Tanya Gaji

Suatu ketika, seseorang berkunjung ke kost saya. Sambil ngobrol, yang bersangkutan bertanya-tanya tentang fasilitas kost. Saya tak segan memberitahu apa saja fasilitas kost. Ketika ditanya berapa ongkos sewa, dengan sopan juga saya jawab. Kesalahan besar, karena ternyata muncul pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan: “Wah Mbak gajinya pasti [menyebut angka] ya? Kalau gaji cuma [menyebut angka lagi} nggak bakalan bisa tinggal di kost-kostan seperti ini.”

Tak cukup dengan bertanya gaji saya, dalam sebuah kesempatan yang lain, baik orang yang sama dan juga orang lain bertanya “Wah gajinya Masnya pasti segini ya [menyebut angka lagi!], kok  bisa bolak-balik ke Irlandia terus”. Saya tak menjawab pertanyaan tersebut, hanya tersenyum sambil membatin, ini orang mulutnya bener-bener minta dicabein ya.

Pertanyaan reseh tak berhenti disitu, masih ada pertanyaan berapa uang bulanan yang saya terima dari pasangan setiap bulannya. Agak aneh sebenarnya karena jika mereka bisa mengambil kesimpulan jumlah gaji saya, tentunya bisa tahu bahwa gaji saya cukup tanpa perlu minta uang pada pasangan. Tapi agaknya ada keharusan di dalam masyarakat supaya perempuan minta uang bulanan pada pasangan. Waaaaah kalau sudah berdebat soal ini, makin panjang dan buntutnya diakhiri dengan nasihat: jangan mau rugi kalau punya pasangan orang asing. Nampaknya bagi sebagian orang hubungan percintaan tak berbeda dengan hubungan dagang. Perempuan mesti menukar cintanya dengan rupiah atau bahkan Dollar dan Euro supaya tidak mengalami kerugian. Ilmu dagang cinta rupanya.

Tak hanya saya yang ditanya tentang gaji, Ibunda saya juga tak ketinggalan. Bukan ditanya gaji beliau, tapi ditanya gaji saya. Suatu ketika ada kenalan lama yang saya bahkan sudah lama tak bertukar kabar yang bertanya tentang gaji saya pada Mama. “Tante, gajinya anak tante {menyebut angka} ya?”. Dasar mama saya, pertanyaan itu diiyakan saja. Perkara gaji saya di atas atau di bawah angka yang disebut tak penting. Yang penting sang penanya diam.

Saya perhatikan, di sekitaran kita, bertanya tentang gaji (dan juga sumber-sumber pendapatan lainnya) kadang-kadang menjadi hal yang tidak tabu. Padahal pembicaraan tentang uang dalam situasi tertentu seharusnya menjadi rahasia dapur masing-masing. Dalam situasi tertentu lho ya, dalam banyak situasi berbicara tentang gaji bisa menjadi pembicaraan yang penting dan justru perlu ditanyakan. Tabu atau tidaknya pertanyaan tentang gaji bergantung pada satu hal: tujuan dari pertanyaan tersebut. Nah kalau pertanyaan-pertanyaan di atas, apa pentingnya orang lain tahu tentang besarnya gaji saya, apalagi pasangan saya?

Menebak besarnya gaji orang lain bagi saya berkorelasi dengan pelabelan apakah orang tersebut mampu secara ekonomi atau tidak. Pengasosiasian ini kemudian berkaitan dengan kotak-kotak sosial. Mereka yang lebih mampu atau setidaknya dianggap lebih mampu karena bisa menunjukkan simbol-simbol kekayaan secara otomatis ditempatkan dalam kelas sosial yang lebih tinggi, sementara yang kurang mampu diletakkan dalam kelas sosial lain.

Di Indonesia, seringkali pengelompokan ini menjadi ‘penting’ karena berkaitan dengan penghormatan dari orang lain. Mereka yang penghasilannya lebih tinggi lebih dihormati karena dianggap berlebih, sementara mereka yang penghasilannya di bawah seringkali tak dipedulikan. Ya harap dimaklumi saja, kesenjangan di negeri kita memang masih sangat tinggi.

Pengkotak-kotakan ini seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Baik yang ditempatkan di kelas social yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi. Yang lebih kaya misalnya, seringkali dihujani dengan berbagai permintaan, dari yang paling remeh seperti minta traktir hingga meminta bantuan dan pinjaman uang. Sementara yang ekonominya dinilai lebih rendah seringkali kurang dihormati karena dianggap tak mampu secara ekonomi.

Tapi dalam pertemanan, sepenting itukah mengetahui gaji orang lain? Besar atau kecilnya gaji tak bisa sekedar dilihat dari banyaknya angka nol saja, tapi juga bergantung dengan komponen lain seperti besarnya kebutuhan dan pengeluaran mereka. Lagipula apa pentingnya sih nanya gaji orang, kalau ingin berteman ya berteman sajalah, tak perlu tahu berapa banyak isi kantong saya, apalagi kantong pasangan saya. Eh tapi barangkali konsep pertemanannya seperti konsep usaha dagang, supaya tak merugi, apalagi jika butuh pinjaman.

Bagaimana dengan kalian, pernah ditanya tentang besarnya gaji kalian?

xx,
Tjetje

Cerita dari Paris

Di Jakarta saya sering dipanggil Princess, karena kelakuan saya yang seperti Princess. Jarak selemparan batu dari Senopati ke Plaza Senayan untuk makan siang saja saya naik taksi atau Uber, muter-muter dulu lewat Al-Azhar dan menghabiskan setidaknya 30 menit di dalam taksi. Ongkosnya sih tak seberapa, tapi saat makan siang seringkali orang kelaparan dan tak mau menunggu di dalam taksi. Alasan saya beraneka rupa, dari panas, malas berkeringat, penguatan ekonomi bagi pengemudi taksi dan Uber, serta karena Jakarta tak didesain jadi kota pejalan kaki. Tapi sesungguhnya saya bisa dan mau berjalan kaki ketika trotoar tak bikin dengkul capek karena naik turun dan saat hawa tak panas.

Akhir pekan panjang ini (di Irlandia hari Senin kemarin libur) kami melatih kekuatan kaki di Paris, berjalan keliling kota hingga gempor. Dari satu arrondisement ke arrondisement lainnya untuk melihat gedung-gedung indah, menikmati pohon-pohon yang daunnya menguning dan berguguran. Sungguh sebuah kemewahan luar biasa yang sayangnya tak bisa ditutup dengan pijatan mbok-mbok pijit. Anyway, dari keliling-keliling kota ini saya menikmati sekejap denyut Paris, berinteraksi dengan banyak hal dan merekam cerita yang bagi saya menarik.

 

Interaksi Pinggir Sungai

Di pinggir Sungai Seine ini kami disambut dengan Photoquai 2015, pameran foto dari aneka rupa sisi dunia. Dari tranjender di Amerika Latin, budaya selfie di Korea, kehidupan pasangan gay di Vietnam hingga joki kuda anak-anak di Nusa Tenggara. Beruntungya mereka yang tingga di Paris bisa mengakses seni seperti ini secara gratis. Pameran foto tersebut bukanlah satu-satunya acara yang mengundang orang untuk tiba ke ruang publik, ada pameran foto lain serta ada kegiatan ruangan terbuka tak jauh dari sana. Balok-balok kayu dan kontainer dilengkapi tempat duduk yang disiapkan supaya orang bisa duduk untuk menikmati pemandangan, sementara beberapa permainan disiapkan. Dari mulai permainan di atas meja seperti catur hingga mainan monyet-monyetan yang ditarik untuk jatuh *aduh saya lupa namanya*.

