Indonesia Banget: Minta-minta

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia berperilaku seperti ini. Jadi jangan keburu kesel dulu karena penulis tidak menggeneralisasi. Namun perilaku ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Jadi orang Indonesia itu dipenuhi dengan banyak hal-hal yang menarik dan kejutan. Hidup sungguh dinamis dan penuh warna. Salah satu hal menarik yang dekat dengan dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia, sampai gak bikin terkejut lagi, adalah perilaku meminta. Tanpa kita sadari, atau jangan-jangan kita sangat sadar, orang Indonesia itu doyan banget meminta-minta. Yang sudah pernah dibahas dan saya yakin kita semua sudah bosen dengernya (saya aja bosen bahasnya) adalah minta oleh-oleh, apalagi oleh-oleh kerupuk lima bungkus yang makan tempat di koper.

Permintaan lain yang sering diminta orang Indonesia adalah minta dicariin jodoh. Apalagi kalau jadi bini bule, pasti orderannya minta jodoh bule. Memangnya orang Indonesia yang kawin atau pacaran sama bule itu selalu punya biro jodoh atau website perjodohan? Kadang kalau saya lagi iseng saya suka bilang: Kalau serius pengen jodoh boleh, nanti saya bikinin flyer untuk disebar di Dublin. Yakin mau? Menurut saya, kalau mau cari jodoh sebaiknya jangan minta-minta orang dan mending usaha sendiri. Memperluas jaringan dengan travelling, clubbing, daftar website jodoh, gaul tiap hari dengan orang-orang baru, atau aktivitas lain yang bisa bikin ketemu orang. Tapi kalau ketemu orang juga jangan sibuk mainan HP dan berwhatsapp ria dengan orang lain. Kalau sudah terlalu desperate pengen cari jodoh, bisa juga cari dukun deh buat membuka aura-aura dan melancarkan jodoh dari berbagai arah, lalu pasang susuk di dahi, pipi, bibir, mata, hidung, dada dan juga bagian belakang tubuh.

Selain minta jodoh, permintaan lain yang merepotkan, dan bagi saya adalah permintaan paling keparat, adalah minta pekerjaan. Cari kerja di Indonesia emang gak gampang, apalagi buat fresh graduate atau yang pengalamannya pas-pasan. Tapi tahukah kalian kalau minta pekerjaan ke orang lain itu MEREPOTKAN segala penjuru dunia dan penuh dengan omelan (atau bahkan kutukan). Jika ada lowongan kerja yang dibuka sih masih mending, bisa ‘dipaksakan’ dan alokasi anggarannya ada. Itupun dengan catatan bahwa yang meminta kerja memiliki pengalaman kerja yang sesuai. Kalau gak ada pengalamannya ya modyar aja.  Kadang saya mikir, gak malu ya harus merepotkan orang (repotnya itu banget-banget lho, bisa sampai dibuatkan posisi baru dan dicarikan anggaran dari langit)?

IMG_1499

Kalau Imlek juga mendadak banyak peminta-minta di Klenteng (dok.pribadi)

Minta-minta selanjutnya adalah minta traktir ketika orang lain sedang bersuka cita i.e dapat rejeki lebih, promosi atau ulang tahun. Minta traktiran ulang tahun sayangnya sering tidak dibarengi dengan pemberian kado yang layak, boro-boro kado, kue ulang tahun pun kalau bisa yang paling kecil dan dibagi dengan orang lain yang ulang tahun. Demi aji mumpung juga, sang peminta-minta biasanya akan berusaha mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran seminimal mungkin, yaitu dengan pilih makanan dan minuman paling mahal. Urusan kantong pentraktir jebol (dan harus makan indomie selama sebulan kedepan) tidak dipikirkan. Siapa suruh dapat rejeki lebih? Orang-orang yang aji mumpung ini, kalau lagi punya rejeki apakah mau membeli makanan yang agak mahal untuk dirinya sendiri? Boro-boro traktir orang, biasanya orang begini untuk dirinya sendiri pun ogah dan lebih mengandalkan meminta-minta kepada orang lain.

Budaya minta-minta ini mengakar dalam masyarakat kita karena kita cenderung permisif dan membiarkan, bahkan mendukung. Ya kalau kita nggak suka memberi, mana ada mama sms minta pulsa terus menerus. Belum lagi pak Ogah yang tumbuh subur minta uang kepada pengemudi atas jasa yang seringkali tak diperlukan. Tak boleh dilupakan juga para pengemis yang menjual kemiskinan (atau kemalasan?) dan pura-pura miskin demi seribu atau dua ribu rupiah. Tapi ada dua minta yang saya dukung kelestariannya: minta diskon yang banyak kalau belanja dan minta doanya ya. Satu lagi yang harusnya digalakkan, belajar minta maaf, karena nggak semua orang bisa melakukan ini.

Selain yang disebut di atas, orang sering minta apa lagi ya?

Kelakuan Kocak Penumpang Indonesia di Dalam Pesawat

Disclaimer: nggak semua orang berlaku seperti ini dan postingan ini tidak bermaksud menggeneralisasi. Jadi bacanya gak usah pakai emosi ya. Kalau emosi mendingan keramas dulu biar kepalanya adem.

Ceritanya saya baru pulang dari Bali dan lagi-lagi sepanjang jalan ini saya mengamati perilaku penumpang kalau mau masuk ke dalam pesawat dan kelakuan mereka (dan juga kelakuan saya) selama di dalam pesawat. Semoga setelah baca ini kita jadi rajin cari hiburan dengan cara mengamati perilaku orang dan tentunya tidak meniru kelakuan yang tercela:

Masuk pesawat cepet-cepet

Gak di Indonesia aja, di Abu Dhabi & di Dubai orang Indonesia itu maunya masuk pesawat cepet-cepet. Selain berasa tiketnya Bisnis Class, orang-orang ini kayaknya takut ketinggalan. Padahal penerbangan sudah membuat aturan masuk, yang duduk di belakang masuk duluan. Aturan ini sebenernya nggak ngefek karena petugasnya sendiri nggak disiplin ngatur penumpang.

