Kartu Pos dari Irlandia

Hello dari Irlandia.

G, saya dan mama saya sedang berada di Killarney, kota kecil nan cantik di barat daya Irlandia. Liburan kali ini saya membawa mama, mamamoon (honeymoon with mama) ceritanya. Ternyata liburan sama mama bisa penuh cerita, apalagi kalau mamanya nggak pernah long-haul lebih dari delapan jam. Jadi, belum liburan mamanya udah panik dan udah stres duluan.

image

Cerita mamamoon dan cerita cantiknya Killarney nanti saya upload kalau sudah punya waktu ya. Blogger gadungan ya begini ini, nulisnya kalau lagi mood doang. Buat spoiler saya kasih dulu beberapa foto cantik dari Killarney yang hawanya lagi bagus banget 16°C. Dengan hawa segitu orang Irlandia udah pada pakai baju nggak berlengan, sementara orang tropis macam saya terbungkus rapat.

image

Anyway, saya ingat ada beberapa orang yang suka kartu pos dan kali ini saya akan membeli dan mengirim kartu pos secara acak dari beberapa kota di Irlandia. Yang mau kartu pos boleh drop alamatnya di binibule.com at gmail dot com.

image

First in first served ya! Haffa a nice day everyone!

image

Note: Kartu Pos ditutup karena saya sudah kembali ke Indonesia.

Disangka TKI di Soekarno Hatta

Selalu ada cerita tentang TKI jika pergi atau pulang melewati negara-negara Timur Tengah. Tahun ini tak banyak TKI yang ikut dalam penerbangan dari Dubai ke Jakarta, lebih banyak rombongan Umroh yang pulang kembali ke Tanah Air. Alhasil tak banyak cerita menarik tentang TKI, tapi tetap ada cerita menarik.

Tahun ini saya menghadapi toilet jorok, joroknya luar biasa. Saya mengelilingi 5 toilet di pesawat Emirates dan menemukan kelima toilet dalam kondisi jorok dengan tissue berceceran dimana-mana dan air yang menggenang di lantai. Sebagian toilet berbau pesing yang menyengat. Yikes! Nggak tahan dengan pemandangan ini, saya pun meminta kru penerbangan untuk membersihkan. Salah satu kru berkata bahwa becek ini terjadi because they are washing themselves (baca: wudhu). Saya pun bertanya balik pada si kru, apakah dia yakin kalau ini gara-gara wudhu, karena bau toilet ini begitu pesing, jangan-jangan pada kencing di lantai. Si kru pun terdiam, kaget. Udah bukan rahasia kali kalau beberapa orang Indonesia hanya bisa buang air kecil (bahkan air besar) di lantai.

Komunikasi saya dengan seorang TKW terjadi ketika kartu deklarasi custom dibagikan (kenapa juga deklarasi ini nggak dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Ibu Tina yang duduk di kursi seberang saya meminta tolong mengisikan sambil memberikan passpornya yang hanya 24 halaman. Ketika selesai mengisikan form, Ibu ini kemudian memberikan sekotak kurma serta permen karet buat saya. Saya berulang kali menolak, apalagi kurma ini akan sangat berharga untuk keluarganya di Subang, tapi Ibu Tina memaksa, untuk oleh-oleh katanya.

Komunikasi lainnya terjadi ketika saya sedang melepaskan thermal underwear di dalam toilet pesawat. Bow..lepas underwear itu kan mesti lepas tali sepatu, lepas sepatu, lepas kaos kaki, celana dan baju, dan terus masang lagi satu-satu. Rupanya di luar ada mbak-mbak yang kebelet ke toilet tapi gak mau nyari toilet lain. Yang ada pintu saya digedor-gedorin berulang kali macam ada emergency. Keluar dari toilet saya semprot lah mbak ini, lha kalau yang di dalam lagi buang hajat kan bisa buyar konsentrasinya?

Sebelum pesawat turun saya sudah mengalami syndrome geleng-geleng kepala karena melihat kelakukan penumpang yang aneh-aneh. Setelah pilot mengumukan bahwa pesawat akan segera mendarat, para jamaah Umroh yang membawa kardus besar-besar dibungkus plastik itu mendadak menurunkan semua bawaannya. Lucunya, ada dua orang penumpang berwajah timur tengah yang ikut panik dan menurunkan koper-kopernya ke kursi penumpang (pesawat hari itu cukup kosong). Alhasil para pramugari pun bersitegang dengan mereka dan mengancam gak akan landing kalau tas nggak dinaikkan ke atas. Kardus berbungkus plastik milih jamaah juga bernasib sama, harus naik ke atas. Hiburan!

