Recehan 

Baru-baru ini ada turis Indonesia yang ditolak belanja di sebuah toko suvenir ternama di Dublin, karena uang yang diangsurkan merupakan pecahan 500 €. Alasan toko tak mau menerima uang lembaran besar tersebut tak jelas, tapi saya menduga karena ada ketakutan uang ini yang palsu. Disini, memang ada keengganan menerima uang dalam pecahan-pecahan besar dan banyak transansi dilakukan dengan uang pecahan kecil,  kartu atau bahkan recehan dalam bentuk koin.

Jika di Indonesia recehan (pecahan uang kecil) berbentuk koin relatif tak bernilai dan banyak tidak disukai, (bahkan pengemis dan pengamen pun membenci pecahan-pecahan tertentu terutama yang nilainya kecil), di Irlandia koin jauh lebih bernilai. Di Indonesia hanya koin seribu dan lima ratus yang bisa dianggap sedikit berharga, karena nilainya yang memang lebih besar dan lebih berarti (btw, ini tolong jangan diartikan saya sok-sokan gak menghargai uang recehan dengan nilai yang lebih kecil ya). Di sini, koin terdiri dari pecahan 2 Euro, 1 Euro, 50, 20, 10, 5 dan juga 1 sen. Koin-koin dengan angka besar sama nasibnya dengan di Indonesia, lebih dihargai, sementara koin-koin dengan angka kecil, kurang begitu dihargai karena nilainya tak sebanding dengan beratnya.

Koin-koin recehan yang datang dari berbagai negara Eropa ini punya banyak gambar yang berbeda, tergantung darimana koin tersebut dikeluarkan.  Dari Irlandia, misalnya, identik dengan gambar harpa yang menjadi simbol negara. Sementara dari Perancis memuat Liberte, Fraternite dan Egalite, sedangkan German memuat simbol negaranya. Koin-koin ini jadi barang yang menarik untuk dikoleksi karena gambarnya yang berbeda-beda dan kadang membuat tertarik untuk menebak-nebak negara asalnya.
Seperti saya tulis di atas, keengganan untuk berurusan dengan recehan berbentuk koin, biasanya disebabkan berat dan nilai yang tak seberapa. Pada saat jalan-jalan, terutama di negara baru, koin-koin juga sering membuat frustasi, apalagi jika harus membayar barang-barang berharga murah. Mata harus jeli memilah-milah mana koin yang tepat. Ketika saya ke Belfast beberapa waktu lalu, saya pun sampai pusing sendiri di depan petugas kasir, karena belum kenal dengan koin poundsterling. Untungnya petugas di kasir berbaik hati memilihkan koin untuk pembayaran. Fiuh….
Ketika liburan, saya cenderung menghindari menumpuk banyak koin karena koin tak ada harganya jika ditukarkan kembali di Indonesia. Di tempat penukaran uang langganan saya di Jakarta misalnya, penjualan koin dengan mata uang asing hanya dihargai separuhnya saja. Jadi koin 1 Euro bisa dijual seharga 7500 saja. Sementara jika ingin membeli, harganya tetap sama. Tapi bagaimana lagi, koin ini memang diperlukan untuk transaksi yang penting, seperti membayar transpor umum.
Kendati sudah menghindari menyimpan koin, di setiap akhir liburan saya seringkali masih punya koin dengan berbagai nilai. Beberapa saya bawa pulang dan berakhir di toples koin, dan satu koin spesial dari perjalanan saya ke Hong Kong berakhir menjadi mas kawin untuk salah satu adik saya. Yang seru, koin tersebut saya dapatkan ketika saya pergi untuk kawin di Hong Kong. Dari perkawinan ke perkawinan lainnya.
Nah dari aneka rupa bandara yang saya kunjungi, baru di Kamboja saya saya melihat kotak amal untuk meninggalkan koin. Mungkin kotak ini juga ada di negara lain, tapi entah kenapa saya tak pernah nemu di ruang tunggu keberangkatan. Konsep kotak koin di bandara ini sangat brilian, karena turis-turis tak perlu pusing membawa koin dan bisa berbuat baik di akhir perjalanan. #TolongColekUnicefSuruhPasangSatuDiSoekarnoHatta.
Satu hal yang menarik, disini saya menemukan mesin khusus penukaran koin. Koin yang kita punya tinggal ditumpahkan di mesin tersebut, untuk ditimbang, lalu uang kita akan ditukar dengan uang kertas. Ada ongkos yang harus dibayar tentunya, sekitar 10%-15% dari jumlah yang kita tukarkan. Mesin ini tak hanya berguna sekali untuk para pengemis di Irlandia, tapi juga untuk rumah tangga yang sering menumpuk koin-koin dengan yang kurang bernilai.
Menjelang Lebaran, permintaan terhadap recehan selalu meningkat pesat. Entah siapa yang memulai tradisi tersebut. Recehan yang dicari tentunya bukan recehan dalam bentuk koin, tapi dalam bentuk kertas, seperti dua ribu, lima ribu, sepuluh atau bahkan dua puluh ribu. Ah terbayang betapa girangnya anak-anak kecil ini menerima recehan baru. Eh tapi bukan anak-anak saja sih yang girang, saya kalau nerima recehan, apalagi dalam bentuk mata uang asing, girangnya bisa berminggu-minggu. Lucunya, uang tersebut biasanya hanya saya simpan di dompet, dan tak dibelanjakan.
Anyway, selamat menyambut Hari Raya Lebaran bagi kalian yang merayakan. Bagi yang tak merayakan, selamat Liburan. Semoga kalian semua bisa makan enak dan tak sengsara seperti saya tahun kemaren. Btw, kalian masih suka terima recehan kalau hari Raya?
Foto lebaran saya tahun kemaren.
xx,
Tjetje
Merindukan sang Tante dan recehan dollarnya

Baca Juga: Susahnya Lebaran Tanpa Pedagang Kaki Lima

Biaya Hidup di Dublin

Postingan ini berurusan dengan uang dan uang itu relatif. Bagi sebagian orang terlihat mahal, bagi sebagian orang lainnya terlihat tidak mahal. Tapi perlu diketahui biaya hidup di Dublin itu memang tinggi dan tujuan dari postingan ini tidak untuk pamer ya, tapi untuk memberi panduan supaya orang-orang yang akan pindah ke Dublin (dan sering mengirim email pertanyaan serupa) bisa dengan mudahnya mendapatkan informasi. Setidaknya  mereka yang mau pindah tak perlu menunggu email balasan dari saya (yang kadang-kadang bisa berhari-hari).

Baiklah, mari kita mulai!

Akomodasi

Pertanyaan utama yang sering ditanyakan orang pada saya adalah berapa biaya menyewa rumah atau apartemen di Irlandia. Hohohoho…kalau pernah baca beberapa postingan saya pasti tahu bahwa rumah adalah isu yang panas di Irlandia dan biaya sewa apartemen ataupun rumah di sini cukup tinggi. Beberapa waktu lalu, salah satu koran disini menuliskan bahwa biaya rata-rata menyewa properti di Dublin itu setidaknya 1400 Euro per bulan.

Berdasarkan pengalaman kami menyewa apartemen di tengah kota (kami dulu menyewa di daerah Dublin 6), harga sewa berkisar di angka 2000an untuk 3 kamar. Sementara yang 1 kamar setidaknya 1200an. Pinggiran kota Dublin tentunya mematok harga yang lebih murah dan pilihan yang lebik baik, seperti rumah dengan halaman yang luas untuk 1200-1400. Tapi bedanya gak signifikan dan tinggal di pinggiran ini konsekuensinya berurusan dengan transportasi publik.

Disini, ongkos kontrak biasanya dibayarkan tiap bulan, tak perlu tiap tahun seperti di Indonesia dan ada deposit yang jumlahnya sama dengan uang sewa bulanan. Deposit ini bisa hilang kalau akan keluar dari kontrakan dan gagal memberikan one month notice, atau kalau ngerusakin bagian rumah/ apartemen. Saran saya untuk yang pindah ke Dublin, coba cari sharing rumah atau apartemen. Ada kamar yang disewakan termasuk bill, ada juga yang belum termasuk bill. Kisaran sewa kamar sendiri dimulai dari 500/ bulan. Jika dapat lebih murah dari angka itu ya beruntung. Situs untuk mencari apartemen/ rumah sendiri namanya http://www.daft.ie. Kalau soal mahal, sudah gak bisa ditawar lagi, karena konsep bidding banyak diterapkan di sini. Jumlah supply yang sedikit membuat orang frustasi dan rela membayar lebih mahal daripada orang lain.