Masuk cepet-cepet juga disebabkan Airlines di Indonesia itu suka nggak disiplin dalam mengatur bawaan penumpang (apalagi budget airlines yang bagasinya bayar). Jadi penumpang yang bawaannya banyak itu (dari tas laptop, tas tangan, tas kamera, paper bag butik ternama, kardus toko oleh-oleh ternama, hingga plastic bertabur kopi berisi duren) harus cepet-cepet biar kebagian tempat.

aircraft cartoon 2 (2)

picture was taken from http://www.airlineratings.com

Foto

Cepet-cepet masuk ke area pesawat juga memberikan orang kesempatan untuk foto di depan pesawat (kan masih sepi) ataupun foto selfie ketika sudah duduk di kursi (mumpung yang duduk di sebelah belum datang). Kira-kira abis itu langsung update status BB: Off to Bali with Garuda Indonesia.

Memberdayakan Pramugari

Yang sering kayak gini nih ibu-ibu rempong. Bawaannya banyak, penuh dengan aneka oleh-oleh tapi gak mikir kekuatan tangannya untuk angkut barang ke penyimpanan bagasi. Akhirnya mbak Pramugari diperintahkan, gak pakai tolong, untuk menaikkan barang bawaan berharga ke atas. Eh tolong ya, emangnya Pramugari itu porter apa kerjaannya naikin barang penumpang?

Duduk di kursi orang

Yang paling sering kejadian nih ya, orang duduk di deket jendela karena mau lihat pemandangan tapi kursi dia sebenernya kejepit di tengah atau di lorong. Mbok ya dibaca dulu itu simbol panduan kursi yang ada di atas!

Rampok permen

Kalau di GA penumpang pasti diberi permen agar tidak sakit telinganya ketika take off. Take off itu gak sampai ngabisin satu permen asal bukanya pas udah taxi. Tapi dasar penumpang Indonesia, permen ini diraup macem anak kecil yang lagi kegirangan karena Hallowen. Abis ngeraup gak bilang terimakasih sama mbak Pramugari dan tentunya bungkus permen dibuang di lantai pesawat.

Males matiin perangkat elektronik

Jadi kalau udah taxi mau take off, sering banget ada orang yang BBnya bunyi, cring…cring…cring. Hadoh, blackberry murahan aja kok males banget matiinnya. Yang pakai Iphone yang nyata-nyata lebih mahal aja pada iklas matiin peralatannya.

FriendlyPlanet_AnnoyingAirlinePassengers_AW_FINAL

Makanan & Susu

Saya berapa kali ini barengan sama orang di pesawat yang dikasih makanan pada gak bilang terimakasih. Lha katanya kita ini bangsa berbudaya, terus apa susahnya bilang terimakasih kalau abis dikasih makanan, dikasih minum atau traynya dibersihkan?

Saya perhatiin juga kalau di GA, mendadak banyak orang yang minum susu. Saya besar dengan susu dan ketika sudah besar ini saya mendadak intoleran dengan laktosa; jadi saya nggak mengamati perkembangan cara minum susu. Jaman saya rajin dicekoki susu dulu, minum susu itu pagi hari ketika sarapan. Kalaupun harus minum susu pas makan siang biasanya dicampur sama kopi atau teh. Apa di Indonesia sekarang kalau abis makan siang minumnya susu ya *macam saya udah gak tinggal di Indonesia aja*? Atau orang-orang ini hanya aji mumpung, mumpung ada susu ya minum susu. Kagak begah apa perutnya abis makan siang minum susu? 

Bungkus!

Kalau pas puasaan, GA biasanya menaruh makanan di dalam kotak jadi para penumpang bisa bebas membawa makanannya pulang. Sendok garpunya kalau lagi puasaan juga berubah, jadi plastic semua, biar gak dibawa pulang.

Lha orang Indonesia suka banget ngebungkus segalanya, ini kayaknya mendarah daging kan, apalagi kalau acara buka bersama, kawinan orang atau acara apapun yang melibatkan makanan. Bungkus semuanya! Kalau di pesawat, sendok garpu dibungkus (saya dulu juga mantan pelaku, pas awal-awal kos nggak punya sendok garpu), makanan dibungkus, roti yang sekarang rajin disajikan dibungkus, kertas yang untuk menampung muntahan juga dimasukkan tas, bersama dengan tisu basah, tusuk gigi, garam dan pepper. Tak lupa majalah GA juga dibungkus. Nggak ada yang ngelarang ngebungkus sih, tapi saya lucu aja lihatnya. Terus wadah muntahan itu nanti dibuat apa? Bungkus gorengan?

Intip-intip Jendela

Nah kalau sudah mau landing nih ya, orang-orang tuh suka banget ngintip ke jendela. Mending kalau duduknya di deket jendela. Ini duduk di tengah, atau lebih parah di lorong, badannya dimiringkan mengganggu penumpang lainnya. Orang Indonesia emang suka nggak menghargai ruang gerak manusia lain. Yang penting urusan dia aja!

Lepas sabuk pengaman

Begitu landing, orang-orang ini suka banget cepet-cepet buka sabuk pengaman lalu berdiri ambil barang. Padahal pesawat belum benar-benar berhenti. Ingat kejadian Lion Air nabrak makam di Solo? Konon banyak penumpang meninggal atau terluka karena kelakuan begini nih.

HP juga langsung dinyalakan, suasanya langsung riuh karena manusia-manusia ini ingin cepet memberitahukan keluarganya kalau sudah landing. Gak bisa nunggu sepuluh menit lagi apa ya sampai di ruang tunggu.

Kelakuan penumpang yang suka bikin geleng-geleng kepala gak cuma itu. Kemarin malah ada yang bersiul-siul riang di dalam pesawat. Begitu saya pandangi (karena saya baru dari kamar kecil) eh dia berhenti, saya duduk dia bersiul lagi. Nggak mikir apa ya kalau penumpang di sekitarnya bukan burung di sangkar emas?

