Drama Perkawinan

Perkawinan di Indonesia itu membutuhkan biaya tak murah dan kebanyakan orang harus menabung dalam periode yang tak pendek demi mengundang ratusan atau bahkan ribuan orang. Tabungan selama bertahun-tahun tersebut dihabiskan untuk pesta yang hanya berlangsung dua atau tiga jam tanpa interaksi yang berarti. Kalaupun ada interaksi antara pengundang dan tamu, biasanya tak lebih dari satu menit atau dua menit saja.

Dibalik persiapan pesta pendek ini, tersimpan banyak drama yang membuat banyak calon pengantin stress. Apalagi jika banyak orang yang bersuara dalam pembuatan keputusan. Yang kawin dua orang, tapi yang ngatur bisa sampai belasan atau bahkan puluhan orang. Yang satu melarang upacara tradisional, sementara yang satu lagi mendorong upacara tradisional. Tak heran persiapan perkawinan bisa memakan waktu hingga satu tahun dan dipenuhi aneka rupa drama. Mendengar drama-drama ini membuat kepala pusing, apalagi menjalaninya. Duh.

Salah satu drama perkawinan adalah soal undangan yang sudah pernah saya tulis disini. Pihak pengantin perempuan dan pengantin pria harus berdebat panjang tentang pembagian undangan ini, sesuai dengan kontribusi masing-masing. Seakan tak cukup, undangan yang idealnya untuk dua orang terkadang digunakan untuk hadir dalam rombongan besar. Tak heran pengantin jaman sekarang harus mengalikan tiga atau empat kali jumlah undangan untuk memperkirakan porsi makanan. Itu belum termasuk porsi makanan yang dibuang-buang karena yang mengambil makanan sudah kenyang tapi tak mau berhenti makan.

Sumber drama lainnya adalah tiket untuk menghadiri perkawinan bagi mereka yang lokasinya jauh. Beberapa pengantin seringkali mengeluarkan biaya tiket dalam jumlah tak sedikit karena berbagai alasan. Yang utama karena hormat dan segan, apalagi jika yang diundang adalah mereka yang dituakan. Tapi keseganan ini seringkali dimanfaatkan, dari minta tiket untuk beberapa orang sekaligus hingga minta pergi dan pulang pada tanggal-tanggal tertentu yang tentunya akan berdampak pada membengkaknya biaya penginapan dan kecilnya kemungkinan mendapat tiket murah.

Kepusingan pengantin tak berhenti disitu. Masih ada urusan pembagian seragam yang lagi-lagi bikin ribut. Ada yang ribut karena tak kebagian dan banyak yang ribut karena kualitas kain yang kurang sesuai. Adapula yang ribut karena warna yang tak cocok dikulit dan banyak keributan lainnya. Tapi buat saya yang paling mencengangkan adalah mereka yang ribut karena tak diberi biaya menjahitkan kebaya. Aduh ampun deh Tante, sudah bagus dikasih kain masih merobek jantung pula. Eh tak cukup dengan minta ongkos jahit lho, biaya sanggul serta rias perlu disertakan juga. Itu kalau tantenya satu, kalau tantenya lima belas, dua puluh, tiga puluh, aduh makin capek ngitungnya.

Bicara tentang tukang rias dan sanggul, jaman sekarang ruang ganti pendamping pengantin sudah cukup ketat. Hanya mereka yang namanya tertulis yang bisa mendapatkan layanan. Kendati sudah ada nama di dalam daftar, masih ada saja yang muncul untuk sekadar membenahi alis, mempertebal lipstick hingga membetulkan jilbab. Lagi-lagi pengantin masih harus direpotkan dengan biaya tambahan untuk membayar jasa layanan printilan ini.

