Seputar SIM dan Menyetir di Indonesia

Saya tak pernah melihat kebutuhan untuk bisa menyetir selama tinggal di Indonesia. Tapi cerita ini kemudian berubah ketika saya pindah ke Irlandia dan belajar menyetir dengan baik dan benar. Saya tulis baik dan benar, karena disana belajar menyetir itu jelas aturan mainnya.

Mudik kali ini, saya jadi memperhatikan bagaimana para pengemudi mengendarai kendaraan. Lalu saya yang anak ingusan ini jadi gemes, pengen mengoreksi cara beberapa supir menyetir, karena bagi saya mereka merusak mobil dengan gaya menyetirnya yang awut-awutan. Selain pasang gigi untuk kecepatan yang salah, mereka juga tak bisa jalan lurus dan mematuhi marka.

Suasana ujian SIM, ditemani blower-blower AC. Jangan bayangkan panasnya deh. Gak heran kalau foto SIM itu pada lecek semua.

Bicara tentang awut-awutan, saya juga gondok luar biasa dengan sepeda motor di Jakarta dan Malang yang entah gimana bisa dapat SIM dengan gaya menyetirnya yang amburadul, serobot kanan serobot kiri. Sepeda motor ini merasa memiliki seluruh jalanan di Indonesia dan merasa paling berhak menyetir dimana saja tanpa mengindahkan peraturan. Gak semua memang, tapi buanyaaaaaak banget yang gini dan membuat pengalaman menyetir jadi melelahkan jiwa.


Di media sosial dan di masyarakat sendiri ada stereotype untuk Ibu-Ibu yang katanya kalau nyetir ngawur. Dari kacamata saya stereotype ini salah, karena yang nyetir ngawur gak cuma Ibu-Ibu saja lho, tapi juga bapak-bapak, abang-abang, Mbak-mbak dan para remaja belasan tahun yang bahkan belum tahu pentingnya mengenakan helm. Semuanya ngaco dan saya yakin kalau tes SIM akan gagal.

Ngomongin soal SIM, saya ke Samsat dong untuk bikin SIM. Luar biasa, Samsat sekarang bebas dari calo. Semua orang harus mengurus sendiri dari tes mata sampai tes praktek. Tes mata yang dibandrol seharga 25ribu rupiah hanya menyajikan dua soal dan mata saya yang langsung dinyatakan sehat. Kelihatan sebagai formalitas aja kan? Tetapi begitu tes tertulis, semuanya berubah menjadi menyeramkan. Konon, dari 2000 aplikasi, yang gagal bisa mencapai 1300. Salah satunya saya. Tapi saya tak menyerah, setelah gagal mencoba lagi. Fiuh….

Anyway, waktu saya tes tertulis ada mbak-mbak media yang mengalungkan kalung media ternama berwarna hitam yang nampaknya meminta perlakuan khusus. Si Mbak sukses dibentak polisi, begini kalimat pak Polisi: “soalnya semua sama Mbak, gak ada soal khusus wartawan dan umum”. Agaknya Mbak wartawati ini tak tahu bahwa wajah kepolisian mulai berubah, bahkan anggota Polisi saja duduk mengikuti tes bersama saya. Bapak-bapak Polisi ini pelit lho, tak bisa dimintai jawaban jumlah denda jika tak memiliki SIM. Mungkin juga mereka tak tahu.

Saya senang melihat perubahan-perubahan di instansi di Indonesia. Tapi, hati kecil saya jadi ingin tau, apakah perubahan ini akan bertahan atau hanya hangat-hangat tai ayam? Entahlah, yang jelas jalanan Jakarta masih akan tetap berantakan, karena tak ada kendaraan yang bisa berjalan sesuai aturan. Di Jakarta, jalannya adalah rimba dimana semua orang bisa saling maju-mundur seruduk sana sini. Satu-satunya yang menyelamatkan Indonesia adalah fakta bahwa menyetir di sini kebanyakan setengah kopling dan gigi yang digunakan paling banter gigi tiga. Kendati kendaraan-kendaraan yang berlenggok-lenggok laksana merak yang lagi terbuai birahi ini berkecepatan rendah, kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Kamu punya SIM lokal? Jangan sampai terlambat perpanjang ya, satu hari keterlambatan saja harus mengulang proses.

Xx,
Tjetje

Basa-basi di Irlandia 

Dulu ada seorang blogger di Multiply  yang pernah cerita sama saya kalau orang Irlandia itu persis banget sama orang Indonesia, suka basa-basi. Jaman dia cerita itu saya gak punya ide sama sekali tentang Irlandia (selain boyband) dan gak begitu tertarik menjejak di Irlandia. Jadi cerita basa-basi itu melintas begitu saja dan tak pernah saya tanggapi dengan antusiasme.

Begitu nasib membawa saya ke Irlandia, saya terekspos pada basa-basi khas Irlandia. Interaksi basa-basi tak hanya terjadi dengan petugas atau pegawai yang melayani ruang publik (contohnya supir taksi, supir bis, petugas penjual tiket, kasir) tetapi juga dengan orang asing yang tak dikenal di dalam tram, bis ataupun di dalam kereta.

Ada aturan tak tertulis di Irlandia untuk menyapa dan bertanya kabar, sekedar “Hi, how are you?” sebelum berinteraksi. Ini basa-basi standar dimana-mana sih, bukan di Irlandia saja, mungkin sama standarnya dengan basa-basi Indonesia yang nanya “eh sudah kawin apa belum?” atau ketika berpapasan dengan tetangga yang nanya “Mau kemana?”#MauTahuAjaSih

Dengan pengemudi bis, pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya tak dijawab. Dalam pergaulan sehari-hari sendiri, jawaban standar untuk menanggapi pertanyaan kabar di Dublin biasanya grand, opsi lainnya untuk menjawab adalah not too bad. Untuk good atau fine sendiri saya malah jarang banget dengar dan kebanyakan saya dengar dari mulut saya sendiri.

Selain basa-basi menanyakan kabar, orang Irlandia juga suka memulai basa-basi dengan membicarakan cuaca. Obsesi banget, mau mendung, cerah, hujan dibahas semua. Saat cuaca buruk biasanya ngomel tapi dicampur dengan syukur, karena untung gak banjir, untung gak angin dan untung lainnya. Sementara saat cuaca indah, mood para basa-basier ini ikutan bagus.

Mereka yang ngobrol tentang cuaca biasanya suka nanya soal cuaca di negara asal saya. Menurut saya, ini metode menggiring dan bertanya tak langsung negara asal saya, tanpa terdengar kepo. Kebanyakan orang menyangka saya ini suster yang aslinya dari Filipina. Bisa dipahami sih, orang Filipina dan Indonesia kan memang mirip. Plus, di negeri ini suster (nurse ya, bukan nanny) memang banyak didatangkan dari Filipina. (nah tuh yang mau hunting bule sekolah suster aja, terus cari kerjaan di luar negeri). Negara Indonesia sendiri banyak ga dikenal sama orang Irlandia. Saking gak terkenalnya, mama saya sampai frustasi ketika jalan-jalan dan ditanya pihak museum. Biasanya, mama saya bilang dekat Australia atau deket Bali. Beres deh.

