[EF#10] Thing Indonesians Like: Kerupuk

This week challenge’s theme is to share our favorite Indonesians cuisine. Choosing one is never easy task, so I decided to write thing that most of Indonesians like, kerupuk that plays an important role in Indonesian dishes.

To read about this blog challenge, please visit this link.

A colleague, who is also a friend, recently asked me why Indonesians eat meal with a cracker, kerupuk. This friend has lived in many countries and never seen such passion to kerupuk. I could not answer that question and honestly, it makes me feel like I am a fail Indonesian for not knowing the reason. My guess, we love kerupuk because it is savory and goes well with our high-sugar rice.

Kerupuk is made of starch with combination of rice, garlic, prawn, fish, buffalo skin, cow skin or pork skin. The making process requires a lot of sun, because the thinly sliced dough must be sun-dried first before being deep fried. The sun and hot oil are the two important keys to its crunchiness. On the second thought, oil is not they key because some kerupuk do not need oil, thanks to the hot sand that used to fry them.

Finding kerupuk is relatively easy because it is sold everywhere, from a small shop (warung) to a high-end supermarket. The selling price varies from one thousand rupiah (per piece) to up to forty thousand rupiah (per package), depends on the quantity as well as the ingredients. As I mentioned above, Indonesians, from the poor to the rich, love the savory cracker that comes in many different shapes, big, small, curly, round and square. It also comes in different colors such as light red, orange, yellow, baby blue, light green and white.

image

Certain skills and experience are required to pair the food with the best kerupuk. Good combinations will certainly maximize the enjoyment of the food. Kerupuk kulit sapi for instance will not go well for gado-gado (salad with peanut dressing), bubur ayam (chicken porridge) and chicken noodles. While kerupuk udang, can be paired with almost anything. However, papeda can never be paired with any kerupuk as it is will ruin the taste. One day, when the kerupuk elevated to fine dining, we should train people to be kerupukier. Like sommelier, this person will be responsible to select the best combination of kerupuk and meal.

Kerupuk can also enjoyed on its own, as a snack. Some people also enjoy it with sambal (chilli sauce), broth, or other dipping sauces. Indonesians are not the only one who enjoys it as snack. Malaysian, Vietnamenese, Chinese and Thai enjoy kerupuk as well. Surprisingly, few Irish shops sell Indonesian kerupuk. The taste however is different, maybe because it’s made in UK that has very limited sunlight.

During Indonesian Independence Day which celebrated every 17 August, kerupuk plays important role in a popular competition, kerupuk eating contest. This competition is about being the faster kerupuk eater. It sounds easy, but it is actually pretty challenging. The participants, hands-tied and sometimes blindfolded (oh now I sound kinky), have to eat the often-stale-kerupuk that is dangled above the mouth-level.

Now that you know the importance of kerupuk in our life, tell me, what’s your favorite kerupuk?

xx,
Tjetje

Mengapa Mereka Membunuh Begal?

“Membunuh orang yang bersalah, apalagi membakar orang tersebut hidup-hidup, merupakan sebuah kebanggaan. Pembuhan yang terlihat keji ini, jika dilakukan beramai-ramai adalah sebuah bentuk keadilan dan keberadaban umat manusia. Tuhan mengerti dan Tuhan akan mengampuni mereka yang membunuh”. Mungkin ini adalah pernyataan yang paling tepat untuk membenarkan kasus pembakaran hidup-hidup seorang begal yang baru-baru ini terjadi.

Akhir pekan lalu saya berdiskusi bersama teman-teman saya mengenai kejadian pembakaran begal. Diskusi tersebut bermula ketika seorang teman menyaksikan penjabretan di daerah Kuningan Jakarta Selatan. Salah satu penjabret tertangkap dan berakhir menjadi sasaran kemarahan massa. Entah sejak kapan, tapi kok sepertinya saya sering sekali mendengar kasus maling tertangkap yang dipukuli massa. Mungkin, ini sudah menjadi hukuman wajib.

