Valentine Sekuler dan Valentine Relijius

Tiap kali menjelang tanggal 14 Februari atau hari Valentine, bisa dipastikan media dan juga media sosial di Indonesia akan penuh dengan keributan urusan Valentine. Sebagian pihak berargumen bahwa perayaan Valentine ini haram karena merupakan perayaan agama Katolik yang tentunya bertentangan dengan agama mayoritas penduduk di Indonesia. Sementara sebagian pihak lain akan berargumen tentang Valentine yang sudah disekulerkan oleh sebagian besar industri dan ritel.Dua-duanya sama-sama benar, jika dilihat dengan kacamata dan konteks yang benar.

Mari kita bahas dulu perayaan pertama, yaitu perayaan yang relijius. Dublin menjadi salah satu kota spesial menjelang Valentine karena di sebuah gereja di kota ini tersimpan relic Santo Valentine. Alkisah, di tahun 1800-an terdapat seorang pastur di Dublin yang tinggal di daerah Liberties, namanya Pastur John Sprat. Jaman dahulu, daerah Liberties ini terletak di luar tembok kota Dublin dan sangat terkenal dengan kemiskinannya. Nah sang Pastor terkenal sebagai individu yang begitu mencintai orang-orang miskin. Selain menyayangi orang miskin, sang Pastor juga terkenal sebagai penceramah yang baik.

 

Suatu hari, sang pastur bertugas ke Roma dan berceramah disana. Paus yang saat itu mendengar kebaikan pastur ini kemudian menghadiahkan relic (maaf, saya tak bisa menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia) dari Santo  Valentine. Pemberian itu diberikan di tahun 1835 tapi karena jaman itu transportasi  belum canggih, sang relic yang salah satunya wadah kecil berisi darah sang Santo baru tiba di Dublin setahun kemudian dan disambut dengan arak-arakan yang meriah.

Lalu dibuatlah sebuah sudut untuk berdoa kepada Santo Valentine di gereja yang terletak di dekat jantung kota Dublin, namanya “Church of Our Lady of Mount Carmel”. Dalam bahasa Inggris sudut ini disebut sebagai shrine. Diletakkan pula sebuah patung sang Santo bersama dengan tempat untuk menyalakan lilin dan buku untuk menuliskan doa serta harapan.

Valentine yang identik dengan anak-anak muda diperingati setiap tahunnya di gereja ini dengan mengadakan misa. Misa ini tak hanya untuk memperingati semangat dan cinta kasih Santo Valentine, sang Pastur yang menerima relic tetapi juga untuk memberkati anak-anak muda yang akan menjadi dewasa melalui perkawinan.

Sudut favorit saya, shrine untuk Our Lady of Dublin. Protector kota Dublin. Saya menyukainnya karena sudut ini begitu cantik.

Tahun ini, misa tidak dilaksanakan pada tanggal 14, tetapi dilaksanakan pada tanggal 13 Februari. Mungkin supaya tidak menganggu jadwal misa rutin di hari minggu. Dalam misa yang berdurasi selama 45 menit dan dikunjungi banyak orang, tua dan muda, terdapat satu sesi khusus untuk memberkati cincin bagi mereka yang baru bertunangan dan baru melangsungkan perkawinan. Pemberkatan juga diberikan pada mereka yang berduka karena ditinggal pasangannya meninggal.  Intinya, misa kemarin berfokus pada cinta.

 

Perlu dicatat, di dalam misa tersebut tidak ada pemberian coklat, makan steak berdua, apalagi tukar-menukar kartu Hallmark. Fokusnya hanya ada pada doa dan mengingat spirit cinta kasih pada sesama yang dilakukan oleh Santo Valentine. Sepanjang misa dan juga setelah misa, shrine Santo Valentine dipenuhi dengan turis-turis yang berdoa, menyalakan lilin dan juga mengambil foto. Kucluk memang, orang-orang pada repot misa mereka pada repot foto-foto.

 

Perayaan Valentine yang ramai di berbagai kota-kota di berbagai sudut dunia tidak identik dengan misa seperti di gereja tersebut. Valentine bagi banyak orang identik dengan kencan berdua, pacaran. Nonton, makan malam, bertukar kartu berwarna merah yang dipenuhi dengan gambar hati, memberi sekotak coklat atau bahkan buket-buket mawar. Di berbagai sudut kota Dublin, pedagang kaki lima dadakan pun juga banyak yang muncul menawarkan buket-buket mawar seharga dua puluh Euro. Mereka tak lupa juga menjual kartu-kartu yang harganya tak murah dan seringkali berakhir di tempat sampah ketika Valentine usai.

https://www.instagram.com/p/BBuqRWeQxgv/?taken-by=binibule

Valentine inilah yang disebut sebagai Valentine sekuler, karena semua orang berbondong-bondong merayakan dengan cara yang jauh berbeda dengan cara gereja merayakannya. Saya pun sangat yakin, hanya segelintir orang yang tahu doa untuk Santo Valentine yang bunyinya seperti ini:

O glorious advocate and protector,
St Valentine,
look with pity upon our wants,
hear our requests,
attend to our prayers,
relieve by your intercession the miseries
under which we labour,
and obtain for us the divine blessing,
that we may be found worthy to join you
in praising the Almighty for all eternity:
through the merits of
Our Lord Jesus Christ.
Amen.

Restauran, industri dan juga pedagang ritellah yang bertanggung jawab atas Valentine sekuler ini. Mereka menangkap kesempatan untuk menjual nama Santo Valentine demi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Persis dengan Natal yang di Dublin sudah cenderung menjadi ritual sekuler dan lebih identik dengan bertukar kado ketimbang berdoa. Saking sekulernya, pastur di gereja pun sudah tak segan lain untuk nyindir jemaatnya pada saat misa Natal. Sama juga dengan sekulerisasi Santa Klaus yang aslinya berwarna hijau menjadi merah, karena Coca Cola yang sukses merubah warnanya supaya mirip dengan warna Coca Cola.

Pada akhirnya ribut-ribut tentang Valentine ini merupakan sebuah usaha yang buang-buang tenaga dengan fokus yang salah. Valentine sudah menjadi perayaan sekuler, sama seperti St. Patrick’s Day dan juga Natal. Lagi pula Valentine juga  tak pernah menjadi perayaan yang relijius kecuali di gereja di Dublin ini (serta mungkin, mungkin lho ya gereja lain yang menyimpan relic sang Santo). Dan harus diakui, perayaan sekuler ini memberikan banyak ladang keuntungan bagi banyak pihak, dari mulai petani bunga mawar, pembuat coklat, pemilik restauran yang berlomba-lomba menjual paket makan malam Valentine, hingga para pedagang lingerie yang tokonya selalu penuh menjelang Valentine. Satu hal lagi yang perlu dicatat, merayakan Valentine tak berarti mengubah seseorang menjadi Katolik. Menjadi Katolik saya kira tak semudah itu. Kalau menjadi Katolik semudah itu, wah alamat gereja-gereja di dunia bakalan penuh.

Jadi kamu merayakan Valentine atau tidak?

xx,
Tjetje

Perbedaan Irlandia Utara dan Irlandia Selatan

Vietnam dibagi menjadi dua, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Wilayah utara lebih dingin ketimbang yang selatan. Kendati terbagi menjadi dua, negara ini merupakan sebuah kesatuan. Hal ini tentunya berbeda dengan Korea yang terbagi menjadi dua negara yang berbeda, Korea Selatan dan Korea Utara. Bagian Utara memiliki ideologis yang berbeda dengan bagian Selatan yang merupakan republik.

