Gado-gado Dari Ambon

Hello from Ambon!

Pekerjaan kembali membawa saya mengunjungi Ambon. Beberapa waktu ini memang saya super sibuk, alhasil blog agak terlantar dan pengumuman hadiah kaos jalanan terpaksa tertunda. Hari ini setiba di Jakarta akan saya undi pemenangnya. Nanti tengok pengumumannya di twitter saya @binibuleID

Dari beberapa kali kunjungan, saya mengambil kesimpulan bahwa orang kebanyakan pria Ambon itu ramah-ramah. Dimana tempat, bahkan ketika menyeberang jalan, pasti ada pria yang menyapa saya dan tersenyum lebar. Kalaupun flirtatious tidak dengan vulgar seperti di kota-kota lain seperti Jakarta. Oh ya, pria-pria di Ambon saya perhatikan suka memakai aksesoris, utamanya kalung dan ukurannya pun besar-besar. Tak hanya pria dewasa saja, anak-anak kecil juga suka memakai aksesoris. Mungkin, bahan aksesorisnya adalah besi putih.

Perempuan Ambon saya perhatikan tak banyak mengenakan aksesories. Kalaupun ada yang mengenakan, biasanya mereka mengenakan kalung atau cincin yang berhiaskan mutiara. Nampaknya, bisnis meluruskan rambut di Ambon cukup Berjaya, karena saya menemukan banyak sekali perempuan yang rambutnya diluruskan.

Bapak-bapak polisi di Ambon juga sangat ramah. Teman saya sukses diantarkan Pak Polisi naik motor untuk membeli nomor perdana. Sinyal XL disini luar biasa leletnya, sementara simpati Berjaya. Saya juga sempat melihat seorang Polisi, lengkap dengan senjata laras panjangnya membantu seorang Ibu yang motornya tak bisa dinyalakan. Aksi-aksi kecil tersebut membuat Polisi jadi terlihat seperti pelayan masyarakat, sungguh berbeda dengan polisi di Ibukota yang tiap pagi gemar melanggar aturan dan masuk jalur cepat di bawah jembatan Semanggi.

Moda tranportasi

Selama di Ambon, saya memuaskan kegemaran saya naik becak. Kendati abang-abang ojek serta angkutan umum mudah ditemukan, saya lebih memilih naik becak kemana-mana.  Soal harga, saya tak pernah nanya dulu dan langsung masuk ke dalam becak. Pengemudinya pun tak ada yang pernah ngamuk ketika saya memberi uang. Berbeda sekali dengan di Yogyakarta, biarpun kita memberi berlebih, seringkali pengemudinya ngomel dan minta lebih. Apalagi kalau naiknya sama bule, alamat diperes abis-abisan.

image

Bule

Oh ya mbak-mbak bule hunter perlu banget ekspansi target area hingga ke Ambon, karena di Ambon banyak bule-bule yang berlibur. Bahkan, di Hotel tempat saya menginap, Swiss-belhotel, para pegawainya bekerja sambil mengobrol bahasa Inggris. Lagi belajar rupanya. I am forget..I am forget katanya.  Supaya potensi Ambon dapat dimaksimalisasikan, Pemerintah Kota Ambon juga akan menggelar Mangente Ambon 2015, visit Ambon 2015. Salah satu program yang saya lihat, melibatkan Glenn Fredly, penyanyi favorit saya.

Keponakan lucu

Tak afdol rasanya kalau ke Ambon dan tak bertemu keponakan-keponakan saya yang lucu. Kali ini saya makan di depan mereka dan komentarnya: “Tante jangan makan banyak-banyak, nanti perutnya tambah besar”. Tak hanya berkomentar soal makanan mereka juga mempertanyakan sepatu saya yang itu-itu saja. Walaupun punya banyak pasang sepatu, saya memang gemar memakai sepatu merah ini, gak heran kalau mereka bosan melihatnya. Oh ya, mereka juga sempat bertanya kapan saya hamil, karena mereka pengen punya adik untuk adiknya. Hahaha….untung mereka masih kecil, jadi lucu. Kalau sudah besar pasti saya manyun.

image

Ngomong-ngomong tentang hamil, sudah tahu kan kalau saya sering disangka hamil? Ceritanya bisa di baca disini. Nah baru-baru ini, seorang rekanan kerja dari Papua menelpon saya hanya untuk bertanyaan satu hal: “Ibu  sudah melahirkan atau belum?”. Saya nggak marah sama sekali tapi pengen ketawa ngakak, sungguh perut saya (dan kebiasaan saya mengelus perut) memang berbahaya.

Hayo siapa yang pengen ke Ambon?

Danke !

Tjetje

Advertisements

38 thoughts on “Gado-gado Dari Ambon

  1. Mauuu. Dari dulu emang penasaran pengen ke Ambon terus lanjut jalan jalan ke Ora hehehe. Seneng ya liat sekarang Ambon udah aman, gak ribut ribut terus.
    Btw mau toss dulu dah, sering juga di sangka hamil gara gara ndut nya cuma di perut. hahaha pernah ditawarin duduk (setengah dipaksa) malah sama pramudi nya TransJakarta 😆

  2. Ahhh aku jadi mau pulang mbak Ailsa..rindu makanan dan suasana disana *padahal april kemaren udh kesana*
    Mbak Ail coba naik ojek deh ke tempat yg agak jauhan dikit, ntar pas mau bayar tukang ojeknya bilang “brapa sa ibu” alias bayar berapa aja terima hihihi

  3. hebat cerita mengenai polisi Ambon, bener2 beda sama polisi di ibukota hehe 😛
    di jakarta ga berani kak naik kendaraan umum sebelum tanya harga, pas turun bisa digetok paksa bayar 100 ribu *pengalaman pribadi*

    • Bener, di Jakarta dan kota-kota lainnya harus nanya dulu dan peras memeras. Di Ambon aku merasa aman dan tak diperas.

      Polisinya luar biasa ya, coba di seluruh Indonesia bisa seperti ini.

  4. ooh Ambon! Rujak Natsepa di pantai Natsepa ngangeniin. nyong Ambon-nya pada sopan2, gak segan bawain belanjaan kita cewe2. sampe2, mau beli underwear di dept. store juga dianterin, katanya takut kalo kita nyasar.

Show me love, leave your thought here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s