Kenangan Manis Masa Kecil

Sambil menyetir ke kantor pagi tadi, si penyiar radio bercerita bahwa dia bertemu dengan ayahnya. Mereka sudah beberapa bulan ini tidak ketemu, karena selama musim panas ini sama-sama sibuk. Si Ayah ketika bertemu memberikan kartu ulang tahun, padahal ulang tahunnya sudah bulan Juni lalu. Tapi di Irlandia, tradisi memberi kartu itu tradisi penting. Ketika dibuka, kartu itu diisi uang sebagai hadiah ulang tahun. Si penyiar bercerita bagaimana pengalaman itu membawa banyak kenangan masa kecil. Btw, penyiar ini udah bapak-bapak beranak dua.

Cerita itu membawa saya kembali ke Indonesia, ke masa kecil saya, ketika keluarga kami mendapat kunjungan dari sanak-saudara atau teman-teman orang tua saya. Di akhir kunjungan, biasanya mereka menyelipkan sedikit uang ketika kami mencium tangan mereka. Nilainya bagi saya saat itu, berarapapun, berasa banyak sekali. Maklum sebagai anak-anak, saya belum teracuni kerakuasan dan tak begitu mengerti nilai uang. Tentunya sekarang sudah jauh beda šŸ˜‰

Beberapa tahun lalu, ketika saya bekerja di Jakarta & mudik ke Malang, saya mengunjungi seorang tetangga. Ketika saya hendak pulang, beliau mewanti-wanti bahwa ia akan memberi saya uang tapi saya tak boleh melihat dari nilainya, tapi dari perhatian dan niatnya. Jangan ditanya rasanya, saya riang gembira tak terkira. Uangnya sendiri saya simpan di dalam dompet sebagai token, token perhatian pada saya. Yang jelas lebih indah daripada ketika menerima gaji ataupun bonus. Mungkin, karena elemen kejutannya yang membuat hadiah uang jadi lebih manis.

Euro

Image by Pijon from Pixabay

Tidur Siang

Selain urusan uang, kenangan manis masa kecil yang sangat saya hargai adalah kesempatan untuk bisa tidur siang. Ketika anak-anak disuruh tidur siang rasanya susah sekali & saya merasa itu sebagai sebuah hukuman. Apalagi sebagai anak-anak, saya maunya main di luar dan bermain sepeda hingga kulit kelam (hingga kemudian dikatain tetangga karena kulit kelam & betis besar). Satu kali, saya pernah nekat keluar dari jendela rumah tante saya di Surabaya, lalu memanjat pagar rumah untuk keluar. Nasib apes, pucuk pagar yang sedang saya pegang patah dan saya sukses perlahan-lahan (tapi pasti), masuk ke dalam selokan Surabaya yang warna dan baunya aduhai.

Sebagai orang dewasa, tidur siang menjadi sebuah kemewahan luar biasa, karena selama hari kerja saya tak punya kesempatan tidur siang. Begitu pula ketika akhir pekan, apalagi di musim panas seperti ini. Maunya keluar terus untuk menikmati cuaca. Begitu teler dan punya kesempatan untuk tidur siang, rasanya menyenangkan sekali.

Berbagi Kue

Kenangan manis yang tak lagi saya lakukan adalah soal membagi kue menjadi beberapa potong, tergantung penghuni rumah. Eyang putri Ā dan mama saya jika pergi ke arisan selalu membawa pulang satu kotak yang berisi makanan. Buah tangan arisan ini biasanya diisi dengan perpaduan kue yang manis juga kue yang asin. Sebagai anak-anak, tentunya ingin mencoba semua kue yang ada di dalam kotak tersebut.

Di keluarga kami, kue-kue tersebut harus dibagi-bagi. Biasanya dipotong sama rata menjadi empat, sesuai penghuni rumah pada saat itu. Semua orang ikut merasakan, walaupun hanya secuil. Rasanya juga jadi lebih menyenangkan, tak terlalu kenyang.

Prinsip berbagi sekarang berubah, bukan lagi karena ingin icip-icip, tapi karena tak ingin merasa terlalu berdosa dengan kalori dan kenikmatan kue-kue tersebut. Nikmat di mulut hanya sekejap, tapi harus dibakar di gym selama berjam-jam.

Bagaimana dengan kalian, punya kenangan manis masa kecil?

xx,
Tjetje
Diingetin WP, udah 8 tahun ngeblog

Selfie Maut

Swafoto atau dikenal juga dengan selfie adalah pengambilan foto diri sendiri, dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti selfie stick. Selfie sendiri bukanlah sebuah hal yang baru, tapi menjadi sangat popular demgan maraknya smarphone dan kameranya yang semakin canggih. Perkenalan saya dengan selfie dan selfie stick terjadi beberapa tahun lalu, jaman saya masih bekerja di Jakarta. Tapi hubungan saya dengan selfie tak berlangsung lama, karena intensitas selfie yang terlalu tinggi. Saya membawa selfie stick untuk liburan ke Kamboja dan berakhir dengan ratusan foto yang isinya muka saya dan teman seperjalanan saya. Langsung auto muak selfie.

https://www.instagram.com/p/BjkRDZ0juh2/

Semenjak itu, jumlah swafoto saya menurun drastis, walaupun angka di Iphone saya menunjukkan saya sudah mengambil selfie sebanyak lebih dari 300 kali. Selfie ini sebagian berisi muka anjing ketika duduk di pangkuan saya, atau ponakan piyik (yang iseng ngambil HP untuk selfie) dan muka-muka saya selfie bersama bayi-bayi orang. Bagi saya, selfie itu gak penting.

Tapi tidak bagi banyak orang lainnya. Selfie menjadi sebuah keharusan, apalagi jika berada di tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik. Apalah artinya pemandangan yang cantik jika tak ditambah dengan wajah-wajah kita yang tak kalah cantik. Mungkin begitu prinsipnya. Suka-sukalah, toh menggunakan gawainya sendiri-sendiri.