Cerita yang paling epic menurut saya adalah ketika saya mendorong troli busuk menuju pemeriksaan bea cukai melewati counter BNP2TKI yang bertuliskan “Pendataan TKI tanpa dipungut biaya”. Tiba-tiba, seorang perempuan bernama Maya Juwaini berhenti di depan troli saya, menghadang langkah saya. Dengan muka straight tanpa ada keramahaan sedikit pun si mbak bertanya dengan tone yang tak sopan: “Sudah ada yang jemput?”

Saya yang sudah lelah karena lebih dari 24 jam perjalanan langsung nyolot, apalagi saya nggak suka dengan pertanyaan-pertanyaan private semacam ini dari orang asing. Dengan nada tinggi mata melotot: “Disangka TKI ya?” Si mbak bukannya minta maaf eh malah nanya balik: “Oh bukan ya?” Saya pun memberikan lirikan jijik dari ujung mata melihat si mbak dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Jijik karena kelakukan dan gaya si mbak ini yang arogan, ditambah lagi cara dia menghentikan saya dengan menghadang itu nggak sopan. Maya ini punya pilihan untuk bertanya dengan lebih baik dan tapi memilih untuk tidak sopan dengan nada yang bikin orang emosi. Apa karena targetnya TKI kemudian dia merasa bisa berlagak arogan terhadap orang lain?

Waktu saya tiba di Irlandia, saya sempat kebagian pengecekan acak pihak bea cukai. Kalau orang bea cukai Indonesia suka galak-galak apalagi lihat tampang kucel tanpa make up, tanpa high heels dan rambut cantik melambai-lambai, di Irlandia petugas bea cukainya RAMAH buanget. Nanyanya baik-baik dan saya timpali dengan komentar-komentar ajaib. Beliau nanya susu, saja jawab lactose intoleran, nanya daging saya jawab udah gak makan sapi dari umur 17. Terus diajak masukin tas ke X-ray. Semuanya dengan ramah, gak galak dan mengintimidasi macam orang-orang di Bandara Soetta.

TKI

Foto dari Antarafoto

Saya menyayangkan BNP2TKI yang buang-buang uang pajak karena bikin counter manual dan membayar orang untuk menghadang TKI. Kalau emang mau mencatat jumlah TKI yang pulang dan berniat gak buang-buang uang para pembayar pajak, BNP2TKI kan bisa kerjasama dengan Imigrasi. Passport para TKI ini kan sengaja dibedakan didiskiriminasi oleh negara, jadi kelihatan, kalau 24 halaman pasti TKI, dari situ aja dihitung kan gampang. Kalau urusan penjemputan dan menyelamatkan TKI dari taksi gelap, kenapa gak taksi gelap yang dilarang di Soetta? Anyway, waktu saya melenggang melewati mbak penghadang TKI ini saya melihat empat orang TKI duduk dengan muka tak berdaya di dekat counter. Duh, sedih lihatnya karena mereka kemungkinan akan dipalak seperti cerita disini dan disini karena tak ada yang menjemput mereka. Mengerikan!

Kenapa saya disangka TKI? Mungkin tampang dan penampilan saya yang kucel dianggap sama dengan TKI, tapi apa TKI itu harus kucel? Nggak kurang TKI yang tampangnya cantik. Saya nggak keberatan disangka TKI, toh bukan disangka koruptor, tapi diperlakukan nggak sopannya itu yang bikin saya marah. Saya dan TKI kan sama, sama-sama WNI, sama-sama berhak diperlakukan dengan baik dan sopan. Next time kalau saya dihadang lagi, seorang teman menyarankan mengeluarkan identitas kantor saya saja. Tapi kayaknya kalau dihadang lagi akan saya tanggapi tanpa nyolot, pengen tahu kira-kira TKI ini akan digiring dan dibawa kemana, kemudian disuruh bayar apa aja.

Kalau kalian disangka TKI mau jawab apa?

