Tepuk pramuka
Refleksi Tinggal di Negeri Orang
Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa saya sudah hampir dua tahun tinggal di Irlandia. Meninggalkan keluarga untuk membangun keluarga baru; meninggalkan teman-teman selama belasan, bahkan puluhan tahun dan harus memulai pertemanan yang baru, serta meninggalkan pekerjaan yang begitu saya cintai dan memulai bekerja dari nol, dari bawah.
Proses perubahan ini tentu saja mengubah saya sebagai individu dan mengubah cara saya melihat berbagai hal. Bullshit, kalau orang bilang tinggal di luar negeri itu tak akan mengubah apapun dari kita. Tinggal di luar negeri dan melihat hal-hal yang ajaib dan yang indah itu mengubah banyak sekali cara berpikir saya. Saya juga mendapat banyak pelajaran berharga yang tak saya dapatkan di sekolah.
Soal telepon genggam
Seperti yang pernah saya tulis di sini, transportasi umum di Irlandia itu lumayan okay. Kebanyakan tepat waktu, walaupun ada meleset-melesetnya satu atau dua menit. Tergantung kondisi jalan. Meleset yang sampai sejam gak muncul pun juga bisa kejadian, tapi biasanya kondisi seperti ini diumumkan di media sosial supaya penumpang gak bengong nungguin bis.
Karena bis umum tak muncul setiap saat, saya belajar untuk tepat waktu. Biasanya saya sudah berada di halte bis beberapa menit sebelum jadwal. Suatu hari, saya datang 10 menit lebih cepat, lalu membunuh waktu dengan menjelajah internet. Sementara itu bis saya tak kunjung muncul. Tunggu punya tunggu, bis saya tak muncul dong ya. Berhubung sudah agak gelap, saya pun menelpon ke pusat bis menanyakan apakah bis saya mengalami masalah. Petugas tersebut menginformasikan bahwa bis saya sudah berada sekitar lima stop dari halte saya. Berhubung bis selanjutnya baru akan muncul lebih dari satu jam, saya pun terpaksa naik taksi (dan jangan dibayangin naik turun taksi di sini semurah di Jakarta ya). Sejak saat itu saya KAPOK dan gak mau lagi terlalu terpaku pada media sosial ketika menunggu bis.
Menghargai matahari
Matahari di Irlandia itu barang langka, cuaca di sini cenderung mendung dan kelabu. Bagi kami, hari yang kering dan tak hujan itu, adalah hari yang menyenangkan. Sementara hari yang indah itu ya yang ada mataharinya. Dikasih matahari 15 derajat aja kami sudah bersyukur banget. Kalau dikasih 20-24 derajat, yang mana sangatlah jarang, pantai-pantai di sini bakalan penuh dengan orang-orang yang berjemur.
Bagi kalian yang tinggal di Indonesia yang terik mataharinya bisa bikin kulit terbakar, hal-hal sederhana ini tentunya satu hal yang biasa saja. Tapi Irlandia mengajarkan saya bahwa matahari itu menyenangkan, kulit terpapar matahari (dengan sunblock ya), juga sebuah hal yang menyenangkan. Irlandia juga mengajarkan saya untuk selalu aktif, asal ada matahari harus keluar jalan kaki, biar gak depresi kekurung di dalam rumah terus karena cuaca yang hujan melulu.
Hidup sederhana
Satu hal penting yang saya hargai dari orang-orang Irlandia adalah kesederhanaan mereka dalam menjalani hidup. Kebanyakan orang Irlandia gak diburu dengan gaya hidup yang mengejar kemewahan. Bagi mereka, bisa beli baju murah meriah Penney’s (di luar Irlandia disebut Primark) adalah sebuah kebanggaan luar biasa. Gak punya tas bermerek di sini juga bukan hal yang memalukan. Sungguh jauh berbeda dengan gaya hidup Indonesia yang rela nyicil tas bermerek atau bahkan menghabiskan seluruh gaji demi sebuah tas. Menariknya, jika kita menggunakan tas bermerek di sini, suka malu hati sendiri kalau dipuji tasnya bagus, atau ditanya merek tasnya. Reaksi kekagetan mereka ketika mengetahui barang mahal itu bikin was-was.
Menariknya, dengan gaya biasa-biasa saja kita sebagai konsumen sangat dihargai. Coba di Jakarta, gaya biasa-biasa aja masuk mall. Kok ya di Jakarta, di Malang saja deh, gaya biasa-biasa aja bakalan menimbulkan pertanyaan. Saya sendiri pernah mengalami berhadapan dengan kasir yang ragu-ragu (dan tak enggan mempertanyakan keraguannya pada saya yang belanja dengan kartu kredit. Kartu hutang padahal, bukan kartu debit unlimited).
Pertemanan
Pertemanan saya rata-rata awet, berusia belasan, hingga puluhan tahun. Mencari teman itu memang seperti mencari jodoh, memerlukan proses panjang untuk mencari tahu kecocokan. Sejak menjelang pindah ke Irlandia, saya sudah banyak menerima wejangan dari para sesepuh yang tinggal di berbagai tempat di Eropa untuk berhati-hati dalam berteman dengan orang Indonesia. Pilih dengan hati-hati dan jangan terlalu banyak gaul dengan orang Indonesia.
Terus terang, cultural shock saya terbesar di Irlandia adalah soal pergaulan orang Indonesia. Memfitnah, melempar gosip, berargumentasi dengan emosi, atau bahkan menceritakan kembali rahasia dapur orang itu menjadi sebuah hal yang “biasa”. Orang-orang yang dengan entengnya membicarakan “teman-temannya” ini membuat saya mempertanyakan, apa yang akan mereka bicarakan tentang saya dengan orang lain?