Transportasi Umum

Transportasi di Irlandia itu MAHAL kalau dibandingkan dengan negara lain di Eropa. Tapi untuk pelajar dan pengguna kartu Leap, ada potongan ektra yang membuat ongkos jadi murah. Karena saya bukan pelajar, saya gak bisa kasih gambaran. Tapi sebagai commuter, dalam seminggu biaya transportasi tram biasanya berkisar 24 Euro sekian sen. Tak mungkin lebih, karena ada capping system untuk satu minggu. Kalau belum seminggu sudah habis 24 Euro, maka ongkos tram di sisa minggu itu gratis. Ongkos tram per jarak jauh sendiri, jika dibeli tanpa kartu, berkisar di harga 3.30 Euro, sementara yang terdekat dibandrol diharga 1 Euro lebih sekian sen.

https://www.instagram.com/p/BHElljwhG4l/?taken-by=binibule

Bagaimana dengan bis? Gak beda-beda jauh dengan tram. Bedanya kalau tram harus beli tiket di mesin, bis harus beli di supir dan harus bawa koin banyak-banyak. Soal sistem transportasi di Irlandia bisa dibaca di postingan ini.

Belanjaan

Di Indonesia, kita dimanjakan dengan mini atau supermarket yang menyediakan berbagai macam pilihan produk, dari yang paling murah hingga yang paling mahal, tergantung target market dari supermarket tersebut. Sebaliknya, di Irlandia supermarket yang murah (macam Aldi, Lidl dan Supervalue) tak menawarkan banyak pilihan. Produk-produknya pun bukan dari merek ternama, tapi produk khusus yang memang disediakan untuk supermarket tersebut. Mirip seperti produk pilihan Carefour yang harganya murmer itu tapi kualitasnya sedikit lebih baik. Soal  bagaimana supermarket-supermarket ini kapan-kapan saya ceritakan ya.

Nah biaya groceries sangat tergantung dengan gaya hidup yang belanja. Belanja irit, menurut perhitungan saya biasanya gak jauh-jauh dari 25 – 40 Euro untuk satu minggu. Ini dengan catatan rajin membeli produk-produk yang lagi diskon dan makan à la orang sini. Kalau mau makan tempe atau sayur-sayuran khas Asia akan jauh lebih mahal lagi, karena sayur mayur Asia itu harganya lebih mahal, sayur kangkung seikat di sini berkisar 2.5 Euro, sementara wortel satu kilo hanya 49 sen. Belanja di Toko Asia juga bisa bikin kantong bocor karena semuanya dipengenin. Tapi berita baiknya, di beberapa toko Asia di Dublin, mahasiswa biasanya dapat diskon 10%.

Oh ya supermarket premium disini juga ada, Tesco, Dunnes, Mark and Spencer. Supermarket yang terkesan lebih mahal ini sebenarnya tak begitu mahal selama tahu dan telaten dalam memilih. Lagipula, untuk kualitas yang baik, harus rela mengeluarkan uang lebih. Kalaupun mau frugal, bisa memilih produk-produk yang menjelang tanggal kadarluwarsa.

https://www.instagram.com/p/BGj6dVNQxkN/?taken-by=binibule

Biaya lain-lain

Nah ini yang paling tricky karena banyak dan printilan. Isi pulsa setidaknya 20 €, sudah termasuk data 4 GB dan telpon serta SMS lokal tak terbatas. Biaya sampah sendiri, biasanya ditimbang. Untuk sampah daur ulang gratis, tapi sampah sisa makanan dan sampah yang tak bisa didaur ulang dihitung perkilo. Estimasi saya sih sekitar 20 €  per bulan. Untuk yang tinggal di apartemen tak perlu pusing untuk urusan bayar sampah, karena sudah termasuk Management fee.

Biaya listrik bergantung dengan kondisi rumah dan betapa seringnya berada di rumah. Musim juga sangat berpengaruh, karena musim panas matahari sangat panjang, sementara musim dingin matahari cenderung pendek. Biaya listrik juga  tergantung dengan ukuran tempat tinggal, sistem pemanas di rumah, serta sistem insulasi rupa, tapi setidaknya diperlukan 100€ per bulan.  Biaya air di Irlandia dihitung pertahun, setahunnya sekitar 160 Euro untuk satu orang. Sementara untuk keluarga dengan 2 orang dewasa biayanya 260 Euro per tahun. (Catatan: biaya air di Irlandia sudah dibatalkan)

Televisi di Irlandia tak hanya TV kabel saja, tapi juga pajak televisi ke negara. Disini namanya tv license, biayanya setahun 160€. Daripada bayar segini mahalnya, mendingan beli proyektor bekas aja sama layar. Nanti kalau dikunjungi petugas, tinggal bilang tak punya TV. Nah kalau TV cable sendiri, biasanya jadi satu dengan internet dan ditawarkan dengan harga 40 – 80€. Tergantung kebutuhan.

Banyak pertanyaan juga tentang mencari pekerjaan di Dublin. Pelajar disini diperkenankan kerja hingga 20 jam setiap minggunya dan upah minimum perjam berkisar di angka 9-10 Euro.  Belum termasuk pajak ya. Sementara, mencari pekerjaan untuk pasangan dimungkingkan, selama pasangannya bisa dibawa ke Irlandia. Rupanya, ada  Universitas disini yang tidak memperkenankan mahasiswa S2 untuk membawa keluarganya. Akibatnya kedutaan tak mau mengeluarkan visa. Tapi perlu dicatat, mencari pekerjaan dengan paspor hijau tidaklah mudah, karena diperlukan perusahaan yang mau memberikan sponsor visa untuk bekerja.

Saya yakin masih banyak komponen biaya yang tak tercantum di tulisan ini. Tapi setidaknya ada sedikit gambaran tentang biaya hidup di Dublin. Jika ada pertanyaan yang tak terjawab, silahkan drop email ke saya, I’d be more than happy to help. Selama pertanyaannya bukan soal cara mendapatkan pekerjaan di sini dan mencari visa ya. Kalau ini mah, gak bakalan saya jawab.

Selamat berakhir pekan. Punya rencana apa akhir pekan ini?

xx,
Tjetje

Dear Pedagang Online, Jangan Gitu Dong!

Kehadiran media sosial benar-benar merubah dunia, termasuk dunia ekonomi. Mendadak, semua orang tergerak berwirausaha dan membuka toko-toko online di berbagai media sosial menjajakan segala hal yang bisa dijual. Dari gulungan kabel hingga kehangatan satu malam pun bisa dibeli di dunia maya. Saya melihat hal ini sebagai sebuah hal positif, karena ekonomi kita bergerak.

Tapi disisi lain, kehadiran pedagang di berbagai komunitas bukanlah sebuah hal yang diterima dengan tangan terbuka. Ada resistensi dan kecenderungan untuk tidak menyukai mereka. Para pedagang hanya disukai ketika dibutuhkan. Ketidaksukaan dengan pedagang ini tak muncul dalam sekejap, sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan, saat Multiply melebarkan bisnisnya dan merangkul pedagang, para bloggerpun ikut gerah. Sekarang, jika ada pedagang-pedagang di grup, alamat akan ada teguran yang melayang atau bahkan sang pedagang bisa ditendang. Ada beberapa hal yang saya perhatikan, tapi sebelum saya jabarkan ada baiknya saya kasih disclaimer dulu, bahwa tak semua pedagang seperti ini.

Hobi Nyampah Untuk Promosi

Coba iseng-iseng tengok Instagram para artis ibu kota, ada banyak dari mereka yang IGnya diserbu oleh komentar-komentar ajaib yang intinya dagangan. Syahrini yang hobi memamerkan tas Hermes misalnya dikomentari banyak pedagang tas Hermes KW. Sementara, salah satu artis yang belum kunjung hamil, banyak diberi tawaran klinik kesuburan ataupun pengobatan alternatif yang menjamin kehamilan. Gila komentar ini sadis banget ya. Komentar-komentar spam ini juga banyak menawarkan peninggi badan, pemutih kulit, hingga produk-produk aneh lainnya.

Pedagang tak hanya menyerbu artis ibukota saja, tapi juga menyerbu blog blogger ibukota, macam saya. Kan tinggalnya di ibukota Irlandia, boleh dong ngaku blogger ibukota. Isinya, sampah juga. Postingan tampon saya misalnya, banyak diserbu pedagang-pedagang yang menawarkan tampon murah. Lucunya, ada juga spam yang menawarkan jampi-jampi mistis.