Cara saya mendeskripsikan Indonesia sedikit berbeda dengan cara mama. Saya selalu mendeskripsikan Indonesia sebagai negara asal matahari. Nah dari situ molor deh pembicaraan kemana-mana, tapi lagi-lagi topik cuaca diulas lebih dulu. Lucunya, begitu dengar Indonesia biasanya gak jauh-jauh dari 30 derajat mereka langsung keder. Terlalu panas katanya. Lha kok 30 derajat, orang Irlandia tuh ya dikasih 20 derajat dengan sedikit panas aja udah ngomel, kepanasan.

https://www.instagram.com/p/BMi563_hg0e/?taken-by=binibule

Jika ada waktu kepo akan berlanjut dan menanyakan saya kuliah di mana. Ada anggapan umum bahwa orang Asia disini ini pelajar (yang kemudian dapat kerja). Sementara orang-orang berkulit lain, selalu identik dengan migran ekonomi. Dan tahu sendiri migran ekonomi sering dijadikan alasan untuk tak suka orang lain apalagi jika terjadi kegagalan integrasi.

Keponya orang Irlandia nanyain status kawinan juga lho, padahal gak kenal. Yang nanya soal anak juga ada, walaupun caranya halus banget. Saya perhatikan orang-orang yang kepo ini biasanya orang tua. Sementara yang muda cenderung cuek dan lebih individualis. Mereka lebih suka mendengarkan musik  dengan headset yang suaranya bisa kedengeran sampai kampung sebelah.

Bicara tentang basa-basi dengan orang asing, satu hari saya ngantri di sebuah supermarket. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang nanya asal saya dari mana. Kelihatannya memang agak gak sopan, gak kenal nanya-nanya. Tapi rupanya mbak ini emang tulus ingin tahu tentang negara asal saya. Dan saya berakhir bercerita panjang tentang Indonesia dan segala kekayaan budaya serta alamnya, sampai tenggorokan kering. Persis kayak duta pariwisata Indonesia, Di akhir perbincangan ia mengucapkan terimakasih telah tinggal di Dublin dan memperkaya Irlandia. Super sweet.

Anyway, gara-gara kebiasaan basa-basi Irlandia ini, pas pulang kampung ini saya jadi lebih demen basa-basi pada orang tak dikenal lho. Di parkiran, di toilet, di kasir, pramusaji, semuanya saya sapa dengan ramah. Padahal, biasanya saya kayak orang Jakarta pada umumnya, cuek dan gak merasa perlu basa-basi. Dan saya pun terheran-heran, ini karena saya hanya liburan di Jakarta, atau karena Irlandia telah sukses menyuktikkan kebiasaan basa-basi pada saya. Entahlah.

Kamu, kapan terakhir kali basa-basi dengan orang yang tidak dikenal? Ngobrolin apa?

Xx,
Tjetje

Reverse Culture Shock: Tantangan Pulang Kampung

Tiga belas bulan, tiga minggu sejak meninggalkan Jakarta, saya menjejak kembali ke tanah air. Sebelum pesawat mendarat, perasaan saya rasanya campur aduk, tapi didominasi dengan rasa senang dan semangat, dan tentunya sedikit kedongkolan, karena di pesawat toilet diwarnai dengan basah di sana-sini, khas orang Indonesia.

Menjejak di Soekarno Hatta, senyum dan sapaan selamat malam saya layangkan pada petugas imigrasi. Tapi ya, petugas imigrasi negara kita itu emang super ngebetein dan memasang kegalakan khas tentara. Padahal tentara Indonesia saja jauh lebih ramah. Mungkin petugas-petugas itu lelah, karena harus bekerja hingga malam, tapi tetep saja itu bukan alasan. Lalu saya mulai membandingkan dengan petugas imigrasi di Irlandia yang keramahan dan kebaikannya bikin saya merasa diterima dan tak terintimidasi.

Lokasi pengambilan bagasi sendiri masih semrawut, sementara ruangan itu begitu panas, karena ACnya kurang maksimal, mungkin karena ruangan itu begitu padat. Begitu kaki saya melangkah keluar, saya pun dihajar dengan panasnya Jakarta. Tak cukup itu, telinga saya juga disuguhi dengan suara klakson, padahal hari sudah malam. Setahun di Irlandia, saya tak pernah mendengarkan suara klakson sama sekali, lha disini, semuanya pencet klakson untuk hal-hal yang tak jelas.

https://www.instagram.com/p/BMTG0dohwkI/?taken-by=binibule

Jalanan Jakarta Jumat tengah malam itu juga sangat macet. Mobil-mobil tak ada yang bisa berjalanan lurus, karena setiap mobil sibuk pindah dari satu lajur ke lajur lainya untuk mencari celah, konon supaya bisa cepat, tapi malah menghambat. Saya juga jadi memperhatikan bahwa kebanyakan orang yang menyetir kendaraan di Jakarta, kurang paham bagaimana menyesuaikan gigi dengan kecepatan, akibatnya saya banyak mendengar erangan mobil karena salah gigi, baik di kendaraan pribadi yang saya tumpangi, hingga Uber ataupun taksi.

Mal-mal di Jakarta sendiri masih dipenuhi dengan kaum menengah atas yang berdandan cantik dan bergaya, sambil menenteng tas-tas bermerek, entah asli ataupun KW. Rambut mereka sendiri begitu tertata rapi, dengan make up yang membuat penampilan menjadi lebih segar. Sungguh sebuah pemandangan yang bagi saya menarik karena di Dublin, saya terbiasa melihat orang-orang berbalut jaket tebal, pucat tanpa make up dan tentunya dengan rambut yang tak berkibar ibarat gadis shampoo

Bicara shampoo, saya juga jadi kaget melihat shampo khusus hijab yang harganya jauh lebih mahal dari shampoo di Irlandia. Tak hanya shampo, saya juga kaget lihat harga-harga kebutuhan pokok yang meroket. Begitu tingginya kah inflasi di Indonesia? Entahlah, yang jelas malam ini saya akan ngobrol dengan seorang sahabat untuk membahas topik ini. #ObrolanBeratYangTakSayaDapatdiIrlandia

https://www.instagram.com/p/BMN9pBFB6QH/?taken-by=binibule

Ekonomi negara ini bergerak cepat, tapi sayangnya, perilaku sebagian orang pada pelayan yang mengantarkan makanan masih tak ramah. Berulangkali saya melihat orang terlalu sibuk dengan gawainya hingga tak mengindahkan tangan-tangan para pelayan yang mengantarkan makanannya. Boro-boro makasih, ingat muka sang pelayan pun saya sangsi. Tapi saya salut, para pelayan disini begitu sigap mengambil foto, dengan cahaya minimal dan dengan sudut yang baik. Mereka mungkin harus beralih profesi menjadi fotografer.

