Imigran dan Rasisme di Irlandia

Beberapa waktu lalu, televisi nasional di Irlandia (semacam TVRI gitu, tapi lebih berkualitas), menayangkan sebuah film dokumenter tentang imigran di Irlandia. Dokumenter itu bercerita tentang beberapa kelompok imigran yang tinggal di Irlandia. Kelompok ini terdiri dari orang muslim, pelajar berkulit hitam serta seorang pria Romania yang kulitnya putih. Dokumenter ini menggambarkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pendatang dalam menjalani hidup dan berintegrasi di Irlandia.

Orang-orang yang saya sebut di atas mewakili sebuah komunitas-komunitas imigran yang sering terdiskriminasi. Romania yang berkulit putih dan berwajah Eropa misalnya identik dengan mengemis, mencuri di toko, serta label-label lain seperti malas bekerja dan hanya suka mengambil jaminan kesejahteraan sosial. Ketika berbelanja mereka sering sekali diawasi oleh security karena label tukang mencuri. Di dokumenter ini seorang pria muda diceritakan sukses menjadi polisi di Irlandia. Sukses itu tak datang dengan mudah, karena ibunya harus mengemis untuk keluarganya.

Kelompok-kelompok muslim sendiri banyak ditakuti karena diidentikkan dengan terorisme serta islamisasi Eropa. Di film tersebut seorang pria Irlandia berkulit putih bahkan tak segan menyerang dan mengancam pria muslim secara verbal. Perempuan muslim yang mengenakan jilbab di Irlandia mengeluhkan betapa seringnya mereka diberi pandangan oleh orang lain. Perempuan yang ada di film ini bahkan pernah diikuti oleh pria setelah turun dari bis. Saya kemudian ngobrol dengan seorang teman yang berjilbab tentang diskriminasi di Irlandia. Teman saya ini tak pernah mengalami diskriminasi, tapi sering banget dilihatin orang, mungkin karena pilihannya untuk mengenakan jilbab. Dan dilihatin karena penampilan yang mungkin dianggap aneh ini bagi mereka cukup tak mengenakkan.

Islamisasi Eropa sendiri merupakan isu yang cukup ditakuti banyak orang. Dalam sebuah kesempatan, seorang rekan saya di kelas bahasa pernah berkata bahwa Irlandia adalah negara Katolik yang memiliki nilai-nilai Katolik. Anak muda ini kemudian takut jika nilai-nilai Katolik ini hilang atau bahkan berubah karena kehadiran Islam. Pada intinya ia menolak perubahan dan baginya Islam itu mengerikan. Di film tersebut juga ditampilkan sebuah organisasi Pegida dan organisasi politik Identity Ireland yang menolak imigrasi secara besar-besaran di Eropa. Organisasi ini monggo digoogle tapi gak usah pakai emosi bacanya.

Kelompok terakhir yang ada di film tersebut adalah kelompok kulit hitam yang diwakili oleh seorang pelajar berkulit hitam yang juga sering didiskriminasi. Di akhir cerita, Boni, sang mahasiswa hukum ini menjadi Presiden Pelajar pertama yang berkulit hitam di sebuah universitas di Irlandia. Cerita manis Boni tapi tak semanis dengan cerita beberapa pengemudi taksi yang pernah saya ajak ngobrol. Seorang pengemudi taksi bahkan pernah dipukuli sekelompok orang ketika sedang menunggu penumpang. Menurut sang pengemudi, saat itu ada polisi di area kejadian, tapi ia tak ditolong. Masalah yang kemudian dilaporkan ke polisi juga tak pernah ditemukan pelakunya.

Rasisme terhadap para pengemudi taksi berkulit hitam juga sering terjadi ketika urusan mengangkut penumpang. Bukan hal yang aneh lagi jika penumpang rela menunggu taksi berikutnya karena enggan disupiri pengemudi berkulit hitam. Bahkan, ada ibu-ibu yang sudah memesan taksi mengenakan aplikasi langsung menolak dan membatalkan pemesanan ketika tahu pengemudinya berasal dari Afrika. Sungguh sebuah perilaku yang mencengangkan, apalagi saat itu terdapat anak kecil bersamanya.

Boni

Boni, pria keturunan Nigeria yang berhasil jadi presiden mahasiswa berkulit hitam.

Salah seorang teman saya yang tinggal di sebuah kota kecil di Irlandia pernah mengalami rasisme yang cukup parah. Ketika itu sang pemilik toko yang ia kunjungi berkata “lebih baik kalau semua orang asing di negeri kita ini kembali ke negaranya dan tanah-tanah kosong kita bisa dipakai untuk sapi”. Di tempat ia tinggal, rasisme memang cukup tinggi, saking tingginya ia sampai tahu mana toko yang harus didatangi dan mana yang tak boleh didatangi. Ia tak sendirian, rekannya warga Malaysia juga sering mengalami diskriminasi.

Seperti saya tulis di postingan tentang rasisme, Irlandia itu negara yang cukup terbuka untuk para imigran. Orang-orangnya ramah dan terbuka pada orang asing. Kendati begitu, rasisme masih tetap ada dan jumlahnya hingga saat ini relatif “kecil”. Kecil tapi menyakitnya.

Pernah mengalami diskriminasi atau rasisme?

Xx,
Tjetje

Baca juga: Tentang rasisme & Irlandia

Name Dropping

Name dropping adalah istilah bahasa Inggris yang jika diartikan secara harfiah menjadi “menjatuhkan nama”. Dalam bahasa Indonesia sendiri name dropping saya artikan sebagai mencatut nama atau membawa-bawa nama orang lain, bisa nama saudara, orang tua, kenalan, teman yang terkenal atau memiliki jabatan. Perilaku bawa-bawa nama orang sendiri bukanlah hal yang ekslusif milik orang Indonesia dan dilakukan banyak orang di banyak negara.

Sumber: theskinnyon.typepad.com

Sumber: theskinnyon.typepad.com

Orang-orang yang melakukan name dropping saya kategorikan menjadi dua. Yang pertama yang melakukan name dropping untuk memukau dan secara tak langsung menunjukkan atau menaikkan status sosial. Agak narsis juga karena kepengen keliatan satu strata sosial dengan orang-orang tertentu. Kelompok ini biasanya mengaku temennya artis A, artis B, ponakan presiden, ponakan menteri atau ponakan jenderal. Pengakuan hanya berhenti disana dan tak dilanjutkan pada level yang lebih tinggi, sehingga tak berbahaya.

Kelompok kedua adalah kelompok yang menyalahgunama nama orang lain baik untuk mengintimidasi maupun untuk memperkaya diri sendiri. Kelompok inilah yang berbahaya. Nah, baru-baru ini seorang anak muda di Medan memarahi Polisi Wanita yang menghentikan konvoi kelulusan ujian nasional dan membawa-bawa nama pamannya yang Jenderal. Ibu Polwan yang jabatannya tidak terlalu tinggi, diharapkan akan bungkam ketika mendengar kata “anak jenderal” yang secara hierarki “dianggap” lebih tinggi dari sang Polwan. Anak jenderalnya ya yang dianggap lebih tinggi, bukan jenderalnya. Hierarki yang aneh tentunya, tapi sayangnya masih berlaku di negeri kita.

