Ada beberapa orang yang tak demen nonton konser dan berkata dengerin musik di rumah itu sama aja. Eitts…tunggu dulu, sensasi mendengarkan musik di konser itu gak sama. Yang membedakan nonton konser dan mendengarkan lagu di Spotify, Apple Music atau YouTube itu adalah pengalamannya. Ada keseruan dari mulai nyari tiket, high paska konser yang kemudian ditutup dengan depresi paska konser, jika konsernya memuaskan.
Konser terakhir saya sebelum pindah ke Irlandia. Ini kali terakhir saya menonton bung Glenn
Nonton konser juga berarti melihat detail produksi dan eksekusi konsep dari artis tersebut. Dimulai dari gimana mereka bercerita tentang musik mereka, memilih set list, memilih kostum, penataan lampu, panggung, kualitas musik, visual LED, koreografi, penari, interaksi dengan penonton, kualitas stadium, efek spesial, akses ke venue artis pembuka, dan atau kejutan duet dengan artis lain.
Merchandise juga seringkali menjadi bagian dari konser. Fans biasanya akan berdiskusi soal ketersediaan sampai harga. Bagi banyak penggila konser, suvenir ini menjadi barang kenangan, sebuah bukti mereka pernah menjadi bagian dari konser.
Lingkaran Nonton Konser
Saya menikmati konser sejak menggunakan seragam sekolah saat remaja. Jaman itu saya masih bisa berdiri sambil loncat tanpa masalah selama berjam-jam. Dulu, di Malang, kota tempat saya besar, banyak penyanyi yang sering mampir dan tiket nonton konser amat sangat terjangkau dengan uang saku saya. Lingkungan pergaulan saya saat itu juga sangat suka nonton konser. Jadi cocoklah!
Lingkaran ini kemudian berlanjut ketika saya pindah ke Jakarta. Kali ini jangkauan konser saya makin luas, tak hanya artis lokal, tapi juga artis internasional. Soal musik pun juga berkembang, saya bisa nonton musik klasik. Sebuah hal yang tak pernah dapat kesempatan untuk lihat langsung di Malang.
Teman-teman gaul saya di Jakarta hobinya tak hanya nonton konser tapi juga ngasih tiket gratis, dari tiket penyanyi Indonesia sampai tiket internasional. Saking demennya nonton konser, satu bulan sebelum pindah ke Irlandia, saya masih sempat nonton konser, berdiri di depan panggung mengagumi suara merdu Bung Glenn. Lalu beberapa tahun lalu, dengan teman-teman yang sama, saya mudik dan nonton konser lagi, kali ini reuni KlaProject. Sungguh beruntungnya saya dikelilingi orang-orang ini.
Salah satu hal yang saya perhatikan dari teman-teman yang hobi nonton konser itu adalah obrolan soal produksi atau bahkan sekedar bertanya: “Gimana, bagus, seru?”Apalagi kalau konsernya pecah! Di konser terakhir yang saya tonton di Indonesia, kami bahkan tak segan untuk membahas kualitas vokal sang penyanyi yang sudah tak seperti dulu, mungkin karena usia dan juga rokok!
Bicara soal konser berantakan bagi saya dan lingkungan saya bukanlah hal yang tabu. BTS di Busan contohnya. Teman saya dari piyik tak segan untuk bercerita tentang kekacauan penyelenggaraan, padahal dia ini die hard fans BTS. Dia gak segan untuk berbagi dan mengkritisi dengan detail aneka kekacauan, dari mulai bahasa, staff yang tak mumpuni, sign, panjangnya antrian sampai soal pembagian hadiah.
Bagi saya dan banyak teman, artis itu manusia biasa, produksi itu bisa tak sempurna dan sangat boleh dikritik. Ya kalau mereka tak dikritik, bagaimana mereka bisa maju dan dan menjadi baik?
Salah satu konser terbaik yang pernah saya tonton
Diskusi dan Rekomendasi
Diskusi soal pengalaman nonton konser ini seringkali diwarnai dengan rekomendasi atau ajakan menonton. The Corrs contohnya. Kendati tinggal di Irlandia, band ini gak pernah masuk dalam top list yang saya pengen tonton. Sampai seorang teman yang juga ratu konser menyuruh saya pergi nonton.