Hidup dan pergaulan di Jakarta yang katanya kejam itu, ternyata gak ada apa-apanya dengan pergaulan di luar negeri. Pergaulan di sini keras, sangat keras. Satu wejangan yang saya pegang dengan teguh adalah untuk tidak menceritakan apapun dari dalam rumah tangga, yang baik, apalagi yang buruk, karena satu Irlandia (dari Selatan sampai Utara) bisa dengar. Tentunya dengan bumbu sana-sini. Beruntungnya, saya sudah dididik oleh Ibunda untuk menyimpan semua yang saya dengar dan tak menyampaikan apapun ke orang lain.
Now, ijinkah saya pulang sejenak ke Indonesia, untuk menikmati matahari dan sembari bercanda-tawa dengan teman-teman terbaik saya, because I terribly miss them.
Kalian, punya pengalaman yang mengubah cara pandang dalam melihat hidup? Sharing dong!
xx,
Tjetje
Bapak Bule Yang Tersisih
Tulisan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan Mbak Yoyen beberapa tahun lalu. Terimakasih idenya Mbak.
Suatu hari, suami dari seorang teman yang sudah kawin dengan WNI selama lebih dari satu dekade mendekati saya sambil berkata: “You are not a usual Indonesian”. Saya pun bertanya mengapa ia mengambil kesimpulan tersebut, alasannya sederhana, karena saya mau ngobrol dengan bapak-bapak orang asing. Oh sungguhlah aneh ketika mengobrol dengan mereka dianggap sebagai keajaiban.
Komunitas Indonesia di banyak negara, terutama komunitas perkawinan campur, memiliki kecenderungan untuk berkelompok menjadi dua ketika ada acara; baik itu acara makan-makan, ataupun acara resmi. Yang Ibu-ibu biasanya cenderung berkumpul di dapur atau di tempat yang lebih dekat dengan akses makan, sementara yang bapak-bapak berkumpul di living room.
Yang kemudian saya perhatikan, jarang sekali terjadi interaksi antara bapak-bapak dengan para Ibu-ibu. Beberapa hasil observasi saya adalah sebagai berikut:
1. Tabu berbicara dengan laki orang
Jangan meringis, apalagi sampai ketawa deh. Masih banyak kok perempuan yang panas membara ketika melihat suaminya berbicara dengan perempuan lain. Dalam beberapa kamus, kondisi ini namanya insecure.
Pada saat yang sama, ada juga yang tak ikut punya suami panas dan mulai menyulut api pergosipan dengan kalimat: “Wih….lihat tuh, laki lu diajak ngobrol sama X”. Reaksi ini muncul karena lingkungan kita dimana ngobrol biasa dengan lawan jenis dianggap sebagai kecentilan. Kepala dari sebagian orang juga terlatih untuk berpikir bahwa obrolan tersebut terlarang. Maka tak heran kalau ada keengganan ngobrol antara Ibu-ibu dengan bapak-bapak bule.
2. Tak mau melibatkan bule dalam pembicaraan
Pernah ngalamin situasi dimana orang asing dicuekkin (biasanya satu orang) dan seluruh dunia ngomong bahasa Indonesia? Saya sering melihat hal seperti itu. Ngobrol-ngobrol kita seringkali kurang inklusif dan gak mikir untuk melibatkan mereka. Di beberapa kesempatan bahkan kelompok orang-orang Indonesia tak segan untuk ketawa cekakan sementara sang bule kagok karena tak mengerti apa-apa.
Kejadian seperti ini biasanya diakhiri dengan permintaan maaf karena berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi kemudian pembicaraan akan dilanjutkan kembali dalam bahasa Indonesia. Dan sang bule pun kembali dicuekkin. Kelompok ini biasanya emang males aja ngobrol dengan bule dan menunggu mereka menyingkir.
3. Gak ngerti pembicaraan bapak-bapak
Dari berbagai pengalaman saya maupun pengalaman beberapa orang lainnya, pembicaraan bapak-bapak itu sangat menarik. Politik, olahraga, lokasi wisata, sejarah, diskusi tentang filosofi atau bicara tentang topik-topik di berita. Nampaknya tak banyak orang mau mengikuti topik-topik ini karena dianggap sebagai hal yang berat. *sigh*
Pembicaraan dengan Ibu-ibu sendiri, tak semuanya ya, tapi cenderung lebih ringan dan seringkali mendiskusikan gosip teranyar, dari gosip artis lokal di Indonesia, hingga orang-orang yang rajin ditemui. Diskusi dengan kualitas, atau brainstorming satu topik biasanya jarang sekali ditemukan. Dicatat ya, jarang bukan berarti tak ada.
4. Capek ngomong bahasa asing terus
Wajar sih kalau otak itu ingin berbicara dalam bahasa Ibu karena lebih nyaman dan lebih mudah. Ngomongnya pun lebih cepat tanpa perlu mikir bahasa lain. Tapi ya kapan majunya? Bicara dalam bahasa asing itu, selain melatih kepala supaya bisa cepat mengemukakan pendapat dalam bahasa asing juga memperkaya koleksi kata. Gak ada ruginya kok.
Penutup
Kultur memisahkan bapak-bapak dan Ibu-ibu ini kultur Indonesia banget. Tumbuh besar di Indonesia, saya melihat pemisahan ini kuat banget, baik dalam kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan formal. Sungguh berbeda dengan kelompok asing dimana di mana perempuan dan pria saling ngobrol dan berdiskusi tentang berbagai topik. Di kultur ini, ketika ada acara ya harus membaur dengan semua orang dan bicara dengan semua orang. Agaknya anggapan tinggal di luar negeri akan kebule-bulean itu sangatlah salah. Masih banyak kebiasaan dari Indonesia yang tak mau atau mungkin tak bisa diganti.
Kamu, pernah lihat hal-hal seperti ini? Menurut kalian, kenapa hal seperti ini terjadi?
