Cara Pesan Minum di Starbucks

[Postingan ini super panjang]

Di satu akhir pekan, saya nongkrong di Starbucks Senayan City. Tak jauh dari meja saya, seorang artis, R***  sedang nongkrong dengan temannya, konon desainer. Tiba-tiba, sore indah yang diwarnai wajah ganteng-ganteng itu diwarnai dengan kekusutan muka seorang bapak dan kepulan asap rokoknya. Si Bapak yang menyalakan rokok di ruangan berpendingin sukses kena tegur. Eh tapi abis ditegur malah makin ngamuk, tak hanya karena kecintaannya pada rokok tapi juga karena kopinya tak kunjung datang setelah 30 menit menunggu. Setelah dijelaskan, bahkan diberi kopi baru, si Bapak akhirnya mengerti bahwa kopi di Starbucks tak pernah diantarkan. Masih dengan muka masam, si Bapak menyeruput kopinya, lalu memuntahkannya ke lantai. Gak doyan atau kepanasan?

Gara-gara si Bapak, saya menulis ini di tahun 2013 , tapi elemen tulisan saya tak lengkap tanpa kenalan dengan Barista; makanya saya menunggu dua tahun. Pesan kopi di Starbucks tak segampang pesan kopi di Warung Kopi di Aceh karena Starbucks membuat kombinasi aneka rupa kopi, konon ada ribuan. Hal paling pertama yang harus diketahui sebelum memesan minum adalah ukuran gelas: short (tak pernah ada di menu), tall, grande, venti dan trente (hanya untuk beberapa minuman dingin & tak ada di menu). Semakin besar kopinya, semakin mahal dan semakin banyak kandungan espressonya. Venti misalnya, mengandung setidaknya 2-3 shots espresso.

Tentukan juga jenis gelas yang mau kita pakai. Mug, tumbler atau paper cup. Kalau mau nongkrong mending minta mug aja, jadi ga nyampah. Sementara kalau ingin diskon 3000 rupiah, silahkan bawa tumbler sendiri. Btw, garis-garis di cup plastik Starbucks itu memiliki makna dan merupakan patokan untuk pembuatan minuman.

Tipe kopi, decaf atau half-decaf (separo decaf, separo regular) perlu diinformasikan kepada Barista supaya minuman kita tepat.  Jenis susu juga penting, apalagi buat saya yang tak bisa minum susu sapi. Susu kedelai bisa jadi alternatif dengan biaya tambahan extra 7500. Kalau sedang diet dan ingin susu yang rendah kalori, bisa juga minta skinny. Saran saya kalau diet mendingan gak usah ngopi disini karena kalorinya ratusan; atau bisa juga minum teh saja.

Mari kenalan sama minuman yang paling sederhana: espresso, yang merupakan bahan dasar aneka minuman kopi. Espresso sendiri merupakan teknik penekanan kopi dengan suhu dan jumlah air tertentu untuk membuat konsentrat kopi. Espresso disajikan dalam cangkir kecil, single (29 – 37 millimeter) ataupun double dan dibuat selama 25-33 detik saja.  Selain disajikan polos tanpa ‘topping’ espresso bisa juga disajikan dengan whipped cream, espresso con panna atau dengan buih susu, espresso macchiato.

Americano, Capucinno, Latte, Caffè Mocha adalah beberapa tipe kopi yang berbahan dasar espresso. Bedanya apa? Americano itu espresso dicampur air. Sementara latte merupakan espresso dicampur steamed milk dan buih susu; tapi steam milknya lebih banyak ketimbang buihnya (wet). Buat yang gak seneng komposisi ini bisa minta latte dry atau bahkan extra dry; buihnya lebih banyak ketimbang susunya.

Cappuccino sendiri mirip dengan espresso, tetapi takaran bahan-bahannya dalam jumlah yang sama; 1:1:1.  Lalu, Caffè Mocha adalah perpaduan espresso & coklat. Supaya gampang mari ditengok infographic di bawah ini.

designinfographics_Kopi starbucks

infographic courtesy of http://www.designinfographics.com

Selain kopi berbahan espresso, Starbucks juga menawarkan MISTO. Bahasa Perancisnya cafe au lait sementara dalam bahasa Indonesia artinya kopi susu. Kalau espresso pakai mesin khusus, misto ini kopinya di brewing, lebih lama dari proses bikin espresso.

Dagangan khas Starbucks adalah Frapuccino, yaitu es di blender dengan kopi, susu, buah (sirup buah lebih tepatnya) atau green tea dan diberi aneka rupa sauce (bukan saus tomat, apalagi saus sambal, tapi caramel sauce). Bagi yang tak ingin es bisa minta light ice, sementara di Amerika bahasa yang tepat adalah easy on ice. Biasanya, frappucino dihiasi dengan whipped cream. Frapuccino bisa juga dipesan dengan gaya affogato. Espresso pada minuman affogato ini ga diblended tetapi dituangkan di atas, pada akhir proses, biasanya disajikan tanpa whipped cream. Untuk Frappucino saya akan jelaskan sebagian pada postingan terpisah. Tak semuanya bisa dijelaskan karena ada banyak macamnya, bahkan ada edisi terbatasnya.  Selain Frapuccino, Starbucks juga jualan banyak minuman lain seperti ice chocolate dan teh; gara-gara ekpansi minuman non-kopi inilah Starbucks mengganti logonya.

Jadi, bagaimana cara mesen yang benar? Mulai dari ukurannya dulu, kalau mau upsize (biasanya pakai kartu kredit BCA) sebutkan dulu ukuran asli yang mau kita upgrade. Lalu beritahu panas atau dinginnya, supaya Barista bisa ambil gelas yang tepat. Kemudian, urutin permintaan aneh-aneh kita dengan kolom yang tersedia (lihat sisi kanan infographic di atas). Contoh paling sederhananya: grande upsize to venti| Ice americano| decaf| single shot| extra syrup.