Soal toilet juga jangan ditanya. Kalau sudah agak lama terbang suka banget ada tetesan air seni (kenapa namanya harus air seni sih?) dari bapak-bapak yang sekali lagi merasa barangnya panjang. Apa sih susahnya ngangkat dudukan toilet, kalau jijik kan bisa pakai tisu, kalau tangannya kotor ada air ada sabun. Bekas jongkok pun juga suka ada di dalam toilet pesawat (sumpah gimana caranya jongkok di dalam toilet pesawat!). Padahal pesawat sekarang kan sudah menyediakan kertas untuk pelapis dudukan toilet, tisu juga ada banyak.

Tapi kelakuan paling kocak, menurut saya, adalah kisah ibu binibule berbulu ketiak lebat. Si ibu dengan pedenya mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk mengambil peralatan kecantikannya. Udah macam artis Indonesia jaman 80-90an deh, ketiaknya lebat banget, saya sampai sesak napas ngeliatnya. Si Ibu ini kemudian memasukkan colokan headset ke colokan listrik untuk ngecharge gadget di dekat layar. Ya nggak bisa lah ya, abis itu si Ibu panggil pramugari dan komplain. Pramugarinya kebetulan nggak ngerti juga. Kocak. Akhirnya saya berdiri bak pahlawan dan menjelaskan kalau colokannya ada di deket pegangan tangan!

Hayo sering nemu hal aneh apa lagi di dalam pesawat?

Persepsi Salah tentang Pub di Irlandia

Kebanyakan orang, terutama orang Indonesia, mengasosikan pub dengan hal-hal negatif macam minum alkohol dan mabuk -mabukan. Tak hanya itu, terkadang pub juga diasosikan dengan layanan perempuan-perempuan (yang jenis layanannya tidak bisa saya tuliskan disini, nanti dimarahi Mama). Nggak dipungkiri memang beberapa pub di Jakarta diwarnai dengan kehadiran mbak-mbak berpakaian seadanya yang sering dilabeli dengan salah satu nama unggas, ayam. Kenapa ayam, saya nggak tahu! Tapi yang jelas saya tetep doyan ayam, apalagi ayam goreng Tenes di Malang.

Pub di Irlandia jauh berbeda dari pub di Indonesia. Pub di Irlandia dikunjungi tak hanya orang muda, setengah muda, tapi juga anak-anak, serta kakek dan nenek yang sudah tua banget. Ngapain adek-adek itu di dalam pub? Mereka makan, duduk bersama orang tuanya dan menggambar saudara-saudara. Menggambar dan mewarnai di meja pub (ini barusan saya temukan di sebuah pub di Dublin) hal yang tentunya jauh dari pikiran kita.

Ailsa first guinness

Guinness pertama saya

Nggak hanya berfungsi sebagai tempat makan dan berkumpulnya keluarga, pub juga menjadi tempat minum dan ngobrol. Nggak kayak di restaurant dimana orang berbisik-bisik, di pub suasananya lebih riuh dan meriah. Terkadang ada live music yang disajikan, tak hanya music top 40, tapi juga music traidisional Irlandia. Dua tahun lalu saya pernah mampir ke sebuah pub tua di pusat kota Dublin dan bertemu dengan segerombolan orang tua yang berlatih alat music Irlandia. Mereka duduk bersama minum bir sambil bermain music. Beruntungnya saya, nonton ginian gratisan.

Minuman yang disajikan di pub beraneka ragam, dari air putih gratis pakai es, bir hitam Irlandia yang ngetop (Guinness), whiskey, wine, hingga kopi (yang lebih suka saya campur dengan Baileys). Di Irlandia hanya mereka yang berusia di atas 18 tahun yang boleh membeli minuman beralkohol. Btw, proses pesen bir, ambil bir, anter bir, ambil bon, pembayaran sampai ngakutin gelas kosong dilakukan oleh satu orang, nggak kayak di Indonesia yang dilakukan banyak orang (ini pernah saya bahas juga dalam tulisan yang membandingkan restaurant Indonesia dengan restaurant Irlandia).

Pub juga menjadi tempat bagi para penggemar olahraga untuk berkumpul sambil menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Waktu saya berkunjung ke sebuah Pub bersejarah di Kilkenny; saya menyaksikan olahraga kebanggaan Irlandia rugby. Duh ini olahraga ya 15 cowok gede-gede pakai celana pendek ketat berebutan bola pakai tindih-tindihan di atas lapangan yang berlumpur. Kata mama kalau mainan lumpur bisa cacingan lho! Ketika itu di dua sisi pub terdapat dua kubu yang berbeda, kubu Irish berkumpul sendiri dengan kostum ijo-ijonya, sementara kubu Wales berkumpul di sisi yang berbeda dengan kostum merahnya. Saya kebagian duduk di sisi Wales dengan para pendukung Wales, termasuk para nenek-nenek. Jadilah makan siang saya siang itu diwarnai teriakan nenek-nenek “Come on wales!”. Kayaknya gara-gara teriakan si nenek, Wales jadi kalah 3 – 16 dari Irlandia. Anyway, Rugby nggak hanya jadi satu-satunya olahraga yang rajin ditonton masyarakat Irlandia, ada football, Gaelic football dan juga Hurling.

Cheers

Cheers!!
Picture was taken from http://www.plaidepalette.com/

Tak seperti di Jakarta dimana merokok dilarang, di Irlandia merokok di dalam pub tidak diperbolehkan. Kalau mau ngerokok orang-orang harus keluar dari pub, menembus udara dingin demi kenikmatan sesaat. Suasanya ini tentunya lebih nyaman bagi semua orang tapi gak bikin orang malas ngerokok, tetep aja ada yang keluar demi kebal-kebul.

Nggak lengkap kalau nggak ngebahas kamar kecil karena dimana tempat saya pasti menyempatkan diri ke kamar kecil untuk inspeksi melihat kebersihan. Ternyata kamar kecil di pub-pub ini BERSIH dan bebas muntahan para pemabuk (emang di Utara Jakarta?!). Bahkan jauh lebih bersih daripada kamar mandi di bandara Indonesia. Tak bau urine, apalagi banjir dimana-mana (lha wong nggak ada air untuk cebok) dan tentunya tak ada tisu yang berceceran dimana-mana. Kebersihan, terutama toilet nampaknya merupakan bagian dari iman kehidupan harian masyarakat Irlandia. Saya sempat mengunjungi beberapa pub dengan lampu biru temaram di toiletnya. Menurut mas Gary, ini untuk mencegah orang menggunakan narkotik di dalam kamar kecil pub. Selain tempat buang air, ternyata toilet pub juga jadi tempat perdagangan, bukan berdagang unggas, tapi berdagang kondom, tampon hingga mini vibrator. Silahkan tengok mesin mini vibrator disini.

