Oleh-oleh dari Irlandia

Ketika tahu saya akan ke Irlandia ada beberapa orang yang secara reflek minta oleh-oleh dan menyebutkan mau oleh-oleh apa. Boro-boro nanya berapa lama, mau ngapain aja, terbangnya kapan, atau basa-basi lain yang menyangkut perjalanan, orang-orang gini biasanya langsung tembak nyebut oleh-oleh yang dimau, nggak peduli dekat atau tidak dengan orang yang diajak bicara. Langsung sebut yang dimau, udah macam penjahat aja minta-minta, tanpa nanya, punya duit gak buat beli oleh-oleh?

 Oleh-oleh yang paling sering diminta kalau lagi jalan ke Eropa adalah coklat. Orang-orang ini suka minta coklat kayak di Indonesia nggak ada coklat aja, padahal di di Jakarta coklat import itu ‘kececeran’. Mau minta apa, harga berapa juga ada. Walaupun tak dipungkiri, ada juga merek-merek yang nggak ada di Irlandia. Saya jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini hanya makan coklat oleh-oleh dan nggak pernah mau modal sendiri, beli coklat demi memanjakan lidah?

Anyway, saya kehilangan teman, karena dia (saya duga) tersinggung gara-gara oleh-oleh coklat yang saya bawa.  Ketika itu saya ‘hanya’ membeli coklat seharga 25 Euro (jaman itu ini coklat berharga 300 ribu rupiah saja!) saja untuk dia. Ketika saya mengajak janjian untuk menyampaikan oleh-oleh coklat itu reaksi yang saya dapat sungguh di luar perkiraan, “udah cuma itu aja, nggak ada oleh-oleh lain?”. Saya mah mikirnya praktis, kalau gak berkenan sama oleh-oleh saya yang ‘murahan’ ya mending saya kasih orang lain, toh masih banyak yang mau.

Selain coklat, alcohol adalah oleh-oleh yang sering diminta. Minta ya, bukan nitip! Batas membawa alcohol di Indonesia itu adalah 1 liter, sementara kebanyakan botol alcohol itu 1 literan (ada sih yang botol mini) dan semurah-murahnya alcohol di negeri orang tetep aja jatuhnya mahal dan berat! Saya sendiri kalau nggak berminat membawa alcohol biasanya akan menawarkan jatah 1 liter ini ke teman dekat, sayang kalau jatahnya gak dipakai.

Nggak bawa oleh-oleh bagi sebagian orang itu dianggap pendosa dan pendosa itu layak dibicarakan. Karena hukum tak bawa oleh-oleh itu dosa banyak orang Indonesia takut nggak bawa oleh-oleh. Takut dianggap pelit dan tentunya takut dibicarakan. Padahal saya jamin, oleh-olehnya mau jelek mau bagus pasti dibicarakan. Hasilnya, banyak orang-orang dengan dana cekak maksa beli oleh-oleh yang sesuai kantong, just for the sake of giving oleh-oleh. Oleh-oleh seperti ini biasanya akan berakhir di tempat sampah karena kurang berguna, atau bahkan tak berguna sama sekali.

snowglobe

Saya sendiri juga suka minta oleh-oleh ke orang-orang (dan nitip), tapi kebiasaan ini berhenti ketika saya semakin sering travelling bayar sendiri dan merasakan betapa beratnya oleh-oleh buat kantong dan punggung. Apalagi kalau travelling saat rupiah lagi melemah seperti ini. Bow, 1 Euro itu hampir 17 ribu, sementara harga magnet disini paling murah 5 Euroan, gantungan kunci bisa 10 Euro. Oleh-oleh bagi saya hanya akan diberikan kepada yang terdekat dan kalau nemu, kalau nggak nemu ya buat apa maksa.

Mengapa budaya ini mengakar di masyarakat? Tentu saja ini karena kebiasaan yang dibiarkan tumbuh subur, dipupuk dan dijaga kelestariannya. Mungkin juga budaya ini timbul karena ada anggapan bahwa mereka yang bepergian adalah orang-orang yang memiliki uang lebih (baca: kaya) dan yang nggak pergi adalah orang yang kurang beruntung. Hukum alam mengatur, yang kurang beruntung berhak mengemis meminta kepada yang kaya.

Uang untuk jalan-jalan itu dikumpulkan beberapa bulan dengan segala penderitaannya, dari mulai makan yang diirit-irit, nggak pergi bersenang-senang, pendeknya menderita dahulu demi melihat sisi dunia yang lain.  Jadi, berhenti tersinggung kalau nggak dikasih oleh-oleh, toh hidup juga gak akan berakhir. Dan yang paling penting, berhenti minta oleh-oleh sama orang lain. Nggak usah bilang “jangan lupa oleh-olehnya ya”, tapi bilang aja selamat jalan-jalan dan have fun.

Tulisan dengan tema serupa dalam bahasa Inggris pernah ditulis disini.

Jadi suka bawa oleh-oleh atau memilih untuk cuek dan nggak bawa oleh-oleh?

Advertisements

20 thoughts on “Oleh-oleh dari Irlandia

  1. kalau aku, tergantung budgetnya mbak Tjetje. Paling ngasi oleh-oleh buat orang di rumah, buat saudara, teman, tante, itu kalau ada budget lebih :D. Untungnya juga kadang kalau nanya orang rumah mau dioleh-olehin apa, biasanya bilangnya ga usah, yang penting akunya senang *lalu terharu*.
    Tapi suka sebel juga kalau ada yang nagih oleh-oleh, dan yang bersangkutan tahu saya liburannya dengan modal pas-pasan, dari hasil ngumpulin duit berbulan-bulan. Kalau ada yang nagih oleh-oleh, biasanya aku tutup kuping aja pura-pura ndak denger.