Sama dengan negara-negara di atas, Irlandia juga terbagi menjadi dua, Irlandia Utara dan Irlandia Selatan. Di Irlandia sendiri kami tak pernah menyebutnya sebagai Irlandia Selatan, tetapi Republik Irlandia. Hanya saya, orang-orang Inggris sering menyebut negara ini sebagai Irlandia Selatan. Penggunaan kata yang tepat ini sangat penting dan cukup sensitif.

Pembagian Irlandia sendiri diatur dalam sebuah treaty yang  dibuat pada tahun 1921, Treaty Anglo Irish. Dua bagian ini sama-sama berkedudukan di sebuah pulau yang diberi nama Irlandia dan terletak di bagian barat Inggris. Terdapat 32 counties di pulau Irlandia. County ini semacam distrik kecil-kecil yang tak ada padanannya di Indonesia. Tak bisa disamakan dengan provinsi karena provinsi relatif lebih besar. Jaman penjajahan Belanda dulu sih county ini mirip dengan karesidenan. Walaupun kalau ditanya karesidenan apa, saya tak akan tahu. Maklum anak muda.

Dua puluh enam counties merupakan bagian dari Republik Irlandia, sehingga Republik Irlandia di bagian selatan wilayahnya lebih besar. Enam counties lainnya yang terletak di bagian utara, merupakan bagian dari United Kingdom (UK). UK sendiri terdiri dari Inggris, Wales, Skotlandia dan juga Irlandia Utara. UK inilah yang dipimpin oleh Ratu Inggris, neneknya pangeran William. Sementara Republik Irlandia dipimpin oleh Presiden dan juga Taoiseach (dibaca  tee-shock, yang seperti Perdana Menteri).

Penyebutan Irlandia sendiri identik dengan Republik Irlandia. Sementara Utara selalu disebut sebagai Irlandia Utara, tak pernah disebut sebagai Irlandia saja.

Republik Irlandia sendiri memiliki ibukota yang terletak di bagian timur pulau ini, namanya Dublin. Sementara, Irlandia Utara ibukotanya bernama Belfast. Tetapi orang-orang yang datang dari utara maupun dari selatan sama-sama disebut sebagai orang Irlandia, atau Irish dalam bahasa Inggris, terutama mereka yang memeluk agama Katolik. Sementara mereka yang memeluk agama Anglican lebih senang disebut sebagai British ketimbang Irish. Bagi orang Irlandia sendiri mereka yang dari Utara disebut sebagai Northen.

Sejarah pembagian ini sendiri terjadi pada tahun 1920-an saat Inggris masih menjajah Irlandia. Daerah Utara ditetapkan menjadi bagian dari Inggris dan daerah Selatan menjadi daerah yang independent. Pembagian Irlandia inilah yang kemudian memunculkan konflik karena ada kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan Irlandia bersatu, sementara ada yang tetap ingin loyal dengan Inggris. Konon yang 26 memang wilayah yang mayoritas Katolik, sementara yang 6 mayoritas Anglican. Jadi begitu Irlandia menuntut kemerdekaan, yang 6 ini masih ditahan oleh Inggris karena untuk melindungi mereka yang Anglican dan loyal pada sang Ratu.

Soal Anglican sendiri tak perlu dijelaskan lah ya, bisa digoogle saat jaman Henry VIII yang mau menceraikan Catherine of Aragon demi Boyle. Atau bisa juga nonton di Netflix, informasi soal ini banyak sekali.

Kembali lagi ke Irlandia Utara, selain urusan perlidungan terhadap mereka yang setia pada kerajaan Inggris serta Anglican, banyak yang mengatakan bahwa utara dipertahankan karena dahulu, industri perkapalan sangat berjaya. Titanic sendiri dibuat di Belfast, jadi bisa dibayangkan betapa besarnya industri tersebut. Sayangnya, industri tersebut sekarang sudah tak beroperasi lagi.

Sebagai dua negara yang berbeda, maka terjadi banyak perbedaan antara dua negara ini. Yang paling sederhana saja, di Irlandia menggunakan mata uang Euro, sementara di Irlandia Utara menggunakan Poundsterling. Di Irlandia menggunakan kilometer, sementara di Irlandia Utara menggunakan miles. Soal sarapan pun ada sedikit perbedaan, di Irlandia disebut Irish Breakfast, sementara di  utara disebut Ulster Breakfast.

Yang paling penting, VISA ke Irlandia Utara dan visa ke Republik Irlandia itu tidak sama. Karena Irlandia Utara bagian dari Inggris, maka visanya menggunakan visa Inggris, berbeda dengan Republik Irlandia. Nah yang perlu digarisbawahi pakai bolpen tebel, kedutaannya juga tidak sama.

Visa ke Irlandia Utara, baik itu visa untuk turis atau bergabung dengan pasangan jauh lebih rumit ketimbang visa untuk ke Irlandia. Ya maklum saja, Inggris merupakan negara yang menjadi incaran banyak migran, belum lagi banyaknya kasus perkawinan palsu bertujuan untuk mendapatkan visa tinggal membuat mereka memperketat peraturannya. Jauh berbeda dengan Republik Irlandia yang tak terlalu sulit dalam urusan visanya.

Satu hal penting dari perbedaan dua negara ini adalah, mereka yang mencari cara mendaftar visa, cara kawin, daftar sekolah, atau urusan administrasi negara lainnya harus sangat berhati-hati. Saya perhatikan sering sekali orang dari Utara memberi nasihat kepada orang yang akan ke Republik, dan sebaliknya. Padahal ini hal yang fatal sekali. Karena administrasi dua negara ini tak sama. Maksud hati mungkin baik, saling tolong-menolong, karena sama-sama mau Irlandia, tapi jangan sampai menjerumuskan.

Selain itu, mereka yang berlibur ke London dan ingin mampir ke Dublin juga wajib hukumnya daftar visa Irlandia. Begitu juga mereka yang memegang visa Irlandia jika ingin main-main ke Belfast, maka harus daftar visa dulu. Kalau engga, berabe bakalan ketahuan melanggar aturan imigrasi, walaupun secara teknis, tak ada pengecekan di perbatasan antara Utara dan Republik.

Kamu, tahukah tentang pembagian Irlandia Utara dan Republik Irlandia?

Xx,
Tjetje

Seputar Istri Bule

Perempuan Indonesia yang memiliki pasangan orang asing, dipenuhi dengan banyak stigma-stima aneh. Dari mulai disangka perempuan matre, disangka bekas pekerja seksual hingga dituduh mengawini opa-opa tua supaya bisa mengambil warisan. Yang matre saya yakin ada, yang bekas pekerja seksual juga banyak, yang nikah tak tulus pun juga banyak.  Tapi karena segelintir orang ini kebanyakan perempuan yang punya pasangan orang asing jadi dianggap jelek semua.

img_1405

Tak hanya dianggap jelek, perempuan yang memilik pasangan asing juga sering dianggap berubah dan jadi belagu karena punya pasangan bule. Manusia berubah itu wajar, manusiawi banget, apalagi adanya perubahan lingkungan, perubahan pola pikir dan tentunya perubahan ekonomi. Tapi ada beberapa hal yang nampaknya sering menjadi buah bibir.

Jadi istri bule suka pakai baju terbuka

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang urusan pakaian terbuka ini, mari kita luruskan dulu persepsi tentang baju di Indonesia. Di negeri kita ini ada satu pemikiran yang menganggap mereka yang mengenakan pakaian seksi dan terbuka adalah pendosa dan seringkali dianggap perempuan murahan.