Mungkin para pedagang-pedagang ini tak tahu bahwa meminta bantuan pada blogger untuk promosi itu gampang dan lebih baik ketimbang nyampah di komentar. Kirim email saja, minta bantuan untuk mempromosikan produk-produknya. Tak ada ruginya kan mengirimkan email kepada sang blogger, menawarkan produk gratis dengan imbalan tulisan di dalam blog atau promosi di Instagram. Tak harus ngasih uang lho (tak semua blogger itu perlu uang), cukup diberi produknya saja supaya sang blogger bisa tahu kualitasnya.

Urusan Nama

Masih berkaitan dengan komentar nyampah di atas, ada satu karakteristik yang bagi saya sangat khas sebagian pedagang dan membuat mereka jadi terkesan mengesalkan, kurang personal. Banyak pedagang yang tak mau menghabiskan sepuluh detik saja untuk mencari tahu dan mengetik nama sang empunya blog, atau sang empunya akun. Mungkin mereka terlalu sibuk, sehingga lebih memilih memanggil dengan panggilan generik seperti Bunda, Sis, atau Cin. Haduh tolong deh ya, kami kan juga punya nama. Pada saat yang sama, pedagang juga jarang banget memperkenalkan dirinya, jadi pembeli pun tak bisa berinteraksi secara personal. Terpaksa panggil Mbak, atau Mas. Kalau pas bener sih gak papa, kalau pas manggil Mbak jadi Mas, atau sebaliknya gak seru kan?

Mimin juga manusia

Saya juga manusia Min, punya nama juga!

Btw, panggilan Bunda ini buat saya ngenyek banget lho. Apalagi yang nekat manggil-manggil tanpa mencari tahu apakah yang diajak bicara punya latar belakang sebagai ibu-ibu atau engga. Asal nyosor manggil Bunda aja, padahal tak semua orang bisa dan mau dipanggil Bunda. Hal yang sama tak hanya berlaku di dunia maya saja, tapi juga untuk para SPG di supermarket-supermarket. Entah siapa yang memulai trend ini, tapi yang jelas saya juga memulai trend sendiri. Kalau ada yang nekat panggil saya Bunda, biasanya saya kasih tatapan setajam silet yang habis ditajamkan di atas batu cobek (Baca tajeeeem banget).

Hobi Ngetag

Siapa yang gak pernah kena tag foto barang dagangan? Apalagi menjelang Lebaran gini, banyak tag kue kering tanpa contoh kue keringnya, atau baju lebaran, baju koko serta mukena. Ngetag masal ini bagi saya sangat menyebalkan, walaupun bisa diselesaikan dengan cepat dengan cara untag. Tapi kalau pas apes gak ngecek media sosial selama beberapa hari, notifikasi tiba-tiba penuh. Uarrrgh…gemes deh.

Minta Nurunin Tulisan

Nah ini curahan hati sang blogger ibu kota yang baru saja dimintain nurunin tulisan karena mengandung kritikan. Padahal ya blogger ibu kota ini baru nulis penuh kritikan kalau memang pengalamannya super tak menyenangkan. Haduh…haduh….ini kan bukan jamannya Soeharto lagi dimana akses terhadap informasi dan kebenaran harus ditutupin. Ini juga bukan jamannya Tifatul Sembiring lagi yang hobi nyensor-nyensor segala hal.

Jadi para pedagang, kalau lihat tulisan yang mengkritik usaha Anda, coba ajak bloggernya ngobrol gimana cara memperbaiki layanan dan minta masukan. Kalau sudah bagus, undang bloggernya untuk datang lagi. Sekali lagi tak semua blogger itu gila gratisan ya.

Bagi saya, pedagang online itu memberikan kemudahan luar biasa, terutama untuk orang-orang yang sibuk bekerja. Tetapi, ada hal-hal tertentu yang perlu diperbaiki supaya hubungan dengan pembeli (atau calon pembeli) serta teman-teman tak rusak karena binis yang baru dirintis. Perbaikan ini tak hanya soal tata krama dalam berinteraksi, tapi juga soal keterbukaan dalam memberikan informasi harga (jangan nyolot lah kalau pembeli banyak nanya). Kegagalan membenahi hal-hal seperti ini akan dengan mudahnya membuat pembeli beralih ke situs-situs daring yang menawarkan pembelian hassle free, tinggal pencet, barangpun masuk keranjang. Lha kalau sudah begini kan yang untung usaha besar, bukan usaha kecil-kecil yang menggerakkan ekonomi.

 Gimana dengan kalian, punya pengalaman seru dengan pedagang online?

Xx,
Tjetje
Pernah berkelahi dengan pedagang online yang tak kunjung mengirimkan barang pesanan.

Perisakan di Dunia Maya (Cyberbullying)

Pernah tahu kampanye anti perisakan UNICEF di tahun 2015 yang memenangkan penghargaan? Judul kampanyenya “One Shot is Enough”, dan seperti biasa, kampanye-kampanye UNICEF memang selalu menampar dan menarik. ini foto-foto kampanye tersebut:

One Shot unicef 1 One shot 2 one shot 3

Kampanye UNICEF ini menggambarkan betapa seriusnya kondisi perisakan di dunia maya (cyberbullying), dan dunia maya tak terbatas pada internet dan media sosial saja tetapi juga melalui gawai. Perisakan ini juga tak mengancam anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa, tapi kali ini saya akan lebih fokus pada anak-anak, karena mereka lebih rentan dan karena data yang saya dapat memang berfokus pada anak-anak.

Data yang saya peroleh (data Unicef dan sebuahkementerian) menunjukkan bahwa 6 dari 10 anak-anak tak paham apa itu perisakan di dunia maya dan setidaknya 1 dari 10 anak mengalami perisakan di dunia maya. 1 dari 10 yang pernah dirisak, mengalami perisakan di sosial media. Ini data diambil di Indonesia tahun 2012 ya, empat tahun yang lalu. Angka ini, kalau saya perkirakan sih gak turun, tapi meningkat seiring dengan bertambahnya sosial media dan tentunya, seiring dengan makin mudahnya akses terhadap gawai.

Terdapat banyak tipe perisakan di dunia maya beberapa di antaranya saya sarikan di bawah ini:

  • Eklusi (Exclusion) : kesengajaan untuk tidak mengikutsertakan individu-individu baik di dalam grup-grup di sosial media maupun di kelompok-kelompok chatting. Eklusi ini mengirimkan pesan kuat (tanpa perlu diutarakan) bahwa korban tak diterima sebagai bagian dari sebuah grup. Bagi anak-anak dan remaja, eklusi ini sangat menekan, apalagi anak-anak muda merasa perlunya pengakuan dari teman-teman mereka. Kok anak remaja, orang dewasa aja suka kebakaran jenggot kalau ada obrolan di grup-grup yang eklusif yang mereka tak diajak.
  • Outing: Saya tahu apa bahasa Indonesia yang tepat untuk menggambarkan outing, yang jelas outing disini tidak berarti jalan-jalan dalam grup besar ke luar kantor atau ke luar sekolah ya. Outing disini merupakan tindakan mempermalukan dengan menyebarkan komunikasi antara pelaku dengan komunikasi antara korban yang tujuannya untuk mempermalukan. Yang parah, beberapa outing juga melibatkan foto-foto ataupun video yang bersifat sangat pribadi.
  • Harassment: Nah ini apalagi terjemahannya?Entahlah, tapi  harassment saya artikan sebagai  pengusikan secara terus-menerus dengan cara mengirimkan pesan-pesan yang tidak menyenangkan dan yang bersifat melecehkan.
  • Cyberstalking:  Masih berkaitan dengan harassment, cyberstalking ini membuntuti secara daring. Kemanapun perginya sang korban akan dipantau terus-menerus oleh sang pelaku untuk entah dicari kesalahannya, dicuri data-datanya (foto-foto) dan juga diusik.
  • Impersonation: Nah ini persis kayak yang dialami sepupu saya di sini.  Kalau sepupu saya diambil foto-fotonya untuk disalahgunakan dengan memukau perempuan-perempuan serta mengambil uang mereka, impersonation disini bertujuan untuk memalukan  dan merusak image sang korban. Jadi tak heran kalau sang pelaku yang berkedok sebagai korban kemudian banyak melakukan hal-hal diluar kebiasaan seperti menawari foto seksi atau mengajak melakukan hubungan seksual.
  • Merusak image: Tak hanya dilakukan dengan cara impersonation, merusak image juga dapat dilakukan dengan menyebarkan gosip tak benar. Ini gak cuma anak-anak ya, tapi orang dewasa juga rajin melakukan ini.
  • Trickery: Semacam phising. Memancing sang korban untuk memberikan tak hanya kata sandi, tetapi juga informasi-informasi lain yang bersifat pribadi. Dalam hubungan percintaan remaja pun hal ini banyak terjadi dengan mengatasnamakan cinta. Oh halo…kalau kamu cinta, gak usah minta kata sandi segala lah.
  • Flaming: Teknik memancing argumen di dunia maya, biasanya di forum, dengan menggunakan kata-kata vulgar dan tak sopan. Cari ribut kalau kata kita, tapi cari ributnya terus-terusan. Kalau di kaskus yang kayak gini sih biasanya dilempari batu bata. Tapi masalahnya di media sosial yang lain, tak ada sistem lempar bata.
  • Pemerasan: Nah ini yang tak kalah membahayakan. Mengancam menyebarkan foto atau pribadi yang bersifat pribadi jika sang korban tak memberikan uang ataupun foto/ video seksi. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Amanda Todd di Canada sana. Foto pribadi Amanda diancam akan disebarluaskan dan ia dipaksa untuk memberikan lebih banyak foto yang bersifat pribadi. Amanda akhirnya bunuh diri. Pelakunya warga negara Belanda dan Turki yang ada di sisi lain, jauh dari Canada.

