Belajar Disiplin dari Orang Hong Kong

Waktu saya ke Hong Kong kemarin, salah satu hal yang saya takjub adalah bagaimana mereka disiplin dan mengikuti aturan dengan baik. Mengutip kata bos gede saya, masyarakat Hong Kong itu being like a German, alias ikut aturan. Beberapa hal sederhana yang saya temukan dalam kehidupan sehari masyarakat di Hong Kong antara lain:

Nunggu orang keluar lift di pinggir

Kebanyakan orang Jakarta nunggu masuk lift di depan pintu lift dan langsung serobot masuk tanpa menunggu yang orang keluar.  Walaupun terlihat sederhana, ketidakdisiplinan ini bikin gemes. Di HK orang-orang itu menunggu di pojok luar lift yang tidak menghalangi orang-orang yang keluar.

Btw tip berguna dari Mbot  untuk menghukum orang-orang ini adalah dengan memencet semua lantai sebelum kita keluar. Jadi begitu mereka masuk, lift pun akan berhenti di setiap lantai. Mampus!

 Antri kayak bebek di halte bis

Di Hong Kong, nggak peduli tua dan muda, orang antri kalau mau naik bis. Antriannya satu-satu, baris, nggak kayak halte transjakarta yang antrianya gak jelas. Nggak hanya di bis, di MRT pun masyarakat Hong Kong ngantri dengan di sisi kanan kiri pintu dan memberikan ruang yang lega bagi mereka yang akan keluar.

Sementara di negeri ini, antrian halte transjakarta itu bikin orang mengelus dada karena aturannya cuma yang nggak punya malu dan yang paling kuat nyikutnya bisa langsung masuk ke dalam bis. Padahal, di halte transjakarta sebenernya sudah ada pembagian lajur penumpang turun dan naik, pernah nyadar kan garis tipis di pintu dengan panah yang menunjukkan arah lajur masuk bis atau keluar? Tapi lagi-lagi karena ketidakdisiplinan orang dan karena orang terburu-buru (semua orang juga terburu-buru kali) banyak yang suka menghalangi orang keluar dari bis karena ingin segera masuk bis.Hal kecil seperti ini memperlambat keluarnya penumpang.

Kalau udah ada yang kayak gini biasanya dengan gagah saya akan menabrak orang-orang dengan bahu kanan kiri, seruduk! Nggak cukup nabrak orang, saya juga gak sungkan injak kaki mereka. Kejam? Mereka ini udah gak bisa diajarin pakai aturan, jadi ya kita main kasar aja.

Eskalator & Travelator

Di Hong Kong, orang-orangnya kalau menggunakan escalator atau bahkan travelator sangat jelas; yang di kanan jalan pasti santai-santai diam dan tak terburu-buru, sementara yang di kiri khusus buat yang mau jalan cepet-cepet. Jadi nggak boleh berhenti di sebelah kiri. Di Indonesia saya perhatikan hanya sebagian orang yang melakukan hal ini. Bahkan baru-baru ini saya berujar permisi pun orang di depan saya tak mau minggir. Egois!

Beli Tiket

Nah kalau ini gak di Hong Kong tapi di Irlandia. Orang-orang Irlandia tidak sedisiplin orang Hong Kong dalam menggunakan escalator, ataupun ketika keluar masuk tram, tapi yang saya perhatikan bagaimana masyarakatnya dilatih jujur dalam membeli tiket. Pengguna Luas, tramnya Dublin, harus membeli tiket bisa membeli tiket di mesin dan langsung masuk ke Luas. Nggak ada alat pengecek tiket, jadi modalnya cuma jujur.

luas_dublin_mainimg

photo: aecom.com

Sekali-sekali ada pemeriksaan petugas, waktunya tak tentu. Kata Mas G sih mereka kadang suka ngecek di pagi hari yang penumpangnya penuh sesak. Kalau ketangkap tanpa tiket, dendanya lumayan gede, Euro 50. Sementara tiketnya sendiri berharga 2 euro untuk jarak dekat dan bisa lebih mahal lagi jika jarak tempuh jauh. Btw, selama dua minggu terakhir saya di Irlandia, saya selalu menggunakan Luas. Dalam waktu dua minggu itu saya cuma ketemu mereka tiga kali aja & ngeliat mereka mendenda orang satu kali.