Beberapa hal random tentang Starbucks

  • Berilah Baristanya tip karena honor atau gaji Barista itu tak sampai harga 2-3 gelas minuman yang kita pesan. Jadi berbaik hatilah member mereka tips, apalagi kalau minuman kita ribet. Tipping ini biasanya dibagi rata oleh semua Barista, walaupun ada juga Barita yang ngalami gak kebagian tip.
  • Bersihin meja yang kita pakai, bukan harus di lap, cukup di buang cupnya atau kembalikan gelasnya ke counter. Tak hanya membantu Barista, ini juga membantu konsumen selanjutnya.
  • Kopi di Starbucks ga pernah diantar. Jadi pas pesen sebutkan nama dengan benar, atau kasih nama yang unik, biar Baristanya senyum. Kasihan lho mereka kerjanya capek.
  • Perhatikan baik-baik cup yang kita ambil dan jangan sampai ambil punya orang. Kalau ketuker, kasihan Baristanya harus ganti, padahal mereka cuma punya jatah 2 gelas sehari.
  • Makanan di Starbucks Jakarta di ambil dari sebuah bakery di BEJ. Jika tak habis, biasanya makanan ini dibawa pulang oleh Baristanya. Nah kalau gak nemu makanan di kaca pajangan, tanya sama Baristanya. Siapa tahu keselip 😉
  • Dibanyak tempat di Eropa, Starbucks banyak dicela karena kualitas minuman mereka yang dianggap tak seperti kopi. Kedai-kedai kopi di sana juga tak seramai dan sebanyak di Indonesia.
  • Starbuck City Tumbler dan City Mug banyak di koleksi. Jadi kalau ke negara-negara yang eksotis, belilah beberapa tumblers dan mug, lalu silahkan dijual lagi di Kaskus. Kadang, tak perlu dijual di kaskus, dibawa minum ke Starbucks aja bisa ditawar sama Baristanya.
  • Starbucks Dublin tak punya tumbler dan hanya punya gelas, tapi sampai detik ini baik saya maupun mas G tak pernah menemukannya. Menurut Mas G sih orang Irlandia gak doyan Starbucks & ga suka bawa tumbler.
  • Starbucks tak ada di Italia, konon selain karena orang Italy kopinya lebih enak dan punya banyak kedai kopi, harga kopi Starbucks yang mahal diprediksi bikin orang ogah bayar.
  • Jika beruntung, kita bisa dapat minuman apa saja dengan ukuran tall dengan memberikan komentar. Cek baik-baik semua receipt yang kita punya.

https://instagram.com/p/zONkrfwxqQ/?taken-by=binibule

Pusing ya lihat banyaknya minuman mereka?

Xx,
Tjetje

Antara Santet dan Pelet

Tulisan ini aslinya dituliskan dalam Bahasa Inggris dan merupakan bagian dari seri “Thing Indonesians Like”, tapi pasti orang asing itu pada bingung bacanya.

Suatu hari di penghujung tahun 2013 saya melihat foto mengenai tarif doa di akun Twitter @akbarmangindara. Foto itu diambil di sebuah rumah di Sulawesi sana. Ongkos doanya dimulai dari harga 2.500.000 hingga 150.000.000, tergantung posisi apa yang  diincar. Menariknya, posisi-posisi yang dipasang adalah posisi kepala; dari kepala desa hingga kepala provinsi, alias Gubernur. Di secarik kertas itu tak ada tarif untuk posisi Menteri apalagi Presiden, mungkin peminatnya kurang, atau harganya terlalu mahal.

Doa Berbayar

Bukan rahasia lagi bahwa pejabat-pejabat di negeri ini memang banyak yang rajin ke ‘Orang Pintar’ atau yang biasanya disebut juga Dukun. Konon, menjadi pejabat tak akan sukses dan aman kalau tak ke Dukun.

Dukun tak hanya mengurusi pejabat atau calon pejabat tapi juga mengurusi perdagangan. Ketika saya tinggal di Malang, saya banyak mendengar cerita persaingan pedagang di pasar yang diwarnai bumbu kekuatan doa dan jampi-jampi supaya dagangan lebih laku dari lapak tetangga. Makanya, jangan heran kalau melihat toko kecil super laku dikomentari  “Dukunnya kuat”.

Dukun juga bertindak sebagai agen penjualan rumah. Jika agen mencari klien, Dukun cukup membuka aura rumah, niscaya rumah akan terjual dengan mudah. Besar kemungkinan sang empunya sakit jantung setelah rumah terjual, karena sang Dukun meminta bagian yang bahkan jauh lebih mahal daripada jada agen penjualan rumah.

Dukun tak hanya bertindak untuk urusan perdagangan tapi juga bisa mengirimkan hadiah seperti Santa Klaus. Jika Santa memberikan hadiah yang membuat bahagia, Dukun memberikan santet yang membuat ngeri. Gunting, pisau, silet dan benda-benda tajam lainnya bisa dimasukkan ke dalam perut si korban. Di kelas Antropologi saya 17 tahun lalu, saya juga diajarkan bahwa Dukun bisa membuat si korban menjadi kembang amben atau bunga ranjang. Dalam kondisi ini biasanya si korban tak bisa beraktivitas karena harus bed rest. Jika diperlukan, serangan-serangan sakit juga bisa dihadirkan pada jam-jam tertentu saja dan dikirimkan melalui jasa makluk halus peliharaan sang Dukun. Cocok bagi mereka yang memendam dendam.

Karena tahu cara mengirim, dukun juga tahu cara mengobati. Dari kanker sampai HIV/AIDS yang bahkan scientist belum menemukan obatnya. Jampi-jampi,telur, mandi kembang dan apel, nampaknya lebih manjur ketimbang antibiotik apalagi kemoterapi.

Jasa Dukun juga meliputi pengisian kekuatan magisnya pada bedak, lipstick dan segala macam alat komestik. Kekuatan magisnya konon akan menarik konsumen bagi mereka yang bergerak di bidang jasa cinta satu malam. Jika ada rejeki berlebih, boleh juga memasang susuk di bagian-bagian tubuh tertentu supaya lebih menarik. Lebih murah dan tak sesakit operasi plastik di Korea sana. Mereka yang memilih susuk tentunya harus kuat iman dan tidak tergoda untuk memakan pisang mas, apalagi daun kelor.

https://instagram.com/p/oNG6rNwxl0/?taken-by=binibule

Selain santet, biasanya ada juga Dukun yang memiliki spesialisasi pelet. Jika santet memberikan sakit pada orang lain, bahkan bisa menyebabkan kematian, pelet memberikan cinta semu. Semu karena konon cinta ini punya masa kadarluarsa. Tak hanya kadarluasa, cinta ini juga bisa hilang ketika melintasi lautan. Naasnya, korban pelet ini seringkali tanpa sadar disuruh minum aneka rupa hal supaya bertekuk lutut. Konon, salah satu ramuan manjur pelet adalah campuran kopi dan darah menstruasi. Menjijikkan.

Masih banyak lagi specialisasi Dukun. Mereka bisa membuka aura untuk membantu mencarikan jodoh. Bisa juga membantu untuk mendapatkan pekerjaan impian. Bahkan, mereka bisa melihatkan masa depan bagi mereka yang tak sabar menanti.