Resikonya perisakan di dunia maya memang tak hanya stress, serta depresi, tetapi juga bisa menyebabkan kematian seperti kasus Amanda di atas. Pelakunya tak harus orang-orang jauh seperti yang dialami Amanda Todd, tapi bisa juga orang-orang terdekat seperti mantan pacar yang dendam membara. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Jessica Logan yang kemudian membuat perubahan di dunia hukum. Tapi ya tetep, sang korban tak bisa dibawa kembali, karena terlanjur bunuh diri.

Salah satu hal penting untuk mencegah perisakan di dunia maya adalah dengan mengedukasi diri sendiri ataupun anak-anak di lingkungan kita. Seperti saya tulis di atas, anak-anak jauh lebih rentan dalam menghadapi resiko perisakan. Batasi juga akses terhadap gawai bagi anak-anak termasuk media sosial. Jika mereka belum cukup usia, mendingan gak memaksakan diri membuat profil di media sosial deh, daripada terpapar dengan segala macam “kekerasan dunia maya.”

Selain hal-hal di atas, jangan pernah memberikan informasi yang bersifat pribadi. Apalagi jika berhubungan dengan foto-foto yang bersifat privat. Pesan penting ini tak hanya untuk anak-anak saja tapi juga para mbak-mbak di luar sana, terutama para bule hunter, yang pengen punya pacar atau suami bule. Sepengen-pengennya, jangan pernah kasih foto seksi.Pengguna media sosial sendiri sangat saya sarankan untuk mengubah pengaturan menjadi lebih privat. Ingat, hal-hal yang sudah keluar di internet sana, tak bisa dengan mudahnya dihapus. Jadi tak ada salahnya parno sedikit.

Bagaimana dengan para bloggers? Jangan salah, blogger juga berisiko dirisak oleh pembacanya atau sesama blogger lainnya. Komentar-komentar pedas (apalagi kalau pedasnya campur-campur bodoh) sih tak pernah saya anggap sebagai sebuah bentuk perisakan, kecuali jika dilakukan secara rutin dan sudah merambah media sosial lainnya. Kalau masih kelas-kelas teri aja paling tak saya tanggapi dan saya tandai ke dalam spam. Huh! Yang mulai perlu diberi perhatian jika komentar tersebut sudah mengarah pada ancaman kekerasan atau bahkan ancaman pembunuhan.

Punya tips lain untuk mencegah cyberbullying?

xx,
Tjetje
Masih memendam hasrat kerja di UNICEF

Baca juga: Hati-hati Mencari Bule Online yang mengulas tentang scammer cinta. 

Perisakan di Sekolah

Dunia Waria

Pekerjaan saya yang saya tinggalkan di Jakarta, memberikan banyak sekali kesempatan dan juga ruang belajar, apalagi ketika berkaitan dengan diskriminasi dan kelompok-kelompok terpinggirkan. Nah salah satu kelompok terpinggirkan yang pernah saya pelajari secara singkat adalah transjender atau yang lebih dikenal sebagai waria.
Waria ini merupakan kelompok yang sangat termarjinalisasi. Saking termarjinalisasinya, bos saya sampai pernah berpesan (rasanya pesan ini pernah saya tulis juga di blog ini): jika bertemu dengan transjender yang sedang mengamen atau mengemis, berilah mereka sedikit uang karena hidup mereka sangatlah berat.
Transjender itu hidupnya berat, sangat berat dan penuh dengan pergulatan sejak usia dini. Mereka berperang dengan dirinya karena merasa terperangkap di dalam tubuh yang salah. Dalam kondisi seperti ini, seringkali mereka mengalami tekanan dan juga perisakan dari lingkungan sosialnya. Soal perisakan dan LGBT, kapan-kapan saya bahas terpisah karena blogger malas ini masih belum selesai baca materinya. Keluarga yang seharusnya memberikan dukungan juga seringkali gagal karena malu terhadap lingkungan. Pada banyak kasus, transjender yang beranjak remaja dan mulai berani menunjukkan identitasnya, seringkali diusir atau bahkan dibuang dari keluarga (baca: tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga) karena mereka dianggap aib. Anak-anak transjender juga tak sedikit yang lari dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya.
Transstudent org
Pada saat yang sama, para transjender juga harus berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah bisa memahami pergulatan mereka. Wajar jika kita tak paham pergulatan mereka, karena mungkin kita tak punya informasi apa yang sebenarnya mereka alami. Nah jika ingin memahami mereka, mungkin salah satu kasus menarik yang bisa dipakai sebagai referensi adalah kasus David Reimer. David Reimer ini terlahir sebagai pria, tapi kemudian dioperasi menjadi perempuan ketika masih kecil kemudian dibesarkan sebagai perempuan. Sepanjang hidupnya ia mengalami pergulatan batin yang luar biasa, karena memang ia bukan perempuan dan ia tahu bahwa ia bukan perempuan. Pergulatan inilah yang dialami oleh para transjender, terjebak dalam tubuh yang salah, sementara hati dan pikiran mereka mengatakan bahwa mereka memiliki jender yang berbeda.
Kembali lagi pada transjender yang lari ke jalanan. Jalanan menjadi ruang yang lebih terbuka dalam menerima mereka, tentunya jalanan hanya ramah ketika Satpol PP tak sedang iseng beroperasi. Di jalanan yang keras ini banyak dari mereka yang terpaksa menjadi pengamen, atau pekerja seksual (bahkan menghadapi resiko diperkosa dan juga terpapar HIV/AIDS). Sementara beberapa yang lebih beruntung berada pada pekerjaan lain, seperti dunia hiburan ataupun kecantikan. Tapi harus diakui, pekerjaan bagi para waria memang hanya terbatas pada hal-hal tertentu, padahal saya yakin banyak dari mereka yang memiliki potentsi tapi kondisi menghentikan impian mereka.
Menariknya, di sebuah dokumenter saya mendengar bahwa di jaman Pak Harto yang konon sangat opresif para transjender hidup lebih nyaman dan damai. Dokumenter ini judulnya waria zone dan DVDnya bisa didapat dengan harga 12 Euro dari website ini. Sayangnya trailer dari film ini ada di Vimeo, jadi kemungkinan tak bisa ditonton oleh sebagian dari kalian, karena  #YangMuliaTukangSensorTiffie meninggalkan pencapaian indah selama masa jabatannya: SENSOR!
Kendati bicara tentang diskriminasi dan kerasnya hidup para waria, dua tahun lalu, ketika film ini diputar di lingkungan tempat saya bekerja, saya menengar bisik-bisik para waria yang terlibat di dalam film ini tak mendapatkan komisi apa-apa dari penjulan film ini. Mereka sudah dipaksa menandatangi pelepasan hak. Ini dua tahun lalu ya, semoga saja sekarang mereka sudah mendapatkan setidaknya segenggam beras.
Kendati waria sudah ada di lingkungan kita sejak lama, banyak dari kita yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan baik dan benar dengan mereka. Beberapa tips dari saya untuk berinteraksi dengan mereka:
  • Jangan pernah panggil mereka banci atau bencong. Tak sopan dan menyakitkan.  Jika punya anak, ajari juga mereka untuk bisa lebih baik pada waria. Setidaknya, tak perlu bisik-bisik dan meneriaki mereka, apalagi sampai lempar batu. Come on, they are human too.
  • Dalam berinteraksi, wajib hukumnya bertanya bagaimana mereka mau dipanggil. Jika mereka mempresentasikan diri sebagai perempuan, jangan sekali-sekali manggil mereka Mas, Abang atau Bli. Panggil mereka Mbak, Neng, Mbok, Kakak, ataupun Nona. Yang paling utama, jangan pula memanggil mereka dengan nama lahir mereka, kecuali mereka meminta hal tersebut. Bayangin aja kalau ketemu Caitlyn Jenner di Starbucks, gak bener kan kalau kita teriak-teriak Mas Bruce  lalu minta selfie.
  • Kelamin dan operasi menjadi sebuah hal tabu yang tak patut ditanyakan, dalam situasi apapun dan sedekat apapun. Mengapa? Ya mereka aja tak sibuk menanyakan bagaimana bentuk kelamin kita, kok kita tiba-tiba merasa punya hak untuk kepo menanyakan apa saja yang sudah mereka lakukan dengan kelaminnya. Kalau nanya tak boleh, megang-megang juga tak boleh dilakukan ya.
Sebagai manusia yang katanya berbudi luhur, tugas kita bukan menghakimi apalagi sibuk ngurusin kemana mereka pergi setelah mereka meninggal dunia (baca: sibuk ngumpatin mereka masuk neraka sambil komat-kamit, dosa…dosa…dosa padahal dirinya lagi bikin dosa). Tugas kita sebagai manusia itu cuma satu, memanusiakan mereka supaya mereka tak termarjinalisasi dan bisa mendapatkan hidup yang tenang. Kalau belum bisa, ya cukup seperti saya, rogoh kocek setiap kali melihat para pengamen transjender. Ingat ya, hidup mereka penuh dengan pergulatan dan kita tak perlu ikut-ikut bikin hidup mereka makin susah.
Permisi dulu, saya mau menghabiskan akhir pekan dengan ikutan ikut Gay Pride. Nanti foto-fotonya bisa dilihat di IG saya.

