Alih Fungsi Gereja

Setelah beberapa kali gagal, kami akhirnya bisa menengok The Church, sebuah bar dan restaurant yang mengambil tempat di bekas gereja. Gereja ini tadinya bernama St. Mary’s Church of Ireland dan didirkan pada abad ke 18. Lokasinya tepat di tengah kota, tak jauh dari Spire of Dublin, menara tinggi yang tak jelas fungsinya. Pada tahun 1964, gereja ini ditutup dan saya duga karena kehilangan jemaatnya. Singkat cerita, gereja ini kemudian dibeli dan direnovasi, lalu pada tahun 2005 dibuka menjadi bar yang bernama John M. Keating’s Bar, sesuai nama pemiliknya. Di Irlandia, punya bar dengan nama sendiri itu konon merupakan mimpi pria-pria. Baru pada tahun 2007 bar ini berganti kepemilikan dan mulai menjadi The Church Bar & Restaurant.

IMG_0482

The Church, tampak luar

Ada banyak nama-nama penting yang diasosiasikan dengan bar ini, termasuk Arthur Guiness, si pembuat bir hitam Irlandia yang punya 21 orang anak (dari satu istri ya, dari satu istri) yang perkawinannya diberkati di gereja ini. Patung dadanya bisa ditemukan di lantai dasar bar ini. Selain Arthur Guiness ada Jonathan Swift, penulis buku ‘Gulliver’s Travels’. Seperti kebanyakan gereja, di lantai gereja ini juga terdapat beberapa orang yang dimakamkan seperti Mary Mercer, pendiri Rumah Sakit Mercer dan juga Lord Norbury, hakim yang memerintahkan eksekusi Robert Emmett di tahun 1803. Nah proses eksekusi Robert Emmet ini boleh dibilang super kejam. Ceritanya bisa dibaca di sini. Di belakang The Church, juga bisa ditemukan sebuah lapangan yang tadinya merupakan kuburan. Masih kuburan sih karena tulang belulang itu katanya tak pernah dipindahkan.

IMG_0480

The Church sendiri terdiri dari Bar, Bar Garden, Restaurant serta Club. Kami nongkrong di lantai dua, di restaurantnya. Sayangnya ketika itu sudah terlalu sore untuk melakukan self-guided tur keliling, tapi kapan-kapan bisa balik lagi. Selain restaurant, ada juga bar yang terletak di lantai dasar dan juga di luar, sembari berjemur menikmati matahari yang malu-malu. Satu hal yang perlu dicatat, ada dress code untuk masuk the Church, casual. Tapi syukurnya ini tempat gak mewajibkan hak tinggi seperti di Jakarta. Aturan aneh yang saya tak paham karena tak seharusnya nightclub mengatur what to wear. Lagian, siapa sih yang mau lihat sepatu orang kalau lagi makan ataupun minum?

Jika dilihat sekilas, ada beberapa hal yang masih dipertahankan di restaurant ini seperti organ yang konon dibuat oleh Renatus Harris (salah satu tukang organ terkenal pada masanya), kaca-kaca dan dinding-dinding dengan tombstonenya. Bilik pengakuan dosa, kursi-kursi, apalagi altar sudah tak ada lagi. Padahal kursi-kursi yang menyerupai kursi di gereja sering kali digunakan sebagai kursi di bar Irlandia. Tempat altar berada sekarang berubah jadi tempat pertunjukan musik yang dilangsungkan pukul tujuh malam pada malam-malam tertentu.

IMG_0449

Bagi orang, beralihnya fungsi rumah ibadah mungkin merupakan skandal. Tetapi bangunan ini bukan satu-satunya gereja di Dublin yang berubah fungsi. Gereja St Andrew yang juga terletak di tengah kota, dibeli oleh pemerintah kota Dublin pada tahun 1994 dan dua tahun kemudian dibuka menjadi Dublin Tourism Center. Bangunan unik ini terletak di Suffolk street, persis di mana patung Molly Malone yang terkenal sekarang ditempatkan. Jika sedang berada di Dublin, tak ada salahnya masuk ke bangunan ini untuk sekedar duduk-duduk atau mencari informasi tentang pariwisata.

Saya yakin dua bangunan di atas hanya sedikit dari gereja yang beralihfungsi. Perubahan ini pun tak hanya terjadi di Dublin. Skotlandia dan Amerika merupakan negara lain yang menjadi tuan rumah dari gereja yang berubah fungsi. Di Indonesia sendiri saya yakin hal seperti ini akan sangat ditentang oleh masyarakat. Kalau kalian sendiri, setujukah jika salah satu bangunan rumah ibadah kalian dirubah fungsinya menjadi restaurant atau bahkan bar?

xx,

Tjetje

Cerita Pintu Cantik Dublin

Kalau beli kartu pos buat oleh-oleh, saya nggak pernah terlalu ribet memilih gambar. Pokoknya ada nama kota yang dipilih dan ada landmarknya, selesai. Pas milih kartu pos di Dublin, saya sering memperhatikan gambar pintu-pintu yang berwarna warni dengan aneka rupa gantungan pengetuk pintu. Model pintu ini pun mirip dan lebar-lebar. Apa istimewanya sih ini pintu sampai-sampai mereka bisa layak jadi kartu pos? Waktu nanya mas G, jawabannya simple: Georgian Doors, alias pintu-pintu dari era Georgia (ketika era itu ada empat raja bernama George yang memimpin Inggris dan juga Irlandia). Tapi jawaban itu nggak menjawab kenapa pintu ini layak diabadikan dalam kertas kecil dan dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.

