Ramblings of an Indonesian Woman

Tadi malam, saya dapat pertanyaan dari seorang rekan blogger dan seorang teman kesayangan, http://www.ceritaeka.com, dia bertanya gimana saya bisa ngurusin rumah tanpa pekerja rumah tangga, sementara ukuran rumah kami tak mungil. Pertanyaan ini sungguhlah pertanyaan yang sulit.

Saya pun merenung. Iya ya, gimana saya dan pasangan bisa mengerjakan semua sendiri?

Aneka Jasa

Di Irlandia ini kita bisa kok panggil jasa untuk membantu aneka pekerjaan di rumah. Saya pernah melakukan beberapa kali, panggil cleaner. Dua orang datang untuk membersihkan rumah selama dua hingga tiga jam. Ketika itu, ongkos bersih-bersih ini masih murah, hanya 50 Euro saja. Entah berapa harga jasa ini sekarang.

Rumah juga jadi wangi dan bersih, dengan aneka bau-bau produk kimia. Tapi, karena saya juga bisa bersih-bersih, seringkali kualitas pekerjaan ini tak sesuai dengan standar saya. Apalagi kalau mereka ngepel sebelum meninggalkan rumah. Air panas untuk mengepel tidak diganti untuk satu rumah.

Tak cuma cleaner, saya tadinya juga suka memanggil tukang potong rumput. Ini malah rutin tiap dua minggu sekali. Dari musim semi hingga menjelang musim gugur. Kadang-kadang di musim dingin, dia juga datang. Kerjaannya beres dalam waktu 20-30 menit saja, sementara ongkosnya berkisar sekitar 40 Euro.

Dapur kami tiap malam harus rapi, tak boleh berantakan.

Ongkos ini terlihat kecil, apalagi saya punya halaman depan dan belakang. Tapi kebiasaan di Irlandia itu menghitung ongkos per tahun, bukan hanya angka satuan. Jadi ketika melihat ongkos ini menjadi ratusan euro, beberapa kali lipat dari harga mesin, kebiasaan ini pun saya hentikan.

Di kampung saya juga ada ada tukang gosok atau tukang setrika. Tetangga seberang rumah kami rajin memanggil jasa setrika. Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba minta nomor handphone jasa ini, tapi dia tak mau berbagi. Digatekeeping tentunya, karena jasa ini tak mudah didapat.

Ngurus Rumah Sendiri

Balik lagi ke pertanyaan awal, jadi gimana caranya ngurusin rumah tanpa bantuan pekerja rumah tangga? Jawabannya sederhana, dikerjain berdua dengan bantuan mesin, dari mesin pencuci piring, hingga pengering pakaian.

Kami gantian ngepel, gantian sedot debu, gantian nyapu. Kami juga punya tugas masing-masing. Urusan mesin pencuci piring dibagi dua, satu bertugas menata dan merapikan, satu bertugas mengosongkan. Urusan pakaian juga begitu, satu bertugas mencuci dan menjemur, sementara satu lagi bertugas setrika. Peran ini juga kadang ditukar, sesuai kondisi.

Kami juga memilih untuk baik terhadap diri sendiri. Rumah gak perlu cemerlang seperti di tivi-tivi, yang penting rapi. Tapi ada kalanya rumah dalam kondisi tak rapi, dan ini gak papa. Kami boleh capek, boleh gak mood bersih-bersih dan boleh berkata pada diri sendiri: “Sebentar, tarik napas dulu, masih capek”.

Penutup

Ngurus rumah gak cuma bebersih, tapi juga masak dan belanja. Ini juga sama prinsipnya. Gantian masak, gantian belanja ke supermarket. Jadi tugas ini ini gak cuma dibebankan kepada satu pihak, apalagi kami berdua sama-sama bekerja. Sama-sama punya kontribusi ekonomi pada rumah tangga.

Bagi kami, pantang membebankan pekerjaan rumah tangga pada satu pihak sendiri. Pekerjaan rumah tangga itu tak terlihat, sering dianggap remeh, sementara pekerjaan ini tak pernah berhenti, selalu ada setiap hari. Jadi kalau tak diatur dengan baik, kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini berpotensi memicu friksi. Jadi kuncinya, diatur dan dibagi dengan baik.

Btw, saking terbiasanya mengerjakan segala hal sendiri, kemarin, waktu pulang beberapa pakaian saya belum disetrika, sementara saya sedang packing untuk balik ke Irlandia. Saya pun berseru: “Gak usah, aku setrika sendiri aja di Irlandia!”. Kalau cuma setrika doang mah gampang. Dua jam juga selesai tiga basket. Sambil setrika sambil nyanyi lagunya Taylor Swift.

xoxo,
Tjetje

Show me love, leave your thought here!