Dalam kondisi pandemik seperti saat ini, bisa bekerja dari rumah, tak perlu naik kendaraan umum, dan duduk diam di depan komputer sambil mengenakan piyama yang dipadukan dengan blazer adalah sebuah hal yang bisa dianggap mewah. Tidak semua orang punya kemewahan, ruang, serta kemampuan untuk bekerja dari rumah.
Fasilitas Kerja
Untuk bekerja dari rumah itu idealnya diperlukan area atau ruangan untuk bekerja, lengkap dengan fasilitasnya, seperti kursi dan meja yang ergonomis. Untuk orang yang pendek seperti saya bahkan diperlukan pengganjal kaki supaya kaki tak menggantung. Di sini, beberapa perusahaan mengirimkan kursi, meja dan monitor kepada karyawannya. Beberapa perusahaan teknologi juga memberikan alokasi dana untuk membeli perlengkapan kerja ini. Tak sedikit juga yang harus merogoh kocek sendiri untuk membeli perlengkapan kerja dari rumah yang layak.
Saya sendiri berpikir bahwa WFH ini hanya akan berlangsung selama beberapa saat saja, jadi tak pusing mencari meja untuk bekerja dan hanya menggunakan meja sementara seperti ini yang saya letakan di salah satu kamar yang saya jadikan kantor sementara.

Tak semua orang beruntung memiliki ruangan atau area untuk bekerja dengan fasilitas lengkap. Dari berbagai interaksi saya, ada yang terpaksa harus bergulat kerja dari dalam kamar mandi memangku laptop karena tak ada ruangan lain yang bisa digunakan di rumah, ada pula yang harus bekerja sambil setengah duduk di tempat tidur. Di Dublin, menyewa apartemen dan rumah itu tak murah, banyak pekerja muda yang kemudian berbagi apartemen kecil. Akibatnya ketika semua orang kerja dari rumah, mereka terpaksa berada di dalam kamar tidur, bahkan makan dan kerja di ruangan yang sama.
Burn Out
Selama lockdown di Irlandia, tak banyak hal yang bisa dilakukan. Pekerjaan menjadi satu-satunya hal yang membuat orang aktif. Log in lebih awal, lalu log out hingga agak malam.
Bagi yang memiliki anak, banyak orang tua yang harus bekerja sambil mengurus anak, karena penitipan anak dan sekolah tutup pada awal lockdown. Jam kerja tentunya jadi lebih bervariasi, karena kerja disambi dengan mengurus anak. Untungnya banyak tempat kerja yang memberi kelonggaran.
Tapi akibatnya, jam kerja 9-5 bukan menjadi jam kerja yang normal lagi. Banyak orang bekerja lebih panjang. Entah untuk membayar jam kerja yang dipakai mengurus anak, atau harus meeting secara daring dengan rekan kerja di belahan dunia lain. Meeting secara daring ini juga sangat melelahkan, karena harus fokus melihat layar.
Burn out tak hanya karena jam kerja dan layar, tapi juga karena ketidakbisaan memisahkan ruang kerja dan ruang hidup, dua area ini bercampur selama lockdown. Apalagi anak kos yang terisolasi di dalam kamar. Isolasi tak bertemu manusia lain juga tak membantu sama sekali, malah membuat fisik dan mental semakin kelelahan. Kelelahan ini ketika terus-menerus menggunung menjadi burn out, apalagi ketika tak ada work life balance.
Kolega Edan
Sudah ruang kerja tak ada, burn out, eh masih ditambah dengan ketemu kolega yang mendadak jadi edan dan pushy. Tak bisa dipungkiri selaman kerja dari rumah, ada banyak orang yang memiliki ketakutan jika tak segera membalas ketika dihubungi. Takut dikira tak bekerja, apalagi kalau punya atasan yang hobinya micro managing. Tak hanya bos saja, rekan kerja pun juga suka ada yang micro managing, bahkan tak mengerti jam kerja 9-5, akhir pekan ataupun waktu cuti.
Saat cuti ada juga yang tak segan mengganggu, mengirim pesan melalui nomor HP pribadi untuk bertanya tentang pekerjaan, entah melalu pesan 1:1 atau melalui grup WA kantor yang akibatnya memberi tekanan pada orang lain yang cuti untuk membalas. Padahal cuti itu merupakan waktu untuk disconnect. Ketika pertanyaan tak dibalas, escalate ke bos dari orang yang ditanya tersebut. Pendeknya tekan terus, jangan kasih kendor. Brengsek banget kalau ketemu kolega model beginian.
Jam kerja kantor yang sudah jelas juga tak menghentikan kolega yang tega mengundang meeting di luar jam kerja. Atau yang lebih parah, mengundang meeting menjelang berakhirnya jam kerja, lalu ketika waktu meeting habis dan saatnya disconnect masih terus ngajakin kerja, padahal tak ada overtime. Kalau bertemu yang tegas sih bisa langsung diakhiri, tapi kalau bertemu yang modelnya suka sungkan seperti Mas Karyo, ya molor-molor terus meetingnya. Paling asyik sih kalau ketemu model yang kayak gini langsung aja tembak: Maaf harus log out, ada meeting lain menunggu. Daaag, klik tanda silang. Bubar deh.
Indahnya WFH
WFH tak selamanya buruk. Ada indahnya juga, apalagi yang bisa beruntung WFH dengan view pemandangan indah. Seperti mantan kolega saya yang bekerja di Bali dan mengirimkan gambar pemandangan cerah yang bikin konsentrasi kerja buyar, karena pengen cepet-cepet berjemur. Ah……
Tak perlu commute juga menjadi alasan lain yang membuat orang betah WFH. Apalagi kalau jarak dari rumah ke kantor sangatlah jauh. Irit bensin, ongkos transportasi dan tentunya hemat waktu.

WFH juga menghadirkan hiburan tak terduga. Alarm mobil yang tiba-tiba menyala, lalu saya harus kabur mematikan. Atau paket yang datang di tengah-tengah meeting. Mereka yang punya anak juga tiba-tiba menjadi seperti BBC dad, anaknya tiba-tiba muncul di meeting. Di salah satu meeting saya bahkan ada “fashion show” dadakan, karena anak-anak kolega saya ngotot ingin memamerkan pakaian mereka. Meetingnya cuma 30 menit, yang 15 menit habis untuk kenalan dengan bocah-bocah ini.
Tak cuma anak-anak saja, anjing saya si Yoda juga berulang kali ikut meeting. Di awal pandemi, anjing kecil ini hobi banget minta duduk di pangkuan saya, kalau tidak, ia akan bikin ribut dan menggonggong tak karuan.
Penutup
Pandemik ini nampaknya masih belum akan berahir. WFH masih akan terus berlanjut, setidaknya di Irlandia. Pemerintah sini bahkan mengeluarkan right to disconnect, supaya orang bisa log out ketika jam kerja sudah habis dan tak bekerja terus-menerus.
Semoga kalian semua yang sedang kerja dari rumah, di manapun kalian, juga punya hak yang sama, serta dijauhkan dari burn out.
Jadi, bagaimana cerita WFH kalian? Punya cerita menarik?
xoxo,
Tjetje









