Sebelum baca blog post ini, saya sarankan untuk baca tulisan saya tentang jalan-jalan ke Paris dan nginap di hotel tanpa AC di sini. Waktu itu ada kesalahan di mana hotel yang terlanjur dipesan tak ada AC-nya. Ketika saya menyampaikan hotel tersebut tak ada AC-nya, concern saya ini malah tak diindahkan dan saya disarankan untuk tak banyak protes. Sungguh sangat dismissive.
Gara-gara insiden itu saya jadi berpikir dan bertanya-tanya soal budaya minta maaf di kultur kita sebagai orang Indonesia. Sebagai manusia kita jauh dari sempurna dan seringkali membuat kesalahan. Lalu dengan segala ketidaksempurnaan ini, kenapa susah sekali untuk minta maaf? Apakah ego kita sebagai manusia sangat rapuh?
Irlandia dan Budaya Minta Maaf
Tinggal di Irlandia itu membuat saya sadar betapa seringnya permintaan maaf dilontarkan, bahkan ketika kita menjadi pihak yang tak salah. “Sorry” ini sering dilontarkan untuk menjaga suasana tetap nyaman dan berdasarkan pengamatan saya, ini menjadi bentuk untuk mengakui kenyamanan orang lain itu penting.
Contohnya: kita jalan di trotoar, lalu papasan sama orang, dan bahu kita bertabrakan. Di Irlandia, kalau ini terjadi, dua orang ini akan sama-sama mengucap sorry, tanpa sibuk menyalahkan siapa yang salah. Orang Irlandia ini juga sungkan kalau mesti interupsi orang lain. Contoh lainnya, kalau nanya harga di toko. Mereka pasti nanya: “Sorry, ini harganya berapa ya?”
Sebelum saya pindah ke Irlandia, dan masih wira-wiri Jakarta-Irlandia, saya “ketularan” dan tak sengajak mengadopsi budaya sorry ini. Saking seringnya saya berujar sorry, bos saya yang berasal dari Eropa Timur sampai pernah manggil ke ruangan dia: “Why are you sorry? It’s not your fault” Saya pun ketawa sambil menjelaskan, kalau saya ketularan orang Irlandia. Maaf saya bukan karena saya salah, tapi lebih ke “Maaf atas ketidaknyamanannya”

Indonesia dan Budaya Minta Maaf
Di Indonesia sendiri, seingat saya juga punya budaya minta maaf, tapi musiman ketika menjelang puasa dan Idulfitri atau Lebaran. Semua orang berkirim pesan untuk meminta maaf lahir dan batin. Di luar itu, berdasar pengalaman saya yang seiprit ini, minta maaf, sangat jarang diucapkan. Tolong dikoreksi kalau saya salah.
Lalu, kenapa budaya minta maaf kita tak kuat? Ego!
Di negeri yang sangat kompetitif, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan menjadi yang paling unggul, minta maaf dan mengakui kesalahan itu seringkali dianggap sebagai mengaku kalah, lalu kehilangan wibawa. Apalagi kalau ada beda usia, di mana yang melakukan kesalahan usianya lebih tua. Padahal, orang tua kan juga tak sempurna dan bisa membuat kesalahan. Hal yang sama juga terjadi ketika jabatan lebih tinggi. Merasa bos, punya jabatan dan kuasa, jadi merasa tak bisa salah.
Saya yakin, banyak dari kita yang bisa relate dengan pertanyaan di atas. Banyak sekali dari kita yang besar dengan pemahaman kalau hirarki minta maaf itu harusnya dari yang lebih muda ke yang lebih tua, bukan sebaliknya. Dari yang tak punya kuasa ke yang punya kuasa. Dari yang jabatannya lebih rendah ke bos, bukan sebaliknya.
Ngomong-ngomong soal bos, jadi ingat mantan bos saya ketika di Jakarta dulu. Beliau minta maaf pada hari pertama saya bekerja. Waktu itu beliau minta maaf karena gaji saya jauh dari gaji saya sebelumnya. Waktu itu beliau gak punya anggaran yang cukup. Bos yang sama juga meminta maaf karena mempekerjakan orang yang salah, yang malah bikin hidup kami di tim tersebut makin ruwet. “I am sorry, I was the one who hired that person”.
Penutup
Minta maaf sendiri, seperti kita tahu, harus tulus dari lubuk hati terdalam. Bukan minta maaf setengah-setengah macam para shitfluencer yang selalu pakai baju putih lalu minta maaf dengan model bahasa “I am sorry you feel that way”, “Maaf itu bukan maksud dan niatan saya tapi kemudian diinterpretasikan seperti itu”.
Wah kalau minta maaf model gini ya alamat orang gak akan menerima. Dan dari pengalaman saya, orang itu akan lebih mudah memaafkan kalau kita minta maaf dengan tulus dan gak bersikap defensif.
Lagi, kenapa sih mesti defensif? Who hurts you?
xoxo,
Tjetje