Gado-Gado dari Jayapura

Saya ingat di acara Skyscanner Dodid Wijanarko, seorang pembuat film dokumenter, pernah bilang bahwa pantai dari ujung barat Papua sampai ujung timur Papua itu sama aja, yang membedakan itu orang-orangnya. Jadi, sebelum saya menuliskan pengalaman dikejar Oom-oom di pantai di Papua, ijinkan saya (duile bahasanya, kalau gak diijinin gimana?) untuk bertutur sekilas tentang Papua dan orang Papua. Beberapa hal random tentang Papua ini saya kumpulkan dari berbincang dengan seorang Antropolog, masyarakat yang saya temui selama beberapa hari di sana dan dari mengobservasi. Silahkan mengkoreksi jika ada yang salah, tapi koreksinya yang sopan ya.

Menjadi PNS

Orang Papua, kata Pak Gubernur termarginalisasi di tanahnya sendiri, perdagangan banyak dikuasai oleh pendatang dari Makassar, Ambon, ataupun Jawa. Soal pertambangan apalagi, tapi gak usah dibahas deh ya. Menariknya, orang pendatang, terutama generasi kedua yang lahir dan besar di Papua, juga banyak yang merasa terdiskriminasi. Mereka tak punya ikatan dengan tempat asal orang tuanya, tapi di tempat mereka lahir dan besar, mereka tak dianggap sebagai putra daerah. Alhasil, timbul kesulitan mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintahan, alias menjadi PNS, karena orang Papua lebih diprioritaskan. Kalau gak diprioritaskan, apa mereka gak tambah terdiskriminasi?

Prostitusi dan HIV/AIDS

Saya emang agak ajaib, tiap kali mengunjungi suatu tempat selalu ingin tahu apakah ada tempat prostitusi. Lokasi prostitusi di Papua bersebelahan dengan danau Sentani yang cantik. Disini, penggunaan kondom wajib 100%. HIV/AIDS di Papua itu memang paling tinggi di negeri ini, jadi tak heran kalau kondom hukumnya wajib. Para pekerja seksual disini didatangkan dari luar Papua, termasuk Sulawesi, Jawa, bahkan ada yang dari Malang.

100% kondom

Ngomong-ngomong tentang HIV/AIDS ada satu project photo yang dikerjakan oleh Adrian Tambunan, judulnya Against All Odd. Saya kebetulan punya bukunya, buku photo tersebut merekam photo-photo tentang orang Papua dan HIV/AIDS. Sumpah bakalan nangis ngeliat photo-photo tersebut, karena bener-bener menyayat hati (saya emang cengeng).

Orang asli Papua

Saya inget banget jaman saya getol belajar Antropolog (bahkan bela-belain beli bukunya Koentjoroningrat & jadi satu-satunya murid yang punya buku ini), kalau suku bangsa orang Papua itu beda dari orang Afrika. Suku bangsa mereka adalah Melanesia.  Saking senengnya, dulu saya bahkan njelimet ngapalin aneka rupa upacara, yang saya ingat, di salah satu wilayah Papua, ada proses penguburan/ pembakaran mayat dimana posisi jenazah diposisikan seperti posisi bayi dalam rahim. Guru Antropologi saya, Ibu Anoek, bilang: datang dan berpulang dalam posisi yang sama.

Di Papua sendiri ada 250 suku bangsa di Papua dan mereka dipisahkan dalam enam wilayah adat. Bahasa adat suku yang satu dengan suku yang lain juga berbeda, tetanggaan pun bisa berbeda bahasa. Makanya mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, kendati tak semuanya bisa berbahasa Indonesia.

sebaran wilayah dan bahasa

Hayo dimanakah orang pohon itu berdiam?

Dua suku katanya mendapatkan benefit langsung dari Freeport, Kamoro dan Amungme. Kalau saya tak salah mengingat selain Kamoro dan Amungme ada beberapa suku lain yang mendapatkan benefit. Katanya lho ini, kebenarannya nggak tahu. Btw, sekelumit cerita tentang Kamoro dan tifa bisa dibaca disini.

Masih menurut sang Antropolog, orang Papua, punya kepercayaan bahwa suatu hari orang kulit putih akan datang membawa kebahagiaan, makanya misionaris diterima dengan baik oleh mereka. Tapi saya lupa nanya, suku yang mana yang punya mitologi ini, karena Rockefeller yang berkulit putih pun mati di tanah Papua.

Menariknya, orang Papua gak kenal koteka, bagi orang Papua, penutup penis itu disebut sebagai honim. Saya membeli sebuah honim, yang ternyata labu yang dikeringkan, harganya 80 ribu untuk yang besar dan sekitar 60 ribu untuk ukuran kecil. Konon besar atau kecil, panjang atau pendek tidaklah melambangkan sesuatu.

