Satu Atap Dengan Mertua

Tinggal satu atap sama mertua itu nista ya?

Pertanyaan ini saya ajukan ke Twitter beberapa waktu lalu. Jawaban yang saya terima bermacam-macam, tergantung kultur mana yang di pakai untuk melihat hal ini. Di Indonesia hal seperti ini dianggap normal, begitu juga di kultur China dengan pembatasan tiga rumah tangga dalam satu atap. Di Irlandia sendiri, ada beberapa pasangan yang melakukan hal seperti ini dengan alasan bermacam-macam. Kebanyakan orang yang saya tahu ketika melihat hal seperti ini tak begitu peduli.

Alasan memilih tinggal dengan mertua

Di Indonesia, pasangan baru yang tinggal dengan mertua bukanlah sebuah hal yang aneh. Ada banyak alasan mengapa pasangan-pasangan ini memilih tinggal bersama mertua. Alasan ekonomi seringkali menjadi alasan utama tak tinggal sendiri. Mengumpulkan uang untuk uang muka properti jadi alasan utama, karena memang tak ada properti dengan uang muka nol persen. Lagipula, sayang jika uang digunakan untuk membayar kontrakan, sementara rumah mertua banyak memiliki ruang kosong. Masuk akal kan? Apalagi kalau kemudian sang mertua tak berkeberatan.

Mertua yang sudah beranjak tua juga seringkali menjadi alasan tinggal satu atap. Mertua yang biasanya sudah sendirian dan tua, seringkali menjadi bahan kecemasan anak-anaknya. Di beberapa keluarga yang besar, salah satu anak biasanya ditunjuk untuk tinggal dan menjaga orang tua tersebut.

Selain usia, kondisi kesehatan mertua juga banyak menjadi pertimbangan. Apalagi mertua yang menderita sakit-sakit tertentu. Mertua terkena diabetes, jantung dan harus diawasi karena makannya tak terkontrol, mertua terkena kanker sehingga harus rutin kemoterapi, ataupun mertua terkenal sakit ginjal serta harus rutin cuci darah. Beberapa keluarga yang mampu biasanya akan mempekerjakan suster juga untuk mengawasi mertua yang sakit, tapi kehadiran anak, apalagi cucu, sedikit banyak akan sangat membantu menyemangati mereka yang sedang dalam kondisi sakit.

Ada juga mereka yang ingin anak-anaknya tak keluar dari rumah, karena memang ingin terus bersama sang anak dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya. Saya sendiri mengetahui salah satu orang kaya yang melakukan hal ini. Dengan segala uangnya, sang mertua bisa membelikan rumah-rumah untuk anak mantunya, tapi ia meminta anak-anaknya tinggal bersama. Sweet banget.

Tantangan tinggal dengan mertua

Tinggal dengan mertua bisa saya bayangkan sebagai sebuah hal yang tak mudah dilakukan. Rutinitas dan kebiasaan yang tak sama, belum lagi ego yang saling bertubrukan. Bisa dibayangkan sang anak biasanya harus terhimpit dengan orang tua vs pasangan. Banyak konflik yang timbul, apalagi jika semua pihak keras kepala.

Akan ada perebutan area di dalam rumah juga, misalnya dapur yang biasanya dikuasai oleh salah satu pihak, entah itu sang mertua atau menantu. Soal menu makanan pun bisa menjadi sumber argumentasi yang tak berkesudahan. Tak cuma berebut area, beberapa bahkan ada yang mengalami kecemburuan karena berebut perhatian. Tak heran kalau banyak bertebaran meme kejam seperti ini di internet, karena hubungan mertua dan mantu tak pernah mudah.

OMG, this one is harsh!

Privacy juga menjadi salah satu tantangan berat. Lingerie seksi-seksi tiba-tiba akan menjadi sumber kekagetan luar biasa dari mertua. Kamar tidur yang seharusnya menjadi area untuk tinggal berdua tiba-tiba “dijelajah” mertua yang beralasan ingin membantu beres-beres. Belum lagi mertua yang tiba-tiba ingin ikut campur dalam membuat keputusan-keputusan rumah tangga. Dari yang paling sederhana seperti warna lipstick, hingga memilih merek mobil.

Pendek kata, tinggal dengan mertua itu tak pernah sederhana.

Pandangan orang

Tekanan tinggal satu atap dengan mertua yang tak mudah ini masih ditambah dengan pandangan dan omongan tak enak dari lingkungan sekitar. Penghakiman dari masyarakat, karena pilihan, atau karena keadaan yang memaksa untuk tinggal dengan mertua, misalnya dengan cara menilai pria yang setuju melakukan hal tersebut sebagai pria yang tak mampu menghidupi pasangan dan keluarganya. Label tak mandiri pun melayang.

Di banyak lingkungan, tinggal di rumah mertua itu menjadi bahan pembicaraan. Saya sendiri pernah digosipkan miring tinggal dengan mertua. Gosip yang bagi saya sangat aneh, karena tinggal dengan mertua itu bukanlah sebuah skandal, seperti sebuah perselingkuhan. Dosa pun tidak. Lucunya saya ini tak pernah tinggal dengan mertua, hanya beberapa kali menginap di rumah mertua ketika berkunjung ke Irlandia (back then saya belum kawin).

Tapi begitulah lingkungan sosial kita dan cara berpikir orang lain, mereka terbentuk untuk terus mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal yang kemudian dianggap salah menurut standar mereka. Kebayang kan betapa pusingnya mereka yang memang harus tinggal dengan mertua dan dicibir karena keputusan mereka. Mau tak mau memang kita harus kebal dengan kenyataan bahwa banyak dari kita masih suka ngurusin dapur orang lain. Lagipula, ngurusin dapur orang lain itu kan menyenangkan dan bisa menambah kepercayaan diri yang seringkali rendah.

Jadi, apa pandanganmu tentang mereka yang tinggal dengan mertua?

xx,
Tjetje

Warna-warni Salon

Jaman saya kuliah dulu, saya hampir tak pernah cuci rambut di rumah, selalu di salon. Harap maklum, jaman itu saya masih pelajar yang hanya tahu betapa mudahnya menghabiskan uang dan tak begitu paham bagaimana susahnya mencari uang. Apalagi, cuci rambut di jaman itu tergolong murah meriah, apalagi di kota Malang.

Nah, selama hobi nyalon itu, saya suka banget mengobservasi hal-hal yang terjadi di salon. Beberapa pengamatan akan saya ulas di sini.