Jawaban atas mengapa pintu-pintu ini begitu terkenal, akhirnya saya temukan ketika saya berkeliling Dublin dengan hop on hop off bus. Bangunan Georgia dan tentunya pintu Georgia ini dibuat pada masa King George sekitar tahun 1700 – 1800-an. Kebanyakan bangunan ini berlantai empat yang terdiri dari basement, living room di lantai dua serta area kamar di lantai tiga dan empat. Basement sendiri berfungsi sebagai area masak-memasak, living room berfungsi sebagai area dining dan juga duduk-duduk. Jaman segitu nggak ada listrik, jadi nggak bisa duduk-duduk di living room sambil nonton tv kabel. Sedangkan area lantai tiga merupakan kamar tidur untuk para tuan dan nyonya, sedangkan area tertinggi untuk para pekerja rumah tangga.

IMG_8342

Saat itu ada aturan ketat yang mengatur tentang pembangunan rumah-rumah ini, pokoknya rumah-rumah harus kembar, pintunya harus lebar, harus simetris. Biar nggak kembar orang-orang mengecat pintunya berwarna-warni dan menambahkan aneka rupa elemen, termasuk pengetuk pintu. Konon saat Queen Victoria meninggal dunia, para horang kaya di Irlandia ini diminta untuk mengecat pintu-pintu tersebut menjadi hitam.

Pintu-pintu ini lebar banget, agak gak lazim dari lebar pintu biasa. Rupanya, pintunya sengaja didesain lebar supaya para perempuan di masa itu bisa masuk ke dalam rumah. Pakaian jaman dahulu kan lebar-lebar macam ada kandang ayam di bawah roknya. Kebayang kalau pintunya dibuat slim, bisa nyangkut itu rok di pintu.

Kenapa saya bilang orang yang punya pintu (dan tentunya rumah) Georgian ini kaya? Karena rumahnya punya beberapa jendela di tiap lantai dan pada jaman itu, pajak kaca itu mahal. Orang yang lebih kaya lagi biasanya meletakkan dua buah kaca kecil-kecil di samping pintu. Sejak tahu hal tersebut, saya jadi suka memperhatikan pintu-pintu itu untuk mencari tahu rumah yang punya dua kaca kecil di sisi pintu. Ternyata tak begitu banyak. Ngomong-ngomong soal pajak kaca, di Trinity College yang merupakan universitas terkemuka di Dublin bangunannya bertaburkan banyak kaca. Kira-kira universitas bikinan Queen Elizabeth the Virgin ini bayar pajak kaca juga gak ya.

Ely Place Dublin

Orang kaya, di samping kanan kirinya ada kaca.

Di atas pintu-pintu ini juga ada kaca yang berbentuk setengah lingkaran. Pada sedikit pintu, ada bagian kaca yang agak menggelembung keluar. Rupanya, disanalah lampu-lampu dipasangkan untuk menerangi living room. Saya tak tahu bagaimana wujud lampunya, tapi dalam bayangan lampunya kayak lampu teplok yang biasa dibawa abang-abang nasi goreng kali ya, tapi lebih gendut.

Pintu Rumah Orang Kaya

Yang bagian atas tempat lampu teplok

Beberapa bangungan ini sempat dihancurkan karena dianggap sebagai simbol penjajahan Inggris di Irlandia. Namun, masyarakat Dublin kemudian sadar kalau banyak turis yang tertarik dengan pintu ini. Bahkan pintu-pintu ini jadi salah satu landmarknya Dublin. Kalau saya tak salah mengingat, seorang fotografer di New York lah yang punya peran mempopulerkan pintu-pintu ini pada dunia.

Bangunan ini sekarang banyak yang berfungsi jadi restaurant, Hotel, atau bahkan kantor. Ada juga yang berfungsi jadi Museum, salah satunya Dublin Writer Museum. Semoga kalian semua yang baca postingan ini satu saat nanti berkempatan ke Dublin untuk melihat warna-warninya pintu-pintu ini. Atau, kalau berminat mendapatkan kartu pos, seperti Ira, boleh kontak saya kalau lagi di Dublin, musim gugur ini.

Biar telat, Happy St. Patrick’s Day! Slainte!

 

Salam Cinta dari Ambon,

Binbul

Restaurant di Indonesia vs Restaurant di Irlandia

Waktu berangkat ke Irlandia, saya nggak ngecek berapa rupiahkah 1 euro itu. Jujur saja otak masih mikir 13 ribuan lah ya. Jadinya kalau makan-makan di luar (dan kami selalu makan di luar) suka cuek aja gesek-gesek ATM dan gantian bayar sama Mas G. Tiba-tiba pas cek rekening saya kaget karena 1 Euro itu ternyata udah melonjak hampir 17 ribu, ya ampun kemana aja selama ini?! Setelah itu otak sibuk menghitung dan ternyata satu kali makan di Irlandia itu bisa mencapai 225 ribu, langsung ketawa nyengir pakai berdarah.

Makanan di Irlandia memang sedikit lebih mahal daripada di Jakarta, tapi ada banyak hal yang saya suka kalau makan di restaurant di Irlandia. Yang paling utama sih karena air putih itu gratis udah gratis dikasih es dikasih potongan lemon lagi. Gratis ini dimana-mana lho, dari restaurant Perancis yang super keren, Hotel bintang lima macam Westin, sampai tempat sarapan self-service murah meriah. Bandingkan sama restauran di Indonesia boro-boro kasih air putih gratis, yang ada mereka “merampok pelanggan” dengan menjual air kemasan dengan harga berpuluh kali lipat dari harga wajar. Rekor saya bayar air paling mahal di Jakarta adalah 90 ribu rupiah saja untuk air dalam kemasan sebanyak 330 ml dan ini bukan air kemasan dalam botol kaca dari Eropa ya. Ini air lokal.