Xx,
Tjetje
Alat Elektronik Pengubah Hidup
Sebagai anak 90an saya masih sempat diajari bagaimana mengaron nasi hingga mengukus nasi di dandang supaya nasi menjadi punel dan enak. Jaman itu, tiap kali akan makan, nasi putih harus dihangatkan di atas kompor. Teknologi rice cooker pada saat itu baru sampai pada memasak dan belum pada menghangatkan.
Seingat saya, magic com yang bisa menghangatkan nasi baru hadir di tahun 2000an dan harganya cukup mahal. Waktu itu, magic com kami dibawa langsung oleh keluarga dari Jakarta ke Malang. Rasanya amazed gak karuan, karena tiba-tiba hidup berasa jauh lebih mudah. Sejak itu, saya tak pernah mengaron nasi lagi, kecuali ketika membuat nasi kuning.
Hingga kemarin rice cooker tercinta yang saya bawa ke Dublin rusak. Alih-alih beli rice cooker, saya malah bertanya, siapakah yang menemukan rice cooker? Ternyata namanya Yoshitada Minami dan beliau ini bekerja pada Toshiba.

Masak nasi manual yang memakan banyak waktu dan tak bisa ditinggal.
Mesin cuci
Selain rice cooker, mesin cuci juga menjadi mesin yang super berguna bagi hidup saya (dan saya yakin banyak orang di luar sana). Mesin cuci mengubah hidup, karena kita gak perlu repot-repot kucek baju, apalagi sprei. Semuanya bisa dilakukan dengan cepat, tinggal memilah pakaian dan memencet tombol.
Kendati begitu, di Indonesia masih ada saja yang melarang pekerja rumah tangga (PRT) untuk menggunakan mesin cuci dan memilih untuk menggunakan tenaga mereka dengan alasan supaya mereka tak malas-malasan. Eh tapi jangan kaget, di Indonesia kan banyak banget alat canggih yang cuma jadi pajangan; coba tengok kompor 4 tungku dengan oven yang sering jadi hiasan belaka di dapur kering. #HorangKaya
Mesin Pengering Baju
Bagi kalian yang ada di Indonesia, mesin ini pasti gak ada gunanya karena kalian bisa gantung baju di bawah matahari. Kalaupun musim hujan, pakaian masih bisa digantung di dalam ruangan. Sementara di negara empat musim ini (di Irlandia sih musimnya hujan terus), mesin pengering menjadi andalan, apalagi pada saat musim dingin. Penggunaan mesin ini katanya tak boleh sering-sering, karena konsumsi energinya tinggi dan bikin tagihan listrik jebol. Ini mitos aja sih, karena mesin-mesin terbaru sangat efisien dengan penggunaan energi.
Penyedot Debu
Nah ini satu lagi, penemuan yang bikin bersih-bersih rumah lebih cepat. Apalagi kalau punya binatang peliharaan yang bulunya rontok, cukup pencet tombol. Sama seperti kompor empat tungku, mesin penyedot debu juga seringkali disimpan tanpa digunakan. Banyak #horangkaya yang beli supaya punya tapi ogah bayar listrik.
BTW mesin penyedot debu kami semuanya berkabel, tak ada yang cordless. Tapi baru-baru ini kami ngeh kalau mesin tanpa kabel itu mengubah hidup. Bersih-bersih rumah bisa lebih kilat tanpa perlu menarik kabel dan menarik mesin. Jeleknya mesin ini hanya bisa menyedot selama belasan menit saja.
Masih banyak lagi penemuan-penemuan elektronik yang membuat hidup kita jauh lebih mudah, dari mesin pencuci piring hingga pengering rambut. Penemuan yang sedang saya tunggu adalah mesin setrika. Sampai detik ini teknologi baru sampai pada mesin pelipat baju yang tak bisa menyeterika dengan licin. Coba jika ada, setrikaan tak perlu menggunung.
Kamu, punya alat elektronik lain yang bikin hidup lebih mudah?
xx,
Tjetje
Mewahnya Rapat Nusantara
Semenjak bekerja, saya lebih banyak bekerja dengan institusi pemerintahan ketimbang dengan swasta. Dari banyak interaksi saya untuk rapat atau pun tipe-tipe lain rapat, saya perhatikan di Indonesia itu jauh lebih mewah. Mau buktinya?
Rapat di Indonesia, jika dijadwalkan sehari penuh di hotel setidaknya menawarkan dua kali coffee break dan satu kali makan siang. Penganan yang ditawarkan, serta porsi makan siang yang diberikan biasanya melebihi kebutuhan kalori harian kita. Sebuah hotel mewah di dekat Sudirman bahkan memberikan menu sarapan.
Soal makan siang, jangan ditanya lagi, kita dimanjakan dengan makan siang prasmanan yang menunya beraneka rupa dan terdiri dari daging ayam, sapi, ikan dan juga menu vegetarian. Tak lupa disertakan juga aneka makanan penutup yang akan berdiam seumur hidup di pinggul.

Rapat di luar hotel pun tak kalah meriah dari rapat di hotel. Aneka rupa jajanan nusantara hingga pastry disajikan di dalam kotak untuk para partisipan. Saat pemerintah baru naik posisi, jajanan ini digantikan dengan jajanan yang dianggap ndeso, seperti ketela rebus, kacang rebus. Terus terang saya gak suka dengan model jajanan baru ini, karena mereka disajikan dingin. Padahal rebusan itu lebih enak ketika hangat.
Makan siang sendiri tergantung tingkatan rapat. Jika melibatkan menteri, makanan yang disajikan biasanya oke dan disajikan secara prasmanan. Tapi jika melibatkan pejabat ecek-ecek, makannya “hanya” di dalam kardus. Semua tergantung anggaran tentunya. Makanan kardus sekalipun kualitasnya cukup okay. Jika banyak rapat diadakan, saya dulu seringkali tak perlu repot membeli makan siang. Tapi konsekuensinya harus rajin pergi ke gym.
