Tempat Belanja di Dublin

Menjelang Natal, berbagai sudut pusat kota Dublin dihiasi dengan aneka rupa lampu-lampu cantik. Lampu-lampu tersebut mulai dinyalakan pada tanggal 15 November kemarin dan banyak orang yang datang ke kota untuk lihat lampu. Saya termasuk salah satunya. Selain lampu, jendela-jendela pusat perbelanjaan di Dublin juga dihiasi dengan aneka rupa hal yang cantik untuk menarik orang berbelanja. Suasana Natal di Dublin memang selalu menyenangkan.

Salah satu aktivitas menyenangkan yang bikin pusing adalah berburu hiasan Natal serta hadiah Natal. Pusing karena jumlah orang yang belanja banyak banget sampai milih-milihnya gak puas karena terlalu padat. Padahal baru bulan November, belum Desember. Saya mencoba mengulas beberapa tempat belanja paling di Dublin, dari yang mulai kelas “mangga dua” hingga kelas Plaza Indonesia. Semua tempat belanja di bawah ini bisa diakses dengan jalan kaki di tengah kota Dublin. Jadi jika sedang melancong ke Dublin, tak ada alasan untuk tak berbelanja.anan ini bisa ditemukan Primark serta Arnott’s

Guineys

Menulis tempat belanja di Dublin tanpa melibatkan Guiney nampaknya akan menjadi dosa. Jadi walaupun saya geli dengan tata letak dan gaya toko ini, yang mirip toko di jaman tahun 1990an, saya tetap awali tempat belanja di Dublin dengan Guineys. Di Dublin sendiri hanya ada satu Guiney dan mereka menjual aneka rupa perabot rumah hingga pakaian. Konon, Guineys ini merupakan tempat favorite orang tua berbelanja. Websitenya bisa ditengok disini.

Penney’s (dikenal juga dengan nama Primark)

Surga belanja murah ini memang dilafalkan seperti anggota tubuh pria. Namun di luar Irlandia, Penney’s dikenal sebagai Primark. Bagi saya tempat ini adalah primadonanya barang murah, persis seperti ITC ataupun mangga dua. Mereka menyediakan aneka rupa produk dari mulai pernak-pernik rumah hingga pakaian. Dengan musim dan trend yang berganti secara cepat, Penney’s merupakan tempat alternatif untuk membeli pakaian murah tanpa perlu bikin dompet bolong. Mereka juga seringkali menjual produk-produk sisa dengan harga yang lebih miring. Soal kualitas, tentunya tak sebagus dengan produk yang berharga lebih mahal, tapi jika hanya untuk sekali dua kali pakai, bolehlah.

TK Maxx

TK Maxx bukanlah toko asli Irlandia, tapi dari Amerika. Konsepnya persis dengan Factory Outlet di Indonesia (atau di Bandung). Isinya aneka rupa pakaian perempuan dan pria, dengan merek terpilih dengan ukuran yang terbatas tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Parfum, sabun, sepatu serta perlengkapan rumah tangga juga ditawarkan dengan harga murah. Para penggemar Jamie Oliver juga bisa menemukan peralatan masak dengan merek Jamie disini. Bagi penggemar Spanx, TK Maxx juga seringkali menjual dengan harga murah, jauh lebih murah ketimbang Jakarta.

Kilkenny

Berkunjung ke Irlandia, tak afdol rasanya jika tak berkunjung ke toko yang dipenuhi dengan barang-barang desain Irlandia. Selain menawarkan perhiasan desainer Irlandia, Kilkenny juga menawarkan kristal dan kerajinan lainnya. Sejujurnya saya agak iri karena di Jakarta saya tak pernah melihat satu toko yang fokus pada barang-barang desainer Indonesia (CMIIW).

Avoca

Avoca ini sebenarnya merupakan nama desa di co. Wicklow di Irlandia. Desa ini rupanya terkenal dengan rajutannya. Avoca di Dublin tak hanya menjual rajutan wool yang super halus dengan warna-warna cantik, tapi juga terkenal dengan kue-kuenya yang enak. Bungkusnya pun cantik, cocok untuk buah tangan. Saya sendiri cenderung menghindari makan di Avoca karena mata yang suka lapar dan ingin membeli semua cake yang mereka jual. Di Irlandia, cake dijual dalam porsi besar, mungkin bisa dimakan dua orang di Indonesia.