Dalam satu kesempatan saya berkesempatan menaiki transjakarta, dua stop saja, dari Ratu Plaza ke Halte Polda dan dibayari seorang teman yang akan pulang karena saya tak punya kartu. Akibatnya, saya terjebak di halte, tak bisa keluar karena tak punya kartu. Sementara petugas halte ngotot tak bisa membantu mengeluarkan saya karena ia diawasi oleh CCTV (well done Ahok). Akibatnya, saya harus meminjam kartu orang lain untuk keluar. Beberapa orang yang berpenampilan profesional dengan galaknya menolak, tapi satu orang bapak dengan penampilan sangat sederhana berbaik hati meminjamkannya pada saya. Bless him for his kindness. 

Tj mungkin sudah berubah menjadi sedikit lebih nyaman, tapi trotoar Jakarta bagi saya menjadi mimpi buruk. Selain harus berjalan lebih hati-hati untuk menghindari lubang di trotoar, saya juga harus menghindari asap tukang sate yang akan membuat keringat saya bercampur dengan asapnya dan membuat pakaian dan rambut saja jadi aduhai. Pada saat yang sama, mata saya juga harus dijaga, karena butiran debu yang terbawa angin bisa membuat mata saya merah kapan saja. Soal polusi yang menerpa kulit, jangan ditanya lagi. Beberapa hari disini, saya jadi merindukan segarnya udara Irlandia yang membuat saya bisa berjalan dengan nyaman, ketika musim dingin sekalipun.

Tulisan ini tolong jangan dibaca sebagai keluh kesah, atau bahkan sebagai sebuah catatan kesombongan karena tinggal di luar negeri. Saya hanya kaget dan pada saat yang sama bersyukur dengan segala kenyamanan yang saya punya di hidup saya.  Membanding-bandingan sendiri merupakan sebuah kewajaran. Kok orang dewasa, sebagai Ailsa kecil yang kembali pulang dan tinggal di Indonesia saya pernah menolak dengan keras untuk masuk ke kamar mandi Indonesia hanya karena lantainya basah.

https://www.instagram.com/p/BMMnfUnBNhX/?taken-by=binibule

Tapi apapun kondisinya, saya masih orang Indonesia, memegang paspor hijau (jadi jangan panggil saya WNA ya) dan masih mencintai Nusantara ini dengan segenap hati saya. Dan dari lubuk hati terdalam saya berdoa, semoga Jakarta dan Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik dan satu hari nanti, saya, kamu dan dia, bisa menyusuri trotoarnya, tanpa perlu merasa tak nyaman dengan polusi atau bahkan lubang, serta genangan airnya.

xx,
Tjetje
Berulang kali hampir tersambar pintu, karena tak laki tak perempuan, tak menahan pintu  *Sigh*

Pulang Kampung 

Tradisi pulang kampung biasanya dilakukan menjelang hari-hari khusus, baik itu perayaan keagamaan maupun perayaan tahun baru. Di Indonesia, lebaran menjadi ajang pulang kampung terbesar, karena mayoritas penduduk  mudik bersama. Menjelang lebaran  jutaan orang berebut pulang, demi menikmati beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga terdekatnya. Jalanan yang diledaki dengan pemudik dan juga kendaraan pun tak menghentikan niatan untuk bergabung dengan keluarga. Tak hanya lebaran, menjelang Natal, Imlek, bahkan Nyepi, banyak juga dari kita yang mudik. Tentunya jumlah mereka tak sebanyak pemudik lebaran.

Pulang kampung, kendati pendek, menjadi sebuah ritual yang wajib dilakukan bagi yang mampu. Sederetan aktivitas dan kegiatan direncanakan untuk melepas rindu dan bernostalgia. Urutan pertama tentunya menghabiskan waktu dengan keluarga. Baik keluarga yang masih hidup ataupun yang sudah dikebumikan. Bagi mereka yang berstatus jomblo, kegiatan ini seringkali menjadi siksaan karena serangan pertanyaan-pertanyaan dari para tante dan oom. Jangan salah lho, tak cuma orang Indonesia yang suka bertanya blak-blakan. Beberapa teman saya yang bukan orang Indonesia banyak tersiksa dengan pertanyaan serupa.
Starbike

Halo Abang Starbike!

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan keluarga, dari mulai menghabiskan waktu di atas meja makan hingga piknik bersama ke tempat-tempat wisata. Tak heran jika pada saat liburan area wisata dipenuhi lautan manusia yang pergi beramai-ramai dengan keluarganya. Tempat wisata murah meriah, seperti Ragunan atau TMII misalnya, dipadati dengan pengunjung. Kendati setiap tahun masuk berita karena pengunjung yang luar biasa banyaknya, orang-orang masih tetap bersemangat. Semuanya demi momen indah bersama keluarga.
Selain urusan bertemu keluarga, pulang kampung juga berarti bertemu teman-teman. Baik teman sekolah maupun teman masa kecil. Menyambung kembali pembicaraan atau mengenang masa lalu. Bagi sebagian orang, bertemu teman masa lalu itu terkadang menjadi momen canggung, karena seringkali   pembicaraan sudah tak nyambung lagi.  Belum lagi adanya ketidakcocokan pemikiran. Yang satu mendadak jadi ekstrem dan rajin menyisipkan ayat  suci di setiap pembicaraan, sementara yang lain merasionalisasi dan bertanya tentang banyak hal. Biasanya, yang merantau merasa terbuka dan menganggap yang tak merantau tak modern; sementara yang tak merantau merasa temannya sudah terlalu banyak berubah dan terkena racun pergaulan ibu kota. Tapi tentunya tak sedikit yang masih bisa nyambung dengan teman-teman lamanya dan kemudian rajin meminjam uang #eh.
Sebagai negara yang memiliki kekayaan kuliner, urusan perut juga merupakan agenda penting dalam perjalanan pulang. Tumbuh dan besar dengan rasa-rasa makanan tertentu membuat lidah merindu untuk digoda dengan kelezatan rempah. Rempah-rempah yang mungkin ditemukan di sudut bumi lain, tapi pengolahan serta suasanya membuat rasanya jauh berbeda. Kegiatan makan-makan ini tentunya sedikit berbahaya, berbahaya bagi kantong karena harus terus-menerus jajan di luar dan tentunya berbahaya untuk kesehatan. Timbangan bisa melonjak, sementara bagi yang punya masalah kesehatan, kolesterol, asam urat, kadar gula bisa ikut meroket setinggi langit.
Urusan pulang kampung tak lengkap jika tak melibatkan belanja, dari mulai sekedar belanja barang-barang khas, seperti kain-kain tradisional di pasar atau pengrajin lokal hingga membeli aneka rupa buah tangan paling mutakhir dan paling gaul di toko oleh-oleh. Tahu sendiri bagaimana doyannya orang Indonesia berbelanja. Yang dibelanjakan satu kampung dan seringkali kalap, semuanya ingin dibeli. Tapi kebiasaan inilah yang menggerakkan ekonomi negara kita. Membuat para pengrajin-pengrajin kecil di berbagai sudut negara meraup pundi-pundi untuk penghidupan banyak orang.
Sebagai seorang migran, saya migran ya, bukan expat, yang tinggal di negeri jauh, mudik pun menjadi ritual yang diagendakan secara rutin. Tahun ini sebenarnya saya tak ingin pulang, inginnya jalan-jalan ke negara lain, tapi apa daya, kesempatan untuk menyesap harumnya aroma teh tubruk sembari menyesap kembali nikmatnya rempah yang menari-nari di lidah datang. Jadi siapa yang bisa menolak, apalagi jika kulit yang mulai terang ini rindu dibakar teriknya matahari khatulistiwa. Eh tapi kalaupun tak ada matahari, saya rela kaki terendam kotornya banjir yang menggenangi Jakarta, karena sesungguhnya, menjejak di rumah itu sebuah kemewahan dan obat rindu yang mujarab.
Kamu, kalau pulang kampung ngapain aja?
Xx,
Tjetje
Punya daftar makanan panjang dan tak tahu apakah akan mampu melahap semuanya dalam waktu dua minggu. Ikuti perjalanan berburu makanan di IG @binibule (bukan @ailsadempsey ya, karena itu work account)