Nah bagaimana dengan rapat di Irlandia? Rapat dengan makanan-makanan tersebut di atas itu barang mewah. Sekali waktu saya pernah terlibat dengan rapat yang dibuka bapak menteri dan melibatkan partisipan dari banyak negara di dunia. Makanannya prasmanan juga, tapi gak boleh ambil sendiri harus diambilkan. Niatnya mungkin baik, melayani. Tapi begitu lihat makanannya nasi putih, plus kentang goreng dan sepotong salmon; saya langsung hilang selera karena menunya gak nyambung! Untuk coffee break sendiri, mereka menyajikan shortbread. Tapi saking enaknya banyak orang tak kebagian. Beda banget dengan di Indonesia yang kuenya selalu berlebihan, bahkan bisa di bungkus panitia.
Nasi kentang salmon tersebut tergolong mewah untuk ukuran Irlandia, karena di rapat biasa makanan yang disajikan biasanya roti lapis (sandwich) dan keripik kentang. Jajanan pada saat coffee break biskuit-biskuit yang dibuka dari bungkusnya. Beda kualitas dengan shortbread di atas.
Tidak semua kantor punya anggaran berlebih untuk kue dan makan siang. Institusi terakhir tempat saya bekerja tak pernah punya anggaran hura-hura, karena kami harus tanggung jawab pada para donor, donor kami ya para pembayar pajak di berbagai sudut dunia. Alhasil, kami seringkali membeli kue-kue rapat dari kantong sendiri. Kuenya disajikan di piring dan orang mengambil secukupnya.
Dari berbagai rapat yang saya hadiri, kue yang paling berkesan justru bukan kue ketika bertemu Presiden Indonesia. Yang paling berkesan justru ketika saya menghadiri sebuah rapat di Medan. Kuenya di masukkan ke dalam kotak nasi dan isinya sembilan biji untuk masing-masing orang. Dimakan perut meledak, dibuang tak pantas, akhirnya diberikan ke peserta mereka yang orang Medan untuk dibawa pulang ke rumahnya.
Selain momen itu, ada satu rapat yang paling berkesan ketika saya masih anak baru. Ketika itu saya ditugasi untuk menjaga meja tamu yang dipenuhi kotak kue di sebuah kementerian. Kue-kue tersebut untuk para partisipan yang baru mencatatkan namanya di daftar hadir. Eh ditinggal meleng sedikit, beberapa kotak makanan tersebut hilang diambil beberapa wartawan yang sedang menunggu menteri. Lalu mereka menikmati kue-kue tersebut di depan saya dengan penuh kemenangan. Duh!
Kalian punya cerita makanan dari rapat?
Xx,
Tjetje
Hidup Tanpa PRT
Sudah hampir dua tahun saya tinggal di Irlandia dan tentunya tanpa pekerja rumah tangga (PRT). Di sini kami tak mau dan tak mampu membayar para pekerja rumah tangga, tukang kebun, apalagi supir. Jauh berbeda dengan kaum menengah ke atas di nusantara yang dimanjakan dengan layanan PRT murah meriah. Lalu para Ibu-ibu teriak karena gaji PRT yang selalu di bawah UMR dianggap tak murah.
Paska Lebaran ini media sosial saya dipenuhi dengan keluhan para Ibu-ibu yang harus berjuang mengurus rumah dan anak. Foto cucian piring atau setrikaan yang menumpuk mendadak ngetrend. Tumpukan itu untuk menunjukkan tugas rumah tangga yang terpaksa dilakukan karena PRT sedang berlibur.
Duh Ibu-ibu, hidup tanpa PRT itu bisa kok. Ijinkan saya yang selalu dimanja dengan banyak fasilitas di Indonesia berbagi pengalaman saya menjadi anak mandiri.
Cucian setumpuk
Jaman sekarang cuci pakaian itu mudah, masukkan ke dalam mesin cuci, pencet tombol dan tunggu satu atau dua jam. Jemur baju juga relatif mudah, sebentar saja pasti kering karena cuaca Indonesia yang cenderung panas. Jika malas melakukan itu semua, tinggal tunggu laundry kiloan buka setelah lebaran dan masukkan semua ke laundry. Baju habis? Kalau gak mau repot dikit, beli baju lagilah, kan THR belum habis.
Bagaimana dengan setrikaan? Kalau capek ya gak usah disetrika, tinggal dilipat aja. Saya serius ini. Kaos-kaos di rumah kami hanya disetrika kilat tapi sering kali langsung dilipat. Tadinya (dan saya masih sering melakukan) sprei dan bedcover yang seluas samudera itu juga saya setrika. Lama-lama, capek! Hidup mah yang praktis-praktis aja.
Mengatasi Cucian Piring
Saya tak punya mesin pencuci piring di rumah. Dan kendati tinggal berdua saja, cucian piring saya sering menggunung. Cuci piring masuk menjadi tugas saja, walaupun kadang pasangan saya suka ikut nimbrung. Cuci piring di Irlandia itu kilat, piring dimasukkan ke dalam bak berisi air panas mendidih dan sabun, tak dibilas dan langsung di lap. Saya mengadopsi gaya ini, tapi bedanya piring-piring yang saya rendam saya bilas kembali. Geli rasanya melihat piring bersabun tanpa dibilas. Metode ini menghemat waktu cuci piring karena lemak di piring terbilas air panas.
Karena menggunakan air panas dan dibilas di bawah keran dengan air panas, piring-piring ini bisa saya lap dan langsung masuk lemari. Dalam waktu kurang dari 20 menit cucian piring menggunung bisa beres. Mudah kan? Lebih mudah lagi jika pasangan mau nimbrung ikut membantu. Kalau pasangan tak mau, ya berdayakan anak-anak.
Membereskan rumah
Di Indonesia, rumah itu wajib dibersihkan setiap hari, disapu dan juga dipel. Karena sudah terbiasa punya PRT, banyak rumah tangga yang enggan menggunakan vacuum cleaner, alasannya takut rusak atau takut PRT menjadi malas. Ya ampun tolong ya, teknologi itu kan disiapkan untuk menjadikan pekerjaan menjadi efisien. (Argumen yang sama juga digunakan untuk mencuci baju secara manual, ya jangan salahkan kalau PRT jadi gak betah).