Anyway, orang-orang selalu mengasumsikan bahwa orang Irlandia itu doyan minum (dan otomatis suka mabuk) karena banyaknya pub. Mungkin yang mengasumsikan ini ngebaca berita bahwa konsumsi bir per kapita di Irlandia mencapai lebih dari 100 liter per orang setiap tahunnya. Jangan salah, biarpun konsumsi per kapitanya termasuk tinggi, ternyata banyak orang Irlandia yang nggak minum. Menariknya, menurut supir bus hop on hop off, jumlah pub di Irlandia ternyata nggak lebih banyak dari jumlah coffee shop lho!

Selamat berakhir pekan teman-teman dan Sláinte!

Binibule

Belajar Disiplin dari Orang Hong Kong

Waktu saya ke Hong Kong kemarin, salah satu hal yang saya takjub adalah bagaimana mereka disiplin dan mengikuti aturan dengan baik. Mengutip kata bos gede saya, masyarakat Hong Kong itu being like a German, alias ikut aturan. Beberapa hal sederhana yang saya temukan dalam kehidupan sehari masyarakat di Hong Kong antara lain:

Nunggu orang keluar lift di pinggir

Kebanyakan orang Jakarta nunggu masuk lift di depan pintu lift dan langsung serobot masuk tanpa menunggu yang orang keluar.  Walaupun terlihat sederhana, ketidakdisiplinan ini bikin gemes. Di HK orang-orang itu menunggu di pojok luar lift yang tidak menghalangi orang-orang yang keluar.

Btw tip berguna dari Mbot  untuk menghukum orang-orang ini adalah dengan memencet semua lantai sebelum kita keluar. Jadi begitu mereka masuk, lift pun akan berhenti di setiap lantai. Mampus!

 Antri kayak bebek di halte bis

Di Hong Kong, nggak peduli tua dan muda, orang antri kalau mau naik bis. Antriannya satu-satu, baris, nggak kayak halte transjakarta yang antrianya gak jelas. Nggak hanya di bis, di MRT pun masyarakat Hong Kong ngantri dengan di sisi kanan kiri pintu dan memberikan ruang yang lega bagi mereka yang akan keluar.

Sementara di negeri ini, antrian halte transjakarta itu bikin orang mengelus dada karena aturannya cuma yang nggak punya malu dan yang paling kuat nyikutnya bisa langsung masuk ke dalam bis. Padahal, di halte transjakarta sebenernya sudah ada pembagian lajur penumpang turun dan naik, pernah nyadar kan garis tipis di pintu dengan panah yang menunjukkan arah lajur masuk bis atau keluar? Tapi lagi-lagi karena ketidakdisiplinan orang dan karena orang terburu-buru (semua orang juga terburu-buru kali) banyak yang suka menghalangi orang keluar dari bis karena ingin segera masuk bis.Hal kecil seperti ini memperlambat keluarnya penumpang.

Kalau udah ada yang kayak gini biasanya dengan gagah saya akan menabrak orang-orang dengan bahu kanan kiri, seruduk! Nggak cukup nabrak orang, saya juga gak sungkan injak kaki mereka. Kejam? Mereka ini udah gak bisa diajarin pakai aturan, jadi ya kita main kasar aja.

Eskalator & Travelator

Di Hong Kong, orang-orangnya kalau menggunakan escalator atau bahkan travelator sangat jelas; yang di kanan jalan pasti santai-santai diam dan tak terburu-buru, sementara yang di kiri khusus buat yang mau jalan cepet-cepet. Jadi nggak boleh berhenti di sebelah kiri. Di Indonesia saya perhatikan hanya sebagian orang yang melakukan hal ini. Bahkan baru-baru ini saya berujar permisi pun orang di depan saya tak mau minggir. Egois!

Beli Tiket

Nah kalau ini gak di Hong Kong tapi di Irlandia. Orang-orang Irlandia tidak sedisiplin orang Hong Kong dalam menggunakan escalator, ataupun ketika keluar masuk tram, tapi yang saya perhatikan bagaimana masyarakatnya dilatih jujur dalam membeli tiket. Pengguna Luas, tramnya Dublin, harus membeli tiket bisa membeli tiket di mesin dan langsung masuk ke Luas. Nggak ada alat pengecek tiket, jadi modalnya cuma jujur.

luas_dublin_mainimg

photo: aecom.com

Sekali-sekali ada pemeriksaan petugas, waktunya tak tentu. Kata Mas G sih mereka kadang suka ngecek di pagi hari yang penumpangnya penuh sesak. Kalau ketangkap tanpa tiket, dendanya lumayan gede, Euro 50. Sementara tiketnya sendiri berharga 2 euro untuk jarak dekat dan bisa lebih mahal lagi jika jarak tempuh jauh. Btw, selama dua minggu terakhir saya di Irlandia, saya selalu menggunakan Luas. Dalam waktu dua minggu itu saya cuma ketemu mereka tiga kali aja & ngeliat mereka mendenda orang satu kali.

Indonesia memang indah dengan segala kekacauannya. Tapi kalau tiap hari harus berkutat rebutan naik ke dalam bis Transjakarta, pusing gak sih? Capek mental dan fisik nggak sih? Belum lagi sampai di dalam kantor harus rebutan lift. Tambah BT kan? Jadi belajarlah  untuk lebih disiplin karena disiplin itu harus dimulai dari diri sendiri dan harus sekarang; kalau nggak sekarang dan kalau nggak kita yang memulai, kapan lagi? *eh jadi kayak partai deh*

Selain hal-hal di atas, orang Indonesia suka nggak disiplinnya apalagi ya?