Masih panjang lagi daftar drama menjelang dan pada saat hari perkawinan. Dari mulai soal makanan yang disembunyikan oleh pegawai catering, hingga soal souvenir perkawinan yang harganya tak seberapa tapi diincar banyak orang. Yang mengincar tak hanya para tamu, tapi juga para vendor yang bertugas pada saat resepsi. Ada juga drama uang hadiah yang dibawa lari oleh salah satu keluarga pengantin atau bahkan dibawa lari oleh tuyul yang konon kabarnya berkeliaran di gedung-gedung perkawinan.

Perkawinan di Indonesia bukan perhelatan yang murah. Biaya perkawinan kadang bisa mencapai harga satu buah rumah, dari rumah sangat sederhana hingga rumah mewah. Tergantung siapa yang mengadakannya. Seperti saya sebut di atas, banyak calon pengantin serta orangtuanya yang menabung selama bertahun-tahun untuk menjamu para tamunya. Jadi, alangkah eloknya jika kita tak membebani pengantin dengan permintaan ajaib yang tujuannya hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri dan menguras tabungan mereka. Kalaupun keluarga pengantin adalah keluarga yang berada, patut diingat bahwa mereka memulai hidup baru. Kitalah yang seharusnya memberikan sedikit hadiah bagi mereka untuk memulai lembaran baru, kalau tak bisa, setidaknya jangan biarkan mereka memulai lembaran baru dengan hutang.

Jadi ada drama apa di perkawinanmu?

Xx,

Tjetje

Advertisements

78 thoughts on “Drama Perkawinan

  1. Alhamdulillah ga ada. Semua urusan perkawinan kami sendiri yang ngurus lintas benua dalam waktu kurang dari 3 bulan disambi ngurus dokumen2 kawin diantara jadwalku menghadapi ujian bahasa Belanda dan ujian proposal tesis. Bagi2 tugas kami. Jadinya ga merasa stress. Suami desain undangan nikah, menciptakan lagu yang akan dia nyanyikan pas waktu kawinan, memilih2 lagu yang akan dinyanyikan, ngurus dokumen kawin, mendesain suvenir kawin. Aku sisanya. Jadi kawinanku ga ribet karena ibu tidak mencampuri ini dan itu. Membantu jika aku meminta bantuan. Menyerahkan dan mempercayakan semuanya ke kami mau didesain seperti apa kawinan kami. Karena yang diundang ga banyak : hanya teman-teman dekat, saudara dekat dan tetangga2. Jadi suasananya juga guyub karena semacam pesta kebun dipekarangan rumah sendiri. Perkawinan yang seperti ini yang dari dulu aku impikan. Akad dan pesta dalam jadi satu dalam hitungan jam saja. Diadakan dirumah. Ga ruwet, berkesan, dan guyub. Suami juga seneng karena meskipun yang diundang ga banyak tapi tetap kental nuansa Jawa. Jadi dia juga belajar tentang perkawinan dalam budaya Jawa yang memakai ritual2 tertentu.

  2. Saya gak mengalami drama dalam hal perkawinan. Berjalan normal. Biaya juga gak berat-berat amat. Hasil nabung bertahun memang diniatkan buat biaya nikah.

    Kalo mau gampang tinggal hidup bersama tanpa nikah, hahaha….

  3. Pesta perkawinan memang ribet sih… dimulai dari kita sendiri saja kali ya sebagai undangan supaya tidak mengambil makanan terlalu banyak pas resepsi, kalau sudah kenyang jangan ambil lagi :hehe. Pernikahan bukan sesuatu ketika kita bisa ikut sok jadi majikan dan pakai fasilitas secara gratis, bahkan kendati kita tamu, ada batas yang harus dihormati.

      • Makanya, kalau menikah menurut saya juga lebih baik jangan di Bali… apa-apa serba mahal terus banyak aturan yang kadang dicari di ajaran agama juga tidak ada dan itu agak tidak masuk di logika, tapi semua mengatasnamakan “masyarakat”, “desa”, dan “adat”… seolah-olah yang menikah itu masyarakat, bukan si mempelai :hehe :peace.