Jika melihat tarif di atas, jasa Dukun bukanlah jasa yang murah. Kendati mahal, Dukun juga banyak dicari. Konon, daerah-daerah pesisir (tak perlu disebut namanya, nanti warganya marah) memiliki dukun yang lebih mantap ketimbang daerah lainnya.

Mengapa masyarakat kita yang katanya beragama ini masih mencari Dukun? Mungkin Tuhan saja nggak cukup, makanya harus nyari dukungan dari Dukun. Terkait dengan santet, daripada menanti karma yang akan memakan waktu lama, lebih baik bertindak seperti Tuhan saja dan menghukum orang lain. Cepat dan praktis. Mahal tak apa yang penting napsu menghukum terpuaskan. Kalau soal pelet dan percintaan ya tolong dimengertilah, kalau tak begitu nanti bisa jomblo terus dong!

xx,
Tjetje

Menonton Kemalangan

“Tadi sore ada kernet dibunuh Mbak, di Taman Mataram”

“Hah? Terus Bapak nonton kernetnya dibunuh?”

“Iya Mbak, saya nonton dari jauh. Kernetnya dikeroyok ramai-ramai.”

“Nggak ada yang nelpon Polisi Pak?”

“Polisinya datang terlambat Mbak, jadi ya sudah meninggal. Perutnya keluar semua.”

Itulah sepenggal obrolan saya dengan supir Uber yang mengantarkan saya pulang dari kantor. Cerita pembunuhan dengan kejam selalu mengejutkan semua orang, tapi mendengar orang menceritakan pembunuhan yang ditontonnya secara langsung, bukan di televisi sangatlah mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi cara menceritakannya yang sangat santai, seakan-akan pencabutan nyawa manusia dengan cara kejam itu adalah bagian dari sinetron di TV. Ketika saya mengkonfirmasi bahwa pembunuhan tersebut terjadi di depan istri sang kernet, si pengemudi dengan polosnya menjawab “Oooo…berarti perempuan yang teriak-teriak minta tolong tadi istrinya”.

Disini, semua hal layak ditonton; dari kecelakaan ringan hingga kejadian luar biasa. Sayangnya kebanyakan hal-hal yang ditonton adalah kemalangan orang lain. Ketika ada kecelakaan kecil, bisa dijamin daerah sekitar akan macet karena kendaraan memperlambat lajunya untuk melihat sejenak. Sementara saat kejadian kebakaran besar pemadam kebakaran akan susah masuk ke dalam lokasi karena terhambat warga yang menonton, bukan warga yang membantu.

karyawan nonton kosgoro

Pegawai kantoran nonton kebakaran Gedung Kosgoro (detik)

Kejadian tersebut bertolak belakang dengan pengalaman saya di Irlandia. Baik kecelakaan maupun perkelahian tak ada yang menonton. Satu ketika, saya melewati beberapa anak muda-muda di Irlandia yang bersiap-siap berkelahi. Orang-orang yang lewat di area tersebut berjalan cepat meninggalkan lokasi tersebut. Sementara saya yang Indonesia banget refleks menoleh & berjalan lebih lambat. Saya tentunya gagal melihat perkelahian itu karena pasangan memastikan kami meninggalkan lokasi secepat mungkin. Menonton hal-hal seperti ini memang sebaiknya dihindari untuk mencegah diri terluka dan tentunya supaya tidak jadi saksi di pengadilan.

Penasaran selalu menjadi alasan kuat untuk menonton sebuah kejadian. Di jaman yang serba kompetitif ini rasanya manusia tak puas dengan melihat sebuah kejadian dari sebuah tivi ataupun membaca dari koran. Sebagian kecil dari kita ingin menjadi bagian dari kejadian tersebut. Sayangnya, kejadian tersebut seringkali kejadian buruk, bukan baik. Mungkinkah keinginan ini merupakan bagian dari keinginan untuk selalu eksis?

Sungguh disayangkan penasaran ini datang di saat yang kurang tepat dan tak diwarnai dengan reaksi cepat untuk menghubungi pihak keamanan. Tak perlu disalahkan, toh dari kecil – baik di sekolah maupun di rumah — kita memang tak pernah diajarkan untuk memiliki nomor telpon polisi di tombol speed dial. Kok speed dial, tahu nomor telpon polisi, 110 saja menurut saya sudah bagus.

Ada banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala saya. Saya tak paham mengapa sebagian dari kita menyukai menonton kekerasan dan juga kemalangan? Apakah ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang lain ditimpa kemalangan? Adakah kebahagiaan dan juga kesenangan tersendiri ketika melihat hal tersebut, dari jauh sekalipun? Tidakkah mereka takut ketika mereka harus menjadi saksi? Tidakkah dia dihantui trauma karena melihat kekerasan? Segitu kurangnya kah hiburan kita?

Jenasah kernet tersebut dibawa dengan Kopaja dan diletakkan di bagian belakang Kopaja. Malangnya, seseorang yang saya kenal sedang berada di atas sepeda motornya bersebelahan dengan Kopaja tersebut, menunggu lampu merah menjadi hijau. Ia tak sengaja melihat mayat si kernet bermandikan darah di bagian belakang Kopaja. Oh tidak adakah ambulans untuk membawa sang jenasah?

Kali ini saya tak mencari tahu jawabannya karena saya terlalu terpana. Oh sungguh apa yang salah dengan sekitar kita?

Jakarta, 29.03.2015
Tjetje

Ananda Sukarlan dan Etika Menonton Konser Piano

Minggu lalu, saya berkesempatan nonton (lagi) konser pianonya Ananda Sukarlan. Konser kali ini gratis dan diadakan di Auditorium Institute Francais Indonesia. Bagi yang belum tahu siapa itu Ananda Sukarlan, beliau adalah satu-satunya pianis Indonesia yang masuk buku tentang pianis di dunia. Mas Andy, panggilan akrabnya, menciptakan banyak seri Rapsodia Nusantara yang diinspirasi dari lagu-lagu daerah Indonesia. Sampai saat ini sudah ada 18 yang telah dibuat dan janjinya Mas Andy  ia akan menciptakan sebanyak jumlah provinsi di negeri ini. Soal penampilan Mas Andy, gak perlu diragukan lagi. His music and his fingers were insanely beautiful!

Di tengah-tengah alunan Arabesque#1-nya Debussy, tiba-tiba sebuah HANDPHONE BERBUNYI dengan kencangnya. Saking kencangnya, sang pianis yang ada di atas panggung sampai noleh dan terpukau. Ibu-ibu yang handphonenya bunyi itu kebetulan duduk tak jauh di depan saya  dan butuh waktu lama bagi dia untuk menemukan handphonenya. Memalukan sekali!

