Label Untuk Istri Pria Asing

Banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang kawin dengan orang asing itu bekas pekerja seksual (PS)*.  Anggapan ini nggak hanya datang dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air, tapi juga datang dari warga negara lain di belahan bumi lain; saya pernah dituduh pekerja seksual di Hong Kong. Apakah di HK sana emang banyak pekerja seksual Indonesia? Pekerja seksual itu ada dimana saja dan istri orang asing juga banyak yang bekas atau malah yang ekspansi target market setelah kawin dengan orang asing, tapi mbok ya tolong jangan disamaratakan.

label_tynipic dot com

tynipic.com

Perempuan murahan timbul karena orang barat diasosikan dengan seks bebas dan tak punya moral (saking gak bermoralnya mereka indeks korupsinya pun jauh lebih rendah dari Indonesia). Persepsi ‘murahan’ ini kayaknya muncul karena gambaran yang muncul di TV dan film. Kebanyakan nonton tivi sih, jadi lupa kalau hidup itu tak seperti di tivi. Daripada repot-report ngurusin orang asing mbok dilihat lingkungan sekitarnya, problematika seks pranikah yang sering dituduhkan kepada perempuan yang berhubungan dengan pria asing juga marak di negeri ini. Kalau kata seorang Direktur Populasi sebuah Kementerian, anak-anak sekarang sudah banyak yang punya anak. Moral mana, moral?

Istri orang asing juga sering dicap sebagai perempuan matre & social climber. Saya nggak menutup mata bahwa kasus-kasus bule hunter membuat pria asing kehabisan uang atau minta-minta uang buat sanak-saudaranya sekampung (sekampung lho, bukan di kampung) itu banyak. Social climber juga banyak dan banyak dari mereka yang selagi merangkak naik kepleset karena lupa belajar tata krama atau bahkan keseringan dropping name. Tapi orang Indonesia juga mesti tahu bahwa banyak juga perempuan Indonesia yang banting tulang untuk membiayai rumah tangganya bersama-sama.

Pemilik kulit sawo matang dan hidung mungil juga sering “dilecehkan” bertampang pembokat atau pembantu pekerja rumah tangga (PRT)**. Tampang PRT itu kalau definisi saya adalah tampang yang Indonesia banget & tidak sama dengan standar kecantikan Indonesia (rambut lurus, kulit putih). Tapi gak tepat juga mengasosikan itu dengan pekerja rumah tangga, karena banyak dari mereka yang sesuai “standar kecantikan Indonesia”. Apa dosa para pekerja rumah tangga harus diasosikan dengan hal yang negatif?  moral mana moral?

labels-image

image: ethicsfordoinggood.wordpress.com

 

Banyak orang yang gak terima jika dianggap bertampang seperti pekerja rumah tangga, kalau concern saya bukan pada urusan tampangnya, tapi pada pembedaan perlakuan dan diskriminasi. Asal disangka pekerja rumah tangga, langsung nggak dilayani dengan layak. Eh tapi ada juga lho istri-istri orang asing yang kalau disapa pekerja rumah tangga (karena disangka sesama pekerja rumah tangga) terlalu congkak untuk menjawab & merasa kelas sosialnya jauh di atas mereka. Nggak dipungkiri pertanyaan mereka suka melanggar batas, tapi bukan berarti harus direspons dengan dagu naik  kan?

Cibiran karena kemampuan bahasa Inggris yang minim dan juga tata bahasanya yang awut-awutan juga sering dilayangkan ke istri orang asing. Gak usah yang jarang ngomong bahasa Inggris, saya yang tiap hari bekerja dalam bahasa Inggris pun pertama gaul dengan serombongan orang Irlandia frustasi karena nggak ngerti mereka ngomong apa. Kosakatanya beda, aksennya engga banget dan semua orang pada berebut ngomong. Fokus dan konsentrasi pun bubar jalan. Istri orang asing bergulat dengan hal ini sepanjang hidupnya, jadi kalau bahasa Inggrisnya berantakan, jelasin aja lah dengan sopan bedanya do sama does. Kalau gak ada yang jelasin dan terus-menerus dicibir, kapan benernya?

Istri orang asing juga sering disangka lupa akar budayanya karena perubahan gaya hidup dan kebiasaan. Melupakan akar budaya itu tak semudah yang dikira orang, karena budaya dan kebiasaan itu mengakar pada diri seseorang dari sejak mereka muda. Yang menuduh mereka kurang Indonesia, kayaknya mesti rajin jalan ke luar negeri dan melihat bagaimana mereka mengkampanyekan Indonesia di luar sana dan meneruskan keIndonesiannya pada anak-anaknya.

Label-label negatif diberikan kepada perempuan yang memilih pria asing karena banyak alasan. Ketidaktahuan kultur barat, persepsi salah terhadap kultur barat, serta rendahnya tingkat pendidikan termasuk di dalamnya. Selain itu, konon, ada kecemburuan sosial yang tumbuh karena perempuan yang memilih pria asing berkesempatan hidup di negeri maju dengan kehidupan yang ‘lebih baik dan lebih enak’. Benarkah begitu? Cuma mereka yang berkutat dengan label yang bisa menjelaskan.

 
Have a nice weekend.
Tjetje
 
Catatan kecil tentang penggunaan kata
* PS : Pekerja seks, tanpa komersial. Semua pekerjaan itu komersial, mengapa hanya mereka
saja yang dilabeli komersial ?
** PRT : Pekerja rumah tangga, bukan asisten, bukan juga pembantu. Mereka adalah pekerja
yang berhak atas upah layak, jam kerja, libur, jaminan kesehatan dan tentunya terbebas 
dari ‘perbudakan modern’