying, rasanya komunikasi dan bahkan hubungan pertalian lebih baik dihentikan daripada tak sehat bagi diri sendiri. Nggak worth it. 

Jadi siapa yang pernah dibully gara-gara Pemilu?

 

xx,

Tjetje

Advertisements

Catatan Kecil tentang Musim Kampanye Pilpres 2014

prabowo jokowi

Photo courtesy of Metronews

Ketika jaman sekolah dulu kita selalu diajari bahwa prinsip pemilihan umum adalah LUBER; langsung, umum, bebas dan rahasia. Hari ini saya nggak melihat lagi pemilu yang rahasia. Para pemilih, baik itu pemula ataupun yang berpengalaman, tak segan lagi menunjukkan pilihannya. Pendukung Jokowi memasang foto “I stand on the right side” yang kemudian diributkan karena grammarnya tak benar; sementara pendukung Prabowo memasang garuda merahnya yang juga diributkan. Fenomena menarik, mengingat lima tahun lalu, ketika SBY mencalonkan diri untuk kedua kalinya, para pengguna media social tak seheboh ini dalam menunjukkan pilihannya.

Perdebatan

Saya memperhatikan, banyak dari kita yang mendadak jadi ahli debat. Sayangnya keahlian ini tak dibarengi dengan kematangan diri untuk menerima pendapat yang berbeda. Ketika pilihan orang lain berbeda, maka hujatan & cacian yang nggak relevan pun dilemparkan. Debat  kusir *apa sih debat kusir itu* akhir-akhir ini sering terjadi di jagat social media. Tak ada salahnya berdebat dan mempertahankan pilihan masing-masing, tapi harusnya perdebatan ini dilakukan secara santun. Idealnya, dua belah pihak harus sama-sama bisa menerima kekurangan calonnya dan mengakui kelebihan lawannya.

Pertemanan dan afiliasi politik

Yang lebih mengejutkan, akibat pilpres ini, banyak teman-teman yang berbeda pandangan kemudian memutuskan hubungan pertemanan. Pertemanan di social media memang pertemanan maya, tapi alangkah disayangkannya kalau pertemanan maya itu harus rusak karena pilihan presiden yang hanya hangat selama beberapa bulan. Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan satu, dua atau bahkan sepuluh teman di facebook bukanlah masalah, karena masih ada 1400 teman maya lainnya *siapakah yang bisa menjalin perteman baik dengan orang 1000?*

Suami istri yang berbeda pilihan juga tak kalah banyak, akibatnya perdebatan sengit dalam rumah tangga (dan di ranjang) pun tak terelakkan. Adakah yang kemudian bercerai karena perbedaan ini? Entahlah.

Multi Level Marketing

Pemilihan Presiden kali ini juga memunculkan kemampuan multi level marketing, kemampuan untuk jualanan dan mempengaruhi orang.  Pemilih, seperti saya, yang sempat terombang-ambing dalam menentukan pilihan, dijadikan target empuk. Dalam satu kesempatan saya pernah bertemu teman yang relatif kurang cerdas dan sangat pasif, tapi begitu dia tahu saya belum menentukan pilihan, ia langsung agresif dan gigih dalam menjual capres favoritnya. Ajaib!

Media dan Pemilu

Jangan ditanya betapa penuhnya media dengan berita kampanye. Yang menyedihkan, semua televisi di Indonesia berafiliasi dengan partai politik tertentu, alhasil, berita tentang capres yang didukung televisi tersebut tak henti-hentinya ditayangkan. Pendek kata bosen deh denger Jokowi dan Prabowo terus menerus. Untungnya saya tak berlangganan media cetak, kalau langganan tambah eneg kali ya.

Twitterland, blog dan facebook juga diwarnai dengan postingan promosi capres. Nggak cuma promosi kebaikan masing calon, tapi juga keburukan lawannya. Informasi yang kredibilitasnya diragukan pun tetap dipublikasikan, semua demi memenangkan calon presiden favoritnya.

Satu hal yang saya suka dari pemilu ini adalah meme yang berseliweran di twitterland, apalagi kalau jika debat capres sedang berlangsung. Debatnya sih biasa-biasa aja, tapi komentar dan meme #debatcapres yang berseliweran di twitter sungguh menghibur. Saya rasa itu satu-satunya hal yang akan saya rindukan dari kampanye ini. Semoga saja kreatifitas ini tidak hilang.

Anyway, selamat menunaikan tugas sebagai warga negara, memilih pemimpin untuk lima tahun kedepan. Pilihlah pemimpin yang terbaik, yang bisa membawa kedamaian, kemajuan dan tentunya pemimpin yang bisa memastikan, menghormati dan memenuhi hak-hak asasi warga negaranya. Siapapun yang terpilih, semoga Indonesia damai dan maju.

Salam,

Ailsa