Penghematan handuk

Pernahkan kalian menghitung dan memperhatikan, berapa banyak handuk yang digunakan ketika mencuci rambut? Satu di punggung, kemudian setelah selesai, rambut akan dikeringkan dengan handuk lain lagi. Pada intinya, untuk mencuci rambut di salon diperlukan banyak handuk.

Nah untuk melakukan penghematan, beberapa salon menggunakan kembali handuk yang diletakkan di punggung kita, yang seringkali tak basah, pada klien yang berbeda. Geli dan jijik banget kan ya?! Tips saya, kalau berada di salon, minta supaya semua handuk yang digunakan baru, kalau perlu perhatikan darimana mereka mengambil handuk.

Shampo murah meriah

Shampo di salon-salon itu biasanya shampo yang dibeli dalam jumlah besar di toko-toko perlengkapan salon. Kualitas shampo ini jangan ditanya, tak akan sebagus kualitas sampo yang kita gunakan di rumah. Tentu saja semakin bagus salon yang kita kunjungi, akan semakin bagus shampo yang mereka gunakan. Ada satu hal menarik yang pernah saya lihat di sebuah salon, mereka menggunakan botol shampo ternama, tapi di dalamnya di isi dengan sampo literan berkualitas murahan. Kepala gak bisa bohong bow, entengnya gak sama.

Untuk ngakalin hal-hal seperti ini, ada baiknya kalau kita bawa shampo sendiri dan tak perlu repot-repot menggunakan shampo murah meriah. Tapi tentunya kita jadi repot sendiri, karena bawa-bawa botol shampo dan conditioner.

Ruang merokok

Masuk ke salon itu tujuannya satu, supaya rambut bersih dan wangi. Nah, salah satu salon yang pernah saya kunjungi di Mall Ambassador sana (ya elah, nyalon kok ke Ambassador) punya ruangan khusus untuk merokok yang baunya aduhai tak terkira. Tahu sendiri kan bau rokok itu melekat di rambut, kulit dan pakaian.

Jadi sesungguhnya saya kurang paham kenapa harus ke salon dan melakukan perawatan rambut jika akhirnya rambut harus bau rokok lagi? Oh well, buat perokok mungkin ini bukan masalah, tapi buat saya ini masalah banget, karena bau rokok dari ruang sebelah akan masuk ke ruang lain yang bebas merokok. Gagal deh rambut bau wangi layaknya taman bunga.

Ganti-ganti capster dan tips

Ini saya perhatikan khas Jakarta banget, yang mencuci rambut biasanya tak sama dengan yang ngasih creambath, nanti yang ngeblow beda lagi. Nah kalau sudah begini, kerepotan akan ada saat ngasih tips, karena para pegawai ini biasanya banyak bergantung dari tips. Nyarinya bakalan susah, karena balik lagi orangnya beda-beda. Jaman saya di Malang dulu gampang banget, yang ngurusin satu atau dua orang saja, jadi ninggal tipsnya juga gampang.

Dengan jumlah orang yang banyak gini, ngetipsnya juga pusing, karena untuk banyak orang.

Asuransi Salon

Jaman saya masih remaja dulu, rambut saya pernah dipapan yang pakai banyak papan di atas kepala. Berat banget deh. Begitu hasil papan jadi, ada seiprit rambut saya yang masih keriting. Waktu saya balik ke salonnya, sang pemilik salon tak peduli gitu. Boro-boro peduli, minta maaf aja engga. Coba kalau di sini, bisa dituntut!

Nah, satu hal yang membedakan Irlandia dan Indonesia adalah asuransi. Di Irlandia, salon itu luar biasa mahalnya, karena tak sembarang orang boleh menyewa kursi di salon, mereka harus punya kualifikasi dan juga punya asuransi. Asuransi ini berguna untuk melindungi hairdresser dan juga klien, jika ada hal-hal yang tak berjalan sesuai rencana. Seperti rambut saya tadi. Tujuannya diluruskan, jadinya malah lurus campur keriting.

Nah hal-hal di atas yang umum di salon-salon di Indonesia, tak akan ada di salon-salon di Irlandia. Pendapatan mereka juga sudah layak, sehingga tips tak lagi diharapkan. Sayangnya, salon di Irlandia tak menawarkan creambath, karena creambath cuma ada di Indonesia. Kalaupun ada creambath, konsumen Indonesia pasti akan kecewa berat, karena pijit di sini hanya dielus-elus, tak seperti di Indonesia yang penuh tenaga.

Kamu, kapan terakhir kali ke salon?

xx,
Tjetje
Keluar masuk beberapa salon ketika mudik

Skandal Kesusteran Irlandia

Mayoritas orang Irlandia itu Katolik dan gereja punya peran besar dalam kehidupan masyarakatnya sedari dulu. Layaknya di Indonesia, masyarakatnya di jaman dulu juga mengecam perempuan-perempuan yang hamil di luar perkawinan. Mereka dianggap sebagai aib hingga kemudian diasingkan. Aborsi sendiri bukanlah sebagai opsi, karena sampai hari ini negara ini tak memberikan akses aborsi yang aman.

Magdalene Laundries 

Saya pernah sekilas membahas Philomena di postingan ini

Pernah nonton Philomena? Perempuan yang hamil di luar perkawinan dan terpaksa bekerja mengurus laundry di sebuah kesusteran untuk membalas kebaikan kesusteran yang mau menampung dia dan menyembunyikan dia dari bahan gosip. Philomena dan banyak perempuan lain harus bekerja di dalam kondisi hamil karena kehamilan di luar perkawinan adalah hal yang tabu. Setelah melahirkan, mereka hanya diberi akses terbatas untuk berhubungan dengan anaknya.

Anak-anak ini kemudian diserahkan untuk adopsi pada pasangan-pasangan di luar Irlandia, seperti Amerika ataupun Inggris. Seringkali anak-anak ini diserahkan untuk diadopsi tanpa persetujuan ibu-ibunya. Anak Philomena sendiri mencoba mencari Ibunya, tapi lagi-lagi, kesusteran ini menolak untuk memberi informasi tentang si Ibu. Si anak akhirnya meninggal tanpa tahu siapa Ibunya. Segitu jahatnya mereka!

Institusi yang namanya terinspirasi dari Mary Magdalene, pekerja seksual, ini beroperasi di banyak tempat di Europa dan Amerika. Dan kesusteran yang mestinya memberi perlindungan pada perempuan-perempuan ini justru memperlakukan mereka dengan tak baik, karena mereka dianggap pendosa. Tentunya hanya perempuan yang dianggap pendosa, laki-laki kebal dari dosa. Di Irlandia sendiri, Magdalene laundry baru ditutup tahun 1996 saudara-saudara. Baru kemaren dulu! Dan setidaknya ada 60.000 bayi yang “dijual” pada orang-orang kaya untuk diadopsi.