Arnott’s 

Nah yang ini merupakan department store asli Irlandia. Sekelas Sogo ataupun Metro di Jakarta. Barang-barang yang ditawarkan sangat berkualitas dan tentunya harganya jauh di atas Penney’s. Soal produk yang di tawarkan tak perlu dibahas lah ya, tapi yang paling saya sukai dari Arnott’s adalah jendela-jendelanya pada saat Natal (dan juga saat yang lain). Tahun ini misalnya, jendela Arnott’s dipenuhi dengan aneka rupa permainan yang bikin mulut tak berhenti berkata wow. Saya mengambil beberapa foto jendela Arnott’s tapi hasilnya tak terlalu memuaskan. Pantengin terus instagram saya  karena saya akan pasang foto jendela Arnott’s disana.

Brown Thomas

Nah ini tempat belanjanya Mbak Syahrini nih karena banyak merek-merek papan atas, termasuk Hermes, berada di Brown Thomas. Brown Thomas di Dublin berada di Grafton Street, jalanan Dublin yang paling terkenal sebagai tempat belanja. Tiap tahun, toko ini selalu bermandikan lampu-lampu cantik dan punya banyak aktivitas ketika Natal. Btw, tak perlu merasa terintimdasi dengan merek-merek di toko ini, kalau lagi diskon, mereka menawarkan diskon ugal-ugalan.

Carroll’s Irish Gift

Nah kalau toko yang satu ini merupakan tempat belanja oleh-oleh, dari mulai gantungan kunci, magnet, hingga jaket-jaket tebal bertuliskan Guinness ataupun Ireland. Harga gantungan kunci di Irlandia memang sedikit lebih mahal dari di tempat lain, apalagi jika belinya untuk teman satu kantor, tetangga, teman kursus dan para teman lainnya. Pajak yang tinggi merupakan alasan mahalnya produk-produk suvenir di Irlandia, tapi ada insetif bebas pajak bagi turis. Formulir free tax bisa dengan mudahnya diminta saat membayar di kasir, termasuk di Carroll’s.

Belanja di Irlandia itu menyenangkan, karena tak ada penjaga toko yang repot membuntuti pembeli untuk mengawasi gerak-gerik. Ini tak hanya berlaku di toko yang mahal saja, tapi juga di toko yang murah. Nampaknya Irlandia sudah lebih paham dengan maksimalisasi teknologi CCTV.

Bagaimana dengan kalian? Sibuk belanjakah?

Perilaku Egois di Angkutan Umum

Orang-orang yang memonopoli tiang di dalam kendaraan umum seringkali saya hakimi sebagai bekas penari tiang. Bagi para penari, tiang menjadi salah satu elemen penting dari tarian mereka dan sering kali satu orang mendapatkan satu tiang. Biasanya orang-orang egois ini memeluk tiang, seakan tak ada hal lain yang bisa mereka peluk. Tak cukup memeluk, kadang-kadang mereka bersandar di tiang tersebut tanpa mau memberikan peluang bagi orang lain untuk berpegangan. Padahal, tiang-tiang tersebut dibuat untuk semua orang supaya bisa menahan beban ketika terjadi pengereman kendaraan. Orang-orang ini tak hanya bisa ditemukan di Indonesia, tapi juga bisa ditemukan di negara-negara maju.

Selain para “penari tiang”, golongan egois lainnya adalah para pembawa tas ransel yang tak mempedulikan penumpang lain. Di Jakarta, kebanyakan para pembawa tas ransel ini adalah pria (apa sih yang dibawa?!). Mereka jarang sekali mau meletakkan tasnya di lantai, takut kotor mungkin. Jika tak ngotot meletakkan tasnya di punggung, mereka membawa tasnya di bagian depan tubuh. Masalahnya dalam kondisi kendaraan yang penuh tas-tas ini seringkali mengambil ruang bagi penumpang lain. Tak hanya itu, tas-tas ini juga sering menabrak anggota tubuh penumpang lainnya dan sang empunya tas seringkali tak menyadari hal tersebut.