  2. Sama hal nya kalo aku mudik ke Indonesia. Males bilang2 karena pasti rebut berkicau minta jatah oleh2..ga temen, ga sodara, ga orang yg pura2 deket supaya kecipratan oleh2…namanya oleh2 kan seadanya, sebisanya, dan semampunya tp orang indo punya pandangan sendiri ttg oleh2 hehehe. have fun di irlandia!

  3. Aku udah males beli oleh2 sejak kerepotan nabung duit beli tiket pesawat dan gak punya bagasi. Kemaren pas ke US beli oleh2 juga cuman dikit karena dikit/murahnya barang disana tetep aja mahal kalo di rupiahin hiks. Oh ya sejak ngerasa kerepotan dengan budget oleh2 ini aku juga gak pernah minta oleh2 lagi, udah ngerasa beratnya soalnya. Have fun di Irlandia, darling, aku oleh2nya domba aja deh huhahahaha *dijitak*

  4. Untungnya temen2 sekarang pada mengerti klo saya tuh orangnya “anti” dimintain oleh2. Bukan pelit, bukan apa, cuman memang kaya di Jakarta nggak ada aja? Oleh2 hanya untuk keluarga dekat dan sahabat saja.

  5. Aku juga bingung kenapa ya org Indonesia suka banget minta oleh2 atau dikirimin barang dari LN? Jakarta tuh resourceful banget, segala barang juga ada. Dan souvenir dari sini (Ngamriki) juga kebanyakan made in China. Cari deh di Mangga Dua, pasti ada kembarannya…ha…ha.

  6. have a great time on ireland aiil.. itu snowglobe nya the famous mr leprechaun yaa? akuh minta oleh2 tanda tgn roro aja bole gaak?! :))

    • Hahaha tanda tangan Ronald Keating nemu di mana Thia? Eh dia sekarang tinggal di Inggris ya?
      Snowglobe itu nemu foto di internet, nggak pernah merhatiin sih, tapi buanyak banget snowglobe di Irlandia dan harganya juga mehong.

  7. Ahhh betulll banget. Adikku tuh kesian banget. Mau balik dari US kmrn isinya oleh2 semua. Plus titipan2 orang. Next time dia males katanya. Udah gitu kmrn ada donk teman pas ketemu ama dia di jkt *temen tp ga deket* critanya salaman dan langsung nodong “oleh2 buat gw mana jes?” Trus adekku jawab “yaelah kak…nanya kabar gw kek or brp lama gw dijkt,masa lngsung nanya oleh2 sih?” Aku pun dengernya ilfil

  8. hihihihi… jadi inget kakakku, dia ogah gembar-gembor tiap pulang dari Aussie karena pasti banyaaaaak yang nitip ini-itu… parahnya, bukan cuma nitip oleh-oleh, tapi nitip tolong bawain barang aja gituuu… misalnya si A nitip seplastik/sekardus kecil barang buat keluarganya A di jakarta, atau sebaliknya… cuma tahun-tahun pertama aja kakakku mau, setelah itu pasti nolak dengan tegas 😀
    aku juga paling males bawa oleh-oleh, males bawanya 😀
    btw, salam kenaaaaal

    • Aku sebenernya gak keberatan kalau koperku kosong, kemarin dari Irlandia koper kosong banget karena banyak yang aku tinggal di Dublin. Cuma males janjiannya ketemu sama penerima, seringkali mereka suka belagu dan seenaknya sendiri. Jadi mengingan lewat pos aja lah.

      • Aaaaaahhh… aku tau rasanya tuh…
        Beberapa kali di rumah nungguin orang yang mau ambil titipan barang, ehh datengnya rata-rata ngareeeett… malah pernah ada yang telat berjam-jam, eh taunya cancel tanpa ngabarin dong dong dong 😀

  9. Halo! Salam kenal mbak BiniBule (maaf saya tidak tahu nama mbak) saya setuju banget sama tulisan mbak tentang oleh oleh. saya mencoba untuk terbatas memberi oleh oleh hanya untuk orang terdekat saja, tapi sialnya ini saya suka rese mempengaruhi saya untuk bawa oleh oleh buat tetangga di rumah – sy pikir ini gak perlu banget karena kalo mereka jalan jalan juga belum tentu kita dikasih oleh oleh! Jadinya ya udah, pilihannya adalah tetap sy dahulukan utk orang dekat & lainnya sy beli sekadarnya aja.

  10. Oooh,,,, maaf maaf banget…. Mbak Ailtje… Namanya mbak ada diatas ya… Saking semangat nya sy gak scroll up tadi… Maaf ya mbak… Salam kenal 😊

  11. oh yg dimaksud mgnet yg di foto itu.??,,oh y mbk,,aku kan sering kliling eire via street view gugel earth tu,,hehe..rsany udh bner2 kyk jln2 disono aj 😀 itu yg aku liat yg ada lampu2 jln kok cm dikotany aj y mbk,,klo udh msuk ke gang yg agk kcil kok sm skali gda lmpu pnerangan jln,.itu keadaan klo mlm gmna mbk.??,,apa gk kyk kota mati.??,

    • Nyala kok, cuma emang gak seterang Jakarta. Coba cek instagram ku ada foto lampu2 di Smithfield Dublin yang warna-warni. Itu daerah pasar kuda, masih ada pasarnya sebulan sekali. Nah dengan lampu itu ada pencahayaan tapi ya minim banget emang.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s