Bagaimana dengan para ibu-ibu yang anak-anaknya diadopsi? Banyak dari mereka dipaksa bekerja di laundry hingga puluhan tahun, selain untuk membayar “kebaikan” kesusteran juga untuk “membayar dosa” mereka karena punya anak di luar perkawinan. Banyak dari mereka juga tak diterima kembali ke keluarganya, karena pada jaman itu norma mendikte perempuan-perempuan ini harus dibuang dari keluarga. Kejam.

Bayi-bayi Tuam

Tuam, sebuah kota kecil di barat Irlandia yang berjarak sekitar 30 km dari Galway. Di kota kecil ini ditemukan tulang-tulang dari anak-anak dan bayi-bayi kecil yang dibuang dalam 20 ruang terpisah di septitank. Seorang sejarahwan lokal, Catherine Corless, kemudian melakukan investigasi tentang bayi-bayi ini selama enam tahun. Awalnya, sang sejahrawan mengira hanya akan menemukan belasan atau puluhan bayi saya, tapi ternyata ada hampir 800 bayi yang dibuang di tempat tersebut.

Tadinya, ada spekulasi bahwa bayi-bayi ini dikuburkan di sana ketika masa kelaparan di Irlandia, pada tahun 1800 an. Tapi investigasi dari pemerintah menunjukkan bahwa bayi-bayi ini memang dikubur pada saat kesusteran ini masih aktif. Penyebab kematian para bayi ini sendiri beraneka rupa, termasuk sakit dan kurang gizi. 796 nama bayi ini sendiri dapat ditemukan di postingan sebuah media Irlandia di sini.

Sama seperti ibu-ibu di atas, bayi-bayi yang lahir di luar perkawinan dilihat sebelah mata dan tak dianggap setara seperti manusia pada umumnya. Terdengar familiar kan, karena bisik-bisik ini di Indonesia juga ada. Sang sejahrawan sendiri hanya ingin satu hal untuk para bayi-bayi ini, dignity, supaya anak-anak yang telah berpulang ini diperlakukan dengan layak.

Kesusteran Bon Secours yang ditutup pada tahun 1961 ini sampai sekarang belum meminta maaf dan pembahasan panjang tentang bayi-bayi ini masih akan terus berlanjut.

Penutup

Masih ada skandal yang melibatkan kesusteran di Irlandia, termasuk soal kekerasan pada anak yang dilakukan Sister of Mercy. Saya sendiri enggan melakukan riset lebih lanjut, karena semakin banyak saya membaca sejarah kelam ini, semakin sedih lihatnya.

Sekarang saya sedikit memahami, kenapa banyak orang yang kehilangan kepercayaan pada insitusi keagamaan dan mengapa gereja-gereja di sini lebih banyak di isi muka orang-orang asing yang masih muda, ketimbang muka anak-anak muda Irlandia. Sejarah masa lalu mereka, terlalu kelam.

xx,
Tjetje

 

Nostalgia Suara-suara Indonesia 

Hidup di Eropa itu bisa dibilang sangat tenang, kelewatan banget tenangnya. Begitu malam dan gelap datang, dingin dan senyap juga turut menenani. Di musim dingin seperti sekarang, ada banyak suara yang saya rindukan. Mungkin buat kalian suara-suara ini sebagai sebuah hal yang biasa, malah mengganggu, tapi buat saya, suara ini Indonesia banget.

Suara kucing

Tak banyak suara hewan yang saya dengar di Indonesia, hanya gonggongan anjing, kucing dan burung hantu. Tiap kali mendengar burung hantu atau melihat mereka terbang, rasanya magis banget.

Selain burung hantu, saya juga merindukan suara kucing. Ada banyak tipe suara kucing yang saya rindukan, dari yang menyayat karena menangisi anaknya yang hilang hingga kucing yang ramai dan gaduh berkelahi. Terkadang saya juga mendengar kucing yang sedang birahi meraung memecah keheningan malam. Di sini, saya tak pernah mendengar kucing mengeong karena tak ada kucing liar. Kucing-kucing milik para tetangga yang terkadang berkeliaran juga sangat sombong, tak mau disapa orang asing.

Suara aneka pedagang 

Jaman masih tinggal di Indonesia dan punya anjing, anjing saya bisa mendeteksi abang bakso langganan. Langganan anjing saya tentunya. Suara ketukan abang bakso ini khas banget dan bisa ditemukan dari pukul 3 sampai setelah matahari tenggelam saja. Setelah itu, jangan harap ada bakso Malang yang berkeliling dengan gerobaknya.

Abang tukang mie, pahlawan kita di kala kelaparan

Pada jam yang sama abang pedagang mie ayam juga beredar. Nah di telinga saya abang mie ayam ini suara ketokannya jauh lebih dalam ketimbang abang bakso. Tentunya kalau urusan kedalaman suara ketokan, abang mie dog-dog jauh lebih dalam suaranya. Alat pengetuknya juga lebih besar, tak heran suaranya cenderung dok…dok…dok…. Jam beredar mereka sendiri dimulai setelah Maghrib hingga menjelang tengah malam. Selain menyukai nasi goreng saya juga menggemari mie goreng buatan mereka.

Malam hari di Indonesia juga lebih meriah karena adanya abang tukang angsle. Di kompleks tempat saya tinggal, abang angsle ini biasanya mengetukkan sendok atau garpu ke mangkok, sehingga suaranya ting…ting…ting….Sayangnya, saya sudah tak pernah mendengar suara mereka lagi ketika pulang, mungkin para peminat angsle sudah mulai hilang seiring dengan memanasnya udara di daerah Malang. Suara pedagang angsle sendiri mirip dengan pedagang bubur ayam dan bubur kacang hijau serta ketan hitam. Yang membedakan hanya waktu berjualan mereka, bubur di pagi hari dan angsle di malam hari.

Di samping para abang (semuanya abang karena tak ada perempuan yang mendorong gerobak menjual makanan di malam hari) yang bermodalkan alat untuk membuat suara-suara, ada juga abang-abang yang bermodalkan kekuatan suaranya, tak lain tak bukan, abang tukang sate. Lagi-lagi di Malang, abang tukang sate dengan aksen Maduranya yang kuat akan berteriak menawarkan dagangan sembari mendorong gerobak mereka yang mirip dengan kapal. Telinga kita sebagai pelanggan juga harus jeli ketika mendengar suara mereka, jangan sampai keliru memanggil abang tukang sate yang bukan langganan.