Golongan selanjutnya adalah golongan berisik, baik berisik menggunakan pengeras suara (speaker) maupun suaranya sendiri.  Remaja Dublin saya perhatikan sering membawa speaker dan menyalakan musik dengan keras di dalam angkutan, mirip dengan pengamen dangdut di jalanan Jakarta. Tak hanya saya temukan di Dublin, saya juga menemukan mereka di Paris. Senda gurau anak remaja juga saya anggap sebagai hal yang mengganggu. Mungkin bagian dari penuaan adalah gemas jika melihat remaja berisik dengan senda-guranya. Padahal jaman remaja dulu saya tak kalah berisiknya, saking berisiknya angkutan yang saya naiki pernah diberhentikan mendadak dan pengemudi angkutan marah kepada kami semua. Pengemudi saat itu meminta kami semua, yang masih duduk di bangku SMP, untuk diam karena suara kami mengganggu. Sekarang saya paham betul kemarahan pengemudi tersebut.

Berbicara di telepon dengan suara keras bagi saya juga sangat mengganggu. Apalagi jika pembicaraan tersebut berlangsung lama dan dipenuhi dengan aneka rupa drama dan sumpah serapah. Di Irlandia saya sering sekali bertemu dengan kelompok ini dan karena dasarnya orang Irlandia itu suka ngomong durasi obrolannya pun jadi panjang banget. Ditambah lagi paket-paket telpon genggam disini seringkali menggratiskan panggilan telpon. Wah pas sudah buat yang doyan ngomong.

Masih banyak lagi keegoisan di dalam angkutan umum, termasuk mereka yang tak mau memberikan kursi jika ada yang membutuhkan.Tak hanya orang muda saja yang melakukan hal ini, orang-orang tua pun melakukan hal serupa. Beberapa waktu lalu misalnya, saya menyaksikan seorang Ibu dengan dua orang anaknya duduk di kursi prioritas. Ketika penumpang lain, ibu muda dengan anak kecil naik, ia tak bergerak. Begitu pula ketika seorang nenek naik. Si nenek berdiri sementara dari belakang saya hanya bisa menggerutu. Sampai kemudian seorang nenek yang lain lagi naik dan meminta kursi prioritas (disini banyak nenek-nenek naik bis). Lucunya, ibu ini malah menyuruh kedua anaknya berdiri dan memberikan kursi mereka. Anak-anak remaja tersebut pun ngomel. Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa anak-anak belajar dari contoh yang diberikan di sekitarnya.

Tak semua orang di Irlandia berperilaku seperti itu. Masih banyak yang mau memberikan kursinya kepada yang memerlukan. Bahkan saya pernah melihat pengguna narkoba yang memberikan kursinya. Menariknya dia berkata bahwa memberikan kursi merupakan salah satu hal baik yang perlu dilakukan. Dia juga menyayangkan anak-anak muda jaman sekarang yang enggan memberikan kursinya.

Di Jakarta ada anggapan bahwa perempuan yang duduk di kursi khusus perempuan di TransJakarta ataupun di gerbong perempuan, seringkali kejam karena mereka tak mau memberikan kursi kepada mereka yang memerlukan. Selain karena egois dan mungkin tak mau tahu bagaimana etika dalam menggunakan transportasi publik, mereka mungkin saja merasa sama berhaknya karena tempat-tempat tersebut diprioritaskan bagi perempuan. Ingat sendiri kan kasus mahasiswa di Yogyakarta yang ngomel panjang di social media karena hal ini? Si mahasiswa merasa paling berhak duduk di gerbong perempuan karena dia adalah perempuan. Mungkin sudah saatnya gerbong perempuan dihapuskan dan diganti dengan gerbong lansia serta ibu hamil.

Menolak duduk di bagian dalam angkutan umum juga saya anggap sebagai hal yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi kalau mereka yang ngotot duduk di dekat pintu ini adalah ibu-ibu yang baru pulang dari pasar dengan aneka rupa belanjaan. Alamat proses pengangkutan penumpang lebih lama karena penumpang mesti melompati tumpukan sayur segar atau bahkan ayam hidup. Di Irlandia saya nggak ketemu tumpukan sayur atau ayam di dalam angkutan, tapi saya menemukan orang-orang (sebagian kecil lho ya) yang menaikkan kaki ke atas tempat duduk kosong di kendaraan umum. Biarpun sudah dipasang banyak peringatan tetap saja masih banyak yang melakukan hal ini, padahal sepatu-sepatu mereka itu seringkali kotor.

ini masih sopan lho!

Apalagi yang suka bikin gemas di angkutan umum?

