Lupa Bahasa Ibu

Alkisah si Noni menulis tentang orang bermuka Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa sama sekali, layaknya kacang lupa kulitnya. Tulisannya ada di sini. Si Noni juga meletakkan link blognya mbak Yoyen yang membahas orang Indonesia yang lupa bahasa Ibunya sendiri, bisa dibaca di sini . Dua tulisan di atas itu membuat saya terhenyak karena saya orang yang suka lupa kata-kata di dalam bahasa Indonesia dan rajin sekali menyelipkan bahasa Inggris di dalam kalimat. Kalau ada temen lama yang ketemu saya pasti langsung menghakimi bilang “kemenyek”, belagu, mentang-mentang lakinya bule sekarang kalau ngomong pakai bahasa Inggris terus, medok pula.

Di kantor, 99%  waktu saya digunakan untuk berbahasa Inggris dan terkadang membaca beberapa email gak jelas dalam bahasa Perancis. Dengan pasangan jiwa, kami ngobrol dalam bahasa Inggris  Irish, setiap hari. Kalau lagi smsan dengan mama kami kebanyakan berbahasa Indonesia. Biarpun bahasa Ibu saya bahasa Malang, saya sangat jarang ber “koen-koen” ria dengan Emes (di malang, ibu itu Memes).  Ketika bertemu teman gaul, bahasanya gado-gado, terkadang dalam satu kalimat ada bahasa Malang, Inggris dan Perancis (ini bahasa sandi saya kalau lagi membahas berapa harga yang layak). Saya bukan orang sombong yang sok-sokan pamer bisa beraneka rupa bahasa, buat saya kemampuan bahasa itu anugerah dan usaha yang nggak perlu dipamer-pamerkan, tiap orang kemampuannya beda-beda, jadi ya cuek aja dengan kemampuan diri sendiri. Jujur saja, saya mencampur bahasa karena saya sering LUPA kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ini bukan lupa yang dibuat-buat karena saya pengen gaya kayak Cincau Lawrah, tapi ini lupa beneran yang menjadi semakin parah ketika usia bertambah. Biarpun pakai bahasa Inggris, logat saya tetep arema ya. Bahasa Inggris arema nggak ada matinya.

indonesia

Mencampur bahasa itu nggak bikin saya congkak, yang ada rasanya sedih, karena tahu ini terjadi karena otak yang terbatas. Saking terbatasnya saya suka colek kolega bule, hanya untuk tanya: “Bahasa Indonesianya ini apa ya?” atau kalau lagi di depan komputer saya tanya mbah google dulu.Keterbatasan ini kadang membuat saya takut, ngenes dan sedih. Masak nanya bahasa negeri sendiri mesti colek bule dulu atau buka google dulu. Saya sampai takut alzheimer karena dalam merangkai kalimat saya suka berhenti mendadak, karena lupa apa bahasa Indonesianya. Kadang malah berhenti total, karena nggak inget lagi ngomong apa. Habis itu tanya balik sama yang diajak ngomong “Aku lagi ngomong apa ya?”Parah….. Padahal saya ini menghabiskan hampir seluruh hidup saya makan nasi dan menjejak di negeri ini. Saking takutnya, saya sampai sampai bersumpah kalau punya anak, anak saya harus ngomong bahasa Malangan sama saya biar nggak lupa kulitnya dan biar saya sendiri nggak ikutan lupa. Niat mulia ini tapi dibarengi dengan fakta dahi yang mengernyit ketika melihat bahasa-bahasa yang digunakan para teman di di social media. Otak memerlukan sekian menit untuk menafsirkan maksud tersembunyi dari dari bahasa walikan tersebut.

Tapi saya tahu, bahasa itu masih tersembunyi di sudut otak saya. Setiap kali pulang ke Malang, saya butuh setidaknya satu sampai dua jam untuk menggali sudut otak dan mengeluarkan seluruh persediaan kata yang diam berjamur di sudut otak. Setelah penyesuaian, maka mulut pun lancar kembali berbahasa Ibu (maaf bahasa Ibu saya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Malangan). Tapi tetep kalau di Jakarta, ngobrol sama temen, kata yang keluar dari mulut selalu bercampur dengan bahasa Inggris. Entah mengapa, tapi sungguh saya bukan sombong karena bisa bahasa Inggris, ini lebih karena otak saya yang terbatas aja. Bisa juga ini karena koleksi bahasa Indonesia saya yang lebih terbatas ketimbang bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Tapi bener lho banyak sekali kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Inggris yang tidak bisa dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulannya: saya, (ataupun mbak Farah Quinn) yang suka mencampur kata-kata Indonesia dengan Inggris ini nggak sombong kok. Kami nggak sok-sokan bahasa Inggris, tapi otak kami terbatas sekali dan ini (mungkin) karena kami terlalu sering berbicara bahasa Inggris. Biarpun mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, hati saya masih 100% Indonesia kok. Otak boleh lupa bahasa Ibu sendiri, tapi hati nggak akan pernah bisa bohong, saya ini orang Indonesia Malang yang masih bisa menulis surat formal dalam bahasa Indonesia baku dengan baik dan benar dengan gaya PNS. Ini baru congkak?!