Mencari Bahan Pangan Indonesia di Dublin 

Ada beberapa orang yang penasaran bagaimana kehidupan dapur di negeri seberang. Beberapa bahkan bertanya-tanya apakah kemudian saya (dan banyak orang lainnya) berubah selera dan hanya mau makan roti saja. 

Saya tentunya tak bisa menjawab selera makan orang lain. Tapi yang jelas begitu pindah ke Dublin, konsumsi menu asing saya jauh lebih rendah ketimbang saat saya tinggal di Jakarta. Di Dublin saya maunya makan makanan Indonesia terus, karena makanan Irlandia rasanya amburadul, tak berbumbu. Irlandia emang gak punya kultur makan seperti di Perancis atau Spanyol. Jadi ya wajar kalau yang amburadul aja laku keras dan dibilang enak.


Mencari bahkan pangan Asia di Dublin tergolong mudah. Toko Asia bisa ditemukan di banyak tempat serta ada toko daring yang siap mengirimkan segala pesanan, selama kantong kuat bayar. Tapi bagi saya ada tiga hal yang penting untuk masakan Indonesia: beras, tempe dan bumbu segar.

Beras
 
Jika di Jakarta beras basmati sangatlah mahal, sampai orang India sering mengeluh, di Irlandia berat basmati lebih mudah ditemukan dan seringkali lebih murah. Saya sendiri lebih memilih beras Jepang atau beras Thailand.Harga beras sendiri beraneka rupa. Tergantung berapa banyak dan dimana kita membeli. Satu kilo beras biasanya dipatok dengan harga €2. Sementara, di tempat-tempat seperti Tesco bisa mencapai €4. 
Saya sendiri punya langganan toko China yang juga importir. Lokasinya di area industri dan target marketnya bukan individu tapi Restaurant. Disana, sepuluh kilo beras dari Kamboja dibandrol €13, sementara beras Jepang untuk Sushi sekitar €15. Jangan dibandingkan dengan di Indonesia ya.

Tempe
 

Satu hari saya ngobrol dengan pemilik toko Asia tentang tempe. Ia bercanda bahwa orang Indonesia itu tak bisa makan tanpa tempe. Bahkan saking tingginya peminat tempe, 40 bungkus tempenya yang baru datang pernah diborong habis oleh orang Indonesia yang tinggal di luar Dublin. 
Tempe disini barang langka yang didatangkan dari Belanda hampir setiap minggu. Sepertiga papan (20 potong) dibandrol dengan harga € 2.40 Euro. Memborong tempe buat saya sangat penting, karena seringkali tempe tak datang. 
Supaya awet, tempe harus dimasukkan freezer. Jika ingin masak, tempe tersebut didefrost terlebih dahulu atau dikukus. Rasanya memang tak serenyah tempe segar, tapi ya bagaimana lagi, beggars cannot be choosers. 

Aneka bumbu



Jahe, kunyit, Laos, cabe, sereh dan kunci misalnya bisa ditemukan dengan mudah. Bahkan daun jeruk bisa ditemukan dengan harga yang menurut saya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Semudah-mudahnya, saya tak akan nekat bikin sate lilit dengan batang sereh karena harganya tak semurah di Indonesia.


Selain bumbu segar, bumbu instant seperti bumbu bambu juga bisa ditemukan. Bahkan ada rasa-rasa yang tak ditemukan di Indonesia. Tak hanya bumbu Indonesia, saya juga sering menggunakan bumbu Malaysia untuk memasak. Nah Baru-baru ini saya menemukan bumbu sop buntut Malaysia yang akan saya gunakan untuk membuat Soto Banjar. Nah kalau gini rasanya bersyukur banget deh satu rumpun dengan orang Malaysia. 
Bumbu-bumbu yang tak bisa ditemukan, seperti kencur dan salam, ataupun bahan pelengkap dengan merek tertentu harus dibawa dari Indonesia. Jadi ya jangan kaget kalau lihat Freezer dan lemari saya penuh dengan kerupuk, Emping, bumbu instant, petis, hingga kecap yang baru akan habis tahun depan.


Oh ya, mie instant disini bisa ditemukan dengan mudahnya. Bahkan bisa beli kardusan. Harganya memang sedikit mahal, 45 sen per bungkus. Tapi setidaknya gak perlu bawa mie dari Indonesia dan bagasi bisa diisi dengan makanan lain.

Kira-kira ada saran makanan apa lagi yang mesti saya timbun dan bawa ke Dublin? 

Xx,

Tjetje 

Takut Dengan Bule Hunter

Beberapa hari lalu di Twitter saya berbagi screen shot komentar dari orang yang nyasar ke Blog saya. Setelah membaca tulisan Dear Bule Hunter, orang ini mengambil kesimpulan bahwa pelaku perkawinan campur (dan saya sebagai blogger) biasanya takut dengan bule hunter karena takut pasangan dirampas oleh para bule hunter, makanya banyak yang nyap-nyap soal bule hunter. Lap keringat sambil ngedumel, gini deh kalau pada gak paham sarkasme. Tarik napas sambil ucap mantra, ya riset pun sudah membuktikan cuma yang IQnya nyampe yang bisa baca tulisan model sarkasme. 

pexels-andrea-piacquadio-3907760

Bule hunter yang saya definisikan sebagai orang-orang yang mencari pasangan dengan spesifikasi warna kulit dan mengeklusikan pilihan lain, merupakan sebuah fenomena yang terjadi di Indonesia sejak jaman baheula. Di jaman baheula berburu bule itu untuk menaikkan kelas sosial, biar jadi Nyai dengan mengawini orang Belanda. Di jaman sekarang, sebagian masih berprinsip seperti itu, biar kaya, kelas sosial naik dan jadi nyonya-nyonya bule. Fenomena ini  tak hanya ada di Indonesia saja tapi juga ada di negara-negara lain. Rusia misalnya dikenal dengan mail order bridenya.