Tak hanya itu, ada ancaman secara verbal akan menurunkan jabatan sang Polwan secara semena-mena. Bagi saya sih ini sungguh bikin pengen ketawa karena menurunkan jabatan orang itu tak semudah marah-marah di depan media. Sang paman saya yakin tak bisa dengan seenaknya menurunkan jabatan orang. Tak heran jika kemudian netizen marah dengan perilaku arogan ini dan sang pelaku dirisak (dibully) habis-habisan.

Membawa-bawa nama orang, apalagi nama pejabat, untuk urusan sepele (macam tilang) atau bahkan untuk urusan yang berat (seperti minta proyek atau minta pekerjaan – paling benci deh sama yang satu ini) seperti saya sebut di atas adalah hal yang membahayakan. Resikonya tak hanya malu karena mencatut nama orang tapi juga membahayakan keluarga dan juga hubungan pelaku dengan yang namanya dibawa-bawa. Lagipula, pejabat di jaman sekarang itu disorot dengan lampu sorot yang luar biasa terangnya. Secara teori mereka tak bisa semena-mena, apalagi berlaku arogan (walaupun kasus-kasus yang arogan masih ada, mungkin masih banyak). Salah sedikit, apalagi sampai terekspos ke media, bisa berantakan karir Oom, Tante, Paman, Encing, Babah.  Maka tak heran kalau anak-anak jenderal pun jarang berkicau di depan media “bapak guwe jenderal dong”.

Pengguna media sosial sekali lagi menunjukkan wajahnya yang tak ramah ketika berhadapan dengan arogansi individu. Sonya Depari dirisak  (dibully; bullying dalam bahasa Indonesia adalah perisakan) oleh netizen. Parahnya, nyawa sang ayah harus melayang akibat terkena serangan jantung. Dalam situasi seperti ini, semua saling menyalahkan. Nasi sudah menjadi bubur, Sonya Depari dan keluarganya harus menanggung konsekuensi yang terlalu berat, akibat hal sepele.

Sudah banyak yang menghakimi Sonya dan saya rasa sudah terlalu berlebihan. Lagipula, anak muda itu memang penuh dengan emosi yang meletup-letup, apalagi dalam keadaan kepepet. Dari letupan itu tentunya ia bisa banyak belajar. Kita pun juga jadi diingatkan untuk tidak asal sebut nama dan jabatan Oom, Tante, Encing, Babah, Eyang. Yang paling berpengaruh sekalipun. Kasihan atuh kalau keluarga mesti tercoreng, apalagi sampai diulas di media, bukan karena prestasinya, tapi karena perilaku kita yang konyol. Yang paling penting, kita mesti ingat bahwa bullying bisa mengakibatkan kematian.

Selamat beraktivitas rekan-rekan!

Xx,
Tjetje
Bukan anak jenderal

Romantisme Pasar Tradisional

Beberapa minggu lalu, Kompas, koran favorit saya memunculkan ulasan mengenai pasar tradisional di Malang. Pada artikel tersebut dibahas dua pasar, pasar Talun yang masih sangat tradisional serta pasar Oro-oro Dowo. Artikel tersebut membawa kenangan manis tentang pasar-pasar tradisional di Indonesia yang identik dengan bau tak enak, karena sampahnya sering (atau bahkan selalu) dicecerkan di lorong-lorong pasar. Bau tak enak ini masih ditambah dengan bau amis serta becek yang bersumber dari lapak-lapak pedagang ikan.

Traditional Market

Pasar tradisional juga tak lepas dari aksi tipu-menipu, terutama penipuan timbangan dengan memainkan anak timbangan atau yang lazim disebut timbel. Anak timbangan tak pernah diturunkan semua, karena timbangan di pasar memang jarang yang berimbang. Saya sendiri pernah mengalami kesialan ketika pertama kali membeli daging sapi. Sebagai orang yang tak makan daging sapi, saya tak punya pengetahuan sama sekali tentang kualitas daging. Jadi tak heran kalau saya tertipu mentah-mentah, diberi daging kualitas buruk yang sudah tak segar lagi dan hampir membusuk.

Kendati diwarnai dengan penipuan dan kejorokan, pasar sebagai pusat ekonomi memiliki satu keunggulan yang tak ditawarkan oleh minimarket, supermarket, apalagi hypermarket. Pasar menawarkan interaksi antar manusia seperti tawar-menawar harga atau bahkan interaksi yang lebih intim. Interaksi intim ini seperti yang saya alami dengan bu haji daging. Saya tak tahu nama si ibu haji, sementara bu haji juga tak tahu nama saya. Tapi setiap berbelanja di lapaknya, ia akan sibuk “mengenalkan” saya pada para pedagang yang lain sembari membanggakan kesuksesan saya sebagai anak yang bapaknya meninggal menjadi orang. Apalagi ibu saya tak pernah kawin lagi. Ibu haji tersebut bukan satu-satunya, ada pedagang rawon dan pecel yang suka ikut-ikutan bangga karena pencapaian  saya. Bagi mereka, ibu saya sungguhlah perempuan hebat karena membesarkan anak-anaknya sendiri. Saya sendiri tak pernah tahu bagaimana para pedagang di pasar ini tahu tentang cerita hidup saya.

Pasar tak hanya memunculkan keakraban antara saya sebagai pembeli dengan para pedagang, tapi juga dengan para abang becak yang mencari nafkah di depannya. Sebagai anak yang sangat manja, saya memang rajin naik becak dan malas jalan kaki (panas bow), dari ongkosnya masih murah hingga ongkosnya masih tetap murah. Anak salah satu pak becak tersebut rupanya adik kelas saya di sekolah, semenjak saya tahu buku-buku pelajaran saya selalu saya wariskan pada adik kelas saya.

Kota Malang sendiri memiliki pasar yang terpusat di tengah kota, namanya pasar Besar. Mayoritas pedagang dan tukang becak di pasar besar ini adalah pendatang dari Madura. Kesuksesan mereka sebagai pedagang biasanya ditunjukkan dengan ratusan gram perhiasan emas yang menempel di leher serta tangan-tangan mereka. Para pedagang dari Madura identik dengan label-label yang seringkali tak bagus, tapi eyang saya yang gemar berbelanja di pasar ini tak pernah tertipu, malah sukses membawa begitu banyak bonus, seperti kepala ikan yang besar-besar (dan selalu berakhir di perut kucing-kucing peliharaan saya).  Sukses ini tentunya karena eyang saya bisa berbahasa Madura.

https://www.instagram.com/p/69z7TqQxlJ/

Pasar lain yang punya tempat di hati saya ada di Badung, di Denpasar. Entah mengapa saya begitu cinta dengan pasar ini. Selain menyukai nasi ketela (nasi sela) yang dijual di luar pasar tersebut (dan pedagangnya tak cuci tangan dan sibuk memegang makanan dan uang) saya juga menyukai perempuan-perempuan yang membantu mengangkut barang-barang bawaan di atas kepala. Perempuan-perempuan ini tanpa mengeluh berjalan mengikuti para nyonya-nyonya yang sedang berbelanja sayur, ikan, bahkan canang di dalam pasar.