Ada yang suka lupa parah dengan bahasa ibu?

xx,

Tjetje

Advertisements

24 thoughts on “Lupa Bahasa Ibu

  1. Aku nggak lupa sih sama Bahasa Ibu. Btw logat arema itu kental banget yaaa. Suamiku juga meudoknya parah kalau udah ngomong Jawa. Hih! Nularin akuuu. AKu kan seneng dengan bahasa Jawaku yang berlogat Yogyakarta nan lembut ituuu *dijitak* 😀 hahaha

  2. Huhuhu ini terjadi sama gueeee!!! Tapi bukan lupa bahasa Indonesia, cuma kadang kalo abis keseringan pake bahasa Inggris, bahasa Perancis nya ilang. Dan kalo abis sering2 pake bahasa Perancis, bahasa Inggrisnya ilang. Untungnya bahasa Indonesia masih bisa, walau pernah juga ada kasus gue lupa satu kata, dan yang kesebut bahasa Perancis. Kasus yang sering terjadi adalah gue bisa ngomong 3 bahasa dalam satu rangkaian kalimat… *hiks*

  3. Hallo Ailtje, Kalau kamu merasa saya menghakimi semua orang Indonesia yang berbicara bahasa Inggris itu bukan maksud saya. Kan saya jelaskan dengan panjang lebar rasa prihatin saya dilihat dari dua sisi: orang tua yang ingin membekali anaknya untuk go global, disisi lain memang saya prihatin kalau begini nanti bagaimana bisa mereka berkomunikasi dengan sejawat kerja yang bukan bilingual.

    Saya khusus sebut Farah Quinn dipost saya yang kamu link diatas karena dia pembawa acara di tv nasional. Banyak penontonnya mungkin tidak tahu maksudnya kalau Farah bilang “Mari kita stir fry sayurannya”. Sentilan saya ini berlaku untuk publik figur yang menyelipkan bahasa asing dalam komunikasi dengan pers, bukan hanya untuk Farah Quinn, dia berlaku sebagai contoh saja.

    • Hi Lorraine, sorry ya kesannya jadi nyindir kamu gara-gara aku nulis Farah Quinn disitu. Tulisan-tulisan tentang lupa bahasa Ibu itu jadi menyentil saya, yang kebetulan suka banget nyampur bahasa. Tapi saya bisa mereview diri sendiri dan ketemu jawabannya: bahasa Ibu saya bahasa Malang, bukan bahasa Indonesia. Anyway, saya setuju bahwa ada beberapa kasus dimana anak dipaksa ngomong bahasa Inggris terus demi maju, sayangnya nggak dibarengi dengan belajar bahasa Indonesia. Lucunya, saya pernah nemu ibu yang nggak jago bahasa inggris dan kalau mau ngomong sesuatu bbm dulu ke saya, nanya gimanangomog yang bener.

      Ah saya nggak kepikiran Farah Quinn bikin penonton bingung, tapi kenapa sama produsernya dibiarin ya?

      • Ngga apa-apa, dengan berdialog kan jadi jelas maksud kita masing-masing 🙂 Nah itu, juga lalainya produser sih menurutku. Thanks for your reply.

  4. Hallo Mbak Ailtje , Arema tibakno…. Nek ngono aku ngomong boso Malangan ae yo! Podo Mbak, aku kadang ngomong yo kecampur-campur… Boso Jowo, Indonesia, Inggris, Prancis, Portugis… Nek mari liburan suwe ndik Malang, ngomong ambek bojoku sing biasane nggawe boso Inggris, moro kecampur boso Jowo. Ngomong ambek morotuwo nggawe boso Portugis, saking bingunge sampe kecampur boso Prancis…. Wis jan gak mbois! Nek onok wong sing sengojo nek ngomong dicampur-campur iku nek prasaku yo aneh…. Btw nek onok waktu deloken blog-ku yo, menjesgoreng.wordpress.com. Blog boso Malangan…. Suwun!

  5. Bukan lupa Mbak Ai tapi jadi selektif haha… kalo ngobrol biasa lancar banget, tapiii kalo suruh mencurahkan rasa hati properly, gak bisa pake Indo lagi rasanya aneh… gara2 keseringan pake bhs inggris sih, apalagi dulu sempet counselling agak lama lagi di sini. Jadinya kebawa deh hehehe

  6. Hi mbak Ailtje
    Aku yo Arema 😀
    Memes jowo,ebes meduro ( otomatis kudu iso ngomong boso meduro pisan ),ndek kerjoan ngomong inggris campur turkish,karo ojob ngomong londo (bingung).
    Ngeluu mbaaakk,koyok mau bengi ojobku takon, (translate an) opo’o tanganmu? Mosok aku njeplak otomatis : keslomot wajan -_-

  7. huahahahaha ternyata gak cuma saya ya… sehari-hari berbahasa belanda, inggris dan indonesia… kalau capek sampai lupa “barusan ngomong bahasa apa ya?”. huahahaha toss dah ! salam dari Belanda. 🙂

  8. lupa bahasa ibu itu ga masuk akal bgt! gimana caranya bisa lupa sm bahasa ibu kalau kita lahir gede tua di indonesia? menurut sy mah ini gaya2 an aja sok bilang lupa bahasa ibu padahal bahasa inggrisnya jg ga sempurna. ini yg bikin sy heran.

    campur2 gpp kalau sesuai dg lawan bicara. kalau di pasar beli pecel dan dan ngobrol sama mbok penjual tempe masa mau dicampur? ya realistis aja lah.

    sy kalau di indo sy pakai bahasa indo sy jarang bgt campur. kecuali ketemu teman2 di indo yg rata2 dulu kuliahnya sama2 di amrik mereka pasti pakai inggris ya saya nyesuaiin ajah.

    but theres no way ill forget my mother’s tounge.

    • Aku belum pernah ketemu yang lupa bahasa Ibu, tapi rupanya yang lupa bahasa Ibu itu totally ga mau ngomong bahasa Indonesia karena lupa. Which, I agree, ga mungkin. Kalau lupa satu dua kata aja sih bisa, tapi kalau semua, mungkin kepalanya abis kena benturan keras.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s