Lupa Bahasa Ibu

Alkisah si Noni menulis tentang orang bermuka Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa sama sekali, layaknya kacang lupa kulitnya. Tulisannya ada di sini. Si Noni juga meletakkan link blognya mbak Yoyen yang membahas orang Indonesia yang lupa bahasa Ibunya sendiri, bisa dibaca di sini . Dua tulisan di atas itu membuat saya terhenyak karena saya orang yang suka lupa kata-kata di dalam bahasa Indonesia dan rajin sekali menyelipkan bahasa Inggris di dalam kalimat. Kalau ada temen lama yang ketemu saya pasti langsung menghakimi bilang “kemenyek”, belagu, mentang-mentang lakinya bule sekarang kalau ngomong pakai bahasa Inggris terus, medok pula.

Di kantor, 99%  waktu saya digunakan untuk berbahasa Inggris dan terkadang membaca beberapa email gak jelas dalam bahasa Perancis. Dengan pasangan jiwa, kami ngobrol dalam bahasa Inggris  Irish, setiap hari. Kalau lagi smsan dengan mama kami kebanyakan berbahasa Indonesia. Biarpun bahasa Ibu saya bahasa Malang, saya sangat jarang ber “koen-koen” ria dengan Emes (di malang, ibu itu Memes).  Ketika bertemu teman gaul, bahasanya gado-gado, terkadang dalam satu kalimat ada bahasa Malang, Inggris dan Perancis (ini bahasa sandi saya kalau lagi membahas berapa harga yang layak). Saya bukan orang sombong yang sok-sokan pamer bisa beraneka rupa bahasa, buat saya kemampuan bahasa itu anugerah dan usaha yang nggak perlu dipamer-pamerkan, tiap orang kemampuannya beda-beda, jadi ya cuek aja dengan kemampuan diri sendiri. Jujur saja, saya mencampur bahasa karena saya sering LUPA kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ini bukan lupa yang dibuat-buat karena saya pengen gaya kayak Cincau Lawrah, tapi ini lupa beneran yang menjadi semakin parah ketika usia bertambah. Biarpun pakai bahasa Inggris, logat saya tetep arema ya. Bahasa Inggris arema nggak ada matinya.

indonesia

Mencampur bahasa itu nggak bikin saya congkak, yang ada rasanya sedih, karena tahu ini terjadi karena otak yang terbatas. Saking terbatasnya saya suka colek kolega bule, hanya untuk tanya: “Bahasa Indonesianya ini apa ya?” atau kalau lagi di depan komputer saya tanya mbah google dulu.Keterbatasan ini kadang membuat saya takut, ngenes dan sedih. Masak nanya bahasa negeri sendiri mesti colek bule dulu atau buka google dulu. Saya sampai takut alzheimer karena dalam merangkai kalimat saya suka berhenti mendadak, karena lupa apa bahasa Indonesianya. Kadang malah berhenti total, karena nggak inget lagi ngomong apa. Habis itu tanya balik sama yang diajak ngomong “Aku lagi ngomong apa ya?”Parah….. Padahal saya ini menghabiskan hampir seluruh hidup saya makan nasi dan menjejak di negeri ini. Saking takutnya, saya sampai sampai bersumpah kalau punya anak, anak saya harus ngomong bahasa Malangan sama saya biar nggak lupa kulitnya dan biar saya sendiri nggak ikutan lupa. Niat mulia ini tapi dibarengi dengan fakta dahi yang mengernyit ketika melihat bahasa-bahasa yang digunakan para teman di di social media. Otak memerlukan sekian menit untuk menafsirkan maksud tersembunyi dari dari bahasa walikan tersebut.

Tapi saya tahu, bahasa itu masih tersembunyi di sudut otak saya. Setiap kali pulang ke Malang, saya butuh setidaknya satu sampai dua jam untuk menggali sudut otak dan mengeluarkan seluruh persediaan kata yang diam berjamur di sudut otak. Setelah penyesuaian, maka mulut pun lancar kembali berbahasa Ibu (maaf bahasa Ibu saya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Malangan). Tapi tetep kalau di Jakarta, ngobrol sama temen, kata yang keluar dari mulut selalu bercampur dengan bahasa Inggris. Entah mengapa, tapi sungguh saya bukan sombong karena bisa bahasa Inggris, ini lebih karena otak saya yang terbatas aja. Bisa juga ini karena koleksi bahasa Indonesia saya yang lebih terbatas ketimbang bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Tapi bener lho banyak sekali kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Inggris yang tidak bisa dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulannya: saya, (ataupun mbak Farah Quinn) yang suka mencampur kata-kata Indonesia dengan Inggris ini nggak sombong kok. Kami nggak sok-sokan bahasa Inggris, tapi otak kami terbatas sekali dan ini (mungkin) karena kami terlalu sering berbicara bahasa Inggris. Biarpun mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, hati saya masih 100% Indonesia kok. Otak boleh lupa bahasa Ibu sendiri, tapi hati nggak akan pernah bisa bohong, saya ini orang Indonesia Malang yang masih bisa menulis surat formal dalam bahasa Indonesia baku dengan baik dan benar dengan gaya PNS. Ini baru congkak?!