859254_10200228785854884_596598709_o

Nasi ketela yang ditemani dengan loloh cemcem (jamu) . Pedagangnya abis nyolek-nyolek makanan, pegang duit.

Kendati banyak pasar-pasar modern yang mulai dikembangkan pemerintah, banyak pula pasar yang mulai tergusur karena kehadiran supermarket yang lebih modern. Di wilayah tempat saya besar, pasar tradisional malah digusur oleh sang walikota untuk dijadikan mall. Sungguh menyedihkan memang melihat perubahan ini, tapi nampaknya orang-orang modern lebih menyukai supermarket (dan mall) karena kebersihan, harga yang murah (dan tak perlu menawar), kualitas barang yang lebih terjaga serta waktu buka yang lebih panjang.

Sudah saatnya kita kembali ke pasar, kembali mendukung para pedagang yang berjuang keras dan bangun sejak pagi buta untuk mendukung ekonomi negeri kita. Saya sendiri jika pulang ingin pergi ke pasar, bukan untuk menengok ibu haji daging, tapi untuk membeli nasi jagung yang ditemani dengan sayur labu manis bersantan ringan, ikan asin dan rempeyek. Ah kalau sudah begini jadi pengen pulang.

Kalian punya cerita manis dengan pasar tradisional?

Xx,
Tjetje

Tukang Palak

Saya mendefiniskan tukang palak sebagai orang-orang yang mengambil penghasilan, keuntungan atau bahkan kekayaak orang lain demi kepentingan pribadi dengan cara mengintimidasi dan model premanisme. Di Indonesia sendiri tukang palak banyak macamnya dan tersebar dimana-mana, dengan pola pemalakan yang serupa.

Tukang malakin temen

Sebelum membahas ke tukang palak professional, yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan palak-memalak, ada tukang palak yang sebenarnya tersebar dalam jaringan pertemanan kita. Mereka ini biasanya yang nomor satu r, yang selalu menjadi kompor atau memprovokasi orang lain untuk minta traktir saat ada teman yang berulang tahun, naik gaji, mendapatkan promosi atau momen-momen lainnya. Bagi tukang palak yang model begini: urusan perut nomor satu. Tak hanya ditemukan di kantor, mereka juga ada di dalam keluarga, apalagi jika ada anggota keluarga yang berlebih.

tukang palak

illustration: internethotline.jp

Kuli Angkut Barang

Pernah menengok cara kerja kuli angkut barang, terutama di terminal-terminal atau di bandara? Biasanya mereka tak segan-segan untuk langsung mengerubuti bagasi taksi atau kendaraan dan memaksa mengangkut barang-barang tersebut tanpa permisi. Orang-orang yang galak macam saya sih biasanya langsung pasang muka kenceng dan menolak, tapi banyak sekali orang-orang yang sering pasrah dan polos.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri mereka bisa ditemukan di dekat parkiran dimana para pejalan yang baru kembali dari perjalanan menanti kendaraan pribadi yang menjemputnya. Tanpa aba-aba mereka mengangkut koper dan kardus ke dalam bagasi kendaraan.

Kedua tipe pekerjaan ini punya satu kesamaan: tak jelas tarifnya dan seringkali berakhir pada ‘perkelahian halus’ karena uang yang diberikan tak cukup atau tak sesuai. Sesuai dengan kemauan hati. Bandara Soekarno-Hatta sendiri sudah menerapkan tarif 50.000 untuk maksimal 3 trolley per kuli. Jadi jangan mau tertipu (seperti saya ya).

Tukang Parkir Liar

Bisnis perparkiran adalah bisnis yang menggiurkan, karena hanya bermodalkan tangan, peluit, suara yang kencang, kemampuan berlari serta ketahanan terhadap perubahan cuaca. Di satu sisi, tukang parkir membantu kelancaran dan kemudahan memarkir kendaraan. Idealnya tukang parkir ini memberikan tiket yang dikeluarkan oleh pemerintah kota atau kabupaten untuk setiap kendaraan yang terparkir. Tarif yang dikenakan pun harus sesuai dengan tarif yang dibuat pemerintah.

Tapi kenyataannya, tukang parkir tak hanya menghindari memberikan tiket, tapi juga memberikan harga yang mencekik leher. Terutama di area-area wisata pada musim liburan. Pertengkaran mulut seringkali terjadi karena tarif yang tak sesuai, tapi kebanyakan pengemudi kendaraan mejadi takut, karena takut kendaraannya dibaret. Ngotot minta karcis parkir pun juga sering berakhir dengan kekecewaan, karena tiket parkir yang diberikan palsu. Ah orang kecil pun berkorupsi kan.

Jasa makelar

Dalam hukum kebiasaan, makelar memang berhak mendapatkan 2,5% dari setiap transaksi yang terjadi, baik urusan pertanahan maupun urusan jual beli rumah. Tapi menurut saya, harus ada kesepakatan terlebih dulu siapa yang menjadi makelar dalam sebuah transaksi. Nggak yang ujug-ujug tiba-tiba merasa bisa mengklaim uang orang lain dan main intimidasi dalam mengklaimnya. Ah tapi begitulah repotnya urusan kebiasaan ini.

Pak Ogah

Pak Ogah adalah orang-orang yang berdiri di pertigaan atau perempatan sempit dan padat untuk membantu mengatur lalu lintas, supaya tidak terjadi kemacetan. Jasa Pak Ogah ini tak gratis, jika dulu pak Ogah diberi cepek (Seratus), jaman sekarang Pak Ogah ya bakalan ngamuk jika hanya diberi cepek.  Masalahnya, Keberadaan Pak Ogah ini bisa membantu tapi di banyak kesempatan justru merepotkan dan membuat kemacetan bertambah parah. Yang makin mengesalkan jika pak Ogah ini bekerja rame-rame dan segera memberikan jalan jika ada kendaraan yang memberikan uang dalam jumlah besar. Di Jakarta, uang memang berbicara dengan keras.

Meter Angkot

 Bagi saya, ini jawaranya tukang palak di Indonesia. Tukang meter angkutan, alias tukang malakin supir-supir angkut dan juga taksi yang mengangkut penumpang di sebuah daerah. Pendek kata si meter angkot ini adalah penguasa daerah tersebut dan merasa berhak mendapatkan uang dari penghasilan orang lain. Masalahnya, dari semua tukang palak di atas, tukang meter angkot ini tak punya kontribusi apa-apa. Tak memindahkan barang, tak membantu memarkir, tak membantu menghentikan kendaraan. Hanya diam tertegun dan sesekali berteriak. Kalau dipikir-pikir, meter angkot ini mirip dengan tukang malakin temen. Engga bisa lihat orang lain berhasil baik dan menghasilkan, bawaannya pengen minta aja.

Parahnya, mereka bisa ditemukan di mana saja di Indonesia, dari kota besar hingga kota kecil, apalagi jika kendaraan tersebut ngetem, alias berhenti selama beberapa waktu. Di Jakarta sendiri, taksi-taksi yang mengangkut penumpang di samping Sarinah juga sering dipalakin. Yang kasihan, jika penumpang tersebut ternyata hanya ke tujuan jarak dekat. Untungnya habis, atau bahkan minus untuk memberi si tukang palak.