Romi Perbawa dengan joki anak-anak NTT

Permainan yang menguras energi seperti pingpong, pukul bola, hingga engklek (atau yang dikenal juga dengan sunda manda, atau la marelle dalam bahasa Perancis). Ruang terbuka untuk parcours, hingga papan super besar untuk menulis dan menggambar juga tersedia.

ruang publik di pinggir sungai

Masalah sosial

Vandalism di Versailles

Kendati penuh dengan seni, kota Paris tidaklah bersih. Vandalisme bisa ditemukan dimana saja, dari mulai di dalam Metro hingga karya seni di Versailles (yang terletak di luar Paris). Paris  juga tak terlepas dari masalah gelandangan. Para gelandangan ini menjadi beberapa subyek foto menarik yang dipamerkan di sudut lain sungai Seine.

pasar malam

Satu malam saya mendapati beberapa Polisi menggeledah gelandangan, tapi   mereka tetap diperbolehkan tidur di depan butik-butik mewah. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Gelandangan juga bisa ditemukan dengan mudah di dekat stasiun Metro, meminta uang kecil kembalian pembelian tiket. Saya, sukses diomelin karena menolak memberi. Sak karepmu.

pameran foto

Mesin tiket Metro juga diwarnai dengan pria-pria berdandan rapi, yang menawarkan informasi. Jangan terlena dengan kerapian mereka, karena bantuan dan informasi tersebut konon berharga mahal, semahal dompet dan isinya. Beberapa tempat juga diwarnai dengan anak-anak yang membawa kertas permintaan sumbangan untuk para penyandang disabilitas. Mungkin menipu.

Bahasa Inggris

Orang-orang Perancis yang terkenal tak mau berbahasa Inggris, ternyata sudah banyak yang berbahasa Inggris, di Restaurant dan di Hotel tentunya. Di jalan, bantuan jika nyasar akan diberikan jika kita berbahasa Perancis. Kendati tak seramah Dubliner (yang suka membantu orang nyasar dan bikin tambah nyasar), saya masih menemukan orang tua yang menyapa kami ketika kami kebingungan mencari jalan. Menyenangkan.

pasar kaget di Dupleix, stasiun Metro

Mahal?

Banyak yang mengeluhkan Paris sebagai kota yang mahal. Benar, jika dikonversi dari rupiah harga makanan di Perancis tidaklah murah, apalagi jika dibandingkan dengan warteg ini itu. Tapi sebenarnya harga di Paris hanya sedikit lebih mahal dari di Jakarta. Bagi saya, yang lebih mencengangkan bukan harga makanan tapi harga air putih luar. Kami yang terbiasa tak membayar air putih di restaurant pun tercengang ketika harus membayar 5 Euro untuk sebotol air. Agaknya, ketika di Perancis memang kita harus minum wine sebanyak mungkin, karena harga wine seringkali hampir sama, atau bahkan lebih murah daripada harga air. Dan wine apapun yang kami pilih, tak pernah mengecewakan. Semahal-mahalnya Paris, kami tetap terkejut ketika tahu kantong plastik di Paris diberikan secara cuma-cuma dan ongkos Metro jauh lebih murah dari Dublin. Tak hanya lebih murah, Metro di Paris juga jauh lebih cepat.

Jauh cinta dengan beberapa stasiun metro

Ah Paris, aku ingin kembali bukan untuk antri tiga atau empat jam di bawah Eiffel Tower seperti ribuan turis lain, tapi untuk sudut-sudut jalananmu yang menyimpan banyak kecantikan dan juga kekumuhan khas kota metropolitan.

Kalian suka jalan kaki di kota yang tak kalian tinggali?

Bisous,
Tjetje

Tentang Hewan Dilindungi

Baru-baru ini media sosial digegerkan oleh kelakuan buruk seorang mahasiswi Universitas Jember. Mahasiswi ini memamerkan foto tiga ekor kucing hutan yang mati di laman Facebooknya. Ia kemudian dicari oleh aparat dan juga ProFauna, sebuah organisasi untuk perlindungan hewan yang berbasis di Malang. Ini bukan pertama kalinya kejadian orang memamerkan foto-foto dengan binatang dilindungi yang mati karena diburu dan ketidaktahuan selalu menjadi alasan klasik untuk membunuh (atau bahkan memelihara) hewan-hewan dilindungi.

Gemas rasanya membaca alasan tidak tahu, karena informasi tersebar dimana-mana. Sebagai blogger yang pernah aktif menjadi sukarelawan di berbagai organisasi hak-hak hewan, saya jadi ingin berbagi cerita tentang hewan-hewan dilindungi yang seringkali disiksa, baik dengan cara dipelihara maupun dimakan. Postingan ini hanya akan mencakup beberapa hewan saja, karena kalau ditulis semua bakalan jadi buku.

Kakaktua

Menurut PP 7 tahun 1999 ada lima jenis burung kakaktua di Indonesia yang dilindungi. Kakaktua raja (yang warnanya hitam), kakatua besar dan kecil jambul kuning, kakaktua seram serta kakaktua goffin (yang ini cantik seperti memakai blush on). Kebanyakan burung paruh bengkok ini berasal dari bagian Timur Indonesia, seperti Papua, Maluku dan Nusa Tenggara. Burung ini setia pada pasangannya, jadi ketika dia dipisahkan dari pasangannya, tak bisa kawin lagi.

Untuk memastikan burung-burung ini tak bisa terbang lagi ketika ditangkap, bulu terbangnya dicabut. Maka jangan heran kalau di kebun binatang kita bisa menemukan burung kakatua yang tak bisa kemana-mana hanya bertengger di ranting-ranting di ruang terbuka, siap untuk menjadi bagian dari atraksi foto dengan burung-burung di tangan juga di kepala. Sebelum berfoto dengan mereka, ingatlah bahwa burung-burung tersebut dilumpuhkan demi menyenangkan mereka yang hobi berfoto.

Kakaktua digemari karena kepandaiannya berbicara, tak heran burung-burung ini dijual dengan harga tak murah. Memindahkan burung ini dari Timur ke Barat juga dilakukan dengan cara yang kejam, mereka seringkali dimasukkan ke dalam termos atau botol untuk dipindahkan dari Timur Indonesia ke kota-kota lainnya. Tak heran jika kemudian banyak yang mati dalam perjalanan. Selain setia pada pasangan, burung ini juga berisiknya tak karuan. Jadi, jika ada tetangga yang memelihara burung kakatua ini, bisa dengan mudah diketahui karena suaranya yang mengganggu.

Kakatua bukan satu-satunya burung dilindungi yang dipelihara orang. Ada beo Nias, elang, burung jalak, hingga cendrawasih. Soal cendrawasih, burung ini bersama dengan rusa serta harimau seringkali diawetkan untuk dijadikan pajangan. Bagi saya memajang hewan mati itu menjijikkan, karena bangkai tak seharusnya dipajang sebagai hiasan rumah. Daripada memajang bangkai, lebih baik memajang patung pahatan komodo dari Ubud yang harganya bikin kantong bolong.