Seringkali mereka yang mengenakan pakaian seksi langsung serta merta dianggap sebagai pekerja seksual dan murahan. Padahal ya kalau mau tahu mereka yang hidup di luar negeri itu pakaiannya lebih banyak tertutup, karena matahari disini jarang muncul. Apalagi yang tinggalnya di Eropa Utara, makin tertutup.  Kalau kemudian ada  istri bule yang jadi suka mengenakan pakaian seksi, terbuka, atau bahkan bikini ketika ada matahari, ya harap dimaklumi karena jarang terkena matahari.

Tapi alasan kekurangan matahari tak bisa digunakan ketika salah kostum apalagi di tempat-tempat dimana pakaian terbuka tak diterima di Indonesia. Ya kalau begini ingatkan saja tentang peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Lagipula yang begini kan hanya segelintir saja, gak semuanya.

Jadi istri bule tak bisa bahasa Indonesia lagi

Ada dua tipe yang seperti ini, yang pertama yang bahasa Indonesianya dicampur-campur bahasa Inggris, ada juga yang tak mau berbicara bahasa Indonesia lagi. Yang pertama tak perlu dibahas lebih lanjut, karena otak, apalagi otak saya, suka gak ingat kosakata tertentu. Tertentu lho ya, gak semua. Nah yang kedua ini sudah pernah dibahas oleh Mbak Yoyen disini. Yang ini sih memang ajaib. Di saat orang-orang berlomba menjadi poligot dengan mempelajari banyak bahasa, mereka berusaha melupakan bahasa ibu mereka. Mungkin, mungkin lho ya, menjadi poligot itu bukan hal yang patut dibanggakan.

Kemungkinan kedua yang perlu dipelajari oleh para scientist adalah kapasitas otak yang memang kecil, persis seperti disket di jaman dahulu kala. Ketika muncul bahasa baru, maka data-data di disket harus dihapus karena disketnya emang gak bisa dan gak mau untuk menyimpan semua data menjadi satu. Jadi kalau ketemu yang model begini sih gampang aja, tinggal dikasih bahasa Inggris yang agak sophisticated dengan koleksi kata-kata dari buku-buku persiapan GRE atau GMAT. Beres.

Jadi istri bule kok tak bisa bahasa asing

Nah kalau yang di atas sok-sokan tak mau menggunakan bahasa Indonesia lagi, yang ini tak bisa bahasa asing. Kalapun bisa biasanya kemampuannya sangat minim. Saya sendiri pernah duduk bersebelahan dengan seorang perempuan muda yang tak bisa bicara bahasa Inggris, maupun bahasa Perancis, bahasa asli suaminya. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia karena sang suami berbahasa Indonesia dengan baik. Mbak ini juga gak repot belajar bahasa Perancis sama sekali.

Saya juga pernah bertemu pasangan Indonesia dan Jepang yang berkenalan pada satu akhir pekan lalu memutuskan untuk langsung kawin. Anehnya, mereka tak punya satu bahasa yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. Nah bingung kan gimana caranya berkomunikasi, apalagi sampai memutuskan untuk kawin setelah satu akhir pekan?

Lha tapi kalau mereka sebagai pasangan aja tak bingung, mengapa kita yang mesti repot bingung? Bagus kan mereka tak perlu berkelahi urusan sepele dan tentunya bisa memperpanjang usia perkawinan. Perkara mereka mau ngobrol sama mertua, tetangga atau saudara lain-lainnya, ya biar mereka yang bingung.

Jadi istri bule kok sombong?

Ini bisikan yang paling sering saya dengar. Dulunya sederhana setelah jadi istri bule kok jadi sombong, jadi suka pamer. Lha ini mah jawabannya gampang, terjadi perubahan ekonomi yang diikuti dengan perubahan perilaku. Sekali lagi, yang seperti ini harap dimaklumi saja. Mungkin dulu memang gak ada yang bisa dipamerkan. Begitu ada yang dipamerkan dan ada media untuk pamer, ya ikut arus pamer-pamer. Yang begini mah banyak, gak cuma istri bule doang kan?

Ada pula yang bangganya gak ketulungan karena suaminya bule. Aduh terus terang yang kayak gini ini yang bikin sedih, karena mereka menyanjung bule lebih tinggi dari orang Indonesia dan memperkuat segregasi berdasar warna kulit. Kalau ketemu yang kayak gini jangan cuma dijadikan bahan bisik-bisik, langsung tegur aja biar ngeh kalau kita semua sederajat.

Istri bule itu beraneka ragam, seperti juga istri-istri lainnya. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang berpendidikan rendah. Ada yang elegan ada yang norak. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang diam dan ada juga yang nyinyir. Namanya manusia memang berbeda-beda.

Bisik-bisik apa lagi yang terlewatkan?

Xx,
Tjetje

Hidung dan Bullying

Hidung manusia itu bentuknya bermacam-macam, ada yang mungil, sedang dan besar. Adapula yang mancung dan juga yang pesek. Kendati bentuknya berbeda-beda, hidung manusia memiliki fungsi yang sama, beberapa diantaranya sebagai indera pembau dan juga sebagai alat untuk bernafas. Hidung juga dianggap sebagai ‘aksesoris’ yang mendefinisikan kecantikan ataupun ketampanan.

Di Indonesia, hidung yang tak mancung, baik itu yang pesek maupun yang besar seringkali menjadi bahan celaan dan guyonan, karena bentuk hidung yang seperti itu dianggap tidaklah bagus. Untuk yang pesek dicela karena kacamata akan selalu melorot, padahal belum tentu hal tersebut benar, hingga kemudian diberi nama yang indentik dengan anggota tubuh tersebut. Yati pesek contohnya, artis yang terkenal karena hidungnya yang pesek. Sementara hidung yang besar disamakan dengan buah seperti jambu bol. Mereka yang memiliki hidung sedikit bengkok kemudian disamakan seperti burung paruh bengkok.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, hidung mancung dianggap lebih baik ketimbang hidung yang tak mancung. Hidung mancung tanpa lebih indah dan menarik, walaupun konon secara fengshui tak terlalu membawa hoki. Kendati tak seperti di Korea dimana obsesi untuk membenahi anggota tubuh sangat tinggi, di Indonesia tetap ada kelompok-kelompok yang memiliki obsesi untuk memancungkan hidungnya. Mereka tentunya orang-orang yang memiliki uang berlebih untuk melakukan operasi ini. Tentu saja operasi ini kemudian menjadi bahan bincang-bincang dan bisik-bisik. Seringkali orang menganggap mereka kurang mensyukuri anggota tubuhnya. Sebuah ejekan yang tentunya bertolak belakang jika dikaitkan dengan celaan yang diberikan kepada mereka.

Sementara mereka yang tak punya uang, cukup berpuas diri dengan proses menarik-narik hidung untuk memancungkan hidung, memijat daerah sekitar hidung atau bahkan membeli alat pemancung hidung. Keefektifan alat ini bagi saya sangat tak jelas, sama tak jelasnya dengan dampak negatif yang muncul karena menggunakan alat ini.

pexels-cottonbro-studio-7585026

Hidung saya sendiri cukup mancung walaupun tak sepanjang hidung para orang-orang asing. Jika orang berhidung pesek banyak dicela karena bentuk hidungnya yang mungil, saya yang berhidung mancung ini bolak-balik diremehkan. Mungkin bagi mereka tak wajar perempuan berkulit sawo matang seperti saya memiliki hidung yang mancung. Suatu ketika, saya sedang terbaring di tempat tidur di sebuah rumah sakit untuk melakukan perawatan wajah secara rutin. Seorang suster yang membersihkan wajah saya berbasa-basi menanyakan apakah hidung saya asli atau bukan. Yang kemudian saya jawab dengan jujur bahwa hidung saya memang asli. Eh jawaban saya ketika itu tak dirasa cukup, lalu suster itu mulai meraba-raba hidung, digoyang kanan kiri, kemudian dipencet untuk mengecek keasliannya. Baru kemudian setelah dipastikan asli dia berkata: “Oh Asli”. Sumpah ya ini suster emang reseh dan gak sopan.