Beating

Balik lagi ke kasus pembakaran hidup-hidup, kami tak habis pikir dan tak bisa merasionalisasi bagaimana bisa massa tega membunuh dengan cara keji, pendosa sekalipun. Sebesar apapun dosa pembegal, rasanya kok tak layak dia diperlakukan seperti ini. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan: mengapa massa berani membunuh dan mengapa tak ada yang menghentikan. Pertanyaan tersebut kemudian menghasilkan catatan-catatan kecil atas perilaku masyarakat. Sebelum dilanjutkan bacanya, perlu dicatat dulu kalau ini bukan catatan ilmiah, hanya catatan dari obrolan ringan sambil menikmati Mpek-mpek Abing.

  • Kemarahan pada pelaku dan frustasi pada kemampuan aparat

Kasus pembegalan ini telah terjadi sekian lama dan menciptakan ketakutan pada para pengguna motor yang mengarah kearah-arah tertentu. Tapi jumlah begal yang tertangkap aparat relatif rendah. Setiap kali ada kejadian, kemarahan semakin terpupuk dan begitu ada yang tertangkap, kemarahan ini meledak macam gunung Merapi. Jadilah mereka yang lebih hebat dari aparat ini menciptakan hukumnya sendiri.

  • The power of rame-rame

Coba bayangkan suasa TKP; puluhan orang yang gemas dan mau meledak macam gunning Merapi berteriak-teriak sambil melatih kemampuan meninju dan tendangannya. Lalu ada yang teriak dengan suara kenceng, bakar-bakar. Kemudian ada yang nongol nyumbang bensin untuk membakar, tak lama seseorang yang saya duga perokok mengangsuraan koreknya. Siba-tiba di antara manusia-manusia tersebut ada yang merogoh handphone di kantongnya untuk merekam video; video yang kemudian diunggah ke media sosial. Tak habis pikir juga mengapa pembakarannya itu perlu direkam dan dimasukkan ke dalam YouTube. Untuk menakuti begal lainnya kah? Cinta kasih mana cinta kasih?

Coba kalau mereka sendirian, beranikah melakukan hal-hal di atas tak akan muncul ketika sendirian. Hanya ketika beramai-ramai barulah orang bisa mendapatkan keberanian berkali lipat dan tiba-tiba mampu untuk melakukan hal yang diluar batas. Apalagi kalau lawannya cuma satu begal. [Pelajaran berharga: jauh-jauhlah dari gerombolan orang yang emosi]

  • Sistem hukum tak berjalan Baik

Keberanian untuk main hakim sendiri ini juga didukung oleh sistem hukum yang tak tegas. Para pelaku pemukulan, pembakaran dan seluruh kegiatan main hakim sendiri, serta yang menonton tak pernah mendapatkan ganjaran apa-apa. Padahal kalau menurut hukumonline sih mereka sebenarnya bisa dihukum. Teorinya, prakteknya? Kerjaan aparat sudah banyak, jadi gak usah nambah-nambahin ya?

Begal itu muncul karena ketidakmampuan negara untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Mereka bukan anak menteri dan sepengetahuan saya, mereka nggak nabrak orang sampai meninggal. Jadi, tanpa dipukuli dan tanpa dibakar pun begal ini pasti akan diberikan hukuman setimpal karena hukum kita memang lebih suka menghukum mereka yang miskin.

Kalau menurut kamu, kenapa gerombolan orang-orang tersebut mampu berbuat kejam pada si begal?

Xx,
Tjetje
Bukan Kriminolog

Kesetaraan Jender Dalam Bahasa

Words are powerful tools to change society; from the way they behave to the way they think. Ketika menginginkan lingkungan sosial yang setara penggunakaan kata-kata tepat harus dilakukan agar pria tidak terlihat lebih superior ketimbang perempuan. Tak hanya soal superioritas saja, tetapi juga untuk menekankan keterlibatan perempuan.

