How to Buy a Husband in Hong Kong

IMG_8157

What do you have in mind when you see this kind crowd? I am sure you will be attracted and naturally, you will come closer to see what they are selling.  I did the same and found this interesting banner:

husband

Being a shopaholic, I immediately bought one without trying to bargain. So, the next time someone ask when will I get married, I would tell them that I have bought my husband in Hong Kong.

Buy your husband in HK

For the single ladies out there who are interested to buy a husband, please book your ticket to to Hong Kong and take ferry to Cheng Chau Island in Hong Kong. Go grab your husband!

Mengunjungi Pulau Cheng Chau di Hong Kong

Tadinya, saya akan diajak ke sebuah pulau cantik, tapi karena kami tak menemukan dermaga keberangkatan (dan baru ketemu saat kembali),  kami secara random pergi ke pulau Cheung Chau di Hong Kong. Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal cepat selama 20 menit saja. Soal ongkos jangan tanya karena kami hanya nempel-nempelin Octopus Card, kartu ajaib Hong Kong yang bisa dipakai buat bayar hampir apa saja.

Pulau kecil ini lumayan cantik  dengan pasir pantai yang besar layaknya di Lombok. Pasarnya dipenuni dengan ikan kering dan ikan asin hasil tangkapan para nelayan. Saya ini penggemar toilet publik, jadi begitu nemu toilet saya pun langsung masuk dan toiletnya bersih sodara-sodara. Bangsa yang beradab, buat saya adalah bangsa yang tahu bagaimana merawat toiletnya. Toiletnya kering, dilengkapi dengan tisu, nggak bau pesing dan flushnya pakai kaki, cukup injak pedalnya. Toilet untuk penyandang disabilitas juga tersedia lho. Rupanya ada mekanisme kontrol dari masyarakat untuk memonitor pelayanan yang diberikan kontraktor toilet dan ajakan itu ditempelkan di dalam toilet.

IMG_8178

Di dalam pasar nggak boleh merokok. Di banyak tempat di HK merokok memang dilarang

Image

Sepeda para nenek pun roda empat. Tengoklah di depannya ada bapak geret koper.

Kami tadinya berjalan berkeliling hingga menemukan persewaan  sepeda, lalu menyusuri pulau kecil ini dengan sepeda sewaan. Nyewa sepeda dibandrol dengan harga 20 HKD per jamnya, tapi perlu ninggal uang jaminan 100 HKD (sekitar 150ribu rupiah). Alat transportasi utama di pulau ini rupanya sepeda, tapi dilarang berboncengan, entah mengapa. Mungkin potensi jatuh, apalagi ketiup angin lebih gede ketika boncengan. Kalau nekat boncengan bisa didenda hingga 2000 HKD. Sadis!

Image

Satu hal lagi yang saya perhatikan, orang Hong Kong itu kalau kemana-mana suka bawa koper gede. Entah apa isinya, tapi dari Ngo Ping sampai restaurant top kami selalu menemukan orang yang bawa koper. Ada seorang bapak yang saya tengok bawa koper besar berisikan tabung oksigen dan si Bapak juga bernapas pakai kabel oksigen yang disambungkan dengan kopernya. Misteri isi koper lainnya hanya Tuhan dan sang pemilik koper yang tahu.

Makanan di pulau Cheng Chau tidak terlalu “murah”, kami membayar 100 HKD sekitar 120 ribu rupiah untuk makan siang berdua di warung biasa-biasa saja. Uniknya jus jeruknya asli jeruk, saking aslinya itu cuma jeruk yang dikupas lalu dicacah ke dalam gelas. Jadi minumnya pakai usaha karena nyari cairan. Seperti dibanyak tempat di Hong Kong, makanan halal susah ditemukan. Untungnya sapi juga tak banyak dilibatkan dalam menu makanan Hong Kong, jadi saya yang tak makan sapi pun bahagia.

Image

Warung Ikan Asin tanpa Ikan Hiu

Pulau ini bisa di jelajah dalam waktu singkat dan bisa langsung pulang hari. Kami kembali sekitar pukul 4 sore dengan feri lambat yang memakan waktu 40 menit. Worth the visit, lumayan cari angin segar, sebelum malamnya demam tinggi karena DBD.

IMG_8177

Public library dan penyandang difabel

Gimana ada yang berminat mengunjungi pulau kecil ini?