Konon katanya ngomongin uang itu sebuah hal yang sangat tabu, nggak pantes. Tapi dengan pasangan sendiri, baik ketika hubungan sudah mulai serius, ketika akan masuk jenjang perkawinan, hingga ketika sudah berada dalam perkawinan, berbicara keuangan itu mestinya sebuah hal yang tak boleh dianggap tabu.
Uang (dan ekspektasi keuangan) itu banyak membawa bencana dalam perkawinan ketika tak dibicarakan dengan baik. Dan tentu saja topik ini sudah berulang kali dibahas oleh para Twitterati, yang kali ini saya bahas dari sisi kawin campur dan tinggal di luar negeri.
Pasangan WNA, gaji dan liburan
Pacaran dengan orang asing itu, seringkali dianggap sebagai kunci kemenangan jackpot dan tiket untuk memperbaiki kondisi keuangan dan hidup. Bule-bule ini seringkali dianggap punya uang banyak, gajinya besar, bisa liburan kemana-mana (termasuk ke Indonesia) dan tak pelit. Apalagi ketika liburan tidurnya di hotel, bukan di hostel. Plus ketika ngekspat kemana-mana dianterin supir dan rumahnya gede di Jakarta Selatan. Biarpun kena banjir kalau musim ujan dan hasil ngontrak, yang penting gede.
Padahal, realitanya, kehidupan ketika jalan-jalan dan kehidupan ketika ngekspat itu engga sama. Ekspat itu banyak dapat fasilitas kantor, tapi ketika balik jadi staff lokal, seringkali hidup layaknya manusia kebanyakan. Plus, harus rajin menabung untuk jalan-jalan. Ini ditulis kebanyakan ya. Golongan 1% terkaya di dunia gak usah dihitung.
Nah, pas pacaran hal-hal seperti ini gak pernah dibicarakan.

Ongkos menghidupi keluarga
Seringkali sebelum kawin ada pengharapan uang yang dihasilkan oleh pasangan (biasanya suami), dianggap sebagai uang istri. Sementara jika istri bekerja dianggap sebagai uang istri saja. Konsep ini tak dipeluk oleh semua orang, apalagi ini setahu saya datangnya dari agama. Ketika akan diterapkan, apalagi dengan pasangan yang tak mengenal ajaran ini dan menganut konsep kesetaraan jender, ya mesti didiskusikan dulu. .
Kemudian, ada paksaan untuk memiliki akun bersama, ngotot harus punya akun bersama supaya bisa mengontrol keuangan. Atau malah akun sendiri-sendiri, dan gaji ditransfer penuh, sementara suami hanya diberi uang saku secukupnya.
Lalu, dengan kontrol atas keuangan terjadi penyalahgunakan. Ini bukan barang baru lagi. Tak ada diskusi dan uang hasil keringat dirikimkan ke kampung, supaya keluarga bisa beli sapi, beli tanah, membiayai sanak-saudara, mengirimkan hadiah, renovasi rumah keluarga, atau bahkan memodali usaha keluarga jauh. Ya kagetlah para bule-bule itu, karena mendadak mereka menjadi direktur charity dan tabungan menurun drastis.
Anggaran keuangan
Namanya orang menjalankan kehidupan, mau melajang, mau kawin itu selalu pakai anggaran. Nah, anggaran ini harus dibicarakan jauh-jauh hari sebelum janur kuning dilengkungkan. Siapa yang akan menanggung beban anggaran. Dalam hubungan tradisional memang laki-laki yang dianggap wajib. Tapi di dunia yang serba mahal ini, ada kalanya dua belah pihak harus bekerja. Atau malah, perempuan harus menanggung biaya rumah tangga karena pasangan sedang sekolah, tak bisa bekerja, atau memilih menjadi bapak rumah tangga.
Seringkali, ada ekspektasi dan asumsi anggaran cukup untuk belanja di lantai bawah Plaza Senayan (baca: supermarket premium), tapi realita hanya cukup untuk belanja di pasar becek. Lalu kecewa. Begitu juga soal rumah. Berharap beli rumah di kawasan Menteng, tapi anggaran hanya cukup untuk sewa di kawasan Lenteng. Lalu menyesal mengawini pasangan dan merasa tertipu.
Bicara anggaran juga tak bisa lepas dari topik sensitif: HUTANG. Hutang sebelum perkawinan tak pernah didiskusikan. Lalu kaget bukan kepalang ketika tahu pasangan memiliki hutang bertumpuk. Beberapa orang yang sangat polos bahkan merelakan namanya dipakai pasangannya mengambil hutang lagi, tanpa berpikir panjang soal resiko di masa depan. Modyaaar….
Penutup
Seusai resepsi perkawinan, saya menemukan uang dalam jumlah agak banyak di jaket suami. Dasar anak media sosial (jaman itu masih main Path hanya untuk orang-orang terdekat), langsung jadi status. Tante saya langsung memberi wejangan yang harus dipegang sangat teguh: jangan pernah mengambil uang suami sepeserpun.
Pesan yang menempel dan melekat di kepala saya. Sampai hari ini, uang yang saya temukan di kantong celana ataupun di sofa selalu masuk ke toples khusus. Jumlahnya tak pernah banyak, karena transaksi tunai di negeri ini sangatlah jarang. Tapi prinsipnya, kalau soal uang, harus terbuka dan jujur. Kalau engga, ya modyar.…
Jadi, kamu diskusi soal keuangan gak dengan pasangan?
xoxo,
Tjetje