Di Indonesia kalau makan di restaurant itu pasti makanannya dicicil. Entah mengapa para chef di Indonesia itu nggak bisa mengeluarkan semua makanan pada saat yang bersamaan. Kayaknya mereka nggak suka kalau ngelihat orang Indonesia makan bebarengan. Pokoknya harus dicicil dan suka-suka ati mereka yang di dapur, kalau perlu meja sebelah yang pesennya belakangan pun makanannya bisa datang lebih dulu. Anehnya lagi banyak restauran di Indonesia yang nggak paham mana makanan pembuka mana makanan utama, sering kali makanan pembuka datang belakangan. Btw, saya pernah sering mengalami kejadian di Warung Pepenero, dimana semua orang sudah makan, bahkan sudah hampir habis, tapi satu orang di antara kami belum dapat makanan. Hela napas panjang.

Setelah makanan di keluarkan, pelayan biasanya datang kembali ke meja kita dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja? Biasanya dalam satu area ada satu pelayan yang melayani dan pelayan ini akan sibuk mengitari area makan untuk mengecek. Di Indonesia, cuma segelintir restauran yang menanyakan hal serupa. Kebanyakan dari mereka malah pura-pura nggak lihat atau sibuk dengan meja yang lain (atau emang beneran sibuk). Di Indonesia juga tak ada sistem  yang jelas tentang pelayan mana yang berurusan dengan meja kita. Kalau kata Abang Mikel, di Indonesia itu ribet, pesen bir aja bisa dilayani enam orang yang berbeda; satu orang catat orderan, satu orang isi gelas bir, satu antar bir, satu orang antar tagihan, satu orang ambil uang pembayaran dan satu orang lain anterin kembalian.

Anyway, Harga makanan di restaurant-restauran di Irlandia relatif sama, kurang lebih berkisar antara 10 – 13 Euro untuk makanan utama, sementara kalau dinner di restaurant yang agak bagus, bisa mencapai 20 Euro. Harga ini emang terkesan mahal tapi porsinya gede banget, bisa buat makan bapak, ibu dan anak. Sekali makan ayam yang disajikan per orang sekitar setengah kilo, belum termasuk kentangnya, seperempat kilo sendiri, sementara sayurnya cuma seiprit. Herannya habis makan saya masih bisa berdiri dan masih bisa jalan beberapa kilometer ke tram.

Saking gedenya porsi makanan di Irlandia, saya sampai kehilangan minat mengemil. Saya juga seringkali nggak minat beli makanan penutup karena udah kadung kekenyangan. Kalaupun pengen makan dessert, saya biasanya  pergi minum teh (yang dimana-mana harganya sama; 2 – 2.5 Euro) dan makan cake, satu potong cake dijual dengan harga 4 – 5 Euroan. Kalau dirupiahkan emang jauh lebih mahal dari cake di Indonesia, tapi yang jelas cake di Irlandia nggak semanis cake di Indonesia. Jadi nggak merasa berdosa lah ya!

Berapa harga pelayanan ciamik ini? Jangan cemas saudara-saudara kalau di Irlandia gak ada namanya biaya terselubung macam service charge yang nggak jelas aturan dan persentasinya (berkisar 5 – 11 %, tergantung restaurantnya), apalagi PPN 10%. Apa yang ditulis itu yang dibayarkan, service charge hanya dikenakan jika datang dalam kelompok besar di atas enam atau delapan orang. Tipping di Irlandia, sama dengan di Indonesia, bukanlah hal yang wajib diberikan. Kalau punya uang kecil silahkan tipping, kalau gak punya ya nggak usah maksa. Urusan pembayaran kalau gesek pun simple, pelayan akan membawa mesin EDC ke meja dan pelanggan pun bisa langsung memasukkan PIN. Nggak perlu repot-repot ke meja kasir kayak di Indonesia!

Kendati Irlandia lebih unggul dalam pelayanan, porsi, dan juga ‘unggul’ dalam hal harga saya masih tetep suka restaurant di Indonesia. Selain karena banyak kejutan yang bikin hidup lebih menarik, tentunya karena harganya lebih murah dengan porsi yang lebih bersahabat. Restaurant favorit saya di Jakarta adalah restaurant Turki bernama Turkuaz di daerah Gunawarman Jakarta Selatan; kalau untuk makanan Indonesia favorit saya Beautika yang menyajikan aneka macam makanan pedas khas Manado.

Apa restaurant favoritmu?

Kilmainham Gaol: Saksi Bisu Sejarah Kelam Irlandia

Atas rekomendasi abang ipar, saya mengunjungi Kilmanhaim Goal; penjara tua yang menyimpan banyak cerita, dari cerita cinta hingga cerita tentang perjuangan. Tiket masuk di penjara ini dibandrol 6 Euro per orang, termasuk pemandu berbahasa inggris (gak ada bahasa lain). Tour mengelingi penjara ini harus ditemani pemandu yang akan menjelaskan sejarah penjara ini. Karena ada penjelasan sejarah panjang, HP harus dimatikan dan selama tour gak boleh ngecek HP. Love it! Di websitenya ditulis dalam satu tour jumlah orangnya dibatasi, tapi kemarin saya mengelingi penjara ini selama satu jam, dengan 40 orang lainnya.

Penjara yang dibangun tahun 1796 ini ditujukan untuk menampung criminal dan didesain sedemikian rupa agar dingin. Bahkan di beberapa area jendelanya tak memiliki jendela kaca. Sengaja dibuat dingin, karena dipercaya dingin mencegah penyebaran penyakit. Bayangin aja dinginnya Dublin itu keparat, karena hujan dan angin; yang ada lembab! Tiap-tiap tahanan diberikan satu sel sendiri dengan tempat tidur (flat bed) dan sebuah ember. Nggak ada toilet jadi urusan buang hajat harus dilaksanakan di ember itu. Idealnya emang satu orang satu sel, tapi waktu great famine, banyak orang yang memilih untuk masuk penjara aja karena di penjara dikasih makan (walaupun makanannya ditimbang). Alhasil, satu sel bisa diisi banyak orang dan lorong penjara pun dipenuhi tahanan.