Maraknya tukang palak di Indonesia, baik di jalanan atau bahkan di pasar (sengaja gak dibahas karena di pasar terlalu banyak pemalakan) adalah bukti kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja. Pemalakan dan premanisme yang dianggap sebagai sebuah kewajaran dan tak pernah diprotes ini tentunya tak akan pernah mati selama kita terus-menerus membiarkannya. Kalaupun diprotes, mungkin hanya sekedar bergerutu seperti saya ini, sambil kemudian mendinginkan kepala dan beralasan: “ah bantuin orang miskin, ngamal”. Gerutuan yang tentunya tak akan merubah keadaan.

Pernah ngalamin dipalak?

Xx,
Tjetje
Tukang menggerutu

*ngamal (bahasa Jawa) = beramal

Generasi Instan

Berbagi informasi melalui blog bagi saya adalah sebuah kesenangan yang memberikan kepuasan batin tersendiri. Ambil contoh postingan saya tentang cara kawin di Hong Kong yang “sukses mengawinkan” banyak pasangan beda agama. Duh tak terkira deh senangnya saya setiap kali menerima informasi tentang orang-orang yang berhasil mengikat janji setia sehidup semati. Makanya, penting bagi saya untuk sesegera mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan dokumen perkawinan.

Sialnya, ada saja orang-orang yang malas membaca postingan saya dan seringkali memberikan pertanyaan yang jawabannya sudah ada. Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali saya jawab secara manis “informasinya ada di postingan tersebut”, tapi sejujurnya kalau boleh saya menjawab secara pahit, saya ingin sekali-sekali nyolot dan menjawab: “sebenarnya yang butuh situ apa saya ya? Situ kan? kalau situ yang butuh, usaha dikit kek meluangkan lima atau sepuluh menit untuk baca. Bagus lho cuma 5-10 menit aja bacanya, saya nulis itu bisa setengah hari sendiri, atau bahkan berhari-hari karena perlu riset dan baca banyak informasi. Itu informasi sudah disarikan demi kemudahan situ”. Oh tak lupa pengen saya tambahin lagi: “baca buat diri sendiri malas, kapan majunya?!”. Fiuh leganya ngomel-ngomel.

Sungguh saya tak paham, mengapa orang jaman sekarang malas untuk baca, padahal di jaman ini mencari informasi itu mudah sekali, cukup modal jempol, telepon genggam dan koneksi internet. Memang harus diakui tak semua orang senang dan bisa cepat memahami dari membaca. Tapi sekali lagi, yang perlu kan diri sendiri, jadi apa salahnya juga dibaca dulu. Kalaupun tak ingin membaca semua informasi  ada tombol control F yang bisa mencari kata-kata kunci dengan mudah. Kesimpulan saya, mereka yang malas baca ini adalah orang yang maunya disuapin melulu dan tak pernah belajar memegang sendok sendiri. Bahasa gaulnya: generasi instan yang maunya cepet gak mau susah.

lazy parents

ilustration: ivebecomemydad.com

Generasi instan ini tak hanya ditemukan dalam urusan perblogan dan sosial media saja, tapi ditemukan dimana-mana dalam kehidupan kita. Dalam dunia perblogan tak hanya ada pencari informasi yang males baca, tapi juga ada blogger yang hobi banget nyontek tulisan orang. Dalam sosial media sendiri ada mereka yang ingin terkenal instan dengan memiliki banyak followers di sosial media yang dipunyai. Entah beli akun yang sudah memiliki banyak pengikut atau dengan membeli pengikut, harganya pun murah. Lha tapi apa gunanya punya pengikut satu milyar kalau pengikut ini hanya akun-akun bot yang tak jelas, akun yang bahkan tak bisa diajak komunikasi, apalagi diajak kopdaran. Lha fungsinya sosial media itu kan untuk berinteraksi, bukan untuk gaya-gayaan.

Selain ditemukan di dunia maya, mereka juga bisa ditemukan di dalam kantor, sekitar pemukiman kita hingga dalam jaringan pertemanan. Contoh paling mudah aja mereka yang malas mencari pekerjaan sendiri dan mengandalkan jabatan dari orang-orang sekitarnya, baik yang sedarah atau sekadar sekampung. Akibat persaingan tak sehat ini, mereka yang memiliki potensi dan tak punya koneksi pun harus merana. Dan di Indonesia yang seperti ini buaaaaanyak banget. Kalau yang ini sih bukan hanya sang generasi sekarang, tapi juga salah orangtua yang tak mengajarkan anaknya untuk berjuang dan repot menyuapi kendati si anak sudah dewasa.

Kelompok-kelompok instan ini mungkin pada jaman sekolah dulu jarang belajar dan lebih sering menggunakan sistem kebut semalam. Masih bagus sih kalau mau ngebut belajar, yang parah tentunya yang repot nyontek teman sebangku, beli kunci jawaban atau tentunya yang paling top: yang repot nyogok gurunya supaya dapat nilai bagus.

Pada akhirnya, membaca, mencari teman, mencari pekerjaan atau bahkan belajar adalah sebuah proses yang seringkali tak enak dan menyakitkan. Tapi sesakit apapun proses itu, hasilnya yang menikmati kan diri sendiri. Jadi mengutip kata-kata saya di atas: “Situ jangan males dong”.

Pernah berurusan dengan generasi instan ini?

xx,
Tjetje

Serba-serbi Warisan

Seorang teman bercerita bahwa dulu di Inggris terdapat insitusi keuangan yang mendatangi orang-orang yang sudah tua untuk membeli rumah mereka dengan sistem  pembayaran sejumlah besar uang setiap tahunnya hingga kematian orang tersebut.  Pada saat orang tersebut meninggal, hak atas rumah tersebut akan jatuh pada perusahaan yang membeli rumah tersebut. Sebuah perusahaan kemudian “sial” karena membeli rumah dari seorang nenek berusia 76 tahun yang usianya mencapai 106 tahun. Saking panjangnya hidup sang nenek, petugas sales yang membeli rumah tersebut meninggal sebelum sang nenek meninggal.

Perdagangan semacam ini konon sudah tak diperkenankan lagi di Inggris, karena banyaknya kasus yang berakhir di pengadilan. Anak-anak yang merasa punya hak waris banyak yang tak mengetahui rumah orang tuanya sudah dijual dan mereka, merasa punya hak atas rumah tersebut, sehingga menuntut. Terlebih lagi, mereka merasa orang tua mereka ditipu, karena mereka dalam keadaan rentan dan sendiri.

Perbincangan kami kemudian berlanjut pada masalah warisan, sebuah isu yang sangat sensitif di banyak tempat. Sama seperti di Indonesia, disini ada saja anak-anak yang memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap harta kekayaan orangtuanya. Perebutan harta dalam keluarga yang seringkali berakhir di pengadilan, biasanya terjadi antara anak yang belum kawin (dan masih tinggal dengan orang tua) dengan anak yang sudah kawin. Orangtua sering meninggalkan harta untuk si lajang, sementara yang kawin merasa tak terima dengan keputusan itu. Sudah ada surat waris sekalipun masih ada ribut-ribut soal warisan ini dan seringkali hubungan persaudaraan menjadi rusak. Dalam beberapa kasus yang kami diskusikan bahkan ada salah satu anggota keluarga yang merelakan membagi-bagi harta warisannya, sekalipun ia adalah ahli waris sah sesuai  surat waris, karena ia menghindari perkelahian di pengadilan (yang bakalan mahal).