Bagi saya pribadi, ada beberapa kondisi yang membuat selfie menjadi big no no. Pertama soal selfieĀ  yang overdosis. Di mana-mana harus selfie dulu, mau makan selfie dulu, ketemu temen selfie lagi (ya kalau ketemunya sekali-sekali), nge-gym selfie lagi. Padahal muka juga gitu-gitu aja. Nah parahnya selfie ini kemudian dimasukkan ke dalam media sosial dengan intesitas yang keterlaluan. Apa indikasinya keterlaluan? Ya kalau bikin orang lain capek lihatnya, mukanya gitu lagi gitu lagi, gayanya gitu lagi gitu lagi, sudutnya juga itu lagi itu lagi; langsung pencet tombol mute atau unfollow.

Selain urusan overdosis, selfi lain yang juga engga banget Ā bagi saya adalah selfie yang tak memikirkan lingkungan sekitar. Swafoto di makam, swafoto dengan jenasah, atau misalnya ditempat tragedi terjadi, seperti di Auschwitz. Penting dan pantaskah melakukan hal tersebut?

Tak hanya soal kepatutan di tempat-tempat tertentu, tapi juga dampak yang timbul akibat swafoto tersebut. Sudah berulang kali kita mendengar kasus tanaman, bunga, ataupun hal lain dari alam kita yang rusak hanya gara-gara napsu ingin selfie.

Nah selfie terakhir adalah selfie yang apes bercampur dengan kurang cerdas; selfie yang membahayakan diri sendiri hingga membuat nyawa melayang. Pernah dengar kan cerita orang yang meninggal dunia gara-gara selfie? Ternyata menurut global study, dalam rentang enam tahun, dari 2011 hingga 2017 ada 259 orang yang meninggal dunia karena selfie. Beberapa mengkategorikannya sebagai sebuah epidemi.

Kasus meninggal dunia karena selfie ini bermacam-macam; yang teranyar ketika tulisan ini dibuat, seorang pelajar dari Belarus yang meninggal jatuh dari balkoni hostel di tengah malam. Beberapa kematian akibat selfie ini juga banyak terkait dengan kereta, dari tersetrum hingga tertabrak kereta.

Di Indonesia sendiri ada kasus selfie dimana seseorang meninggal karena jatuh ke dalam kawah, tenggelam di air terjun, hingga jatuh ke laut dari tebing. Kasus selfie yang membekas di kepala saya sendiri kasus pasangan Polandia yang meninggal, jatuh dari tebing di Portugis di depan anak-anaknya. Saya tak bisa membayangkan trauma yang timbul akibat kehilangan orang tua dengan cara seperti itu.

Manusia itu berproses dan belajar dari kesalahan-kesalahannya. Saya pun tak lepas dari kesalahan dan proses belajar itu. Selayaknya, kita belajar dari kematian-kematian tragis ini. Hidup kita terlalu indah untuk diakhiri dengan selfie maut, hanya karena konten yang ingin kita unggah di media sosial untuk mendapatkan notifikasi like.

Jadi, kapan terakhir kalian selfie?

xx,
Tjetje

 

Kantor Pos

Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, saya masih sempat merasakan rasa senang yang tak terkira ketika melihat petugas pos, dengan sepeda motornya yang berwarna oranye berhenti di depan rumah untuk memasukkan surat ke dalam kotak pos. Hati saya jadi riang gembira kalau salah satu surat tersebut datang dari beberapa sudut Indonesia, tempat sahabat pena saya bermukim. Keriangan karena kedatangan petugas pos sekarang tak pernah saya rasakan lagi, karena setiap kali mobil Ibu pos datang, ia membawa tagihan yang harus dibayar.

Besar di Malang membuat saya banyak berkutat dengan kantor pos pusat, yang terletak di Alun-alun kota Malang. Bangunan tua yang banyak dihiasi warna oranye, warna khas kantor Pos Indonesia ini dulunya dipenuhi oleh orang-orang yang antri membeli perangko. Apalagi menjelang hari raya, kantor pos dipenuhi orang-orang yang membeli perangko untuk mengirim kartu ucapan. Di Indonesia, antrian itu tak ada lagi, tak seperti di Irlandia, kantor pos masih penuh.

Pojok filateli, juga memberikan ruang tersendiri di hati, karena saya sempat mengumpulkan perangko dan sering membeli perangko di pojokan. Sekarang, hobi ini sudah saya hentikan, walaupun koleksi saya masih teronggok di sudut rumah. Berdebu dan tak terawat.

Kantor pos juga membawa kenangan buruk bagi saya. Setiap tahun, saya mendapatkan beberapa paket hadiah Natal dari Australia, dari beberapa kenalan keluarga kami, karena kami dulu pernah tinggal di negeri Kanguru tersebut. Paket-paket ini bermacam-macam, dari buku hingga makanan. Petugas kemudian menentukan besaran tarif custom yang harus dibayarkan, berdasarkan nilai hadiah.

Satu Natal, kami menerima paket yang berisi makanan kering dari Australia. Oleh petugas, makanan-makanan tersebut dibuka, mungkin bagian dari prosedur untuk memastikan bukan barang-barang berbahaya. Tapi ternyata, sebagian besar isinya hilang, lenyap entah kemana. Rasanya kecewa sekali ketika melihat hadiah kami tak karuan bentuknya, separuh dari makanan tersebut juga hilang. Entah ke mana.

Beberapa Natal sebelum saya pindah ke Irlandia, Ibu mertua saya mengirimi perhiasan sebagai hadiah Natal. Bukan perhiasan mewah, tapi ltarif custom yang harus dibayarkan bikin jantungan, karena bisa beli perhiasan di Pasar Baru. Tarif custom jauh lebih mahal daripada harga asli. Selain urusan biaya yang tak masuk akal, lokasi kantor pos yang jauh juga membuat saya berpikir panjang. Untungnya banjir datang, jalanan macet dan saya pun tak bisa mengambil hadiah Natal. Pulanglah sang hadiah Natal kembali ke Irlandia. Horraaaay, gak perlu bayar!

Di Irlandia, kantor pos punya banyak peran penting dalam masyarakat. Selain untuk pengiriman surat dan barang-barang, kantor pos juga menjadi tempat membayar tagihan. Dari membayar gas rumah, beli pulsa, hingga urusan sampah. Frekuensi kunjungan ke kantor pos yang tinggi membuat hubungan dengan petugas di bilik pos pun terbangun. Apalagi, saya tinggal di kampung kecil.

