-
Continue reading →: Banyak Anak Tak Selamanya Banyak Rejeki
Orang Indonesia percaya bahwa banyak anak, banyak rejeki; atau anak akan membawa rejekinya masing-masing. Kalimat-kalimat tersebut kemudian menjadi justifikasi untuk punya banyak anak. Bagi saya yang bukan penganut aliran-aliran di atas, rejeki nggak tiba-tiba datang karena punya anak, semuanya harus diusahakan dan yang paling penting : banyak anak tak selamanya banyak…
-
Continue reading →: Keliling Harlem dengan Jukung
Begitu keluar dari Jayapura, kami langsung paham kenapa sang pengemudi meminta biaya 800ribu rupiah untuk mengantar kami ke dermaga di Distrik Depapre. Perjalanan yang harusnya dua jam pun molor jadi tiga jam karena jalan berlubang serta jembatang ambruk. Sungguhlah, Kabupaten Jayapura masih perlu perbaikan infrastruktur. Kapal untuk mengantarkan ke Harlem…
-
Continue reading →: Dikejar Oom-Oom di Pantai Base G
Pantai Base G konon merupakan salah satu pantai yang bayak disukai dan mudah diakses karena lokasinya tak jauh dari tengah kota. Selain terkenal karena keindahannya, pantai ini juga terkenal karena kemahalannya. Masuk ke lokasi pantai bayar sepuluh ribu, parkir kendaraan bayar lima puluh ribu, duduk di salah satu balai-balainya bayar…
-
Continue reading →: Gado-Gado dari Jayapura
Saya ingat di acara Skyscanner Dodid Wijanarko, seorang pembuat film dokumenter, pernah bilang bahwa pantai dari ujung barat Papua sampai ujung timur Papua itu sama aja, yang membedakan itu orang-orangnya. Jadi, sebelum saya menuliskan pengalaman dikejar Oom-oom di pantai di Papua, ijinkan saya (duile bahasanya, kalau gak diijinin gimana?) untuk bertutur…
-
Continue reading →: Bagasiku Hilang di Jayapura
Dari Palu, saya terbang ke Makassar untuk transit selama kurang dari 12 jam dan dilanjutkan ke tujuan akhir: Jayapura. Rupanya, pesawat kami mampir dulu di Timika. Entah mengapa turun di bandara di Timika saya merasakan ketegangan. Pengamanan cukup ketat dan orang-orangnya tak bermuka ramah. Bandara Timika sendiri rupanya seperti kantor…
-
Continue reading →: Semalam di Palu
Semalam di Palu membuat saya belajar banyak hal dari kota yang terkenal dengan kayu besi dan bawang gorengnya ini. Yang paling utama, saya belajar sabar karena semua hal di kota ini lambat banget. Kelambatan pertama terjadi ketika Hotel tempat kami menginap sukses jemput setelah kami check in di hotel. Untungnya,…
-
Continue reading →: Dikriminasi Bangsa Sendiri
Kemarin siang saya ngobrol-ngobrol sama temen sebilik kerja tentang diskriminasi di negeri sendiri. Temen saya ini baru aja belanja di sebuah supermarket premium. Ketika itu, dia ngantri dilayani tukang daging. Ternyata, selesai melayani orang Jepang, si tukang daging ini nggak mau ngelayani temen saya dan malah memanggil anak baru untuk…
-
Continue reading →: Tukang Bungkus-bungkus
Dalam satu perhelatan perkawinan, saya pernah menangkap basah saudara pengantin, dengan seragam kebanggaannya, mengeluarkan kotak-kotak plastik aneka rupa. Tanpa malu-malu, dimasukkanlan makanan yang disajikan di area VIP tersebut ke dalam kotak plastik. Padahal, pada saat itu tamu masih banyak berseliweran dan belum pulang. Perilaku tersebut merupakan perilaku terencana yang direncanakan…
-
Continue reading →: Mabuk Megamendung di Cirebon
Naik kereta api Cirebon Express dari Jakarta, mata saya dihibur dengan motif batik megamendung pada kordennya. Sampai di lobby hotel Metland, mata saya dimanjakan dengan indahnya megamendung di sudut hiasan topeng. Menuju lift, mata sekali lagi diperlihatkan dengan mega mendung. Nomor kamar pun mengandung mega mendung. Hiasan di atas tempat…