Menariknya, tak semua orang berpikiran seperti itu, saya masih banyak bertemu dengan anak-anak yang mengatakan bahwa orang tua itu tak perlu memberikan apa-apa kepada anaknya. Masing-masing individulah yang harus berjuang untuk bisa melanjutkan hidup. Modal pendidikan sendiri disini disedikan oleh pemerintah, dari mulai yang formal hingga kursus-kursus bagi mereka yang bergantung pada jaminan sosial.

Di Indonesia sendiri, “cakar-cakaran” banyak terjadi karena yang satu merasa memiliki hak yang lebih besar. Ada pula kasus dimana saudara laki-laki merasa punya hak atas kekayaan saudara prianya, sehingga sang paman harus berebut harta dengan keponakan-keponakan perempuannya. Tapi dari semua urusan perebutan ini, yang  “paling seru” tentunya perebutan harta antara istri pertama dengan istri kedua. Istri pertama yang selama hidup merana karena sang suami membagi cintanya, biasanya memiliki posisi lebih kuat secara hukum, sementara istri kedua dan anak-anaknya seringkali kalah, karena lemah di mata hukum. Makanya jangan heran jika banyak istri kedua yang harus memastikan masa depannya terjamin, karena posisi mereka yang lemah. Seringkali mereka dituduh memeras pasangannya, padahal mereka hanya ingin memastikan keamanan keuangan anak-anaknya.

Ada pula kasus dimana semua pihak tak setuju terhadap apa yang akan dilakukan terhadap harta warisan. Yang satu ingin dijual, sementara yang satu masih menyimpan banyak kenangan dan tak mau menjual. Mencapai kesepakatan seperti ini tentunya tak mudah dan memerlukan kesabaran luar biasa. Kalau tidak sabar, bisa-bisa salah satu pihak berakhir di pemakaman, sementara pihak lainnya berakhir di hotel prodeo. Kemudian cerita perseteruan ini menghiasi koran-koran murah yang beredar di lampu merah. Herannya, tak ada parang, pistol ataupun santet-menyantet jika warisan yang ditinggalkan adalah warisan hutang.

warisan

cartoon: toonpool.com

Menariknya, jika di Indonesia warisan tidak dikenakan pajak khusus di Irlandia warisan dikenakan pajak. Ada pengeculian tentunya, untuk mereka yang mendapat warisan dari pasangannya yang meninggal dunia (disinilah posisi perkawinan setara menjadi penting). Pajak yang dikenakan pada harta warisan ini jumlahnya “kecil”, 33% saja saudara-saudara. Konon memang jauh lebih kecil daripada di negara lain, saking kecilnya ada orang Amerika yang melepaskan kewarganegaraannya dan menjadi orang Irlandia. Persentase tersebut memang terlihat kecil, tapi begitu dapat warisan rumah senilai 100 juta Euro, pusing aja nyiapin pajaknya yang gak karu-karuan gedenya. Alhasil, rumah-rumah hasil warisan ini seringkali terpaksa dijual untuk membayar pajaknya.

Saya melihat warisan sebagai sebuah pemberian, nah karena sistemnya pemberian maka tak selayaknya jika warisan dikejar-kejar, apalagi kalau ngejarnya bawa senjata tajam. Apalagi sampai memaksa orang tua menjual asetnya supaya anaknya bisa segera mendapatkan porsi yang dimaui. Lha yang kerja keras orang tuanya kok anaknya yang repot minta-minta.

Pernah dengar cerita keluarga yang berkelahi karena warisan?

Xx,
Tjetje

Pinjam Duit

Saya punya prinsip tak mau meminjamkan uang pada teman. Bagi saya, pinjam-meminjam uang itu berpotensi merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin selama kurun waktu tertentu. Parahnya, hubungan ini bisa menjadi rusak karena nilai uang yang kadang tak seberapa, sekedar ratusan ribu rupiah. Padahal, membangung pertemanan itu susah dan yang paling penting, pertemanan itu begitu berharga sehingga tak layak dirusak oleh rupiah.

Kendati sudah terkenal pelit dalam urusan meminjamkan uang, masih saja ada orang-orang yang nekat mencoba. Alasan orang minjam biasanya macam-macam, tapi yang paling banyak saya terima karena kepepet, ada musibah yang memerlukan biaya besar. Selain itu, ada pula yang terpaksa meminjam karena perlu membayar tagihan rutin yang harusnya sudah bisa diprediksi ketika gajian. Bad money management. Tergantung kedekatan saya dengan sang peminjan, tapi jika kami benar-benar dekat, biasanya saya akan memberikan uang tanpa perlu dikembalikan. Jumlah yang saya berikan pun lebih rendah dari yang diminta. Cara ini terbukti efektif untuk menghentikan percobaan pinjaman-pinjaman di masa yang depan, karena sang peminjam biasanya gak enak. Yay!!

Selain dua alasan di atas, ada lagi satu alasan yang bikin gondok: “buat modal usaha”. Nah kalau yang minjam dengan alasan ini biasanya jumlah yang akan dipinjam bukan ratusan lagi, tapi jutaan. Resiko meminjamkan uang jutaan bagi saya agak mengerikan, apalagi gak ada jaminan dari BLBI jika terjadi gagal bayar. Nistanya, kalau pinjaman ini nekat kita tolak, seringkali ada komentar miring macam: “masak sih duit segini aja ga punya, kan gajinya kerja disini [sambil menyebut institusi tempat saya bekerja dulu] pasti gede.” Walaupun tak pernah mengalami, tapi saya sering mendengar mereka yang memiliki pasangan orang asing dikomentari tak enak: “ya kan suaminya bule, duitnya banyak.” Lha kalau pasangannya orang asing, apa mereka mesti buka koperasi simpan pinjam?

Ngomong-ngomong tentang pinjam duit, di tiap negara dimana ada komunitas orang Indonesia pasti ada peringatan-peringatan supaya berhati-hati jika si A, B, C atau D meminjam uang, karena catatan buruknya. Catatan buruk ini apalagi kalau tidak pernah mengembalikan uang pinjaman. Enaknya di Irlandia, mereka yang nekat minjam uang dan tak dikembalikan bisa diperkarakan, bahkan dipaksa membayar secara cicilan dengan cara dipotong dari gajinya. Enak sih uang kembali, tapi capeknya itu lho.

pinjam duit

source: bankrollup.com

Bicara tentang pinjam meminjam, tentunya kita tak bisa lepas dari institusi seperti koperasi, pegadaian dan juga bank. Saya kadang bingung, mengapa orang-orang yang perlu uang untuk usaha ini tak memulai menyimpan uang di koperasi, membangun reputasi lalu meminjam uang ketika saatnya sudah tiba. Berdasarkan pengalaman orang-orang, proses meminjam di koperasi itu lebih mudah daripada di bank, walaupun bunganya sungguh mengerikan. Koperasi tak hanya dikenal di Indonesia saja, di Irlandia pun saya menemukan institusi serupa.