Orangutan

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang memiliki orang utan. Orangutan Sumatera dan orangutan Kalimantan memiliki karakteristik dan warna yang berbeda. Mereka yang di Sumatera memiliki warna lebih terang ketimbang yang di Kalimantan. Konon karena yang di Sumatera hobi main air dan mandi.

Populasi orangutan menurun drastis karena banyak hal, konversi hutan menjadi ladang kelapa sawit salah satunya. Pekerja ladang kelapa sawit juga seringkali membunuh orangutan untuk dimakan. Tak hanya dimakan, orangutan juga ada yang dipaksa menjadi pemuas napsu, alias dijadikan pekerja seks. Di Thailand, orangutan kita juga dijadikan bagian dari atraksi tinju.

Muka-muka anak orangutan yang lucu sebenarnya menyimpan beribu kisah pedih. Anak-anak ini menempel pada induknya selama tujuh tahun sebelum mandiri, makanya pertumbuhan populasi mereka tak bisa secepat anak tikus. Ketika terjadi konflik antara pembuka ladang dengan orang utan, anak orangutan ini seringkali dipaksa untuk menyaksikan ibunya dibunuh. Mereka lalu diambil dan dijual atau dipelihara.

Orangutan memiliki 97% DNA yang mirip dengan manusia, tak heran jika mereka cerdas. Secerdas-cerdasnya orang utan, bayi-bayi orangutan tak berdaya ketika mereka dipaksa bekerja untuk berfoto bersama pengunjung kebun binatang. Tak hanya beresiko terkena penyakit dari manusia, mereka juga beresiko menularkan penyakit pada manusia.

Penyu

Penyu tak sama dengan kura-kura. Kura-kura hidup di darat dan di laut sementara penyu hidup di laut. Hanya ketika bertelurlah penyu mampir ke darat. Uniknya, penyu akan selalu kembali ke tempat dimana dia dilahirkan. Tak heran pantai Kuta yang penuh lampu dan sibuk pun sering dihampiri penyu untuk melahirkan. Konon, induk penyu sudah mengatur sedemikian rupa supaya lima puluh persen anak penyu menjadi jantan dan separuhnya lagi menjadi betina. 85 hari setelah menetas, anak-anak tukik ini kemudian akan kembali ke laut dan banyak di antara mereka yang kemudian akan mati karena dimakan predator.

Predator penyu tak hanya di laut saja, tapi juga di darat. Di Kalimantan misalnya, telur-telur penyu diperdagangkan untuk dimakan karena konon telur ini memiliki khasiat kesehatan. Badan boleh sehat, tapi seratus tahun lagi anak cucu kita mungkin tak akan bisa melihat penyu karena keegoisan kita.

Tak hanya telur penyu yang terancam, penyu yang sudah dewasa dan umurnya ratusan tahun juga terancam oleh keganasan manusia. Tempurungnya misalnya digunakan untuk aksesoris seperti gelang dan hiasan rambut. Seringkali penyu juga diawetkan untuk dijadikan hiasan rumah. Tak hanya tempurungnya, daging penyu juga dicari untuk dimakan, dibuat sate. Penyu juga digunakan sebagai sarana upacara keagamaan di Bali.

Ada banyak hewan dilindungi yang diperdagangkan secara diam-diam di pasar burung, atau bahkan secara online. Tak jarang hewan-hewan dilindungi ini juga dijadikan hadiah bagi para pejabat-pejabat negeri ini. Masih kuat dalam ingatan saya seorang menteri di kabinet SBY didatangai BKSDA karena memelihari hewan-hewan dilindungi. Sudah saatnya kita merubah cara kita memperlakukan hewan-hewan ini, setidaknya dengan tidak membeli dan tentunya, tidak berfoto dengan  hewan yang disiksa.

xx,

Tjetje

Seni Merajah Tubuh

Dahulu, ketika saya masih remaja, eyang saya pernah bercerita tentang tato, sebuah bentuk seni untuk merajah bagian tubuh. Menurut eyang saya, tato menandakan keterlibatan dalam kriminalitas, karena di jaman penjajahan dulu para tahanan di penjara diberi tato berupa nomor.

Jaman eyang saya menceritakan hal tersebut Indonesia sudah merdeka, tapi stigma buruk yang melekat pada pemilik tato masih sangat kuat. Bahkan, mereka yang memiliki tato banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, karena banyak calon pemberi kerja yang mengecek seluruh anggota tubuh dari pelamar pekerjaan. Jika yang bersangkutan memiliki tato, dipastikan pekerjaan tak akan diberikan. Hal ini masih berlangsung hingga saat ini.

Keberadaan seni rajah di beberapa suku di Indonesia tak membuat tato dengan mudahnya dihargai. Kalau saya boleh sinis, mungkin karena seni rajah kurang mendarah daging di Jawa, yang mendominasi Indonesia. Coba saja kalau seni rajah ini ada di Jawa, bukan di Kalimantan ataupun di Mentawai. Suku Iban dan Dayak Kayan merupakan dua suku di Kalimantan yang memiliki tradisi merajah tubuh. Menurut sumber bacaan saya, di suku Dayak Kayan perempuanlah yang menjadi artis tato dan posisi ini diturunkan dari ibu ke anak perempuannya. Sebaliknya, pada suku Iban, prialah yang menjadi artis tato. Di Kalimantan, proses memasang tato tak sembarangan, ada ritual yang harus dilalui dan banyak darah yang harus dikorbankan.

Orang-orang Mentawai yang tinggal di pulau Mentawai, tak jauh dari Sumatera Barat, juga memiliki tradisi merajah tubuh. Bahkan anak pria sekecil belasan tahun sudah mulai dirajah tubuhnya. Di sana, tato yang dikenal dengan nama titi, menunjukkan perbedaan sosial serta identitas. Tak seperti di dunia modern, tato dirajahkan di tubuh dengan menggunakan tulang hewan, duri ataupun kayu khusus.

Dalam dunia modern, seni tato tak memerlukan ritual khusus yang melibatkan penyembelihan hewan. Pembuat tato pun dibayar dengan uang, bukan hewan-hewan ternak seperti babi. Biayanya tentu saja tak murah. Sifat tato yang permanen juga membuat orang harus berpikir masak-masak sebelum membuatnya. Selain kecakapan artis (cakap ya, bukan cakep), motif tato, hingga kebersihan jarum adalah beberapa hal yang harus dijadikan pertimbangan. Salah memilih artis tato bisa runyam, lebih-lebih jika berakibat terkena penyakit seperti HIV/AIDS atau Hepatitis C, karena jarum yang dipakai berulang kali.

