Korban Revenge Porn

Peringatan: tulisan ini mengandung informasi tentang revenge porn yang bisa memicu trauma dan sensitif.


Tahun 2016 lalu, 5 tahun lalu, saya menulis tentang Revenge Porn, nanti tautannya saya sertakan di bawah untuk yang berminat baca. Tulisan saya ketika itu membahas soal Revenge Porn secara sekilas dan perjuangan para korban di Amerika.

Revenge Porn didefinisikan sebagai aksi balas dendam membagi-bagikan foto ataupun video yang bersifat intim tanpa ijin tentunya dengan tujuan untuk mempermalukan.  Dalam bahasa Indonesia kurang lebih ini tindak penyebaran konten intim nonkonsensual. Di banyak kasus biasanya pelakunya orang-orang terdekat atau bekas orang terdekat, seperti mantan pacar. Revenge porn ini tak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga terjadi pada laki-laki. Secara statistik korban perempuan jauh lebih tinggi ketimbang korban laki-lakii.

Revenge Porn ini juga perlu dibedakan dengan sextortion. Di revenge porn elemen terbesarnya adalah balas dendam dan mempermalukan, pada sextortion ada unsur pemerasan dan biasanya, biasanya lho ya, dari orang-orang tak dikenal di internet.

Beberapa minggu yang lalu, di Instagram saya, saya mendapatkan pesan dari seorang korban Revenge Porn yang ketakutan luar biasa karena foto-fotonya disebarluaskan oleh pacarnya yang tak mau diputuskan. Diancam, bahkan dipaksa untuk tidak putus, padahal pacarnya kelakukannya abusive. Kejam dan sadis banget sih. Sang korban ketakutan luar biasa karena ada ancaman-ancaman untuk menyebarluaskan hal tersebut kepada keluarga dan teman-teman. Selama proses komunikasi kami, ia juga menyalahkan dirinya terus.

Ini jadi mengingatkan saya pada Gisel, artis Indonesia yang sempat ramai karena videonya yang bersifat intim disebarluaskan kemana-mana, termasuk ke website porno. Ini kebetulan waktu itu di salah satu group whatsapp ada yang bagi-bagi dalam bentuk link di website porno. Website porno pun mendulang pundi-pundi dari mengekploitasi korban tindakan ini. Semoga saja korbannya tak harus dihukum, karena mereka adalah korban. Foto dan video itu bersifat pribadi dan tak seharunya disebarluaskan.

Lalu, apa yang mesti dilakukan kalau kalian jadi korban revenge porn?

  • Jika ancaman terjadi di media sosial, jangan langsung blok pengirim pesan. Laporkan langsung.
  • Cari dukungan keluarga dan atau bantuan psikologi (karena ini bisa sangat stressfull).
  • Cari tahu juga hukum di tempat kalian tinggal, apakah penyebarnya bisa dihukum.

    Bagaimana kalau orang terdekat kalian jadi korban revenge porn?
  • Gak usah dihakimi, gak usah dimarahin, apalagi ngasih kuliah soal Tuhan dan agama. Emosi korban itu sudah terkuras, gak perlu ditambahi dengan aneka penghakiman yang tak menyelesaikan masalah.
  • Sebaiknya, jangan minta korban untuk menceritakan secara detail bagaimana kejadiannya. Ini menggali luka.
  • Berikan dukungan, sebisanya kalian. Yang paling sederhana, hapus videonya dari grup chat dan jangan disebarluaskan.
  • Cari tahu support group dan sarankan pada mereka.
  • Kalau kalian melihat videonya disebarluaskan di media sosial, laporkan langsung pada media sosial tersebut. Teknologi penghentian dan pencegahan tindakan ini sangat canggih kok. Inget ya, lapor, lapor, lapor.

Di era lockdown ini, dimana komunikasi melalui media elektronik jauh lebih intens daripada sebelumnya, memberikan media, foto ataupun video yang bersifat intim pada pasangan menjadi sebuah hal yang sering terjadi. Foto atau video tersebut untuk konsumsi pribadi dan diberikan dengan percaya. Sayangnya, kepercayaan itu kemudian terluka.

Bukan hak kita untuk menghakimi atau menyalahkan mereka yang mempercayai pasangannya. Jadi jangan pernah menyalahkan korban.

Selamat hari Senin, semoga kita semua dijauhkan dari orang-orang yang tidak baik!

xoxo,
Tjetje

Baca juga: Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam). Bahasa Indonesia yang tepat rupanya  tindak penyebaran konten intim nonkonsensual, bukan pornografi balas dendam.

Revenge Porn (Pornografi Balas Dendam)

Ada yang suka nonton Last Week Tonigh with John Oliver? Coba deh nonton di YouTube, acara ini kocak banget yang menyindir aneka rupa topik, dari mulai soal pemilihan umum di Amerika, kredit dan hutang, hingga soal pelecehan di internet. Dalam episode pelecehan di internet, John Oliver membahas sekilas tentang revenge porn. Topik ini sudah lumayan basi sih, karena sudah dibahas setahun lalu, tapi ya tahu sendiri saya ini kan blogger mood-moodan yang suka mengangkat topik-topik yang hampir basi supaya bisa jadi pengingat kembali.