Bukan Artis Tapi Tak Jauh dari Gosip

Kayaknya saya ini emang selebriti (ngaku-ngaku), ada banyak ibu-ibu nun jauh di Malang sana yang dari jaman dahulu kala yang rajin membicarakan kehidupan percintaan saya dan membuat Mama sayang tercengang tak percaya. Bahkan pernah saya dengan kejamnya digosipkan menjadi simpanan orang. Kejam banget karena saya pada saat itu jomblo dan  seumur hidup saya nggak pernah jadi simpanan orang (bahkan saya membenci poligami, apapun alasannya). Emangnya saya artis cantik jelita seperti bulan purnama merekah di awan apa sampai ‘layak’ dijadikan simpanan?

Pergi ke Jakarta nggak bikin gossip itu mereda, orang-orang ini masih aja haus gossip akan kehidupan saya sampai detik ini. Saya emang beberapa kali pulang dengan Mas G dan Mas G pernah sukses membuat sensasi di kompleks perumahan, ketika dia ngotot pengen mengecat rumah mama. Jangan tanya hasilnya deh, yang penting niatnya.  Heboh lah para tetangga melihat kelakuan orang asing asyik mengecat. dan rupanya itu kali pertama dia ngecat! Herannya, gak ada tuh yang nanya G asalnya dari mana, apalagi nyapa halo selamat pagi siang sore, ataupun nyapa norak: hallo Mister, I love you Mister. Semuanya diam dan terlihat baik-baik, tapi di balik itu gosip bertaburan.

Iseng-iseng saya  kumpulkan beberapa gossip dan komentar aneh yang ga jelas asal muasalnya dari mana hasil karya para Ibu-ibu yang memiliki halusinasi tinggi.

1)      Ailsa itu nakal ya pacaran sama bule

Apakah tante ini pernah ngintip kelakuan saya di ranjang (oops) atau emang memukul rata dan menggap bule itu sebagai makluk nakal. Jauh lebih nakal dari orang Indonesia. Padahal selama berpacaran sama Mas G saya belum pernah lihat dia mabuk, kurang ajar sama perempuan, baik saya maupun teman-teman perempuan lain apalagi berhalusinasi tinggi dan menggosipkan orang. Jadi deskripsi nakal itu apa tho wong saya berhubungan dengan niat baik dengan pria baik-baik dari keluarga baik-baik?

Btw, saya janji lho tante kalau mau berbuat kenakalan, akan saya lakukan di balik pintu yang terkunci, dan kuncinya akan saya buang biar kami nggak bisa keluar (aw!!). Biar puas nakalnya!

2)      Ailsa pacarnya orang Australia

Di depan Mama saya, Si Ibu ini tiba-tiba ngoceh-ngoceh menjelaskan ke anaknya dengan tingkat kepedean dan sok tahu tingkat tinggi bahwa Ailsa berpacaran dengan orang Australia. Lalu setelah mengoceh panjang lebar dia pun melihat mama saya dan berkata, “Bener tho Bu?”. Mama saya cuma ngejawab: “Salah, pacarnya orang Irlandia” lalu melihat kebingungan wajahnya, dijelaskanlah dimana letak Irlandia yang lebih dekat dengan Inggris ketimbang Australia. Ya kan kasihan kalau dia kebingungan gak tahu dimana letak Irlandia!

World_Map_Ireland

Jauh kan?!

3)      Ailsa kerjaanya wira-wiri Jakarta – luar negeri

Kira-kira abis ngerokok daun apa kok bisa bikin komentar seindah ini. Kayaknya saya ke luar negeri juga nggak sering-sering banget. Malah lebih sering ke Bali daripada ke luar negeri (eh jadi bahan gossip lagi ini nanti). Anyway, mungkin ini doa yang terdengar seperti gosipan. Jadi mari berharap semoga saya beneran wira-wiri ke luar negeri terus (eh tapi capek lho Tante, jetlagnya itu lho nggak kuku, belum lagi kakinya linu-linu dan tabungan menjerit perih karena rupiah yang lagi melemah abis). Eh tapi siapa tahu saya menang lotto, jadi bisa jalan-jalan ke luar negeri terus. Jangan ditiru, kalau mau ke luar negeri itu nabung, bukan pasang lotto.

4)      Ailsa ketemu pacarnya di Aceh, waktu kerja di NGO

Pertama, saya nggak pernah di NGO di Aceh. Jadi dari mana asal-muasalnya saya kerja di NGO di Aceh? Mungkin Ibu ini mengambil kesimpulan karena saya rajin mondar-mandir Jakarta- Aceh (eh tapi kapan ketemunya? Jangan-jangan stalking social media saya ya?). Tapi ya apa yang ngurusin Aceh paska konflik dan paska tsunami itu NGO semua? Kan ada banyak elemen disitu, jadi ya jangan dipukul rata kalau semua orang yang kerja di Aceh itu = kerja di NGO.

Kedua, saya nggak pernah ketemu pacar di Aceh. Di sisi mananya Aceh saya pernah dapat pacar? Cem-ceman aja nggak pernah nemu apalagi pacar. Eh si Ibu masih ngotot dong, sambil menghela napas tak percaya seakan-akan Mama saya berbohong. Mama saya pun terkaget-kaget, ini ibu yang sekolahnya setinggi langit dapat sumber gosip dari mana kok nggak valid sama sekali & ngotot banget kalau gosipnya bener. Sejak kapan Vietnam dipindahkan dengan semena-mena ke Banda Aceh?

I made it! #ColorRun #Jakarta 5k

A photo posted by Ailsa Dempsey (@binibule) on

5)      Ailsa kawin lari

Aduh ini saya nggak ngerti asal muasalnya dari mana, mungkin karena kemarin saya ikutan Color Run 5 K ya, terus saya sering latihan lari, jadi dituduh bahwa saya kawin lari ngaco. Saking hebatnya kalau nuduh, mama saya pun ditelpon dan dikonfirmasi. Duh kasihan banget Mama saya, lagian saya ini berpacaran dengan pria baik-baik yang dengan baik-baik minta ijin sama mama saya untuk mencintai saya dan menghabiskan hidupnya dengan saya. Eh dituduh kawin lari. Tante, kalau udah tua itu berdoa aja biar sehat jangan buat bergosip. Dosa!