Entah oleh siapa, di Papua orang-orang juga dipisahkan menjadi orang pantai dan orang gunung. Konon orang pantai lebih ramah ketimbang orang gunung. Orang gunung katanya kakinya lebar, entah apa maksudnya, dan temperamental. Ini pelabelan yang bagi saya terdengar tidak baik. Buat saya, mereka terlihat sama, sama-sama orang Papua dan sama-sama orang Indonesia. Oh ya, orang Papua menurut saya sangatlah ramah, karena orang yang tidak kita kenal pun menyapa “Selamat Sore, Selamat Siang” dan ini gak cuma anak-anak kecil lho, tapi juga orang dewasa.

Di Papua, tradisi mengunyah pinang masih merupakan bagian dari keseharian masyarakat. Pedagangnya bisa ditemukan dimana-mana, begitu juga dengan liur merahnya. Liur ini menempel dimana-mana, bahkan di pantai. Jorok banget ya dan sedihnya, warna ini tampak tak bisa hilang. Yang ngunyah pinang nggak cuma orang tua lho, anak-anak muda juga ngunyah pinang. Padahal ngunyah pinang itu ternyata berisiko bikin kanker mulut dan juga jadi media penyebaran TBC.

Jayapura

Oh ya ada yang lucu, pejabat-pejabat di Jayapura itu rumahnya di kawasan Angkasapura, tapi wilayah ini lebih sering disebut Angkasa. Pejabat tinggal di angkasa, jadi ya jangan heran kalau susah banget ngeraih mereka.

Mahal

Kendati harga bensin di Jayapura sama dengan harga di Jakarta, beberapa hal, terutama pakaian dan makanan masihlah mahal. Katanya kemahalan ini karena semua barang dikirim dari luar Jayapura, termasuk beras. Lha terus apa yang diproduksi di Jayapura?

Mahal itu mungkin juga disebabkan karena struktur Kota Jayapura yang berbukit-bukit dan infrastrukrur yang begitulah. Bandaranya ada di atas, dekat danau Sentani, sementara kota Jayapuranya di pinggir laut. Kontur tanahnya rawan longsor (ya karena berbukit-bukit), konon, kalau mau bikin jalan, bukit-bukit itu harus di bom dulu. Nggak heranlah kalau apa-apa mahal, saking mahalnya taksi dari bandara ke Hotel aja lima ratus ribu rupiah. Hadeuh…..Tapi, biarpun jalanannya naik turun, bahkan ada tanjakan yang kira-kira 50 derajat, orang-orang Jayapura saya lihat semangat lari sore-sore. Demi apa lari-lari di bukit, itu dengkul apa nggak sakit ?

Advertisements

Tukang Bungkus-bungkus

Dalam satu perhelatan perkawinan, saya pernah menangkap basah saudara pengantin, dengan seragam kebanggaannya, mengeluarkan kotak-kotak plastik aneka rupa. Tanpa malu-malu, dimasukkanlan makanan yang disajikan di area VIP tersebut ke dalam kotak plastik. Padahal, pada saat itu tamu masih banyak berseliweran dan belum pulang. Perilaku tersebut merupakan perilaku terencana yang direncanakan dengan matang. Kalau ini merupakan pembunuhan, maka pembunuhan berencana itu hukumannya lebih besar ketimbang yang tidak direncanakan.

Budaya bungkus-membungkus di negeri kita ini sudah mendarah daging sejak dahulu kala. Tengok saja ketika arisan, ibu-ibu itu sudah diberikan kotak berisi makanan untuk dibawa pulang, eh masih juga kotak itu dipenuhi hingga mau meledak dengan sisa makanan yang tersaji di meja. Ya harap maklum, ibu-ibu ini kan diajari kalau nyapu harus bersih, jadi kalau dalam arisan, semua makanan di piring juga harus disapu bersih dan tak bersisa. Lagipula, para ibu ini berhati mulia lho, motonya: lebih baik saya yang kegendutan daripada tuan rumah yang kegendutan.

Pada dasarnya, kebiasaan bungkus membungkus ini didasari kecintaan kita pada perut sendiri, kecintaan pada orang lain di rumah serta keengganan untuk membuang makanan dan budaya berbagi. Dua yang terakhir nggak perlu diperdebatkan, niatnya mulia kan, biar bumi lebih indah dan biar orang yang kelaperan bisa kenyang.

Kecintaan pada perut sendiri biasanya terjadi kepada anak kos, seperti saya, melihat makanan berlimpah ruah, sayang jika terbuang. Bagi anak kos, kesempatan membungkus itu tidak boleh disia-siakan,  supaya anak kos nggak perlu repot-repot masak, tinggal menghangatkan untuk makan hingga seminggu ke depan. Disamping itu, membungkus makanan sisa juga memberikan kesempatan bagi anak kos untuk menghemat uang karena nggak perlu makan di luar. Biar gaji anak kos belasan atau puluhan juta juga tetep ngelakuin ini, prinsipnya kan menghemat biar cepet kaya.

Selain anak kos, ibu-ibu yang males masak juga suka kegiatan bungkus membungkus ini. Alasannya, selain supaya orang-orang tercinta di rumah bisa merasakan makanan, biar menghemat uang dan biar nggak perlu repot masak. Istri yang pintar mengatur uang, tentunya akan jadi pujaan suami. Perkara  makanan yang dibungkus mengandung micin sekilo, digoreng pakai minyak jelantah atau bahkan mengandung minyak B2, urusan belakangan. Soal penampilan makanan juga tak penting, yang penting bawa aja dulu. Bener deh kalau ketemu ibu-ibu brutal begini, biasanya aneka makanan dijejalkan ke dalam plastik, hingga bentuk (dan tentunya rasanya) berubah.