Selain urusan di atas, kantor pos juga menjadi tempat pembayaran jaminan sosial & pensiun. Jaminan sosial ini diberikan untuk mereka yang tak kerja ataupun sakit. Di salah satu pusat kota Dublin, saya pernah melihat antrian panjang orang-orang yang antri mengambil jatah jaminan sosial ini. Mereka sudah antri sedari pagi, ketika kantor pos belum buka.

Kantor pos Irlandia juga sangat pintar menangkap kesempatan dari mereka yang hobi belanja daring. Seringkali para vendor ini tak bisa mengirimkan barang ke Irlandia dan hanya mengirimkan ke Amerika ataupun ke UK saja. Kantor pos pun menawarkan jasa peminjaman alamat, tak pakai pusing, barang juga selamat sampai di Irlandia. Tentunya kantong tak akan selamat jika memberi barang dari luar EU, karena custom tidaklah murah.

Sama seperti di Indonesia, kantor pos di Irlandia juga menawarkan Collector’s Corner untuk mereka yang hobi mengumpulkan perangko. Ada tema-tema tahunan yang bisa dengan mudahnya dilihat dari website mereka. Saya sendiri sering iseng membeli perangko koleksi ini, karena perangkonya lucu-lucu, tapi nominalnya seringkali tak cocok dengan tarif pengiriman.

https://www.instagram.com/p/-gP7pKQxue/?utm_source=ig_web_copy_link

Terakhir, tiap tahun saya memiliki ritual untuk berkunjung ke Kantor Pos Pusat, di sini dikenal sebagai GPO (General Post Office) yang terletak di O’Connell Street, jalanan terkenal di Irlandia. Kantor pos ini merupakan Gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu Easter Rising, pemberontakan orang-orang Irlandia terhadap Inggris. Di pilar-pilarnya bahkan masih banyak ditemukan lubang-lubang bekas peluru bersarang. Saya sendiri berkunjung ke kantor pos ini bukan untuk melihat pilar, tapi untuk menengok kotak pos khusus untuk Santa. Kotak pos yang muncul setiap Desember untuk menipu anak-anak kecil.

Kalian, punya kenangan atau hubungan manis dengan kantor pos dan para petugas pos?

 

xx,
Tjetje

Catatan WNI Tak Bisa Pemilu di Irlandia

Selamat pagi Indonesia!

Hari ini menjadi hari penting bagi banyak WNI di Indonesia, karena hari ini menjadi pesta demokrasi. Pestanya orang-orang Indonesia untuk memilih wakil rakyatnya. Bagi kami, para WNI yang berada di luar negeri sendiri, pemilihan umum ini sudah dilaksanakan pada akhir pekan lalu.

Pemilu kali ini menjadi pemilihan umum Indonesia pertama saya di luar negeri. Di Irlandia sendiri, saya juga memiliki hak untuk memilih, tapi hanya pemilihan lokal saja. Karena ini pemilihan pertama saya, otomatis saya harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dan menyetirlah saya dari rumah saya dari kampung ke tempat sosialisasi PPLN (Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri) yang bertempat di rumah salah satu orang Indonesia yang merelakan rumahnya digunakan untuk sosialisasi. Hari itu, saya menyetir sejauh lebih dari 150 km demi partisipasi untuk pesta demokrasi.

Proses Pendaftaran

Pendaftaran diri sendiri dilakukan dengan mengisi formulir kertas (manual!) yang harus dilengkapi dengan data. Saya tak akan lupa hari itu, karena hanya ada dua bolpen. Salah satunya milik suami saya, otomatis kami bergantian menggunakan bolpen tersebut. Informasi tentang bolpen ini penting, untuk menggambarkan kesiapan panitia.

Hari itu saya mendaftarkan diri dan seorang teman. Selain menyerahkan formulir dengan data diri kami, kami juga harus menyerahkan kopi paspor melalui email gmail kepada panita Kedua email ini dibalas oleh panitia yang menyatakan data kami diterima. Yes, beres! 

Poster di negara tetangga

Proses Pemilihan

Menjelang pemilihan, dokumen berisi nama pemilih yang berhasil dicatatkan untuk memilih melalui pos diedarkan oleh salah satu rekan di komunitas warga dan diaspora Indonesia di Irlandia. Nama saya, kendati mengandung sebuah kesalah kecil, tercatat di DPT tersebut. Typo nama ini saya maafkan, karena tak mudah menginput ratusan, atau bahkan ribuan nama warga ke dalam sistem. Mungkin mata dan jari sudah lelah ketika melihat nama-nama tersebut. Aman.

Sosial media memberikan kesempatan bagi kami yang berada di luar negeri untuk pamer ketika surat suara sudah tiba. Pamer-pamer ini ternyata banyak gunanya, karena kami yang belum mendapatkan surat suara kemudian detak jantungnya mulai berdebar-debar, semangat menunggu surat suara. Mungkin karena rumah saya di luar Dublin, surat suara saya agak terlambat.

Tunggu punya tunggu, surat suara saya tak sampai. Dan pesan-pesan kepada petugas PPLN pun mulai saya layangkan. Saya tak sendiri, WNI lainnya pun mulai ribut mempertanyakan surat suaranya.

Dan kekacauan pun mulai terlihat….

Sampai kemudian salah satu diaspora Indonesia berinisiatif mendata warga yang belum menerima surat suara ini. Tercatat lebih dari dua puluh orang belum/ tidak menerima surat suara. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan permintaan untuk mengirim email ke PPLN lengkap dengan nomor passport serta alamat.

Tidak ada Alamat

Dalam kasus saya, petugas berdalih surat suara saya tak dikirimkan karena tak ada alamat. Entah dimana formulir yang saya berikan kepada petugas pada saat hari sosialisasi. Perjalanan panjang 150 km tersebut berakhir dengan sia-sia karena petugas yang tidak kompeten dalam menginput informasi dan data.

Tapi alamat bukan alasan lagi, karena minggu kemaren, detail alamat sudah saya berikan. Tapi tak ada balasan apa-apa lagi dari PPLN. Mendadak semunya sunyi dan senyap.

Soal Perangko

Beberapa orang yang tak menerima surat suara, ternyata surat suaranya kembali ke alamat pengirim (PPLN) karena isu sederhana: perangko yang tak mencukupi untuk mengirim surat suara ke luar negeri. Perlu dicatat PPLN ini lokasinya di London, sementara kami di Republik Irlandia.