Masih banyak lagi suara-suara yang khas Indonesia banget. Ketika saya pulang kemaren misalnya saya mendengar takbir. Ada pula suara adzan yang berkumandang memanggil pemeluk agama Islam untuk beribadah. Tak dilupakan juga suara petugas keamanan yang memukul tiang listrik untuk menandakan waktu, termasuk 12 kali di tengah malam. Bising tapi dirindukan. Tentunya ada suara yang tak saya rindukan, suara tetangga yang berteriak maling atau kebakaran di malam hari untuk membangunkan tetangga. Wah kalau sudah gini langsung panik.

Punya suara khas dari tempat kalian tinggal?

xx,
Tjetje

Masalah Turis Indonesia Ketika Jalan-jalan

Gara-gara tulisan Puji, saya jadi tergerak menulis masalah turis-turis Indonesia ketika berada di Irlandia.

Duitnya Kegedean dan Kebanyakan

Selama bolak-balik liburan ke sini, hingga kemudian bermukim, saya tak pernah melihat mata uang Euro yang lebih besar dari pecahan 50 Euro. Semua traksaksi saya lakukan lewat kartu, karena kebanyakan transaksi di sini sudah cashless.  Orang-orang di sini juga pada anti dengan pecahan besar, karena resiko uang palsu. Uang ini biasanya ya diraba-raba dulu, setelah diraba diletakkan di bawah sebuah mesin untuk melihat keasliannya. Nggak cukup, abis itu dicoret-coret dengan bolpen khusus.

Begitu pindah ke sini dan bertemu dengan turis-turis Indonesia, masalah mereka selalu sama. Uang Euro yang mereka bawa selalu dalam pecahan besar. Bahkan ada yang pernah bawa uang terkecil 50 Euro dengan jumlahnya terbatas, jumlah pecahan 100, 200 dan 500 jauh lebih banyak. Gara-gara membwa uang dalam pecahan besar ini, seorang turis yang hendak memborong oleh-oleh (dan sudah menghabiskan waktu keliling, mencari oleh-oleh yang disukai) ditolak belanja karena pecahan 500 Euro.

Sekali waktu, saya pernah berinisiatif membantu dengan memasukkan uang tersebut ke rekening saya, kemudian ditarik lagi dalam pecahan kecil. Dengan metode ini tak ada potongan biaya  seperti yang dialami Puji ketika menukar di tempat penukaran uang. Tapi jeleknya, ada keterbatasan jumlah uang yang bisa ditarik, alhasil tiap hari saya harus bolak-balik ambil uang karena melewati limit. Ya gitu deh, orang Indonesia kalau jalan-jalan duitnya muntah-muntah. 

Kerepotan Beli Oleh-oleh dan Open PO

Definisi jalan-jalan saya mungkin tak sama dengan kebanyakan orang. Jalan-jalan buat saya ya menikmati pemandangan, duduk-duduk di cafe sambil baca, nulis, menikmati secangkir teh dan people watching. Nah, turis Indonesia kebanyakan sibuk dengan belanja oleh-oleh dan buka orderan online.

Waktu yang dihabiskan untuk duduk dan belanja oleh-oleh ini luar biasa lamanya, satu toko bisa dikelilingi lalu keluar dengan beberapa tas berisikan gantungan kunci, magnet atau oleh-oleh lain yang harganya gak murah. Gantungan kunci seharga 7 Euro untuk rekan satu tim, magnet seharga 10 Euro untuk para anggota grup rumpi, snowball dan coklat.

Oh jangan lupa juga barang-barang bermerek titipan para teman-teman sosialita. Wah kalau soal titipan ini jangan tanya deh betapa pusingnya. Minta tolong nitip baju yang mereknya ada di Indonesia, terus nitipnnya gambar, disuruh cari sendiri. Tradisi ndoro, maunya tau beres. Ada pula yang udah nekat nitip dengan semena-mena dibatalkan, atau minta ganti warna ketika yang membeli sudah meninggalkan tempat belanja. Tapi ada juga turis Indonesia yang rela balik  dan rela berburu belajaan demi bukan PO dan untung beberapa ratus, atau juta rupiah.

Soal belanjaan barang bermerek ini, bagi beberapa orang buka PO tas-tas mahal itu menyenangkan. Semakin mahal tas yang dibeli semakin bagus, karena adanya pengembalian pajak. Gak heran juga kalau orang berjuang keras biar modal jalan-jalan bisa balik dari open PO ini. Sampai bandara nangis, karena harus bayar pajak. 

Nah kalau sudah kebanyakan belanja gini, akibatnya koper meledak karena kepenuhan belanjaan. Makanya jangan kaget kalau lihat barang bawaan yang dibawa ke kabin bisa banyak banget. Tukang jalan-jalan, eh maaf, penjual yang pinter sih biasanya beli ekstra bagasi, tapi yang gak, alamat bakalan ngemis-ngemis bagasi orang lain di bandara. Apalagi kalau sesama orang Indonesia. #PernahJadiKorban

Kecapekan jalan kaki

Beneran orang Indonesia itu malas jalan kaki? Iya kalau diajakin jalan-jalan keliling kota dan melihat pemandangan biasanya orang Indonesia itu suka teler duluan. Kelelahan karena emang badan gak terbiasa jalan kaki. Di kampung halaman, biasanya mereka punya kendaraan pribadi dan tak pernah jalan kaki kemana-mana. Makanya kalau diajak keliling kota dua sampai tiga jam aja udah pasti teler. 

Eits…tapi jangan salah, orang Indonesia ternyata kalau di luar negeri bisa jalan jarak jauh lho. Bukan keliling lihat pemandangan, tapi jalan-jalan keliling pusat perbelanjaan, keliling toko suvenir sampai gempor (dan ini bisa berjam-jam). Bahkan kalau ikut tur, mereka bisa muncul terlambat atau bahkan ditinggal bis karena kelamaan belanja.

Masalah toilet 

“Aduh ini gimana, kamar mandinya gak ada airnya? Coba beliin air (biasanya nama merek) botol dong”

“Duh air dalam kemasan mahal, sebotol satu Euro. Lima belas ribu masak buat cebok?”

“Punya baby wipes gak?”

No comment kalau yang ini.

Kesusahan cari nasi dan sambal

Selera nusantara gak bisa bohong, kalau liburan mesti makan nasi dengan rendang, kering tempe, abon dan tentunya SAMBAL. Dan soal lidah ini gak mengenal status ekonomi, dari yang terbang ekonomi sampai terbang naik bisnis, seleranya serupa. Saya bahkan pernah menemukan penumpang yang naik bisnis class, dengan makanan cantik-cantik, lalu mengeluarkan cabe segar untuk menemani makanan cantik itu. Cabe segar saudara-saudara.