Ibu-ibu vs Pekerja dengan Keterampilan Terbatas

Suka nggak suka, di negeri ini pembagian kasta itu masih eksis. Gak percaya? Lihat aja kalau ada perhelatan makan-makan, pasti para pekerja dengan keterampilan terbatas (unskilled labour) seperti pekerja pembersih, pekerja rumah tangga, aparat keamanan biasanya baru boleh makan, atau baru mau makan, setelah para VIP ini selesai makan.

Mereka ini lebih tahu diri dari kita lho, buat mereka mendingan dapat sisa makanan tapi semua tamu kenyang dan bahagia, daripada mereka makan dahulu lalu tamunya nggak kebagian.Lucunya, saya sering mendapati mereka beradu cepat dengan ibu-ibu yang membungkus makanan. Sudah mereka mendapatkan makanan ‘sisa’, masih juga harus beradu cepat dengan para pembungkus makanan. Kita memang sering lupa kalau para pekerja ini berhak makan dengan tenang, seperti tamu agung.

Dari merekalah seharusnya kita belajar. Belajar supaya nggak usah bungkus-bungkus makanan dan memprioritaskan makanan sisa untuk dibagikan ke mereka yang memerlukan. Harusnya merekalah yang kita encourage untuk bungkus-bungkus, bukan kita yang nggak pernah kesulitan beli sayur, apalagi beli daging-dagingan.

Saya juga gak menampik fakta bahwa saya suka bungkus-bungkus, walaupun sekarang lebih memilih membungkus buah-buahan dari rumah tante. Kalaupun kemudian saya bungkus lauk pauk atau makanan lain yang non-buah-buahan, makanan tersebut biasanya berakhir di  post keamanan kos atau pekerja kos . Selain takut kegendutan, saya juga males kalau harus makan makanan yang sama selama seminggu kedepan.

Jadi, kapan terakhir kali kamu ngebungkus makanan?

Things Indonesians Do when Eating

I have a lot of respect to the nannies in Indonesia, their job is tough. In order to feed their employer’s kids, or should I call them the Queen and the King, they have to run around the mall, wedding hall, house, park or other places, while holding a bowl full of rice. The nannies, who are often wearing white, pink, or blue uniform with a rucksack on their back, have an important job to chase the kids and to feed them. Although we, Indonesians consider eat while walking (or even running) as rude, when it comes to kids, we make an exception.

Some, if not most, kids in Indonesia are not taught to eat by themselves. They need to be fed so that the nannies have job  so that their clothes and the tablecloth remain clean. Apparently, appearance is more important that the ability to be independent. Being fed feels good, the hands could freely doing anything else, while the mouth can chew the food. Maybe that is why many people do not want their parents to stop it until their adulthood. The menu however is replaced by cars, money, apartment, house, allowance for the monthly bills, or  a job. Providing for children is never wrong, but at some point the parents must teach their children to stand on their own feet.

Ailsa_Gary_WeddingDay_Bali_Inpairspho-0127

If the West opt for seating dinner during wedding party, many Indonesians opt for standing party. Some people might find it impolite, but standing party is the only way to accommodate hundreds if not thousands guests. In most of our wedding parties, chairs and tables are only reserved for VIP guests or family of the bride and groom. Eating while standing is impolite, but again, we make another exception.

Speaking about wedding, there a general rule about it, when invited, eat every single thing served at the buffet table. Mix the salad with the rice, pasta, beef, chicken, fish and the soup. If one can put everything in one plate, why put it in different plates? Our desire to mix food, might have been the reason for the invention of nasi campur, rice which served with many condiments. This meal allow us to taste as many food as possible. This might explain why set menu is not popular in this country, it is just too boring and not varied enough. Therefore, the next time you see Indonesia seating in a fancy French Restaurant, sharing foie gras or steak please do not be surprised. As I mentioned above, Indonesians tend to want to taste as many food as possible. Mr. Foreigner Chef, please do not complain about this. 

Any foreigner Chef who work in Indonesia should also never be offended when Indonesians put ketchup on foie gras or salad. No matter how good (and how expensive) the food is, if it is not spicy, then it does not deserve a place in the stomach. Providing a bottle of ketchup, soy sauce, vinegar, sambal on the table is a must.  Italian might find it sinful to put sambal in spaghetti carbonara, but again, if they want to rest peacefully in the stomach, then it has to be spicy. One might find joy in juicy steak, while other find the comfort in a spicy steak.

Beside proper three times per day meal, Indonesians also have ngemil time! If tea times come in the morning or in the afternoon, ngemil or snacking, comes at anytime. We love it so much that we do it all the time, even during working hour. Having gorengan, kerupuk (chips), keripik (also chips), bread, and/or other snack during working hour is important for us. Never mind the silence that needed by the other colleagues, just keep chewing.