Di berbagai konser yang saya hadiri — dari konser jazz sampai konser klasik — serta pertunjukan tari — dari klasik Jawa hingga balet — SELALU ada orang yang lupa mematikan handphonenya. Herannya, tragedi handphone ini tak hanya terjadi di pertunjukan gratis, tetapi juga yang berbayar. Bahkan ketika sudah diingatkan untuk mematikan, tetep saja ada yang berbunyi. Sebenarnya, mereka ini teledor, bodoh, atau egois sih?

Selan ringtone, hal lain yang bunyinya selalu menggangu adalah KEYPAD baik handphone, tablet, apalagi blackberry murahan. Noraknya, orang sering kali sibuk mengirimkan pesan ketika pertunjukan sedang berlangsung. Kemarin, saya sempat memelototin mas-mas yang sibuk memencet tabletnya yang berisik ketika mas Andy sedang bercerita. Ia tak bergeming sampai saya mengartikulasikan ketidaknyaman saya. Saya gagal paham, mengapa orang pergi ke konser kalau malas mendengar cerita pianisnya apalagi mendengarkan karya artisnya?

Cahaya yang keluar dari telpon genggam (SCREEN GLARE) juga sangat mengganggu mata penikmat pertunjukan lainnya. Tak hanya dari handphone, tapi juga dari kamera. Masalahnya orang seringkali tak sadar kalau itu mengganggu, apalagi yang mengambil video. Terus video dengan kualitas gambar dan suara yang jelek itu mau diapakan?

LAMPU KILAT juga merupakan pengganggu konser. Di tengah-tengah konser, sering sekali ada yang lampu kilat menyala dan mengagetkan sang perfomer serta penonton. Di Gedung Kesenian Jakarta menggunakan lampu kilat itu dilarang, tapi pengalaman selalu saja ada yang tak sengaja menggunakan lampu kilat. Bunyi focus kamera serta DSLR ketika menjepret foto juga bisa sangat mengganggu, makanya penonton seharusnya mengambil foto lima menit pertama saja.

Seharusnya TERLAMBAT datang ke venue juga tak diperbolehkan masuk ke venue. Di berbagai tempat penonton biasanya mereka baru boleh masuk saat intermission. Tapi di IFI kemarin, ada yang berlari-larian kecil mengambil tempat duduk ketika mas Andy sudah masuk. Tak hanya itu, undangan recital piano jam 19.30 (konsernya sendiri pukul 20.00) tapi mereka menunggu penonton yang sudah pesan undangan hingga pukul 19.45. Yang belum kebagian undangan, termasuk saya ya harus menunggu, walaupun sudah datang sebelum jam 19.00 harus sabar menanti. Ya harus dimaklumi ini konser IFI yang pertama di gedungnya sendiri, semoga ke depannya mereka bisa lebih disiplin dan tak mentolerir keterlambatan waktu pengambilan undangan.

Konser Ananda Sukarlan

Saya beli CD untuk Mama saya dan minta tandatangan mas Andy, tapi sukses lupa minta foto. Cerdas banget!

Pertunjukan klasik berbeda dengan Slank. Suara-suara yang tak diperlukan, dari suara handphone sampai suara diri sendiri yang humming ketika sang pianis memainkan tutsnya patut dihentikan dulu. Kok humming yang cantik dan bernada, batuk dan berdehem aja sebaiknya tak dilakukan. Perlu diingat bahwa banyak penonton lainnya yang jauh-jauh datang untuk memanjakan mata dan telinganya sedang ingin dimanjakan oleh jari-jari yang menari dan meloncat indah di atas tuts memainkan rangkaian musik yang indah. Maka sudah sepatutnya sebagai manusia beradab kita berdiam diri selama beberapa jam untuk menghormati sang performer dan penontonnya. Nonton konser Ananda Sukarlan, apalagi yang gratisan, itu belum tentu setahun sekali, jadi apa susahnya sih diam sebentar saja tanpa suara aneh-aneh?

 Xx,
Tjetje

PS: Pria 112 yang ada di postingan saya disini juga muncul di konser Ananda Sukarlan ini. Nampaknya dia jatuh cinta dengan musik klasik. 

Perayaan Hari Saint Patrick

Abbey Road_St Patrick

Pernah lihat foto di atas berseliweran di sosial media dengan hashtag #GlobalGreening? Atau lihat Menara Eiffel, piramid, tembok besar China, Empire State dan berbagai bangunan besar di dunia mendadak menjadi hijau?

Global Greening

Courtesy of morganmckinley.co.uk

Bangunan-bangunan dan tempat-tempat penting tersebut menjadi hijau karena adanya perayaan St. Patrick day yang dirayakan setiap tanggal 17 Maret. Hari penting ini tak hanya dirayakan di Irlandia, tetapi juga di negara-negara lain dimana banyak orang-orang keturunan Irlandia bermukim seperti Australia, Amerika, Canada. Orang Irlandia, baik di Utara maupun di Selatan memang hanya 4.5 juta juta, tapi mereka yang keturunan Irlandia konon mencapai lebih dari 33 juta orang. Tak hanya dirayakan dinegara-negara tersebut, Jepang ternyata juga ikut merayakan dengan parade hijaunya.

Sungguh saya iri dengan usaha Pemerintah Irlandia untuk menghijaukan bangunan-bangunan penting di dunia. Tak hanya meningkatkan pariwisata di negara-negara tempat bangunan-bangunan tersebut berada, ‘penghijauan’ ini juga membuat Irlandia ini menjadi makin ngetop dan saya duga, makin banyak dikunjungi. Tahun ini sendiri ada sekitar 150 bangunan dunia, termasuk Colloseum, Montmartre Sacré-Coeur, tembok besar Cina menjadi hijau. Di Dublin, beraneka bangunan, termasuk airportnya juga akan menjadi hijau. Pendek kata, 150 shades of green deh. Dengan dibukanya hubungan diplomatik Indonesia dan Irlandia, sepertinya tinggal menghitung hari tahun saja sebelum Prambanan, Borobudur dan juga Monas berubah menjadi hijau.

St. Patrick sendiri merupakan salah satu Saints (bahasa Indonesianya Santo kali ya?) yang menyebarkan agama Katolik di Irlandia. Beliau menggunakan daun shamrock sebagai media untuk mengenalkan konsep trinity. Tak heran kalau kemudian saya menemukan patung lilin beliau di sebuah museum lilin di dekat Trinity College Dublin, memegang daun tersebut (silahkan dilihat fotonya disini). Beliau ini berasal dari Skotlandia *sama kayak asal nama saya* dan pada usia enam belas tahun diculik lalu dijadikan budak di Irlandia.