Bicara tentang tato, meningatkan saya pada tato temporer yang pernah saya buat di Dieng Plaza di Malang sekitar dua puluh tahun lalu. Jaman itu, yang di Malang pasti tahu kalau Dieng Plaza adalah tempat gaul paling OK di Malang. Tato temporer juga baru hadir di Malang dan saat itu saya emilih Ongkara (Omkara) untuk dipasang di lengan. Tato pun digambar di lengan dengan menggunakan kertas yang dijiplak dari dari buku utama. Setelah rangka tato digambar, mulailah lengan saya dihiasi dengan cat rambut murah meriah. Saya tak ingat merek cat rambut bubuk itu, tapi bungkusnya berwarna oranye. Hasilnya, terbalik karena sang artis lupa membalik kertas jiplakan. Uang empat puluh ribu rupiah melayang (dan jaman itu uang tersebut tak sedikit) dan hati gondok. Sejak saat itu saya tak mau membuat tato, baik temporer maupun permanen. Kapok.

Jumlah orang yang menggunakan tato semakin banyak dan stigma negatif kepada mereka tak juga pudar. Bahkan, seringkali mereka dituduh kebarat-baratan karena keputusannya untuk memasang seni di bagian tubuh. Padahal, ahli sejarah sudah banyak berdiskusi dan menemukan bahwa tato adalah sebuah kesenian dari Timur yang kemudian diperkenalkan ke Barat. Tato adalah sebuah seni, maka tak heran jika tak semua orang bisa memahami seni, karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati dan menghargai seni. Bagaimana dengan kamu?

Xx,

Tjetje

“Ibu Rumah Tangga Tanpa Pekerjaan”

Setelah meninggalkan pekerjaan saya dan pindah ke Dublin, saya semakin menyadari betapa beratnya pekerjaan ibu rumah tangga. Dimulai dari bangun pagi untuk menyiapkan sarapan serta bekal makan siang. Di Irlandia, sarapan sangatlah praktis cukup cereal ataupun roti. Begitu juga dengan makan siang, roti lapis (sandwhich) ataupun salad. Coba bandingkan dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya sarapan pagi nasi putih, nasi goreng, nasi uduk, nasi kuning, nasi pecel, nasi krawu, nasi soto, nasi rawon, dan aneka rupa nasi lainnya. Bayangkan saja keribetan mereka yang menyiapkan makanan penting ini.

Pekerjaan kemudian dilanjutkan dengan membersihkan rumah, dari halaman sampai bagian belakang rumah. Mencuci pakaian sudah banyak dilakukan oleh mesin, tapi menjemur pakaian di bawah teriknya matahari Indonesia, kendati hanya lima menit, cukup bikin pening kepala. Lebih pening lagi melihat cucian kering itu menumpuk untuk disetrika. Di Irlandia, setrika baju bisa jadi kegiatan yang menyenangkan karena tubuh menjadi hangat, di Indonesia saya yakin pekerjaan ini tak terlalu menyenangkan karena panas. Pekerjaan rumah tangga tak berhenti disana, masih ada piring yang harus dicuci, kamar yang harus dibereskan, makanan yang harus selalu ada, belanjaan yang harus dibeli, uang belanja yang harus diatur supaya cukup, PR anak yang harus dikerjakan bersama, prakarya anak yang suka aneh-aneh, tagihan yang harus dibayar, serta sederet pekerjaan lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan. Di Bali pekerjaan ini akan lebih panjang lagi karena ada aktifitas membuat sesajian dan menghaturkan sesajian pada pagi dan sore hari, serta pada hari-hari tertentu saat ada perayaan keagamaan.

Jadi betapa lancangnya sebagian masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa ibu rumah tangga tak punya pekerjaan? Ibu rumah tangga memang tak duduk di depan komputer, menjawab setumpuk email, mengerjakan laporan ataupun menjawab telepon dari klien. Mereka juga tak mendapatkan slip gaji setiap bulannya, tapi bukan berarti para ibu rumah tangga tak memiliki pekerjaan. Pekerjaan mereka banyak dan tak pernah tuntas. Mengasosiasikan ibu rumah tangga dengan tak memiliki pekerjaan adalah sebuah pelecehan besar, karena sesungguhnya ibu rumah tangga adalah pekerjaan berat yang tak kunjung selesai.

Cartoon: UN WOMEN India

Tak hanya itu, sebagian masyarakat kita juga seringkali menyayangkan mereka yang punya pendidikan tinggi yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Kalimat ajaib yang paling sering saya dengar bunyinya, biasanya seperti ini:

“Sayang ya sekolah tinggi-tinggi cuma di rumah aja (ngurusin anak)”

Dimaklumi saja yang ngomong begini mungkin bagi mereka anak-anak di rumah memang tak layak dididik oleh ibu-ibu yang pendidikannya tinggi.  Pada saat yang sama, saya juga melihat masyarakat kita menilai bahwa pekerjaan rumah bukanlah hal yang pantas dilakukan oleh sarjana, apalagi oleh ‘tukang master’ ataupun doktor. Bagi sebagian masyarakat, pekerjaan rumah tersebut lebih layak dilakukan oleh pekerja rumah tangga (bukan pembantu rumah tangga) atau para pekerja dengan keahlian spesifik (contohnya tukang ledeng, tukang kebun, tukang listrik, tukang bangunan).

Perbincangan saya dengan banyak perempuan bekerja, terutama perempuan yang berbagi biaya rumah tangga, juga semakin membuka mata saya. Saya melihat dan mendengar bahwa bagi sebagian perempuan menjadi ibu rumah tangga itu sebuah kemewahan, kemewahan yang tak bisa didapatkan oleh semua perempuan karena seringkali pilihan tersebut tak ada. Himpitan ekonomi biasanya menjadi salah satu alasan kenapa perempuan harus bekerja dan berbagi biaya rumah tangga (catatan: saya lebih suka menyebutnya berbagi biaya rumah tangga ketimbang membantu, karena membantu tak terdengar setara).

Debat tak berujung antara ibu rumah tangga serta ibu bekerja belum akan berhenti. Yang pro ibu rumah tangga akan memandang rendah ibu bekerja karena pilihannya untuk menghabiskan sebagian waktu di kantor (dan meninggalkan anak). Sementara yang pro ibu bekerja akan memandang sebelah mata mereka yang menjadi ibu rumah tangga dan menggap mereka tak punya pekerjaan. Apapun pekerjaannya, rasanya bukan tugas kita untuk menghakimi siapa yang lebih baik dari siapa, karena ini hidup mereka, mereka yang menjalani dan tentunya merekalah yang berhak memilih. Tugas kita hanya satu, mengakhiri debat panjang itu.

Xx,

Tjetje

Bahasa Indonesia yang Terlecehkan

Seperti kebanyakan orang Indonesia, saya ‘tak besar dengan bahasa Indonesia’. Kalau boleh nekat saya bilang, bahasa Ibu saya adalah bahasa Jawa Timuran (alias bahasa Malang) dicampur dengan sedikit Bahasa Indonesia dan sedikit omelan Eyang saya dalam Bahasa Belanda (yang sukurnya saya tak paham dan sekalipun kursus Bahasa Belanda saya masih tetep gak paham). Walaupun sering diomeli bahasa Belanda, bahasa asing bukanlah hal yang ‘penting’ dalam keseharian. Ketika itu Bahasa Jawa justru lebih penting ketimbang bahasa lain. Makanya selain berlangganan majalah Gadis, saya juga berlangganan majalah Panyebar Semangat. Sebuah majalah bahasa Jawa terbitan Jawa Timur yang hingga sekarang masih terbit. Ketika itu majalah ini dikhususkan untuk saya supaya saya bisa berbicara dalam Bahasa Jawa halus.