Soal nasi sendiri sekarang mudah diatasi, tinggal bawa rice cooker. Persoalan perut ini mudah sih mengatasinnya, tapi resikonya juga besar, kalau ketangkap membawa makanan yang tak diperbolehkan oleh negara tujuan bakalan nangis-nangis di depan TV deh.

Tapi kalau lolos, orang-orang seperti saya bakalan girang, girang karena biasanya menerima limpahan makanan yang tak perlu dibawa kembali. Lumayan, bisa dapat mie instan dengan micin yang sensasional.

Jadi, apalagi masalah turis Indonesia kalau jalan-jalan ke luar negeri?

xx,
Tjetje

 

Badai Sudah Berlalu

Sedari seminggu lalu, sebelum badai datang, Irlandia sudah ramai mempersiapkan diri untuk menghadapi badai. Saya yang belum pernah mengalami badai, apalagi badai kategori 3 sempat panik dan akan memborong berbagai macam penganan dari swalayan, termasuk air. Tapi kebanyakan orang pada santai dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, karena ini hanya ex-hurricane, alias sisa badai.

Hari Minggu, pemerintah mengumumkan bahwa sekolah-sekolah akan ditutup, begitu juga dengan penitipan anak. Semuanya akan ditutup pada hari Senin, saat Ophelia, bekas badai tropis akan menghantam Irlandia. Pada saat yang sama, pemerintah mengumumkan bahwa status cuaca akan merah dan para penduduk dihimbau tidak keluar dari rumah. Namun pemerintah tidak menerapkan hari libur nasional, alhasil para pekerja seperti saya tetap ke kantor. Tapi hari itu saya memutuskan tidak berangkat, karena membayangkan transportasi akan susah.

Bagaimana tak susah jika salah satu perusahaan bis besar memutuskan untuk tidak beroperasi, sementara Bis Dublin hanya beroperasi hingga jam tertentu. Tram sendiri beroperasi dari pagi, tapi di siang hari berhenti beroperasi. Perusahaan transport ini bikin saya gemas, karena sudah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak keluar rumah, tapi malah memfasilitasi orang untuk keluar rumah. Saya sendiri tak memantau kereta serta komuter di sekitar Dublin. Tapi bisa saya bayangkan mereka pasti berhenti beroperasi.

Cuaca Dublin pagi itu cukup cerah. Angin yang kencang pun hanya berkisar 40-50 km saja. Saya bahkan sempat memposting instastory yang menunjukkan pelangi super indah. Badai diprediksikan datang di Dublin pada pukul satu siang, tapi jam segitu, cuaca masih bagus-bagus aja, sementara di Twitter, daerah barat dan selatan Irlandia sudah banyak yang terkenal dampaknya, bahkan ada beberapa yang kehilangan nyawa.

Kampung tempat saya tinggal sendiri berdekatan dengan gunung dan jauh dari pantai, jadi ketika angin datang tak terlalu kencang. Catatan saya menunjukkan hanya 65 km saja, tapi di malam hari angin ini jadi terdengar jauh lebih kencang. Bagi mereka yang baru tinggal di Irlandia, suara angin ini mengganggu dan membuat orang tak bisa tidur.

Irlandia dan guyonannya

Dalam menghadapi bencana seperti ini, orang Irlandia bisa dibilang tidak begitu sensitif. Guyonan-guyonan banyak dilontarkan di Twitter. Ada yang bercanda soal sign language di televisi (tweet ini akhirnya dihapus), ada yang mengecek kekuatan jepit jemuran, ada pula yang memposting soal stock Tayto di supermarket. Tayto ini merek keripik kentang kebanggaan orang Irlandia, biasanya dimakan sendiri atau bersama roti (mereka menyebutnya crisps sandwich). Pelatihnya Connor McGregor sendiri sempat dihujat masa karena ngetweet soal angin yang tak seberapa kuat. Di beberapa tempat memang anginnya tak begitu kuat, termasuk di tempat saya.

Saking gak seriusnya orang Irlandia, lagi-lagi ini gak semua ya, beberapa orang ada yang nekat berenang dan surfing di laut yang ombaknya kencang. Orang-orang kayak gini nggak mikir soal nyawa para petugas keselamatan. Sayangnya, mereka ini gak bisa dihukum juga.

Paska badai

Satu hari setelah badai sekolah masih ditutup. Beberapa wilayah tak punya akses terhadap listrik. Pohon-pohon bertumbangan. karung-karung pasir juga banyak diletakkan di gedung-gedung yang berdekatan di dekat sungai. Aktivitas di kota sudah mulai bergerak, sementara tram masih tak beroperasi. Tapi boleh dibilang penanganan bencana di sini berjalan dengan cepat, pohon-pohon yang tumbang dengan cepat diangkut oleh para petugas, walau daun-daun sisa pohon tumbang masih berserakan di berbagai sudut kota. Cuaca setelah badai sendiri jadi cerah.

Lalu, akhir minggu ini badai Brian akan menemani kami. Ah musim dingin ini jadi banyak badai dan orang Irlandia tak bisa lagi berbangga hati karena pulaunya aman dari badai (mereka selalu mengatakan ini, sebagai bentuk syukur karena cuaca yang jelek). Perubahan iklim ini akan membuat musim dingin tahun ini menjadi berbeda, jauh lebih dingin. Semoga saja saya salah.

Apa kabar kawan, bagaimana cuaca di tempat kalian?

xx,
Tjetje

Malang dan Anarkisme Terhadap Taksi Online

Saya ini penggunaannya taksi online. Ketika masih bekerja di Jakarta, taksi online jadi kesayangan saya, karena lebih bisa diandalkan ketimbang taksi biasa. Jaman itu saya sering ditolak mentah-mentah oleh para pengemudi burung biru karena lokasi tempat tinggal saya yang sering macet. Saking seringnya saya ditolak, saya sampai bosen ngelaporin.
Musim panas lalu, saya kembali ke Jakarta dan lebih sering memesan taksi mereka karena kemudahan aplikasi serta jumlah armadanya yang banyak. Harga sedikit lebih mahal tapi jauh lebih cepat ketimbang taksi online. Situasi ini tapi berubah ketika saya kembali ke Malang. Tak ada burung biru dan harus bergantung pada taksi online.

Tapi rupanya, kota Malang adalah kota yang anarkis dan tak bersahabat pada taksi online. Satu sore ketika saya sedang berada di Toko Oen, seorang supir taksi online dikeroyok dan dipukuli karena nekat mengangkut penumpang. Yang memukuli, supir angkot! Beberapa supir taksi online yang berada di sekitar area pemukulan dan mengenal pengemudi taksi tersebut tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menonton saja. Tragis.