Menariknya, St. Patrick dan St. Valentine sama-sama memiliki perayaan yang sekuler, perayaan yang dirayakan tanpa hubungan keagamaan. Jika St. Patrick identik dengan warna hijau, dari dari kostum, makanan, bir, milkshake hingga warna sungai pun hijau, maka St. Valentine identik dengan warna merah muda. Sayangnya Untungnya tak ada sungai yang diwarnai merah muda demi St. Valentine. Warna hijau sendiri dipilih karena identik dengan musim semi, shamrock dan juga warna Irlandia *sumpah negara ini hijau banget berhiaskan putih-putih, para domba *

Tak hanya dirayakan secara sekuler, St. Patrick juga memiliki prosesi keagamaan. Bahkan dulu sebelum perayaan St. Patrick mendunia, banyak pub dan toko yang tutup karena pemiliknya sibuk merayakan secara keagamaan. Saking pentingnya beliau sebagai toko keagamaan, di Irlandia ada lebih dari sepuluh gereja yang diberi nama Saint Patrick, sementara di Amerika ada sekitar empat ratus lima puluh.

Tahun ini saya sudah ngebet banget pengen ngerayain St. Patrick di Irlandia dan melihat bagaimana Dublin menghijau sambil minum bir hijau (walau konon bir hijau ini rasanya gak karu-karuan). Tapi apa daya saya cuma bisa melihat dari kejauhan karena visa belum juga selesai (Dear Visa Officer, if you read this post, could you please approve my visa). Tapi, saya masih punya spirit Irish dong, karena hari ini semua orang, termasuk kalian semua adalah Irish. Makanya, hari ini saya berhijau ria ke kantor sambil menghibur hari, masih ada St. Patrick selanjutnya.

Di Jakarta, St. Patrick’s day juga dirayakan di Irish Pub, Murphy’s yang terletak di Kemang. Tak hanya menyediakan bir hijau, mereka juga menyediakan Guiness dari tab. Guiness yang di tab ini rasanya jauh berbeda dari Guiness botolan atau kalengan yang ditambah dengan stout. Saking populer dan identiknya Guinness dengan Irlandia, diprediksi, hari ini 13 juta pints (gelas bir) akan terjual. Padahal perusahaan ini sekarang bukan lagi milik orang Irlandia, tapi milik perusahaan Inggris.

Sláinte,
Tjetje

Mengapa Mereka Membunuh Begal?

“Membunuh orang yang bersalah, apalagi membakar orang tersebut hidup-hidup, merupakan sebuah kebanggaan. Pembuhan yang terlihat keji ini, jika dilakukan beramai-ramai adalah sebuah bentuk keadilan dan keberadaban umat manusia. Tuhan mengerti dan Tuhan akan mengampuni mereka yang membunuh”. Mungkin ini adalah pernyataan yang paling tepat untuk membenarkan kasus pembakaran hidup-hidup seorang begal yang baru-baru ini terjadi.

Akhir pekan lalu saya berdiskusi bersama teman-teman saya mengenai kejadian pembakaran begal. Diskusi tersebut bermula ketika seorang teman menyaksikan penjabretan di daerah Kuningan Jakarta Selatan. Salah satu penjabret tertangkap dan berakhir menjadi sasaran kemarahan massa. Entah sejak kapan, tapi kok sepertinya saya sering sekali mendengar kasus maling tertangkap yang dipukuli massa. Mungkin, ini sudah menjadi hukuman wajib.

Beating

Balik lagi ke kasus pembakaran hidup-hidup, kami tak habis pikir dan tak bisa merasionalisasi bagaimana bisa massa tega membunuh dengan cara keji, pendosa sekalipun. Sebesar apapun dosa pembegal, rasanya kok tak layak dia diperlakukan seperti ini. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan: mengapa massa berani membunuh dan mengapa tak ada yang menghentikan. Pertanyaan tersebut kemudian menghasilkan catatan-catatan kecil atas perilaku masyarakat. Sebelum dilanjutkan bacanya, perlu dicatat dulu kalau ini bukan catatan ilmiah, hanya catatan dari obrolan ringan sambil menikmati Mpek-mpek Abing.

  • Kemarahan pada pelaku dan frustasi pada kemampuan aparat

Kasus pembegalan ini telah terjadi sekian lama dan menciptakan ketakutan pada para pengguna motor yang mengarah kearah-arah tertentu. Tapi jumlah begal yang tertangkap aparat relatif rendah. Setiap kali ada kejadian, kemarahan semakin terpupuk dan begitu ada yang tertangkap, kemarahan ini meledak macam gunung Merapi. Jadilah mereka yang lebih hebat dari aparat ini menciptakan hukumnya sendiri.

  • The power of rame-rame

Coba bayangkan suasa TKP; puluhan orang yang gemas dan mau meledak macam gunning Merapi berteriak-teriak sambil melatih kemampuan meninju dan tendangannya. Lalu ada yang teriak dengan suara kenceng, bakar-bakar. Kemudian ada yang nongol nyumbang bensin untuk membakar, tak lama seseorang yang saya duga perokok mengangsuraan koreknya. Siba-tiba di antara manusia-manusia tersebut ada yang merogoh handphone di kantongnya untuk merekam video; video yang kemudian diunggah ke media sosial. Tak habis pikir juga mengapa pembakarannya itu perlu direkam dan dimasukkan ke dalam YouTube. Untuk menakuti begal lainnya kah? Cinta kasih mana cinta kasih?

Coba kalau mereka sendirian, beranikah melakukan hal-hal di atas tak akan muncul ketika sendirian. Hanya ketika beramai-ramai barulah orang bisa mendapatkan keberanian berkali lipat dan tiba-tiba mampu untuk melakukan hal yang diluar batas. Apalagi kalau lawannya cuma satu begal. [Pelajaran berharga: jauh-jauhlah dari gerombolan orang yang emosi]

  • Sistem hukum tak berjalan Baik

Keberanian untuk main hakim sendiri ini juga didukung oleh sistem hukum yang tak tegas. Para pelaku pemukulan, pembakaran dan seluruh kegiatan main hakim sendiri, serta yang menonton tak pernah mendapatkan ganjaran apa-apa. Padahal kalau menurut hukumonline sih mereka sebenarnya bisa dihukum. Teorinya, prakteknya? Kerjaan aparat sudah banyak, jadi gak usah nambah-nambahin ya?

Begal itu muncul karena ketidakmampuan negara untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Mereka bukan anak menteri dan sepengetahuan saya, mereka nggak nabrak orang sampai meninggal. Jadi, tanpa dipukuli dan tanpa dibakar pun begal ini pasti akan diberikan hukuman setimpal karena hukum kita memang lebih suka menghukum mereka yang miskin.