Kekonyolan soal perangko tak hanya di surat-surat yang kembali, tapi juga di amplop untuk pengiriman surat suara kembali ke London. Rupanya, sebagian pemilih di Irlandia diberi amplop yang berisikan perangko Inggris, bukan perangko Irlandia. Sesungguhnya para panitia ini perlu diberi pelajaran sejarah, bahwa Republik Irlandia bukanlah jajahan Inggris.

Beruntung beberapa warga ada yang ditegur petugas pos atau pasangannya memperhatikan perangko ketika mengirim. Sementara mereka yang tak memperhatikan, saya yakin suaranya akan hangus. Yang menyebalkan, masalah perangko ini masalah klasik, pernah terjadi saat pemilu di tahun 2014 yang lalu.

Jangan tanya bagaimana sedihnya saya sebagai warga negara yang dirampas hak pilihnya karena KETIDAKKOMPETENAN panitia dalam menjalankan tugasnya. Mengatur data ratusan, atau mungkin ribuan orang memanglah tidaklah mudah, tapi ketika data sudah dikumpulkan dari perjalanan ke Irlandia, layaklah jika kami mempertanyakan kompetensi mereka. Kalau kata orang Irlandia: Gobshite!

Bagi kalian yang hari ini memutuskan untuk nyoblos, selamat berpesta demokrasi. Semoga kiranya siapapun pilihan kalian, membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dan tentunya, jangan sampai pertemanan rusak cuma gara-gara beda pilihan.

xx,
Tjetje

Penimbun Rempah Nusantara

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Selain keluarga, harta saya yang paling berharga adalah rempah-rempah nusantara yang saya datangkan dari Indonesia dan saya simpan di dalam freezer.

Kencur, daun salam, daun kunyit adalah sebagian kekayaan nusantara yang tak bakal bisa ditemukan di Irlandia, kecuali di dapur-dapur beberapa orang Indonesia. Itupun tak semua orang punya, selalu ada yang kehabisan atau tak menyimpan. Kalau sudah begitu, budaya tolong-menolong dan gotong-royong langsung dikeluarkan.

Persediaan sebagian diberikan bagi yang membutuhkan, tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan tentunya. Ada pula yang meminjamkan, dengan perjanjian jika kembali ke Indonesia titip dibawakan rempah-rempah. Soal titip-menitip ini, berdasar pengalaman saya kencur dan daun salam menduduki peringkat teratas yang sering diminta.

Membawa rempah-rempah dari Indonesia ke Irlandia tidaklah susah. Dari pengalaman saya dan tentunya banyak orang Indonesia lain, petugas custom di Irlandia tak reseh dengan urusan rempah. Mereka jauh lebih reseh dengan urusan rokok dan daging ketimbang rempah. Biasanya

Tak semua rempah sulit ditemukan, ada banyak rempah yang bisa ditemukan dengan mudah di Irlandia, tentunya karena permintan yang tinggi & juga karena komunitas Asia yang cukup tinggi. Sereh, daun kari, laos, kunci dan jahe bisa dengan mudahnya ditemukan di toko-toko Asia. Biasanya, produk-produk ini didatangkan dari Thailand (suka iri deh), diimpor ke Belanda, sebelum akhirnya dikirim dari Belanda ke Irlandia. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang untuk rempah segar ini. Lima batang daun sereh misalnya dijual Euro 1.55, sedikit lebih murah ketimbang supermarket normal yang menjual hampir dua Euro.Ā Tolong jangan dibandingkan dengan di Indonesia yang tinggal cabut sereh dari halaman belakang ya.Ā 

Tak hanya produk segar, produk rempah beku, lagi-lagi dari Belanda juga banyak dijual di sini. Biasanya, produk beku dipatok dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang produk segar. Daun jeruk, sereh, laos, hingga daun pisang dan daun pandan (Bukan rempah).

Rempah-rempah kering seperti merica, pala, cengkeh, kayu manis sendiri juga mudah ditemukan. Mereka bisa ditemukan di supermarket besar. Semakin besar supermarketnya, semakin berkualitas. Nah sebagai snob rempah, saya maunya dari supermarket yang oke punya, biasanya beda berapa sen juga. Tapi yang saya cari susunan rempah yang ditata rapi sesuai abjad. Dasarlah saya ini,Ā  lihat rempah rapi gini langsung girang.

Selain karena rapi dan tertata, rempah-rempah dari supermarket ini suka dibungkus dalam wadah-wadah cantik transparan, sehingga isinya terlihat. Tutupnya pun dipasangi oleh stiker, jadi ketika mereka ditata rapi di dalam laci, bisa dengan mudah ditemukan. Pilihan mereknya pun bermacam-macam, bisa merek toko (yang tentunya murah meriah), atau merek-merek ternama yang harganya bisa tiga, hingga lima kali lipat dari merek toko. Yang pasti, rempah-rempah ini ketahuan asalnya dari mana.

Harga rempah kering ini tentu tak murah, jika dibandingkan dengan di Indonesia. Tapi soal kualitas tak perlu diragukan lagi. Tak ada merica yang dicampur dengan tepung sehingga rasanya aneh, walaupun pada saat yang sama rasa rempah di sini tak selalu sama dengan yang di Indonesia.

Di toko- toko Asia sendiri rempah-rempah kering ini dijual dalam porsi yang agak besar, seperempat, setengah, bahkan satu kilo. Bagi yang memiliki keluarga besar, atau memiliki usaha, membeli dalam porsi sebesar itu tentunya lebih murah. Tapi bagi keluarga kecil seperti saya, repot, keburu melewati tanggal kadarluarsa.

Satu hal penting yang juga memenuhi freezer saya adalah cabe. Saya beruntung bisa menemukan toko Asia yang menjual 3 kilogram cabe besar seharga 16€ saja, untuk standard di sini memang termasuk murah. Cabe-cabe ini konon didatangkan dari Belanda, ah pasti yang di Belanda ketawa lihat harga cabe di sini.

Dengan musim yang sudah mulai membaik, sudah saatnya saya menanam cabe kembali, seperti Ibu Ani Yudhoyono šŸ˜‰ Semoga saja tahun ini saya lebih beruntung, dan cabe saya bisa tumbuh besar.