Having a box of snack during meeting is also a common practice here. An institution or company might be considered miser if there is no snack served. Should there is a budget limitation, then at least coffee or tea should be provided. Make sure you put few spoonful of sugar to show that your company is wealthy enough.

Another interesting thing about Indonesians is that many of us remember the lesson taught from our tender age: to burp after meal. These babies who have the elephant’s memory, bring the lesson to their adulthood and do it anywhere they want. Some do it at warung (small and often less expensive eatery), while some do it at restaurant. Basically everywhere. Burping, sometimes, is not considered rude here.

Finally, foreigners are often surprised by our table manner, custom and etiquette. They often feel that Indonesians are just impolite. They are able to afford expensive meal but lack of manner. They also find it weird that we eat pre-cooked and re-heated meals for breakfast, lunch and dinner. What these people should remember is that we, Indonesians enjoy food in different way, it doesn’t mean that we do it better, but not worse either. We just eat different things in different way and we are happy with it.

If there is only one thing that you should complain about our eating manner is when one could not close the mouth while chewing. That you can complain!

Indonesia Banget: Minta-minta

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia berperilaku seperti ini. Jadi jangan keburu kesel dulu karena penulis tidak menggeneralisasi. Namun perilaku ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Jadi orang Indonesia itu dipenuhi dengan banyak hal-hal yang menarik dan kejutan. Hidup sungguh dinamis dan penuh warna. Salah satu hal menarik yang dekat dengan dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia, sampai gak bikin terkejut lagi, adalah perilaku meminta. Tanpa kita sadari, atau jangan-jangan kita sangat sadar, orang Indonesia itu doyan banget meminta-minta. Yang sudah pernah dibahas dan saya yakin kita semua sudah bosen dengernya (saya aja bosen bahasnya) adalah minta oleh-oleh, apalagi oleh-oleh kerupuk lima bungkus yang makan tempat di koper.

Permintaan lain yang sering diminta orang Indonesia adalah minta dicariin jodoh. Apalagi kalau jadi bini bule, pasti orderannya minta jodoh bule. Memangnya orang Indonesia yang kawin atau pacaran sama bule itu selalu punya biro jodoh atau website perjodohan? Kadang kalau saya lagi iseng saya suka bilang: Kalau serius pengen jodoh boleh, nanti saya bikinin flyer untuk disebar di Dublin. Yakin mau? Menurut saya, kalau mau cari jodoh sebaiknya jangan minta-minta orang dan mending usaha sendiri. Memperluas jaringan dengan travelling, clubbing, daftar website jodoh, gaul tiap hari dengan orang-orang baru, atau aktivitas lain yang bisa bikin ketemu orang. Tapi kalau ketemu orang juga jangan sibuk mainan HP dan berwhatsapp ria dengan orang lain. Kalau sudah terlalu desperate pengen cari jodoh, bisa juga cari dukun deh buat membuka aura-aura dan melancarkan jodoh dari berbagai arah, lalu pasang susuk di dahi, pipi, bibir, mata, hidung, dada dan juga bagian belakang tubuh.

Selain minta jodoh, permintaan lain yang merepotkan, dan bagi saya adalah permintaan paling keparat, adalah minta pekerjaan. Cari kerja di Indonesia emang gak gampang, apalagi buat fresh graduate atau yang pengalamannya pas-pasan. Tapi tahukah kalian kalau minta pekerjaan ke orang lain itu MEREPOTKAN segala penjuru dunia dan penuh dengan omelan (atau bahkan kutukan). Jika ada lowongan kerja yang dibuka sih masih mending, bisa ‘dipaksakan’ dan alokasi anggarannya ada. Itupun dengan catatan bahwa yang meminta kerja memiliki pengalaman kerja yang sesuai. Kalau gak ada pengalamannya ya modyar aja.  Kadang saya mikir, gak malu ya harus merepotkan orang (repotnya itu banget-banget lho, bisa sampai dibuatkan posisi baru dan dicarikan anggaran dari langit)?

IMG_1499

Kalau Imlek juga mendadak banyak peminta-minta di Klenteng (dok.pribadi)

Minta-minta selanjutnya adalah minta traktir ketika orang lain sedang bersuka cita i.e dapat rejeki lebih, promosi atau ulang tahun. Minta traktiran ulang tahun sayangnya sering tidak dibarengi dengan pemberian kado yang layak, boro-boro kado, kue ulang tahun pun kalau bisa yang paling kecil dan dibagi dengan orang lain yang ulang tahun. Demi aji mumpung juga, sang peminta-minta biasanya akan berusaha mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran seminimal mungkin, yaitu dengan pilih makanan dan minuman paling mahal. Urusan kantong pentraktir jebol (dan harus makan indomie selama sebulan kedepan) tidak dipikirkan. Siapa suruh dapat rejeki lebih? Orang-orang yang aji mumpung ini, kalau lagi punya rejeki apakah mau membeli makanan yang agak mahal untuk dirinya sendiri? Boro-boro traktir orang, biasanya orang begini untuk dirinya sendiri pun ogah dan lebih mengandalkan meminta-minta kepada orang lain.