Indonesia memang indah dengan segala kekacauannya. Tapi kalau tiap hari harus berkutat rebutan naik ke dalam bis Transjakarta, pusing gak sih? Capek mental dan fisik nggak sih? Belum lagi sampai di dalam kantor harus rebutan lift. Tambah BT kan? Jadi belajarlah  untuk lebih disiplin karena disiplin itu harus dimulai dari diri sendiri dan harus sekarang; kalau nggak sekarang dan kalau nggak kita yang memulai, kapan lagi? *eh jadi kayak partai deh*

Selain hal-hal di atas, orang Indonesia suka nggak disiplinnya apalagi ya?

How to Buy a Husband in Hong Kong

IMG_8157

What do you have in mind when you see this kind crowd? I am sure you will be attracted and naturally, you will come closer to see what they are selling.  I did the same and found this interesting banner:

husband

Being a shopaholic, I immediately bought one without trying to bargain. So, the next time someone ask when will I get married, I would tell them that I have bought my husband in Hong Kong.

Buy your husband in HK

For the single ladies out there who are interested to buy a husband, please book your ticket to to Hong Kong and take ferry to Cheng Chau Island in Hong Kong. Go grab your husband!

Cara Kawin Beda Agama di Hong Kong

Perkawinan beda agama di Indonesia tidak dimungkinkan dan sepengetahuan saya, hanya Gereja Katolik yang mau mengawinkan pasangan beda agama. Sebagai alternatif, banyak negara di dekat Indonesia yang mau mengawinkan pasangan beda agama. Yang terdekat tentu saja Singapura, ada pula Thailand, Hong Kong dan juga Australia. Dari semua negara itu, Hong Kong merupakan pilihan yang paling mudah karena tidak minimum stay di sana (Singapore mewajibkan salah satu pihak untuk stay minimal 15 hari), tanpa visa, prosesnya mudah dan cepat, bahasanya Inggris (Thailand punya bahasa sendiri dan semua dokumen harus diterjemahkan dahulu) dan biayanya jauh lebih murah ketimbang panggil pegawai KUA di negeri ini (yang tarifnya tak jelas, apalagi kalau kawinnya sama bule). Sementara Australia saya tidak melakukan riset, karena WNI perlu visa untuk kunjungan ke Aussie. Pendaftaran perkawinan di HK juga relatif mudah, bisa dilakukan melalui pos, tiga bulan sebelum tanggal perkawinan yang kita pilih.

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk kawin di Hong Kong, dengan asumsi kedua belah pihak sama-sama single, tidak pernah menikah dan tidak punya anak adalah:

  • Copy passport kedua belah pihak
  • Bank Draft yang ditujukan ke: The Government of the Hong Kong Special Administrative Region senilai 305 HKD
  • Notice of Intended Marriage (dilegalisir notaris)
  • Form MR21B
  • Perlu dicatat bahwa pada saat perkawinan, pasangan pengantin perlu membawa dua orang saksi.

Mari kita bahas satu-satu biar nggak pusing, saya nggak akan bahas tentang passport karena asumsinya sudah tahu apa itu passport.

Bank Draft

Bank draft di Indonesia bisa dibeli di BCA, biayanya 50.000 rupiah & perlu waktu sehari bagi BCA untuk bikin. Belinya di teller langsung, atau bisa juga ke customer service dulu. Masalahnya,nggak semua teller BCA itu ngerti apa bank draft, apalagi yang baru-baru dan pakai tanda Bhakti BCA, pasti langsung bingung. Jadi kalau si mbak teller kebingungan, suruh panggil manajernya langsung.

Kalau gak bisa ke BCA yang kecil, cari yang besar. Ada beberapa opsi lain, bisa langsung ke BNI atau ke HSBC.

Bank Draft

Notice of Intended Marriage

Form ini boleh diisi dengan tangan aja. Jika anda sama-sama single maka yang diisi dari halaman satu sampai tiga saja, jangan di print bolak balik supaya nanti ada tempat untuk legalisir.

Pastikan sudah tahu dimana lokasi yang akan dipilih. Yang enak sih di Cotton Tree Drive Marriage Registry karena deket dengan taman. Nanti setelah kawin bisa langsung foto-foto. Nggak perlu malu, banyak banget penganten (dan juga mahasiswa yang habis wisuda) foto-foto heboh disitu. Jangan takut dipalak sama pegawai pertamanan juga karena foto pakai baju penganten, karena cuma di Jakarta yang PNSnya berani ngerampok rakyat.