Kalian, dapat rempah dapur dari mana? Halaman belakang rumah atau beli di pasar & tukang sayur?

xx,
Tjetje

Cerita Anjing

Sudah bukan rahasia lagi kalau saya ini pencinta anjing. Proses mencintai anjing ini tentunya dimulai dengan rasa takut pada anjing terlebih dahulu; takut dikejar dan tentunya takut digigit. Sebuah ketakutan yang normal pada sebagian orang Indonesia. Tapi ketakutan itu berubah menjadi kecintaan luar biasa ketika saya mulai berkenalan lebih dekat dengan banyak anjing.

Di Indonesia, punya anjing itu tantangannya ada banyak, tapi yang terbesar adalah takut diracun sama tetangga (karena makanan dengan racun yang dilemparkan ke dalam halaman) hingga takut anjing dicuri untuk dijadikan makanan. Dulu bahkan pada jam-jam dan hari-hari tertentu, anjing saya bisa dipastikan berada di dalam rumah dan semua pintu rumah ditutup rapat-rapat.

Di Irlandia, punya anjing itu tidaklah semurah di Indonesia. Ongkos perawatan anjing itu jauh lebih mahal daripada di Indonesia. Saya tak ingat pernah membaca di mana, tapi ongkos memiliki satu ekor anjing itu berkisar antara 20-30 ribu Euro selama masa hidup si anjing. Mahal, tapi tentunya sepadan!

Kebanyakan anjing di sini dipelihara di dalam rumah, walaupun banyak juga yang meninggalkan anjingnya di halaman rumah. Sejujurnya, saya tak suka dengan ide anjing ditaruh di halaman belakang rumah, apalagi cuaca Irlandia tak pernah bersahabat. Hujan dan badai adalah sebuah hal yang normal di sini.

img_9119

Update postingan dengan foto anjing sendiri. Akhirnya punya anak bulu lagi.

Anjing-anjing juga sebaiknya tidak ditinggalkan sendirian lebih dari delapan jam. Idealnya, setiap empat jam ada yang mengecek si anjing. Tentu saya buat mereka yang bekerja, ini menjadi masalah besar. Ada beberapa solusinya, salah satunya penitipan anjing untuk mereka yang bekerja; konsepnya persis seperti daycare untuk anak-anak. Harganya, sekitar 60 Euro/ minggu, 240/Ā  bulan dan lebih dari 3000/ tahun. Alternatif lain yang lebih murah adalah kamera yang bisa memonitor aktivitas anjing. Dengan kamera ini kita juga bisa memanggil anjing dan mengatur supaya treatĀ untuk si anjing bisa dilemparkan.

Kebanyakan anjing-anjing di sini menikmati hidup yang cukup berkualitas, apalagi negara ini memiliki banyak ruang hijau untuk membawa anjing jalan-jalan setiap pagi dan malam. Di perkampungan dengan banyak industri peternakan, anjing-anjing wajib hukumnya untuk dibawa dengan tali, tak boleh dilepas untuk berlarian. Takutnya, anjing-anjing ini bisa menyerang domba-domba dan menggigit mereka. Di sini, banyak kasus domba diserang, petani tak terima dan si anjing ditembak.

Bicara ruang hijau tak bisa lepas dari bicara kotoran anjing. Aturan untuk membungkus kotoran anjing tertulis dimana-mana, tapi banyak juga pemilik anjing yang tak bertanggung jawab dan membiarkan kotoran anjingnya. Kotoran yang dibiarkan untuk berbahaya untuk kesehatan dan juga menjijikkan jika terinjak, atau terlindas rodaĀ strollerĀ bayi. Di beberapa area di Dublin sendiri, terutama daerah yang kurang bagus, kotoran anjing bisa ditemukan dengan mudah di trotoar. Denda yang ratusan Euro tak membuat orang kemudian takut, karena faktanya pemerintah tak terlalu tegas dalam menindak para pelakunya.Ā Kalau ada satu hal yang pemerintah di sini cukup disiplin, adalah perintah untuk menyuntik anjing mati jika anjing tersebut menggigit manusia atau hewan lain.

Permintaan anjing sendiri di Irlandia sangat tinggi, apalagi menjelang Natal. Makanya muncul kampanye A dog is for life, not just for Christmas. Banyak orang di sini tak paham bahwa konsekuensi dan tanggung jawab punya anjing itu besar. Anjing-anjing seringkali dikirimkan ke penampungan anjing karena alasan-alasan sepele, seperti anjing buang air di dalam rumah atau karena anjingnya terlalu besar. Sesungguhnya alasan ini sangat konyol, karena menunjukkan si pemilik anjing tak bisa melatih anjingnya dan tak melakukan riset dengan baik.

Beberapa bulan lalu, saya sempatĀ ngebetĀ banget pengen punya anjing dan sudah mulai mencari-cari anjing untuk diadopsi. Sempat terlintas juga untuk membeli, suami saya bahkan sudah pulang membawa uang tunai, siap membeli dua ekor anjing, tapi semua rencana langsung batal. Punya anjing itu komitmen besar, dan tak adil rasanya jika kami punya anjing dan meninggalkan si anjing sendiri di rumah. Tak adil untuk si anjing dan tak adil untuk kami. Jadi, sementara ini, kami cukup menjaga anjing orang ketika dititipkan.

Kalian, punya cerita dengan anjing?

xx,
Ailtje
Pernah digigit Maltese dan dachshund, serta hampir digigit Rotwie. Tapi gak kapok

Thing Indonesians Like: Durian

Just like Jakarta, the big durian, you are either going to love it or to hate it. There is no in between.

Durian is being judged as the world’s smelliest fruit, it has distinctive odor and sometimes described to have the stench of old gym socks. The lovers of this King of fruit will argue that the spicy fruit has a sweet smell. The chewy flesh is so soft, like a cream cheese mix with custard.

This fruit is so powerful, it could divide a family into two, the haters and the lovers. The pungent smell would stop the haters from having them around the house, while the lovers would do anything to have them. The fight about durian in the family could be nasty, as durian haters feel they deserve fresh air, free from the potent stench of the fruit. While for the lovers, the smell is not really that bad.