Ada yang suka lupa parah dengan bahasa ibu?

xx,

Tjetje

Pulau Tunda: Surganya Kambing

Kumpul di Slipi Jaya jam 9.
Sampai di Pakupatan jam 1130
Nyambung ke Karangantu
naik boat ke Pulau Tunda jam 2
tiba di home stay jam 4 pagi

Waktu baca itinerary yang ambisius ini saya sempet malas ngikut, apalagi kondisi badan lagi teler. Tapi karena sudah bayar DP, akhirnya berangkat aja. Semuanya #DemiPulauTunda, demi lihat lumba-lumba.

Perawan di Sarang Penyamun

Dari Slipi, kami naik bis menuju Merak. Rombongan berangkat dalam grup kecil karena ga ada bis kosong. Bayarnya 20k, tapi kalau naik primajasa 17k. Setelah 5 menit berdiri, saya dipersilakan duduk di bagian belakang bis yang wujudnya tampak seperti akuarium di karaoke plus-plus. Ada 11 pria, saya jadi satu-satunya perempuan. Ya sudahlah. Mereka kasih komentar usil masih bisa dicuekin, lagu dangdut dari hp murahan  masih bisa dicuekin, begitu ada yang ngrokok saya pindah deh ke depan, berdiri lagi. Nggak lama setelah berdiri, dapat kursi, niatnya sih mau tidur, tapi belum sempat tidur, eh sudah sampai di Terminal bis Pakupatan, Serang. Dari Slipi ke Serang memakan waktu sekitar 2.5 jam saja, tanpa macet. Sampai di terminal kami disambut 2 angkot yang siap mengangkut ke tempat Pelelangan Karang Antu.

image

Bule Pakistan

Semua orang sudah duduk manis di dalam angkot, tiba-tiba mobil polisi dengan lampu diskonya berhenti di tengah jalan. Pak Polisi kemudian nanya-nanya tujuan kita. Setelah itu si Bapak nanya dokumen seorang WNA yang ada di rombongan kami. Alasannya: imigran gelap dari Pakistan, padahal itu WNA itu tak terlihat seperti orang Pakistan. Karakter fisiknya sangat barat/ bule, lalu Pakistan dari mana coba? Dalam situasi seperti ini, apalagi udah bertele-tele, daripada dimintai uang ataupun digeret ke kantor polisi, saya pun mengeluarkan kartu identitas sakti, kali ini berhasil.

Syah Bandar

Ga cuma di terminal, di Pelelangan ikan Karang Antu, bule lagi-lagi jadi masalah. Alasannya sekali lagi: imigran gelap asal Pakistan. Entah pegawai kantor Syah bandar ini udah BBM-an sama pak polisi, atau emang orang Serang mengasumsikan semua bule aslinya Pakistan. Tiga puluh menit lebih temen saya urusan sama pegawai sudah bandar, panjang bener nggak selesai-selesai. Akhirnya saya turun, sekali lagi ngeluarin kartu identitas ajaib. Nggak pakai ngomel, cukup pasang muka tegas. Urusan bule selesai, eh kali ini dipermasalahkan urusan ijin berlayar, karena kapal yang kami tumpangi adalah hapal nelayan bukan untuk angkut manusia.

Duh ini pegawai kantor Syah Bandar kalau emang ada masalah itu mestinya semua masalah dikeluarkan semua, jadi nggak satu-satu, terkesan cari perkara. Alasan bapak-bapak ini, tanpa ijin berlayar mereka takut kalau ada patroli, resiko tertangkap patroli adalah: penjara. Solusinya, bapak nahkoda kami harus menghubungi seorang petinggi, minta ijin. Setelah bergelut nelpon, akhirnya kami pun diperbolehkan berlayar di tengah malam, dengan kapal nelayan, tanpa life jacket. Duh bertaruh nyawa deh.