Anyway, dalam episode tersebut, John membahas tentang pasangan yang putus, kemudian sakit hati dan mengunggah foto-foto atau video seksi ke media sosial untuk mempermalukan pasangannya. Pernah dengar tentang hal ini? Mungkin kalian pernah dengar dari kasus populer Kim Kardashian. Well,  engga bisa disamakan dengan kasus Kim, karena si Kim secara sadar atau setidaknya setuju dengan penyebaran video tersebut untuk mendapatkan populeritas. Sementara revenge porn jauh berbeda, korbannya tak mau photo atau video tersebut disebarluaskan, sementara pelakunya yang bekas orang terdekat dendam kesumat karena kisah cintanya gagal berantakan tak berujung di bawah tenda biru.

Pelaku revenge porn bisa dilakukan oleh perempuan ataupun pria, tetapi dari sebuah tulisan di economist, disebutkan bahwa pelakunya kebanyakan pria. Foto-foto atau video ini kemudian diunggah, tak hanya di media sosial, tapi juga di situs-situs pornografi, lengkap dengan kontak sang korban. KEJAM, KEJAM banget. Kontak yang diberikan bersamaan dengan foto ini kemudian membuat  beberapa korbannya diuber oleh orang-orang tak dikenal.

Nah, dalam episode Last Wek Tonight tersebut, John membahas satu elemen penting bagaimana pihak berwajib di Amerika sana masih ada yang tak tahu bagaimana cara menangani hal tersebut. Iya yo, Amerika yang sering digadang-gadangkan sebagai negara adidaya dan para bule-bule yang masih sering dianggap sebagai para dewa dengan kasta paling tinggi di antara semua makluk di bumi ini. Kebayang kan betapa frustasinya jadi korban dan harus berhadapan dengan mereka yang tak tahu cara menanganinya.

Para korban ini kemudian harus berhadapan dengan kenyataan bahwa foto-fotonya disebarluaskan di banyak web porno di internet, dan harus berjuang untuk membuat foto-foto tersebut dihapus. Di Amerika, untuk melakukan hal tersebut, mereka harus mendaftarkan hak atas foto-foto tersebut (yang mana artinya mereka harus mendaftarkan foto-foto telanjang tersebut) supaya kemudian bisa dihapus dari internet. Pening gak tuh? Di Eropa sendiri perjuangan menghapuskan foto-foto atau video pribadi ini bisa dilakukan melalui the right to be forgotten. 

Panjangnya perjuangan menghadapi hal tersebut dan beratnya konsekuensi sosial yang dihadapi oleh para korban, belum lagi besarnya biaya yang dikeluarkan, seringkali membuat korban-korbannya mengambil solusi cepat, bunuh diri. Tiziana Cantone merupakan salah satu contoh korban revenge porn yang berjuang habis-habisan dan kemudian mengakhiri hidupnya. Di tulisan ini kalian juga bisa menemukan salah satu korban revenge porn yang berjuang habis-habisan untuk memenjarakan mantan pacarnya. Ada satu kesamaan disini, dimana perempuan berada pada posisi yang sangat lemah.

Dalam kondisi begini biasanya kita akan mendengar kelompok-kelompok yang akan menyalahkan para korban dan mengatakan: makanya jangan ambil foto pribadi dan mendistribusikan foto-foto tersebut. Ngok…..para pelaku victim blaming ini gak menyelesaikan masalah malah nyalah-nyalahin korban (dan bukan menyalahkan pelaku). Bagi para korban, foto-foto tersebut diambil dan diberikan pada orang-orang yang mereka percaya, situasi kemudian berubah dan orang-orang tersebut menjadi orang-orang brengsek yang tak bisa dipercaya.

Herannya ya, dari beberapa kasus yang saya pelajari, media lebih banyak mengekpos nama korban dan menyembunyikan nama pelaku. Salah satunya kasus pelecehan seksual terhadap remaja bernama Audrie Pott yang juga bunuh diri karena dilecehkan secara seksual hingga kemudian foto-fotonya disebarkan di internet. Kisah Audrie sendiri difilmkan dalam sebuah documenter berjudul Audrie and Daisy dan diputar pertama kali pada Sundace Film Festival di awal tahun 2016 ini.

Dari kasus-kasus ini saya jadi bertanya-tanya, jika di negeri adidaya seperti Amerika saja para pihak berwajib masih tak tahu bagaimana menangani kasus sensitif seperti ini, bagaimana dengan di Indonesia? Boro-boro ditangani, ada juga para korban yang mengambil foto diri sendiri tanpa sehelai benang sudah terkena pasal UU pornografi lebih dulu. Sungguh berbeda dengan negara tetangga seperti Jepang, atau bahkan Filipina.

Kalian, pernah dengar soal revenge porn sebelumnya?

Xx,
Tjetje