Sampah Plastik

Saya sering nyinyir, menyindir orang Indonesia dan perilakunya dengan sampah. Ngakunya sih orang beriman dan kebersihan adalah bagian dari iman. Tapi, membuang sampah di tempat sampah, entah mengapa tak pernah dianggap sebagai bentuk keimanan. Bagi banyak orang, menyimpan sampah di dalam kantong atau tas, sambil menunggu bertemu tempat sampah, hukumnya tak wajib. Sementara buang sampah di trotoar, kendaraan umum (dari kopaja hingga pesawat) dianggap sebagai hal yang tak memalukan.

Kesadaran membuang sampah saja tak ada, apalagi kesadaran untuk memisahkan sampah. Di Irlandia, wajib hukumnya memisahkan sampah menjadi tiga bagian; general waste alias sampah sisa-sisa makanan masuk ke wheelie bin hitam, daur ulang masuk ke tempat sampah hijau, serta sampah yang bisa diolah menjadi kompos dimasukkan ke tempat sampah coklat. Sama seperti di Indonesia, buang sampah juga gak gratis. Kalau iuran sampah di Indonesia bulanan, di Irlandia bayar sampah itu per tempat sampah, satu tempat sampah 11 Euro saja; tapi khusus untuk daur ulang gratis. Makanya kalau makan harus diabisin, bayar sampahnya mahal bow.

Bicara tentang sampah tak bisa lepas dari tas plastik, alias kresek. Tas plastik ini adalah mimpi buruk dunia persampahan kita. Cobalah lewat tempat pembuangan sampah, dalam gunungan sampah itu pasti banyak ditemukan tas plastik. Kresek-kresek itu juga sering berakhir di pulau-pulau cantik di Utara Jakarta, membuat kepulauan Seribu jadi jorok. Tak hanya itu, penyu, singa laut, serta lumba-lumba juga sering mati karena mengira plastik sebagai makanan.

turtle-wbags-03

Illustration courtesy of Maria of http://www.flyingclouddesign.com/ and used with permission

Kantong plastik di Irlandia tak diberikan gratis, harus bayar, 30 hingga 80 sen (Rp. 4500 – Rp. 12000), tergantung tokonya. Tak heran kalau banyak orang yang jalan-jalan sambil bawa tissue toilet ataupun sekantong roti tawar, tanpa kresek. Sementara, di supermarket-supermarket besar, banyak orang yang dengan cueknya memindahkan satu-persatu belanjaannya dari trolley ke dalam bagasi mobilnya.

Pemandangan yang tak normal bagi orang Indonesia, karena yang normal di negeri kita adalah bungkusan plastik berisi kantong belanjaan. Saking tergantungnya kita sama kantong plastik, sering kali pembeli meminta ekstra plastik dengan berbagai alasan. Yang paling sering saya denger sih takut jebol karena plastik yang super tipis. Tapi ada juga yang nggak malu-malu minta untuk buang sampah. Padahal, kantong hitam khusus sampah juga dijual, dasar ogah rugi.

Beberapa hari yang lalu, saya berbelanja ke sebuah swalayan kecil. Hanya empat barang yang saya beli dan bisa dibawa dengan tangan. Jadi, saya menolak plastik. Mbak kasir yang melihat belanjaan saya berulang kali menawarkan plastik, tapi tetap saya tolak & si mbak pun tertegun. Buat saya nyimpen plastik kresek itu riweh, makan tempat, sementara kamar saya sudah penuh dengan tas-tas kain untuk ngangkut belanjaan (hasil dari workshop ini itu). Bukan berarti saya puasa dari plastik, hari gini konsumsi plastik itu tak terhindarkan. Tapi rasanya wajib hukumnya bagi kita untuk mengurangi konsumsi plastik, semampu kita.

Selain mengurangi kresek, saya juga hobi mengempeskan botol air kemasan, supaya hemat ruang di tempat sampah.  Hemat ruang, hemat plastik buat bungkus sampahnya kan? Saya juga punya kebiasaan melipat sampah kertas, ataupun plastik pembungkus menjadi seperti ini:

image

Eyang Putri saya yang membiasakan. Setelah dilipat, dimasukkan ke dalam tas. Tak heran kalau tas saya, mirip tas Eyang Putri saya, banyak banget sampahnya. Gak papalah tas saya jorok, yang penting bukan lingkungan sekitar yang jorok.

Gimana caramu mengurangi sampah plastik?