Kambing, Kambing dan Kambing

Menjelang subuh kami sampai di pulau ini, ga disambut karpet merah tapi disambut hamparan mutiara hitam, kotoran kambing. Rupanya, kambing di sini dilepas untuk gaul bersama kucing, ayam dan bebek. Berebut tulang ikan, sumpah ga bohong, kambing di sini makan ikan.

Beberapa kambing yang terkantuk-kantuk terpaksa menyingkir dari tengah jalan demi memberi ruang pada rombongan kami yang malam itu berbagi tikar dan satu toilet di rumah pink di belakang sekolah. Satu toilet 26 orang, jangan tanya gimana antri nya kalau sakit perut!

image

Kapal nelayan ini dibandrol 80 juta

Pulau ini berpenduduk kurang lebih 1000 jiwa, semuanya Muslim. Jadi jangan coba2 jalan-jalan menggunakan bikini. Pakai baju lengkap saja jadi tontonan, apalagi bikini. Rupanya, pulau ini tak populer untuk snorkeling, kami merupakan satu-satunya rombongan turis snorkeling. Rombongan lainnya adalah rombongan pemancing, tapi nggak heboh kayak kami, jadi nggak layak jadi tontonan. Pulau ini punya Masjid, tapi belum jadi, ga punya dokter, tapi punya bidan & ruang bersalin. Transportasi publiknya, kapal kuning Tunda Express hanya ada pada hari Sabtu, Senin dan Rabu, ongkosnya 15k/kepala. Di luar hari tersebut, sang kapten bersedia mengantar asal rombongan terdiri dari 70 orang.

Snorkeling

Ga ada wisata lain yang bisa dilakukan di sini, cuma snorkeling. Spotsnya OK, bahkan nggak perlu turun pun bisa terlihat dari atas. Karena cuma ada dua spots, jadi jam dua siang pun kami sudah selesai. Selain snorkeling? tangkap kambing aja deh. Bisa juga jalan ke pantai yang cuma seiprit & kotor! Kalau punya keberanian bisa juga olahraga naik ke atas lighthouse.

Keesokan paginya kami sempat berburu lumba-lumba dengan muterin pulau ini, 360 derajat. Jarak tempuh 45 menit, lumayan sambil berjemur di atas kapal pagi-pagi. Kami nggak ketemu lumba-lumba, ternyata ini bukan daerah lumba-lumba. Dulu pernah ada grup yang ketemu, karena mereka lagi beruntung. Jadi kalau ke pulau ini, mendingan gak usah ngarep lihat lumba-lumba, tapi ngarep lihat  kapal tanker & kapal penambang pasir, pasti ketemu. Konon pasir yang dikeruk dari sini untuk Ancol!

image

Uniknya, air sumur di pulau ini nggak payau, jadi seger nggak lengket. Kalau mau mandi mesti nimba dulu ya. Lumayan olahraga. Biarpun ada mesin penyedot listik, kalau siang mesin itu gak jalan, karena listrinya gak ada. Mestinya kami kemaren ngajak pak Dahlan Iskan di rombongan supaya beliau tahu kalau listrik di pulau Tunda cuma ada di malam hari, sedangkan kalau siang mati.

image

Perlu dicatat makanan disini cukup sederhana. Sarapan dan makan siang kami ikan, nasi & oseng kulit belinjo. Sementara makan malamnya nasi goreng, mie goreng & ikan bakar. Kualitas makanannya belum seperti di pulau-pulau lain di kepulauan 1000, tapi justru karena kesederhanannya itulah pulau ini jadi berbeda.

Berhubung cuma bisa snorkeling & ga ada hiburan lain yang bisa dilakukan. Jadi pulau ini hanya disarankan untuk dikunjungi eksekutif muda yang gak bisa lepas dari gadget. Alamat bakal fresh kepalanya, karena tak ada sinyal Simpati. Sementara sinyal XL & Indosat hanya muncul di beberapa tempat, itupun harus jalan ke pinggir pantai.

Berminat ke Pulau Tunda?

 

Cara Memasak Nasi Jepang

Seringkali orang bertanya mengapa nasi di restoran Jepang rasanya lebih enak dari nasi dari tempat lain. Setelah diajak teman ke kursus Sushi, saya jadi tahu kalau ternyata rahasia kelezatan nasi Jepang itu terletak pada kesabaran, ketelatenan dan kekuatan kantong dalam membeli nasi. Beras berkualitas bagus, tidak datang dengan harga yang murah.