Kayaknya emang ibu-ibu ini pada doyan ngerokok daun special atau jangan-jangan mbok-mbok melijo (pedagang sayur) jaman sekarang menjual daun khusus, jadi sayur bayem pun bercampur daun ajaib yang bikin semua pada keliyengan dan mulai membuat gossip-gosip lucu dan berimajinasi tinggi tentang kehidupan percintaan saya. Kocak!

Saya mah kalau denger gosip ini tersenyum simpul, ternganga atau bahkan ketawa. Yang saya sesalkan para Ibu-ibu ini nggak ada yang mikir bagaimana perasaan Mama saya tercinta. Mbok ya Mama saya ini dibiarkan menikmati hari tuanya dengan tenang, tanpa telepon aneh-aneh ataupun pertanyaan aneh-aneh tentang kehidupan saya. Apa sih untungnya tahu tentang kehidupan percintaan saya, nggak bakalan bikin kaya ataupun masuk surga kok. Udah deh mendingan suaminya diurusin aja, biar nggak kawin sama mahasiswanya. Eh, buka rahasia deh….

 Hayo ada yang pernah mendadak jadi selebriti dan digosipkan orang?

 

Ailsa
Jetlag berat abis dari luar negeri  <- bahan gosip

Oleh-oleh dari Irlandia

Ketika tahu saya akan ke Irlandia ada beberapa orang yang secara reflek minta oleh-oleh dan menyebutkan mau oleh-oleh apa. Boro-boro nanya berapa lama, mau ngapain aja, terbangnya kapan, atau basa-basi lain yang menyangkut perjalanan, orang-orang gini biasanya langsung tembak nyebut oleh-oleh yang dimau, nggak peduli dekat atau tidak dengan orang yang diajak bicara. Langsung sebut yang dimau, udah macam penjahat aja minta-minta, tanpa nanya, punya duit gak buat beli oleh-oleh?

 Oleh-oleh yang paling sering diminta kalau lagi jalan ke Eropa adalah coklat. Orang-orang ini suka minta coklat kayak di Indonesia nggak ada coklat aja, padahal di di Jakarta coklat import itu ‘kececeran’. Mau minta apa, harga berapa juga ada. Walaupun tak dipungkiri, ada juga merek-merek yang nggak ada di Irlandia. Saya jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini hanya makan coklat oleh-oleh dan nggak pernah mau modal sendiri, beli coklat demi memanjakan lidah?

Anyway, saya kehilangan teman, karena dia (saya duga) tersinggung gara-gara oleh-oleh coklat yang saya bawa.  Ketika itu saya ‘hanya’ membeli coklat seharga 25 Euro (jaman itu ini coklat berharga 300 ribu rupiah saja!) saja untuk dia. Ketika saya mengajak janjian untuk menyampaikan oleh-oleh coklat itu reaksi yang saya dapat sungguh di luar perkiraan, “udah cuma itu aja, nggak ada oleh-oleh lain?”. Saya mah mikirnya praktis, kalau gak berkenan sama oleh-oleh saya yang ‘murahan’ ya mending saya kasih orang lain, toh masih banyak yang mau.

Selain coklat, alcohol adalah oleh-oleh yang sering diminta. Minta ya, bukan nitip! Batas membawa alcohol di Indonesia itu adalah 1 liter, sementara kebanyakan botol alcohol itu 1 literan (ada sih yang botol mini) dan semurah-murahnya alcohol di negeri orang tetep aja jatuhnya mahal dan berat! Saya sendiri kalau nggak berminat membawa alcohol biasanya akan menawarkan jatah 1 liter ini ke teman dekat, sayang kalau jatahnya gak dipakai.

Nggak bawa oleh-oleh bagi sebagian orang itu dianggap pendosa dan pendosa itu layak dibicarakan. Karena hukum tak bawa oleh-oleh itu dosa banyak orang Indonesia takut nggak bawa oleh-oleh. Takut dianggap pelit dan tentunya takut dibicarakan. Padahal saya jamin, oleh-olehnya mau jelek mau bagus pasti dibicarakan. Hasilnya, banyak orang-orang dengan dana cekak maksa beli oleh-oleh yang sesuai kantong, just for the sake of giving oleh-oleh. Oleh-oleh seperti ini biasanya akan berakhir di tempat sampah karena kurang berguna, atau bahkan tak berguna sama sekali.

snowglobe

Saya sendiri juga suka minta oleh-oleh ke orang-orang (dan nitip), tapi kebiasaan ini berhenti ketika saya semakin sering travelling bayar sendiri dan merasakan betapa beratnya oleh-oleh buat kantong dan punggung. Apalagi kalau travelling saat rupiah lagi melemah seperti ini. Bow, 1 Euro itu hampir 17 ribu, sementara harga magnet disini paling murah 5 Euroan, gantungan kunci bisa 10 Euro. Oleh-oleh bagi saya hanya akan diberikan kepada yang terdekat dan kalau nemu, kalau nggak nemu ya buat apa maksa.

Mengapa budaya ini mengakar di masyarakat? Tentu saja ini karena kebiasaan yang dibiarkan tumbuh subur, dipupuk dan dijaga kelestariannya. Mungkin juga budaya ini timbul karena ada anggapan bahwa mereka yang bepergian adalah orang-orang yang memiliki uang lebih (baca: kaya) dan yang nggak pergi adalah orang yang kurang beruntung. Hukum alam mengatur, yang kurang beruntung berhak mengemis meminta kepada yang kaya.

Uang untuk jalan-jalan itu dikumpulkan beberapa bulan dengan segala penderitaannya, dari mulai makan yang diirit-irit, nggak pergi bersenang-senang, pendeknya menderita dahulu demi melihat sisi dunia yang lain.  Jadi, berhenti tersinggung kalau nggak dikasih oleh-oleh, toh hidup juga gak akan berakhir. Dan yang paling penting, berhenti minta oleh-oleh sama orang lain. Nggak usah bilang “jangan lupa oleh-olehnya ya”, tapi bilang aja selamat jalan-jalan dan have fun.

Tulisan dengan tema serupa dalam bahasa Inggris pernah ditulis disini.

Jadi suka bawa oleh-oleh atau memilih untuk cuek dan nggak bawa oleh-oleh?