Seorang petugas Imigrasi di Jakarta Timur juga pernah melemparkan guyonan tak pantas tentang hidung saya. Ketika itu saya ditanya akan kemana kok memperpanjang passport saya. Saya pun asal menjawab ke Thailand. Eh sang petugas kemudian berujar: “Ngapain ke Thailand kan hidungnya sudah mancung?”. Reseh banget ya, saya mau kemana aja kan bukan urusan petugas dan tubuh saya juga bukan obyek guyonan buat petugas.

Mereka yang memiliki hidung pesek kemudian kawin dengan pasangan dengan hidung mancung juga seringkali dibully, apalagi ketika hamil. Doa-doa yang diucapkan biasanya tak jauh-jauh dari harapan supaya hidung si anak yang sedang dikandung memiliki hidung yang mancung seperti bapak atau ibunya. Apalagi kalau bapaknya orang asing, makin sering dengar doa-doa seperti ini: “Duh semoga hidungnya mancung seperti Bapaknya ya”. Lha emang kalau hidungnya pesek kenapa? Kok sepertinya hidung pesek itu nista banget.

Bagi sebagian orang hidung juga dianggap sebagai sarana untuk membaca kepribadian orang tersebut. Dari berbagai macam kepribadian ini saya hanya ingat bahwa pria-pria hidung bengkok identik dengan hal-hal yang kurang baik, termasuk dianggap kurang setia. Nah masalahnya kalau kemudian terjadi operasi plastik untuk mengubah bentuk hidung, apakah kepribadiannya akan berubah dan masih bisa diterawang? Entahlah.

Pada akhirnya, hidung dan tubuh kita adalah hadiah yang patut kita syukuri. Mau mancung ataupun pesek,sudah sewajarnya disukurin. Kalau kemudian mau dioperasi juga itu urusan dari masing-masing individu. Tapi yang pasti, sebagai individu kita tak berhak untuk menghakimi orang lain karena pilihannya untuk merubah bentuk anggota tubuh tersebut, apalagi mencela orang lain karena bentuk hidungnya yang dianggap tak indah. Padahal indah itu tergantung dari persepsi masing-masing dan sesungguhnya, semua hidung itu indah, karena mereka memainkan fungsi penting bagi tubuh kita.

Sukakah dengan bentuk hidung yang kalian punya?

Xx,
Tjetje

Otrivine-Did-You-Nose-It-Infographic-v3

Pemeriksaan Imigrasi

Saya suka banget nonton acara “Nothing to Declare” seri dokumenter tentang orang-orang yang melewati imigrasi di berbagai negara. Ada empat negara yang selama ini saya lihat, Australia, UK, Canada maupun America. Favorit saya Australia, karena negara tetangga ini peraturannya banyak, ketat dan juga sering didatangi orang Indonesia. Dari pelajar, pencari kerja hingga penari cabaret.

Banyak kasus-kasus menarik yang muncul di acara ini, dari mulai penyalahgunaan visa hingga penyelundupan barang terlarang seperti narkotik. Baru-baru ini dua orang pria Indonesia masuk NtD karena mereka berencana untuk menghadiri konferensi keamanan di Australia. Konyolnya mereka masuk pada hari terakhir konferensi tersebut. Nah ini bapak menurut saya salah strategi, dimana-mana itu orang Indonesia datang konferensi hari pertama dan hari selanjutnya ngabur entah kemana. Abis itu catatan rapat tinggal minta sama network yang sudah dibangun di hari pertama. Mereka kemudian dicecar dengan aneka rupa pertanyaan dan dibantu dengan seorang penerjemah lewat telepon. Ketika ada pertanyaan tentang perkawinan, si bapak mengaku sudah kawin, tapi oleh penerjemah diterjemahkan belum. Ngaco…ngaco bener deh penerjemahnya. Pihak Australia sendiri akhirnya membatalkan visa dan mendeportasi dua orang pria ini karena mereka dicurigai akan mencari kerja.

Ada pula kelompok penari kabaret  dari Indonesia yang katanya akan berlibur. Tapi ketika blackberrynya diperiksa petugas, ada pembicaraan dari temannya yang memberi arahan jika ditanya oleh imigrasi. Dalam sms arahan itu, dia harus mengatakan sedang liburan. Liburan tapi bawa kostum kerja. Hebatnya ya, itu sms walaupun dalam bahasa Indonesia bisa tetep dideteksi.

Banyak juga kasus-kasus dimana para penumpang bawa makanan yang jelas-jelas dilarang di Australia. Para penumpang ini juga sering tidak mendeklarasikan makanan yang dibawa, padahal mendeklarasikan bawaan itu penting supaya tidak kena denda. Orang Indonesia mah aneh-aneh yang dibawa, termasuk kerupuk, tempe dan babi panggang merah. Alamat, makanan disita, mereka pun didenda dari mulai ratusan hingga ribuan dollar Australia. Ada yang heboh nangis-nangis juga karena ditegur petugas. Pada episode terakhir yang saya tonton, ada satu keluarga dari Australia yang mendeklarasikan bawaan mereka, salami dan keju. Tapi karena makanan tersebut dilarang masuk ke Australia, mereka duduk rame-rame di bandara sambil ngabisin makanan tersebut. Ya kalau cuma bawa salami sama keju mah enak bisa langsung ditelan, kalau bawa rendang mah kudu masak nasi putih dulu sama sambel biar mantap. Urusan makanan ini jadi seru kalau yang kena tangkap adalah ibu-ibu dari China. Alamak ributnya dipastikan seru dan kocak. Perdebatannya juga seringkali mbulet dan gak masuk akal. Tapi tetap aja petugas menang wong mereka menegakkan aturan.

Talking-Travel-Nothing-to-declare

tagnya bisa dibeli di http://www.annabeltrends.com

Selain urusan makanan, ada kasus-kasus dimana penumpang menyelundukan narkoba ataupun rokok. Waktu itu bahkan ada yang ngaku mau liburan bersama istrinya tapi as mereka berdua isinya rokok semua, tak ada sehelai bajupun. Aduh kasihan deh lihat yang kayak gini pasti mereka ini kurir yang dikerjain mafia.

Selama liburan ke berbagai negara saya hanya pernah berurusan dengan imigrasi di Dublin ketika baru pertama kali datang ke Irlandia. Mungkin ketahuan ya bahasa tubuhnya kalau baru datang ke sebuah negara. Selain itu bawaan saya segambreng, sementara biasanya saya hanya bermodalkan tas punggung. Ketika itu petugas imigrasi mengecek apakah saya membawa susu dan daging. Pertanyaan yang kurang cocok bagi saya karena tak mengkonsumsi susu dan daging. Kendati tak membawa susu dan daging, saya tetap mengikuti prosedur dan membiarkan mereka mengecek tas saya.

Imigrasi di Indonesia konon sedang berbenah untuk meningkatkan pendapatan cukai mereka, terutama dari mereka yang hobi berbelanja di luar negeri. Menurut peraturan, belanjaan di bawah 250 dollar sih tidak akan dikenakan cukai. Tetapi di atas angka tersebut akan dikenakan cukai. Prakteknya bagaimana saya tak tahu, tapi ada banyak cara tersebar di internet untuk mengakali para petugas imigrasi. Tips mengakali petugas ini dari mulai melepas label, membuang bungkus hingga bukti pembayaran sampai menggunakan barang tersebut sebelum dibawa kembali ke Indonesia supaya tak terlihat baru. Soal membuang tanda terima sih buat saya akan berbahaya, karena petugas bisa seenaknya menetapkan harga yang dia mau dengan harga setinggi mungkin.