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, baik dalam bahasa yang diucapkan maupun dituliskan, seringkali kita menemukan jender bias. Jender bias biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk menekankan kepada satu jender ketimbang jender lainnya, biasanya ditekankan kepada pria ketimbang perempuan. Sebagai contoh, tengoklah deklarasi kemerdekaan Amerika yang menuliskan bahwa “…all men are created equal…”; semua pria diciptakan setara,lha terus perempuannya gak setara? Berbeda dengan Proklamasinya Irlandia yang memulai dengan kata Irishmen and Irishwomen.

Pekerjaan-pekerjaan dalam bahasa Inggris juga tak lepas dari maskulinitas. Fisherman, chairman, congressman merupakan beberapa kata yang memberi kesan bahwa pekerjaan tersebut milik pria. Padahal, perempuan bisa dan sudah banyak yang melakukan pekerjaan tersebut.  Bias jender juga terjadi ketika kita menggambarkan suatu kondisi pria dan perempuan dengan deskripsi yang berbeda; pria dengan kemampuan intelektualnya sementara perempuan dengan penampilan fisiknya.

Tak hanya Bahasa Inggris, bahasa Indonesia sendiri juga memliki kata yang tak sensitif terhadap jender. Kita menggunakan kata pahlawan dan bangsawan, tetapi tak punya kata pahlawati dan bangsawati. Jika kemudian ada perempuan yang menjadi pahlawan, harus ada penambahkan kata perempuan di akhir kata. Bagi saya yang bukan ahli bahasa dan kemampuan Bahasa Indonesianya awut-awutan ini memberikan kesan kuat bahwa yang normal dan lazim menjadi pahlawan dan bangsawan itu pria.Tapi, herannya bagi mereka yang berjalan di catwalk ada pemisahan peragawan dan peragawati. [Jika ingin membaca lebih lanjut tentang bahasa Indonesia dan jender, silahan baca jurnalnya disini.]

makeithappen

tema IWD 2015 #makeithappen

Kesetaran antara perempuan dan pria harus dimulai dengan penggunaan bahasa yang netral terhadap jender (gender neutral language). Contoh gampangnya, ketimbang mengatakan policemen, bisa dirubah dengan police officers. Sedangkan jika ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang mengharuskan penulisan kata ganti his atau her, lebih baik dibuat plural saja sehingga tidak mengarah ke perempuan atau pria saja. Contoh paling gampangnya seperti kalimat ini “If a bloggers want to write better English, he they should practice”.  

Membiasakan diri untuk menulis atau menggunakan bahasa yang netral terhadap jender tidaklah mudah. Tapi selamat ada niat, pasti bisa. Beberapa hal yang saya lakukan dan bisa diadopsi antara lain

1. Baca

Salah satu boss saya pernah bilang dalam setiap kesempatan selalu: baca, baca, baca dan baca sesuatu yang bermanfaat. Ada banyak informasi tentang jender dan bahasa, dari universitas hingga  badan-badan United Nations mengeluarkan panduan serta kuis; jika sedang punya waktu saya sering membaca panduan ini untuk membuat membuat kepala familiar dengan kata-kata yang netral.

 2. Googling (terpujilah dia yang menciptakan google dan membuat hidup lebih mudah)

Ketika menemukan kata-kata yang tak sensitif jender, biasanya ditandai dengan kata men, saya langsung google untuk mencari bahasa yang netral. Baru-baru ini misalnya, saya menggogle tentang fishermen yang kata netralnya adalah fishers atau fisherfolks. Googling saya untuk postingan ini juga membawa saya pada genderbread versi 2.0. Ntar kapan-kapan saya akan cerita tentang boneka gender ini ya. Tapi kalau pengen segera belajar, silahkan dibuka website yang bikin boneka versi dua ini.

Genderbread-2.1

Jender tak hanya laki-laki dan perempuan, tapi lebih rumit. Lalu untuk membuatnya makin rumit saya bertanya: kombinasi genderbread ini kalau dibikin matematika berapa pangkat berapa ya?

 3. Praktek dalam tulisan

Saya berkutat dengan laporan, proposal dan aneka rupa dokumen yang harus sensitif jender. Buat saya membuat laporan-laporan tersebut memberikan peluang untuk selalu bisa praktik. Tak perlu menunggu laporan untuk bisa praktik, sebagai blogger  kita bisa mempraktekannya di blog sendiri. Dalam praktek pun kita tak perlu takut untuk salah. Namanya juga manusia pasti tak lepas dari kesalahan.

