The Passage of Colourful Batik Madura

Attack dan Elle Magazine berbaik hati mengajak 15 orang perempuan jalan-jalan ke Madura dengan ongkos 500rb rupiah saja. Judul tripnya Attack Batik Trip. Biaya itu termasuk harga pesawat garuda PP, hotel 2 malam di Santika Surabaya serta makan. Sebagai penganut prinsip travel semurah dan senyaman mungkin saya pun tidak melewatkan kesempatan jalan-jalan mengelilingi Madura. Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya rangkum buat bahan referensi untuk yang mau ke Madura ya!

Museum Tjakraningrat Bangkalan.

Museum yang bisa berjarak sekitar 1 jam dari Surabaya ini tergolong kecil. Lebih kecil dari lapangan sepakbola. Isinya juga tak banyak dan kondisinya begitulah. Kursi bekas ratu dan rajanya pun tanpa anyaman, berlubang sana-sini. Debunya jangan ditanya lagi, bahkan laba-laba pun bersarang di salah satu sudut museum ini. Kondisi museum di Indonesia emang mengenaskan ya.

Selain bercerita sejarah pak pemandu juga bersemangat membagikan cerita mistis di museum ini. Jadi, ada satu set gamelan yang suka bunyi sendiri pada hari-hari tertentu, mungkin gamelannya sudah di auto play untuk waktu-waktu tertentu. Konon, jika gamelan dan sitarnya bunyi, tandanya lapar, minta sesajian. Ada lagi gamelan yang tak boleh dilangkahi oleh perempuan, kalau perempuan melangkah, alamat nggak akan punya anak. Wah, daripada pemerintah susah-susah bikin program KB alangkah baiknya jika ibu-ibu yang anaknya lebih dari dua diminta berlomba melangkahi gamelan ini.

Ole Olang Restaurant

Restaurant Makyus, karena pernah dikunjungi oleh Pak Bondan. Kalau pak Bondan doyan cumi kuning yang empuk (empuk, tapi pedes banget) saya berpegang teguh dengan niat makan nasi jagung. Sebagai orang Malang yang sudah terekspos dengan nasi jagung sejak kecil, kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Biasanya di Malang nasi jagung disajikan dengan ikan asin, tempel mendol, sayur berkuah santan dan rempeyek kacang. Ini menu sarapan yang bisa di beli di pasar-pasar tradisional di Malang. Tapi di Madura, nasi jagung disajikan dengan cara yang berbeda. Ketika itu sayur yang ditawarkan adalah sayur daun katu bening. Ini salah sayur kesenangan saya dan dulu kami hanya perlu memetik dari halaman rumah (jadi nostalgia). Tapi tetep, percampuran nasi jagung dan sayur bening buat saya kurang bergreget.

Batik Patimura, Tanjung Bumi

Saya menyebutnya toko batik pejabat, karena toko ini telah pernah dikunjungi bu Ani Yudhoyono serta pejabat pemerintahan lainnya. Biarpun langganan pejabat, harga tetep bersahabat. Saya “hanya” sukses memborong tiga lembar batik tulis, itupun berhutang dahulu karena toko ini tak kenal alat gesek, baik penggesek ATM maupun penggesek kartu kredit. Semuanya harus cash!  Ada satu batik yang khas dari daerah ini, namanya batik gentong, tapi saya menahan diri tak membeli karena harganya yang mencapai 1,2 juta.

Batik gentong itu batik khas Madura yang pewarnaannya dilakukan di dalam gentong selama berbulan-bulan. Ada kepercayaan, kalau ada tetangga atau kerabat yang meninggal, proses pewarnaan bisa kacau. Ya kalau ada yang meninggal hati aja kacau, apalagi mewarnai. Oh ya, ilmu menawar sadis nggak berguna di Madura. Biarpun jurus bahasa Madura pas-pasan dikeluarkan, tetep aja mereka nggak terpukau. Diskon paling banyak yang diberikan, 20 ribu saja! Setelah belanja, kami juga sempat disuguhin demo mencuci dengan Attack.

Batik Love Story

Makan malam kami ditemani dengan film karya Teh Nia Dinata yang berjudul “Batik Love Story”. Film documenter ini menceritakan tentang batik di Jawa, dari Cirebon sampai ke Madura. Duh..setelah  menonton film ini saya jadi ngenes sendiri melihat para pembatik yang resah dengan regerasi. Sayangnya film ini nggak didistribusikan dengan luas, tapi kalau berminat nonton boleh kontak Attack atau Teh Nia Dinata untuk nonton bareng.

Day 2 – 9 September 2012

Pasar 17 Agustus

Sebenarnya kami akan diinapkan di Madura sehingga nggak perlu wira-wiri melintasi jembatan Suramadu.  Tapi karena konflik Syiah dan Sunni, rencana ini buyar. Tuh kan, konflik itu gak bagus, gak bagus buat traveler dan gak bagus buat pedagang batik. Tapi beruntungnya kami diinapkan di Hotel Santika Surabaya. Sarapan tradisionalnya bikin saya gak mau meninggalkan hotel, tapi tetep harus ditinggalkan, kalau nggak timbangan meronta-ronta.