Saya memahami keengganan orang Indonesia untuk membayar cukai. Kok bayar cukai, ngisi formnya ada pada males semua. Selain karena belanjaan di luar ini seharusnya mendapatkan privilege harga luar negeri (apalagi sudah bayar tiket dan hotel), juga karena orang tidak mempercayai kebersihan bea cukai Indonesia. Soal yang pertama sih saya tak bisa berkomentar, karena saya lebih suka belanja di Indonesia (apalagi saat Inacraft). Sementara soal yang kedua, tinggal sistemnya saja yang diperbaiki, supaya mereka yang belanja di luar negeri bisa membayarkan cukai secara transfer dan tak melibatkan uang tunai sama sekali.

Kalau sudah begini, saya mah cuma bisa menyarankan mereka yang hobi belanja di luar negeri sambil foto-foto di depan butik untuk menghentikan kebiasaan. Bukan apa-apa, nanti kalau telepon genggam di cek oleh petugas imigrasi, persis seperti petugas imigrasi di Australia tadi ya modyar lah ketahuan abis beli tas. Apalagi kalau pamernya model Syahrini yang belanjaannya dihamparkan di depan mata. Yang hobi belanja untuk dijual kembali dan hobi dititipin juga mesti hati-hati nih. Sudah direpotin masih harus nanggung biaya-biaya lain.

Kamu jika belanja di luar negeri sudikah membayar cukai masuk?

Xx,
Tjetje

Jaminan Rumah di Irlandia

Bulan Januari lalu, televisi di Irlandia dihebohkan dengan tayangan tentang keluarga homeless. Ada beberapa keluarga yang ditayangkan, tapi salah satunya seorang ibu tunggal dengan seorang anak perempuan. Mereka tinggal di dalam hotel, memiliki kendaraan dan ibunya menggenggam iphone teranyar. Kepala saya yang asli Indonesia itu otomatis mikir, bagaimana bisa tak punya rumah tapi punya kendaraan dan memegang gawai terbaru. Dalam kalkulasi à la Indonesia, rumah seharusnya menjadi prioritas utama ketimbang kendaraan, apalagi gawai. Tapi di Irlandia, semuanya berbeda.

Dalam bahasa Indonesia, homeless saya artikan sebagai gelandangan, tapi istilah ini nampaknya tak tepat, karena homeless berarti tak punya tempat tinggal tapi tak harus menggelandang. Ada visible homeless yang terlihat di jalan-jalan dan ada hidden homeless yang kemarin ditayangkan di televisi. Mereka yang numpang tinggal dengan keluarga pun ternyata bisa dimasukkan dalam kategori hidden homeless.

Di Irlandia, isu homeless ini adalah isu yang panas dan terjadi dimana-mana. Nah, setelah baca-baca website citizen di Irlandia, ternyata orang-orang Irlandia yang tak punya penghasilan, alias bergantung pada jaminan sosial itu bisa mendapatkan rumah dengan harga sangat murah atau bahkan dana bantuan untuk menyewa rumah. Tentunya tak semua orang bisa dapat dan prosesnya panjang dengan seleksi administrasi terlebih dahulu. Tapi tetap ada pemberian rumah secara murah dari uang pajak. Murahnya kebangetan, untuk seumur hidup, sampai seringkali ini disebut sebagai rumah gratisan.

Dengan krisis yang baru saja menghantam Irlandia, terjadi banyak keruwetan di negara ini. Krisis yang menghempas negeri ini membuat banyak orang kehilangan rumah karena rumah mereka disita oleh bank, ongkos sewa kamar atau bahkan rumah di Irlandia juga tak murah. Kamar sendiri berkisar dari 800  hingga lebih dari seribu Euro, ini tentunya harga sewa pada saat tulisan ini dituliskan dan harganya terus-menerus naik. Keruwetan ini kemudian ditambah dengan tingginya permintaan rumah  sosial yang tak berimbang dengan tingginya persediaan rumah.

Niat pemerintah untuk mendirikan rumah-rumah sosial pun tak mudah diwujudkan. Di dekat daerah tempat saya tinggal misalnya, ada tanah lapang yang luas, tapi rencana ini ditolak mentah-mentah oleh masyarakat di wilayah tersebut. Alasan penolakannya beraneka rupa, dari mulai takut harga rumah mereka akan turun drastis hingga keengganan bertetangga dengan orang-orang yang bergantung pada jaminan sosial karena adanya kemungkinan perilaku anti-sosial.

Pusingnya pemerintah Irlandia pun makin bertambah ketika mereka menawarkan rumah-rumah yang sudah ada kepada orang-orang yang memerlukan. Studi yang baru-baru ini dikeluarkan menunjukkan bahwa banyak penolakan dari mereka yang membutuhkan rumah. Alasan mereka menolak rumah yang ditawarkan pemerintah beraneka rupa, tapi alasan terbanyak karena rumah yang ditawarkan tak memiliki  halaman, tak memiliki tempat parkir, berlokasi di daerah yang tinggi perilaku anti-sosialnya, lokasi apartemen di lantai atas atau karena terlalu kecil. Padahal, ketika mereka menolak tawaran, mereka tidak akan ditawari rumah lagi hingga satu tahun ke depan.

Selain diberikan tawaran rumah, orang-orang yang memerlukan rumah juga diberikan dana subsidi untuk menyewa rumah. Besarannya tergantung dari wilayah tempat tinggal, di Dublin misalnya ongkos sewa yang diberikan sekitar 950 – 1000 Euro. Tentunya ini tak untuk semua orang, hanya untuk mereka yang memiliki gaji kecil dan kurang mampu.

Di Irlandia sendiri, banyak pemilik rumah yang enggan menyewakan rumahnya kepada mereka yang mendapatkan alokasi untuk sewa rumah dari pemerintah. Mereka yang melakukan ini bisa dilaporkan dan mendapatkan hukum. Tapi perlu dipahami juga bahwa ketakutan mereka karena mereka takut tak dibayar karena uang sewa tak diberikan langsung kepada pemilik rumah dan enggan berurusan dengan dokumen yang lebih panjang daripada sewa-menyewa biasa. Ditambah lagi, jika terjadi masalah di masa datang, ‘mengusir’ penyewa ternyata tak mudah. Ada tata cara panjang secara tertulis untuk mengosongkan rumah. Tak seperti di Indonesia yang menggunakan preman atau Satpol PP.

Nah kalau sudah gini, saya jadi teringat dengan koh Ahok yang menyediakan rumah gratis di Jakarta sana. Prinsip dan tujuannya mirip-mirip lah dengan di Irlandia, walaupun ada banyak keributan di sekitarnya, termasuk ribut soal uang iuran sepuluh ribu rupiah hingga soal lokasi yang tak sesuai. Rumah gratis ini juga mengingatkan saya pada pak becak di Yogyakarta yang rumahnya luluh-lantak dihancurkan gempa. Sambil mengayuh becaknya, pak becak tak berhenti bersyukur padahal rumahnya hanya mendapatkan bantuan setengah tembok dan setengah dinding bambu. Sungguh sebuah pendekatan yang berbeda dengan orang-orang di sini yang hanya mau rumah di daerah tertentu, dengan parkiran dan halaman.