Form notice of intended marriage ini ditandatangani salah satu pihak yang melapor saja dan HARUS dilegalisir oleh Notaris dalam bahasa Inggris. Kita tidak perlu tanda tangan di atas materai sementara Notaris akan melegalisir di atas materai. Biaya legalisir ini macam-macam, kisarannya sekitar 300ribu rupiah. Yang dilegalisir bagian belakang dari lembar pertama, bentuk legalisirnya seperti ini:

Notaris Legalisasi

Perlu diingat selambat-lambatnya 3 hari sebelum perkawinan, pasangan calon pengantin akan diminta untuk datang dan menghadap. Oleh karena itu perhitungkan tanggal perkawinan dengan baik. Jika tanggal yang dipilih jatuh pada hari Senin, maka calon pengantin harus menghadap selambat-lambatnya hari Kamis minggu sebelumnya. Kalau saran saya, mendingan kawin hari Kamis pagi dan lapor hari Senin (jadi bisa terbang ke HK hari Minggu). Perkawinan pagi, kemudian siangnya bisa langsung ke KJRI. Jangan lupa check hari libur di HK juga ya.

Form MR 21 B

Form ini rasanya cukup jelas & bisa diisi dengan bolpen hitam atau biru. Jangan lupa mencentang bahwa pendaftaran dari outside HKSAR. Pada bagian primary contact silahkan dicentang siapa yang menjadi kontak utama. Tapi jika ada apa-apa, yang akan dikontak tetap dua belah pihak. Alamat kedua belah pihak juga boleh tidak sama.

Seluruh dokumen tersebut dikirimkan via post tercatat, kalau dari Jakarta biaya pengirimannya sekitar 150 ribu rupiah. Alamat pengirimannya disini:

The Marriage Registration and Records Office
3/F, Low Block
Queensway Government Offices
66 Queensway
Hong Kong

Nanti tunggu aja, sekitar 12 hari kerja setelah kita kirim mereka akan kasih email panggilan. Saran saja, jangan beli tiket pesawat sampai dapat email panggilan ini, karena kadang aturan mereka bisa berubah. Ada pengalaman dari pembaca, mereka diminta menghadap empat hari sebelum perkawinan. Kalau ada pertanyaan bisa diajukan ke email: enquiry@immd.gov.hk. Mereka sangat membantu!

Untuk dokumen pendaftaran silahkan di download disini (ada dua dokumen ya) :

1) OM forms

2) mr21b

Dokumen ini bisa diupdate sewaktu-waktu, jadi cek dengan mereka apakah form ini masih dipakai.

Berapa biaya perkawinan di Hong Kong?

Biayanya tergantung tanggal yang kita pilih. Kalau milih weekend, akan lebih mahal. Ini tabel biaya yang saya download dari website imigrasi mereka:

biaya perkawinan

Untuk cara pelaporan sebelum perkawinan, upacara perkawinan, hingga pelaporan di Kedutaan Indonesia bisa dibaca disini.

Pertanyaan boleh juga diajukan ke saya via email: binibule.com(at)gmail.com; tapi sebelum nanya baca dulu dua atau tiga kali ya, biar saya nggak bolak-balik ditanyain pertanyaan yang jawabannya sudah ada di postingan ini -> rada gemes.

Jangan lupa juga baca komentar-komentar di bawah, karena kadang aturan berubah.

Hong Kong kawin

Mengunjungi Pulau Cheng Chau di Hong Kong

Tadinya, saya akan diajak ke sebuah pulau cantik, tapi karena kami tak menemukan dermaga keberangkatan (dan baru ketemu saat kembali),  kami secara random pergi ke pulau Cheung Chau di Hong Kong. Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal cepat selama 20 menit saja. Soal ongkos jangan tanya karena kami hanya nempel-nempelin Octopus Card, kartu ajaib Hong Kong yang bisa dipakai buat bayar hampir apa saja.