Sedikit info tentang great famine, saat itu petani di Irlandia adalah petani yang menyewa lahan. Alhasil ketika gagal panen kentang, para petani yang merugi akibat gagal panen harus tetap bayar sewa lahan. Makin bangkrut dan miskin. Sementara mengemis saat itu dilarang oleh Pemerintah Inggris (yang menjajah Irlandia). Akibat kelaparan ini, Irlandia kehilangan hampir 2 juta penduduknya, sebagian mati kelaparan dan sebagian lainnya bermigrasi ke Amerika (dan banyak yang mati dalam perjalanan ke Amerika). Toni Blair sendiri telah minta maaf kepada masyarakat Irlandia pada tahun 1997 karena Pemerintah Inggris di masa lalu yang tidak melakukan apa-apa.kilmanhaim

Selain sel yang kayak jelek dan dingin, di penjara itu juga terdapat penjara mewah yang dilengkapi dengan jendela, lampu cantik, dan juga perapian dan spy hole. Sel cantik dan luas ini bukan buat pejabat kayak di Indonesia, tapi dikhususkan bagi mereka yang akan dieksekusi dengan hukuman gantung. Fungsi spy hotel di ruangan ini biar si tukang gantung bisa melihat “korbannya” dan mengukur kira-kira berapa panjang tali yang dibutuhkan. Salah satu yang menempati penjara ini adalah Robert Emmet yang dihukum hanged, drawn and quartered (silahkan digoogle betapa kejamnya hukuman ini!). Emmet digantung di depan St. Catherine church (konon belum mati), terus digorok tapi pisaunya kurang tajam. Jenasahnya dibawa kembali ke penjara ini, tapi kemudian hilang. Sampai sekarang tak ada yang tahu dimana Emmet dikuburkan.

 Orang-orang penting yang dipenjara di tempat ini adalah United Irishmen yang terlibat dalam 1916 Easter Rising, salah satunya, James Connolly. Dia sebenernya sudah hampir mati karena infeksi dari luka, tapi tetep aja dieksekusi, padahal dokter bilang 2 hari lagi juga mati. Conolly dibawa dari RS ke penjara ini, ditutup matanya untuk ditembak 12 pasukan, 6 orang pasukan yang duduk dan 6 orang lainnya pasukan yang berdiri. Tembakan pertama gagal karena Conolly jatuh merosot. Akhirnya, dia didudukkan di kursi, ditali lalu ditembak mati.

Kisah cinta di penjara

Chapel

Chapel penjara tempat mereka mengikat janji

Joseph Plunkett yang juga terlibat 1916 Easter Rising juga dihukum dihukum mati. Tapi sebelum ditembak mati, dia sempat kawin dengan pujaan hatinya, Grace Gifford. Perkawinan ini dilaksanakan di chapel penjara dengan kawalan 20 tentara Inggris dan temaram sebuah lilin, karena penjaranya mati lampu. Setelah menikah, Joseph pun ditembak mati dan Grace Gifford tak pernah kawin lagi. Tragis ya bow! Surat lamaran dan cincin perkawinan mereka dipajang di museum penjara ini, romantis dan menyayat hati. Btw, Grace Grifford sendiri kembali ke dalam penjara ini 1923 karena keterlibatannya dalam anti-treaty IRA. Selnya sangat terkenal karena temboknya dilukisi Madonna.

Restorasi Penjara

Kalau penjara Wanita yang terletak di alun-alun kota Malang dirubah menjadi Ramayana, di Irlandia penjara ini direstorasi oleh volunteer. Volunteernya sendiri termasuk para bekas tahanan dan para bekas penjaga. Dananya diambil dengan cara meminta ke masyarakat. Tak hanya meminta masyarakat tapi juga didapat dari pembuatan berbagai film serta pembuatan video clip Bono. Penjara ini sendiri kemudian diambil alih oleh negara dan diresmikan oleh Eamon de Valera, yang saat itu merupakan Presiden Irlandia. Beliau sendiri pernah dua kali di penjara dan hampir dihukum mati, tapi selamat karena pada saat itu dia merupakan WN Amerika (Ibunya Irish dan Bapaknya Imigran Spanyol di US).

restoration

kotak sumbangan untuk restorasi penjara

Tur ini sendiri, kendati mengenai cerita sedih, air mata, darah dan kekejaman, merupakan tur terbaik di Irlandia & sangat saya rekomendasikan jika berkesempatan ke Dublin. Btw, jangan tanya apakah kata maaf atas segala kekejaman itu pernah diucapkan, karena sang Ratu hanya pernah mengucapkan simpati dan penyesalan. Anyway, ada satu pertanyaan yang ditanyakan ke semua pengunjung yang mengunjungi museum ini yaitu tentang pro atau anti hukuman mati.

Jadi, kamu pro hukuman mati atau anti hukuman mati? Kenapa?

Review Film: 12 Years a Slave

Awas spoiler!

Kali ini, Mas Gary dan saya pergi nonton di bioskop. Ongkos nonton di bioskop tak semahal di IFI, hanya dibandrol 8.50 Euro. Tiketnya bisa dibeli online dengan kartu kredit, terus pas tiba di bioskop tinggal ngambil tiket di computer yang disediakan. Saya, lagi-lagi, takjub dengan efisiensi negeri ini karena penonton tinggal masukin kode yang didapat saat beli online dan memverifikasi dengan memasukkan kartu kredit ke mesin EDC. Lalu keluarlah tiket kami.