Selain koperasi, alternatif tempat ‘pinjam uang’ lainnya adalah pegadaian yang punya reputasi beres dalam waktu lima menit. Sekitar enam tahun yang lalu saya pernah berurusan dengan pegadaian ketika gaji saya terlambat dikirimkan. Telatnya sudah gak main-main lagi dan sialnya tabungan saya tak bisa dijamah karena diprogram untuk rentang waktu tertentu. Menggadaikan barang ternyata mudah sekali, cukup bermodal kartu identitas dan barang yang digadaikan. Bunga pinjaman dihitung dalam waktu mingguan, jadi semakin cepat menebus semakin rendah bunganya. Jika tak ditebus dalam kurun waktu 16 minggu, barang tersebut kemudian akan dilelang.

Dengan akses seperti itu, mestinya pinjam-meminjam uang pada teman tak perlu dilakukan. Cukup ke pegadaian yang bisa ditemukan dimana saja, dan menggadaikan barang berharga. Bebas dari rasa malu pada teman, apalagi pada orang tua. Di pegadaian pun petugas juga tak bertanya kenapa kita memerlukan uang.

Bicara tentang pinjam-meminjam, tentunya kita tak bisa melupakan institusi perbankan. Perbankan di Indonesia tak hanya gencar menawarkan kartu kredit tapi juga gencar menawarkan KTA, kredit tanpa agunan. Beberapa tahun lalu saya ditawari KTA yang bunganya sungguh mencekik leher. Ketika itu, KTA yang prosesnya luar biasa mudah tersebut ditawarkan sebagai sebuah paket dari employee banking yang ada di institusi tempat saya bekerja. Sang marketing menawarkan KTA dan saya menolak, karena tak sedang memerlukan uang tunai dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat (saya juga tak rela bayar bunga yang mencekik). Mas marketing kemudian berkata: “Ya siapa tahu ingin liburan ke luar negeri atau ganti handphone yang lebih canggih. Sayang lho mbak, kesempatan bagus dilewatkan”. Oalah mas, nampaknya pinjam uang sekarang bukan karena kebutuhan yang mendesak lagi, tapi karena memaksakan gaya hidup tertentu.

Pernah dipinjami uang oleh teman, atau mungkin dipaksa utang oleh bank?

Xx,
Tjetje

Kartu Plastik Nan Sakti

Kartu plastik berisikan enam belas digit angka ajaib serta tiga angka yang lebih ajaib lagi merupakan barang biasa di Indonesia. Proses mendapatkan kartu kredit di tanah air boleh dibilang luar biasa mudah dan cepat, walaupun tak secepat proses menggadaikan barang berharga di pegadaian. Kartu kredit juga menjadi senjata ampun bagi para pegawai untuk tetap bisa melampiaskan napsu belanja ketika gaji belum tiba.

Mendapatkan kartu kredit terbilang mudah, cukup dengan mengisi dan menandatangani beberapa lembar formulir dan menyertakan kartu identitas. Slip gaji yang biasanya menjadi acuan untuk menentukan limit kartu juga bukan sesuatu yang benar-benar diperlukan. Bahkan terkadang para marketing kartu kredit mengambil inisiatif untuk menaikkan gaji di aplikasi. Status sebagai pekerja kontrakan pun tak menjadi masalah, karena semuanya bisa diatur. Diatur oleh para aplikan ini sendiri.

Ketika pihak bank menelpon ke kantor, HRD yang bertugas memverifikasi data-data aplikan bisa dengan mudahnya ‘dipalsukan’. Cukup bekerja sama dengan resepsionis kantor untuk mengalihkan telpon pada orang-orang yang sudah ditentukan, maka urusan pun akan lancar. Perlu dicatat, pihak HRD gadungan ini haruslah orang yang memiliki ketenangan dan juga kepercayaan diri untuk bisa menjalankan akting dengan baik. Data-data pun harus sudah dipersiapkan supaya ‘HRD’ tak kagok ketika menerima pertanyaan.

Kerjasama terorganisir ini tak hanya memudahkan fasilitasi akses hutang aplikan tapi juga mempermudah sales kartu kredit mencapai targetnya. Di sebuah halte TransJakarta saya pernah iseng ngobrol dengan seorang sales dan ia mengatakan honor 250.000 baru bisa didapatkan ketika seorang aplikan sudah mengaktifkan kartu kreditnya. Jadi ya jangan heran kalau kita sering dibujuk mengaktifkan kartu.

credit card

Memiliki kartu kredit tidak selamanya gratis, ada biaya tahunan yang seringkali diberikan secara gratis hanya pada tahun pertama. Biaya tahunan di tahun selanjutnya jarang sekali gratis. Jika ingin digratiskan seumur hidup, konsumen cukup menelpon pemberi kartu dan mengancam menutup kartunya. Seringkali gertak sambal ini berhasil, tapi ada kalanya tak berhasil.

Kartu kredit memang mempermudah banyak hal, termasuk urusan belanja-belanja online yang jika tak direm bisa keblablasan. Urusan tak bisa mengerem ini sebenarnya cukup berbahaya, apalagi bunga kartu kredit di Indonesia tingginya melebihi gedung-gedung pencakar langit. Bunga yang seringkali disamarkan menjadi sangat rendah, serendah 2 atau bahkan 3 persen per bulan dan membuat orang lupa bahwa bunga harus dikalikan 12 bulan terlebih dahulu. Bunga yang tinggi ini kemudian masih dibungakan lagi ketika terjadi kegagalan pembayaran. Makanya jika melakukan transaksi yang diniatkan untuk dibayar secara cicilan, ada baiknya transaksi tersebut diproses untuk menjadi cicilan, entah enam bulan entah satu tahun. Konon bunga-berbunga ini sudah dihapuskan setelah terjadi kematian nasabah Citibank yang diintimidasi oleh tukang tagihnya, tapi tak membuat suku bunga menjadi lebih rendah.

Tukang tagih atau lazim disebut sebagai debt collector ini memang sangat mengerikan dan entah mengapa selalu datang dari timur Indonesia. Banyaknya tukang tagih dari Timur Indonesia ini seakan mengukuhkan kegalakan orang-orang dari Timur. Sungguh sebuah label yang saya tak sukai. Anyway, di sebuah kantor saya dulu ada tukang tagih menyeramkan datang untuk menagih hutang salah satu pekerja di gedung kami. Singkat cerita, sang tukang tagih hutang tersebut pulang dengan hampa, bahkan tak sempat menunjukkan giginya, karena satpam di kantor kami berasal dari daerah yang sama. Yang berhutang pun aman, tak tersentuh.

Kendati ada kasus buruk dengan orang kartu kredit, orang-orang masih saja tak gentar dan ingin punya kartu kredit. Bahkan tak sedikit orang yang memiliki lebih dari lima kartu kredit dan menumpuk hutang-hutang pada kartu kredit tersebut. Beberapa orang yang saya kenal bahkan dengan mudahnya “melarikan diri” dari belitan hutang ini karena identitas yang mereka gunakan palsu. Pada saat yang sama, ada beberapa orang yang mengalami kesialan ketika harus berhadapan dengan melonjaknya tagihan karena data yang bocor.