  4. Potensi kejadian drama ini emang banyak bangey Mbak Tjetje. Syukurnya dulu waktu kami miniiim banget drama. Baca ini jadi bener-bener bersyukur deh dulu gak sampe seheboh yang ditulis di sini.

  5. Padahal saya sering denger ttg drama menjelang pesta pernikahan ada cerita sama ada yg beda tapi tetep aja selalu bikin terkejut. Souvenir berupa uang berbentuk bunga (kayak anak pejabat waktu itu) buat saya bikin terbelalak nggumun “wow duitnya banyak”, atau teman yg diajak kerabatnya kekondangan bawa seluruh keluarga krn dah ngasih “amplop” lumayan banyak mnurutnya, kaget saya. Banyak lagi cerita2 nya.

  6. Dramanya: 1800 undangan dan aku cuma dapat jatah berapa? 10 undangan saja. SEPULUH SAJA SODARA-SODARA!! Belum dikurangin kakak yang minta jatah undangan dua, jadi jatahku tinggal 8!!!! Berdiri 3.5jam, tamu gak berhenti datang, dan 80% dari mereka aku gak kenal siapa. Belum lagi uang angpau yang sedianya sudah deal akan untuk aku dan suami eh dibawa kabur beberapa juta oleh … none other than ibu dari suami. Hahaha. Atuhlah. Nanti kalau mau nikah lagi, udah bilang mama, cuma mau intimate party 20 orang teman aku semua. Kalau orang tua mau bikin pesta besar ya silakan, aku datang aja sama suamiku untuk ikutan. Hahaha.

  7. Mbaaaa *langsung garuk2 dinding* ini banget lah lagi aku alamin. Emang seh gak sampe drama lebay, tapi buat jadi penengah antara mau nya keluarga sama pengantin cowok ini kadang2 bikin garuk2 kepala. Ada beberapa yang bilang aku lumayan beruntung, keluarga cowok itu bule yang which is gak banyak mau nya, ngikut aja, tapi somehow ngejelasin kenapa ada beberapa hal tradisional yang harus dilakuin itu agak ribet juga. Ya sudahlah dijalanin saja, semoga gak terjadi banyak drama seperti yang ditulis hehe…

  8. Uhmm.. Aku drama banget mbak.. Klo dijabarin disini bisa puanjang hehehe. Tp untungnya sih terselesaikan tepat waktu dan sukses acaranya 🙂

  9. Alhamdulillah ga ada. Akad n resepsi sangat sederhana. Dirumah dan hanya undang keluarga dekat (paling jauh garisnya sepupu2 pihak ortu), sahabat dan tetangga aja.

    Ga banyak drama, undangan puas, makanan enak2 dan ga banyak kebuang dan ringkas. Jam 8akad, jam 12 udah beres resepsi. Jam 14 udah santai2 tanpa make up.

  10. semua yang tercantum diatas mbak, lengkap dramanya 😥
    yang paling nyesek itu bagian kebaya deh, udah dikasih masih banyak komen ina inu *haishhhh

  11. Nope, won’t happen to me. Bartosz dan aku lebih ke simple wedding dimana yg diundang hanya inner circle dan keluarga. I’d rather spend money on family and closest friends, rather than on some strangers just to show off.

  12. Aduh… ini nih yang aku takutin. Pacar juga belum punya, sebenernya belum mikir mo nikah sih, tapi kalo ngeliat nikahan saudara yang mewahnya seampun2 jadi mikir ini duit hasil nabung berapa tahun ya? Aku kepingin menikah yg sederhana, kalo bisa nggak mau ada panggung utk pengantin, malah pengantin yg muter2in tamunya dan kepengen semuanya dapet duduk. Kalo mau kayak gitu harus ketat banget ya pembagian undangan dari pihak cewek atau cowok dan harus belajar ngomong “nggak” kalo ada sodara yg minta jatah undangan.