Tulisan ini sengaja saya buat untuk memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Saya berharap semoga kita semua, baik perempuan maupun laki-laki, bisa sama-sama berkontribusi, termasuk dengan rangkaian kata yang kita buat, untuk membangun masyarakat yang setara. Selamat hari International Perempuan!

xx,
Tjetje
Bukan ahli jender
Menerima masukan & kritik dengan tangan terbuka

Thing Indonesians Like: Massage

Indonesians love massage [not all Indonesians though], that it might need to be included in our basic needs along with the food, shelter and clothing. The country itself is a heaven for massage proven by the massage parlors that spreading around the cities and house call massage that available 24/7 at an affordable price. The parlors offer different range of massages, from traditional to weird (like snake body massage). They also offer the happy-ending massage (we call them massage plus plus), but in my opinion, all massage should be called happy ending, if it not making the patron happy, then the do not bother to pay.

For Indonesians, massage must be introduced at tender age. A visit to Dukun Pijat Bayi (massage therapist for baby), for the first massage, could take place when the baby is only few days old. There is a belief that the younger babies introduced to massage, the bigger the chance to love it.

Massage is not only for relaxation, but also belief to be the remedy for any illness. Stroke, broken bone and cancer are only few illnesses than can be cure by massage therapist.  People who are ill believe that massage works better than the doctor. Not to mention that the fee of the therapist is less expensive than the medical doctor.

Massage also helps women to conceive. The massage therapist who is specialized on pregnancy focuses to move the position of the womb to be closer with the vagina and allow the sperm to run a shorter track. I know this might not be so logical for doctor. In my opinion, massage is not the only thing that woman needs; she also needs to practice, practice and practice and at the same time the man has to ensure the quality of his sperm.

Women are not the only one benefited from massage because it is beneficial for men and their ‘best buddy’. Mak Erot (Mrs. Erot) was once praised for her help to enlarge man most vital part, not the brain, but their manhood. What I learned from Google, she massaged the penis and like magic, it grew bigger. Mak Erot passed away few years ago. Her departure, I am sure, regretted by a lot of men who did not have the chance to enjoy her magical hands.

Most of Dukun Pijat Bayi, if not all, are not certified therapists. They got their massage skills from the other therapist or from their parents. There are also Dukun Pijat Tiban, which got the ability to massage from the ‘sky’; the ability falls from the sky. Hence the name tiban (Javanese. Something that falls from somewhere; out of the blue). We should all be grateful that Indonesia only have Dukun Tiban and do not have Doctor Tiban, nor President Tiban.

People also attend courses to be a massage therapist; some of them are people with visual impairments. Despite the fact that people with visual impairment can do almost everything, Indonesian educational system underestimated and prevented them to study other subjects. Thankfully, things are changing now.

The weirdest massage in my life happened years ago when I had a back pain. I was recommended to have a massage session with an old lady who, according to what people say, has special power. I followed their suggestion and ended with a regret. The lady spitted on my back without my consent. The spittle, for sure, did not relieve me for any back pain but I do believe she has power. She made me pay, 5 dollars, for the awful service, that’s how powerful she is.

Massage is our basic need. If one could not afford it then one can seek help from other. So do not be surprised if you see a person massaging someone else’s shoulder at the parking lot. They are just fulfilling their basic need!

liberty

Cerita Hantu

Sedari bayi kita dijauhkan dari makluk halus dengan dibekali gunting, peniti, atau benda tajam. Ketika sandikala, pergantian waktu dari terang menuju gelap ( atau disebut juga saat Maghrib) bayi-bayi juga wajib dibangunkan dan ditemani supaya tidak ditemani makluk halus. Ketika beranjak besar, bermain di luar rumah saat matahari mulai tenggelam pantang dilakukan. Hanya anak-anak yang main game di depan TV, computer atau ipad yang bebas bermain saat sandikala.