Nah apakah kemudian bule hunter itu menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti seperti layaknya kita diajarkan untuk takut pada pocong, kuntilanak, kuyang, nenek lampir, suster ngesot, sundel bolong, wewe gombel, dan banyak hantu lainnya (yang kok kebanyakan perempuan)? Atau layaknya sebagian orang takut pada badut-badut yang sedang musim dan sedang senang berkeliaran menjelang Hallowen ini? ya kaleeeee.

Ketakutan yang digambarkan oleh sang komentator (dan menurut dugaan saya banyak orang disana berpikiran sama) ini, menurutnya, para bini-bini bule itu pada takut kalau lakinya disamber bule hunter. Saya yakin di luar sana ada yang takut lakinya disamber bule hunter dan tak mempercayai loyalitas suami. Saya sendiri sangat percaya bahwa hidup itu harus berusaha keras, tapi bagi ada tiga hal yang sekeras apapun kita kerja tak akan bisa kita paksakan, hidup, mati dan jodoh. Jadi lagi-lagi, mengapa harus ketakutan pasangan direbut bule hunter, kalau jodoh toh tak kemana.

Ada satu hal yang gagal dipahami oleh sang komentator, yaitu soal ketidaknyamanan sebagian orang ketika melihat bule hunter. Sebagian mengeluhkan penampilan mereka yang norak. Tapi sejujurnya kenorakan pakaian ini ada dimana-mana dan dilakukan siapa saja. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan buang muka saja. Atau kalau mau nekat, samperin aja bilang bajunya norak. Paling disiram air atau kalau beruntung disiram wine. Pastikan ketika nyamperin gak pas pegang sup panas ya.

Sebagian lagi mengeluhkan perilaku mereka yang seringkali dianggap murahan dan kurang berkelas  sehingga menuai  cibiran. Ini kemudian mengakibatkan sebagian besar perempuan yang memiliki pasangan orang asing dicibir dan disamaratakan. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, banyak orang yang risih ketika para bule hunter crashing party apalagi acara resmi hari-hari nasional dari negara-negara asing di Indonesia. Cara masuknya bermacam-macam, ada yang masuk ketika pengamanan acara sudah mulai berkurang, ada juga yang pura-pura menjadi bagian dari rombongan diplomat beneran. Saya sendiri terpukau sembari sedikit malu karena keberanian dan kenekatan mereka. Sampai segitunya kah kalau harus berburu pria?

Sebagian lainnya mengeluhkan keagresifan mereka yang luar biasa. Engga bikin takut kok, tapi meminjam istilah jaman sekarang: gengges banget! Jelas-jelas #CincinKawinSegedeBagongGakDilihat, bahkan ketika istri dan anak dibawa pun masih digodain. Atau dalam konteks hubungan pekerjaan, tukar menukar nomor telpon tiba-tiba mengirimi foto selfie super seksi yang alasannya salah alamat. Sah-sah aja kok, tapi seperti saya bilang, hal-hal seperti ini membuat  sebagian orang gengges dan jadi mikir, ” apaan sih?”

Nah yang bikin makin gengges lagi tuh, kalau kemudian para orang asing itu bertanya pada orang Indonesia (ini sering banget saya alami, karena saya kerja di lingkungan yang banyak ekspatnya. Kalau nanya ya ke saya). Mengapa mereka sangat agresif ketika berkaitan dengan urusan pria, tapi begitu berurusan dengan pekerjaan super lelet. Mengapa mereka tak malu meraba-raba diplomat yang sudah dibuai alkohol di depan publik, seakan tak ada norma lagi. Atau mengapa mereka menelpon-nelpon tanpa henti dan juga mengirimkan pesan, permintaan pertemanan di media sosial. Lalu pertanyaan lainnya, apakah mereka seperti ini juga pada orang-orang yang bukan orang asing? Nanti kalau dijawab, engga cuma sama bule aja, akan berbuntut panjang. Mengapa mereka rasis dan hanya berlaku seperti itu pada orang kulit putih.Ya ndak tahu, tanya aja sendiri. Dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang kadang membuat saya lagi-lagi malu dan pusing menjawabnya.

Di forum-forum di dunia maya fenomena ini juga banyak dibahas dan tentunya dinikmati oleh kedua belah pihak. Sah-sah saja wong sama-sama dewasa. Tapi tetap di relung hati saya ada rasa sedih yang mendalam ketika para bule itu berkata, hidup di Indonesia itu enak, mau ganti-ganti cewek  gampang. Meski sang bule gak bermaksud mengenelirasi, tetep bikin sedih. Rasanya kok perempuan Indonesia itu jadi gak berharga dan gak bernilai banget.

Terlepas dari segala hal yang gengges di atas, bule hunter adalah sebuah fenomena yang banyak menginspirasi tulisan-tulisan saya. Bagi saya, perilaku mereka sangat menarik untuk diamati dan direkam. Jadi, mengapa mereka harus ditakuti?

xx,
Tjetje

Mimpi Buruk Tinggal Bersama Mertua 

Bagaimana judul di atas? Sudahkah mewakili perasaan sebagian dari mereka yang tinggal dengan mertua? Bagi sebagian orang, tinggal dengan mertua itu adalah sebuah mimpi buruk. Apalagi jika mertua dan menantu tak akur dan kemudian menolak menjalin hubungan manis dan menyatakan perang dingin. Jreng…jreng…drama heboh deh, persis seperti sinetron. *camera zoom in, mata melotot, zoom out, awas jangan berkedip*

Anggapan tinggal dengan mertua sebagian mimpi buruk itu tak sepenuh benar, karena ada banyak menantu yang dekat dengan mertuanya dan memiliki hubungan manis. Tapi tentu saja cerita-cerita tersebut sangat tak menarik untuk dibaca, karena monster-in-law jauh lebih menggigit.

Banyak alasan orang tinggal dengan mertua, keuangan yang belum cukup salah satunya. Tapi tak sedikit yang tinggal dengan mertua karena ingin berbakti dan merawat mertua yang biasanya sendirian. Ada juga mertua yang memang posesif, maunya anak menantu tinggal berdekatan hingga membangun satu wilayah perumahan sendiri.

mother-in-law-nickandzuzu

nickandzuzu.com

Drama antara menantu dan mertua biasanya sudah dimulai sebelum perkawinan dimulai. Salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya tak saling menyukai. Akibatnya merembet ke urusan memilih produk rumah tangga, hingga urusan manajemen keuangan. Jangan heran kalau kemudian mertua beli beras Jepang, sementara mantu beli beras Thailand. Lalu keduanya berakhir ribut urusan listrik dan air yang sedikit lebih mahal karena masak nasi dua kali.