Luar Negeri tak Lebih Indah dari Tanah Air

Negara yang indeks pembangunannya tinggi selalu diagung-agungkan dan dianggap menawarkan hal-hal yang lebih baik ketimbang negara berkembang. Ketika tahu saya tinggal di Irlandia, komentar yang seringkali saya dengar dari orang-orang tak jauh-jauh dari kata: “enak ya hidup di luar negeri”. Tak bisa dipungkiri bahwa hidup di negara maju menawarkan kemudahan seperti transportasi publik yang tertata ataupun administrasi kependudukan yang lebih rapi, sehingga mengurangi praktik-praktik korupsi, menyogok hingga percaloan.

Tapi dibalik kemegahan negara maju, ada banyak sekali problem-problem sosial yang tak banyak dilihat dunia lain. Beberapa yang tertangkap mata saya rangkum secara pendek disini, supaya kita semua bisa tahu bahwa dunia barat tak semegah yang ada di angan banyak orang.

Gelandangan 

Problem orang-orang yang tinggal di jalanan, atau biasa kita sebut gelandangan, sudah lama mendera Irlandia (dan juga negara-negara lain). Mereka banyak sekali ditemukan di pusat kota Dublin, duduk di tengah dinginnya kota berselimut tebal, terkadang sambil menggendong anjing dan memegang gelas kertas bekas kopi atau teh. Gelas-gelas itu digunakan untuk menampung uang recehan hasil belas kasihan orang.

Sebuah koran ternama di Irlandia beberapa waktu lalu mewawancarai para gelandangan yang tinggal di Grafton Street, jalanan ternama di Dublin. Jalanan ini mungkin layak disebut Champs Elysee-nya Dublin. Kehilangan rumah karena krisis yang menghempas ekonomi Irlandia bukanlah salah satu alasan mereka berada di jalan. Perseteruan dengan keluarga juga salah satu alasan mengapa mereka memilih hidup di jalan. Kendati lebih sering menemukan pria, ada banyak juga gelandangan perempuan, baik yang muda maupun yang tua. Artikel tentang gelandangan di Grafton Street bisa dibaca disini.

Pemerintah Irlandia menyediakan rumah layak huni untuk orang miskin, tapi sayangnya jumlah rumah ini tak memadai. Niatan untuk membangun lebih banyak rumah juga seringkali berbenturan dengan penolakan masyarakat. Social house di Irlandia diidentikkan dengan kumpulan orang-orang bermasalah, kriminal, penyedot social welfare (dole), pengguna obat serta banyak label lain yang berkaitan dengan pembuat masalah. Jadi jangan heran jika penolakan masyarakat terhadap pembangunan rumah sosial di lingkungan rumah mereka sangatlah kuat.

Para gelandangan ini juga enggan untuk tinggal di hostel untuk gelandangan, karena banyaknya kekerasan yang terjadi di dalam hostel tersebut. Tak hanya kekerasan, tapi juga penyalahguanaan obat serta pencurian. Bagi sebagian dari mereka, lebih aman tidur di jalanan Dublin ketimbang di dalam hostel. Gelandangan ini seringkali menjadi alasan mengapa orang-orang Irlandia menolak kedatangan para migran. Soal migran dan juga pengungsi, rasanya diperlukan satu pos tersendiri untuk membahas lebih detail.

Pengemis zombie

Saya menyebut mereka pengemis zombie karena penampilan mereka yang seperti zombie. Penampakan seperti zombie ini disebabkan penggunaan obat-obatan yang membuat mereka terbang tinggi. Dalam kondisi mabuk obat, mereka berjalan-jalan di kota, atau nongkrong di dekat halte-halte tram until meminta uang kecil. Jika pengemis menunggu di beri uang, mereka biasanya bergerak lebih aktif dengan mendatangi targetnya. Target paling mudah tentunya orang-orang yang membeli tiket di mesin tram. Berbeda dengan di Paris, disini mereka tak marah dan mengomel jika tak diberi uang. Dalam satu kesempatan saya bahkan pernah menemukan zombie yang tidur berdiri di tengah kota.

Penumpang Gelap

Tram di Dublin tak diberi pintu pembatas. Siapapun, baik dengan tiket maupun tanpa tiket, bisa bebas melenggang masuk. Menurut manajemen Luas, mereka memang tak memerlukan pintu pembatas, yang mereka perlukan hanya kejujuran dari penumpang. Sesekali ada petugas pengecek tiket yang mengenakan rompi berwarna oranye yang akan mengecek tiket penumpang. Jika tertangkap tidak memiliki tiket, denda yang dikenakan bisa berkisar dari 45€ hingga 100€, tergantung berapa hari semenjak tertangkap denda tersebut dibayar. Semakin cepat dibayar, semakin murah.