Larangan bermain saat sandikala karena dipercaya saat pergantian waktu dari gelap ke terang, adalah saatnya makluk halus berpatroli dan iseng menangkap anak kecil. Mungkin seperti satpol PP berpatroli dan menangkapi joki three in one. Bagi saya yang besar di Jawa Timur, sandikala sering dipercaya sebagai saatnya wewe gombel mencari mangsa untuk disembunyikan di balik dadanya yang sudah termakan usia.

cartoon_ghost

Secara fisik mungkin kita dibuat jauh dari aneka rupa makluk halus, tapi secara pikiran, kita dibuat dekat dengan mereka karena hantu dan makluk halus sering menjadi senjata ampuh bagi orang dewasa untuk menakut-nakuti dan  mendapatkan keinginan mereka. Ketakutan, menurut saya, adalah kunci termudah untuk membuat anak-anak kecil yang rapuh mengikuti kemauan orang dewasa. Mereka yang sering ditakuti kemudian tumbuh menjadi penakut ketika dewasa. Takut lihat cermin, takut kegelapan, takut di rumah sendiri, takut ke kamar mandi sendiri, takut jika melewati pemakanan dan segala macam ketakutan lainnya yang memenuhi imajinasi mereka. Lucunya, yang mengaku takut sama hantu ini kalau lagi ngumpul rame-rame suka cerita hantu dan berbagi pengalaman cerita hantu yang pernah ditemui ataupun yang ditemui orang lain.

Jika saat kecil kita dibuat sedemikian rupa untuk menjauh dari makluk halus dan hantu, ketika beranjak besar kita justru didekatkan dengan mereka melalui acara jerit malam di tempat-tempat yang terdengar menyeramkan, termasuk kuburan. Alasannya untuk latihan keberanian dan ketangguhan. Kalau kemudian berakhir dengan jejeritan karena kemasukan tamu tak yang sengaja diundang apa masih mau ngaku tangguh?

Kegemaran terhadap hantu dan makluk harus ini kemudian ditangkap dengan baik oleh televisi lewat acara berburu hantunya. Konsep acaranya sih lihat hantu, tapi cuma si paranormal yang bisa lihat hantunya, sementara penonton cuma melihat paranormal mendeskripsikan si hantu dan tentunya lihat iklan pendukung perburuan hantu. Entah apa serunya menonton program hantu tanpa bisa lihat hantu.

Saya tak bisa mengatakan bahwa makluk gaib, hantu atau apapun namanya tidak eksis, karena sepuluh tahun lalu saya beberapa kali bertemu dengan mereka. Reaksi saya ketika bertemu dengan makluk halus bukan jejeritan, saya justru mematikan lampu kamar supaya suasana menjadi gelap. Prinsip saya, ketika lampu mati, mata saya tak akan bisa melihat apa-apa lagi.

Hantu bagi saya adalah arwah gentayangan yang suka usil mengganggu, sedangkan arwah halus adalah makluk selain hantu yang bisa membantu dan bisa juga merugikan. Tuyul contohnya, bisa bantu bikin kaya karena bisa mengambil uang. Hantu yang saya tahu kebanyakan perempuan, seperti suster ngesot, si manis jembatan ancol, sementara hantu laki-laki saya tak pernah tahu. Pengetahuan saya tentang hantu mungkin kurang banyak. Jadi, saya mengundang kalian untuk berbagi cerita tentang hantu laki-laki dan cerita hantu lainnya yang menarik. Tentu saja kalau kalian percaya hantu. Jika tak percaya hantu, sebaiknya tetaplah tidak percaya karena saya yakin hidup lebih tenang. Bagi yang takut, maaf ya judulnya profokatif, tapi ga serem kan?

Xx,

Tjetje

Cepet-cepet pulang biar gak diganggu hantu di kantor

EF#7 – Sidi Goma Gujarat

The ubiquitous mobile phones and social media have been providing the photographer enthusiastic with a platform to take and share their photos. Today, people take photos of everything and share it with everyone through instagram, whatsapp, flickr, facebook and other media. When the Admins of BEC announced that this week theme will be ‘snap and tell a story’, I decided to pick an old picture that might wow you and at the same time tell you an interesting and (I hope) a new story.