Happy Pride!

xx,
Tjetje

Merendahkan Pekerja Rumah Tangga

 

Halo selamat siang warga Indonesia. Apa kabar kalian semua? Gimana sudah mulai deg-degan karena si Mbak sudah mulai beberes tasnya dan siap-siap mau mudik selama beberapa minggu? Apakah kepala sudah pusing karena panic harus mengurus rumah sendiri? Saya yakin sebagian dari kalian juga ikutan packing kan? Ikutan mudik ke kampung dan tentunya sebagian dari kalian mudik ke hotel karena ditinggal Mbak.

Disaat seperti ini, sebagian warga (terutama warga Jakarta ya) memang dilanda kepanikan karena tak ada si Mbak. Peran para pekerja rumah tangga yang bertanggung jawab atas manajemen rumah tangga ini memang sangat vital. Nah pertanyaan besar yang selalu saya tanyakan: “Jika manajemen rumah tangga begitu pentingnya, mengapa kemudian pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Parahnya, kenapa pekerja rumah tangga dianggap sebagai pekerja rendahan dan dianggap tak setara dengan kita. Di jaman yang sudah tak mengenal kasta lagi, mereka masih dianggap sebagai orang-orang dengan kasta rendahan. Padahal manusia itu sama-sama sederajat dan setara. Pekerjaan tak mendefinisikan derajat kita.”

Pertanyaan saya ini membawa saya pada beberapa kesimpulan:

  • Pekerjaan rumah tangga dianggap tak memerlukan keterampilan

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, ada anggapan dalam masyarakat kita yang melihat pekerjaan rumah tangga ini tak memerlukan keterampilan apalagi kemampuan intelektual. Yang diperlukan hanya kemampuan fisik.Padahal kalau kita mau sedikit lebih cerdas melihatnya, diperlukan kemampuan manajemen yang luar biasa untuk mengatur rumah tangga. Dari mulai skala prioritas, menentukan pekerjaan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, hingga manajemen stok supaya tak ada kepanikan akibat beras ataupun telur habis. Prinsip manajemen FIFO, first in first out pun juga harus diterapkan supaya makanan yang dibeli tak membusuk di dalam kulkas.

Tak hanya itu harus ada kemampuan negosiasi yang baik, apalagi jika anggaran rumah tangga terbatas, sementara inflasi (apalagi menjelang lebaran ini) meroket gila-gilaan. Saya yakin para ibu-ibu juga banyak yang frustasi ketika berhadapan dengan pekerja rumah tangga yang baru datang dari kampung kan dan harus ngajarin kan? Nah kalau sudah gitu masih mau ngenyek pekerja rumah tangga sebagai pekerja rendahan dan yang tak memerlukan otak sama sekali?

  • Pendidikan Pekerja Rumah Tangga yang rendah

Tak bisa dipungkiri, sebagian pekerja rumah tangga memiliki pendidikan yang kurang tinggi. Kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan mengapa mereka tak bisa meraih pendidikan yang layak. Teorinya memang pendidikan di Indonesia sudah gratis, tapi faktanya, masih banyak sekolah yang tak segan minta biaya tambahan ini itu. Nah jangan salahkan pekerja rumah tangga jika mereka tak punya pendidikan yang cukup. Salahkan pemerintah yang gagal memberikan pendidikan layak pada semua orang serta memberantas kemiskinan dan mensejahterakan seluru masyarakatnya.

Pada saat yang sama, rendahnya pendidikan tak membuat pekerjaan itu menjadi pekerjaan rendahan. Jika pola pikir kita dalam melihat pekerjaan rumah tangga itu sebagai pekerjaan rendahan, ya jangan heran kalau kemudian perempuan yang bersekolah tinggi kemudian terkenal komentar negatif macam:

“Sayang kan sudah sekolah tinggi-tinggi kok kerjanya di dapur aja”

Sebuah pemikiran yang norak yang tak bersahabat dengan kemajuan perempuan dan sayangnya masih banyak terjadi di lingkungan kita. Dan parahnya sebagian lingkungan sosial kita mendikte perempuan tak perlu bersekolah tinggi-tinggi karena akhirnya pasti akan ke dapur juga.

  • Perbudakan Modern

Pekerja rumah tangga serta pekerjaan rumah tangga kemudian semakin identik dengan pekerjaan rendahan karena pekerjaan ini tak ubahnya perbudakan modern. Dan sejujurnya, mbak-mbak yang ada di rumah kalian itu mungkin lebih memilih bekerja di toko ketimbang terkurung di dalam rumah, rumah mewah dengan mobil 15 biji dan kolam renang sebesar lapangan sepakbola sekalipun.

Pertama, bekerja di rumah memberikan mereka gaji yang jauh di bawah UMR. Pendidikan mereka yang rendah serta akomodasi dan makanan yang disediakan menjadi alasan  untuk memberikan mereka upah yang kadang-kadang hanya sepertiga dari UMR.

Seperti saya telah tulis berulang kali, tidak ada jam kerja yang jelas bagi mereka. Pada bulan Ramadan seperti ini, para pekerja rumah tangga biasanya bekerja lebih keras. Mereka harus bangun lebih pagi untuk memastikan sahur disajikan sebelum waktu imsak, sementara pada saat jam buka puasa mereka harus membuat menu tambahan seperti kolak, es buah, ataupun penganan kecil lainnya (nulisnya sambil miris karena membayangkan indahnya penganan berbuka di nusantara). Sementara, pekerjaan rumah lainnya tetap berjalan dengan normal. Tambahan waktu bangun pagi ini tak pernah dianggap sebagai over time dan dihargai lebih. Lagi-lagi alasannya karena tugas mereka kan ringan, santai, mereka bisa tidur di tengah hari dan seabrek lainnya. Tapi coba balik kondisi ini pada diri kita sendiri, pasti kita sudah berteriak-teriak menuntut hak yang lebih banyak.

Para pekerja rumah tangga juga sering terkurung di dalam rumah. Saat malam minggu hanya boleh nonton TV, tak boleh jalan-jalan dengan abang tukang gado-gado, ataupun tukang bangunan yang sedang mengerjakan proyek rumah sebelah. Sang pemberi rumah tangga biasanya takut jika si mbak jadi cepat-cepat minta kawin ataupun hamil di luar perkawinan. Padahal si Mbak pengen cepet-cepet kawin supaya tak terus menerus diperbudak.

Pekerja rumah tangga yang akan mudik ini juga diberi cuti yang tak jelas. Pulang kampung selama 2 minggu saja omelan sang pemberi kerja sudah panjang. Maunya sepuluh hari atau bahkan seminggu saja. Padahal, kebijakan negeri ini mengatur cuti 12 hari. Selain cuti mereka juga berhak atas hari libur pada akhir pekan. Nah jumlahkan saja akhir pekan yang mereka tak diperkenankan keluar rumah, ada 104 hari. 52 hari Minggu dan 52 hari Sabtu yang terampas dari hidup mereka, tanpa uang lembur.