Di Malang, kasus seperti ini terjadi berulang kali. Bahkan supir angkut seringkali mengikuti para penumpang yang keluar dari stasiun kereta dan menolak mencarter angkutan mereka.
Keengganan konsumen untuk naik taksi konvensional ataupun mencarter angkutan umum di Malang dikarenakan beberapa hal. Pertama, supir taksi seringkali menolak menggunakan argo dan mengajak konsumen tawar-menawar harga.Tak hanya taksi, supir angkutan juga melakukan hal tersebut.
Hal kedua yang membuat tak nyaman, angkutan umum seringkali nongkrong (di Malang kami menyebutnya ngetem) dan menunggu penumpang hingga kendaraan penuh. Untuk memperparah keadaan, kendaraan juga akan dikemudikan dengan perlahan jika angkutan belum penuh. Buntutnya, perjalanan yang bisa cepat, jadi lama. Kebiasaan ngetem ini sudah ada sejak jaman saya kuliah, dan tentunya sudah membuat saya dan beberapa teman sering terlambat kendati sudah berangkat lebih awal.


Yang menarik, ketika saya berada di Malang anarkisme ini justru dilakukan oleh pengemudi angkutan umum, bukan pengemudi taksi. Nampaknya ada rasa frustrasi yang mendalam karena merosotnya jumlah penumpang angkutan umum. Seorang pengemudi angkutan yang saya ajak ngobrol menceritakan amarahnya ketika segerombolan mahasiswa memutuskan naik taksi online ketimbang angkutan sehingga membuat penghasilannya hilang.
Masuk akal, tapi bagi saya tetap aneh, karena target pasar taksi itu tak sama dengan target angkutan umum. Mungkin para pengemudi angkutan itu lupa kalau jumlah kendaraan pribadi sudah semakin tinggi dan daya beli mahasiswa jaman sekarang sudah jauh lebih tinggi. Alhasil, ada keengganan naik kendaraan umum.
Pada saat yang sama, angkutan umum di Malang dikuasai oleh individu yang mampu membeli angkutan. Para juragan angkot. Tak heran kalau kemudian mereka akan melakukan apapun demi melindungi periuk nasi mereka. Apapun, termasuk merusak kendaraan dan memukuli pengemudi taksi online (apalagi banyak dari mereka datang dari luar Malang). Kerasnya persaingan manusia untuk menyambung hidup.
Selamat berakhir pekan kawan. Di tempat kalian tinggal, apakah supir taksi online mengalami kekerasan serupa?
xx,

Tjetje

Bapak Rumah Tangga 

Banyak dari kita tumbuh dan besar di lingkungan yang menuntut pria harus bisa menyediakan rumah, sandang, papan untuk pasangannya. Di lingkungan sosial kita kewajiban ini dianggap sebagai kewajiban mutlak pria. Kemampuan ini yang membuat pria lebih menarik dan tingkat kelolosan jika melamar pasangan lebih tinggi.

Lingkungan kita yang patriarkis juga selalu mengasosiasikan pria dengan keberhasilan ekonomi. Ambil contoh komentar seperti ini yang banyak kita dengan dalam keseharian: “Nyonya X kerjaannya jalan-jalan ke luar negeri melulu. Suaminya kerja apa sih?” Secara otomatis, lingkungan sosial kita berpikiran bahwa perempuan itu penghasilannya tak seberapa, ini sebenarnya tak salah juga, mengingat banyak perempuan dibayar lebih rendah ketimbang pria untuk pekerjaan yang sama.


Kepala kita yang menuntut pria untuk menjadi breadwinner juga mengidentikkan perempuan dengan dapur dan mengurus rumah tangga. Pada saat yang sama, lingkungan kita juga mengasosikan perempuan pasti mau jadi ibu rumah tangga. Ini bukan masalah di Indonesia saja, tapi di mana-mana.

Lucunya, perempuan yang memilih mengurus rumah tangga sering dicibir, apalagi jika pendidikannya tinggi. “Sekolah tinggi-tinggi kok buntutnya ngurusin dapur”. Sementara perempuan yang memilih bekerja dihina-dina, apalagi jika sang perempuan memiliki anak di rumah. Apalagi jika anak tersebut dijaga oleh pekerja rumah tangga. Habislah Ibu bekerja ini dihina-dina oleh mereka yang tak pernah tahu jumlah tagihan dan kebutuhan rumah tangga. Pendek kata, dalam situasi apapun perempuan selalu salah.

Begitu juga ketika lingkungan kita melihat dan mengenal Bapak Rumah Tangga (stay-at-home-dad/SAHD), sebuah hal  tak umum dan susah diterima di kepala banyak orang. Susah bagi orang untuk menerima konsep bahwa bapak-bapak itu bisa dan mampu berada di rumah secara penuh dan melakukan pekerjaan yang diasosiakan dengan perempuan. Sementara istrinya pergi bekerja, mencari uang.

Tak heran kalau kemudian lingkungan sosial kita heboh. Kehebohan karena kaget ini dilakukan dengan cara, lagi-lagi, menyalahkan perempuan. Perempuan-perempuan ini disalahkan karena tak bisa jatuh cinta dengan pria yang tepat, yang bisa menjadi breadwinner dan memberi uang bulanan. Tak cuma menyalahkan, lingkungan kita juga mengkasihani perempuan yang memilih menjadi tulang punggung. Perempuan-perempuan ini dianggap sebagai perempuan tak berdaya yang dianggap dimanfaatkan oleh suaminya. Sang pria juga tak lepas dari berbagai macam stigma, salah satunya malas bekerja.

Banyak alasan mengapa pria memilih menjadi bapak rumah tangga. Dari mulai ingin membangun hubungan dengan anak-anaknya hingga karena istri memilih bekerja. Alasan-alasan ini tak penting, yang paling penting kita sebagai warga dunia harus mulai membuka mata dan melihat bahwa dunia sudah berubah menuju ke kesetaraan. Laki-laki dan perempuan sudah sama-sama berhak memiliki cuti untuk menjadi orang tua.

Di Indonesia, paternity leaves memang belum diberikan secara resmi oleh pemerintah dan menjadi sebuah kemewahan, karena hanya diberikan oleh beberapa instansi internasional. Mungkin sudah saatnya kita semua berteriak meminta pemerintah merubah UU keternagakerjaan dan menambahkan cuti untuk para bapak baru. Dari beberapa kasus, ada bapak-bapak memilih untuk berhenti bekerja secara penuh untuk menghabiskan waktu berada di rumah saat anaknya tumbuh besar.