I was once a durian hater, but I was converted by a former colleague. One evening, we were sitting in a durian place, not far from Hermes Palace Hotel in Banda Aceh. Ā My former colleague ate durian passionately, so passionate that I think she was having duriangasm. It’s the foodgasm caused by a delicious durian.

Not knowing the pleasure of eating durian (and obviously wanted to have duriangasm), I decided to try it. It was one of the best decisions I’ve ever made and thankfully, it was one of the best durians I’ve ever had. The smell of the durian was not strong, perfect for newbie like me; they said it was fresh from the tree. Hence, less smelly. That night, we combined the durian with sticky rice, like a real Banda Acehnese, and it was a lip-smacking combination.

For Indonesians durian lovers, travelling around the country means tasting local durian. I traveled to different places in Indonesia to see the country and to taste durian, but the one place that I could never forget is Medan, a city famous for all-year round durian. A famous durian seller from the city, even claims, you haven’t been to Medan, if you haven’t taste Ucok Durian.

Durian Medan is so famous that Indonesians like to bring them back home as oleh-oleh (gift). Despite the ban from airlines to bring them to the cabin, people still find a way to ā€œsmuggleā€ durian. The seller will pack fresh durian flesh in a plastic box, wrapped with few layers of plastic, covered with a spoonful of coffee powder before re-wrapping it with another plastic. It is belief that the coffee would eliminate the smell of the durian. A former colleague tried it, but the flight attendants cannot be fooled.

Despite our love to durian, people hate the idea of having durian in a flight. Recently, a Sriwijaya Air flight was delayed as the passengers weren’t happy with the smell of durian inside the cabin. The airline carried three tonnes durians and some passengers claimed it as a safety hazard. They walked out from the flight and refused to fly. It’s either them or durian. The case of people vs durian was unfortunately won by the people.

Fearing of flying with durian came from the incident that happened in 2005, Mandala Airline crashed in Medan and more than 2 tonnes of durian was found in the scene. Up until today, there are still too many people who believe the crash was caused by the durians, not the engine.

What’s the best way to eat durian? Fresh durian would still be the best way to eat it and in Indonesia, we like them ripe. A combination of durian with sticky rice (like the one I had in Banda Aceh) is also good. There are also people who eat durian with rice, many of us would find this weird. Durian can also be processed “for a snack”, such as pancake, glutinous rice cake, ice cream, cheesecake, pizza and the list go on.

Durian is claimed to be dangerous for health, as it might increase cholesterol level. It is of course a myth. Turn out, durian has no cholesterol. People also believe that people could get drunk if they eat too much durian, as it contains alcohol. In Indonesia, we call it mabuk durian. Despite the myths, the smell and the hates we receive for loving them, our love for durian is undeniable. We love it so much that some of us bring it to the bedroom, as a durian flavour condom (okay this is too much!).

Do you love durian?

xx,
Tjetje

Duka Cita dan Komentar Nyinyir Netizen

Tinggal jauh dari tanah air itu bukan hal mudah, banyak hal-hal yang kelewatan karena jarak. Adanya media sosial sedikit membantu mengobati kerinduan itu, tapi tetep aja rasanya gak akan sama, apalagi kalau berhubungan dengan urusan duka cita. Tahun ini, saya kehilangan beberapa orang di tanah air, dari mulai yang masih terikat keluarga, hingga teman yang pernah dekat dan besar bareng. Rasa sakitnya kehilangan karena jauh, jangan ditanya.

Teman saya ini saya kenal sejak kelas enam SD, kami kenal karena jaringan arisan Ibu-ibu kami. Saya bahkan masih ingat hari pertama kami bertemu, bayangan dia berdiriĀ  malu-malu di butik ibunya di pusat kota Malang. Pertemanan kami sendiri baru mulai terbangun tiga tahun kemudian.

Dua tahun lalu, ketika saya pulang, saya menyempatkan diri untuk bertemu. Ceritanya menyemangati, tapi malah saya yang berakhir menangis sesegukan. Perjalanan saya ke Indonesia saat itu memang untuk menjenguk beberapa orang yang berjuang melawan kanker, makanya sensi banget saya. Tangisan saya ini bukanlah hal yang patut dicontoh, ini big no no.

Beberapa bulan lalu, kondisi kankernya sudah di tahap akhir. Saya beruntung masih bisa mengirimi hadiah kecil, ngobrol melalui Whatsapp dan juga video call (terimakasih teknologi). Di akhir pembicaraan kami, dia berkata bahwa dia bangga banget dengan saya, karena hal-hal positif yang terjadi di hidup saya.

Ketika saya mendengar ia berpulang, saya tak berhenti menangis, hingga beberapa hari. Padahal kami ini sudah tak terlalu dekat lagi, karena jarak dan juga karena kesibukan masing-masing. Kendati tak terlalu dekat, saya berduka, karena kehilangan seorang teman, karena anak-anaknya kehilangan seorang ibu, karena ibunya kehilangan anak perempuan dan karena suaminya kehilangan pasangan jiwa. Mungkin orang bilang saya lebay, tapi bagi saya kehilangan teman karena kanker itu, menyakitkan. I’ve lost too many people because of cancer.

Ini bukan kali pertamanya saya kehilangan teman karena kanker (dan saya berharap ini terakhir kalinya saya kehilangan orang terdekat karena kanker). Saya pun yakin, ini juga bukan pertama kalinya saya berduka dari jauh. Tinggal di luar Indonesia itu tak selamanya enak, karena kita melewatkan hal-hal penting seperti ini. Satu hal yang saya syukuri, saya berduka ketika musim panas, setidaknya saya masih melihat matahari. Ini ternyata penting lho, karena berduka di musim dingin yang minim matahari itu bikin depresi.

Di tengah duka ini, saya berakhir di Instagram seorang pria anak bekas pejabat yang baru kehilangan istrinya. You-know-who, karena si pria ini pernah punya kasus heboh yang mengguncang negeri & banyak orang (termasuk saya) gak ngefans sama yang dia lakukan dimasa lalu. Istrinya, baru-baru ini meninggal dunia dan ia sering mengunggah beberapa foto almarhumah. Saya yang “hanya” kehilangan teman berduka secara dalam, apalagi dia yang kehilangan separuh jiwanya.