Jadi yang punya vacuum cleaner silahkan dikeluarkan dari dalam lemari. Sementara yang tak punya bisa bersih-bersih manual. Rumah, menurut saya tak harus dibersihkan setiap hari kok. Sesempatnya saja, yang penting rapi. Btw, saya sendiri tak pernah nyapu ngepel ataupun menggunakan mesin penyedot debut di rumah, semua dilakukan pasangan saya. Coba itu bapak-bapaknya daripada sibuk mainan hp dan nonton TV diberdayakan. Masak perempuan saja yang mengurus rumah.
Soal masak
Masak makanan Indonesia itu ribet, tapi bisa direncanakan. Bumbu jadi banyak dijual, di pasar traditional maupun di swalayan. Jika rajin, bumbu dasar ini bisa dibikin sendiri, lalu dimasukkan ke dalam freezer. Rasanya memang akan sedikit berbeda, tapi yang penting sedikit lebih praktis. Jangan lupa juga merencankan menu selama beberapa hari ke depan, sehingga bahan makanan tak terbuang.
Bagi yang tak bisa masak, buka aplikasi Gojek saja. Tapi sabar ya kalau menunggu makanan. Jangan sampai makanan sedang dimasak, pesanan dibatalkan karena tak sabar.
Penutup
Selama beberapa Lebaran di Jakarta, saya tak pernah pulang kampung dan selalu ngantor. Tugas saya selain menjaga rumah kosong juga menyapu dan mengepel rumah yang sebesar lapangan sepakbola. Butuh hampir satu jam buat saya untuk nyapu dan ngepel.
Hidup tanpa PRT itu memungkinkan kok, sangat memungkinkan, kuncinya tak boleh alergi pada pekerjaan rumah tangga selain itu semua orang harus ikut serta melakukan tugas rumah tangga, jangan hanya dibebankan pada Ibu, istri atau perempuan saja. Lagipula, lontong, opor ayam dan rendang yang duduk manis di dalam perut kan juga perlu dibakar supaya tak jadi lemak.
Selain itu kerjanya juga harus fokus dan tak repot mengunggah foto di media sosial. Bukan tak boleh, tapi kalau terlalu sibuk menanti like di media sosial kapan selesainya?
Selamat Idul Fitri bagi kalian semua yang merayakan. Semoga masa liburan bersama keluarga menyenangkan.
xx,
Tjetje
Uang Baru dan Salam Tempel
Ramadhan sudah hampir usai, THR sudah dibagikan (dan mungkin dihabiskan), baju baru sudah terbeli, begitu juga dengan aneka rupa kue kering di dalam toples cantik. Pendek kata, semua sudah hampir siap.
Eitssss…tunggu dulu, masih ada satu ritual lebaran yang belum dilakukan, menukarkan uang baru. Ritual ini menjadi ritual wajib bagi sebagian, mungkin sebagian besar, keluarga di Indonesia. Anak-anak kecil akan berebutan salam tempel.
Saya sendiri tak tahu bagaimana istilah salam tempel bermula. Yang jelas setiap kali bersalaman dengan yang tua, atau dituakan, akan ada uang yang ditempelkan di tangan. Tradisi ini tak hanya saat lebaran, tapi juga saat kumpul keluarga. Saya yang sudah berusia lebih dari tigapuluh pun masih menggemari diberi salam tempel. Bukan nilai uangnya yang saya suka, tapi elemen kejutan tiba-tiba mendapatkan hadiah. Uang tersebut biasanya saya sembunyikan di dalam dompet untuk keadaan darurat. Darurat sale.
Tradisi salam tempel ini membuat permintaan uang baru menjelang lebaran melonjak. Sama melonjaknya dengan harga bawang merah, santan, daging serta daun janur. Mereka yang bekerja di institusi perbankan biasanya sering kejatuhan rejeki dititipi uang baru oleh keluarga dan teman-temannya. Saya sendiri pernah beberapa kali melakukannya, bukan untuk lebaran, tapi untuk menimbun uang pecahan kecil di dalam brankas. Kadang, mereka yang dititipi tukar uang ini bisa menukarkan hingga puluhan juta rupiah.
Tahun ini saya tak sempat mengecek apakah bank Indonesia punya tempat penukaran uang, tapi biasanya ada kendaraan khusus BI untuk memfasilitasi melonjaknya permintaan yang baru. Bisa dibayangkan betapa penuhnya tempat penukaran ini.
Karena negara kita penuh dengan wirausaha, para pedagang uang baru juga bermunculan di pusat-pusat kota. Di Jakarta sendiri, mereka biasanya ada di depan Museum Bank Mandiri, di daerah kota tua. Di daerah ini, mereka tak hanya berjualan pada saat menjelang lebaran saja, tapi hampir setiap hari. Mereka duduk berteduh di pinggir jalan, bertemankan tas pinggang serta tumpukan uang baru.

Pecahan 2000 sebanyak 100 lembar, yang seharusnya bernilai 200.000 seingat saya dijual 5-10 ribu lebih mahal. Untuk ongkos keringat mereka tentunya. Jika uang yang ditukarkan lebih dari itu, silahkan dihitung sendiri berapa keuntungannya. Yang jelas pedagang uang baru bisa lebaran, bayar preman dan pembeli bisa menyenangkan keponakan. Semua orang senang. Beres.
Di Irlandia sendiri tak ada obsesi terhadap uang baru. Anak-anak cenderung diberi hadiah berupa barang ketimbang uang. Natal dapat hadiah, Paskah dapat coklat, ulang tahun menerima hadiah. Satu-satunya momen untuk menerima hadiah uang hanya pada saat first communion (komuni pertama bagi pemeluk agama Katolik), uangnya pun tak perlu baru. Yang penting nilainya bisa membuat mereka tersenyum lebar. Nanti kapan-kapan saya cerita soal perayaan komuni di sini ya.