Nah karena mereka diperlakukan seperti budak inilah mereka dilihat sebagai pekerja rendahan. Padahal sebagai manusia-manusia yang ngakunya intelektual dan berpendidikan tinggi (dan punya Tuhan juga), kita tak selayaknya memperlakukan mereka seperti ini.

Seperti saya tulis di atas, kegagalan kita dalam menghargai para pekerja rumah tangga dan pekerjaan mereka secara tak langsung juga berimbas pada ibu-ibu rumah tangga  yang sering dipandang sebelah mata karena pilihannya untuk bekerja di rumah. Para Ibu rumah tangga dan para pekerja rumah tangga ini dianggap sebagai pekerja rendahan.Tak ada yang salah dari pekerjaan rumah tangga dan pekerja rumah tangga. Yang salah itu cara pikir kita yang terlalu mengkasta-kastakan pekerjaan orang lain. Ini yang mestinya dirubah.

Kamu, pernahkah menganggap pekerjaan rumah tangga dan pekerja rumah tangga sebagai hal rendahan?

Xx,
Tjetje
Pekerja Rumah Tangga paruh waktu yang tak mampu bayar pekerja rumah tangga karena disini mereka sangat dihargai dan biaya memperkerjakan mereka sangat mahal. 

Perisakan di Sekolah

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman Indonesia yang tinggal di Jazirah Arab menuliskan pengalaman anaknya dirisak oleh anak lain di dalam bis sekolah. Sang anak yang belum genap sepuluh tahun melaporkan pada orang tuanya dan sang ibu tak tinggal diam. Pihak sekolah, yang bukan sekolah murah, bergerak cepat dalam menangani hal tersebut dan sang anak pun selamat dari dampak lebih lanjut perisakan. 👋

Ini bukan kasus perisakan di sekolah yang saya dengar. Saat saya bersekolah di sebuah sekolah Katolik di kawasan Jaksa Agung Suprapto Malang, saya pernah dirisak oleh seorang guru. Saat itu, saya yang masih SD tetapi tidak bau kencur bisa melihat bahwa sang guru ini tak akan merisak anak-anak yang datang dari keluarga kaya. Sementara yang datang dari keluarga biasa-biasa, tak mengambil kursus privat dengan sang guru serta tak rajin memberi upeti, seperti saya, rajin dirisak dengan kata-kata kasar. Perisakan ini berlangsung terus menerus lho. Bahkan ketika saya sakit, saya pernah dituduh pura-pura sakit. Dituduh seperti itu di depan lebih dari 30 orang teman sekelas rasanya menyesakkan dan sampai hari ini hal tersebut membekas di kepala saya.

Bullying

Diambil dari NYdailynews.com

Guru yang sama merisak salah satu orang dekat saya. Jika saya cuek dan menelan semua perilaku sang guru, korban selanjutnya menolak untuk bersekolah. Bahkan rayuan dari suster kepala sekolah tak juga diindahkan dan kegiatan mogok sekolah dilakukan. Korban perisakan ini kemudian menolak untuk sekolah disana selamanya dan lebih memilih untuk pindah sekolah. Padahal kepindahan sekolah pada tahun terakhir studi membuat sang korban harus menunggu tahun ajaran berikutnya (karena masalah administrasi Ebtanas). Sampai detik ini saya tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang saya tahu perisakan itu telah mengakibatkan hilangnya satu tahun hidup sang korban. Beginilah kalau guru tak memahami psikologi anak.

Sekolah-sekolah tempat perisakan di atas terjadi bukanlah sekolah murah. Perisakan memang tak kenal sekolah mahal ataupun sekolah murah. Dari sebuah presentasi UNICEF awal tahun ini, data menunjukkan bahwa 50% anak-anak kelas 8-9 mengalami perisakan. Korban perisakan anak laki-laki sendiri jauh lebih tinggi ketimbang perempuan. Yang mengejutkan, Indonesia ternyata merupakan negara kedua dengan perisakan tertinggi, setelah Jepang..mengejutkan!

Dicomot dari presentasi UNICEF

Bagaimana dengan pelakunya? Pelaku perisakan tak hanya guru, seperti yang saya alami, tetapi juga teman satu sekolah, baik yang di dalam kelas yang sama atau yang lebih senior. Soal senioritas ini tentunya kita masih ingat dengan kasus perisakan fisik yang berujung kematian di sebuah sekolah terkenal di Jakarta.

Perisakan tak hanya yang sekali di awal tahun ajaran dalam masa yang lebih pendek, tetapi juga terus menerus sepanjang masa studi. Di jaman modern ini perisakan juga sudah melebar hingga ke ranah media sosial. Yang membahayakan, perisakan ini menyebabkan kerusakan tak hanya diisi rapi juga psikologis. Pada beberapa kasus bahwa menyebabkan kematian dan bunuh diri.

Bagi orang tua, ada beberapa hal penting yang rupanya perlu dilakukan:

1. Beritahu anak apa itu perisakan, termasuk cyber bullying. Soal ini nanti kapan-kapan saya tulis terpisah ya. Datanya tak kalah mengagetkan
2. Ajarkan juga anak untuk bercerita. Ini orang tuanya juga mesti belajar mendengarkan ya. Jangan sibuk main gawai aja. Pada saat yang sama, orang tuanya juga jangan bereaksi secara berlebihan. Apalagi langsung nyamperin si anak yang melakukan perisakan. Jangan ya jangan!
3. Komunikasikan pada sekolah dan minta sekolah mengeluarkan rencana yang jelas untuk menangani hal ini.
4. Sebelum memilih sekolah ada gunanya menanyakan apakah sekolah memiliki kebijakan perlindungan anak (child protection policy) dan ramah anak. Ini mestinya diletakkan di nomor satu ya. Btw, Sekolah Cikal di Jakarta konon punya kebijakan ini. Ah tahu gitu saya sekolah di sana aja, gak usah repot-repot sekolah di Malang dan dirisak guru edan itu.

Bagaimana dengan kalian, pernah mengalami perisakan di jaman sekolah?

Xx,
Tjetje

Baca informasi lebih lanjut tentang program anti bullying UNICEF di Indonesia di sini.
Booklet untuk orang tua bisa diunduh di sini (dalam bahasa Inggris)

Baca juga: Perisakan di Dunia Maya (Cyberbullying)

Diskriminasi Dunia Kerja

Dalam sebuah sesi pekerjaan yang saya hadiri di Jakarta beberapa tahun lalu, tantangan bagi para penderita disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan di Indonesia ada beberapa. Dari mulai akses fasilitas hingga stigma yang melekat. Di sebuah pabrik di Jawa Timur bahkan ada yang enggan mempekerjakan orang dengan disabilitas karena takut masyarakat menganggap kerja di pabrik itu mengakibatkan disabilitas. Tak heran jika kemudian perusahaan (termasuk negara) sering mencantumkan kalimat sakti “sehat jasmani dan rohani” untuk mendiskriminasi penyandang disabilitas. Padahal mereka juga sehat-sehat lho.

Diskriminasi karena disabilitas bukan satu-satunya diskriminasi yang timbul karena mencari pekerjaan. Beberapa yang saya catat termasuk tinggi badan, kecantikan, status perkawinan, kehamilan, jenis kelamin, hingga latar belakang ras dan agama.

Tinggi Badan 
Di banyak lowongan pekerjaan yang ditulis di koran atau media lainnya, minimal tinggi badan menjadi salah satu ketentuan yang dicari oleh pemberi kerja. Biasanya tinggi badan minimal yang diperlukan 160cm. Untuk pekerjaan seperti pramugari sih saya paham betul karena pramugari harus memiliki jangkauan tangan tertentu untuk meraih head compartment. Tapi yang saya kurang paham, bagaimana orang-orang yang kurang tinggi, seperti saya harus dibatasi kesempatannya untuk menjadi SPG ataupun front line staff. Mungkin saja persyaratan ini erat kaitannya dengan persepsi konsumen yang tak menganggap serius orang yang kurang tinggi. Atau mungkin, target market para SPG dan front line staff tersebut para raksasa yang tak mungkin digapai jika tubuh hanya 1.5 meter.
Akibat dari diskriminasi ini, orang-orang bertubuh pendek diidentikkan dengan kecerdasan. Saya tak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi yang jelas yang bertubuh pendek harus lebih rajin belajar supaya bisa masuk jajaran manajemen.