Sebagai pembayar pajak, apakah kalian setuju jika pajak yang kalian bayarkan ke negara kemudian digunakan untuk memberikan rumah-rumah murah bagi masyarakat yang dianggap kurang mampu?

Xx,
Tjetje

Makanan Bayi Bule

Saya pernah menertawakan orang yang menggoogle judul postingan ini. Ketika itu saya tak habis pikir kenapa ibu-ibu ini repot pengen niru makanan bayi bule. Eh ternyata adik ipar saya juga sempat ingin melakukan hal serupa akibat melihat makanan bayi bule di youtube. Ia menggalau dan menulis postingan panjang di Facebook sambil bertanya-tanya apakah anaknya cukup gizi dan vitamin? Pinter dan sehat?

Ipar saya membandingkan makanan bayi bule dengan makanan bayi di Indonesia. Si bayi bule misalnya diberi 5 makanan yang berbeda dan terlihat bergizi tinggi seperti salmon atlantis, yoghurt, roti diolesi keju dan tuna. Bayi-bayi bule ini juga diberi cemilan sehat seperti blueberry dan kiwi. Jauh berbeda dengan bayi Indonesia yang makannya nasi dengan kuah bakso, sop, bayam.  Selain urusan menu, ipar saya juga terpukau melihat bayi-bayi yang umurnya belum setahun ini ‘makannya pinter’, gak berantakan.

Ijinkan saya, yang belum menjadi ibu dan belum punya rencana untuk menjadi ibu, memberikan sedikit cerita tentang bayi-bayi bule yang saya lihat dalam hidup saya (baca: keponakan-keponakan saya yang lucu) juga tentang makanan yang mereka makan.

Pertama, soal makanan bergizi. Buah-buahan yang dianggap kaya gizi seperti blueberry, kiwi dan berries lainnya adalah buah-buahan lokal bagi masyarakat disini. Harganya pun relative murah dan terjangkau. Ambil contoh kiwi, seringkali dijual seharga 49 atau 99 sen saja untuk enam biji. Sementara berries, sedikit lebih mahal dari kiwi tapi harganya memang tak semahal di Indonesia. Saat musim panas bahkan kita bisa memetik berries liar, asal telaten. Kenapa buah-buahan ini murah? Karena mereka buah lokal. Sama lokalnya dengan pisang kepok, mangga, manggis, rambutan, durian, jeruk dan juga pepaya di Indonesia.

Di Indonesia, mendapatkan buah-buahan ini memang tidaklah mudah dan tidaklah murah. Tapi seperti saya sebut di atas, ada buah-buahan lain yang ‘lebih lokal’ dan lebih mudah didapatkan.  Berries mungkin saja disebut sebagai buah super, tapi sebenarnya buah tropis seperti pepaya dengan enzim papain-nya juga gak kalah supernya kok, plus harganya murah. Satu hal yang perlu disyukuri oleh ibu-ibu di Indonesia, walau tak punya berries murah, Indonesia punya matahari dan matahari ini memberi vitamin D. Disini anak-anak usia 1  hingga 3 tahun itu banyak sekali yang mengalami kekurangan vitamin D. Jadi, count your bless.

https://www.instagram.com/p/BBFzgI6QxlO/?taken-by=binibule
Modyar aja kan kalau ibu-ibu disini pengen beli buat tropis.

Begitu juga dengan salmon, di sini, salmon adalah ikan lokal yang mudah didapatkan dalam kondisi segar dan lagi-lagi harganya murah. Satu ikan salmon utuh misalnya dijual dengan harga 12€. Tuna sendiri sedikit lebih mahal, kalaupun ada tuna murah biasanya tuna dalam kaleng. Sepengen-pengennya ngasih makan salmon, kalau kata saya sih mendingan gak usah, selain mahal, juga karena salmon yang di Indonesia itu sudah tak begitu segar. Ikan-ikan ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Norwegia, jadi mendingan beli ikan lokal yang memang baru saja di panen dari lautan Indonesia. Soal keju tak perlu dibahas lah ya, sudah bukan rahasia lagi kalau makanan berbasis susu adalah makanan yang kurang sehat, walaupun rasanya enak.

Kedua soal bayi-bayi makan sendiri dan gak berantakan. Aduh ini video bohong bener deh. Ponakan saya yang umurnya tiga tahun pun biar dikasih makanan yang sudah dipotong kecil-kecil, dipasangin bip, juga masih berantakan sampai di lantai. Tapi proses belajar makan sendiri gak berhenti karena lantai berantakan dan mereka tetap disuruh makan sendiri. Sementara ponakan lain yang umurnya hampir setahun belum bisa makan sendiri, apalagi makan pakai sendok. Kalaupun megang sendok biasanya dibuat mainan aja. Bukan berarti dia gak diajarin makan sendiri, tetep diajari dengan memberikan makanan yang dipotong kecil-kecil supaya bisa langsung masuk ke mulut. Nah pertanyaannya Ibu-ibu di Indonesia bisa sabar dan telaten kalau lihat makan berantakan di meja dan di lantai? Ada juga gemes karena makanan terbuang lalu ngomel-ngomel.

Baby covered in spaghetti

Photo: huffington post

Ada satu lagi komentar ipar saya yang bikin saya ngakak kencang, soal dapur-dapur bersih à la katalog IKEA yang seperti tak ada kehidupannya. Ia juga berkomentar soal para ibu-ibu yang langsing, sempet dandan cantik dan rambutnya halus. Untungnya ipar saya sadar kalau para ibu-ibu ini cantik karena mau nongol di video youtube. Tapi selain itu ada satu hal yang mesti dipahami, dapur-dapur di sini cenderung bersih karena kecil dan begitu selesai masak langsung dibersihkan. Ditambah lagi, dapur disini tidak dipakai goreng terasi dan gorengan-gorengan lainnya yang minyaknya menyebar kemana-mana. Jadi bersih, gak berminyak. Ibu-ibu ini juga bisa segera mengecil, selain karena ngurus rumah tanpa pembantu pekerja juga karena pakai usaha ke gym. Patut dicatat, bapak-bapak juga sering ikutan bersih-bersih rumah. Jadi ya monggo itu bapak-bapaknya disuruh ikutan bersih-bersih rumah supaya ibu-ibu bisa segera ke gym.

Di akhir postingannya ipar saya berdamai dengan kenyataan bahwa meniru makanan bayi bule itu memerlukan seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah per hari (Oh I love you adik Ipar). Ipar saya juga berdamai dengan kenyataan bahwa keponakan saya yang lucu adalah bayi Jawa yang lebih cepat disuapi nasi kuah kaldu, wortel dan bayam sembari digendong kain jarik sambil nonton kucing di teras #IndonesiaBanget. Bayi Irlandia mana bisa digendong di teras, selain harus dibungkus dengan baju berlapis, juga karena nyuapin di teras itu dingin. Lagipula disini tak ada kebiasaan makan sambil berdiri, semua duduk di kursi bayi atau di stroller.

Kesimpulannya, rumput tetangga tak selamanya lebih hijau dan percayalah, luar negeri tak selalu sebagus di video-video youtube itu. Jadi jangan berkecil hati karena makan makanan Indonesia dengan gaya Indonesia. Buah dan sayuran lokal kita toh sebenarnya tak kalah bermutu, walau tak bisa dipungkiri nyari buah lokal di Indonesia itu susah, karena pasar buah kita sudah tergempur dengan buah dari Cina yang murah dan kualitasnya dipertanyakan.