Di Abad 21 ini, bukanlah sebuah hal yang aneh ketika bapak mau repot mendorong kereta bayi, menyuapi anaknya, atau bahkan memasak popok ketika istrinya berangkat ke kantor. Sudah saatnya kita menormalisasi hal-hal seperti ini dan berhenti menjadi norak, apalagi hingga mengkasihani pilihan-pilihan mereka. Ketimbang kaget melihat hal seperti ini, lebih baik kalau kita salut, salut pada keberanian para perempuan dan pria modern yang menjadi pendobrak sistem yang mendikte pekerjaan rumah tangga dan dapur hanya untuk perempuan. Nggak semua orang berani jadi SAHD lho.

Kamu, sudah pernah ketemu dengan bapak rumah tangga, atau berminat untk jadi salah satunya?

xx,
Tjetje

Cerita Dari Lapangan Parkir

Hubungan kebanyakan orang dengan tukang parkir itu benci dan cinta. Cinta, karena mereka ini sangat membantu jika kita tak pandai memarkir kendaraan. Tak hanya berguna mengarahkan kita untuk memarkir kendaraan di posisi yang tepat, pada saat terdesak, mereka juga bisa memarkirkan kendaraan untuk kita. Ini pernah dialami seorang teman saya yang baru belajar mengendarai mobil.

Tapi hubungan manis ini berubah menjadi benci yang tak terhingga, ketika kendaraan sudah parkir dan tukang parkir tiba-tiba muncul, membunyikan peluitnya dan meminta ongkos parkir. Ketika jasanya dibutuhkan, mereka tak ada, tapi begitu urusannya menagih biaya jasa, mereka langsung sigap. Begitu rata-rata omelan orang yang saya dengar bila berhubungan dengan tukang parkir.

Ongkos parkir yang dibayarkan langsung ke tukang parkir sendiri seringkali tak jelas rimbanya, masuk ke kantong tukang parkir (yang memang tak tebal), atau ke kantong pemerintah daerah. Pengendara kendaraan yang tegas biasanya meminta karcis parkir, tapi tukang parkir juga tak kalah kreatif, mereka memalsukan karcis parkir ini dengan metode sederhana, difotocopi dengan kertas berwarna. Ini pengalaman bertahun-tahun lalu ketika berada di Malang, mungkin sekarang mereka jauh lebih kreatif.

Di Jakarta, biaya parkir dianggap lebih mahal daripada kota-kota lainnya. Kendati dianggap mahal, tempat-tempat parkir di Jakarta, terutama pada akhir pekan masih penuh dengan para penikmat mall yang ingin windows shopping. Untuk membantu para pengendara, pihak mall biasaya menempatkan tukang-tukang parkir yang bertugas membantu menunjukkan tempat parkir dan mengarahkan pengemudi.

Anehnya, orang-orang ini mengenakan seragam dengan tulisan: “NO TIPPING”. Duh padahal seberapa sih gaji mereka ini sampai mereka tak boleh menerima tips sama sekali? Mungkin, mungkin lho ya, budaya memberi tip ini membuat mereka tak mau melayani orang-orang yang tak memberi tip dan menyembunyikan tempat-tempat parkir.

Menariknya, pekerjaan menjadi tukang parkir ini didominasi oleh pria. Saya tak mau berspekulasi alasan dominasi ini, karena sebenarnya perempuan mampu kok menjadi tukang parkir.

Parkir dan Dublin

Di Dublin, parkir merupakan mimpi buruk, karena mahal dan jumlahnya yang terbatas. Parkir di pinggir jalan, terutama di kota besar hanya pada tempat-tempat tertentu dan biayanya tetap mencekik leher. Tak heran kalau kebanyakan orang memilih untuk naik kendaraan umum dan memarkir kendaraannya di lapangan parkir dekat terminal kendaraan.

Biaya parkir sendiri bisa dibayarkan melalui berbagai cara, tapi tak pernah melalui manusia. Pembayaran biasanya dilakukan melalui situs khusus, sms atau mesin parkir. Soal pembayaran yang terakhir ini bisa dilakukan dengan kartu ataupun dengan koin ataupun uang kertas.

Tak ada tukang parkir yang memantau bukan berarti kendaraan bisa bebas merdeka parkir di mana saja. Ada petugas-petugas yang berkeliling kota yang memastikan bahwa kita meletakkan bukti pembayaran parkir di jendela kendaraan. Jika melebihi waktu parkir yang kita bayar, atau bahkan tak membayar parkir, kendaraan kita beresiko untuk diclamping, dipasang alat yang membuat kendaraan tak bisa berjalan. Untuk membuka alat ini, pengemudi harus membayar denda terlebih dahulu. Tapi di beberapa kesempatan saya melihat clamping ini dilepas oleh pemilik kendaraan dan ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Menyewakan tempat parkir yang didapat ketika menyewa apartemen bukanlah sebuah hal yang aneh. Pada saat yang sama, tak punya mobil juga bukan hal yang  aneh. Di sini, mobil bukan tanda kesuksesan dan ukuran kekayaan. Biasanya, tempat parkir ini disewakan untuk satu bulan dengan biaya bervariasi, yang bisa mencapai 100 Euro, atau bahkan lebih.

Pengalaman saya sendiri dengan parkir bermacam-macam. Jika harus menyetir ke kantor, saya memarkir kendaraan di lapangan parkir yang jaraknya 10-15 menit jalan, ongkosnya 8€ per hari dan kendaraan harus diambil sebelum lapangan parkir tutup pukul 10 pagi. Bagi kolega saya, saya ini termasuk baik hati, karena mau membayar parkir. Kolega saya ada yang tak rela membayar sepeserpun dan rela mencari lokasi parkir yang berjarak 20 menit dari kantor dan gratis. Tentu saja gaya hidup hemat ini beresiko, kaca mobilnya pernah dipecahkan.

Menyetir ke kota sendiri saat ini bukan menjadi pilihan saya, karena sistem transportasi dari tempat tinggal saya yang sudah nyaman. Tinggal loncat ke dalam tram dan bayar ongkos tram dengan ongkos recehan. Sementara, pengalaman saya menyetir ke kota mengharuskan saya membayar lebih dari 15€ hanya untuk parkir (ini termasuk murah), sambil deg-degan karena lahan parkir yang begitu sempit. Tak heran kalau kemudian banyak yang memilih untuk naik kendaraan umum.