Kalau di IFI tak banyak jajanan, di Bioskop Dundrum ini banyak jajanan, dari cotton floss (gula-gula kapas), es krim ben and jerry, aneka rupa permen yang bisa diambil sendiri (bayar ya bow) dan tentunya makanan wajib kalau nonton: pop corn. Soal penjagaan, di Indonesia, di tiap-tiap pintu akan dijaga oleh petugas tiket dan penonton bebas berkeliaran ke dekat pintu studio. Kalau iseng, penonton pun bisa masuk ke dalam studio ketika petugas sudah nggak ada (gak bayar!) Di Irlandia penjagaannya lebih efisien, satu orang menjaga akses menuju seluruh pintu studio. Yang nggak punya tiket jangan harap bisa masuk ke dekat pintu studio, ke toilet bioskop pun nggak akan bisa. Saking efisiennya, nggak ada petugas yang pegang pegang senter untuk memandu ke kursi masing-masing dan penonton harus memandu diri sendiri (eh tapi besokannya, kami nonton lagi dan ada petugas yang bawa senter).

Gimana filmnya? Film ini menceritakan tentang Solomon, pemain biola yang berkulit hitam. Ia ‘diculik’ dua pria berkulit putih dan dijual untuk menjadi budak. Jaman 1800-an, perbudakan (dan perdagangan budak) di beberapa area di Amerika, terutama daerah perkebunan belum dilarang. Proses jual beli budak sendiri menyayat hati, para budak yang dijual harus menanggalkan pakaiannya dan dijajarkan selayaknya manekin, supaya dapat diseleksi. Yang kuat, biasanya harganya mahal.

Salah satu nasihat yang diterima Solomon ketika menjadi budak adalah harus berpura-pura bodoh agar bisa bertahan hidup. Rupanya, kalau ketahuan terdidik, bisa baca dan tulis, budak akan dibunuh. Nggak cuma harus pura-pura bodoh, dia harus tutup mata atas semua kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, ketika melihat dua orang budak digantung mati, di depannya, Solomon pun harus cuek bebek.

movie

Adegan paling menyayat buat saya adalah ketika Solomon digantung karena melawan mandor gila. Ketika dia digantung, budak-budak lainnya melakukan aktivitas sehari-harinya, bahkan bermain dan tak memperdulikan dia. Menurut saya, manusia normal dengan hati tak akan melakukan itu, tapi para budak ini dipaksa dan dikondisikan untuk menjadi tak normal demi keselamatan dirinya masing-masing.

Adegan lainnya yang menyayat adalah ketika Patsy, yang diperankan dengan ciamik oleh aktris Kenya Lupita Nyong’o, mengalami kekerasan seksual, bahkan melahirkan seorang anak. Saking tersiksanya si Patsy sampai pengen mati aja.  Tak hanya itu, Patsy juga harus mengalami siksaan dari istri tuannya yang cemburu, dari dicakar, dilempar botol wiski, hingga dilukai matanya. Penyiksaan paling marah, menurut saya, ketika dia ditelanjangi dan dicambuk gara-gara dia pergi meminta sabun. Btw, saya jadi pengen tahu, anak-anak yang lahir dari hasil perkosaan di masa itu, apakah statusnya manusia bebas, atau termasuk budak juga ya?

slave

Film yang menyabet 9 nominasi Oskar ini berdasarkan kisah nyata dan juga dituangkan dalam buku berjudul sama. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton supaya kita sebagai manusia ingat, betapa manusia bisa berbuat kejam kepada manusia lainnya. Penggemar Brad Pitt juga wajib nonton film ini, kalau saya sih udah gak gemar lagi sama dia semenjak dia selingkuh sama Angelina Jolie. Di Indonesia sendiri belum diputar tapi akan segera diputar dan pasti banyak yang disensor. yang mau nonton, sabar ya.

Anyway, ada yang udah baca bukunya?

Ditulis 11 February 2014 di atas Kereta menuju Galway dan pemandangannya penuh dengan domba yang berjemur.

Menjenguk Ronan Keating di Dublin

Ketika saya dan mas G menyusuri Dame Street sambil kekenyangan abis makan-makanan Asia (mendadak rindu makanan pedas, padahal gak doyan pedas) kami tak sengaja menemukan National Wax Museum yang di kota lain, dikenal sebagai Madame Tussaud. Biasanya, saya tak pernah tertarik melihat lilin-lilin mengerikan yang jauh dari mirip dengan pemilik wajah aslinya, tapi kemarin, saya tergoda untuk merogoh kocek 12 Euro *oh godaan yang mahal* dan pergi sendirian.

Museum ini sendiri terletak tak jauh dari kampus Trinity, pesonanya tertutup Starbucks dan deretan taksi yang lagi antri menunggu penumpang. Dengan harga segitu mahalnya, pengunjung dipersilahkan masuk sendiri-sendiri tanpa guide. Jika ingin mendengarkan penjelasan, tinggal baca atau pencet-pencet tombol khusus. Begitu tombol dipencet yang keluar suara berat yang menurut saya tak menenangkan hati, tapi malah semakin melengkapi kengerian lilin-lilin ini. 