Ada berbagai macam tipe penumpang gelap di tram. Tapi yang paling sering saya temukan adalah remaja. Tak hanya tak bertiket, mereka juga seringkali berisik tak karuan. Jika ada petugas keamanan, mereka akan dikejar dan dipaksa turun. Tapi sekali waktu saya pernah bertemu dengan masinis yang super galak yang keluar dari ruang kendali. Masinis ini kemudian mengusir mereka, jika mereka tak mau turun, ia tak mau menjalankan tram. Teknik ini berhasil.

Di lain waktu saya duduk berdekatan dengan perempuan tanpa tiket. Bersama perempuan tersebut, seorang pria muda yang mungkin pacarnya juga tak memiliki tiket. Ketika diminta kartu identitas perempuan itu tak bisa menunjukkan. Dia malah sibuk mengaduk-aduk tasnya sambil berkata: “I have perfume, I have a cosmetic pouch“. Sungguh mengesalkan. Saking kesalnya, petugas tiket sampai mengancam akan memanggil Polisi. Mereka akhirnya diturunkan di stasiun tram untuk kemudian diproses. Mereka berdua adalah bagian dari komunitas traveller, sebuah komunitas yang seringkali mendapatkan diskriminasi dalam berbagai hal. Mereka juga mengalami aneka rupa pelabelan yang tak mengenakkan, salah satunya tak pernah mau bayar transportasi umum. Satu hari nanti saya akan bercerita lebih jauh tentang mereka. Penumpang gelap tak hanya ada di dalam tram, di dalam bis pun banyak penumpang gelap. Padahal, pembayaran ongkos bis biasanya dilakukan ketika masuk ke dalam bis.

Luar negeri memang cantik, secantik kartu pos yang seringkali dikirimkan ke berbagai sudut dunia. Tapi di balik kecantikan negara-negara maju, tersimpan banyak permasalahan sosial. Mungkin jumlah pengemis ataupun gelandangan tak sebanyak di Indonesia, apalagi karena negara menyediakan tunjangan bagi mereka yang tak bekerja. Tapi faktanya, negara majupun bergulat dengan hal-hal seperti itu. Jadi, siapa bilang luar negeri lebih indah dari tanah air?

xx,

Tjetje

Drama Perkawinan

Perkawinan di Indonesia itu membutuhkan biaya tak murah dan kebanyakan orang harus menabung dalam periode yang tak pendek demi mengundang ratusan atau bahkan ribuan orang. Tabungan selama bertahun-tahun tersebut dihabiskan untuk pesta yang hanya berlangsung dua atau tiga jam tanpa interaksi yang berarti. Kalaupun ada interaksi antara pengundang dan tamu, biasanya tak lebih dari satu menit atau dua menit saja.

Dibalik persiapan pesta pendek ini, tersimpan banyak drama yang membuat banyak calon pengantin stress. Apalagi jika banyak orang yang bersuara dalam pembuatan keputusan. Yang kawin dua orang, tapi yang ngatur bisa sampai belasan atau bahkan puluhan orang. Yang satu melarang upacara tradisional, sementara yang satu lagi mendorong upacara tradisional. Tak heran persiapan perkawinan bisa memakan waktu hingga satu tahun dan dipenuhi aneka rupa drama. Mendengar drama-drama ini membuat kepala pusing, apalagi menjalaninya. Duh.

https://instagram.com/p/xzN8bnQxsH/

Salah satu drama perkawinan adalah soal undangan yang sudah pernah saya tulis disini. Pihak pengantin perempuan dan pengantin pria harus berdebat panjang tentang pembagian undangan ini, sesuai dengan kontribusi masing-masing. Seakan tak cukup, undangan yang idealnya untuk dua orang terkadang digunakan untuk hadir dalam rombongan besar. Tak heran pengantin jaman sekarang harus mengalikan tiga atau empat kali jumlah undangan untuk memperkirakan porsi makanan. Itu belum termasuk porsi makanan yang dibuang-buang karena yang mengambil makanan sudah kenyang tapi tak mau berhenti makan.