Adalah hal yang normal jika banyak orang Indonesia, sama seperti saya, tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Pertama, karena bahasa yang digunakan di kebanyakan rumah adalah bahasa tradisional. Kedua, bahasa pergaulan pun lebih banyak menggunakan bahasa daerah, kecuali di daerah-daerah tertentu di mana bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu (Papua dan Jakarta adalah contohnya). Ketiga, karena Bahasa Indonesia tidaklah mudah. Bahkan  mendapatkan nilai 9 pada mata pelajaran Bahasa Inggris jauh lebih mudah daripada Bahasa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indonesia juga punya keterbatasan kosakata sehingga terkadang tak mudah menjelaskan suatu keadaan. Setidaknya, tak semudah menjelaskan hal dengan Bahasa Inggris atau bahkan Bahasa Jawa. Bagi penutur Bahasa Jawa, rasanya lho ya, bahasa Jawa lebih kaya ketimbang Bahasa Indonesia.

Separah-parahnya kemampuan dan pengetahuan Bahasa Indonesia kita, penting sekali untuk menjaga kelangsungan Bahasa ini, setidaknya dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan sepantasnya. Kalau baik dan benar terlalu susah, sepantasnya aja. Entah mengapa saya perhatikan orang, baik itu yang masih remaja atau bahkan yang sudah dewasa, banyak yang merusak dan melecehkan bahasa Indonesia. Beberapa hal kekinian yang menurut saya tak layak dilakukan kepada bahasa Indonesia saya rangkum dalam beberapa poin di bawah ini.

Tak tahu dimana meletakkan huruf besar

Anak SD juga tahu kalau hanya beberapa hal saja yang boleh menggunakan huruf besar, termasuk nama orang, nama tempat, gelar kehormatan, suku bangsa dan beberapa aturan lainnya. Di luar hal-hal tersebut, huruf besar hanya boleh diletakkan di tengah kata pada kata sandi. Makanya, menuliskan kalimat ajaib sepert di bawah ini:

“U laGi NgaPain ChynkQ?”  

lebih baik tak dilakukan. Menulis huruf besar kecil seperti itu selain membuang tenaga, karena jari-jari yang harusnya istirahat dipaksa bekerja lebih keras, juga menunjukkan level ketidakpahaman tata bahasa yang paling sederhana. Menulis seperti itu juga mengganggu kesehatan mental orang yang terpaksa membaca sambil berpikir keras.

Menghilangkan huruf vokal

Bahasa Indonesia diciptakan dengan konsonan dan vokal supaya ada suara yang muncul ketika dibaca. Penyingkatan kata-kata dengan menghilangkan huruf vokal terjadi dan ‘diperbolehkan’ dalam dalam hal-hal tertentu, termasuk ketika terjadi pembatasan tempat untuk menulis, seperti di twitter ataupun sms di hp jaman dulu. Ketika tak ada limitasi karakter, sebaiknya penulisan bahasa dituliskan dengan lengkap supaya mempermudah pembaca. Menyingkat kata juga sebaiknya dilakukan dengan hal-hal yang umum saja, tanpa merubah struktur kata. Misalnya, yang disingkat menjadi yg. Penyingkatan kata-kata seperti yang dilakukan alay dalam kalimat ini: Chynk,,,,,,, q tkT khLng4N U, selain   tak indah, gak intelek  juga tak umum.


Tanda baca tak tepat

Masih ingatkah dimana titik dan koma harus ditempatkan? Saya yang tak pernah dapat angka 8 untuk pelajaran Bahasa Indonesia masih ingat bahwa titik dan koma digunakan untuk beristirahat atau berhenti ketika membaca sebuah kalimat. Tujuannya untuk mengambil napas. Tanpa titik koma, mengambil napas menjadi susah. Tapi lebih susah lagi jika banyak koma serta titik yang tak jelas fungsi dan maksudnya, terlebih jika titik koma tersebut diletakkan di tengah kalimat dan jumlahnya banyak. Bahkan lebih banyak dan lebih rumit daripada sandi Morse.

Bahasa Indonesia adalah bahasa kita bersama yang harus dijaga dan dihormati. Jika kemudian tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik setidaknya ada upaya untuk tidak melecehkan bahasa tersebut dengan meletakkan huruf besar, angka serta tanda baca di tempat yang tak selayaknya. Penggunaan bahasa yang kurang baik tak hanya menunjukkan ketidakpedulian terhadap Bahasa Indonesia tapi juga menunjukkan kemalasan karena tak mau berusaha untuk menulis dengan baik dan benar.

Mari kita sambut bulan bahasa yang jatuh pada bulan Oktober ini dengan berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang lebih baik.

Xx,
Tjetje
Masih berusaha menggunakan Indonesia dengan benar

Etika Bertanya

Selain karena senang menulis, saya memiliki blog karena ingin berbagi informasi dan berbagi hasil pengamatan saya yang tentunya saya harapkan bisa berguna. Ada beberapa postingan di blog ini yang kemudian membuat banyak interaksi,baik melalui komentar, twitter, ataupun melalui email. Beberapa orang bahkan meminta nomor WhatsApp saya supaya lebih cepet nanyanya dan terkadang, saya tak keberatan memberi nomor HP. Tak semua orang tentunya saya beri, karena saya hanya akan memberikan jika yang bersangkutan beretika ketika nanya. Kalau yang bersangkutan lagak-lagaknya udah gak enak di depan, saya jawab pertanyaan aja saya males. Beberapa hal yang kurang beretika saya rangkum di bawah ini:

Minta di follow

Gak kehitung berapa kali orang minta follow balik ke saya karena mau kirim DM dan mau nanya-nanya. Padahal kalau mau nanya, selama gak melibatkan data personal bisa diajukan lewat twit dengan langsung mention ID saya, bisa lewat komentar di bawa postingan (postingan saya gak ada yang komentarnya dikunci kok) dan bisa lewat email. Tak bisa juga beralasan tak tahu alamat email saya, karena alamat email telah saya cantumkan di Blog.

Lagipula, minta difollow itu kok menurut saya so yesterday banget. Following di twitter itu otomatis akan dilakukan kalau sang punya akun merasa tweets di lini tersebut menarik, informatif dan sesuai dengan interest. Jadi rasanya tak perlu minta-minta follow.

funny-twitter-follow-back-cartoon

Salah manggil

Jika mengirimkan email cari tahu dulu siapa yang punya blog. Blog ini rasanya sudah jelas kalau yang punya perempuan karena alamatnya pakai kata bini. Tapi lho ya yang manggil saya Mas dan Abang ada aja. Kalaupun tak paham apakah bini itu perempuan atau laki-laki, sekali lagi mbok ya di cek dulu di bagian who’s Ailtje.

Btw, silahkan panggi saya dipanggil Ailtje, Tjetje (ini kalau dibaca jadi cece, bukan tije)Jadi jangan panggil saya Mas lagi ya.