Begitu masuk saya disambut oleh deretan penulis-penulis Irlandia yang saya tak kenal namanya. Guilty, saya emang jarang baca literatur. Satu-satunya penulis yang saya tahu cuma Samuel Beckett, penulis Waiting for the Godot. 

 beckett

Di bagian basement museum ini saya bertemu dengan St. Patrick. St. Patrick ini ngetop banget dan ada Katedralnya. Beberapa hari lalu saya sempat sok-sokan nyari Katedral ini dengan GPS handphone, hasilnya nyasar ke rumah susun *eh di negara maju ada rumah susun juga lho*. St. Patrick juga dirayakan besar-besaran di Irlandia (dan di negara lain) setiap tanggal 17 Maret. Kapan-kapan saya cerita tentang perayaannya ya.

patrick

Walaupun mengerikan, museum ini juga memberi cerita tentang sejarah Irlandia serta tokoh-tokoh pentingnya. Sejarah negeri tersebut dikemas secara menarik, walaupun dihiasi patung-patung yang mengerikan. 

Konon katanya nggak lengkap ke Wax Museum kalau gak ada ruang hantunya. Makanya, di basement ini ada Chamber of Ghost. Saya yang aslinya gak penakut mendadak takut. Gimana gak takut kalau ruangan ini ada di lantai paling dasar, kalau hantunya mendadak iseng jahil kan larinya harus naik tangga. Sementara dengan badan saya ini tak mudah untuk bisa lari cepat, ditambah jaket musim dingin, naik tangga gak bakalan mudah. Tak hanya itu, basement ini juga remang-remang, persis warung kopi di Pantura. Bedanya, disini tak ada orang apalagi supir truk dan mbak-mbak penyaji kopi, alias sepi banget. Lorongnya pun kecil banget, jadi kalau mau lari-lari zig-zag menghindari hantu bakalan susah. Ribet kan, mau masuk ruang hantu aja pakai dianalisa. 

Dan saya yang cerdas ini pun menanti turis lain untuk masuk bersamaan. Kirain kalau masuk sama bule bakalan berani, tapi ternyata turis Spanyol itu pun lari ketakutan, sambil teriak. Sementara saya, jaga image, jalan pelan-pelan sambil ngumpat-ngumpat. 

ghost

Museum ini tak hanya punya hantu, tapi juga punya alat-alat peraga science yang didedikasikan untuk para Ilmuwan Irlandia. Ternyata yang menciptakan lampu tanpa baterai di sepeda-sepeda, alat seismographic atau apalah buat ngukur gempa adalah orang Irlandia. Ruangan ini membuat saya yang seorang social scientist berasa bego. Bahkan lihat anatomi tubuh di bawah ini saya cuma ngerti beberapa hal aja.

science

Anak-anak juga dimanjakan dengan patung lilin kartun, dari Bart Simpson hingga versi muda Harry Potter. Bedanya, patung-patung lilin untuk anak-anak terlihat lebih manusiawi dan tak menyeramkan. Sama seperti di Chester Beatty Library, di berbagai sudut ruang terdapat meja-meja kecil untuk mewarnai dan menggambar. *aduh sumpah iri deh, hal kecil seperti ini diperhatikan banget.*

Di sudut ruang anak-anak juga terdapat Santa yang sedang tidur. Berhubung Santa lagi tidur, pengunjung pun meninggalkan surat yang berisi permohonan. Saya iseng membaca-baca permintaan orang dan ada satu mbak-mbak yang ingin tinggal di Irlandia selamanya. Mbak, serius mbak, betah apa sama hujannya Irlandia. Eh ternyata begitu dibaca, si Mbak dari Rusia. Pantesan, dia sudah bosan dengan salju dan pastinya belum pernah ke Indonesia yang kaya matahari. Saya sendiri minta jodoh untuk dua orang sahabat saya. Kalau tak dikabulkan, mungkin saya harus kembali bawa air satu ember untuk membangunkan Santa supaya bangun dari siestanya untuk mencari jodoh bagi teman-teman saya.

popes

Pope John Paul yang datang ke Phoenix Park di Irlandia dan membuat 1/3 populasi Irlandia datang. Konon saat kedatangan Pope John Paul ke Irlandia di tahun 1979, banyak anak-anak yang diberi nama John Paul.

Bagian terakhir dari museum ini adalah artis-artis, ada mas Ronan Keating, Jedwards (yang saya tak kenal, tapi difoto juga), Michael Jackson, Madonna dan tak ketinggalan Bono, kebanggaan Irlandia. Sayang One Direction, yang salah satu personelnya orang Irlandia, belum ada di Museum ini. Dan inilah hasil selfie saya dengan salah satu pria kebanggaan Irlandia, Ronan Keating:

keating

Ronan Keating kebanyakan pakai pemutih.

Kira-kira, kalau Indonesia bikin museum lilin gini, siapa aja yang pantas dimasukkan ya?

xx,
Tjetje

[Irlandia] Mencicipi Guinness di Ketinggian Dublin

Halo, saya yang gak mandi nekat jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Dublin. Urusan mandi memang gak menyenangkan ketika musim dingin. Kamar mandi yang dilengkapi penghangat pun tak membuat saya tergerak untuk mandi. Dasarnya memang malas mandi, kan menghemat air. Musim dingin gini saja jadi sangat menghargai briliannya orang Jepang yang bikin toilet dengan penghangat (dan juga musik), apalagi kalau harus bolak-balik ke toilet karena sakit perut.

Sebelum menjejak ke pabrik bir hitam (well, sebenarnya warnanya gak hitam tapi ruby) saya menyempatkan diri untuk menengok  Museum Nasional.  Museum super gede ini GRATIS saudara-saudara. Dasar Indonesia, senengannya yang gratis-gratis dong ya. Sudah gratis, musemnya tertata rapi dan informatif. Pengunjungnya pun lebih beradap karena gak pakai colek-colek lukisan (Saya sering ngelihat orang Indonesia yang menikmati lukisan dari ujung jarinya, alias dicolek. Alamak!). Senangnya lagi, nggak ada yang foto narsistik sampai 1000 kali, semua orang sibuk membaca informasi. Yang sibuk foto-foto justru kami berdua.

