Ramblings of an Indonesian Woman

Di Irlandia, kalau lagi di tengah-tengah ngobrol dengan kolega di seberang lautan, saya tak segan untuk memberi peringatan: “5 menit lagi saya log out karena jam kerja saya udah abis”. 5 menit kemudian saya akan pamit dan menutup laptop saya.

Boss saya yang selalu ngingetin untuk menikmati udara segar

Saya mulai mengenal keseimbangan waktu kerja dan waktu pribadi, atau yang lazim disebut Work Life Balance (WLB) ketika bekerja di sebuah badan internasional di Jakarta. Jam kerja saya 40 jam per minggu & bos saya ketika itu gak pernah nyuruh saya stay sampai malam, apalagi saat akhir pekan. Kadang-kadang, saya suka pulang agak malam, “nunggu macet di Sudirman”, tapi ini bukan atas permintaan bos saya.

Kantor saya ini juga memberi cuti tahunan cukup panjang. 30 hari, bisa diambil kapan saja. Saya tak perlu menjelaskan mau ngapain aja selama cuti. Dan yang terpenting, ketika saya liburan, engga ada ceritanya bos atau rekan kerja mengganggu lewat WhatsApp. Liburan ya liburan!

Ketidakseimbangan di Indonesia dan Negara Lain

Duh kalau ngomongin ini panjang sekali. Di awal karir, saya tak kenal WLB. Akhir pekan masih dipanggil ke kantor, sering lembur. Dan konyolnya, kerjaan ini bukan kerjaan saya semua. Bukan tupoksi saya.

Yang paling epic, saya pernah diberi hadiah BlackBerry oleh mantan bos. Terlihat sebagai hadiah yang indah. Tapi BB ini jadi merusak batasan antara waktu kerja dan waktu di luar kerja. Sampai pada satu waktu, saya menerima telpon jam 4 pagi. Bukan karena ada yang meninggal, tapi karena si bos BU, butuh uang tunai, karena kehabisan uang ketika dugem.

Beberapa teman saya yang liburan ke Irlandia juga sering sekali masih harus login kerjaan. Tak cuma itu, mereka seringkali menerima gangguan pertanyaan lewat WhatsApp. Ini bagi saya sungguh tak sopan dan sangat tak menghargai waktu pribadi orang lain.

Indonesia tak sendiri. Pengalaman saya, ada beberapa negara yang tak kenal keseimbangan ini. Dari mulai tetangga kita di Asia Tenggara hingga di Amerika. Pekerja dari negara ini masih suka nyahutin urusan kerja menjelang tengah malam. Saya bahkan pernah berinteraksi dengan ibu-ibu yang baru melahirkan. Sambil menyusui anaknya dia masih memberi instruksi kerjaan untuk saya!

Di negara-negara ini, sepertinya ada moto tak tertulis bahwa “selalu available” itu tanda loyalitas atau rajin. Jarang sekali ada yang menganggap ini sebagai red flag, gak punya skill yang cukup untuk ngatur waktu, beban kerja dan juga menjaga kesehatan mental.

Penutup

Saya ngobrol panjang dengan seorang mbak-mbak HRD Indonesia soal ini. Menghapuskan kultur ini sangat sulit, karena semua orang adalah bagian dari masalah. Dari rekan kerja yang nanya kerjaan lewat WhatsApp sampai bos yang memprioritaskan promosi untuk mereka yang “fleksibel”. Yang bisa dikasih kerjaan di luar tupoksi dan bisa kerja kapan saja.

Bos-bos red flag ini juga sering memanipulasi anak buahnya.

“Di sini model kerjanya seperti ini, kalau kamu gak cocok, keluar aja. Masih banyak yang mau kerjaan ini”

Sementara sebagian HR yang seharusnya promosi soal ini malah tak ada giginya. Tak cuma sibuk melayani keperluan manajemen (ketimbang keperluan karyawan), sebagian dari mereka juga sibuk menghakimi orang yang minta WLB.

Sungguh berbeda dengan sebagian dari negara-negara di Eropa, di mana hak untuk disconnect itu sangat dihargai tanpa perlu takut menerima konsekuensi negatif.

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!