Berpenampilan menarik
Nah ini salah satu persyaratan mencari pekerjaan lain yang bagi saya mengganggu karena definisi menarik itu sangatlah relatif. Selain itu persyaratan ini saya lihat sebagai bentuk patriarkis. Maunya disuguhi perempuan-perempuan cantik. Cantiknya pun menggunakan standard tak jelas, seperti kulit putih, tubuh tinggi, rambut lurus. Padahal, semua perempuan itu cantik dan menarik.

Angelina Jolie misalnya bisa dianggap menarik dan cantik oleh Brad Pitt dan para fansnya. Tapi bagi saya ia tak menarik sama sekali. Lha kalau sudah gitu, apakah Angelina Jolie tak patut dipekerjakan kendati memenuhi kualifikasi?

Urusan kelamin dan rahim
Jika para Tante dan Oom sering berlomba menanyakan status hubungan dengan kekasih yang tak kunjung resmi, para pemberi kerja justru sebaliknya. Tak ingin sebagian calon pekerjanya segera menikah. Kesiapan untuk tidak menikah selama beberapa tahun ini kemudian dikunci dalam perjanjian kerja yang membatasi ruang. Saya menduga lahirnya kebijakan ini karena sering terjadi pengunduran diri dari pegawai setelah menikah. Nah MUI tuh daripada ngurusin yang engga-engga, harusnya mengurusi pembatasan hak yang seperti ini.

Urusan lain yang tak menjadi hak perusahaan untuk mengurus adalah urusan penggunaan rahim. Perusahaan tak mengijinkan pegawai perempuannya untuk hamil dalam periode tertentu (sementara pegawai pria dibebaskan untuk menghamili pasangannya?). Padahal urusan penggunaan rahim adalah urusan pemilik tubuh, bukan urusan pemberi kerja. Pada saat yang bersamaan, ada tempat-tempat kerja tertentu yang tak mau menerima perempuan yang hamil (dan memilih pria) sebagai pekerja karena keengganan memberikan cuti hamil. Mereka menganggap memperkerjakan perempuan hamil itu “merugikan”.

Ajaibnya, saya pernah tahu beberapa perempuan yang marah-marah karena hal ini. Bukan karena tak dipekerjakan tapi karena mereka tak mau memperkerjakan perempuan hamil. Sesama perempuan lho. Ya jangan heran kalau kemudian banyak yang menyembunyikan status pekerjaan anda atau status kehamilan, karena perusahaan seringkali mempertimbangkan kondisi ini sebagai dasar menerima atau menolak kandidat. Sebuah diskriminasi yang tak dialami oleh pria.

Btw, aturan ini muncul, saya rasa, karena mereka yang membuat kebijakan ini lahirnya dari telur yang dierami. Begitu lahir mereka bisa langsung berhamburan seperti anak ayam, sehingga mereka tahu tahu jika perempuan hamil perlu waktu untuk mengurus bayi menjelang dan setelah kehadiran sang bayi.

Urusan agama dan kesukuan
Ada satu anggapan bahwa salah satu institusi keuangan di sebuah negeri ini lebih memilih memperkerjakan orang-orang dari latar belakang tertentu dan keberagaman di institusi tersebut kurang. Saya tak pernah bekerja di institusi tersebut, sehingga tak bisa memberikan komentar lebih jauh. Tapi anggapan ini beredar kencang di masyarakat kita, hingga nama institusi ini pun diplesetkan menjadi nama suku tertentu.

Ketika mengunjungi Papua, salah satu partner yang kami temui pernah berkeluh kesah tentang kesulitan yang dihadapi oleh generasi kedua transmigran. Di Papua sana, prioritas menjadi PNS diberikan kepada putra daerah, bukan kepada seluruh warga Papua. Pemberian prioritas ini bagus, untuk memajukan orang-orang Papua. Tapi kemudian timbul masalah anak-anak transmigran generasi yang besar dan tumbuh di Papua kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai PNS. Situasi ini serba salah, karena sang anak memang tidak memiliki karakteristik Papua tapi pada saat yang sama mereka tak punya ikatan dengan kampung halaman sang orang tua.

Menariknya, saya justru pernah menemukan lowongan pekerjaan yang dikhususkan kepada pemeluk agama minoritas. Analisis saya sih mereka dicari karena terkenal jujur dan tak mau mencuri, sehingga bagus untuk bisnis. Tapi, kejujuran seharusnya tak mengenal agama atau suku tertentu.

Diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan tak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di berbagai belahan dunia. Bahkan negara maju seperti Perancis pun masih bergulat dengan isu ini. Ah semoga saja Indonesia bisa segera melihat masalah ini dan melakukan sesuatu ya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah menghadapi diskriminasi untuk mendapatkan pekerjaan?

Xx,
Tjetje

Terpukau Tentara di Sosial Media

Minggu lalu, seorang adik sepupu saya yang mengabdi di sebuah kesatuan tetara mengunggah tangkapan layar Instagramnya yang dibajak oleh seorang perempuan cantik dengan email berakhiran .ru. Saya menduga sang pembajak adalah spammer yang berniat membagikan link-link busuk. Ternyata dugaan saya benar, foto profil sepupu saya diganti dengan foto mbak-mbak bule cantik dan seksi, sementara link biodata sepupu saya ini juga berubah menjadi .xyz. Bisa diduga, pria-pria yang melihat perempuan seksi dan link yang mengajak chatting akan terpancing untuk mengklik link tersebut. Padahal saya yakin tak ada perempuan seksi di balik link tersebut. Yang ada hanya malware yang akan merusak gawai.

Akun profil yang tadinya terbuka juga berubah menjadi tertutup. Menyebalkan, apalagi saudara saya ini followersnya tak sedikit. Lebih dari seribu followers. Saya tak tinggal diam dan langsung mengirimkan formulir supaya akun yang diretas ini bisa dilaporkan. Tapi yang mengesalkan, ia diharuskan menunggu hingga 7 hari. Hadueh Instagram….mau ngunci akun ke hacked kok harus sampai 7 hari sih. Btw, sepupu saya bukan satu-satunya orang yang saya tahu akunnya dihacked, adik ipar saya juga mengalami hal serupa dan kehilangan akunnya.

Terus terang saya bergerak cepat mengirimkan formulir dan ngotot supaya ia melaporkan agar akunnya tak disalahgunakan untuk penipuan. Ternyata oh ternyata, adik saya ini sudah pensiun dari dunia Facebook, karena akunnya dicopy, bukan dibajak, orang dan disalahgunakan untuk menipu. Deg…..rasanya kaget dengar hal seperti itu.

Jadi begini modusnya:

Foto-foto sepupu saya ini diunduh oleh sang penipu, lalu dibuat menjadi profil-profil bajakan oleh penipunya. Profil bajakan ini, tak hanya satu tetapi setidaknya ada 7 yang ia tahu. Oleh sang penipu, adik saya di blok, sehingga tak bisa menemukan dan melaporkan akun tersebut. Ia mengetahui akun bajakan tersebut dari rekan-rekannya. Terlebih lagi melaporkan akun ini juga ribet, karena ia harus mengunggah identitasnya.

Masalahnya, muncul ketika nama dan fotonya disalahgunakan untuk menipu perempuan-perempuan dan mengambil uang dari mereka. Alasan yang digunakan penipu macam-macam, dari mulai kecelakaan dan memerlukan uang hingga dijanjikan kawin. Dan bodohnya, saya ulang lagi ah pakai huruf besar: BODOHNYA banyak yang terjebak dan rela memberikan uang padahal belum pernah bertemu dan baru kenal seumur jagung, di dunia maya pula.

Meminta uang ataupun meminjam uang karena alasan kecelakaan itu bagi TNI kok terdengar sebagai sebuah hal yang bodoh, karena TNI (dan juga Polri) itu sudah dijamin biaya kesehatannya oleh negara. Tapi ya harap dimaklumi saja, mungkin para korban ini sudah kadung mabuk, mabuk cinta dan juga dibuai mimpi untuk menjadi ibu Persit.

Tak cukup sampai sana, adik sepupu saya juga disamperin oleh salah satu Bapak korban. Niat ya bow nyamperin, padahal ia dinas di perbatasan utara Indonesia. Masalah yang ini kemudian ditutup dengan penutupan akun FB oleh sepupu saya. Tapi akun-akun bajakan dengan foto-fotonya masih banyak bertebaran di Facebook sana. Saya pun yakin, sepupu saya bukan satu-satunya orang fotonya disalahgunakan. Ada banyak polisi dan juga TNI yang mengalami hal yang sama.

