Di Irlandia itu tiap tahun kita mesti “shopping around” mencari penyedia jasa yang menyediakan harga termurah. Ini berlaku untuk banyak hal, dari mulai listrik, gas, internet, provider TV, sampai aneka asuransi. Di sini, layanan jasa ini tak dimonopoli oleh satu atau dua perusahaan saja. Jadi konsumen diberi keleluasaan memilih provider termurah.
Bingung gak? Jadi gini, di Indonesia penyedia listrik itu cuma ada satu: PLN. Berapapun harga yang diberikan oleh PLN, kita sebagai konsumen harus setuju dan menelan harga ini tanpa bisa berpindah. Gak ada provider lain soalnya. Semua dimonopoli oleh negara.
Di Irlandia tak begitu ceritanya. PLN Irlandia itu namanya ESB. Secara sederhana mereka ngurusin kabel dan perawatan listrik di seluruh Irlandia. Penjualan listrik sendiri dilakukan oleh banyak perusahaan. Ada Electric Ireland yang berada di bawah ESB tapi ada juga 10 penyedia jasa lainnya. Mereka berlomba-lomba menawarkan kontrak selama satu tahun dengan harga termurah.
Karena mereka berlomba-lomba kasih harga murah, tiap tahun, menjelang kontrak habis, sebagai konsumen kita mesti cari provider yang paling murah. Ini KEHARUSAN kalau mau berhemat.

Storm Éowyn, EBS keliling Irlandia untuk membetulkan tiang dan kabel listrik yang tumbang.
Sebagai konsumen, kita dituntut untuk tahu berapa harga listrik kita per KwH pada siang hari, pada malam hari, dan berapa banyak konsumsi listrik per tahun. Angka ini membantu kita memperkirakan ongkos listrik kita selama setahun. Angka ini yang kemudian kita banding-bandingkan.
Mumet? Gak perlu pusing. Ada situs namanya Bonkers yang bisa bantu kita untuk cari listrik termurah. Kita tinggal masukin data pemakaian kita dan Bonkers akan memberikan aneka opsi. Bonkers sendiri gak murah-murah amat, konon kalau kita telpon provider, suka lebih murah.
Pembayaran listrik di sini ada dua tipe, bayar di belakang, tiap dua bulan sekali. Ini cenderung lebih murah, atau PAYG (Pay As You Go). PAYG ini top up di depan, model ngisi token kalau di Indonesia. Konon PAYG ini dibuat untuk mereka yang ekonominya rendah, jadi mereka bisa top up ketika punya uang. Tapi tragisnya, PAYG ini harganya jauh lebih mahal.
Terus gimana kalau kontrak listrik habis dan kita lupa nyari provider lain? Biasanya, menjelang kontrak abis itu provider akan nelpon kita dan ngingetin. Kalau kemudian kita lupa, ya harga listrik akan naik secara drastis.
Btw, di sini semua provider memberikan “cooling off period” selama 2 minggu, 14 hari. Selama masa ini, kita boleh berubah pikiran. Ya siapa tahu udah ganti kontrak, tahunya provider lain lebih murah. Sementara kalau kita ganti provider sebelum kontrak habis, akan ada penalty, biasanya sekitar 50€.
Anyway, data terakhir menunjukkan ada lebih dari 300ribu orang yang gak bisa bayar listrik di negeri ini. Di sini, kalau tak sanggup bayar listrik otomatis listrik tak terputus, kecuali kalau listriknya model PAYG.
Negara yang katanya maju dengan GDP yang cukup tinggi ini penduduknya juga masih kesusahan untuk bayar listrik. Jadi, rumput tetangga tak selalu lebih hijau kok.
xoxo,
Tjetje
Show me love, leave your thought here!