Gak baca dulu

Bikin postingan itu butuh beberapa menit, kalau gak beberapa jam. Tergantung risetnya. Jadi sebelum melontarkan pertanyaan yang jawabannya sebenarnya sudah ada, ada baiknya dibaca dahulu postingan yang sudah susah-susah dibuat. Kalau masih gak ketemu juga jawabannya, coba baca dulu komentar-komentarnya, siapa tahu nyempil. Nah kalau setelah baca gak ketemu juga, baru deh tinggalkan komentar atau tanya via email.

Tanya yang aneh-aneh

Ada beberapa pertanyaan yang meminta saran saya untuk hal-hal yang bertentangan dengan aturan. Salah satu contohnya minta saran kawin di luar negeri menggunakan visa turis. Kalau kawinnya di Hong Kong mah gak papa, karena memang diperbolehkan. Di Irlandia (ketika tulisan ini ditulis) hal tersebut tidak diperbolehkan, di negara Eropa yang lain saya tak tahu, wong saya ini bukan ensiklopedia imigrasi Eropa. Tapi herannya orang itu suka males banget baca, maunya langsung nanya, langsung dikasih tahu rutenya yang bener, tanpa mau usaha baca. Padahal yang dapat benefit dari membaca kan diri sendiri.

Kalaupun sudah baca dan tahu hal tersebut dilarang mbok ya jangan dilakukan. Apalagi kalau urusannya ijin tinggal. Bisa-bisa gak hanya dilarang kawin tapi juga gak boleh balik lagi, alias dideportasi. Catatan buruk seperti ini sedikit banyak  bisa mempengaruhi permohonan visa ke negara lain, jadi jangan pernah dibuat mainan.

Di Indonesia mah pencatatan administrasi emang amburadul, tapi di negara lain terutama di negara maju sudah jauh lebih baik. Jadi yang mau overstay, mau cari kerja pakai visa turis, atau bahkan hal-hal criminal lainnya, monggo silahkan dilakukan dengan resiko sendiri. Tapi jangan repot-repot minta saran saya.

Seperti saya tulis di atas, tujuan saya punya blog untuk berbagi. Jadi, ketika butuh informasi saya akan dengan senang hati membantu, jika saya memang tahu jawabannya. Tapi alangkah eloknya jika bertanya dengan baik, menyapa dengan benar dan tentunya bertanya yang bikin orang lain nyaman.

Xx,
Mbak Tjetje, Bukan Mas, Bang atau Pak.

Cerita Dari Ubud

Saya nggak pernah tergoda nyobain Air bnb, tapi karena postingan Febbie yang gak ketemu dimana postingannya, akhirnya saya nyobain Airbnb di Ubud. Ternyata seru, murah dan praktis. Saking praktisnya, villa yang saya tempati kuncinya nyantol di pintu, ownernya sedang tidak di tempat. Hingga keluar kami bahkan tak bertemu ownernya sama sekali. Kunci, lagi-lagi kami tinggalkan di pintu dan kami pun melenggang pulang. Silahkan klik di sini kalau mau nyoba airbnb, lumayan bisa dapat voucher airbnb senilai 295ribu rupiah.

 

Villa yang kami tempati di tengah sawah di Ubud itu bukan satu-satunya villa di Banjar (bahasa Bali untuk desa, sering disingkat Br) Junjungan, ada banyak villa di daerah tersebut. Melihat papan nama ataupun papan petunjuk villa di banjar-banjar Ubud sekarang menjadi hal yang biasa. VDari villa kecil seperti yang kami tempati hingga villa besar yang nampaknya dikelola secara professional tersedia semua di Ubud.

Dari hasil obrolan dengan beberapa orang yang kami temui, pemilik villa tersebut bermacam-macam, dari orang Jakarta hingga orang asing. Secara teori orang asing memang tak boleh memiliki tanah di Bali, tapi bukan berarti mereka tak boleh menyewa sawah-sawah untuk dibangun villa. Konon, mereka bisa menyewa sawah tersebut hingga puluhan tahun, praktis dan tak melanggar hukum.

Saya kemudian menanyakan kembali mengapa sawah-sawah tersebut dialihfungsikan menjadi villa ? Tentunya ada beragam alasan yang mendasari hal tersebut, dari kebutuhan ekonomi, kebutuhan upacara, hingga kalah tajen (metajen: tradisi sabung ayam yang awalnya merupakan bagian dari ritual). Tingginya kebutuhan dana untuk upacara memang menjadi alasan yang seringkali muncul.  Menggelar upacara-upacara yang indah dan megah di Bali memang tidaklah murah. Upacara megah biasanya disiapkan oleh banyak orang selama berhari-hari. Selama berhari-hari tersebut ribuan dupa dibakar, puluhan babi dipotong. Bioassay, semakin tinggi kasta warna orang yang mengadakan upacara, semakin megah pula upacaranya. Opsi untuk mengadakan upacara dengan sederhana ataupun secara masal (seperti Ngaben Masal, misalnya), juga telah ada. Tetapi, beberapa orang lebih memilih untuk mengadakannya dengan cara yang lebih spektakular. I could be wrong, tapi nampaknya upacara menjadi ajang gengsi untuk memamerkan kekayaan.

Menurunnya jumlah  sawah juga memunculkan kecemasan lain. Kecemasan akan nasib subak. Subak merupakan manajemen perairan yang telah diakui sebagai UNESCO World Heritage. Rasanya, sistem subak ini hanya ada di Bali saja (silahkan dikoreksi jika saya salah). Berbicara tentang Subak tentunya tak bisa lepas dari dua hal, dari Pura  Subak dan dari Dewi Kesuburan, Dewi Sri.  Lagi-lagi, kepala saya terusik dengan pertanyaan-pertanyaan. Kalau kemudian sawah-sawah tersebut beralih fungsi, bagaimanakan nasib Pura tersebut ? Siapakah yang akan menyiapkan banten setiap harinya ? Siapakah yang akan ngayah saat Piodalan ? Akankan Pura itu teronggok tanpa ada yang mengurusi?

Pertanyaan saya memang tak akan terjawab, bahkan mungkin tak perlu dijawab, karena begitulah dunia berputar. Kebutuhan ekonomi akan terus meningkat seiring dengan pembangunan Bali. Mungkin, orang-orang Bali akan bernasib sama dengan orang-orang Betawi, terpinggirkan dari wilayahnya sendiri. Tapi sejujurnya, saya tak berharap hal seperti itu.

Dalam sebuah diskusi sekitar sepuluh atau bahkan dua belas tahun lalu, Arya Weda pernah mengkoreksi saya, dia berkata bahwa penghasilan terbesar  Bali itu bukanlah dari pariwisata, melainkan dari pertanian. Semenjak hari itu, kepala saya erat mengasosikan hasil pertanian dengan Bali. Kendati Ubud bukan lumbung Bali, jadi hati tetap sedih melihat banyaknya villa.

 

Tentunya tak semua area di Bali dipenuhi dengan villa, hanya area yang diminati investor di wilayah selatan yang padat. Daerah selatan memang lebih popular untuk wisata, sementara daerah utara masih relative tak terjamah. Kalau sudah begini egoiskah jika saya berharap jika daerah Utara tak terjamah?

Ah sudahlah, tyang pamit dumun nggih (saya pamit dulu ya)

Namaste,

Tjetje

PS: Bloody iPhone does not load the photos!!! I’ll try to post them again tonight (IE time of course).