Jadilah kami menempuh perjalanan panjang dari Surabaya menuju pasar 17 Agustus yang letaknya nun jauh di ujung timur Madura. Pasar ini cuma buka dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu, dan  bubar pada saat adzan Dhuhur dikumandangkan. Ya nasib, setelah pantat diratakan dengan perjalanan selama 3 jam lebih, adzan berbunyi lima belas menit setelah kami tiba. Pasar bubar, saya tegar, dompet tetap bugar!!

Akhirnya saya ngekor Eka memilih batik di Asmara Batik. Lumayan dapat motif klasik junjung drajat. Diharapkan dengan memakai kain ini, derajat kita akan naik. Harganya, 125 ribu saja & batiknya tulis saudara-saudara. Murah banget kan? Sayang pewarnanya naptol, bukan pewarna

Kendati selama perjalanan ini waktu habis “terbuang” untuk mondar-mandir Surabaya-Madura, melintasi Jembata Suramadu & Madusura, saya tetep seneng karena bisa melihat kekayaan negeri ini & bisa menjejakkan kaki di Madura. Jadi orang Jawa Timur, tapi nggak pernah menjejak di Madura.

Rangkaian perjalanan ini merupakan rangkaian terakhir dari attack batik trip setelah sebelumnya diadakan di Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Terimakasih Attack dan Elle Magazine yang telah membawa saya jalan-jalan pintar. Terimakasih juga buat Iwet yang sudah menambah pengetahuan saya tentang batik. 

 

xx,
Tjetje

Lokasi Konsulat Irlandia di Jakarta

Menjadi warga negara Indonesia, dengan passport hijau memanglah tidak mudah. Setiap kali mau jalan-jalan ke negara tetangga jauh, dokumen yang disiapkan mesti segambreng. Saya yang berencana syuting sequel P.S I love you jenguk calon mertua ke Irlandia, minggu lalu harus apply visa dengan membawa dokumen ½ rim saja. Karena saya daftar di konsulat, otomatis dokumen ½ rim ini harus di copy lagi untuk konsulat, sedangkan yang asli dikirim ke Singapore. Jadi total dokumennya, satu rim saja ya bow!

Dokumen sebanyak satu rim itu terdiri dari foto cantik saya yang di belakangnya dibubuhi angka pendaftaran aplikasi online. Surat referensi kerja dari Pak Bos yang menjamin bahwa saya akan kembali pulang setelah cuti. Slip gaji selama tiga bulan terakhir, bank statement selama 6 bulan terakhir, masih ditambah pula surat referensi dari bank. Surat referensi selembar ini dihargai Bank Mandiri 50rb saja. Iya, 50ribu aja. Sadis! Tak lupa saya lampirkan copy passport hijau yang tidak sakti itu dan berkas asuransi beserta polisnya.

Host saya di Irlandia juga harus mengirimkan mengirimkan bank statement selama 6 bulan terakhir, surat undangan, rekening utilities selama 3 bulan terakhir dan copy passport. Karena saya baik, saya memberi ekstra dokumen, kontrak kerja saya dari awal saya kerja di kantor ini dan form cuti yang sudah disetujui oleh direktur kantor.

Konsulat Irlandia Nyempil

Di website ditulis bahwa alamat konsulat Irlandia ada di Gedung BEJ tower I, lantai 12. Duh..kalau masuk di gedung yang super ajaib gini saya jadi suka nervous dan norak. Sampai urusan masuk lift aja saya mengalami kebingungan, untung ada mas-mas dari World Bank yang yang membantu saya. Nama si Mas, Bli Ida Bagus Oka. Semoga jodoh dan rejeki si Bli Oka ini lancar ya.

Setelah sampai di lantai 12, saya clingak-clinguk toleh kanan dan kiri, pilihannya Cuma dua: Ernst and Young atau  Kantor Roosdiono & partners. Saya puterin lantai 12 itu sampai ke depan pintu tangga darurat, mushola juga gak ketemu. Nanya-nanya, nggak ada yang tahu dimana letak. Sementara telpon selalu nyambung ke mesin fax. Akhirnya, setelah berkutat selama 15 menit nelpon konsulat (di dalam kamar mandi) tanpa henti, ketahuan lokasinya: di dalam kantor pengacara Roosdiono itu. Pantesan gak ada yang tahu! Catat baik-baik ya: Konsulat Irlandia itu ada di dalam kantornya Roosdiono.

Saya disambut ibu Anna yang kemudian mengecek kelengkapan dokumen saya. Ternyata saya harus menyertakan copy akte kelahiran yang sudah di translate, untungnya dokumen tersebut bisa di email. Kemudian saya diberi tanda terima dan diminta bayar 500ribu. Lha, katanya visanya gratis kok bayar? Ternyata uang 500rb ini adalah administrasi, karena mereka harus kirim dokumen ke Singapore.

Proses visa ini katanya akan memakan waktu 3-4 minggu. Jadi selama 4 minggu ini saya akan berdoa secara rajin biar prosesnya lancar. Semoga!

Update: Lokasi Konsular sudah pindah ke alamat sbb:

Embassy of Ireland, Jakarta-Indonesia
CEO Suite, Indonesia Stock Exchange Building (BEJ)
17th Fl, Tower II, Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53
Jakarta 12190
Phn : (021) 5291 7453 atau 5291 7455
Fax : (021) 515 77 99
 
Update lagi: urusan visa sekarang ditangani oleh kedutaan langsung, silahkan baca cara mendaftar visa ke Irlandia di sini. 
 
xoxo,
Ailtje