Ternyata konser ini jadi salah satu konser terbaik yang pernah saya tonton. Sampai detik ini The Corrs duduk di kursi teratas bersama P!nk. Tapi, apa yang terbaik bagi saya bukan berarti menjadi konser terbaik bagi orang lain.
Ketika manggung di Skotlandia, The Corrs ternyata tak maksimal. Salah satu anggotanya tak ikut, dan penontonnya kebanyakan orang tua. Jadi crowdnya tak meriah, mati dan tak seru. Kalau tak karena diskusi dengan seorang rekan blogger di sana, saya tak akan tahu hal ini.
“Meracuni” pergi konser ini juga terjadi pada tetangga saya. Dia melihat saya pergi nonton The Script entah berapa kali dan saya tak henti bercerita tentang produksi mereka yang OK punya. Tetangga saya lalu penasaran dan pergi nonton tanpa saya suruh. Dia mengalami sendiri keseruan yang selalu saya rasakan tiap nonton The Script di Dublin.
“Oh pantesan aja kamu nonton mereka hampir tiap tahun”.
Kalau Tulus udah “konser di kawinan keluarga” beberapa kali. ❤️
Budaya Kritis
Baru-baru ini saya nonton konser dengan orang yang tak tumbuh dalam lingkungan konser seperti saya, pengalaman konsernya sangat minim. Dari jauh-jauh hari sebelum konser berlangsung, saya sudah dikirimi pesan supaya tak berkomentar tentang artis yang kita tonton. Komentar-komentar saya disuruh menyimpan untuk pasangan atau sosial media saja. 😳
Jujur ini sebuah permintaan yang membingungkan buat saya. Seumur hidup nonton aneka konser, saya belum pernah ketemu yang model begini. Saya terbiasa dikelilingi dengan orang-orang yang bisa kritis dan berimbang dalam berdiskusi soal artis. Kalau jelek ya jelek, tak perlu dipoles menjadi bagus.
Menariknya, sesaat setelah nonton konser, saya dikirimi aneka pesan dari teman-teman saya yang bertanya soal konser. Ada yang sesama penggemar artis ini, ada pula yang selera musiknya jauh berbeda dari saya. Yang nanya? Teman saya, org Belanda di Irlandia, teman saya orang Indonesia di Amerika dan juga sobat ratu konser saya di Indonesia. Salah satu dari mereka bahkan menyuruh saya memberikan skors.
“Jadi out of 10, konser ini kamu kasih nilai berapa?”
Dari interaksi yang bertabrakan ini saya jadi sadar, gak semua orang tumbuh di lingkungan yang menjadikan konser sebagai sesuatu yang didiskusikan dengan sehat dan terbuka. Lagi-lagi ada privilege dalam cara kita dibesarkan.
Penutup
Selama ini saya gak pernah menyadari privilege terbesar saya. Ternyata bukan soal bisa menonton konser saja, tapi juga bisa menonton dengan orang-orang yang membuat saya nyaman menjadi diri sendiri. Bisa bebas berdiskusi, berbeda pendapat, tanpa perlu menyensor atau menekan opini orang lain. Bahkan dalam berdiskusi pun saya bisa kritis tanpa dituduh menyerang artis. ❤️
Anyway, tulisan ini adalah bentuk apresiasi saya kepada teman-teman saya, you know who you are, yang sudah menghabiskan banyak waktu kalian untuk nonton konser, bahkan ada yang terbang dari Indonesia ke ujung Barat Eropa ini hanya untuk sekedar nonton konser. Tak hanya mereka, tapi juga penikmat konser yang mau membedah konser dengan saya. Seneng deh dikelilingi rekan-rekan yang kritis!
Fangirling & nonton konser gak melulu harus memuja, girl gotta be criticaltoo!
Jadi, kamu kalau abis nonton konser, diskusi juga gak?
xoxo, Tjetje Juga sedang belajar berdiskusi lukisan