Dan duka nestapa itu berubah menjadi emosi jiwa, ketika saya membaca komentar-komentar netizen remah-remah rengginang ini. Salah satunya tak segan berkomentar untuk move on. Disangka kehilangan pasangan jiwa itu bisa move on semudah meremukkan remah-remah rengginang. Luka kehilangan itu tak pernah sembuh sempurna, akan ada lubang yang tak pernah bisa diisi dengan apapun. (Jangan bilang Tuhan!).

Ada pula yang ngasih ceramah panjang soal agama dan hujatan soal dosa yang muncul karena yang berpulang tak mengenakan jilbab. Komentar ini diaminin oleh orang-orang lain yang mempertegas tugas untuk mengingatkan orang lain. Oh sungguh para polisi agama yang merasa paling suci dan mulia sejagat raya. Mereka ini merasa menjadi polisi moral.

Mungkin tak banyak dari kita yang tahu cara mengekspresikan diri ketika melihat orang lain berdua cita di media sosial, mentalĀ kita yang suka menghakimi tiba-tiba menyeruak, padahal ada beberapa hal yang jauh lebih baik untuk dilakukan, seperti:

  1. Mengucapkan duka dengan sopan. Syukur-syukur kalau tulus.
  2. Memberi kata-kata penyemangat supaya kuat menghadapi kehilangan. Gak perlu jadi psikolog juga, cukup tunjukkan simpati atas apa yang dialami, tapi juga nggak nyuruh orang untuk move on.
  3. Think twice sebelum posting sesuatu yang gak berhubungan dengan nomor satu atau nomor dua.
  4. Gak membahas dosa orang, kecuali kalau punya nama tengah RESEH.
  5. Diam, karena tak bisa nulis yang baik.

Saya bukan manusia paling suci di bumi ini, saya bergelimang dosa dan mungkin udah punya slot di neraka sana. Saya pun yakin saya gak akan mati moksa, pasti lahir kembali. Tapi bagi saya, membiarkan orang berduka dengan tenang itu tak susah kok.Ā Biarkan orang-orang yang kehilangan kekasihnya, keluarganya, atau orang-orang terdekat lainnya berduka dalam damai, karena hati dan jiwa kami sedang berdarah-darah.

Finally, jangan lupa cek diri kalian, perhatikan kalau ada benjolan aneh-aneh di tubuh. Ini berlaku untuk perempuan dan juga pria. Semoga di tahun baru ini, kita dan orang-orang tercinta kita dijauhkan dari kanker dan kita jadi netizen yang lebih baik dan lebih bijak.

Selamat tahun baru, masih bikin resolusi?

xx,
Tjetje

Tradisi Natal: Sweater Natal

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun, bulan Desember yang gelap dan suram (di sini), hari yang pendek, tapi jauh lebih meriah dengan adanya hiasan-hiasan Natal. Soal suram dan hiasan Natal, semua hiasan saya sudah mulai dipasang pada tanggal 28 Oktober, saat Halloween. Saya yang tak merayakan Natal ini heboh sendiri karena tak punya hiasan Halloween.

Saya tak sendirian, yang menyiapkan Natal sejak awal itu banyak termasuk toko mewah terbesar di Irlandia, Brown Thomas. Mereka sudah punya pasar Natal, atau Christmas market, sejak bulan Agustus kemarin. Iya bulan Agustus. Rasanya memang aneh lihat pernik-pernik Natal di bulan Agustus, tapi mereka memang selalu lebih awal.

Kali ini, saya tak akan membahas salah satu pernak-pernik Natal yang tak pernah dilupakan: Ugly Christmas Sweater. Tradisi ini dimulai entah sejak tahun berapa. Tapi konon gara-gara para Tante yang hobi memberi hadiah sweater Natal yang tak terlihat menarik sama sekali. Awalnya mereka yang menerima sweater ini enggan mengenakan sweater yang terlihat konyol.

Tapi kemudian, tradisi ini menjadi tradisi yang banyak dilakukan, tujuannya yan untuk konyol-konyolan. Tak hanya konyol, beberapa sweater juga nakal dan norak. Semakin aneh semakin okelah. Bulan Desember iniĀ  Bulan Desember orang-orang sudah mulai mengenakan Jumper ini untuk menyempurnakan tradisi Natal. Tentunya ini gak ada hubungan sama sekali dengan acara religius.

Selain beli, beberapa orang yang cukup kreatif terkadang juga membuat sendiri. Pastinya ada kebanggaan khusus jika mengenakan barang hasil karya sendiri. Saya sendiri tak akan punya ketelatenan.

Kepopuleran jumper ini kemudian disempurnakan dengan kompetisi, jumper terbaik. Biasanya sih di kantor dan melibatkan hadiah untuk mereka yang mengenakan jumper terbaik, terlucu atau ternorak. Nah kalau untuk urusan Natal gini orang-orang sungguh all out. Tak cuma jumper saja, tapi rambut, kuku, telinga pun dihiasi dengan pernak-pernikĀ  natal, supaya sempurna.

Saya sendiri tak pernah punya Jumper seperti ini, bagi saya tradisi ini “silly”. Tahun kemarin saya harus menggunakan Christmas jumper untuk foto tim, berhasil saya akali dengan minjem jumper lama punya suami. Tentunya jumper ini sukses kedodoran, tapi toh hanya untuk foto, tak terlalu terlihat.

Tahun ini Natal kami jauh berbeda. Natal ini menjadi Natal pertama yang akan kami rayakan di rumah sendiri, Natal pertama dengan pohon Natal asli, Natal pertama jadi host (dan saya harus masak untuk keluarga besar). Dan Natal pertama ini Ibu saya akan datang ke Irlandia (semoga visanya segera disetujui). Dan saya pun membeli silly Christmas jumper, bahkan kaos kaki yang juga tak kalah silly.Ā Saya bahkan sudah jalan-jalan pakai jumper ini sejak awal Desember. Jumper saya ada lampunya dan bisa nyala *norak bener deh*.