    Sekarang di Indonesia lagi tren bridal shower, tapi kok esensinya malah jadi kayak makan minum fancy gitu. Setahuku bridal shower direncanain ama temen2nya si cewek dan si cewek gak tau sama sekali. Ngeliat dekornya dan pemilihan restonya yang gak main-main bikin aku mikir “mending duitnya buat dipake bulan madu adventure-ing sebulan di new zealand…”

    *semuanya dibilang mahal dan mending ditabung buat bulan madu ke new zealand*

  13. Saya sedang merencanakan pernikahan, kakak saya yg memberi saran seperti apa nanti acaranya, mau pakai undangan atau tidak. Saya bersyukur krn kakak dan tante mau bantu untuk persiapan. Keluarga pasangan juga menyerahkan konsep acara ke keluarga saya. Ngga terlalu ada drama dalam persiapan sejauh ini hehehe

  14. Ini bener, drama banget. Duh apalagi kalo ortu demanding, keluarga demanding, stress. Mikirin pesta married sendiri 4 tahun lalu pasti bergidik sendiri, stress nya gak ilang 2 tahun mbak 😦

      • nambah pusing, dan maaf maaf ya kadang mereka yng lebih gak tau diri. Mereka minta fasilitas ini itu dan bawa cabang (anggota keluarga lain yang gak kita kenal sama sekali) buanyak. Kalo inget bak Tje, pusingnya masih berasa sampe sekarang *brb tegak p4n4d0l* 😆

      • Hehehe itulah istimewanya. Err mungkin tergantung keluarganya juga sih, di beberapa keluarga sungkan itu gak ada dikamus mereka 😀

  15. Ini bener banget, gara2 sering lihat temen2 yg nyiapin pernikahan. Bahkan yang gak usah pusing biaya pun *re- dimodalin ortu* tetep lah drama hebat apalagi krn si ortu yang bayar mrk yang atur semua sampe ke masalah dress. Kayak mrk aja yg nikah. Aku maunya nikah sederhana aja kalo nanti2 nikah. Undang yang deket2 n beneran have a good time. Dana sisanya buat jalan2 ke Eropa hahahaha

  16. weleh mbak, kalau dibilang drama, kawinanku isine drama thok. sumpeklah orang kitanya yang kawin disuruh ngikut maunya ortu. sampai rasa pengen ngomong kurang ajar udah bapak ibu sajalah yang kawinan lagi, hitung-hitung buat ngerayain berapa tahun perkawinan.

  17. Biaya dan syarat nikahnya sebenernya murah mbak Ailsa, baik secara agama maupun sipil. Yang mahal biaya gengsinya. 😀

    Udah gitu selang seminggu orang udah pada lupa juga ada apaan aja di drama perkawinannya.

  18. kakakku mau married 2017 mbak Ail, pusingnya udah dari sekarang hahaha.. tp semoga semuanya aman terkendali deh biar aku gak pusing juga, soalnya yang bantuin planning aku hahahahha

  19. Alhamdulillah ga kena terlalu banyak drama karena saya milih nikah di masjidil haram mekkah dan pulangnya ga bikin resepsi nikahan, hanya acara syukuran makan2 di rumah aja 😛 lah gimana mau bikin resepsi, nabung buat ongkos umrah 2 keluarga inti aja udah lumayan banget, apalagi waktu itu dolar sempet naik ke 12.000

    ya paling adalah yang bisik-bisik komen kenapa gak bikin acara nikahan yang “normal”, tapi aydonker lah.. 🙂 sini kan anti-mainstream *halah*

  20. kalau nga mikirin keluarga besar, pengen rasanya acara pernikahan hanya diresmikan di rumah ibadah dan catatan sipil tapi apa daya… halah sudah mikir yang macam-macam padahal pasangan aja belum ada wkwkwkwk. salam kenal yach mbak.

  21. Sedang berdoa semoga tidak mengalami hal-hal tsb mba. Hahaha..
    Ortu dua pihak boleh saja bilang “tidak ikut campur” di awal planning, tapi semua itu seringkali hanya teori semata ketika planning sudah berjalan dari hari ke hari, bulan ke bulan. Meskipun dananya murni dari si couple tanpa bantuan ortu.