Kembali lagi pada uang baru dan salam tempel, beberapa tahun lalu saya sempat kaget luar biasa ketika tahu para keponakan-keponakan ini bisa meraup jutaan rupiah dari satu Lebaran. Mereka bahkan punya target untuk memberi barang tertentu dari uang tersebut. Ada yang ingin beli iPad, ada yang ingin beli iPod, dan tentunya ada yang cukup bahagia ketika sudah bisa belanja jajanan di swalayan. Soal yang terakhir ini, saya beberapa kali menjumpainya di swalayan kecil di depan kost saya. Duh tiap kali bertemu mereka, saya rasanya sangat tertampar karena kesederhanaan mereka.
Selamat menjalanakan sisa ibadah Ramadan kawan, semoga tahun ini kalian diberkahi banyak rejeki supaya bisa menempelkan uang baru dalam pecahan yang jauh lebih besar.
xx,
Tjetje
Diskriminasi Lowongan Pekerjaan
Beberapa waktu lalu, seorang teman saya di sebuah media sosial menuliskan lowongan pekerjaan di kantornya. Bunyi lowongan pekerjaan kurang lebih seperti ini:
Dicari [nama posisi]
Lulusan [kualifikasi yang di minta]
PEREMPUAN
Usia maksimal 2o-an
Gaji sumpah kecil banget
Lowongan pekerjaan seperti ini banyak ditemukan di Indonesia dan sejujurnya lowongan-lowongan seperti ini sama sekali tak mengenakkan untuk dibaca karena penuh dengan diskriminasi. Herannya, sejak saya mencari pekerjaan lebih dari satu dekade lalu, model lowongan diskriminatif seperti ini masih saja ada.
Usia minimal
Indonesia itu kurang bersahabat dengan pencari kerja yang berusia lebih dari 30 tahun. Lowongan-lowongan yang beredar, baik online maupun di media cetak, meminta usia pelamar di bawah 30 tahun. Bahkan, para pencari kerja di pusat belanja seringkali meminta usia pekerja di bawah 24 tahun. Yang dicari memang yang masih muda belia.
Saya mencoba memahami, tapi sampai detik ini saya tak pernah paham dengan usia maksimal ini. Ketika di banyak tempat orang berorientasi pada usia minimal, supaya tak ada pekerja anak, di negara sendiri malah terbalik. Bagi saya pembatasan usia ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi. Mereka yang berusia lebih dari itu, ketika memiliki kompetensi yang sama ditutup kesempatannya untuk melamar. Alasan klasiknya, yang lebih tua over qualified, gak sanggup bayarnya karena sejarah gajinya sudah terlalu tinggi.
Salah satu penjelasan jujur yang saya dengar, kecenderungan untuk memilih orang-orang muda, karena pemberi kerja menginginkan orang-orang yang pengalamannya belum banyak supaya bisa diatur, ditata dan tak ngeyel jika diberitahu. Mereka yang memiliki pengalaman dan berusia lebih dari usia maksimal, seringkali dianggap terlalu banyak tahu dan bebal. Duh…label.
Tinggi badan (dan berat badan)
Bertubuh pendek seperti saya itu banyak suka maupun dukanya, soal ini sudah pernah saya bahas di sini ya. Nah salah satu derita menjadi orang bertubuh pendek di Indonesia itu ya diskriminasi untuk banyak pekerjaan. Masalahnya, pekerjaan-pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang memang memerlukan tinggi badan seperti menjadi pramugari ataupun pramugara (yang perlu meraih compartment di pesawat). Jadi SPG yang menawarkan produk-produk tertentu saja, wajib hukumnya memiliki tinggi badan di atas 160 cm. Jika tinggi badan hanya 150 cm saja, seperti saya, ya lupakan saja.
To make it worse, ada beberapa pemberi kerja yang menentukan berat badan juga, karena mereka menginginkan orang-orang bertubuh kurus. Entah jenis pekerjaan apa yang mereka tawarkan sampai pekerja yang mereka cari harus memiliki berat badan tertentu yang dianggap ideal oleh pemberi kerja. Mungkin, pekerjaan itu dibagi berdasarkan kelas, kelas ringan, kelas berat, macam olahraga tertentu.
Agama
Satu dekade yang lalu saya pernah melihat lowongan pekerjaan yang dikhususkan untuk orang-orang yang beragama tertentu. Lucunya, sang pemberi kerja bukan pemeluk agama tersebut. Rupanya lowongan tersebut memang sengaja dikhususkan untuk pemeluk agama tertentu, karena mereka identik dengan hal-hal positif dan tak pernah mau mencuri. Nah kalau sudah begini, orang-orang yang beragama lain dan jujur kan jadi tak bisa mengakses pekerjaan tersebut?
Pada saat yang sama, ada juga posisi-posisi tertentu yang melarang penggunaan simbol agama seperti jilbab. Seorang pengemudi Uber, ibu-ibu yang mengenakan jilbab pernah bercerita bahwa ia ditolak mentah-mentah untuk bekerja di perusahaan taksi terkenal di Jakarta. Si Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga ini menolak melepas jilbabnya dan memutuskan menjadi pengemudi di Uber.
Berpenampilan menarik
Defisini berpenampilan menarik itu apa? Tergantung yang menilai tentunya, karena tak ada acuan yang jelas. Di Indonesia sendiri mereka yang berkulit putih, berambut lurus, berhidung mancung cenderung dianggap berpenampilan lebih menarik. Nah kalau sudah begini, apakah mereka yang berkulit sawo matang dan berambut keriting tak layak dapat pekerjaan? Entahlah, silahkan ditanyakan pada perusahaan-perusahaan yang mencantumkan penampilan menarik sebagai prasyarat. Tolong sekalian ditanyakan juga, yang menentukan menarik atau tidak siapa, para bapak-bapakkah atau justru ibu-ibu?