Budaya minta-minta ini mengakar dalam masyarakat kita karena kita cenderung permisif dan membiarkan, bahkan mendukung. Ya kalau kita nggak suka memberi, mana ada mama sms minta pulsa terus menerus. Belum lagi pak Ogah yang tumbuh subur minta uang kepada pengemudi atas jasa yang seringkali tak diperlukan. Tak boleh dilupakan juga para pengemis yang menjual kemiskinan (atau kemalasan?) dan pura-pura miskin demi seribu atau dua ribu rupiah. Tapi ada dua minta yang saya dukung kelestariannya: minta diskon yang banyak kalau belanja dan minta doanya ya. Satu lagi yang harusnya digalakkan, belajar minta maaf, karena nggak semua orang bisa melakukan ini.

Selain yang disebut di atas, orang sering minta apa lagi ya?

Kelakuan Kocak Penumpang Indonesia di Dalam Pesawat

Disclaimer: nggak semua orang berlaku seperti ini dan postingan ini tidak bermaksud menggeneralisasi. Jadi bacanya gak usah pakai emosi ya. Kalau emosi mendingan keramas dulu biar kepalanya adem.

Ceritanya saya baru pulang dari Bali dan lagi-lagi sepanjang jalan ini saya mengamati perilaku penumpang kalau mau masuk ke dalam pesawat dan kelakuan mereka (dan juga kelakuan saya) selama di dalam pesawat. Semoga setelah baca ini kita jadi rajin cari hiburan dengan cara mengamati perilaku orang dan tentunya tidak meniru kelakuan yang tercela:

Masuk pesawat cepet-cepet

Gak di Indonesia aja, di Abu Dhabi & di Dubai orang Indonesia itu maunya masuk pesawat cepet-cepet. Selain berasa tiketnya Bisnis Class, orang-orang ini kayaknya takut ketinggalan. Padahal penerbangan sudah membuat aturan masuk, yang duduk di belakang masuk duluan. Aturan ini sebenernya nggak ngefek karena petugasnya sendiri nggak disiplin ngatur penumpang.

Masuk cepet-cepet juga disebabkan Airlines di Indonesia itu suka nggak disiplin dalam mengatur bawaan penumpang (apalagi budget airlines yang bagasinya bayar). Jadi penumpang yang bawaannya banyak itu (dari tas laptop, tas tangan, tas kamera, paper bag butik ternama, kardus toko oleh-oleh ternama, hingga plastic bertabur kopi berisi duren) harus cepet-cepet biar kebagian tempat.

aircraft cartoon 2 (2)

picture was taken from http://www.airlineratings.com

Foto

Cepet-cepet masuk ke area pesawat juga memberikan orang kesempatan untuk foto di depan pesawat (kan masih sepi) ataupun foto selfie ketika sudah duduk di kursi (mumpung yang duduk di sebelah belum datang). Kira-kira abis itu langsung update status BB: Off to Bali with Garuda Indonesia.

Memberdayakan Pramugari

Yang sering kayak gini nih ibu-ibu rempong. Bawaannya banyak, penuh dengan aneka oleh-oleh tapi gak mikir kekuatan tangannya untuk angkut barang ke penyimpanan bagasi. Akhirnya mbak Pramugari diperintahkan, gak pakai tolong, untuk menaikkan barang bawaan berharga ke atas. Eh tolong ya, emangnya Pramugari itu porter apa kerjaannya naikin barang penumpang?

Duduk di kursi orang

Yang paling sering kejadian nih ya, orang duduk di deket jendela karena mau lihat pemandangan tapi kursi dia sebenernya kejepit di tengah atau di lorong. Mbok ya dibaca dulu itu simbol panduan kursi yang ada di atas!

Rampok permen

Kalau di GA penumpang pasti diberi permen agar tidak sakit telinganya ketika take off. Take off itu gak sampai ngabisin satu permen asal bukanya pas udah taxi. Tapi dasar penumpang Indonesia, permen ini diraup macem anak kecil yang lagi kegirangan karena Hallowen. Abis ngeraup gak bilang terimakasih sama mbak Pramugari dan tentunya bungkus permen dibuang di lantai pesawat.

Males matiin perangkat elektronik

Jadi kalau udah taxi mau take off, sering banget ada orang yang BBnya bunyi, cring…cring…cring. Hadoh, blackberry murahan aja kok males banget matiinnya. Yang pakai Iphone yang nyata-nyata lebih mahal aja pada iklas matiin peralatannya.

FriendlyPlanet_AnnoyingAirlinePassengers_AW_FINAL

Makanan & Susu

Saya berapa kali ini barengan sama orang di pesawat yang dikasih makanan pada gak bilang terimakasih. Lha katanya kita ini bangsa berbudaya, terus apa susahnya bilang terimakasih kalau abis dikasih makanan, dikasih minum atau traynya dibersihkan?