Pulau kecil ini lumayan cantik  dengan pasir pantai yang besar layaknya di Lombok. Pasarnya dipenuni dengan ikan kering dan ikan asin hasil tangkapan para nelayan. Saya ini penggemar toilet publik, jadi begitu nemu toilet saya pun langsung masuk dan toiletnya bersih sodara-sodara. Bangsa yang beradab, buat saya adalah bangsa yang tahu bagaimana merawat toiletnya. Toiletnya kering, dilengkapi dengan tisu, nggak bau pesing dan flushnya pakai kaki, cukup injak pedalnya. Toilet untuk penyandang disabilitas juga tersedia lho. Rupanya ada mekanisme kontrol dari masyarakat untuk memonitor pelayanan yang diberikan kontraktor toilet dan ajakan itu ditempelkan di dalam toilet.

IMG_8178

Di dalam pasar nggak boleh merokok. Di banyak tempat di HK merokok memang dilarang

Image

Sepeda para nenek pun roda empat. Tengoklah di depannya ada bapak geret koper.

Kami tadinya berjalan berkeliling hingga menemukan persewaan  sepeda, lalu menyusuri pulau kecil ini dengan sepeda sewaan. Nyewa sepeda dibandrol dengan harga 20 HKD per jamnya, tapi perlu ninggal uang jaminan 100 HKD (sekitar 150ribu rupiah). Alat transportasi utama di pulau ini rupanya sepeda, tapi dilarang berboncengan, entah mengapa. Mungkin potensi jatuh, apalagi ketiup angin lebih gede ketika boncengan. Kalau nekat boncengan bisa didenda hingga 2000 HKD. Sadis!

Image

Satu hal lagi yang saya perhatikan, orang Hong Kong itu kalau kemana-mana suka bawa koper gede. Entah apa isinya, tapi dari Ngo Ping sampai restaurant top kami selalu menemukan orang yang bawa koper. Ada seorang bapak yang saya tengok bawa koper besar berisikan tabung oksigen dan si Bapak juga bernapas pakai kabel oksigen yang disambungkan dengan kopernya. Misteri isi koper lainnya hanya Tuhan dan sang pemilik koper yang tahu.

Makanan di pulau Cheng Chau tidak terlalu “murah”, kami membayar 100 HKD sekitar 120 ribu rupiah untuk makan siang berdua di warung biasa-biasa saja. Uniknya jus jeruknya asli jeruk, saking aslinya itu cuma jeruk yang dikupas lalu dicacah ke dalam gelas. Jadi minumnya pakai usaha karena nyari cairan. Seperti dibanyak tempat di Hong Kong, makanan halal susah ditemukan. Untungnya sapi juga tak banyak dilibatkan dalam menu makanan Hong Kong, jadi saya yang tak makan sapi pun bahagia.

Image

Warung Ikan Asin tanpa Ikan Hiu

Pulau ini bisa di jelajah dalam waktu singkat dan bisa langsung pulang hari. Kami kembali sekitar pukul 4 sore dengan feri lambat yang memakan waktu 40 menit. Worth the visit, lumayan cari angin segar, sebelum malamnya demam tinggi karena DBD.

IMG_8177

Public library dan penyandang difabel

Gimana ada yang berminat mengunjungi pulau kecil ini?

Dari Hong Kong Cable Car ke Kampung Nelayan

Awalnya saya berkeinginan menengok Disneyland Hong Kong, tapi reviewnya yang kurang baik (kecil, mahal, tanpa parade) membuat saya urung. Kami berdua akhirnya memutuskan mencoba Hong Kong Ngong Ping 360 degrees. Naik cable car melintasi pulau di Hong Kong. Saya yang dasarnya takut ketinggian agak keder juga, tapi nekat dan hanya memilih mengambil cable car yang biasa saja.

Bagi yang tak takut ketinggian, ada cable car yang lantainya dari kaca, jadi sambil melintasi pulau bisa sambil melihat bagian bawah melalui kaca. Lebih seram, lebih mahal, tapi antriannya lebih pendek. Alternative lain bagi yang ingin kurus bisa ikut paket jalan kaki. Walaupun saya tak membayangkan jauhnya. 25 menit dengan cable car saja terasa jauh, bagaimana dengan turun naik tangga?

IMG_7993

Sebagian rute jalan kaki, gempor-gempor deh

Stasiun Tung Chung, tempat cable car ini terletak tak jauh dari Bandara. Kami yang menginap di bandara, bisa langsung naik bis dan membayar dengan Octopus card, kartu serba bisa yang bisa digunakan untuk bayar MRT, tram ke puncak HK, hingga naik cable car. Sungguh efisien. Walaupun antrian cable car ini sangat panjang, kami mengantri selama satu jam, tapi antriannya tertata dan ditemani wifi.