Kalau menurut kamu, kenapa gerombolan orang-orang tersebut mampu berbuat kejam pada si begal?

Xx,
Tjetje
Bukan Kriminolog

Kesetaraan Jender Dalam Bahasa

Words are powerful tools to change society; from the way they behave to the way they think. Ketika menginginkan lingkungan sosial yang setara penggunakaan kata-kata tepat harus dilakukan agar pria tidak terlihat lebih superior ketimbang perempuan. Tak hanya soal superioritas saja, tetapi juga untuk menekankan keterlibatan perempuan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, baik dalam bahasa yang diucapkan maupun dituliskan, seringkali kita menemukan jender bias. Jender bias biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk menekankan kepada satu jender ketimbang jender lainnya, biasanya ditekankan kepada pria ketimbang perempuan. Sebagai contoh, tengoklah deklarasi kemerdekaan Amerika yang menuliskan bahwa “…all men are created equal…”; semua pria diciptakan setara,lha terus perempuannya gak setara? Berbeda dengan Proklamasinya Irlandia yang memulai dengan kata Irishmen and Irishwomen.

Pekerjaan-pekerjaan dalam bahasa Inggris juga tak lepas dari maskulinitas. Fisherman, chairman, congressman merupakan beberapa kata yang memberi kesan bahwa pekerjaan tersebut milik pria. Padahal, perempuan bisa dan sudah banyak yang melakukan pekerjaan tersebut.  Bias jender juga terjadi ketika kita menggambarkan suatu kondisi pria dan perempuan dengan deskripsi yang berbeda; pria dengan kemampuan intelektualnya sementara perempuan dengan penampilan fisiknya.

Tak hanya Bahasa Inggris, bahasa Indonesia sendiri juga memliki kata yang tak sensitif terhadap jender. Kita menggunakan kata pahlawan dan bangsawan, tetapi tak punya kata pahlawati dan bangsawati. Jika kemudian ada perempuan yang menjadi pahlawan, harus ada penambahkan kata perempuan di akhir kata. Bagi saya yang bukan ahli bahasa dan kemampuan Bahasa Indonesianya awut-awutan ini memberikan kesan kuat bahwa yang normal dan lazim menjadi pahlawan dan bangsawan itu pria.Tapi, herannya bagi mereka yang berjalan di catwalk ada pemisahan peragawan dan peragawati. [Jika ingin membaca lebih lanjut tentang bahasa Indonesia dan jender, silahan baca jurnalnya disini.]

makeithappen

tema IWD 2015 #makeithappen

Kesetaran antara perempuan dan pria harus dimulai dengan penggunaan bahasa yang netral terhadap jender (gender neutral language). Contoh gampangnya, ketimbang mengatakan policemen, bisa dirubah dengan police officers. Sedangkan jika ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang mengharuskan penulisan kata ganti his atau her, lebih baik dibuat plural saja sehingga tidak mengarah ke perempuan atau pria saja. Contoh paling gampangnya seperti kalimat ini “If a bloggers want to write better English, he they should practice”.  

Membiasakan diri untuk menulis atau menggunakan bahasa yang netral terhadap jender tidaklah mudah. Tapi selamat ada niat, pasti bisa. Beberapa hal yang saya lakukan dan bisa diadopsi antara lain

1. Baca

Salah satu boss saya pernah bilang dalam setiap kesempatan selalu: baca, baca, baca dan baca sesuatu yang bermanfaat. Ada banyak informasi tentang jender dan bahasa, dari universitas hingga  badan-badan United Nations mengeluarkan panduan serta kuis; jika sedang punya waktu saya sering membaca panduan ini untuk membuat membuat kepala familiar dengan kata-kata yang netral.

 2. Googling (terpujilah dia yang menciptakan google dan membuat hidup lebih mudah)

Ketika menemukan kata-kata yang tak sensitif jender, biasanya ditandai dengan kata men, saya langsung google untuk mencari bahasa yang netral. Baru-baru ini misalnya, saya menggogle tentang fishermen yang kata netralnya adalah fishers atau fisherfolks. Googling saya untuk postingan ini juga membawa saya pada genderbread versi 2.0. Ntar kapan-kapan saya akan cerita tentang boneka gender ini ya. Tapi kalau pengen segera belajar, silahkan dibuka website yang bikin boneka versi dua ini.

Genderbread-2.1

Jender tak hanya laki-laki dan perempuan, tapi lebih rumit. Lalu untuk membuatnya makin rumit saya bertanya: kombinasi genderbread ini kalau dibikin matematika berapa pangkat berapa ya?

 3. Praktek dalam tulisan

Saya berkutat dengan laporan, proposal dan aneka rupa dokumen yang harus sensitif jender. Buat saya membuat laporan-laporan tersebut memberikan peluang untuk selalu bisa praktik. Tak perlu menunggu laporan untuk bisa praktik, sebagai blogger  kita bisa mempraktekannya di blog sendiri. Dalam praktek pun kita tak perlu takut untuk salah. Namanya juga manusia pasti tak lepas dari kesalahan.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Saya berharap semoga kita semua, baik perempuan maupun laki-laki, bisa sama-sama berkontribusi, termasuk dengan rangkaian kata yang kita buat, untuk membangun masyarakat yang setara. Selamat hari International Perempuan!

xx,
Tjetje
Bukan ahli jender
Menerima masukan & kritik dengan tangan terbuka

Cerita Hantu

Sedari bayi kita dijauhkan dari makluk halus dengan dibekali gunting, peniti, atau benda tajam. Ketika sandikala, pergantian waktu dari terang menuju gelap ( atau disebut juga saat Maghrib) bayi-bayi juga wajib dibangunkan dan ditemani supaya tidak ditemani makluk halus. Ketika beranjak besar, bermain di luar rumah saat matahari mulai tenggelam pantang dilakukan. Hanya anak-anak yang main game di depan TV, computer atau ipad yang bebas bermain saat sandikala.