Saya perhatiin juga kalau di GA, mendadak banyak orang yang minum susu. Saya besar dengan susu dan ketika sudah besar ini saya mendadak intoleran dengan laktosa; jadi saya nggak mengamati perkembangan cara minum susu. Jaman saya rajin dicekoki susu dulu, minum susu itu pagi hari ketika sarapan. Kalaupun harus minum susu pas makan siang biasanya dicampur sama kopi atau teh. Apa di Indonesia sekarang kalau abis makan siang minumnya susu ya *macam saya udah gak tinggal di Indonesia aja*? Atau orang-orang ini hanya aji mumpung, mumpung ada susu ya minum susu. Kagak begah apa perutnya abis makan siang minum susu? 

Bungkus!

Kalau pas puasaan, GA biasanya menaruh makanan di dalam kotak jadi para penumpang bisa bebas membawa makanannya pulang. Sendok garpunya kalau lagi puasaan juga berubah, jadi plastic semua, biar gak dibawa pulang.

Lha orang Indonesia suka banget ngebungkus segalanya, ini kayaknya mendarah daging kan, apalagi kalau acara buka bersama, kawinan orang atau acara apapun yang melibatkan makanan. Bungkus semuanya! Kalau di pesawat, sendok garpu dibungkus (saya dulu juga mantan pelaku, pas awal-awal kos nggak punya sendok garpu), makanan dibungkus, roti yang sekarang rajin disajikan dibungkus, kertas yang untuk menampung muntahan juga dimasukkan tas, bersama dengan tisu basah, tusuk gigi, garam dan pepper. Tak lupa majalah GA juga dibungkus. Nggak ada yang ngelarang ngebungkus sih, tapi saya lucu aja lihatnya. Terus wadah muntahan itu nanti dibuat apa? Bungkus gorengan?

Intip-intip Jendela

Nah kalau sudah mau landing nih ya, orang-orang tuh suka banget ngintip ke jendela. Mending kalau duduknya di deket jendela. Ini duduk di tengah, atau lebih parah di lorong, badannya dimiringkan mengganggu penumpang lainnya. Orang Indonesia emang suka nggak menghargai ruang gerak manusia lain. Yang penting urusan dia aja!

Lepas sabuk pengaman

Begitu landing, orang-orang ini suka banget cepet-cepet buka sabuk pengaman lalu berdiri ambil barang. Padahal pesawat belum benar-benar berhenti. Ingat kejadian Lion Air nabrak makam di Solo? Konon banyak penumpang meninggal atau terluka karena kelakuan begini nih.

HP juga langsung dinyalakan, suasanya langsung riuh karena manusia-manusia ini ingin cepet memberitahukan keluarganya kalau sudah landing. Gak bisa nunggu sepuluh menit lagi apa ya sampai di ruang tunggu.

Kelakuan penumpang yang suka bikin geleng-geleng kepala gak cuma itu. Kemarin malah ada yang bersiul-siul riang di dalam pesawat. Begitu saya pandangi (karena saya baru dari kamar kecil) eh dia berhenti, saya duduk dia bersiul lagi. Nggak mikir apa ya kalau penumpang di sekitarnya bukan burung di sangkar emas?

Soal toilet juga jangan ditanya. Kalau sudah agak lama terbang suka banget ada tetesan air seni (kenapa namanya harus air seni sih?) dari bapak-bapak yang sekali lagi merasa barangnya panjang. Apa sih susahnya ngangkat dudukan toilet, kalau jijik kan bisa pakai tisu, kalau tangannya kotor ada air ada sabun. Bekas jongkok pun juga suka ada di dalam toilet pesawat (sumpah gimana caranya jongkok di dalam toilet pesawat!). Padahal pesawat sekarang kan sudah menyediakan kertas untuk pelapis dudukan toilet, tisu juga ada banyak.

Tapi kelakuan paling kocak, menurut saya, adalah kisah ibu binibule berbulu ketiak lebat. Si ibu dengan pedenya mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk mengambil peralatan kecantikannya. Udah macam artis Indonesia jaman 80-90an deh, ketiaknya lebat banget, saya sampai sesak napas ngeliatnya. Si Ibu ini kemudian memasukkan colokan headset ke colokan listrik untuk ngecharge gadget di dekat layar. Ya nggak bisa lah ya, abis itu si Ibu panggil pramugari dan komplain. Pramugarinya kebetulan nggak ngerti juga. Kocak. Akhirnya saya berdiri bak pahlawan dan menjelaskan kalau colokannya ada di deket pegangan tangan!

Hayo sering nemu hal aneh apa lagi di dalam pesawat?

Persepsi Salah tentang Pub di Irlandia

Kebanyakan orang, terutama orang Indonesia, mengasosikan pub dengan hal-hal negatif macam minum alkohol dan mabuk -mabukan. Tak hanya itu, terkadang pub juga diasosikan dengan layanan perempuan-perempuan (yang jenis layanannya tidak bisa saya tuliskan disini, nanti dimarahi Mama). Nggak dipungkiri memang beberapa pub di Jakarta diwarnai dengan kehadiran mbak-mbak berpakaian seadanya yang sering dilabeli dengan salah satu nama unggas, ayam. Kenapa ayam, saya nggak tahu! Tapi yang jelas saya tetep doyan ayam, apalagi ayam goreng Tenes di Malang.