Sumber drama lainnya adalah tiket untuk menghadiri perkawinan bagi mereka yang lokasinya jauh. Beberapa pengantin seringkali mengeluarkan biaya tiket dalam jumlah tak sedikit karena berbagai alasan. Yang utama karena hormat dan segan, apalagi jika yang diundang adalah mereka yang dituakan. Tapi keseganan ini seringkali dimanfaatkan, dari minta tiket untuk beberapa orang sekaligus hingga minta pergi dan pulang pada tanggal-tanggal tertentu yang tentunya akan berdampak pada membengkaknya biaya penginapan dan kecilnya kemungkinan mendapat tiket murah.

https://instagram.com/p/tK05E3QxhU/?taken-by=binibule

Kepusingan pengantin tak berhenti disitu. Masih ada urusan pembagian seragam yang lagi-lagi bikin ribut. Ada yang ribut karena tak kebagian dan banyak yang ribut karena kualitas kain yang kurang sesuai. Adapula yang ribut karena warna yang tak cocok dikulit dan banyak keributan lainnya. Tapi buat saya yang paling mencengangkan adalah mereka yang ribut karena tak diberi biaya menjahitkan kebaya. Aduh ampun deh Tante, sudah bagus dikasih kain masih merobek jantung pula. Eh tak cukup dengan minta ongkos jahit lho, biaya sanggul serta rias perlu disertakan juga. Itu kalau tantenya satu, kalau tantenya lima belas, dua puluh, tiga puluh, aduh makin capek ngitungnya.

Bicara tentang tukang rias dan sanggul, jaman sekarang ruang ganti pendamping pengantin sudah cukup ketat. Hanya mereka yang namanya tertulis yang bisa mendapatkan layanan. Kendati sudah ada nama di dalam daftar, masih ada saja yang muncul untuk sekadar membenahi alis, mempertebal lipstick hingga membetulkan jilbab. Lagi-lagi pengantin masih harus direpotkan dengan biaya tambahan untuk membayar jasa layanan printilan ini.

https://instagram.com/p/59Pq_hQxte/

Masih panjang lagi daftar drama menjelang dan pada saat hari perkawinan. Dari mulai soal makanan yang disembunyikan oleh pegawai catering, hingga soal souvenir perkawinan yang harganya tak seberapa tapi diincar banyak orang. Yang mengincar tak hanya para tamu, tapi juga para vendor yang bertugas pada saat resepsi. Ada juga drama uang hadiah yang dibawa lari oleh salah satu keluarga pengantin atau bahkan dibawa lari oleh tuyul yang konon kabarnya berkeliaran di gedung-gedung perkawinan.

Perkawinan di Indonesia bukan perhelatan yang murah. Biaya perkawinan kadang bisa mencapai harga satu buah rumah, dari rumah sangat sederhana hingga rumah mewah. Tergantung siapa yang mengadakannya. Seperti saya sebut di atas, banyak calon pengantin serta orangtuanya yang menabung selama bertahun-tahun untuk menjamu para tamunya. Jadi, alangkah eloknya jika kita tak membebani pengantin dengan permintaan ajaib yang tujuannya hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri dan menguras tabungan mereka. Kalaupun keluarga pengantin adalah keluarga yang berada, patut diingat bahwa mereka memulai hidup baru. Kitalah yang seharusnya memberikan sedikit hadiah bagi mereka untuk memulai lembaran baru, kalau tak bisa, setidaknya jangan biarkan mereka memulai lembaran baru dengan hutang.

Jadi ada drama apa di perkawinanmu?

Xx,

Tjetje

Tanya Gaji

Suatu ketika, seseorang berkunjung ke kost saya. Sambil ngobrol, yang bersangkutan bertanya-tanya tentang fasilitas kost. Saya tak segan memberitahu apa saja fasilitas kost. Ketika ditanya berapa ongkos sewa, dengan sopan juga saya jawab. Kesalahan besar, karena ternyata muncul pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan: “Wah Mbak gajinya pasti [menyebut angka] ya? Kalau gaji cuma [menyebut angka lagi} nggak bakalan bisa tinggal di kost-kostan seperti ini.”

Tak cukup dengan bertanya gaji saya, dalam sebuah kesempatan yang lain, baik orang yang sama dan juga orang lain bertanya “Wah gajinya Masnya pasti segini ya [menyebut angka lagi!], kok  bisa bolak-balik ke Irlandia terus”. Saya tak menjawab pertanyaan tersebut, hanya tersenyum sambil membatin, ini orang mulutnya bener-bener minta dicabein ya.

