Tukang Bungkus-bungkus

Dalam satu perhelatan perkawinan, saya pernah menangkap basah saudara pengantin, dengan seragam kebanggaannya, mengeluarkan kotak-kotak plastik aneka rupa. Tanpa malu-malu, dimasukkanlan makanan yang disajikan di area VIP tersebut ke dalam kotak plastik. Padahal, pada saat itu tamu masih banyak berseliweran dan belum pulang. Perilaku tersebut merupakan perilaku terencana yang direncanakan dengan matang. Kalau ini merupakan pembunuhan, maka pembunuhan berencana itu hukumannya lebih besar ketimbang yang tidak direncanakan.

Budaya bungkus-membungkus di negeri kita ini sudah mendarah daging sejak dahulu kala. Tengok saja ketika arisan, ibu-ibu itu sudah diberikan kotak berisi makanan untuk dibawa pulang, eh masih juga kotak itu dipenuhi hingga mau meledak dengan sisa makanan yang tersaji di meja. Ya harap maklum, ibu-ibu ini kan diajari kalau nyapu harus bersih, jadi kalau dalam arisan, semua makanan di piring juga harus disapu bersih dan tak bersisa. Lagipula, para ibu ini berhati mulia lho, motonya: lebih baik saya yang kegendutan daripada tuan rumah yang kegendutan.

Pada dasarnya, kebiasaan bungkus membungkus ini didasari kecintaan kita pada perut sendiri, kecintaan pada orang lain di rumah serta keengganan untuk membuang makanan dan budaya berbagi. Dua yang terakhir nggak perlu diperdebatkan, niatnya mulia kan, biar bumi lebih indah dan biar orang yang kelaperan bisa kenyang.

Kecintaan pada perut sendiri biasanya terjadi kepada anak kos, seperti saya, melihat makanan berlimpah ruah, sayang jika terbuang. Bagi anak kos, kesempatan membungkus itu tidak boleh disia-siakan,  supaya anak kos nggak perlu repot-repot masak, tinggal menghangatkan untuk makan hingga seminggu ke depan. Disamping itu, membungkus makanan sisa juga memberikan kesempatan bagi anak kos untuk menghemat uang karena nggak perlu makan di luar. Biar gaji anak kos belasan atau puluhan juta juga tetep ngelakuin ini, prinsipnya kan menghemat biar cepet kaya.

Selain anak kos, ibu-ibu yang males masak juga suka kegiatan bungkus membungkus ini. Alasannya, selain supaya orang-orang tercinta di rumah bisa merasakan makanan, biar menghemat uang dan biar nggak perlu repot masak. Istri yang pintar mengatur uang, tentunya akan jadi pujaan suami. Perkara  makanan yang dibungkus mengandung micin sekilo, digoreng pakai minyak jelantah atau bahkan mengandung minyak B2, urusan belakangan. Soal penampilan makanan juga tak penting, yang penting bawa aja dulu. Bener deh kalau ketemu ibu-ibu brutal begini, biasanya aneka makanan dijejalkan ke dalam plastik, hingga bentuk (dan tentunya rasanya) berubah.

Ibu-ibu vs Pekerja dengan Keterampilan Terbatas

Suka nggak suka, di negeri ini pembagian kasta itu masih eksis. Gak percaya? Lihat aja kalau ada perhelatan makan-makan, pasti para pekerja dengan keterampilan terbatas (unskilled labour) seperti pekerja pembersih, pekerja rumah tangga, aparat keamanan biasanya baru boleh makan, atau baru mau makan, setelah para VIP ini selesai makan.

Mereka ini lebih tahu diri dari kita lho, buat mereka mendingan dapat sisa makanan tapi semua tamu kenyang dan bahagia, daripada mereka makan dahulu lalu tamunya nggak kebagian.Lucunya, saya sering mendapati mereka beradu cepat dengan ibu-ibu yang membungkus makanan. Sudah mereka mendapatkan makanan ‘sisa’, masih juga harus beradu cepat dengan para pembungkus makanan. Kita memang sering lupa kalau para pekerja ini berhak makan dengan tenang, seperti tamu agung.

Dari merekalah seharusnya kita belajar. Belajar supaya nggak usah bungkus-bungkus makanan dan memprioritaskan makanan sisa untuk dibagikan ke mereka yang memerlukan. Harusnya merekalah yang kita encourage untuk bungkus-bungkus, bukan kita yang nggak pernah kesulitan beli sayur, apalagi beli daging-dagingan.

Saya juga gak menampik fakta bahwa saya suka bungkus-bungkus, walaupun sekarang lebih memilih membungkus buah-buahan dari rumah tante. Kalaupun kemudian saya bungkus lauk pauk atau makanan lain yang non-buah-buahan, makanan tersebut biasanya berakhir di  post keamanan kos atau pekerja kos . Selain takut kegendutan, saya juga males kalau harus makan makanan yang sama selama seminggu kedepan.

Jadi, kapan terakhir kali kamu ngebungkus makanan?

Advertisements