Kelakuan Kocak Penumpang Indonesia di Dalam Pesawat

Disclaimer: nggak semua orang berlaku seperti ini dan postingan ini tidak bermaksud menggeneralisasi. Jadi bacanya gak usah pakai emosi ya. Kalau emosi mendingan keramas dulu biar kepalanya adem.

Ceritanya saya baru pulang dari Bali dan lagi-lagi sepanjang jalan ini saya mengamati perilaku penumpang kalau mau masuk ke dalam pesawat dan kelakuan mereka (dan juga kelakuan saya) selama di dalam pesawat. Semoga setelah baca ini kita jadi rajin cari hiburan dengan cara mengamati perilaku orang dan tentunya tidak meniru kelakuan yang tercela:

Masuk pesawat cepet-cepet

Gak di Indonesia aja, di Abu Dhabi & di Dubai orang Indonesia itu maunya masuk pesawat cepet-cepet. Selain berasa tiketnya Bisnis Class, orang-orang ini kayaknya takut ketinggalan. Padahal penerbangan sudah membuat aturan masuk, yang duduk di belakang masuk duluan. Aturan ini sebenernya nggak ngefek karena petugasnya sendiri nggak disiplin ngatur penumpang.

Masuk cepet-cepet juga disebabkan Airlines di Indonesia itu suka nggak disiplin dalam mengatur bawaan penumpang (apalagi budget airlines yang bagasinya bayar). Jadi penumpang yang bawaannya banyak itu (dari tas laptop, tas tangan, tas kamera, paper bag butik ternama, kardus toko oleh-oleh ternama, hingga plastic bertabur kopi berisi duren) harus cepet-cepet biar kebagian tempat.

aircraft cartoon 2 (2)

picture was taken from http://www.airlineratings.com

Foto

Cepet-cepet masuk ke area pesawat juga memberikan orang kesempatan untuk foto di depan pesawat (kan masih sepi) ataupun foto selfie ketika sudah duduk di kursi (mumpung yang duduk di sebelah belum datang). Kira-kira abis itu langsung update status BB: Off to Bali with Garuda Indonesia.

Memberdayakan Pramugari

Yang sering kayak gini nih ibu-ibu rempong. Bawaannya banyak, penuh dengan aneka oleh-oleh tapi gak mikir kekuatan tangannya untuk angkut barang ke penyimpanan bagasi. Akhirnya mbak Pramugari diperintahkan, gak pakai tolong, untuk menaikkan barang bawaan berharga ke atas. Eh tolong ya, emangnya Pramugari itu porter apa kerjaannya naikin barang penumpang?

Duduk di kursi orang

Yang paling sering kejadian nih ya, orang duduk di deket jendela karena mau lihat pemandangan tapi kursi dia sebenernya kejepit di tengah atau di lorong. Mbok ya dibaca dulu itu simbol panduan kursi yang ada di atas!

Rampok permen

Kalau di GA penumpang pasti diberi permen agar tidak sakit telinganya ketika take off. Take off itu gak sampai ngabisin satu permen asal bukanya pas udah taxi. Tapi dasar penumpang Indonesia, permen ini diraup macem anak kecil yang lagi kegirangan karena Hallowen. Abis ngeraup gak bilang terimakasih sama mbak Pramugari dan tentunya bungkus permen dibuang di lantai pesawat.

Males matiin perangkat elektronik

Jadi kalau udah taxi mau take off, sering banget ada orang yang BBnya bunyi, cring…cring…cring. Hadoh, blackberry murahan aja kok males banget matiinnya. Yang pakai Iphone yang nyata-nyata lebih mahal aja pada iklas matiin peralatannya.

FriendlyPlanet_AnnoyingAirlinePassengers_AW_FINAL

Makanan & Susu

Saya berapa kali ini barengan sama orang di pesawat yang dikasih makanan pada gak bilang terimakasih. Lha katanya kita ini bangsa berbudaya, terus apa susahnya bilang terimakasih kalau abis dikasih makanan, dikasih minum atau traynya dibersihkan?

Saya perhatiin juga kalau di GA, mendadak banyak orang yang minum susu. Saya besar dengan susu dan ketika sudah besar ini saya mendadak intoleran dengan laktosa; jadi saya nggak mengamati perkembangan cara minum susu. Jaman saya rajin dicekoki susu dulu, minum susu itu pagi hari ketika sarapan. Kalaupun harus minum susu pas makan siang biasanya dicampur sama kopi atau teh. Apa di Indonesia sekarang kalau abis makan siang minumnya susu ya *macam saya udah gak tinggal di Indonesia aja*? Atau orang-orang ini hanya aji mumpung, mumpung ada susu ya minum susu. Kagak begah apa perutnya abis makan siang minum susu? 