Thing Indonesians Like: Karaoke

I have never been to any karaoke place outside Indonesia, but I heard, karaoke outside Asia means singing in a karaoke pub, in front of strangers. We do it differently; we rent a private room equipped with modern karaoke facilities. The price range from USD 7 – 30, depend on its capacity. As you might be aware, Indonesians tend to go in a big group with friends, family, relatives or colleagues rather than in small group. The more, the merrier and of course, the cheaper it gets.

The family I explained above is a family karaoke and Jakarta also offers a non-family karaoke. We call this ‘karaoke plus plus’ which usually more expensive because it involves girl(s). One will get a right to select as many girls as he wants for the sake of pleasure. There are many awful ways of selecting the girls, including by point a girl(s) in the aquarium or the photo (either in the album or on the wall). Another way of selecting is by requesting them to line up in the karaoke room and choose the one that suitable. The price for the girl and the service are negotiable, but it is usually above USD 50. Karaoke plus-plus usually provide shower in the private karaoke room is. What an excercise eh that one should shower after singing?

Indonesia_Jakarta_MerlynnParkHotel_Karaoke

karaoke room; picture was taken from internet

Private karaoke room provides freedom to sing, no matter how terrible the voice is. For many Indonesians, karaoke is place to release stress by screaming singing and having fun with the closed ones. Some Indonesians even go beyond having fun and consider karaoke as a serious exercise for their vocal and for their confidence level. So once they get out from the karaoke room, they think the have wonderful voice and capability to perform anywhere.  These overconfidence people will usually grab any opportunity to torture entertain others with their awful voice.

I recently attended a wedding where relatives of the newlywed (relatives are easily identified by the same-color dress they wore) took the microphone and sang a sad song that ruins the festivity of a wedding. Ideally, any single sad song should be forbade from a joyful occasion. However, many Indonesians do not care about ruining someone else’s wedding party, all they care about is to perform. Anyway, this person sang confidently with her terrible voice and a very bad English pronunciation. IMHO, it was a disastrous performance, yet no one (including me) stopped this person. I guess our society is so tolerant, or too tolerant. We would be more than happy to see people humiliating itself in public and fulfilling their need to be exist.

Wedding singers in this country also love to invite anyone in the wedding party to come to the stage and sing for the newlyweds. My brother did it better, he forbade everyone, including the relatives to sing. He even threatened to cut the band’s fee.  Was it effective? I say it was with a little hiccup. One person still managed to go to the stage and stole (literally) the moment by singing Titanic’s famous theme song. For the love of God, my brother is starting his journey and the last thing he wanted, I’m sure, is a sinking ship. Btw, she brought her own keyboardist.

To all the brides-and-grooms to be, please stop your relatives and friends from ruining your party. Ensure that your wedding singer(s) wouldn’t invite any stranger to the stage. Forbid them if necessary. Remember, you would want a sweet and memorable wedding. If you foresee that your relatives will still hijack the stage then hire a violinist who can only play classical music.

Until then, please refrain yourself from hurting someone else’s ears.

Love,

Tjetje

Disclaimer: Not all Indonesians like karaoke and behave like the description mention above. 

Thing Indonesians Dislike: Masuk Angin

Masuk angin is a native Indonesian illness that I found hard to described. Masuk itself means enter, while angin means wind. Thus, it is a condition where the body has too much gas and causing diarrhea, burp, vomit, trouble to fart and hiccups. I talked to a doctor and discussed about this illness and according to her,  masuk angin is not a medicine term. In medicine field, it is called common cold. Though Indonesians are concern about this illness, they never bother to ask doctor to cure them. Most of the time, Indonesia self-diagnose the illness and decide the best medicine to cure it.

Prevention

One can prevent the wind to get into the body by avoiding staying late (outside the house). If staying outside couldn’t avoided, then one must wear a jacket, a thick one. Standing in front of fan is also believed to be caused of masuk angin, so no matter how hot the weather is, staying away from the fan is a must.  Some people also blame room with AC, gladly,  I am not one of them.

Another secret to prevent masuk angin is to put thick jacket when riding a motorcycle. The jacket will not only prevent masuk angin but also reduce the change of getting dark from the sunlight. Parents also forbid their kids to drink cold water and playing water. However, they could go to swimming pool. And finally, one should always avoid walking under the rain and immediately grab an ojek payung. Let the ojek payung guy gets masuk angin.

Transition season, between dry to wet is often considered as the season where people easily get sick, so a real Indonesian would always staying away from the things mentioned above.

Medication

Kerokan

There are few traditional ways to cure masuk angin, including the famous Kerokan. It is the action to draw with pressure, using coin and balsam on the back, neck and also upper arms.

kerok

picture was randomly taken from the internet

Is it painful? I do not know, because I have never experience it and not interested to. However, I read that it is dangerous, because the friction between coin and the skin might causing wound. Hence, open invitation for bacteria and virus to have a party in the body. I am sure though that this is a very rare case. Kerokan also widened the blood vessels, that is why the skin becomes red.

Something Warm

Indonesians believe that masuk angin should be cured with something warm. So apart from drinking ginger, people rub oil to their body. The common oil that people use is cajuputi or telon. We likes oil so much that after a bath, a kid will be rub with telon oil to keep them warm.

Tolak angin

Tolak angin is a herbal liquid that use to combat masuk angin. I’ve only known this herb couple year ago, when I suddenly thrown up. A dear friend diagnosed that I had masuk angin and introduced me to the magical tolak angin. I love it so much that I brought two boxes to Ireland.

In its advertising, foreigners from all over the world  thanks Indonesia for inventing tolak angin. Two weeks ago, someone googled (and was directed to my blog) about:  bule minum tolak angin. This person might be watched the ads but did not believe that bule take tolak angin. I was thinking to ask Mr. G to drink tolak angin for fund, but then I found out that Abang Mike, a colleague and also a friend, likes tolak angin.

20140110_230701

 

So meet Mikel everyone, a foreigner bule who enjoys Tolak Angin especially when he has too much gas in his stomach (It’s call masuk angin Mikel). Anyway, Abang Mike isn’t the only person who enjoys Tolak Angin because her mom enjoys it as well. Well done Mama Mikel, we are so proud of you!