Pub di Irlandia jauh berbeda dari pub di Indonesia. Pub di Irlandia dikunjungi tak hanya orang muda, setengah muda, tapi juga anak-anak, serta kakek dan nenek yang sudah tua banget. Ngapain adek-adek itu di dalam pub? Mereka makan, duduk bersama orang tuanya dan menggambar saudara-saudara. Menggambar dan mewarnai di meja pub (ini barusan saya temukan di sebuah pub di Dublin) hal yang tentunya jauh dari pikiran kita.

Ailsa first guinness

Guinness pertama saya

Nggak hanya berfungsi sebagai tempat makan dan berkumpulnya keluarga, pub juga menjadi tempat minum dan ngobrol. Nggak kayak di restaurant dimana orang berbisik-bisik, di pub suasananya lebih riuh dan meriah. Terkadang ada live music yang disajikan, tak hanya music top 40, tapi juga music traidisional Irlandia. Dua tahun lalu saya pernah mampir ke sebuah pub tua di pusat kota Dublin dan bertemu dengan segerombolan orang tua yang berlatih alat music Irlandia. Mereka duduk bersama minum bir sambil bermain music. Beruntungnya saya, nonton ginian gratisan.

Minuman yang disajikan di pub beraneka ragam, dari air putih gratis pakai es, bir hitam Irlandia yang ngetop (Guinness), whiskey, wine, hingga kopi (yang lebih suka saya campur dengan Baileys). Di Irlandia hanya mereka yang berusia di atas 18 tahun yang boleh membeli minuman beralkohol. Btw, proses pesen bir, ambil bir, anter bir, ambil bon, pembayaran sampai ngakutin gelas kosong dilakukan oleh satu orang, nggak kayak di Indonesia yang dilakukan banyak orang (ini pernah saya bahas juga dalam tulisan yang membandingkan restaurant Indonesia dengan restaurant Irlandia).

Pub juga menjadi tempat bagi para penggemar olahraga untuk berkumpul sambil menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Waktu saya berkunjung ke sebuah Pub bersejarah di Kilkenny; saya menyaksikan olahraga kebanggaan Irlandia rugby. Duh ini olahraga ya 15 cowok gede-gede pakai celana pendek ketat berebutan bola pakai tindih-tindihan di atas lapangan yang berlumpur. Kata mama kalau mainan lumpur bisa cacingan lho! Ketika itu di dua sisi pub terdapat dua kubu yang berbeda, kubu Irish berkumpul sendiri dengan kostum ijo-ijonya, sementara kubu Wales berkumpul di sisi yang berbeda dengan kostum merahnya. Saya kebagian duduk di sisi Wales dengan para pendukung Wales, termasuk para nenek-nenek. Jadilah makan siang saya siang itu diwarnai teriakan nenek-nenek “Come on wales!”. Kayaknya gara-gara teriakan si nenek, Wales jadi kalah 3 – 16 dari Irlandia. Anyway, Rugby nggak hanya jadi satu-satunya olahraga yang rajin ditonton masyarakat Irlandia, ada football, Gaelic football dan juga Hurling.

Cheers

Cheers!!
Picture was taken from http://www.plaidepalette.com/

Tak seperti di Jakarta dimana merokok dilarang, di Irlandia merokok di dalam pub tidak diperbolehkan. Kalau mau ngerokok orang-orang harus keluar dari pub, menembus udara dingin demi kenikmatan sesaat. Suasanya ini tentunya lebih nyaman bagi semua orang tapi gak bikin orang malas ngerokok, tetep aja ada yang keluar demi kebal-kebul.

Nggak lengkap kalau nggak ngebahas kamar kecil karena dimana tempat saya pasti menyempatkan diri ke kamar kecil untuk inspeksi melihat kebersihan. Ternyata kamar kecil di pub-pub ini BERSIH dan bebas muntahan para pemabuk (emang di Utara Jakarta?!). Bahkan jauh lebih bersih daripada kamar mandi di bandara Indonesia. Tak bau urine, apalagi banjir dimana-mana (lha wong nggak ada air untuk cebok) dan tentunya tak ada tisu yang berceceran dimana-mana. Kebersihan, terutama toilet nampaknya merupakan bagian dari iman kehidupan harian masyarakat Irlandia. Saya sempat mengunjungi beberapa pub dengan lampu biru temaram di toiletnya. Menurut mas Gary, ini untuk mencegah orang menggunakan narkotik di dalam kamar kecil pub. Selain tempat buang air, ternyata toilet pub juga jadi tempat perdagangan, bukan berdagang unggas, tapi berdagang kondom, tampon hingga mini vibrator. Silahkan tengok mesin mini vibrator disini.

Anyway, orang-orang selalu mengasumsikan bahwa orang Irlandia itu doyan minum (dan otomatis suka mabuk) karena banyaknya pub. Mungkin yang mengasumsikan ini ngebaca berita bahwa konsumsi bir per kapita di Irlandia mencapai lebih dari 100 liter per orang setiap tahunnya. Jangan salah, biarpun konsumsi per kapitanya termasuk tinggi, ternyata banyak orang Irlandia yang nggak minum. Menariknya, menurut supir bus hop on hop off, jumlah pub di Irlandia ternyata nggak lebih banyak dari jumlah coffee shop lho!