Larangan bermain saat sandikala karena dipercaya saat pergantian waktu dari gelap ke terang, adalah saatnya makluk halus berpatroli dan iseng menangkap anak kecil. Mungkin seperti satpol PP berpatroli dan menangkapi joki three in one. Bagi saya yang besar di Jawa Timur, sandikala sering dipercaya sebagai saatnya wewe gombel mencari mangsa untuk disembunyikan di balik dadanya yang sudah termakan usia.

cartoon_ghost

Secara fisik mungkin kita dibuat jauh dari aneka rupa makluk halus, tapi secara pikiran, kita dibuat dekat dengan mereka karena hantu dan makluk halus sering menjadi senjata ampuh bagi orang dewasa untuk menakut-nakuti dan  mendapatkan keinginan mereka. Ketakutan, menurut saya, adalah kunci termudah untuk membuat anak-anak kecil yang rapuh mengikuti kemauan orang dewasa. Mereka yang sering ditakuti kemudian tumbuh menjadi penakut ketika dewasa. Takut lihat cermin, takut kegelapan, takut di rumah sendiri, takut ke kamar mandi sendiri, takut jika melewati pemakanan dan segala macam ketakutan lainnya yang memenuhi imajinasi mereka. Lucunya, yang mengaku takut sama hantu ini kalau lagi ngumpul rame-rame suka cerita hantu dan berbagi pengalaman cerita hantu yang pernah ditemui ataupun yang ditemui orang lain.

Jika saat kecil kita dibuat sedemikian rupa untuk menjauh dari makluk halus dan hantu, ketika beranjak besar kita justru didekatkan dengan mereka melalui acara jerit malam di tempat-tempat yang terdengar menyeramkan, termasuk kuburan. Alasannya untuk latihan keberanian dan ketangguhan. Kalau kemudian berakhir dengan jejeritan karena kemasukan tamu tak yang sengaja diundang apa masih mau ngaku tangguh?

Kegemaran terhadap hantu dan makluk harus ini kemudian ditangkap dengan baik oleh televisi lewat acara berburu hantunya. Konsep acaranya sih lihat hantu, tapi cuma si paranormal yang bisa lihat hantunya, sementara penonton cuma melihat paranormal mendeskripsikan si hantu dan tentunya lihat iklan pendukung perburuan hantu. Entah apa serunya menonton program hantu tanpa bisa lihat hantu.

Saya tak bisa mengatakan bahwa makluk gaib, hantu atau apapun namanya tidak eksis, karena sepuluh tahun lalu saya beberapa kali bertemu dengan mereka. Reaksi saya ketika bertemu dengan makluk halus bukan jejeritan, saya justru mematikan lampu kamar supaya suasana menjadi gelap. Prinsip saya, ketika lampu mati, mata saya tak akan bisa melihat apa-apa lagi.

Hantu bagi saya adalah arwah gentayangan yang suka usil mengganggu, sedangkan arwah halus adalah makluk selain hantu yang bisa membantu dan bisa juga merugikan. Tuyul contohnya, bisa bantu bikin kaya karena bisa mengambil uang. Hantu yang saya tahu kebanyakan perempuan, seperti suster ngesot, si manis jembatan ancol, sementara hantu laki-laki saya tak pernah tahu. Pengetahuan saya tentang hantu mungkin kurang banyak. Jadi, saya mengundang kalian untuk berbagi cerita tentang hantu laki-laki dan cerita hantu lainnya yang menarik. Tentu saja kalau kalian percaya hantu. Jika tak percaya hantu, sebaiknya tetaplah tidak percaya karena saya yakin hidup lebih tenang. Bagi yang takut, maaf ya judulnya profokatif, tapi ga serem kan?

Xx,

Tjetje

Cepet-cepet pulang biar gak diganggu hantu di kantor

Tips Memilih Asuransi

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang mbak-mbak yang annoying di sebuah lobby kedutaan. Saya sebut dia mbak-mbak annoying karena si Mbak berencana untuk overstay dengan visa kunjungan pendeknya. Selain berencana melanggar aturan imigrasi negara tetangga, mbak annoying juga berencana untuk membeli asuransi perjalanan tiga hari untuk tiga bulan. PELIT!!!!!

Punya uang buat ke luar negeri tapi gak mau beli asuransi perjalanan yang sesuai. Ketika saya ingatkan pentingnya asuransi perjalanan di negeri orang, terutama jika ada masalah jawabannya: “Aduh Mbak, Bismillah aja. Lagian siapa sih yang niat mau pergi dengan apa-apa.” Ajaib memang orang lebih memilih berdoa yang kenceng  supaya tak terjadi apa-apa. Kalau kemudian doanya tak dikabulkan gampang, tinggal ngerepotin orang lain. Di Indonesia, ngerepotin keuangan Tante, Encing, Babe, Engkong itu wajar, toh kita emang bangsa yang tolong menolong. Tapi kalau di luar negeri, Babe siapa yang mau direpotin? Yang ada malah ngerepoti tax payer money dan bikin susah kedutaan Indonesia. Kalau satu yang ngerepotin OK-lah, tapi kalau ratusan, bahkan ribuan, bisa jebol keuangan negara.

Asuransi apapun, baik perjalanan, kesehatan, jiwa, kendaraan, selalu dipandang sebagai investasi yang merugikan dan mahal. Mentalitas kebanyakan orang memang masih melihat perusahaan asuransi dan agen asuransi sebagai mesin penyedot uang yang tak bermanfaat. Meminjam istilah Syahrini, mungkin karena manfaat asuransi tak terpampang nyata di depan mata.

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) saya rasa, berhasil menumbuhkan kesadaran asuransi kesehatan di masyarakat level menengah ke bawah dan membuka akses asuransi murah. Walaupun bikin dokter teriak-teriak karena skema perhitungannya yang kejam. BPJS diwajibkan bagi  semua warga negara tetapi bagi kita yang memiliki penghasilan lebih ada baiknya membeli asuransi tambahan. Pengalaman saya membeli asuransi, ada beberapa kriteria yang bisa berguna:

Asuransi kesehatan tanpa Investasi

Tak seperti orang lain yang tak mau rugi, saya sengaja membeli asuransi kesehatan yang hangus. Bagi saya, produk asuransi kesehatan tak boleh dicampur-campur dengan investasi supaya maksimal. Jika benar-benar ingin berinvestasi, lebih baik dananya ditanamkan di perusahan investasi, bukan di perusahaan asuransi.

Pakai Kartu atau cashless

Sakit itu datangnya tanpa direncanakan, jadi dalam rencana anggaran bulanan biasanya biaya untuk sakit relatif kecil. Makanya, asuransi yang bersifat reimbursement, akan mengganggu anggaran bulanan dan tabungan. Waktu saya masuk RS di Bali, saya harus nalangin biaya RS yang tidak sedikit karena saya upgrade kamar.  Yang mengesalkan, proses reimbursement asuransi ternyata memakan waktu lebih dari tiga minggu, itupun harus marah-marah karena pihak asuransi yang ribet. Parahnya, banyak pengeluaran yang tidak bisa diganti oleh pihak asuransi. Alhasil saya ‘merugi’ sekian rupiah karena aturan reimbursement yang tak jelas. Ini jarang terjadi jika kita menggunakan kartu. Jadi daripada repot, mendingan bawa diri dan bawa kartu aja kalau berobat, kartu asuransi, bukan kartu kredit.