Beras Jepang terbagi dalam beberapa kualitas, untuk membuat sushi, beras yang dipilih harus yang kualitas super dan tak mudah patah. Tentunya beras ini tak boleh disemprot obat nyamuk apalagi bensin dalam membunuh hamanya. OOT: Baru-baru ini saya menghadiri seminar tentang hama wereng coklat dan perubahan iklim. Ternyata oh ternyata, banyak sekali petani yang membunuh hama wereng coklat itu dengan menyemprotkan hal-hal yang tidak seharusnya disemprotkan. Bahkan, banyak pestisida di Indonesia ternyata sudah lama dilarang di Eropa.

pexels-chevanon-photography-359992

Photo by Chevanon Photography: https://www.pexels.com/photo/prawn-sushi-on-black-platter-359992/ Beras Jepang merek ternama biasanya Nishiki.

Beras jepang biasanya short-grain, atau kalau kata keluarga saya beras yang gendut dan pendek. Jenis ini biasanya disebut juga oryza sativa var. Japonica. Daripada repot-repot ngapalain nama latin, cari saja berat Nishiki. Beras nan mahal yang harganya bisa mencapai ratusan ribu ini bisa dibeli di supermarket Jepang atau supermarket yang menjual barang-barang import. Di Jakarta, beras ini bisa dibeli di Papaya, Kamome, atau Grand Lucky.

Menurut chef sushi yang mengajari saya, cara memasak beras Jepang adalah sebagai berikut:

  1. Cuci beras, tapi ketika mencuci beras jangan diaduk-aduk dengan kasar, harus halus dan menggunakan perasaan. Jika mengaduk tanpa perasaan dan kasar, ditakutkan berasnya patah. Setelah satu atau dua kali mencuci, kucuri beras dengan air selama 2 (dua) menit.
  2. Setelah itu, tiriskan beras di atas kain (atau saringan yang teramat kecil lubangnya) selama 15 (lima belas) menit supaya berasnya mekar, merekah dengan sempurna.
  3. Setelah 15 (lima belas) menit, beras dapat dimasak. Nah rumus beras Indonesia yang airnya diukur pakai jempol itu jangan dipakai lagi, karena jempol orang yang satu dan yang lain berbeda. Supaya konsisten, gunakan takaran 1 kg beras = 1.8 lt air; tapi jika memasak  ½ kg beras airnya 1 liter, bukan 900 ml.
  4. Masukkan beras dalam rice cooker atau magic jar selama 45 menit dan jangan dibuka-buka sebelum 45 menit. Kalaupun sudah masak, biarkan saja hingga 45 menit. Mengapa begitu? Supaya matangnya sempurna, katanya.

Setelah empat puluh lima menit makan beras siap disajikan. Patut diingat, kandungan gula dalam beras Jepang ini sangatlah tinggi, makanya enak. Jadi kalau ambil nasi, harap tahu diri, terutama mereka yang level gula darahnya tinggi.

Cara masak yang panjang ini sebenarnya adalah cara masak nasi untuk sushi-meshi (nasinya sushi). Setelah nasi matang, nasi ini harus diletakkan di wadah kayu untuk didinginkan, dicampur dengan sedikit kecap asin dan juga miri, sake manis Jepang, untuk kemudian dibuat menjadi sushi yang cantik. Tapi, cara ini boleh diterapkan untuk memasak beras Indonesia yang biasa-biasa saja supaya nasi lebih enak.

Masih menurut chef sushi yang mengajari saja, sushi di Indonesia itu kebanyakan tidaklah halal, karena kecap asin yang disajikan di restaurant sushi, Kikkoman, mengandung alkohol. Konon, baru Singapura yang bisa jualan sushi halal, dengan kecap tanpa alkohol. Selain kecap, nasi untuk sushi, atau sushi-meshi juga sering dicampur dengan mirin yang sudah saya sebut di atas. Tak semua chef mencampurkan mirin, tapi penambahan mirin ke dalam nasi membuat sushi, menurut saya, jauh lebih enak.

Beberapa restaurant terkemuka sushi juga tak mencantumkan label halal di restaurantnya, menariknya, tak banyak orang yang tahu atau masa bodo dengan hal-hal tersebut. Mungkin karena sushi identik dengan ikan yang bukan hewan terlarang.

xx,
Tjetje