Basa-basi Sudah Busuk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, basa-basi berarti

ba.saba.si
Nomina (kata benda)
(1) adat sopan santun; tata krama pergaulan: tidak tahu di basa-basi; hal itu dilakukan hanyalah sebagai basa-basi dalam pergaulan ini;
(2) ungkapan yang digunakan hanya untuk sopan santun dan tidak untuk menyampaikan informasi, misalnya kalimat “apa kabar?” yang diucapkan apabila kita bertemu dengan kawan;
(3) perihal menggunakan ungkapan semacam itu

Menarik sekali melihat bahwa basa-basi merupakan bagian dari tata krama pergaulan ataupun adat sopan santun. Sayangnya tidak terjadi penjelasan lebih lengkap kalimat basa-basi mana yang dianggap sopan dan santun, serta mana yang tidak sopan. Di masyarakat kita, bertanya tentang hal-hal pribadi dianggap sebagai hal yang wajar dan normal. Tapi seiring dengan perkembangan jaman, terjadi pergeseran nilai-nilai sopan santun dalam masyarakat. Dari pengamatan saya, ada banyak kalimat basa-basi yang tadinya dianggap biasa saja sudah menjadi busuk, tak ideal dan tak pantas lagi untuk ditanyakan, bahkan untuk basa-basi sekalipun. Saya mencoba merangkum pertanyaan tersebut menjadi beberapa bagian:

Bicara tentang tubuh

“Kamu gemukan ya sekarang?”

“Wah kamu kok kurus banget sih gak dikasih makan sama suami ya?”

“Ih yang sudah kawin sekarang sehat ya, cocok ya susunya?”

Alih-alih bertanya apa kabar, seringkali orang membuka pembicaraan dengan komentar yang kurang baik tentang tubuh orang yang ditemuinya. Dari mulai gemuk, kurus hingga berkomentar tentang hal-hal yang kurang pantas. Pertanyaan ini sudah tak layak dan tak sopan lagi menjadi bahan pemecah keheningan, karena banyak cerita dibalik tubuh kurus maupun tubuh gemuk. Dari mulai metaboslime tubuh, kelainan hormon, permasalahan psikologis atau bahkan tanpa cerita.

Tapi ada orang-orang yang tidak cuek terhadap hal seperti ini. Dibilang gendut bisa membuat orang malas makan atau bahkan memuntahkan makanan. Bagi sebagian orang contoh ini terdengar berlebihan, tapi kejadian seperti ini terjadi.

Bicara tentang status

“Eh gimana sudah punya pacar? Nunggu apa lagi ayo cepet diresmikan!” Gundulmu, duit buat kawinan gak datang dari langit.

Mimpi buruk bagi semua orang yang masih belum punya pasangan dan yang memiliki pasangan tetapi belum resmi kawin adalah pertanyaan kapan kawin. Ini standar basa-basi bagi para Tante, Tante, Tante, Tante dan Oom (Kebanyakan Tante yang nanya daripada Oom). Niat awalnya iseng-iseng, memecah keheningan, tapi seringkali pertanyaan ini diberi bumbu-bumbu pelengkap yang pedasnya ngalahin cabe. Apalagi kalau ditambahin: “jangan lama-lama,  perempuan kalau kelamaan nanti susah hamil lho”. Eh emangnya situ Tuhan apa.

Basa-basi sederhana ini seringkali berubah menjadi teror sosial, karena kebanyakan ditanyakan orang. Akibatnya mereka yang sering menjadi korban basa-basi ini jadi malas berkumpul dengan keluarga. Sebagian dari emreka memilih untuk berkumpul dengan teman atau bahkan di rumah saja daripada diteror.

Bicara tentang anak

“Ailsa, anakmu sudah berapa?”

Kalimat di atas adalah kalimat pertama yang ditanyakan seorang teman lama saya ketika pertama kali bertemu. Dia tak bertanya tentang kabar, apakah saya sehat ataupun di mana saya tinggal sekarang. Rasanya kalau tak ingat norma-norma kesopanan saat itu saya ingin sekali nyerocos dan berkata bahwa saya masih terlalu muda untuk punya anak, masih ingin bekerja dan menikmati hidup sebagai perempuan lajang. Tapi ketika itu saya terlalu malas menanggapi.

Pertanyaan tentang anak dan kehamilan menjadi mimpi buruk bagi banyak pasangan.“Sudah isi” menjadi pertanyaan standard basa-basi bagi kebanyakan orang. Sama dengan pertanyaan kapan kawin, pertanyaan ini berubah menjadi momok dan bagian dari teror sosial. Kendati dianggap normal, bagi saya tak sepatutnya kita bertanya tentang kehamilan, kecuali jika yang bersangkutan sudah siap untuk mengumumkan. Ada banyak alternatif hal yang bisa dibahas ketimbang kehamilan, dari soal kemacetan sampai harga tomat di pasar. Lebih baik membahas hal tersebut daripada melukai dan menyinggung orang lain.

Yang sudah punya anak pun pasti kebagian basa-basi yang sudah busuk, salah satunya membanding-bandingkan kemampuan anak  orang lain dengan anak atau cucu sendiri. Komentar seperti “Lho kok terlambat jalan, cucu saya umur segini sudah jalan?”. “Lho kok belum bisa ngomong, biasanya balita umur segini sudah bisa ngoceh.” Lho Tante, bayi satu dan bayi lainnya itu kan gak sama.

Basa-basi lain yang buntutnya sering panjang dan akhir-akhir ini menjadi trend di di Indonesia adalah menanyakan tentang ASI atau susu formula. Bagus sih ada sistem sosial untuk mendorong ibu-ibu memberikan ASI, tapi kan gak semua ibu bisa dan mau memberikan ASI. Jadi ya kalau emang maunya basa-basi busuk, gak usahlah memperpanjang pertanyaan dengan penghakiman dan memberi kuliah panjang tentang manfaat ASI bagi mereka yang memberi susu formula.

2012-12-05-a89aa90

Picture belongs to RyanDow.com

Basa-basi Indonesia ada banyak, dari yang sekedar basa-basi tak penting seperti mau kemana?, atau mau sekolah ya? (padahal sudah jelas pakai baju seragam) hingga yang intrusif seperti beberapa basa-basi di atas. Sang penanya biasanya tak terlalu serius bertanya, tapi jadi merasa perlu bertanya ketimbang tak ada yang dibicarakan. Basa-basi ini kemudian merembet dan seringkali berakhir dengan menyakiti dan melukai hati orang lain. Jadi, sebelum berbasa-basi dengan orang lain, mendingan direm dulu deh mulutnya.

Basa-basi lain yang sudah busuk apa ya?

Have a nice weekend!

Tjetje

Memilih Kost di Jakarta

Halo dari Dublin!

Beberapa minggu belakangan ini saya repot membereskan pekerjaan kantor, kamar kost dan jalan-jalan. Akhirnya, setelah direncanakan selama berbulan-bulan, jadi juga saya pindah, keluar dari kamar kost tercinta. Sebenarnya, ketika awal tinggal di Jakarta, kost-kostan bukan hunian idaman buat saya, tapi ketika banjir besar melanda Jakarta tahun 2007, mematikan listrik dan telepon di sepanjang Sudirman, merendam toko elektronik di sepanjang Benhil dan tentunya bikin macet tiada tara, saya memutuskan menjadi anak kos supaya tak wira-wiri dari kediaman di ujung Jakarta ke kantor yang ada di ujung lainnya.