Di berbagai negara, menuliskan hal-hal di atas sebagai kualifikasi ataupun acuan kemampuan seseorang akan dianggap sebagai sebuah diskriminasi luar biasa, apalagi terhadap perempuan. Dan di banyak tempat, mencantumkan foto di lamaran pekerjaan sudah tak diperlukan lagi, berbeda tentunya dengan di negara kita yang masih sering minta foto. Lalu akan diapakan foto-foto tersebut? Mungkin sudah saatnya lowongan-lowongan ajaib di atas diperkarakan, karena kita tak boleh dinilai berdasarkan penampilan fisik.
Menurut kamu, kualifikasi apa yang tak perlu dicantumkan di lowongan pekerjaan?
xx,
Tjetje
Selamat berpuasa bagi rekan-rekan yang menjalankan ibadah puasa, semoga ibadahnya lancar ya.
Cerita Dari Dalam Mobil
Di Jakarta dulu, saya sering melihat mobil dengan stiker seperti ini:
Real men use three pedals
Stiker ini biasanya ditemani dengan gambar gas, rem dan kopling untuk menegaskan mobil manual. Para penyuka kendaraan otomatis tak tinggal diam, ada stiker lain yang bergambarkan gas dan rem bertuliskan:
Rich men use two pedals
Perdebatan soal kendaraan otomatis dan kendaraan manual memang perdebatan yang tak pernah padam. Mobil manual dianggap lebih murah, lebih cepat dan pengemudinya lebih menguasai teknik, teknik mengganti gigi tentunya. Sementara mobil otomatis identik dengan mahal.
Di Irlandia sendiri, mobil manual jauh lebih populer ketimbang kendaraan otomatis. Kondisi jalanan di sini memang tak seperti di Indonesia. Jalanan relatif lengang dan kepadatan hanya ditemui di lampu merah saja. Tapi tak ada macet-macetan yang parah, seperti di Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya. Eh kota kecil pun sekarang juga macet ya, apalagi ketika ada hajatan seperti kawinan, sunatan atau wisuda.

Popularitas kendaraan manual ini membuat mereka yang mengendarai kendaraan otomatis seringkali ‘dihina’ karena dianggap kurang kompeten sebagai pengemudi. Apalagi SIM Irlandia juga dibedakan, SIM manual bisa digunakan untuk kendaraan manual dan otomatis, sementara SIM otomatis hanya bisa digunakan untuk kendaraan otomatis. Mereka yang menggunakan kendaraan otomatis biasanya pengemudi taksi, atau orang-orang tua yang baru saja operasi hip replacement.
Padahal, mengendarai kendaraan otomatis itu praktis, tak perlu repot-repot ganti gigi. Tak perlu pegal menginjak setengah kopling ketika kendaraan harus merambat di kemacetan yang padat. Dan tentunya kaki kiri bisa diistirahatkan hingga kesemutan.
Proses mendapatkan SIM di Irlandia sendiri tak mudah. Harus lolos tes tertulis dahulu untuk kemudian bisa mendapatkan SIM pemula (learner). Setelah itu, kursus mengemudi dengan instruktur resmi selama minimal 12 jam wajib diambil. Konon, 12 jam ini termasuk ringan, karena di negara lain ada yang mencapai 30 jam. 1 jam kursus sendiri dibandrol dengan harga 25 hingga 49 Euro per jamnya, tergantung sekolah mengemudinya.
Pengemudi pemula juga tak diperbolehkan menyetir sendiri, harus didampingi. Kendaran pun harus diberi stiker L di kaca depan dan belakang. Selain itu, pengemudi L juga tak diperkenankan masuk ke jalan tol. Jika sudah percaya diri, bisa ambil tes mengemudi. Jangan dibayangkan tesnya seperti di Indonesia yang harus melewati balok-balok kayu. Di sini, tes mengemudi langsung di jalan raya. Tingkat kelulusannya pun rendah, hanya 50%. Jadi ya jangan heran kalau ada yang gagal tes mengemudi hingga lebih dari 10 kali.
Bicara soal mobil, harga mobil (yang bekas tentunya) sedikit lebih murah ketimbang Indonesia. Asuransi, yang wajib bagi semua pengemudi, seringkali jauh lebih mahal. Terkadang, ongkos asuransi per tahun bisa dua kali lipat dari harga mobil. Selain asuransi, ongkos parkir juga mahal, setidaknya 2 Euro setiap jamnya. Ongkos parkir ini dibayarkan di mesin-mesin parkir, persis seperti di beberapa tempat di Jakarta. Para pekerja yang menyetir ke kantor biasanya menyewa parkir harian, atau bulanan dan harus merogoh kocek sekitar 100-150 Euro. Tak heran orang-orang di sini lebih memilih untuk naik kendaraan umum ketimbang menyetir.
Satu hal yang pasti, di sini kendaraan bukan simbol kekayaan, apalagi simbol kesuksesan. Setiap kali bicara kendaraan sebagai simbol kesuksesan, saya selalu teringat pada sebuah acara yang melibatkan UKM beberapa tahun lalu. Ketika itu, sang donor yang mendukung kesuksesan si pengrajin berkata bahwa si Ibu pengrajin sudah menjadi pengrajin sukses di kampungnya, karena si Ibu baru-baru ini membeli mobil Kijang.
Ah padahal kan ukuran sukses berbeda-beda. Ada yang mengukur dari kendaraan, ada yang mengukur dari KPR, ada pula yang mengukur dari kecepatan untuk mendapatkan jodoh dan membangun rumah tangga. Hayo sana buruan kawin lulu nyicil mobil, biar orang tua di kampung sana bangga, karena anaknya sudah sukses.