Kartu kredit menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang modern di kota-kota besar di Indonesia. Kartu ini menjadi semacam identitas semu untuk melambangkan bahwa sang empunya bukanlah orang sembarangan dan memiliki penghasilan dalam jumlah fantastis sehingga bisa memiliki kartu-kartu berwarna emas atau berwarna platinum. Nampaknya gaya seperti orang-orang kaya masa lalu yang membawa segepok uang tunai di dalam karung bukanlah gaya hidup yang dianggap stylish lagi. Orang kaya jaman sekarang modalnya cukup kartu plastik bukan uang tunai lagi.

Kamu punya berapa banyak kartu kredit?

Xx,
Tjetje

Hebohnya Parade Hari Santo Patrick di Dublin

St. Patrick’s Day merupakan salah satu hari terpenting di Irlandia. Tak hanya dirayakan di Irlandia, St. Patrick’s Day juga banyak dirayakan di negara-negara dimana banyak terdapat diaspora Irlandia, seperti Amerika. Berbagai gedung dan landmark di dunia juga berubah warna menjadi hijau untuk memperingati St. Patrick’s Day ini. Jika tahun lalu saya bersedih hati karena visa belum juga keluar, tahun ini saya bersemangat karena bisa menonton parade ini secara langsung untuk pertama kalinya.

Parade tahun ini juga menjadi spesial karena grand marshal (yang memimpin parade) adalah seorang anak remaja penyandang disabilitas berusia 19 tahun. Ia mengalami tetra Amelia, suatu kondisi dimana ia lahir tanpa kaki dan tangan. Di dunia hanya ada 7 orang dengan kondisi seperti ini. Selain Joanne O’Riordan, ada setidaknya 5 anak down syndrome serta beberapa anak-anak di kursi roda yang mengikuti parade ini sebagai partisipan. Mereka yang di kursi roda mengenakan kostum khusus yang dirancang menutupi kursi mereka. Dari pengamatan saya para penyandang disabilitas juga mendapatkan wilayah khusus untuk menonton sehingga tak perlu berdesakan dengan 500 ribu orang lainnya. Beberapa orang yang mengisi parade juga mampir ke area ini untuk selfie atau bersalaman. Bagi saya yang pernah bergulat dengan isu disabilitas, perhatian yang diberikan pada mereka yang menyandang disabilitas ini bikin ngiri, ngiri kapan Indonesia bisa seperti ini.

https://www.instagram.com/p/BDDqkF-wxoX/?taken-by=binibule

Selain diisi 10 kelompok drumband dari Amerika, saya juga melihat kelompok drumband dari Perancis. Kata suami, ada daftar tunggu panjang untuk bisa ikutan parade ini, jadi tak heran kalau ada ratusan orang Amerika yang rela menempuh perjalanan jauh demi tampil disini. Sekelompok polisi dari Berkeley Amerika juga datang dan berparade di depan. Mereka ini cukup spesial bagi orang-orang Irlandia, karena mereka merupakan first responders saat adanya balkon ambruk di Berkeley musim panas lalu. Saat itu lima orang Irlandia dan satu pelajar Amerika meninggal dunia dan seluruh Irlandia berduka cita, termasuk Presidennya. Bendera-bendera juga langsung setengah tiang untuk menghormati para pelajar yang meninggal tersebut. Di Irlandia, kematian dan tragedi rupanya ditanggapi secara serius.

Anjing K-9 yang sedang berparade bermain-main dengan penonton anak-anak.

Parade ini tidaklah terlalu panjang, karena tahun ini ada peringatan 100 tahun Easter Rising di Irlandia, yang berarti akan ada parade lagi. Tapi cukuplah saya puas berdiri dari sebelum jam 10, dua jam sebelum parade dimulai, hingga parade berakhir pada pukul 2 siang. Beruntungnya matahari hari itu bersinar cerah, langit biru, walaupun sesekali muram dan suhu udara tak terlalu dingin.

Bagi saya, St. Patrick’s Day yang diperingati sebagai hari penting Santo Patrick ini berubah menjadi hari minum-minum di mana saja, terutama setelah parade usai. Alkohol yang baru-baru saja diperkenankan dikonsumsi pada saat St. Patrick’s Day tak hanya dikonsumsi oleh orang-orang dewasa tapi juga anak-anak di bawah umur. Mereka minum di jalan-jalan dan juga di dalam pub dan pada hari itu, Polisi memperbolehkan orang-orang untuk minum di jalan.

Masuk dan membeli minum di pub sendiri memerlukan usaha, karena banyaknya manusia. Saya yang duduk bersama pasangan di bar bersimpati luar biasa pada bartender yang berjuang keras untuk bisa memberikan minum secepatnya. Di pub tempat saya nongkrong, sang bartender menyiapkan minuman dan juga menjadi kasir. Perlu dicatat juga bahwa membeli minuman di bar berarti harus datang ke bar, memesan, menunggu minuman dan langsung bayar; tak ada sistem menunggu di meja. Saking penuhnya, pub yang saya datangi sampai sempat kehabisan gelas.

Anak-anak muda yang di bawah umur dan tak diperkenakan masuk pub tak kehabisan akal. Di depan mata saya mereka memindahkan sebotol whisky ke dalam botol soda. Tanpa malu mereka meletakkan botol whisky kosong tersebut di samping saya yang sedang berdiri menanti suami. Ketika itu saya hanya tertegun dan speechless. Wajar saja jika pada pukul 4 sore sudah banyak anak-anak di bawah umur yang mabuk dan berlaku gila. Menurut seorang teman, saya seharusnya melaporkan anak-anak tersebut ke Polisi yang banyak berkeliaran supaya minuman tersebut disita. Ah biarlah, biar mereka tahu enaknya hungover.

Daerah Temple Bar yang terkenal sebagai daerah turis juga dipenuhi lautan manusia yang mengenakan aneka ornamen hijau warna yang identik dengan St. Patrick. Polisi berjaga-jaga di setiap gang kecil yang menuju kawasan ini. Mungkin jika ada insiden atau perkelahian mereka bisa segera merespons dengan cepat. Jumlah polisi yang ada di Dublin saat itu juga mengalahkan jumlah polisi pada saat pengamanan demo besar. Agaknya orang mabuk memang lebih membahayakan ketimbang demonstran.