Pertanyaan reseh tak berhenti disitu, masih ada pertanyaan berapa uang bulanan yang saya terima dari pasangan setiap bulannya. Agak aneh sebenarnya karena jika mereka bisa mengambil kesimpulan jumlah gaji saya, tentunya bisa tahu bahwa gaji saya cukup tanpa perlu minta uang pada pasangan. Tapi agaknya ada keharusan di dalam masyarakat supaya perempuan minta uang bulanan pada pasangan. Waaaaah kalau sudah berdebat soal ini, makin panjang dan buntutnya diakhiri dengan nasihat: jangan mau rugi kalau punya pasangan orang asing. Nampaknya bagi sebagian orang hubungan percintaan tak berbeda dengan hubungan dagang. Perempuan mesti menukar cintanya dengan rupiah atau bahkan Dollar dan Euro supaya tidak mengalami kerugian. Ilmu dagang cinta rupanya.

Tak hanya saya yang ditanya tentang gaji, Ibunda saya juga tak ketinggalan. Bukan ditanya gaji beliau, tapi ditanya gaji saya. Suatu ketika ada kenalan lama yang saya bahkan sudah lama tak bertukar kabar yang bertanya tentang gaji saya pada Mama. “Tante, gajinya anak tante {menyebut angka} ya?”. Dasar mama saya, pertanyaan itu diiyakan saja. Perkara gaji saya di atas atau di bawah angka yang disebut tak penting. Yang penting sang penanya diam.

Saya perhatikan, di sekitaran kita, bertanya tentang gaji (dan juga sumber-sumber pendapatan lainnya) kadang-kadang menjadi hal yang tidak tabu. Padahal pembicaraan tentang uang dalam situasi tertentu seharusnya menjadi rahasia dapur masing-masing. Dalam situasi tertentu lho ya, dalam banyak situasi berbicara tentang gaji bisa menjadi pembicaraan yang penting dan justru perlu ditanyakan. Tabu atau tidaknya pertanyaan tentang gaji bergantung pada satu hal: tujuan dari pertanyaan tersebut. Nah kalau pertanyaan-pertanyaan di atas, apa pentingnya orang lain tahu tentang besarnya gaji saya, apalagi pasangan saya?

Menebak besarnya gaji orang lain bagi saya berkorelasi dengan pelabelan apakah orang tersebut mampu secara ekonomi atau tidak. Pengasosiasian ini kemudian berkaitan dengan kotak-kotak sosial. Mereka yang lebih mampu atau setidaknya dianggap lebih mampu karena bisa menunjukkan simbol-simbol kekayaan secara otomatis ditempatkan dalam kelas sosial yang lebih tinggi, sementara yang kurang mampu diletakkan dalam kelas sosial lain.

Di Indonesia, seringkali pengelompokan ini menjadi ‘penting’ karena berkaitan dengan penghormatan dari orang lain. Mereka yang penghasilannya lebih tinggi lebih dihormati karena dianggap berlebih, sementara mereka yang penghasilannya di bawah seringkali tak dipedulikan. Ya harap dimaklumi saja, kesenjangan di negeri kita memang masih sangat tinggi.

Pengkotak-kotakan ini seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Baik yang ditempatkan di kelas social yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi. Yang lebih kaya misalnya, seringkali dihujani dengan berbagai permintaan, dari yang paling remeh seperti minta traktir hingga meminta bantuan dan pinjaman uang. Sementara yang ekonominya dinilai lebih rendah seringkali kurang dihormati karena dianggap tak mampu secara ekonomi.

Tapi dalam pertemanan, sepenting itukah mengetahui gaji orang lain? Besar atau kecilnya gaji tak bisa sekedar dilihat dari banyaknya angka nol saja, tapi juga bergantung dengan komponen lain seperti besarnya kebutuhan dan pengeluaran mereka. Lagipula apa pentingnya sih nanya gaji orang, kalau ingin berteman ya berteman sajalah, tak perlu tahu berapa banyak isi kantong saya, apalagi kantong pasangan saya. Eh tapi barangkali konsep pertemanannya seperti konsep usaha dagang, supaya tak merugi, apalagi jika butuh pinjaman.

Bagaimana dengan kalian, pernah ditanya tentang besarnya gaji kalian?

xx,
Tjetje