Keributan tak penting semakin merembet ketika satu pihak mencampuri atau berkomentar soal keuangan yang cukup sensitif dan seharusnya tak menjadi urusan pihak lain. Menantu yang dianggap tak pandai mengurus keuangan dan boros akan jadi bahan bulan-bulanan dan mendapat penghargaan menantu kurang ideal. Apalagi jika uang yang digunakan adalah uang sang anak. Makin meradang deh.

Sayangnya penghargaan ini tidak langsung diberikan di depan mata, tapi di hadapan abang tukang sayur sembari memilih pete dan jengkol untuk dilalap. Mungkin besok-besok abang tukang sayur harus mulai mengenakan biaya tambahan ketika harus mendengarkan curhatan rumah tangga. Tak mau kalah, yang lebih muda pun berkoar-koar di media sosial mengumbar hubungan tak manis. Satu dunia pun tahu soal drama yang tak penting.

https://www.instagram.com/p/idFACdQxj7/?taken-by=binibule

Tak hanya soal manajemen dapur dan keuangan, manajemen tidur juga menjadi pembicaraan tak mengenakkan. Anak perempuan dipaksa bangun pagi dan menyiapkan sarapan supaya bisa menyandang predikat menantu ideal. Sementara anak laki-laki tidur aja, santai-santai tunggu sarapan #LemparSandalJepit. Lalu ketika sang menantu bangun siang, sindiran-sindiran tajam dan tak mengenakkan pun dilemparkan.

Tapi dari semua itu keributan yang paling tak menyenangkan konon jika sudah menyangkut anak. Mertua yang kadung sebel dengan mantu suka ngumpat atau menyindir menantu yang belum kunjung mengandung. Mereka yang sudah punya bayi pun tak lepas dari konflik. Dari mulai memaksa memasang gurita hingga soal cara mendidik anak. Yang satu merasa sudah berpengalaman, sementara yang satu membaca panduan mendidik masa kini yang sudah jauh berbeda. Runyam.

Di antara keributan ini ada banyak pihak yang tersiksa. Sang anak akan sangat pusing karena berada di antara ibu dan istri, lalu untuk menambah drama disuruh milih. Padahal memilih antara ibu dan istri itu sungguh sulit. Sementara sang pekerja rumah tangga juga tak kalah pusing karena mertua minta masak sayur bayam, sementara sang mantu minta gudeg. Begini terus setiap hari, lama-lama si mbak pun pamit mundur karena akan kawin di kampung. Entah kapan pacarannya.

Pada beberapa kasus yang saya tahu, drama menantu dan mertua ini berakhir di pengadilan agama dengan diketuknya palu perceraian. Saat tak ada anak, tentunya jadi lebih mudah, cukup katakan selamat tinggal. Tapi begitu ada anak, hak asuh anak ada pada ibunya, dan sang nenek kesulitan akses menengok cucunya. Dan babak kedua perseteruan pun dimulai, kali ini dengan pemain tambahan, sang cucu.

Dan di sebuah kasus yang ekstrem, saat sang anak meninggal dunia, mantu meninggalkan rumah membawa cucu, mertua pun merana. Kehilangan anak dan juga kehilangan cucu. Kesempatan untuk berhubungan dengan cucu hilang karena sang ibu terlanjur sakit hati. Nah lho kalau udah gini menyesal pun tak berguna.

Jadi, bagaimana hubunganmu dengan ibu mertua, buruk atau manis?

Xx,
Tjetje
Mencintai ibu mertua yang super baik

Catatan: tulisan ini hanya membahas satu sisi saja, monster-in-law. Mantu monster sengaja tak dibahas karena bahannya belum cukup. Jadi gak usah nyinyir-nyinyiran ya.

Tertimpa Gosip dan Rumor

Lebih dari satu dekade lalu seorang tetangga saya berdiri di depan rumah sambil berteriak-teriak, marah tak jelas. Kendati pendidikannya tinggi dan pekerjaannya menjadi pendidik anak bangsa, sang tetangga satu ini memang terkenal tak bisa mengatur temperamennya dan hobi marah-marah. Di tengah-tengah amarahnya, ia tiba-tiba menghujat saya, anak kuliahan yang baru kenal cinta monyet sebagai perempuan simpanan. Darah muda saya mendidih, apalagi saat itu saya masih jomblo. Sebagai jomblo yang merindukan cinta, bagai pungguk merindukan bulan, kejadian itu saya ibaratkan seperti peribahasa bagaikan jomblo tertimpa tangga. Apes bener. Tetangga itu berakhir diam tak berkutik ketika saya labrak.

Dalam kehidupan, seringkali kita ditimpa gosip ataupun rumor. Artis bukan, motivator juga bukan, tapi ada saja orang yang iri dan dengki lalu membuat gosip dan rumor aneh-aneh. Pada saat yang sama, banyak dari kita yang terlibat baik secara aktif maupun pasif dalam kegiatan pergunjingan. Dari bergunjing sambil ngopi-ngopi dan arisan cantik, hingga bergunjing kelas teri bersama abang tukang sayur ataupun ketika usai ibadah. Lha abis ibadah kok nggosip.

Saya mendefiniskan bergosip sebagai kegiatan membicarakan orang. Yang dibicarakan biasanya fakta tetapi banyak dari informasi ini harusnya disimpan dalam lingkungan terbatas. Kendati hal-hal yang dibicarakan dalam pergosipan adalah fakta, tujuan dari membahas hal-hal ini bukanlah mengulas fakta atau investigasi untuk mengungkap sebuah permasalah. Tujuannya hanya untuk olahraga lidah, mulut dan telinga. Satu hal yang seringkali dilupakan, ada informasi-informasi yang seharusnya disimpan dalam sebuah ruang terbatas yang tiba-tiba dikeluarkan dan diumbar untuk untuk mengatasi kebutuhan membicarakan orang lain. Berbeda dari gosip, rumor merupakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sumbernya tak jelas, dasarnya tak jelas, kebenarannya apalagi.  Rumor menurut saya jauh lebih kejam dari gosip.

