Ramblings of an Indonesian Woman

Untuk administrasi perkawinan, saya dan suami memilih melakukan perkawinan di Hong Kong lebih dari satu dekade lalu. Ketika itu kami janjian ketemu di Hong Kong, ngurus aneka dokumen, sekaligus jalan-jalan, lalu kembali ke Bali untuk menghadiri resepsi perkawinan kami. Setelah resepsi di Bali, kami juga melakukan resepsi di Irlandia.

Keluarga nggak ada yang kami ajak, karena proses di HK ini kurang dari 15 menit. Kami semua janjian di Bali dan di Irlandia. Foto-foto digital proses di HK ini kemudian saya unggah di Facebook, saya setting privat, hanya adik saya yang saya tag. Ternyata, kendati privat, foto-foto ini masih bisa dilihat oleh teman-teman adik saya.

Salah satunya, tetangga masa kecil kami, teman saya SD dulu. Dia yang sudah berpuluh tahun tak pernah ngobrol dan tak pernah bertemu secara fisik. Sudah tak satu kota lagi, bahkan tak satu provinsi melihat foto-foto ini. Entah apa yang terjadi, pada saat melihat foto tersebut, otaknya mengasumsikan saya KAWIN LARI!

Tak cukup berasumsi, dia menginformasikan ibunya, lalu ibunya mengangkat telpon dari ibu kota, menelpon ibu saya di ujung Timur pulau Jawa. Hanya untuk berkabar anaknya kawin lari, dengan bule, dan foto-fotonya bisa ditemukan di Facebook. Hillarious!

Mama saya, yang keliling toko kain di Pecinan nyari bahan untuk dress wedding saya di Bali, yang bikin dress untuk kawinan di HK, cuma bisa senyam-senyum. Hidupnya dari muda sudah kenyang dengan aneka gosip dan fitnah. Lord bless her!

Pertanyaannya: Kenapa?

Kenapa orang yang tak pernah ngobrol dengan saya, tak bertanya kabar, yang bahkan tak tahu bagaimana hidup saya, nekat membuat asumsi bahwa saya kawin lari?

Dari beberapa hal yang saya baca, otak manusia itu emang suka sekali membuat asumsi, apalagi ketika terjadi kekosongan informasi. Jadi, mengisi titik-titik sendiri. Di kasus saya, karena mama saya tak terlihat di foto, si pelaku kemudian menutup cerita ini dengan versi yang dia mau.

Internal bias dan confirmation juga berfungsi besar dalam mengisi titik-titik ini. Dikasus saya, cultural bias mendikte pelaku bahwa saya melanggar norma dan adat-istiadat, karena tak terlihat melibatkan orang tua dan sesepuh keluarga. Apalagi ketika perkawinan saya terjadi di luar negeri. Ini “mengkonfirmasi” bias dia karena saya “lari dan tak di Indonesia”

Dalam memfitnah, pelakunya juga sering kali tak berempati, tak berpikir bahwa dalam ajaran agama yang dia peluk, memfitnah orang itu lebih kejam dari membunuh. Tak terlintas pula pikiran bagaimana dampak omongan seperti ini pada saya, ataupun pada orang tua saya. Pendeknya, gak ada proses analisis dan berpikir panjang.

Penutup

Dalam hidup, ini bukan kali pertama saya difitnah, tanpa bukti oleh orang yang tak saya kenal dan atau orang yang tak pernah ngobrol lagi dengan saya. Bagi saya, mereka ini kepalanya korsleting, jadi hobinya mengarang bebas.

Setiap berpapasan dengan orang-orang seperti ini, saya kemudian akan mengobservasi hidup mereka. Macam profiling kriminal dan mengumpulkan banyak “data” tentang hidup mereka.

Dari observasi saya, ini gak ilmiah sama sekali ya, saya bisa menarik kesimpulan hidup mereka gak happy dan gak menarik.

Lalu, apa bedanya saya dan mereka, kok bikin asumsi? Bedanya, saya gak nelpon ibu mereka dan membuat cerita. Saya hanya tersenyum manis (dan puas!). Gak munafik, kadang saya menikmati melihat hidup orang yang miserable. Terutama orang-orang model gini.

Lalu, tiga belas tahun kemudian, jari-jemari saya pun mengabadikan tulisan ini di dalam blog. Dan setelah menulis ini, saya akan telpon mama untuk ngerumpi.

Ma, inget gak dulu aku pernah difitnah kawin lari?”

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!