Selamat berakhir pekan kawan.
Kamu, punya cerita seru dari dunia perparkiran?

xx,
Tjetje

Isi Koper Ketika Pindahan Ke Luar Negeri

Ketika pindah ke Irlandia, saya diserang panic mood, ingin membawa semua barang dari Indonesia. Kendati sudah bolak-balik seliweran ke Dublin, saya tak tahu pasti makanan dan bumbu nusantara yang tersedia. Alhasil, saya membawa banyak bumbu instan. Perlu diingat juga, waktu pindah ke Irlandia saya gak bisa masak. Goreng pisang saja harus nanya jenis tepung.

Setelah lebih dari dua tahun bermukim di sini, saya jadi agak lebih pintar dan bisa mengatur strategi barang bawaan. Berikut beberapa pengalaman saya, yang mungkin berguna kalau ada yang mau pindahan ke luar negeri dan fokus ke urusan perut (seperti saya):

1. Prioritas Kesukaan

Saya ini pecinta kerupuk. Tak hanya Nyonya Siok, saya juga menyukai rengginang, emping, kerupuk bawang hingga kerupuk gendar (yang terbuat dari nasi). Tiap kali kembali dari Indonesia, koper saya kondisinya mirip pedagang kerupuk yang baru saja selesai kulakan.

Tiap orang punya kesukaan sendiri. Mereka yang menyukai sambal bisa dipastikan membawa sambal. Begitu juga dengan penyuka meses (yang mana ini gak ada di Irlandia ya), nastar atau makanan lainnya. Selera punya peran besar.

2. Tahu aturan negara tujuan

Tiap negara punya aturan berbeda soal makanan. Biasanya susu dan daging tak boleh dibawa masuk. Beruntungnya saya bukan pengkonsumsi dua produk ini. Jadi aman. Biarpun begitu, tetap ada saja orang yang nekat membawa produk-produk terlarang dan mengambil resiko. Mereka mengakali sistem dengan berbagai cara. Membawa rendang, misalnya, dipilih yang sudah dibungkus, bukan produk rumahan. Ini relatif lebih aman, karena dilihat sebagai makanan jadi. Ada pula yang mengubah label di plastik.

Kayu-kayuan sendiri juga relatif aman untuk dibawa ke sini. Di banyak negara, membawa kayu itu harus melalui proses panjang dan harus melewati proses penyemprotan terlebih dahulu. Di Dublin, semuanya aman, jadi patung-patung saya dari  Papua bisa sukses pindah ke Dublin.

3. Pemetaan kondisi Asian Market 

Seperti saya tulis di atas, penting bagi kita untuk tahu barang apa saja yang dijual di toko Asia di negara yang kita tuju. Irlandia misalnya punya barang yang lumayan lengkap, tapi tak menjual kencur dan daun salam. Ketika seorang teman datang, saya minta masing-masing bumbu tersebut sebanyak satu kilo dan saya masukkan freezer.

Situasi ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Sejak itu saya selalu memprioritaskan yang memang tak ada. Barang-barang yang sudah ada tak saya bawa, karena bisa dibeli dengan harga yang sedikit mahal.

4. Tanggal Kadarluwarsa

Nah ini elemen penting yang seringkali terlupakan. Baik sebelum dan kadarluwarsa itu dua hal yang berbeda. “Baik sebelum” yang sering disebut best before memberikan keleluasaan untuk menggunakan makanan tersebut lebih lama, bahkan ketika melewati tanggal yang tertera. Namun tentu saja kualitas makanan sedikit berubah.

Sementara makanan yang telah kadarluwarsa tak boleh dikonsumsi. Makanya ketika membeli makanan, penting untuk mencari makanan dengan masa kadarluwarsa terpanjang.  Untuk makanan yang memang masa penggunaannya harus cepat, misalnya petis yang tak bisa lama-lama, bisa tetap dibawa. Nanti saat menyimpan tinggal dibungkus sesuai porsi, lalu masuk freezer.

Ini isi koper saya ketika terakhir mudik. Jangan tanya dimana baju dan sepatu saya. Mereka semua berakhir di Jakarta, ditinggal.

5. Jangan fokus pada makanan saja 
Bukan makanan dan bumbu dapur saja yang penting untuk dibawa ketika pindah ke luar negeri. Baju daerah juga penting untuk dibawa, supaya bisa mengenalkan tradisi Indonesia. Selain itu, pernik-pernik rumah juga saya sarankan untuk dibawa, dari mulai placemat, hingga hiasan rumah.

Di samping hal-hal di atas, saya juga membawa obat-obatan yang agak susah diakses dengan bebas juga perlu untuk dibawa. Dari sekedar krim untuk kulit terbakar hingga antibiotik (soal yang satu ini, saya membawa dokternya ke apotek dan hanya akan mengkonsumsi ketika dapat lampu hijau dari dokter di Indonesia.

6. Periksa Kebijakan bagasi

Masing-masing perusahaan penerbangan punya aturan berbeda soal bagasi. Kelas ekonomi Emirates  misalnya membolehkan 30kg, tapi bagasi ekstra sangat mahal, bisa seharga tiket PP untuk dua orang. Sementara Etihad memperbolehkan 23 kg saja tapi bagasi bisa diupgrade menjadi 30kg, atau bagasi tambahan 23 kg bisa dibeli dengan harga tak terlalu mencekik.

Sementara, duduk di bisnis memberikan keleluasaan lebih besar untuk membawa lebih banyak bawaan. Hal-hal detail seperti ini perlu diperhatikan, supaya kita tidak kalap membeli dan berakhir membayar mahal karena kelebihan bagasi, atau malah membuang di bandara.

Penutup

Selain keluarga kerupuk, apa saja isi koper saya? Saya pernah membawa penanak nasi (karena penanak Irlandia tak seindah merek Indonesia), kering tempe, aneka bumbu instan, kemiri, meses ceres, sambal naknan, tepung bumbu untuk tempe, bawang goreng, keripik singkong, aneka kue lebaran (dari nastar hingga semprit), koyo, aneka petis (petis rujak, petis gorengan, petis yang belum dicampur bumbu), terasi wangi, cetakan kue (pukis, lumpur, kaastengels, kue ku, kue putu ayu), buku-buku novel Indonesia, patung, hiasan dinding, aneka kain tenun, hingga CD lagu 90an yang nyarinya susah bener. Soal baju dan sepatu, saya tak pernah cemas, karena semuanya bisa dibeli di negara tujuan. Urusan perut lebih penting!

Barang bawaan saya ini terhitung sebagai barang bawaan “biasa saja” jika dibandingkan dengan koper-koper orang lain. Seorang Indonesia yang saya kenal bahkan pernah membawa batang kayu pohon singkong untuk ditanam. Sungguh luar biasa komitmennya pada panganan nusantara.

Kamu, ketika pindah, atau jalan-jalan ke luar negeri bawa barang bawaan aneh gak?

xx,
Tjetje