The picture that I chose was taken during the Festival of India in Jakarta back in October 2009. At that time, the Indian Embassy in Jakarta organized a festival of India to show us a glimpse of the diverse cultures of India. To support the festival, the Indian Embassy in Jakarta brought cultural performers, including dance troupes and traditional musicians from all over India to Jakarta and if I am not mistaken, Bali.

One of the dance troupes was called Sidi Goma Gujarat; the group was only consist of 5 tribal dancers and 4 drummers of East-African origin who has been living in Gujarat India since 8th centuries. All performers were men. I read that normally the group consists of 12 performers, including 8 dancers and 4 drummers.

Sidi or Siddi means slaves, but there are those who argue that it means master. Back in the 8th Centuries, the Africans were brought to India as slaves, concubines or merchants. Due to their quality, they were also brought to India to do security related jobs, like soldiers, palace guards or personal body guards. Today, there are more than 30,000 Sidis lives in Gujarat and they are well known as a devout Sufi Moslem.

Although Sidis, who are also known as Habshi, have successfully assimilated with their home country and speak the local language, they are often discriminated. This is due to their appearance, which does not have any Indian characteristic. In one of the articles that I read, the Sidi Goma performers were once accused of as Niger group who forged and travel with Indian passports. Sidis also often have to pay more than the local because the sellers think they are tourists, not local. According to theeastafrican.co.ke, Sidis are also stereotyped as “lazy, potentially talented in music and sports, but incapable of intellectual endeavor”.

The dance and the sacred music of Sidi Goma Gujarat usually performed during rituals at the Shrines to Bava Gor, the patron Saint of the Sidi. During the performance, the dancers and the drummer were dressed in peacock feather skirt and their faces were painted. The peacock feather skirt is an Indian influence, while face paint is African.

Contrary to what I thought, the dance was far from serious and very playful. They sang, danced and had fun like a group of ecstatic young boys. The humor was also at the heart of the dance; in one of the dance parts, they stuck out their tongues and posed for us. Unfortunately, I could not take good picture of them posing because I was sitting far from the center of the stage. At the end of the dance, one of the dancers tossed a coconut in the air and cracked is with his head. I snapped few pictures but my favorite one is when the dancer was in the air while the coconut broke and the water splashed all around his body. I was so thankful that I was far from the center stage. Had I sat in front of the center stage, I would have snapped a different picture; a less dramatic one.

Ailsa_Festival of India

Have a fabulous weekend everyone!

xx,
Tjetje

Tips Memilih Asuransi

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang mbak-mbak yang annoying di sebuah lobby kedutaan. Saya sebut dia mbak-mbak annoying karena si Mbak berencana untuk overstay dengan visa kunjungan pendeknya. Selain berencana melanggar aturan imigrasi negara tetangga, mbak annoying juga berencana untuk membeli asuransi perjalanan tiga hari untuk tiga bulan. PELIT!!!!!

Punya uang buat ke luar negeri tapi gak mau beli asuransi perjalanan yang sesuai. Ketika saya ingatkan pentingnya asuransi perjalanan di negeri orang, terutama jika ada masalah jawabannya: “Aduh Mbak, Bismillah aja. Lagian siapa sih yang niat mau pergi dengan apa-apa.” Ajaib memang orang lebih memilih berdoa yang kenceng  supaya tak terjadi apa-apa. Kalau kemudian doanya tak dikabulkan gampang, tinggal ngerepotin orang lain. Di Indonesia, ngerepotin keuangan Tante, Encing, Babe, Engkong itu wajar, toh kita emang bangsa yang tolong menolong. Tapi kalau di luar negeri, Babe siapa yang mau direpotin? Yang ada malah ngerepoti tax payer money dan bikin susah kedutaan Indonesia. Kalau satu yang ngerepotin OK-lah, tapi kalau ratusan, bahkan ribuan, bisa jebol keuangan negara.