Btw, sudah tahu kan kalau hari Senin adalah hari terlarang untuk beli salmon di Indonesia?

xx,
Tjetje

Label Jelek Untuk Janda

Akhir tahun lalu jagat pergosipan di Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Mulan Jameela yang mengadakan wawancara dengan Dedi Cobuzier. Inti bincang-bincang itu ada dua, pertama minta maaf ke Maia  dan yang kedua soal haters yang punya banyak waktu untuk komentar ajaib di IGnya Mulan  Komentar-komentar di IG Mulan itu sadisnya gak karu-karuan, bahkan bawa-bawa almarhum ibunya. Coba deh kalau punya waktu iseng-iseng bacain.

Tapi benang merah yang saya baca, para haters ini kesel luar biasa karena Mulan mengawini Dhani yang pada saat itu belum bercerai secara resmi dari Maia yang merupakan bekas partner Mulan bernyanyi. Label perusak rumah tangga pun semakin kencang di tempelkan pada Mulan. Padahal siapa yang tahu kalau rumah tangga tersebut mungkin sudah rusak dan guncang ketika Mulan datang. Perbincangan itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah tulisan saya yang tak kunjung usai, tentang janda dan ketakutan masyarakat kita.

Tidak bisa dipungkiri masyarakat kita, terutama di daerah yang tidak terlalu individualis, banyak yang tidak menyukai dan ‘takut’ pada janda. Takut jika rumah tangga mereka mendadak menjadi berantakan karena ada janda yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Ketakutan ini tak hanya kepada janda cerai saja tetapi juga janda mati dan akan semakin menjadi-jadi ketika janda tersebut cantik, masih muda dan tak punya anak, atau biasa disebut sebagai janda kembang.  Herannya, ketika ada anak gadis orang yang cantik, masyarakat cenderung tak terlalu takut pada anak gadis ini. Mungkin masyarakat kita menyamakan janda dengan vampire, vampire memangsa darah sementara janda memangsa laki orang.

Ketakutan-ketakutan ini juga dipupuk oleh media televisi melalui adopsi tayangan-tayangan di televisi yang menggambarkan kecemburuan berlebihan ketika seorang pria yang sudah kawin berbicara dengan janda. Cuma berbicara doang lho ya. Seringkali kemudian para istri tersebut menjadi sangat cemburu dan berakhir dengan adu mulut atau bahkan adegan murahan saling menarik rambut.

Lucunya, yang ditakuti tak hanya janda saja, tetapi juga anak-anak janda. Ibu-ibu insecure banyak yang cemburu kalau kalau suaminya ngobrol ataupun memberi perhatian pada anak janda. Takut jika bapaknya jatuh cinta pada anak tersebut dan buntutnya tertarik mengawini ibunya.

Janda tak hanya kurang disukai dalam lingkaran ibu-ibu insecure, tapi juga seringkali tidak disukai oleh calon ibu mertua. Ibu-ibu yang memiliki anak lajang seringkali berang ketika tahu anaknya berpacaran dengan janda. Seringkali ibu dan kadang bapaknya, enggan memberikan restu karena malu jika harus memiliki menantu janda. Rasa malu ini biasanya berangkat dari pemikiran yang menyamakan janda dengan barang yang sudah terpakai. Menyedihkan memang di jaman abad 21 ini masih ada yang menganggap manusia seperti itu. Tak hanya soal restu, orang tua juga biasanya seringkali menganggap anaknya tak kompeten karena tak bisa mencari anak gadis. Padahal cinta tak mengenal status, mau janda, mau duda, mau lajang, semuanya bisa ditembak cupid kapan saja.

Janda baik itu yang kawin ataupun yang cerai sering kali dilabeli hal-hal buruk seperti pengeruk uang, perebut suami, simpanan, tukang guna-guna laki orang dan banyak label jelek lainnya. Herannya label-label negatif terhadap janda ini tak diberikan kepada para duda, baik itu duda yang istrinya meninggalataupun duda yang bercerai. Nampaknya masyarakat kita jauh lebih bersimpati kepada para duda ini, sehingga memunculkan istilah duren, ataupun duda keren. Padahal jaren – janda keren, atau jantik – janda cantik juga banyak. Kalau begini harus diakui masyarakat kita memang masih seringkali tak adil pada perempuan, apalagi terhadap janda.

divorce marriage

Jumlah angka perceraian di Indonesia naik setiap tahunnya dan otomatis jumlah janda dan duda semakin meningkat. Perempuan-perempuan masa kini tak takut lagi untuk menjanda,  selain karena kemandirian ekonomi juga karena adanya keberanian untuk meninggalkan perkawinan tak sehat. Bagi saya, perempuan yang berani meninggalkan perkawinan yang tidak sehat harusnya diberikan acungan jempol karena butuh nyali untuk melakukan hal tersebut. Apalagi dalam lingkungan yang  masih sering takut pada janda. Tugas kitalah sebagai anak-anak muda untuk berhenti takut dan berhenti memberi label negatif kepada janda.

Di lingkunganmu, adakah kekejaman mulut pada janda?

Xx,
Tjetje

Pengguna Internet Kejam?

Pernah dengan tentang #HasJustineLandedYet? Hashtag ini muncul pada tahun 2013 setelah Justine Sacco, seorang PR dari sebuah perusahaan di New York menulis twitter yang offensive. Bunyi tweetnya saat itu seperti ini:

Justine Sacco

Twit itu dituliskan ketika ia sedang menunggu penerbangan lanjutan dari London ke Afrika Selatan. Ketika kemudian twit itu menjadi viral, karena dipopulerkan oleh BuzzFeed, Justine sedang berada di atas pesawat dan tak bisa membela dirinya. Wah bisa dibayangkan keriuhan yang terjadi di twitter, ancaman mati pun dilayangkan ke Justine. Tak lama setelah Justine mendarat, dia dipecat dari pekerjaannya dan dunia pun bersorak-sorak menikmati kemenangan. Satu penjahat virtual berhasil dilumpuhkan. 1-0.

Kasus serupa tapi tak sama baru-baru ini terjadi dengan Holly Jones, seorang penata rambut di Amerika yang marah-marah karena urusan tagihan di sebuah bar tempat dia merayakan tahun barunya. Holly Jones kemudian memuat keluhan di Facebook bar tersebut sambil ngomel-ngomel tentang pengalaman tak mengenakkan di bar tersebut apalagi ketika seseorang ditandu keluar dari bar tersebut. Ia yang kepalang emosi menuduh orang yang ditandu tersebut adalah pengguna narkoba yang overdosis. Ternyata oh ternyata, yang ditandu adalah seorang nenek-nenek yang mengalami sakit jantung. Ya sudah bayangkan saja betapa marahnya para pengguna internet terhadap Holly.

holly-jones

Akun facebook Holly kemudian dihapus dan Holly mengatakan bahwa akunnya dibajak (ya kaleee…). Dan yang paling parah, laman Facebook salon tempat Holly bekerja dibombardir dengan tekanan-tekanan untuk segera memecat Holly. Konon si Holly sudah dipecat karena keluhannya ini.

Screen Shot 2016-01-09 at 16.54.12

Di Indonesia sendiri, kasus mirip pernah terjadi dengan Florence Sihombing, mahasiswa UGM yang berkicau tak enak tentang Yogyakarta di Path. Florence, harus menghadapi hukuman dari kampus dan diseret ke pengadilan karena menjelek-jelekkan orang Yogyakarta. Kasus ini kemudian berlanjut dan  tahun lalu ia dihukum percobaan selama enam bulan. Dalam kasus Florence tak ada pemecatan dari pekerjaan, tetapi langkah besar untuk membawa Florence ke pengadilan berhasil menempelkan  catatan tak mengenakkan yang tak hilang seumur hidup.