Peringatan St. Patric’s Day awalnya identik dengan warna biru, tapi kemudian diganti dengan warna hijau, supaya sesuai dengan warna shamrock, daun keberuntungan Irlandia yang juga menyimbolkan Katolik trinity. Bicara tentang Shamrock, John sang penunggu pintu di Brown Thomas, salah satu pusat perbelanjaan papan atas di Dublin juga mengenakan daun shamrock di topinya. Saya perhatikan ada beberapa orang yang berdandan formal (mungkin duduk di tribun kehormatan bersama orang-orang penting di Irlandia) serta orang-orang tua yang memasang daun tersebut. Rupanya ini merupakan tradisi. Kata suami, jaman dulu daun itu bisa didapatkan dari gereja, tentunya setelah lebih dulu diberkati.

https://www.instagram.com/p/BDEJnLcwxpM/?taken-by=binibule

Setelah melihat langsung kegilaan St. Patrick’s Day, saya paham betul mengapa orang-orang lebih memilih untuk duduk di rumah saja melihat televisi ketimbang datang ke kota. It was mad! Sudut-sudut kota menjadi kotor, orang duduk di trotoar sambil makan karena tak ada tempat tersisa di restoran cepat saji, sementara trotoar menjadi lengket karena tumpahan bir. Pada saat yang sama orang tua yang membawa kursi dorong bayi tak bisa bergerak leluasa, sementara para gelandangan duduk di pinggir jalan mengharapkan recehan. Kendati luar biasa dipenuhi manusia dan ‘gila’, saya tak kapok. Tahun depan, saya akan tinggal di pusat kota lebih lama supaya saya bisa melihat dan mengamati kegilaan yang lebih parah.

Postingan ini akan saya akhiri dengan video kocak dari seorang kakek-kakek yang memilih untuk duduk di halaman belakangnya bersama anjingnya (perhatikan dia berkata: me dog) karena dia sebel lihat banyaknya orang Amerika di Dublin saaat St. Patrick’s Day. Si kakek ini langsung terkenal karena gayanya menirukan turis Amerika.

Have a nice week everyone!

xx,
Tjetje

3 Restauran Sushi Terenak di Jakarta

Sebenarnya saya ini bukan food blogger, saya lebih suka memanggil diri sebagai sosial blogger. Tapi apa daya, berhubung sedang rindu berat dengan masakan Jepang jadi tergerak untuk menulis cerita tentang restauran Jepang. Komunitas Jepang di Indonesia memang cukup besar, jadi tak heran jika di Indonesia, apalagi di Jakarta, jumlah restauran Jepang sangat banyak tersebar di berbagai sudut kota. Dan tanpa disadari, lidah saya memang sudah banyak terekspos dengan masakan Jepang.

Alkisah, bulan Februari lalu saya dan pasangan memutuskan untuk mengunjungi salah satu restauran Jepang yang konon TOP BGT di Dublin. Dari beberapa review, restauran ini menduduki peringkat tinggi dan banyak disukai oleh Dubliner. Halah ternyata makanan di restauran ini biasa-biasa  saja. Bahkan sushinya berantakan ngerollnya. *ya maklum sudah pernah kursus sushi jadi agak belagu*. 

Saya jadi tergerak untuk berbagi beberapa restauran Jepang favorit saya di Jakarta. Berbicara tentang restauran Jepang tentunya tak bisa lepas dari satu restauran sushi yang banyak dicintai orang Jakarta. Gak usah disebut lah namanya, yang jelas kalau bulan puasa ini restauran antriannya panjang. Anyway, saya pernah mengajak seorang rekan dari Jepang untuk makan di restauran ini sambil berpromosi bahwa sushi itu enak. Ternyata bagi lidah orang-orang Jepang yang saya kenal, restauran ini terlalu fushion, kurang tradisional. Jadi dimana enaknya makan sushi yang tradisional?

Sushi Sei

Terletak di bagian belakang Plaza Senayan, persis di seberang X2, Sushi Sei menawarkan sushi dan sashimi yang benar-benar segar dengan kualitas super, bukan KW1. Memesan sushi disini tak bisa cepat-cepat dan tentunya tak bisa minta wasabi dan ginger segambreng karena semua sudah diatur oleh sang Chef. Dalam tata krama makan sushi, konsumen memang harus mempercayakan pada chef untuk mengatur jumlah wasabi. Makan siang di restauran ini juga seringkali dibuat set menu, yang termasuk dessert (biasanya buah) dan juga chawan musi. Bagi yang mengadakan pesta atau arisan, sushi sei juga menjual sushi dalam wadah super jumbo yang khas Jepang. Kerusakan makan siang disini biasanya berkisar 150 ribu rupiah.

Marufuku

Restauran ini nyempil di kawasan little Tokyo di Blok M.  Saya ingat ketika pertama kali mencari restauran ini tak mudah dah harus bertanya pada tukang parkir dan juga mbak-mbak yang menjajakan jasa karaoke. Sushinya enak dengan harga yang tak terlalu mahal. Selain sushi, ada banyak kudapan dalam porsi kecil-kecil yang bisa dibagi (jika rela berbagi makanan, karena porsinya yang kecil). Marufuku juga menyediakan ruangan untuk “lesehan à la Jepang”. Kerusakan di Marufuku biasanya tak jauh-jauh dari angka 200 ribu per kepala.

Sakura

Ini jawaranya sushi di Jakarta. Chef di Sakura sudah beberapa kali menjadi jawara dalam perlombaan sushi di Jakarta dan menu sushi champion, begitu mereka menyebutnya, seringkali dimunculkan di dalam menu ketika mereka baru menjadi juara. Tetapi ketika tak ada di menu kita masih bisa meminta sushi champion.

Sakura yang terletak di Cilandak (dan Graha Niaga), juga menawarkan kelas untuk belajar membuat sushi. Ongkosnya tak terlalu mahal dan pada akhir kelas masing-masing peserta bisa membawa pulang sushi hasil karyanya dan juga mat untuk membuat sushi. Tips tentang salmon segar yang pernah saya tulis disini juga saya dapatkan setelah mengikuti kelas sushi di Sakura ini.

Selain restauran di atas Jakarta masih banyak diberkahi dengan masakan Jepang yang endang bambang. Little Tokyo di Blok M misalnya tak hanya menjadi surga karaoke, tapi juga gudangnya makanan jepang. Bochi-bochi termasuk salah satu restauran yang sangat ngetop, tapi restauran ini tutup di awal tahun 2014 dan berubah nama menjadi Tanba. Sayangnya saya belum pernah mencoba Tamba. Ada juga Basara yang terletak di seberang Ratu Plaza yang tiap makan siang pasti penuh dengan orang Jepang. Untuk restauran kelas rumahan juga ada Ootoya yang sangat bersahabat dengan kantong. Btw, setelah lebaran kami pernah makan di Ootoya dan sang manajer memberi tahu bahwa kualitas tofu untuk saladnya tak sama, karena berbeda supplier. Sample tofu juga diberikan supaya kami tak kecewa. Sungguh layanan yang membekas di hati.

Soal ramen, jawara ramen bagi saya masih diduduki oleh Marutama Ramen yang punya beberapa outlet di Jakarta, disusul dengan Ippudo ramen di Pacific Place yang terkenal dengan dapur haram dan dapur tidak haram, bahkan alat-alat haram dan tak haram pun dipisahkan. Dan tentunya tak boleh dilupakan Ikkudo ramen di Utara Jakarta yang juga haram. Bagi saya yang halal kurang menggigit. Ah kalau sudah gini saya jadi rindu makan okonomiyaki yang nyempil di Melawai sana. Aduh Jakarta, I miss you.

Selamat berakhir pekan!
Apa makanan Jepang favoritmu?

Xx,
Tjetje