20140110_230736

How do you cure masuk angin?

Disclaimer: the view expressed in this post doesn’t represent the view of neither Indonesians nor bules. Author is neither marketing nor a buzzer of tolak angin. Should the marketing of Tolak Angin decides to send few boxes to the author and Mikel, both of them will welcome it with open arms.

Thing Indonesians Dislike: Walking

Foreigners always complain about Indonesians who do not walk in public space.  They sometimes wonder why Indonesians walk for hours in a treadmill in gym but refuse to walk  and insist on taking taxi.  Most of the sidewalk in Indonesia is not safe, or should I say that most of the roads in Indonesia have no path walk. If we walk, it means we are endangering ourselves as we have to compete with cars and motorcycle.

If the place has trottoir, like the famous Sudirman road at Jakarta, it is usually occupied by street vendors and ojek, motor taxi.  The street vendors take some of the room and leave us with little space to walk (like the one in front of the Ministry of Education’s building). In this little space, we have to compete with ojek drivers too, who’s driving against the flow and is driving on the sidewalks.

Walking for people with visual impairment in Jakarta is even harder. Yes the Indonesians, government are doing better by providing Braille guide block in the path way to guide them. However, there are not many people (particularly the street vendors and the builders itself) who are not aware that the guiding block is to help people with visual impairment and not to kill them. People with visual impairment should struggle to find the guiding block, avoid the street vendors and safe their life from getting hit by ojek. How safe and inconvenience is that?

Image

We also love to grab taxi, even if it is only walking distance because it really is convenience. The AC keeps us for sweating at the very low price, flag fall for regular taxi in Indonesia is only 50 cents. Plus, we are helping the taxi driver company to get money. So we are killing two bird using one stone, being generous and convenience lazy at the same time. The people in smaller city usually walk more, and those who do not like to walk, could always grab rickshaw. I guess we are raised to avoid walking.

There are of course Indonesians who love to walk, they are Badui people. Often called as Orang Kanekes, Badui is a native tribe from Banten who walk all the time. Badui people preserve their customs by refusing any modernization including means of transportation, water and sanitation, electricity, education, but they do accept money.  They are so committed to walk, well their village behind the hills (yes hills) could only be accessed by walking. These people are often visit Jakarta by foot to sell honey and other handicraft. If normal Indonesian spend a day to reach their village, Badui people only spend one day or two to reach Jakarta.

There are also the modern versions of people who like to walk; they are the mall-goers. Go to visit one of the malls in Jakarta and observe how Indonesians committed to walk wearing high heels around the mall and window shopping. One should make sure that the AC in the mall works, because if not, they will stop walking and go home. Again, appearance is everything and sweat on the armpits is sinful.

I was recently on mission with some VIPs to one of the capital cities in Indonesia. The car that was supposed to pick us was not able to enter the area due to the traffic. We then walked because the car parked not far from the exit door. The organizers considered this as an incident and profusely apologize for “the inconvenience”.  I guess in our culture, it is sinful to let VIPs walk even for less than 5 minutes.

To conclude, Indonesia do walk, but only in the mall, when travelling to Bali or abroad. This is because the path walk is often better, there is less pollution and most importantly, there’s no flat dead rat on our way.

Do you walk? Do you know about guiding block?

 

Kisses from Hong Kong, the city without smiles,

Ailsa

The Wedding Gift

As you might be aware, Indonesians love to throw a big wedding. The bigger the better. Inviting thousand people to a three-hour party is something that considered normal for many people. The Indonesian way of calculating invitation is not one invitation valid for two people, but one invitation valid to a bunch of people, they are father, mother, son, daughter and the nanny (ies).  Any bride and groom should ensure that they will not running out of the food, thus, they have to empty their bank account. If they do not have enough money, they should not worry because parents in Indonesia are are always ready to borne the damage. Consequently, most of the invitees are the colleagues and friends of both parents and that the presents should go to parents who have invested their money.

Closer friends usually give a personal present like jewel (my favorite), tea set, spa voucher, hotel voucher of even lingerie.  While the not-so-close friends or even stranger (to the bride and groom) normally give cash. The amount is varied from five to thousand dollar, depend on the financial situation of the guests. Surprisingly, there are always guests who come empty-handed or those who unashamedly giving an envelope without neither money nor name.

Anyway, the money which is supposed to help the bride and group starting their new life (or paying debt if they take loan to hold the wedding party) is often become source of dispute among the parents. Parents who spent invested more are often feel they are entitled for more return. There also parents who spent nothing, but forcing the bride and groom to share the gift with them because they feel that the gift are from their friends. There’s even parents who took away the money box right after the wedding party because they are afraid that parents from the other side might take it away.

image

Forgive me, but I didn’t know remember where did I get this photo

The Chinese Indonesians do differently. They invented a numbering mechanism in the envelope. Guests do not drop the envelope to the box directly, but hand it to the usher. The usher will be the one responsible to put the envelope in the box. Before dropping the envelope, the usher will put a number (using sticker or pen) based on the wedding guest book. For Chinese Indonesian, knowing the exact amount of the present is very important. In the future, when the guests hold a wedding or funeral, they will “return” back the money. So if you give empty envelope you will get empty envelope. Smart!

Bule usually gives money. They usually estimate the cost of the meal and give a little bit more to help the bride and groom cover the expenses. When the guest come as couple, the amount of the gift always doubled. In their custom, making RSVP to a wedding and not showing up is unacceptable. If one does that, then one has to send the gift as ‘compensation’. That’s why when bules don’t have money they would prefer not come to the wedding (and present an empty envelope). In the USA, guests sometimes put the receipt of the present so if they bride and groom do not like the present, they can always return it to the shop. It is also common to register gifts from certain shop so guests could easily pick present that match with budget. Please note that not all bules give presents, there are always bules who do not give gift or give crazy present. Here is one of the example of bridezila vs crazy guest. Both, in my opinion, are crazy.

Some people see wedding party as a way of celebrating their love with the world and do not care about the present. Some only want to spend it with closer friends and do not care about the present. The presence of close friends and family members in the wedding is already a present for the bride and the groom that will treasured for the rest of their life.

What’s your favorite wedding gift?