Dari kejadian tersebut bisa dilihat bahwa internet dan penggunanya bisa menjadi ‘ruang yang kejam’ ketika berhadapan dengan orang yang mengatakan hal-hal yang salah ataupun dianggap salah. Tak ada ruang dan celah untuk bisa melenggang meminta maaf seperti layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Mendadak definisi keadilan yang baru bagi para pengguna internet yang berbuat salah adalah kehilangan pekerjaan, kembali ke level terdasar dalam karir dan hidup hancur berantakan.

Seperti biasa saya kemudian bertanya mengapa para netizen berubah menjadi monster yang senang dan mau berkontribusi terhadap kehancuran hidup orang lain? Jawaban yang tepat mungkin karena internet memberikan ruang bagi orang untuk bisa berekpresi marah tanpa takut kehilangan muka dan tanpa takut dihakimi orang lain. Internet memberikan ruang kebebasan untuk bisa berkomentar dan melepaskan marah kepada siapa saja yang sdianggap lah. Dan tentunya muncul norma untuk bersama-sama menghujat sang pendosa; kekuatan bersama inilah yang kemudian akan menjatuhkan orang-orang yang bersalah.

Tapi sepadankan hukuman yang diberikan kepada orang-orang tersebut? Kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, malu tak karuan, belum lagi tak bisa tidur dengan nyenyak dan  dikenali orang. Jeleknya, mereka dikenali dengan cara yang kurang baik dan dengan label yang kurang baik.  Salah sendiri memang. Tapi, tidakkah mereka layak mendapatkan kesempatan kedua, diberi kesempatan untuk belajar dan mungkin pengampunan? Entahlah, mungkin kasus-kasus tersebut menjadi moment belajar bagi mereka.

Yang jelas setelah melihat kasus-kasus itu saya jadi belajar untuk semakin berhati-hati dalam mengekspresikan diri dan tentunya, berusaha untuk menjadi lebih baik. Pada orang-orang seperti Holly Jones sekalipun, karena mereka adalah manusia yang tak luput dari  kesalahan. Sama seperti kita semua.

Xx,
Tjetje

Baca juga: Belajar dari kasus Florence Sihombing

Komentar Ajaib

Punya blog itu enak gak enak, seru gak seru. Di satu sisi kita bisa berbagi pikiran dan pendapat, tapi disisi lain ada pendapat dan komentar yang kadang gak enak dibaca dan gak enak dilihat. Untungya ya, saya ini bukan Syahrini ataupun Mulan Jameela yang dihujani dengan komentar gak enak secara rutin. Jadi komentar ajaib-ajaib ini hanya muncul sesekali.

Lucunya komentar-komentar ini seringkali berlindung didalam jubah anonim. Eh halo…. jaman sekarang jadi anonim itu susah, ada teknologi yang bisa mencari jejak komentator. Belum lagi ada tombol spam yang bisa dengan mudahnya dipencet dan memudahkan proses screening komentar di masa depan. Selain pencet tombol spam, saya biasanya juga repot mengalisa lebih jauh mengapa orang-orang ini berkomentar aneh-aneh.

Di postingan tentang “dear bule hunter” disini, saya menuliskan tentang jemuran yang kesiram hujan dan akibatnya berbau apek. Disiram Chanel no. 5 seember pun bakalan bau apek. Nah salah satu orang di Indonesia sana berkomentar kurang lebihnya: “Gak punya dryer ya?”. Komentar persisnya saya tak ingat karena keburu saya tandai SPAM. Tapi dibaca dari tonenya, sang penulis terlihat sekali ngenyek atau menghina karena saya tak punya dryer.

Dihina karena dianggap tak punya dryer itu bukan hal yang penting. Saya memang gak punya dan gak pernah beli dryer. Kalaupun ada dryer di dapur, itu juga bukan hasil keringat saya jadi saya gak bisa klaim. Sekalian saya tambahin informasi biar ada bahan untuk ngenyek, saya di Irlandia juga gak punya rumah, kulkas, kompor, mesin cuci, mangkok, serbet, keset, dan makin panjang lagi daftarnya. Lha wong saya datang ke negara ini hanya bermodalkan koper yang berisikan buku-buku, tas, pakaian, sepatu seadanya saja.

Di balik komentar pendek tersebut, saya melihat sebuah kesombongan dan penghinaan terhadap kemampuan ekonomi orang lain. Betapa materialistisnya orang-orang di sekitar kita dan betapa dangkalnya cara menilai orang lain, apalagi yang tak memiliki apa-apa. Jadinya jangan heran kalau dalam lingkungan seperti ini ada orang-orang tak punya yang tak kuat iman sehingga memaksakan diri untuk terlihat kaya dan supaya lebih dihargai, bahkan hingga kartu kreditnya jebol.

Ada lagi komentar lain yang sampai sekarang gak saya approve karena emailnya abal-abal, walaupun IPnya gak bisa bohongIsinya begini:

menurut gue sih ada baiknya kalo istri-istri bule yang tinggal di indo, dandan yang cakep dong. jadi stigma istri bule mukanya kayak pembokat bisa ilang.
nggak cuma dandan cakep tapi elegant terus juga berpakaiannya mode yg lagi trendy.
jadi biarpun misalnya punya muka standart tapi setidaknya ditolong dengan dandanan yg manis dan baju oke, otomatis siapapun jadi respeklah.

ditempat gue bermukim di negara suami(bule); rata-rata perempuan bule juga pada modis loh sehari-hari. nggak ngasal. kalo dandan & pakaiannya ngasal, biasanya mereka juga jadi malu sendiri karena perempuan yang lain pada berusaha agar terlihat uptodate.

kalo di indo ada baiknya perempuan indo juga gitu deh. nggak perlu mahal-mahal bajunya yg penting dandannya oke tapi elegant.

gue sendiri beruntung punya muka diatas standard &modis trendy ….cieeee…gubrak…., jadi nggak ada dan mudah2an selamanya nggak ada label2an spt diatas.

artikelnya bagus loh..

Jreng-jreng…….muka pembantu pekerja rumah tangga dibahas lagi. Nampaknya masih ada orang-orang yang tak mengetahui bahwa PRT jaman sekarang itu penampilannya luar biasa dan dandanan mereka juga keren. Pola pikir yang masih menyuruh-nyuruh orang untuk dandan menurut saya tak menyelesaikan masalah. Orang kan gak setiap saat bisa dandan dan gak semua orang juga mau dandan. Menurut pemikiran saya, yang harus dirubah bukan dandanan orang lain, tapi pola pikir kita dalam menghargai orang lain. Orang harusnya dihargai karena mereka adalah manusia, bukan karena make up yang mereka tempelkan di kulitnya. Tapi sekali lagi di Indonesia orang memang sangat dinilai dari penampilan, biar kata gayanya selangit dengan dandangan heboh, dan kartu kredit yang sudah di ambang limit, pasti lebih dihormati. Sementara yang tak dandan dan duitnya banyak tak bakalan dilirik.

Screen Shot 2016-01-09 at 23.03.31

Photo: polyvore

Ada satu lagi komentar-komentar ajaib dari satu orang di postingan saya tentang pamer tas bermerek. Nah ini satu ngebom postingan saya dengan banyak komentar. Pendek kata komentar-komentar tersebut kalau digabungkan bakal jadi satu postingan tersendiri. Nggak perlu dikutip disini lah ya, tapi silahkan dibaca sendiri komentar-komentar di postingan lama tentang pamer tas bermerek tersebut. Hitung-hitung untuk menghibur diri.

Sering terima komentar ajaib di blog?

xx,
Tjetje