  22. Iih baru bacanya aja udah pusing. Apalagi kalo dilakuin. Kalo gue nikah pengen kayak dosen gue. Dia waktu nikahin anaknya ga pake resepsi. Secara agama & sipil disaksiin sm keluarga deket. Besoknya sebar surat ke tetangga “Telah menikah anak kami si anu dan anu. Mohon doa restu” titik. Sip. Ga pake drama.

  23. ini ceritanya aku lagi marathon bacain postnya mbak Tjetje yang lama lama. hahaha maap ya kalo bolak balik komen 😛
    btw, kalo inget acara nikahanku, aku jadi sayang duitnya. mending kupake buat beli rumah. hahaha. resepsiku sederhana, tapi tetep aja yeeeee ‘sederhana’ juga ngabisin duit :)))
    ada juga pihak yang demanding, tapi aydonker mbak. siape elu, gak nyumbang kok demanding 😛

  24. Halo mbak Tjetje, slm kenal. Lagi mumet nyiapin kawinan trus nemu blog ini dan baca komen”nya, jd merasa terhibur 😀 kebetulan lagi dilanda drama “jatah undangan” ribeeeut emg ya kawinan ituuu …

  25. Hai mba Tjetje, salam kenal yaa…
    baca tulisan dirimu seru2 yaa hehehehe…

    Alhamdulillah mba, dulu saya nikah sederhana, semua dikerjain sendiri, less drama (paling dramanya sama pasangan aja sblm nikah karena milih warna kebaya pas nikah mau warna apa secara saya penggemar berat warna ijo, tp dia maunya putih hehehe… akhirnya pakai kebaya warna putih itupun beli jadi di Ambassador hihihi)…
    yang kita undang cuman keluarga dan teman2 dekat. Akadnya pagi hari di aula dpn rumah saya, terus abis itu dari siang sampe malem pindah ke rumah dia buat makan2nya (makanan yg masak ibu2 pengajian di kompleksnya). Gak ada pelaminan, tiap ada tamu kita keluar, nemenin, mingle sama tamu2 hehehe

    Alhamdulillah, sekarang udah 10 tahun menikah, udah punya anak 1 umur 9 tahun (Insya Allah langgeng bahagia selamanya… Aminnn)…

    Makasih ya mba ud boleh ikutan sharing 🙂

      • Halo mba Tjetje, iya Ayu mba…
        Aminnn terima kasih doanya mba 🙂 doa yang sama untuk dirimu juga ya mba 🙂

        Btw, mba Tjetje kelahiran 70an juga kah? soalnya dari tulisan2nya mba Tjetje terutama yang soal nostalgia telepon, musik/kaset itu juga saya alami hehehehehe…

      • Ahhhh beda tipis ama aku mba Tjetje, aku kelahiran 78….
        *jd aku manggilnya Tjetje aja kali yaaa hehehe*
        iyaaaa aku kangen sama masa2 dimana ada barang2 jadul ituuu hahahhaa

  26. Halo mba Tjetje, kalau saya sangat bersyukur waktu nikah ga ada drama berlebih paling cuma ribet di KUA deket rumah yg pemimpinnya kayaknya mau matre gitu begitu lihat pasangan saya bule. Tapi karena kami putusinnikah di bali jadinya semuanya lancar2 saja.
    Kami menikah cukup di KUA aja dan ga pake resepsi. Karena menurut saya dan ibu saya ga perlu buat resepsi. Yang sederhana aja dan yang penting langgeng kalau kata ibu saya. Hehehehehe lumayan juga ngirit jadinya mba. Persiapan buat beli perlengkapan nikah juga cuma sehari aja hehehehehe ngubek2 ke blok m.
    Kalau kata ibu saya yang penting sah dimata agama dan di 2 negara.

    Maaf ya mba saya panjang kalau comment

  27. Pingback: Heboh Foto di Perkawinan Orang | Ailtje Ni Diomasaigh

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s