Hingga saat ini, saya “hanya” pernah tinggal di tiga tempat kos. Kos pertama pemiliknya agak brengsek. Kost-kostannya dijual pada konglomerat kaya raya untuk dijadikan mall dan kami diberi waktu tiga minggu untuk keluar. Jangan tanya gimana marahnya kami anak kos, tapi yang menyedihkan, tetangga saya yang berasal dari Africa curhat dan nangis heboh. Rupanya, dia kesulitan cari kos baru karena kulitnya menjadi sumber diskriminasi. Saat itu, saya rasanya bersyukur banget, biar terancam harus pindah kos gak kesulitan cari tempat baru.

Kos saya yang kedua terletak di belakang Lotte Avenue. Sebulan saja saya tinggal disitu karena kost ini “muaaaaahal” dan busuk banget. Mahal saya beri tanda kutip karena kamarnya sih gak terlalu mahal, tapi kamar tanpa jendela ini banyak banget biaya tambahannya, dari mulai bersih-bersih kamar sampai laundry. Manajemennya pun kurang profesional dan tak jelas. Yang jelas para pekerja di kost-kostan ini bisa seenaknya “malak-malakin” dengan aneka rupa biaya tambahan. Beda jauh dengan kos-kostan pertama saya yang semua harga sudah termasuk.

Lalu pindahlah saya ke kost yang paling akhir ini. Harganya “lebih mahal”, apalagi jika dibandingkan dengan kos pertama, tapi kost ini menyenangkan banget, walaupun baru-baru ini harganya melonjak 30%. Pemiliknya ketahuan orang pajak nilep, menurunkan harga kamar kost jadi 1/3 di atas laporan pajak. Si tukang pajak pura-pura datang ke kost, lihat kamar, lalu nanya-nanya harga. Setelah transaksi hampir jadi, baru deh ngaku jadi orang pajak. Cerdas deh anak buah Ahok!

https://instagram.com/p/56aMDrwxmR/?taken-by=binibule

Belajar dari pengalaman kos saya yang tak seberapa, ada beberapa tips dari saya untuk memilih kos supaya betah dan supaya gak perlu pindah ke apartemen:

  • Lokasi: Selain mencari tahu akses kendaraan umum, lihat juga portal di sekitaran kos. Daerah karet belakang WTC misalnya, terkenal di antara para pengemudi taksi harus bayar biaya portal 5000 rupiah. Tukang taksi pun jadi males dan ogah karena pungutan liar ini. Kalau portalnya ada yang jaga sih masih OK, kalau gak ada yang jaga, terpaksa mesti berputar cari jalan.
  • Jendela dan matahari: Untuk kesehatan badan dan jiwa, saya menyarankan untuk cari kamar yang tersiram matahari dan punya jendela, supaya kamar tak pengap, tembok tak berjamur dan pakaian lebih awet.
  • Fasilitas kost: sebelum bayar deposit ada baiknya untuk ngecek semua fasilitas yang dimiliki kost, dari mulai air, lampu, internet hingga sinyal handphone, supaya hubungan dengan dunia luar tidak terputus. TV kabel juga mesti ditanya, kalau perlu tanya sumbernya, karena banyak kos-kostan nyolong TV kabel, otomatis kalau tayangan hilang gak bisa protes.
  • Keamanan: di kost saya yang pertama, ada kejadian handphone hilang di dalam kamar. Di tempat ini orang bebas keluar masuk. Satpam yang dipekerjakan pun guyonan, Bapak-bapak tua umur 70an yang kira-kira sudah gak sanggup ngejar maling. Saking bebasnya, pedagang buah pun bisa masuk ke lantai atas dan teriak-teriak jualan buah. Tak hanya itu, ada aneka macam perwakilan organisasi yang sering ngetuk pintu kamar, minta THR menjelang Lebaran. Jauh berbeda dengan kos saya yang terakhir, pintu pagar dijaga 24 jam, kendaraan masuk pun mesti buka jendela. Seaman-amannya, ibu pedagang nasi uduk masih bisa masuk halaman kos, meneriakkan dagangannya di pagi hari dan bikin tidur jadi tak lelap.
  • Bersih-bersih kamar: Hal yang lumrah kalau kamar kos pekerja di Jakarta itu dibersihkan. Fasilitas ini biasanya sudah termasuk di dalam biaya kamar dan tak perlu ditambah biaya lagi. Kalau mau ngasih para pekerjanya sih gak masalah, tapi kalau gak ngasih emang itu sudah bagian dari pekerjaan mereka. Satu hal yang saya perhatikan, pegawai kost-kostan itu biasanya jujur. Setiap pegawai biasanya pegang kunci kamar dan membersihkan kamar ketika kita tidak ada. Di kamar kos saya terakhir, kamar wajib dibersihkan karena saat membersihkan kamar, peralatan dalam kamar di cek (i.e shower, kran, lampu). Bagi yang tak percaya, kamar kos boleh dibersihkan dengan pengawasan.
  • Manajemen kost: Manajemen yang jelas mempermudah urusan, dari mulai AC bocor, pintu susah dibuka, internet mati, sampai ada cicak mati di dalam kulkas pun tinggal SMS, langsung dibenerin. Akses terhadap manajemen juga memungkinkan protes rame-rame ketika harga kamar dinaikkan.
  • Laundry: kost-kosan biasanya bekerja sama dengan perusahaan laundry, tapi jika tak ada, ada baiknya mapping dulu lokasi laundry terdekat. Daripada repot sendiri. Barang-barang besar seperti sprei dan bed cover, biasanya tak termasuk barang yang dicucikan, jadi harus dikirim ke laundry.
  • Parkiran mobil: buat yang bawa mobil, daripada deg-degan parkir di jalanan Jakarta, mendingan pastikan kost punya area parkir. Biasanya, ada biaya tambahan. Nah kalau bayar parkir, ada baiknya dipastikan kalau tempat parkirnya terjamin dan gak diserobot mobil lain.
  • Tamu menginap: Di banyak kost-kostan tamu menginap itu wajib bayar, biayanya bervariasi, dari 50 ribu hingga ratusan ribu per malam. Tips hemat saya, jika ada tamu yang menginap dalam jangka lama, mendingan bayar kamar untuk dua orang selama satu bulan.

Kost di atas ini namanya Palm Residence, lokasinya ada di Guru Mughni, depan Indomaret. Sangat direkomendasikan!  

Soal tetangga kost, selama ini saya jarang berinteraksi dengan tetangga, paling banter sih marah-marahin tetangga artis yang suka berisik banget ketika sudah malam. Sementara, tetangga yang kalau bercinta kenceng banget gak bisa diapa-apain, paling cuma ngedumel di twitter aja. Individualisme di dalam kost sangatlah kental, ketemu tetangga gak pernah bertegur sapa. Eh ada juga tetangga yang pernah nyapa ketika saya dan teman nunggu taksi di depan kos. Rupanya Mas itu butuh joki 3-in-1. Aseeeem!!!

Selamat berakhir pekan.

xx,
Tjetje
Anak kos manja