Ada apa aja di Ngong Ping?

Ada patung Budha super besar yang harus dicapai dengan melatih jantung (baca: ngos-ngosan). Di bawah patung Budha juga terdapat sebuah museum dan harus bayar. Bagi mereka yang angkatan jaman dahulu, di bawah patung ini juga terdapat altar khusus untuk Anita Mui, yang sayangnya tak boleh dipotret.

Wilayah ini juga bisa dikelilingi untuk melihat wisdom path, potongan 38 kayu besar bertuliskan huruf Cina yang isinya kebijakan semua. Satu buah ditinggalkan kosong begitu saja karena kebijakan yang terakhir adalah kekosongan yang tak berarti kehampaan. Dalam banget. 

IMG_8008

ini peta lokasi yang bisa dikunjungi. Ada peta dalam huruf braille juga lho.

Tak jauh dari patung Budha ada restaurant vegetarian yang menyajikan makanan enak-enak. Restaurant vegetarian ini ramai dikunjungi oleh para mbak-mbak yang berjilbab, termasuk para TKW dari berbagai wilayah di Indonesia. Saya mendengar banyak dialek dari Sunda, ngapak-ngapak hingga bahasa Madura. Rupanya hari Minggu menjadi kesempatan buat para TKW untuk berlibur. Yang saya perhatikan TKW ini kalau ketemu saudara sebangsa sendiri bukannya senyum tapi malah jutek dan sibuk menilai orang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sebagai traveler yang malas dandan saya berhasil mendapatkan beberapa kali tatapan setajam pisau disertai dengan kesinisan. Lihatnya juga ga malu-malu dari atas sampai bawah, satpam di Dragonfly dan X2 (club malam di Jakarta yang menentukan dresscode) kalah sadis deh. Tak hanya saya, Mas G pun kena getah dilihat dari atas sampai bahwa. Kelakukan TKW kayak begini ini dimana-mana, dari MRT sampai Ngo Ping. Semuanya menilai dari bungkus luar. Owalah Mbak, I feel sorry for you.

IMG_8010

para penyandang disabilitas juga bisa mengakses Ngo Ping, walaupun gak bisa naik ke patung Budha.

Tak jauh dari Ngo Ping, terdapat desa nelayan yang bisa dikunjungi dengan bis. Lagi-lagi bayarnya pakai Octopus Card. Saya sangat menyukai desa nelayan ini karena kami bisa melihat Hong Kong yang berbeda, less modern, tak terlalu cantik tapi tetap menarik. Kampung nelayan yang cukup semrawut, tapi tak seperti di Jakarta ini dilengkapi dengan hidran dan alat pertolongan pertama jika ada kebakaran. Rumah-rumah mereka, walaupun kayu juga dilengkapi dengan AC. Wah saya yang ndeso ini langsung berdecak kagum sambil mbatin, kapan nelayan di negaraku bisa beli AC?

IMG_8144

itu merah-merah peralatan kebakaran

IMG_8142

Nelayan Kaya Raya, kampungnya pakai AC semua

Berhubung jalan-jalan ke kampung nelayan, maka banyak pemandangan ikan kering alias ikan asin harusnya lucu, tapi akhirnya mengerikan.

IMG_8096

Puff fish. Scary.

IMG_8095

creepy souvenir

Satu hal yang saya perhatikan, orang-orang di Hong Kong ini nampaknya rajin berjalan kaki. Sebagian besar dari mereka, termasuk nenek-nenek, mengenakan sepatu olahraga dengan warna genjreng. Banyak orang saya temui berjalan bersama hewan kesayangannya, termasuk pasangan ini yang berjalan dengan si Pitbull.

IMG_8083

Hello Pitbull

Yang patut diacungi jempol, bis di Hong Kong itu on time dengan jadwal yang jelas. Antriannya pun bener, seperti bebek, nggak kayak disini, sikut-sikutan sana sini. Tapi seenaknya negeri orang masih asyik negeriku sendiri, setidaknya semua orang saling melempar senyum, nggak jutek dan mau menolong. Yang paling penting nggak di screen TKW dari ujung rambut sampai ujung kaki. Maksudmu apa sih mbak TKW kelakuanmu nggak penting banget?!

xx,
Tjetje