Bungkus!

Kalau pas puasaan, GA biasanya menaruh makanan di dalam kotak jadi para penumpang bisa bebas membawa makanannya pulang. Sendok garpunya kalau lagi puasaan juga berubah, jadi plastic semua, biar gak dibawa pulang.

Lha orang Indonesia suka banget ngebungkus segalanya, ini kayaknya mendarah daging kan, apalagi kalau acara buka bersama, kawinan orang atau acara apapun yang melibatkan makanan. Bungkus semuanya! Kalau di pesawat, sendok garpu dibungkus (saya dulu juga mantan pelaku, pas awal-awal kos nggak punya sendok garpu), makanan dibungkus, roti yang sekarang rajin disajikan dibungkus, kertas yang untuk menampung muntahan juga dimasukkan tas, bersama dengan tisu basah, tusuk gigi, garam dan pepper. Tak lupa majalah GA juga dibungkus. Nggak ada yang ngelarang ngebungkus sih, tapi saya lucu aja lihatnya. Terus wadah muntahan itu nanti dibuat apa? Bungkus gorengan?

Intip-intip Jendela

Nah kalau sudah mau landing nih ya, orang-orang tuh suka banget ngintip ke jendela. Mending kalau duduknya di deket jendela. Ini duduk di tengah, atau lebih parah di lorong, badannya dimiringkan mengganggu penumpang lainnya. Orang Indonesia emang suka nggak menghargai ruang gerak manusia lain. Yang penting urusan dia aja!

Lepas sabuk pengaman

Begitu landing, orang-orang ini suka banget cepet-cepet buka sabuk pengaman lalu berdiri ambil barang. Padahal pesawat belum benar-benar berhenti. Ingat kejadian Lion Air nabrak makam di Solo? Konon banyak penumpang meninggal atau terluka karena kelakuan begini nih.

HP juga langsung dinyalakan, suasanya langsung riuh karena manusia-manusia ini ingin cepet memberitahukan keluarganya kalau sudah landing. Gak bisa nunggu sepuluh menit lagi apa ya sampai di ruang tunggu.

Kelakuan penumpang yang suka bikin geleng-geleng kepala gak cuma itu. Kemarin malah ada yang bersiul-siul riang di dalam pesawat. Begitu saya pandangi (karena saya baru dari kamar kecil) eh dia berhenti, saya duduk dia bersiul lagi. Nggak mikir apa ya kalau penumpang di sekitarnya bukan burung di sangkar emas?

Soal toilet juga jangan ditanya. Kalau sudah agak lama terbang suka banget ada tetesan air seni (kenapa namanya harus air seni sih?) dari bapak-bapak yang sekali lagi merasa barangnya panjang. Apa sih susahnya ngangkat dudukan toilet, kalau jijik kan bisa pakai tisu, kalau tangannya kotor ada air ada sabun. Bekas jongkok pun juga suka ada di dalam toilet pesawat (sumpah gimana caranya jongkok di dalam toilet pesawat!). Padahal pesawat sekarang kan sudah menyediakan kertas untuk pelapis dudukan toilet, tisu juga ada banyak.

Tapi kelakuan paling kocak, menurut saya, adalah kisah ibu binibule berbulu ketiak lebat. Si ibu dengan pedenya mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk mengambil peralatan kecantikannya. Udah macam artis Indonesia jaman 80-90an deh, ketiaknya lebat banget, saya sampai sesak napas ngeliatnya. Si Ibu ini kemudian memasukkan colokan headset ke colokan listrik untuk ngecharge gadget di dekat layar. Ya nggak bisa lah ya, abis itu si Ibu panggil pramugari dan komplain. Pramugarinya kebetulan nggak ngerti juga. Kocak. Akhirnya saya berdiri bak pahlawan dan menjelaskan kalau colokannya ada di deket pegangan tangan!

Hayo sering nemu hal aneh apa lagi di dalam pesawat?

Drama Merayu Polisi Indonesia

Salam dari Irlandia!