Jadi menurut kamu, sukses itu apa?
xx,
Tjetje
Penggemar taksi dan Uber yang belum sukses, karena tak pernah beli mobil sendiri.
Bahasa Inggris Bagus
Posisi baru saya sekarang mengharuskan saya untuk mengajari orang-orang dari berbagai belahan dunia. Sebagai orang yang terlahir dengan bahasa non-Inggris sebagai bahasa ibu, saya memahami bahwa tugas ini berat, saya harus kerja keras untuk memperkaya bahasa Inggris saya, membuka mulut saya untuk melafalkan kata per kata dengan jelas, berpikir secara cepat untuk menemukan sinonim, serta menggunakan bahasa yang sederhana dan dimengerti oleh semua orang.
Bahasa Inggris saya sendiri tak jelek-jelek amat. Saya terekspos dengan bahasa Inggris sejak saya berusia 3,5 tahun, ketika keluarga kami pindah ke Australia untuk mengikuti jejak Ayah saya yang melanjutkan sekolahnya di sana. Tapi tinggal di luar negeri, di usia muda, tak menjamin bahasa Inggris menjadi baik. Sekali lagi saya garis bawahi, tinggal di luar negeri tak menjamin bahasa Inggris seseorang menjadi baik. Yang tinggal selama berpuluh tahun di negeri asing pun tak sedikit yang memiliki bahasa Inggris berantakan.
Di Indonesia, saya menghabiskan berjam-jam, duduk bersama guru privat bahasa Ingris yang mengajari Inggris pada tiga generasi keluarga saya, dari nenek, ibu hingga saya. Guru bahasa Inggris saya, Ibu Kadarusman, luar biasa. Kelas saya diisi dengan mempelajari tata bahasa, mendengarkan, berbicara, membaca dan diakhiri dengan mengeja. Soal yang terakhir ini, tiap akhir kelas, saya diharuskan mengeja sebuah artikel, dari awal hingga akhir artikel tersebut. Ya bayangkan saja kalau artikelnya terdiri dari 700 huruf, ya 700 huruf itu saya eja.
Sebelum pindah ke Irlandia, saya juga mengambil kelas persiapan IELTS, supaya saya lebih dekat dengan Inggris-British yang tentunya jauh berbeda dengan Inggris Amerika yang saya pelajari seumur hidup saya. Di kelas ini saya menemukan bahwa word stressing saya suka lemah dan sampai detik ini saya tak bisa mengucapkan photography secara baik dan benar.
Dengan sahabat-sahabat terbaik, serta sepupu saya, kami juga berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Komunikasi ini kami campur dengan bahasa Indonesia, Perancis dan Jawa. Bukan untuk sombong-sombongan, tapi lebih kepada koleksi kata yang kaya pada bahasa Inggris dan juga untuk saling mengkoreksi. Di luar itu, saya juga memiliki sahabat-sahabat pena dan melahap banyak buku-buku bahasa Inggris (yang bikin tabungan jebol, karena di Indonesia buku itu mahal-mahal). Setelah Kindle hadir, saya mulai menggalakkan diri melahap buku-buku dengan Kindle dan memanfaatkan kamus yang sudah langsung terpasang di Kindle.
Pendek kata, saya belajar bahasa Inggris hampir sepanjang usia saya, tanpa henti. Dan saya yakin, saya bukanlah satu-satunya orang Asia yang menghabiskan sebagian dari hidup untuk belajar bahasa. Nah, interaksi saya dengan banyak orang, apalagi setelah kelas, biasanya ada saja yang mendekat kepada saya dan bertanya seperti ini:
“How come your English is so good?”
Di luar kelas sendiri ada yang yang spesifik berkomentar seperti ini:
“For Indonesian, your English is so good!”

Kadang, pertanyaan-pertanyaan ini didahului dengan keingintahuan rentang waktu masa tinggal saya di Irlandia. Ketika mereka tahu saya anak baru di Irlandia, orang-orang ini menjadi sangat kaget. Duh, sungguh kalau ketemu yang seperti ini, saya rasanya gemes, karena komentar-komentar itu di telinga saya merupakan sebuah hinaan manis. Hinaan yang terselubung bercampur dengan kebingungan melihat perempuan Asia bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik. Bagi mereka, orang Asia bisa berbahasa Inggris itu aneh, gak wajar dan harus dipertanyakan. Menurut mereka, orang Indonesia (dan Asia pada umumnya) itu kalau ngomong bahasa Inggris harus berantakan.
Keheranan ini tak hanya dialami saya, banyak kelompok-kelompok Asia yang mengalami hal ini. Mereka yang lahir dan besar di negara bahasa Inggris dengan karakteristik Asia pun seringkali dilempari pertanyaan ini. Dalam beberapa kesempatan saya secara blak-blakan mengatakan jika saya tak menyukai pertanyaan tersebut. Kalau mood saya sedang jelek, saya langsung bilang, keluarga kami dulu tinggal di Australia dan akan ditanggapi dengan oooooo panjang. Padahal, apa sih yang ditahu dan diingat anak usia 3,5 tahun?
Jika mood saya sedang baik, saya akan menjelaskan bahwa saya belajar bahasa Inggris dan mendengarkan apa kata guru saya. *huh*. Nah, dari mereka yang sudah lebih lama tinggal di luar negeri saya belajar untuk menanggapi pertanyaan ini dengan lebih pendek lagi: “Thank you, your English is good as well“. Diam deh gak bisa ngomong apa-apa. Lagi biasa aja kali kalau lihat orang bisa bahasa Inggris, kenapa juga mesti heran, jaman udah maju euy!
Kamu, pernah mengalami hal serupa?
xx,
Tjetje
PS: satu hal yang perlu dicatat, memiliki kemampuan bahasa asing baik bukan berarti menjadi orang yang lebih cerdas ketimbang orang lain. Orang-orang yang lemah dalam bahasa, biasanya memiliki kemampuan tinggi dalam bidang-bidang lain.