Gosip dan rumor tak bisa dilepaskan dari tukang gosip  yang juga berperan sebagai tukang sulut masalah ataupun provokator.  Provokator sekelas RT atau RW yang punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, bukan provokator yang bikin rusuh di depan kantor DPR. Tukang bikin rusuh ini biasanya punya ciri khas tak bisa menyimpan informasi dan hal-hal yang dia dengar dapat dipastikan tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga orang yang dibicarakan.
facebook-gossiping
Menghadapi tukang gosip atau penyebar rumor tidaklah mudah. Tapi yang paling utama, kita tidak boleh terpancing. Baik terpancing ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan informasi ataupun terpancing secara emosi. Pada saat yang sama, semua informasi yang kita dengar, dari siapapun, harus berhenti pada diri sendiri. Segatal-gatalnya mulut jangan sampai mengeluarkan informasi ke tukang gosip, apalagi ke para korbannya. Tak ada gunanya menyampaikan informasi tersebut pada orang lain, karena hanya membuat suasana semakin runyam.
Mereka yang mendengar berita diri digosipkan juga sebaiknya  tak mudah terprovokasi lalu tergoda labrak-melabrak, macam saya ketika masih muda belia. Apalagi jika sumber dari pergosipan ini adalah orang-orang yang memang terkenal sebagai tukang gosip dengan kalimat standar “Katanya si X, kamu begini, katanya si Y suamimu begini; aku dengar dari si Z kemarin begina begitu”. Semua katanya.
Sebuah sumber bacaan saya mengatakan bahwa orang-orang yang bergosip biasanya tak merasa percaya diri, sehingga merasa lebih baik ketika membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain. Pada saat yang sama ada kemarahan ataupun kecemburuan pada sang korban gosip. Nah, orang-orang seperti ini tak selayaknya diberikan panggung untuk menaikkan kepercayaan dirinya. Cuekin saja, anggap angin lalu.
Apakah ini berarti kita tak boleh membicarakan hidup orang lain? Sah-sah saja kok, apalagi jika hal tersebut adalah berita baik yang patut dirayakan. Tapi sudah selayaknya etika dan norma menjadi pembatas, baik pembatasan topik yang layak dibahas, maupun ekslusifitas informasi tersebut (Baca: gak perlu ngember kemana-mana).
Jika dulu saya melabrak-labrak orang, sekarang saya jauh lebih dingin dalam menghadapi gosip. Kadang saya menganggap gosip sebagai sebuah kewajaran, apalagi banyak yang tak cocok  (atau tak paham tapi pura-pura paham) dengan jalan pikiran dan gaya bicara saya. Pada saat bersamaan, saya juga bisa belagak jadi artis kan? Artis tanpa film, tanpa sinetron, tapi tak kalah penuh drama. Tentu saya yang menggosipkan saya tak akan saya beri somasi, apalagi somasi dengan 18 pengacara.
Mengutip kata Dedi Cobuzier, kita itu manusia dan bukan malaikat. Jadi wajar saya jika sebagai manusia yang tak sempurna kita banyak salahnya. Nah ketika manusia tak sempurna, bukan berarti mereka bisa dengan semena-mena dibicarakan dan digosipkan habis-habisan.
Bagaimana dengan kalian, pernah berurusan dengan tukang gosip, tertimpa gosip atau rumor tak sedap? Atau malah menjadi tukang gosip? #Eh
xx,
Tjetje
Ketularan Cerita Eka menjadi penikmat gosip super somasi.

Kembali Tinggal dengan Orang Tua

Di beberapa negara maju, anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa diharapkan tinggal sendiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Harapannya, anak-anak tersebut bisa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.


Di Indonesia, konsep melepas anak supaya mandiri itu kurang populer. Sebaliknya, anak dimanjakan hingga usia dewasa. Mereka disuapi dengan kemudahan; disediakan pekerja rumah tangga, pengemudi, hingga tabungan serta pekerjaan. Kemanjaan ini tak semerta-merta berhenti begitu memasuki jenjang perkawinan. Ada banyak keluarga muda yang entah terpaksa karena keadaan, atau mungkin dipaksa supaya orang tua tak kesepian, yang tinggal bersama orang tua. Bahkan ketika cucu lahir pun masih bersama orang tua. Menurut orang tua sih supaya dekat dengan cucu dan supaya ada orang terpercaya yang merawat cucu. Di Indonesia kita melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Disini, berusia dewasa, apalagi sudah kawin masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai keanehan.

Bicara tentang anak-anak yang dilepas, saya jadi teringat seorang teman WNA yang harus kembali ke negaranya setelah magang di Indonesia. Saat itu ia panik dan tak nyaman karena harus kembali tinggal dengan orang tuanya selama satu minggu karena belum mendapat tempat tinggal. Tinggal satu minggu dengan orang tua nampaknya dianggap sebagai sebuah siksaan luar biasa. Sungguh sebuah reaksi yang bagi saya menarik (dan berlebihan).

Saya sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal mandiri tanpa keterlibatan orang tua dan tak tahu apakah bisa tinggal satu atap lagi dengan ibunda saya. Ternyata, dikunjungi mama selama hampir tiga bulan saya malah tambah senang. Paling enak tentunya urusan perut, karena makanan nusantara seringkali tersaji. Sering ya, tapi tak selalu. Tentunya ada harga mahal yang harus dibayar, berat badan melonjak.

Tentunya dikunjungi tak sama dengan tinggal bersama. Dalam tinggal bersama ada keputusan-keputusan yang harus dibuat. Dari keputusan sederhana memilih merek sabun cuci hingga memilih penyedia jasa.

Tak heran jika kemudian pasangan-pasangan muda yang menumpang hidup dengan orang tua atau mertuanya seringkali berargumen, dari argumen yang penting hingga yang tak penting.

Yang tua sudah punya pola yang tersusun selama berpuluh tahun dan sudah memiliki pengalaman, sementara yang muda masih ingin mencoba berbagai hal baru atau sudah terbiasa dengan cara yang berbeda. Yang kasihan tentunya sang anak yang harus berada di tengah-tengah, antara orang tua dan pasangan jiwa.

Dalam situasi ini kedua belah pihak harus pintar-pintar menjadi fleksibel. Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak harus berkomitmen untuk memberikan ruang pribadi dan tak terlalu mencampuri urusan pihak yang lain. Komunikasi kemudian menjadi kunci penting. Seperti biasa, teorinya mudah tapi prakteknya tak mudah sama sekali karena bercampur dengan ego.

Kalian pernah kembali tinggal dengan orang tua atau bahkan dengan mertua?

xx,
Tjetje

Cara Daftar Visa Spouse Irish 

Banyaknya forum-forum di dunia maya memberikan kesempatan pada mereka yang kebingungan untuk bisa bertanya dan berkonsultasi tentang hal-hal yang tidak diketahui. Tetapi pada saat yang bersamaan, dunia maya, yang juga disingkat sebagai dumay, juga rajin menjerumuskan orang pada lubang hitam pekat besar. Di dunia maya, semua orang merasa paling benar, dan cara yang ditawarkan adalah cara terbaik. Padahal, banyak hal-hal kecil yang harus ditanyakan dahulu sebelum memberi saran atau berbagi pengalaman. Terlebih jika pertanyaan yang diajukan terkait dengan visa. Salah sedikit bisa runyam dan catatan penolakan visa akan melekat seumur hidup.