Setelah melalui berbagai rupa drama, akhirnya saya nyampai juga di kampung mas G, di Dublin. Kemarin, waktu pamitan sama teman-teman kantor kalau saya mau pergi, ada yang berkata: “Nggak pakai hilang lagi dan nggak pakai drama ya. Drama Queen!”. Niatnya sih nggak ada drama dalam perjalanan ini dan syukurnya juga gak ada drama TKI yang bikin sedih. Tapi niat tinggal niat, perjalanan ini tetep diwarnai drama.

Alkisah taksi pesanan saya belum juga tiba hingga puku 08.20 PM. Pengemudi mengaku masih di daerah Semanggi dan 10 menit lagi akan tiba, tapi GPS tak bohong, si mobil nggak bergerak juga, pasti kena macet. Jadinya saya melambai dan langsung dapat taksi kurang dari dua menit. Anyway, saya pikir cuma Indonesia aja yang canggih, pakai applikasi buat pesen taksi. Di Irlandia ternyata lebih canggih . Pesen taksi dengan nyalain GPS, nanti orangnya cari lokasi kita berdasar GPS itu.

Kemacetan Jakarta sebelum Imlek kemaren agak menjijikkan. Butuh 30 menit untuk keluar dari dari kost saya untuk keluar ke jalan besar Gatot Subroto. Padahal kalau jalan kaki cuma lima menit saja. Pengemudi taksi, Pak Tujoko, ini nggak sabaran banget. Pas di depan balai kartini, taksi sudah berada di lanjur nomer dua untuk putar balik, tiba-tiba supir taksi ambil lajur nomor tiga. Saya pun teriak dan langsung ngomel. Dan ternyata benar, dari lajur tiga gak bisa pindah ke lajur dua, karena ditutup oleh cone orange. Cone orange ini menutupi garis putih lurus, alias gak boleh nyalip. Jadilah kami berada jembatan menuju arah Cawang. Rasanya udah mau nangis dan pengen cekek ini supir Blue Bird karena nggak sabar.

Saya akhirnya memutuskan untuk merayu dua orang polisi, Pak Herman dan Pak R. Anton supaya mau bukain. Yang satu, Pak Herman, galak banget gak mau bukain dan ngomelin si supir.  Tapi saya kekeuh minta dibukain karena waktunya udah mepet banget. Jangan dicontohlah ini, karena ini contoh melanggar aturan. Si Pak Herman bilang, penumpangnya turun aja naik taksi lain lagi. Kalau cuma bawa body mungkin opsi ini saya lakukan, lha tapi saya bawa dua koper, yang satu 27 kilo, yang satu lagi 7 kilo. Gimana ngangkatnya kan nggak ada porter? Akhirnya, dengan muka mengiba-ngiba hampir nangis, saya rayu habis-habisan itu polisi. Minta-minta tolong, karena sudah telat. Rayuan maut saya berhasil, Pak R. Anton membukakan cone orange (melanggar aturan sih) dan kami pun lolos; walaupun pengemudi diomelin habis-habisan oleh pak Polisi. Sudah dalam kondisi begitu, si Pengemudi mau ngasih pak Polisi ceban? Aduh, sudah nyuruh polisi ngelanggar aturan kok mau nyogok pula!! Herannya ini pengemudi juga gak minta maaf sama saya karena melanggar aturan.

polwantime

Saya sampai bandara tepat waktu, pas masuk ruang tunggu langsung boarding. Huah…syukurlah. Btw, ini bukan pengalaman pertama saya deg-degan ke bandara, saya sudah sering melakukan hal serupa dan herannya gak juga belajar. Dulu pas di Aceh saya pernah jadi penumpang terakhir yang masuk pesawat, ditunggu satu pesawat, dan saya duduk di belakang. Telatnya gara-gara saya asik makan ayam tangkap dan asam udang. Hmmm…..

Pelajaran berharganya:

  • Polisi di Indonesia ternyata belum disiplin dalam menegakkan aturan. Dikasih wajah memelas mau nangis aja saya diloloskan melanggar aturan. Saya cuma modal muka mau nangis aja doi sudah mau melanggarkan aturan, kalau modal uang segepok bagaimana?
  • Dari dulu Jakarta itu selalu macet, jadi kalau mau jalan ke bandara itu sebaiknya beberapa jam sebelumnya. Mending bengong di bandara daripada bengong di dalam taksi tapi mules.

Siapa yang pernah terjebak macet Jakarta dan ketinggalan pesawat?