Rumah kami pun sudah diwarnai dengan dekorasi sejak Oktober. Tapi ternyata, dekorasi rumah kami tak ada apa-apanya. Tetangga pada heboh-heboh, rumahnya menyala terang benderang dengan lampu-lampu dan aneka pernak-pernik Natal. Dedikasi luar biasa deh.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Natal kami jauh lebih bermakna. Seluruh keluarga besar kami di Irlandia sepakat untuk tidak tukar kado, hanya membeli kado dengan anggaran yang tak terlalu besar untuk anak-anak saja. Dana Natal kami akan dialokasikan untuk seorang anak yang terkena kanker tulang. Kebetulan ayah si bocah ini pernah bekerja untuk salah satu ipar saya, begitu idenya dilempar ke keluarga, semua langsung setuju. Less headache, lebih praktis dan tentunya lebih bermakna. Si bocah ini umurnya baru 14 tahun dan diagnosa kanker ini pastinya tak mudah. Ah Santa, All I want for Christmas is a good health for everyone.

Kalian, punya persiapan khusus untuk musim liburan akhir tahun ini?

xx,
Tjetje

Guru-Guru Favorit

Ada beberapa guru yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Guru Bahasa Indonesia yang memaksa kami, murid-muridnya, untuk berdiri setengah jongkok selama beberapa saat karena tak mendapatkan nilai minimum, 60, untuk tes peribahasa. Tes peribahasa ini menjadi test rutin, setiap kali pelajaran Bahasa Indonesia. Saya tak ingat nama si Ibu guru, tapi ingatan hukuman fisik itu tak pernah hilang dari kepala saya, apalagi mereka yang mendapatkan nilai lebih dari 60 kemudian menghitung berapa detik lagi kami harus mengalami hukuman fisik sambil melihat kemalangan kami. Kami yang bodoh, karena tak hapal peribahasa.

Masih di tingkat sekolah dasar, seorang guru sangat diskriminatif dan verbally abusive, utamanya pada mereka yang orang tuanya tak kaya raya. Belakangan saya baru tahu, hanya mereka yang kursus privat dengan sang guru yang bisa diperlakukan dengan baik. Guru yang sama menunjukkan kalender di kelas, sambil melingkari hari ulang tahunnya dan meningatkan kami setiap hari. Rupanya, ia berharap mendapatkan kado ulang tahun.Ā Sebagai anak kelas 5 SD saya gak ngerti kode-kodean ini sampai dijelaskan oleh salah satu teman sekelas. Guru ini kemudian dipecat karena gross misconduct.

Di SMA, guru yang melekat di kepala saya karena hal-hal negatif adalah guru fisika saya. Guru ini melakukan kekerasan fisik, dari mulai mendorong kepala muridnya, hingga memukul tangan dengan penggaris kayu. Guru yang sama ā€œmemaksaā€ salah seorang murid untuk pindah ke Kabupaten, karena murid tersebut tinggal di Kabupaten. Saya yang tak dirisak saja stress, apalagi mereka.

Guru-guru di atas tak mewakili mayoritas guru di Indonesia, mereka hanyalah sebagian kecil dari populasi. Kendati saya mengingat mereka karena perilaku negatifnya, ada satu hal yang saya pelajari dari mereka: bagaimana menghormati dan memperlakukan orang lain, terutama mereka yang berada di kelas. Apalagi pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya mendidik dan mengajar.

Jaman SMA sendiri saya punya guru favorit, namanya Ibu Anoek. Ibu Anoek ini ditakuti oleh banyak murid, karena beliau DISIPLIN. Kelasnya terorganisir dan beliau mengharuskan kita mengorganisir catatan kita. Seingat saya dulu ada dua buku yang kita harus punya, buku catatan dan satunya, entah buku apa, mungkin buku latihan. Buku-buku ini harus disampul menggunakan sampul berwarna dan warnanya untuk satu kelas harus seragam. Saat itu, kami diharuskan menggunakan sampul berwarna coklat, lalu dibungkus sampul plastik. Tujuan penggunaan satu warna ini, menurut saya, untuk memudahkan hidup beliau ketika para murid mengumpulkan buku untuk dinilai. Semuanya satu warna, rapi dan indah.

Bu Anoek ini mengajar pelajaran Antropologi, pelajaran favorit saya (selain Akuntansi dan bahasa Inggris) semasa saya berada di SMA. Saking cintanya saya dengan beliau, kelas pertama yang beliau ajar masih menempel di kepala saya. Hari itu 40 siswa di dalam kelas disuruh menyebutkan nama-nama suku di Indonesia. Internet masih barang mewah saat itu, apalagi telepon genggam. Jadi lupakan Google, karena sebagian dari kami saat itu panik. Panik karena tak tahu banyak tentang Indonesia, dan suku-sukunya. Saya pun masih ingat suku yang saya sebutkan, Baliaga.

Selain bu Anoek, guru lain yang begitu penting di dalam hidup saya adalah guru bahasa Inggris saya, namanya Ibu Sri Kadarisman. Ibu Kadarisman ini mengajar tiga generasi di keluaga saya, dari Eyang, Ibu hingga saya. Selama satu jam kami duduk bersama, membahas sebuah topik-topik sederhana, berdasarkan sebuah artikel. Oh ya, jaman itu kami menggunakan kaset untukĀ listening.Ā 

Di akhir kelas ini, saya diharuskan mengeja satu artikel penuh. Capital letter c a p e k full stop. Perjuangan banget mengeja satu artikel & saya sampai mempertanyakan kenapa harus ngeja ini, beliau menjelaskan betapa pentingnya spelling ini. Dan beberapa tahun kemudian, ketika saya terjun ke dunia kerja yang mengharuskan kelancaran berbahasa Inggris, saya jadi paham benar mengapa mengeja dengan jelas itu sangat penting. Dan tentunya, otak harus terus menerus dilatih untuk bisa mengeja dengan baik.

Hari Guru memang sudah lewat, sudah tanggal 25 November lalu. Tapi ijinkan saya mengenang betapa pentingnya fungsi guru seperti Ibu Anoek dan Ibu Kadar yang membuat kelas begitu menyenangkan. Ibu Anoek membuat saya mencintai kekayaan Indonesia dan belajar lebih banyak tentang negeri saya. Sementara bu Kadar membuat saya percaya diri dan lancar berbahasa Inggris. Ilmu yang kemudian begitu penting hingga sekarang, apalagi tinggal di luar negeri membuat kita sering didaulat menjadi duta bangsa.

Selamat hari guru pada seluruh guru di Indonesia! Terimakasih atas jasa-jasamu.
Kalian, punya guru favorit atau guru yang tak disuka?

xx,
Tjetje