Visa untuk joining Irish spouse, atau bergabung dengan pasangan (disini ga penting mau pasangan kawin atau pasangan tinggal bersama) pengurusannya sangat mudah tapi prosesnya lama. Terkadang lebih lama dari menunggu jodoh. Perlu dicatat, digarisbawahi dan dicetak tebal, proses visa untuk yang pasangannya Irish TIDAK SAMA dengan mereka yang pasangannya warga negara Eropa. Mereka tak hanya mendapatkan kemudahan, tetapi juga langsung mendapat visa sesuai umur passport. Sementara yang memiliki pasangan Irish dan mendaftar visa long visit joining spouse dari pengalaman saya hanya akan mendapatkan visa selama tiga bulan saja.

Ketika saya mengecek di kedutaan Irlandia di Jakarta yang berlokasi di gedung WTC, dokumennya relatif sama dengan visa kunjungan pendek untuk jalan-jalan ke Irlandia. Daftar dokumennya sebagai berikut:

1. Hasil cetak pendaftaran visa secara Online yang sudah ditandatangani. Ini bisa dididapat  di situs INIS.

2. Surat permohonan visa. Saya menjelaskan secara panjang sejarah kami bertemu diikuti dengan sejarah kunjungan-kunjungan saya.

3. Surat undangan dari pihak pasangan WN Irlandia. Surat ini senada dengan surat kedua. Penuh sejarah percintaan yang dilengkapi dengan detail tanggal.

4. Fotokopi akte kelahiran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Akte asli harus dibawa untuk verifikasi

5. Fotokopi surat kawin serta terjemahannya. Surat kawin asli harus dibawa untuk verifikasi. Perlu dicatat pemerintah Irlandia mengakui perkawinan di luar negeri, jadi tak perlu repot-repot dicatatkan.

6. Bank statement selama enam bulan terakhir untuk membuktikan bahwa pasangan memang punya uang yang cukup dan tak akan membebani negara. Jika saya tak salah, ada penghasilan minimum untuk pasangan. Tapi saya belum ketemu linknya.

Bank statement saya juga disertakan untuk menunjukkan status keuangan. Selain itu saya memberikan aneka rupa bonus dokumen keuangan termasuk slip gaji dari saya dan pihak suami.

7. Surat keterangan dari tempat kerja pasangan yang menjelaskan bahwa ybs memang bekerja. Irlandia tak ingin orang-orang yang tak bekerja dan bergantung pada social welfare membawa pasangannya dan membebani negara. Konon prakteknya sih dimungkinkan, tapi tak saya sarankan.

Saya juga menyertakan surat keterangan dari kantor saya yang menyatakan masa kerja.

8. Asuransi perjalanan. Dikarenakan ini long stay, saya mengambil asuransi perjalanan tahunan. Bisa dibeli di situs AXA Indonesia.

9. As silly as it sounds, bukti booking pesawat. Kenapa saya bilang silly, karena proses visanya lama jadi booking pesawat sebenernya gak berguna karena kita juga gak bisa prediksi kapan pergi.

10. Fotokopi Passport kedua belah pihak dengan seluruh copy visa di dalamnya. Passport asli juga harus dibawa untuk verifikasi.

11. Foto background putih dua buah tidak ditempel dan di baliknya ditulis nomor aplikasi. Soal ukuran silahkan intip postingan saya tentang visa liburan.

Saya memberikan dokumen tambahan Foto-foto perkawinan saya. Sebenarnya tak diperlukan lagi, karena pihak embassy juga tahu saya sudah rajin wira-wiri Jakarta Dublin. Merekapun juga menolak.  Tapi, mereka yang melakukan review ada di Dublin dan belum tentu ngeh.

Seperti saya sebut berulang kali, visa ini prosesnya lama sekali. Proses normalnya ketika saya daftar enam bulan, tapi rupanya sekarang sudah molor jadi satu tahun. Pengecekan dokumen sendiri bisa dilakukan di sini. Beberapa waktu lalu saya cek, dokumen yang diproses baru yang dimasukkan pada 12 Januari. Sementara saat saya cek sudah akhir bulan Agustus. Delapan bulan saja euy….

Saya sendiri tak tahu apakah selama proses ini berlangsung kita bisa mengajukan visa kunjungan, karena pada saat saya mengajukan visa joining spouse, saya sudah memiliki multiple entry visit visa  untuk beberapa tahun. Jadi tak perlu repot-repot mengajukan. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanya kedutaan. Tapi yang jelas jangan coba-coba datang dengan short visa (category C) lalu datang ke imigrasi minta perpanjangan karena di Web Imigrasi ditulis dengan huruf tebal gak boleh.

Judul visa yang diajukan memang long stay joining spouse, tapi visa yang diberikan ternyata hanya tiga bulan saja. Dalam masa tiga bulan itu kita harus segera pindah dan segera melapor ke Imigrasi di kota masing-masing untuk mendapatkan kartu GNIB. Perlu dicatat, pasangan harus dibawa pada proses ini, karena petugas akan bertanya. Setumpuk dokumen juga perlu disertakan. Di Dublin sendiri, antrian kantor imigrasi ini konon dimulai sejak pukul lima pagi. Awal tahun ini saya antri disini pukul 7 pagi dan baru dilayani pukul 2 siang. Konon pada saat masa penerimaan mahasiswa baru di musim gugur, antrian akan semakin menggila. Btw ini kita antri di luar gedung ya karena gedung baru dibuka pukul delapan pagi. Jika terjadi di Indonesia, saya jamin ada abang tukang gemblong, nasi kuning, tahu dan juga jasa penyewaan kursi dan payung yang menawarkan kenyamanan. Disini, yang ada hanya angin, hawa dingin dan air hujan.

Setelah mendapatkan GNIB card dengan rentang waktu hanya satu tahun (dan harus diperpanjang setiap tahun selama tiga tahun), masih ada proses mendaftar multiply entry visa sehingga bisa keluar masuk Irlandia. Proses pendaftaran visa ini bisa dilakukan secara daring tanpa perlu mengantri. Dari sana kita tinggal urus PPS number (nomor jaminan sosial). Tapi ya jangan harap bisa dapat uang alokasi untuk pencari kerja.

Kendati prosesnya panjang dan melelahkan, semua proses visa dan tetek bengeknya GRATIS. Dan dengan stamp 4 yang diberikan, kita memiliki hak yang sama dengan warga negara Irlandia. Hanya satu hal saja yang tak kita punya, hak untuk mengikuti pemilu tingkat nasional. Dan karena Irlandia bukan bagian dari Schengen, visa mengunjungi negara-negara Schengen pun masih diperlukan dan tak gratis, kecuali bawa pasangan.

Semoga bermanfaat!
Cheers,

Ailsa
Link yang berguna bisa ditengok di sini