Tapi museum ini juga bikin saya pening karena saya nggak paham sejarah panjang Irlandia. Untuk benar-benar memahami sejarah Irlandia, kayaknya setengah hari di museum ini nggak cukup, kudu balik lagi. Btw, saya menemukan tank UN, dasar buruh UN, nemu tank UN langsung berpose dengan identitas UN.

image

Guinness Storehouse

Dari museum Nasional ke Pabrik Guinness ini bisa jalan sekitar 20-30 menit. Jalannya lumayan mendaki & diiringi gerimis (konsisten banget ini negara jadi negara hujan). Perjalanan di bawah hujan ini nggak romantis sama sekali karena area yang kami lewati area suram perindustrian.

Tiket masuk dibandrol €16,50 (jangan di convert ke rupiah lah, capek ngitungnya!) sudah termasuk satu pint Guinness. Konon kalau beli ticket online bisa dapat diskon satu atau dua Euro. Di pintu masuk semua barang harus dititipkan. Pelajaran berharga, ketika menitipkan, jangan menitipkan semua pakaian hangat, karena untuk kembali mengambil barang, pengunjung harus keluar dari gedung untuk kembali masuk ke penitipan. Ribet.

Tur di Guinness Storehouse tanpa ditemani dengan pemandu, tapi sebagai gantinya ada beberapa headset yang tersedia dalam berbagai bahasa. Bahasa Indonesia tentunya tak termasuk dalam pilihan.

Tiap lantai disini menceritakan hal-hal yang berbeda dari proses pembuatan Guinness karya Arthur Guiness. Di museum ini diperkenalkan empat bahan guiness (water, barley, roast malt – makanya warnanya terlihat hitam, hop dan yeast), aneka rupa iklan dan merchandise Guinness hingga proses pembuatan barrel. Uniknya, video proses pembuatan barrel ini dimasukkan ke dalam barrel tak terpakai, sehingga kita harus menunduk untuk melihat prosesnya. Genius.

Yang menyenangkan saya menemukan kapal dengan nama saya. Bahagia rasanya nemu ini, walaupun kalau dibaca lebih detail kapalnya tenggelam. Oh no…
image

Lantai teratas dari museum ini adalah so-called Sky Barnya Dublin, namanya Gravity Bar. Being a Jakarta, otak saya mengasosiasikan Sky Bar dengan ketinggian yang menjulang macam SKYE nya Jakarta. Kalau Skye ada di lantai lantai 50-an, Gravity Bar ada di lantai 7. Iya, lantai 7, TUJUH, bukan lantai 17, 27, 37 apalagi 70.

Di bar ini kita diberikan satu pint Guinness (atau minuman lain bagi mereka yang tak minum alkohol). Ada satu hal yang menarik tentang cara menuangkan bir ini, karena gelas diisi tiga perempat dulu, kemudian sisanya baru diisikan kembali setelah dua menit. Konon buihnya harus ditunggu turun. Ketika gelas sudah penuh pun, Guinness masih harus ditunggu dua menit lagi, kalau langsung diminum katanya perut bisa sakit.

Bagaimana rasanya minum Guinness pertama kali? Huweeeeek, gak enak. Kami meminta sirup blueberry untuk dicampur dengan bir (di beberapa bar hal ini dimungkinkan), tapi ternyata di Gravity Bar hal tersebut tak tersedia. Saya kemudian diberi tips untuk menegak Guinness seperti menegak air. Hasilnya? doyan sampai sekarang.

Kalau pemandangan di Sky Bar Jakarta lebihi banyak gedung-gedung, pemandangan di Irlandia juga sama banyak atap-atap. Sambil duduk menikmati kota Dublin, kita bisa menguping aneka rupa bahasa karena banyaknya turis yang datang ke pabrik Guinness. Guinness yang sangat terkenal ini memproduksi setidaknya 400 ribu barrel per hari, separuhnya dikonsumsi di dalam negeri, sementara separuhnya dikirimkan ke luar Irlandia.

Guinness storehouse juga menawarkan kesempatan bagi mereka untuk belajar menuangkan bir ini dari tap. Ada sertifikat juga untuk mereka yang sudah berhasil menuangkan. Sayangnya mereka yang sudah belajar menuang Guinness tak bisa minum lagi di Gravity Bar. Alternativenya, bir yang sudah dituangkan tadi bisa dibawa ke lantai atas untuk diminum.

Tahukah kamu kalau Arthur Guiness ini anaknya ada 21 orang? Rupanya sebagai negara yang sangat Katolik, kontrasepsi dimasa lalu dilarang sehingga orang beranak pinak.

Cerita lainnya: Negeri hujan nan Hijau & Reuni MPers di Tralee

[Irlandia] Negeri Hujan nan Hijau

Setelah menempuh perjalanan panjang, saya akhirnya tiba juga di Dublin. Yang menarik, begitu mendarat di Dublin tak ada petugas bea cukai yang menyapa saya, nampaknya semua petugas belum bertugas. Hanya ada hawa sedingin 3° yang menyambut saya. Kendati sudah pernah tinggal di negeri empat musim, saya masih tak profesional untuk urusan dingin. Hari itu saya sukses tiba dengan badan menggelembung karena banyaknya lapisan pakaian yang menempel di tubuh, lengkap dengan penutup telinga untuk melindungi telinga dari angin semriwing yang cukup dingin.

image

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, kesan pertama saya tentang Irlandia adalah mahal. Indonesia banget kan? Ongkos taksi dari airpor yang mencapai 38 Euro bikin saya hampir pingsan *lebay*. Kebiasan buruk ketika menjejak di negeri orang memang mengkonversi berapa harga jasa untuk kemudian dibandingkan dengan layanan taksi di Indonesia. Kebiasaan ini membahayakan apalagi ketika rupiah jatuh terpuruk tak berharga. Ditambah lagi, perjalanan ini tak dibayarin kantor. #DasarMentalGratisan

Kesan kedua saya tentang Irlandia adalah hijau. Pagi saya disambut pemandangan yang cantik dengan matahari bersinar (jangan dibayangkan matahari itu sehangat matahari di Indonesia, bagi saya matahari itu hanya aksesoris tanpa efek apa-apa). Pagi itu banyak orang lari pagi. Anjing-anjing pun tak mau kalah berlarian dengan riang gembira. Serunya, di sungai itu banyak bebek liar. Dan lagi-lagi, saya tak pernah gagal  terpukau dengan bebek-bebek liar di ruang publik. Sungguh negeri yang cantik.