Baca polis asuransi

Membeli asuransi itu seperti membeli kucing dalam karung karena kita hanya dijelaskan sebagian aturannya saja. Biasanya, polis baru diberikan setelah kita bayar dan saat itulah banyak yang kaget karena bahasa pemasaran berbeda dengan bahasa polis. Demi menghindari serangan jantung, sebelum beli asuransi minta copy polis untuk pertimbangan. Dan minta polis itu bisa kok.

Agen Asuransi yang Bagus

Rumornya, agen asuransi itu hanya mendapatkan fee dari penjualan tahun pertama hingga ketiga saja. Nah, kalau dia menolak ngebantu di tahun ke lima wajar kan? Tapi agen yang baik tidak langsung kabur dan akan tetap menjalin hubungan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.  Jadi, ketika memilih agen asuransi carilah yang sudah konsisten di bisnis asuransi selama bertahun-tahun. Saya sedikit rasis, karena untuk asuransi saya hanya mau agen yang keturunan Tionghoa karena komitmen mereka yang luar biasa.

Perusahan ternama

Sudah banyak perusahan besar di Indonesia yang mengembangkan usahanya ke asuransi. Kalau menurut dokter yang pernah saya kunjungi, perusahaan-perusahaan local Indonesia itu lebih susah ketimbang perusahaan asing macam AXA, Allianz ataupun Prudential. Pengurusan klaim maupun pemeriksaan aneh-aneh, biasanya tak banyak ditanya. Sementara merek-merek lokal, nanyanya banyak, klaimnya susah. Makanya, jangan tergiur dengan asuransi murah meriah, apalagi yang murah dan bisa untuk bapak, ibu, anak-anak.

Dipikir-pikir saya harus berterimakasih karena bertemu dengan Mbak Annoying itu karena dia yang menginspirasi saya untuk bikin postingan itu. Jadi, mbak annoying, terimakasih banyak dan semoga Kedutaan membaca niatmu untuk overstay! #TetepPedesKaretTiga

Punya tips untuk memilih asuransi?

Obsesi Instansi Pemerintahan di Indonesia

Tahun lalu ketika memperpanjang passport, saya datang ke imigrasi mengenakan dress super cantik berwarna kuning. Dress ini tak memiliki kerah, tapi sangat rapi, profesional dan serius. Yakinlah, saya seperti mbak-mbak kantoran, walaupun saya ga pakai sepatu hak tinggi lima belas centimeter. Begini penampakannya:

http://instagram.com/p/nYJ046wxu0/?modal=true

Ketika tiba waktunya foto, tiba-tiba petugas menyuruh saya mengenakan blazer berwarna hitam nan buluk karena baju saya tidak berkerah. Sumpah ya ini petugas minta diuleg karena obsesi gilanya dengan kerah yang bagi saya, nggak penting.

Imigrasi juga melarang penggunaan rok mini di area kantor mereka. Masalahnya, definisi rok mini ini tak jelas berapa centimeter dari atas lutut. Seorang warga negara asing yang saya tahu pernah ngomel panjang urusan rok ini karena imigrasi menolak melayaninya. Urusan rok ini akhirnya terpecahkan setelah si WNA mengenakan kardigan untuk menutupi roknya yang tak semini mbak-mbak di BATS. Alih-alih fokus meningkatkan layanan, instansi negara ini malah ketakutan tidak dihormati oleh orang asing karena pakaian yang mereka gunakan.

Kantor pemerintahan di negeri ini juga punya obsesi ajaib dengan warna untuk latar belakang foto. Tak pernah jelas warna apa yang diperlukan karena tidak ada aturan baku yang mengatur hal ini. Setiap instansi bisa meminta warna yang berbeda-beda, biru, merah, atau putih, tergantung mood mereka. Di kantor A background merah lazim digunakan, sementara di kantor B background merah menjadi pantangan. Di tempat kerja saya yang dulu, kami pernah membuat kartu identitas dengan background warna merah. Setelah susah-susah bikinnya, kartu tersebut dilarang digunakan karena hanya PNS yang boleh mengenakan background warna merah. Kami yang orang proyek tak boleh menggunakan warna merah, padahal, judul kartu identitas kami jelas-jelas berbeda.

Permintaan latar belakang warna ini sering menyusahkan WNA yang harus melampirkan foto untuk aplikasi dokumen keimigrasian. Di Eropa, mencari foto dengan background warna tertentu tidaklah mudah karena foto passport biasanya diambil di box foto, bukan di studio. Ongkos mempekerjakan manusia di sana tidaklah murah, makanya foto studio, walaupun ada, bukanlah tempat yang rajin disambangi. Saking merepotkannya, seorang WNA yang saya kenal pernah harus menyusun beberapa kertas merah untuk background, lalu membawa selotip dan kertas tersebut ke ke dalam foto box.

Kampus saya, Universitas Brawijaya juga punya aturan ajaib. Ijazah kelulusan di kampus saya wajib menggunakan foto hitam putih dengan kebaya dan sanggul. Demi foto ini saya harus pasang make-up di salon, pasang sanggul besar, sewa kebaya lalu berfoto yang tak sampai lima menit. Waktu dan uang jadi terbuang. Yang lebih kasihan, teman-teman saya yang bukan orang Jawa berakhir dengan foto serupa untuk ijazahnya. Jawanisasi!

image

Instansi di Indonesia masih banyak terobsesi dengan hal-hal yang tak penting. Lucunya, instansi-instansi ini selalu ribut urusan latar belakang warna dan tak pernah ribut urusan komposisi muka si empunya foto. Padahal menurut saya, yang lebih penting itu komposisi muka si empunya foto. Apa gunanya foto background merah, hijau, kuning ataupun biru kalau muka si empunya cuma 50%. Foto passport jadi kehilangan fungsinya sebagai alat acuan identifikasi. Ya sama kayak foto saya di atas, secantik-cantiknya saya, orang pasti nggak ngeh kalau itu saya, karena muka saya penuh dempul.

Keadaan ini sungguh berbeda dengan Hong Kong, misalnya. Saking tak cerewetnya dengan urusan pakaian, saat perkawinan kami, salah satu saksi datang ke kantor catatan sipil menggunakan celana pendek dan sandal. Dia tetap bisa menjadi saksi, tidak diusir pulang. Nampaknya petugas disana terlalu repot kerja sampai lupa ribut ngurusin pakaian orang lain dan tentunya lupa minta sogokan. *ahem ahem*