Selamat berakhir pekan teman-teman dan Sláinte!

Binibule

Belajar Disiplin dari Orang Hong Kong

Waktu saya ke Hong Kong kemarin, salah satu hal yang saya takjub adalah bagaimana mereka disiplin dan mengikuti aturan dengan baik. Mengutip kata bos gede saya, masyarakat Hong Kong itu being like a German, alias ikut aturan. Beberapa hal sederhana yang saya temukan dalam kehidupan sehari masyarakat di Hong Kong antara lain:

Nunggu orang keluar lift di pinggir

Kebanyakan orang Jakarta nunggu masuk lift di depan pintu lift dan langsung serobot masuk tanpa menunggu yang orang keluar.  Walaupun terlihat sederhana, ketidakdisiplinan ini bikin gemes. Di HK orang-orang itu menunggu di pojok luar lift yang tidak menghalangi orang-orang yang keluar.

Btw tip berguna dari Mbot  untuk menghukum orang-orang ini adalah dengan memencet semua lantai sebelum kita keluar. Jadi begitu mereka masuk, lift pun akan berhenti di setiap lantai. Mampus!

 Antri kayak bebek di halte bis

Di Hong Kong, nggak peduli tua dan muda, orang antri kalau mau naik bis. Antriannya satu-satu, baris, nggak kayak halte transjakarta yang antrianya gak jelas. Nggak hanya di bis, di MRT pun masyarakat Hong Kong ngantri dengan di sisi kanan kiri pintu dan memberikan ruang yang lega bagi mereka yang akan keluar.

Sementara di negeri ini, antrian halte transjakarta itu bikin orang mengelus dada karena aturannya cuma yang nggak punya malu dan yang paling kuat nyikutnya bisa langsung masuk ke dalam bis. Padahal, di halte transjakarta sebenernya sudah ada pembagian lajur penumpang turun dan naik, pernah nyadar kan garis tipis di pintu dengan panah yang menunjukkan arah lajur masuk bis atau keluar? Tapi lagi-lagi karena ketidakdisiplinan orang dan karena orang terburu-buru (semua orang juga terburu-buru kali) banyak yang suka menghalangi orang keluar dari bis karena ingin segera masuk bis.Hal kecil seperti ini memperlambat keluarnya penumpang.

Kalau udah ada yang kayak gini biasanya dengan gagah saya akan menabrak orang-orang dengan bahu kanan kiri, seruduk! Nggak cukup nabrak orang, saya juga gak sungkan injak kaki mereka. Kejam? Mereka ini udah gak bisa diajarin pakai aturan, jadi ya kita main kasar aja.

Eskalator & Travelator

Di Hong Kong, orang-orangnya kalau menggunakan escalator atau bahkan travelator sangat jelas; yang di kanan jalan pasti santai-santai diam dan tak terburu-buru, sementara yang di kiri khusus buat yang mau jalan cepet-cepet. Jadi nggak boleh berhenti di sebelah kiri. Di Indonesia saya perhatikan hanya sebagian orang yang melakukan hal ini. Bahkan baru-baru ini saya berujar permisi pun orang di depan saya tak mau minggir. Egois!

Beli Tiket

Nah kalau ini gak di Hong Kong tapi di Irlandia. Orang-orang Irlandia tidak sedisiplin orang Hong Kong dalam menggunakan escalator, ataupun ketika keluar masuk tram, tapi yang saya perhatikan bagaimana masyarakatnya dilatih jujur dalam membeli tiket. Pengguna Luas, tramnya Dublin, harus membeli tiket bisa membeli tiket di mesin dan langsung masuk ke Luas. Nggak ada alat pengecek tiket, jadi modalnya cuma jujur.

luas_dublin_mainimg

photo: aecom.com

Sekali-sekali ada pemeriksaan petugas, waktunya tak tentu. Kata Mas G sih mereka kadang suka ngecek di pagi hari yang penumpangnya penuh sesak. Kalau ketangkap tanpa tiket, dendanya lumayan gede, Euro 50. Sementara tiketnya sendiri berharga 2 euro untuk jarak dekat dan bisa lebih mahal lagi jika jarak tempuh jauh. Btw, selama dua minggu terakhir saya di Irlandia, saya selalu menggunakan Luas. Dalam waktu dua minggu itu saya cuma ketemu mereka tiga kali aja & ngeliat mereka mendenda orang satu kali.

Indonesia memang indah dengan segala kekacauannya. Tapi kalau tiap hari harus berkutat rebutan naik ke dalam bis Transjakarta, pusing gak sih? Capek mental dan fisik nggak sih? Belum lagi sampai di dalam kantor harus rebutan lift. Tambah BT kan? Jadi belajarlah  untuk lebih disiplin karena disiplin itu harus dimulai dari diri sendiri dan harus sekarang; kalau nggak sekarang dan kalau nggak kita yang memulai, kapan lagi? *eh jadi kayak partai deh*

Selain hal-hal di atas, orang Indonesia suka nggak disiplinnya apalagi ya?