Kebiasaan membandingkan pun muncul lagi, kali ini saya membandingkan pemandangan ini dengan Jakarta. Pagi hari di Jakarta biasanya diwarnai dengan suara klakson, deretan kemacetan dan tentunya kemacetan luar biasa. Jangan bayangkan pula ada anjing-anjing yang berlarian kalau tak mau ditangkap orang untuk dijadikan santapan. Yang menyedihkan, apartemen seharga 3000 dollar pun di Jakarta tak akan bisa menawarkan pemandangan hijau. Begitu melihat keluar jendela, yang ada hanya hutan beton. Kalaupun ada pemandangan ‘cantik’ biasanya hanya kolam renang atau gunung yang baru muncul ketika tidak tertutup polusi. Kalau sudah begitu, siapa yang tahan buka jendela. Yang ada tutup jendela, nyalain TV untuk nonton sampahtainment.

image

Pemandangan dari apartemen G di kawasan Milltown Dublin

Soal pakaian musim dingin, saya yang novice ini kena batunya ketika harus bertemu calon mertua. Saya membawa jaket berwarna merah muda ngejreng yang saya padukan dengan boots berhak tinggi. Ternyata, keliling-keliling kota dengan hak tinggi hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Kaki saya langsung teriak minta ganti sepatu, hore ada alasan untuk belanja sepatu. Begitu masuk toko sepatu, saya langsung kaget ketika sepatu biasa-biasa saja *cenderung jelek* dihargai dengan harga yang sama dengan sepatu bagus di Indonesia. Ternyata, barang-barang di Irlandia memang mahal, karena mereka menerapkan pajak yang lebih tinggi. Barang-barang dengan merek serupa pun bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah di Jakarta. Dengan pengembalian pajak pun masih lebih murah dari Jakarta. Wah kalau begini buyar sudah rencana belanja hura-hura macam anggota DPR.

Kembali ke jaket pink saya, begitu tiba di rumah mertua yang dekat dengan bukit, saya kedinginan tak karuan. Rupanya, jaket saya yang centil itu tak cocok untuk musim dingin. Kata mertua, jaket itu untuk summer. Saya pun makin shock ketika tahu harus mengenakan jaket saat musim panas. Lha ini negara apaan kok musim panas harus pakai jaket, bukannya jalan-jalan pakai bikini?

Ternyata Irlandia ini negeri hujan. Kalau dalam setahun kalender ada 365 hari, maka hujan pun mengguyur Irlandia selama 365 hari. Otomatis kemana-mana harus bawa payung, malah seringkali harus beli payung lagi karena payung jebol kena angin! Saking seringnya hujan, orang Irlandia jago melihat pergerakan awan dan memperkirakan datangnya hujan dalam hitungan menit ataupun jam. Kalau awan terlihat akan datang dengan hujan, kaki saya harus segera melangkah dengan cepat. Minggir menghindari hujan.

seasons in ireland

Saking seringnya hujan, ketika matahari bersinar pun akan hujan. Saya suka banget dengan sun shower, bukan dengan hujannya, tapi pelangi yang muncul bersamanya. Munculnya pelangi bagi saya adalah hadiah yang indah karena jarang terlihat di Jakarta. Orang Irlandia percaya bahwa konon di ujung pelangi terdapat pot of gold. Lha tapi ujungnya pelangi ada di mana?

Tak heran dengan hawa seperti ini, orang Irlandia doyan banget minum teh. Air putih kran yang gratis itu nggak laku karena semua orang ngeteh untuk menghangatkan badan. Sarapan minum teh, nyapu dikit minum teh, duduk nonton TV minum teh, nanti bertamu ke rumah orang minum teh lagi. Minum teh sehari di Irlandia bisa lebih dari lima kali, jadi jangan heran kalau banyak gigi orang tua berwarna coklat karena kebanyakan minum teh. Tradisi minum teh juga dilangsungkan ketika jalan-jalan, untuk menghangatkan tubuh. Banyak cafe shop yang menjual teh atau kopi ditemani dengan kue-kue manis. Secangkir teh sendiri di sini dihargai kurang dari 2 Euro. Yah kalau harga teh aja mah sama dengan harga ngeteh dan ngopi di Jakarta.

Pembicaraan tentang cuaca juga menjadi topik pembicaraan penting dalam kehidupan sehari-hari orang Irlandia. Ngobrol-ngobrol dengan orang yang nggak kita kenal itu biasa (dan mereka sangat ramah dan doyan bicara dengan orang tak dikenal) biasanya tak jauh dari cuaca. Dari satu orang yang tak dikenal saya pun belajar bagaimana mencintai hujan, terutama ketika kehujanan. “Ah aku nggak terbuat dari gula, jadi nggak akan meleleh kena hujan. No harm done.”

xx,
Tjetje

Cerita dari Irlandia lainnya: Mencicipi Guinness di Ketinggian