Dari kejadian ini, ada pelajaran berharga yang tak hanya bisa dipetik para anggota TNI (dan Polri), para perempuan yang bermimpi punya suami berseragam, tapi juga oleh kita para pengguna media sosial. Beberapa diantaranya saya rangkum dibawah ini:

  • Kalau dipinjamin duit oleh anggota TNI atau Polri yang dikenal dari dunia maya karena alasan apapun jangan mau. Sekali lagi, JANGAN MAU. Apalagi kalau alasannya kecelakaan. Biarkan saja mereka diurus oleh RS Tentara ataupun RS Polri. Soal pinjam uang karena alasan apapun juga sama, TNI dan Polri memiliki Koperasi dan saya yakin para anggotanya bisa meminjam uang dengan mudah. Nggak perlu pinjam uang dari orang secara acak dari dunia maya kan?
  • Jika menerima pesan mencurigakan seperti meminjam uang, laporkan profil tersebut. Laporkan profilnya, laporkan pesannya, laporkan fotonya. Semua yang bisa dilaporkan, laporkan saja. Apalagi kalau satu orang punya beberapa akun. Laporkan saja semua.
  • Kalaupun kemudian kenalan dengan anggota TNI atau Polri di sosial media, verifikasi dulu apakah ia benar-benar anggota atau hanya penipu abal-abal. Caranya? Ajak Skype, atau kalau mereka dinas di pedalaman, suruh foto dengan pakaian warna kuning, hijau di landmark kota sambil menggigit sendok. Atau suruh foto dengan koran terbaru sambil memegang gorengan dan cabe, cabenya dua biji. Apa aja deh yang penting aneh dan tak mungkin dilakukan oleh sang penipu.
  • Para pengguna media sosial, apalagi yang mengabdi sebagai TNI atau POLRI, masih lajang dan ganteng, atur akunnya supaya lebih privat. Atur supaya fotonya hanya bisa dilihat oleh teman-teman dekat saja. Tak usah dibuka untuk publik. Selain foto, tanggal lahir dan email juga perlu disembunyikan supaya tak bisa diretas.
  • Jika ada tawaran untuk melakukan pengamanan berlapis, seperti fitur memasukkan nomor handphone, jangan lupa dilakukan juga. Tapi, ada tapinya ya, jangan hobi ganti-ganti nomor handphone juga. Kan percuma kalau sudah memasukkan satu nomor, tahu-tahu ganti nomor tiap bulan.
  • Yang terakhir, jangan menerima permintaan menjadi teman dari orang-orang yang tak pernah ditemui. Pria atau perempuan, apalagi perempuan cantik yang seksi sekalipun. Bukan apa-apa, jangan-jangan foto-foto tersebut hanya foto palsu yang diambil dari google untuk meretas ataupun mengcopy akun orang. Seperti sepupu saya di atas.

Kalian, pernah dengar cerita penipuan yang mengatasnamakan anggota TNI atau Polri di dunia maya? Punya tips keamanan lainnya?

xx,
Tjetje

Suka Duka Bertubuh Pendek

Saya mendeskripsikan tinggi tubuh saya sebagai “imut-imut” karena hanya berkisar di angka 1,5 meter saja. Dengan ketinggian (atau lebih tepatnya “kependekan”) tersebut saya tak pernah mengalami kesusahan ataupun berkeluh kesah.

Paling-paling saya sedikit tak nyaman, hanya tak nyaman, ketika berada di kolam renang yang kedalaman terpendeknya 1,5 meter. Di dalam kolam seperti itu saya harus berjinjit dan tak bisa nongkrong cantik sambil ngobrol. Ya tapi fungsi kolam renang kan untuk berolahraga, bukan nongkrong. #NyindirOrangJakartaYangLiburanKeBali

Selain urusan kolam renang, saya juga sedikit kurang nyaman dengan meja kerja yang tak bisa disesuaikan. Meja kerja saya di Jakarta memang tak secanggih meja kerja saya sekarang, bisa naik turun sesuai tinggi badan dan sesuai kemauan, mau duduk atau berdiri. Untuk mengakali meja yang tak sesuai dengan tubuh, sekardus kertas saya letakkan di bawah meja sebagai ganjalan supaya kaki bisa diselonjorkan. Aman, bisa kerja sambil selonjoran.

Di Irlandia, saya merasakan betapa susahnya menjadi orang yang tak terlalu tinggi. Padahal orang-orang di negeri ini tak setinggi orang Belanda atau orang Jerman. Tantangan pertama dihadapi di dapur sendiri. Lemari-lemari di dapur didesain untuk orang yang setidaknya memiliki tinggi tubuh 160 atau 165 cm. Akibatnya jika ingin mengambil barang di lemari yang lebih tinggi, saya harus naik ke kursi kecil  yang sengaja disediakan khusus untuk naik-naik. Bagi kalian yang tinggi, urusan naik turun ini mungkin remeh, tapi bagi saya sedikit mengesalkan. Mau ambil piring di ujung kiri harus jalan dulu ke ujung dapur yang lain untuk ambil dingklik. Padahal dapur disini itu mungil, masih juga ngomel. Eh tapi saya juga merasa beruntung lho, beruntung karena toilet di rumah sesuai dengan tubuh, tak seperti di rumah mama mertua yang agak tinggi. Dengan toilet yang tak terlalu tinggi ini, kaki saya tak perlu menggantung.

Mau ngetuk gak sampai deh

Ketidaknyamanan karena lokasi yang tinggi ini juga sering saya alami di beberapa supermarket atau toko baju. Dalam kondisi seperti itu saya bisa dipastikan loncat-loncat seperti bajing karena seringkali tak ada orang yang bisa dimintai tolong. Tapi tak setiap saat saya “sengsara”. Di Supermaket, susu yang diletakkan di rak tinggi biasanya diletakkan di atas rangka plastik. Jika susu yang di bagian depan habis, rangka ini bisa ditarik dan susu yang ada di bagian belakang otomatis akan maju ke depan. Penemuan sederhana tapi sangat berguna untuk orang seperti saya.

Selain harus loncat untuk ambil baju, saya juga harus memotong pakaian, terutama celana. Di Indonesia, potong celana atau lengan baju hanya 20-30 ribu saja, bahkan kadang hanya 5000 rupiah. Disini, jasa memotong celana itu lebih mahal ketimbang harga celana nya sendiri, bisa 25 – 30€. Mungkin ini bisa jadi alasan untuk beli celana yang lebih mahal dari ongkos potong, atau beralih ke rok saja.

Angkutan umum juga menjadi “mimpi buruk”. Luas (tram di Irlandia) dan bis yang menjadi andalan transportasi saya, didesain untuk orang-orang yang lebih tinggi dari 1.5 meter. Otomatis setiap pagi dan sore, kaki terpaksa menggantung. Rasanya tak nyaman sekali. Kadang jika angkutan umum sepi (yang mana ini jarang terjadi), saya  menaikkan kaki ke kursi. Buka sepatu dulu tentunya karena tak enak menaikkan kaki dengan sepatu. Pesawat udara juga tak nyaman bagi saya, kecuali ketika saya terbang di kelas bisnis yang disediakan ganjalan kaki. Berhubung #BukanSyahrini, frekuensi naik kelas ekonomi tentunya jauh lebih tinggi dari kelas binis.  Akibatnya, perjalanan dekat, ataupun jauh, apalagi kalau mudik yang seringkali hingga 24 jam, bisa dipastikan membuat kaki saya cenut-cenut karena kaki terlalu lama “digantung”. Biasanya, ketidaknyamanan ini saya “akali” dengan meletakkan tas di lantai untuk ganjalan kaki. Sebagus apapun tas saya, sudah bisa dipastikan pernah menjadi ganjalan kaki. Serba salah ya, bertubuh pendek kaki digantung, bertubuh tinggi kaki terbentur kursi di depannya.

Tempat bagasi yang tinggi. Menyiksa, menyiksa.


Nah Baru-baru ini ketika ke Virginia (Virginia di Irlandia, bukan di USA), saya mengalami pengalaman lucu yang sedikit menggemaskan. Bis tingkat ini ternyata bagasinya berada di bagian tengah bus. Saya bisa dengan mudah memasukkan koper ke dalamnya, cukup angkat koper hingga setinggi kepala, persis seperti perempuan Bali, lalu didorong. Masalahnya muncul ketika harus mengeluarkan koper, karena biar jinjit sekalipun tangan saya tak sepanjang jangkauan para pramugari. Eh ternyata saya tak sendiri, seorang ibu yang lebih tinggi dari saya pun tak bisa mengeluarkan kopernya hingga harus minta bantuan pengemudi. Ah ini pasti yang mendesain bis tingginya dua meter, kalau ngedesain gak mikirin orang-orang seperti saya.

Bagaimana dengan kalian, sering menghadapi tantangan karena tinggi badan?

Xx,
Tjetje