Asuransi apapun, baik perjalanan, kesehatan, jiwa, kendaraan, selalu dipandang sebagai investasi yang merugikan dan mahal. Mentalitas kebanyakan orang memang masih melihat perusahaan asuransi dan agen asuransi sebagai mesin penyedot uang yang tak bermanfaat. Meminjam istilah Syahrini, mungkin karena manfaat asuransi tak terpampang nyata di depan mata.

BPJS Kesehatan (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) saya rasa, berhasil menumbuhkan kesadaran asuransi kesehatan di masyarakat level menengah ke bawah dan membuka akses asuransi murah. Walaupun bikin dokter teriak-teriak karena skema perhitungannya yang kejam. BPJS diwajibkan bagi  semua warga negara tetapi bagi kita yang memiliki penghasilan lebih ada baiknya membeli asuransi tambahan. Pengalaman saya membeli asuransi, ada beberapa kriteria yang bisa berguna:

Asuransi kesehatan tanpa Investasi

Tak seperti orang lain yang tak mau rugi, saya sengaja membeli asuransi kesehatan yang hangus. Bagi saya, produk asuransi kesehatan tak boleh dicampur-campur dengan investasi supaya maksimal. Jika benar-benar ingin berinvestasi, lebih baik dananya ditanamkan di perusahan investasi, bukan di perusahaan asuransi.

Pakai Kartu atau cashless

Sakit itu datangnya tanpa direncanakan, jadi dalam rencana anggaran bulanan biasanya biaya untuk sakit relatif kecil. Makanya, asuransi yang bersifat reimbursement, akan mengganggu anggaran bulanan dan tabungan. Waktu saya masuk RS di Bali, saya harus nalangin biaya RS yang tidak sedikit karena saya upgrade kamar.  Yang mengesalkan, proses reimbursement asuransi ternyata memakan waktu lebih dari tiga minggu, itupun harus marah-marah karena pihak asuransi yang ribet. Parahnya, banyak pengeluaran yang tidak bisa diganti oleh pihak asuransi. Alhasil saya ‘merugi’ sekian rupiah karena aturan reimbursement yang tak jelas. Ini jarang terjadi jika kita menggunakan kartu. Jadi daripada repot, mendingan bawa diri dan bawa kartu aja kalau berobat, kartu asuransi, bukan kartu kredit.

Baca polis asuransi

Membeli asuransi itu seperti membeli kucing dalam karung karena kita hanya dijelaskan sebagian aturannya saja. Biasanya, polis baru diberikan setelah kita bayar dan saat itulah banyak yang kaget karena bahasa pemasaran berbeda dengan bahasa polis. Demi menghindari serangan jantung, sebelum beli asuransi minta copy polis untuk pertimbangan. Dan minta polis itu bisa kok.

Agen Asuransi yang Bagus

Rumornya, agen asuransi itu hanya mendapatkan fee dari penjualan tahun pertama hingga ketiga saja. Nah, kalau dia menolak ngebantu di tahun ke lima wajar kan? Tapi agen yang baik tidak langsung kabur dan akan tetap menjalin hubungan bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.  Jadi, ketika memilih agen asuransi carilah yang sudah konsisten di bisnis asuransi selama bertahun-tahun. Saya sedikit rasis, karena untuk asuransi saya hanya mau agen yang keturunan Tionghoa karena komitmen mereka yang luar biasa.

Perusahan ternama

Sudah banyak perusahan besar di Indonesia yang mengembangkan usahanya ke asuransi. Kalau menurut dokter yang pernah saya kunjungi, perusahaan-perusahaan local Indonesia itu lebih susah ketimbang perusahaan asing macam AXA, Allianz ataupun Prudential. Pengurusan klaim maupun pemeriksaan aneh-aneh, biasanya tak banyak ditanya. Sementara merek-merek lokal, nanyanya banyak, klaimnya susah. Makanya, jangan tergiur dengan asuransi murah meriah, apalagi yang murah dan bisa untuk bapak, ibu, anak-anak.

Dipikir-pikir saya harus berterimakasih karena bertemu dengan Mbak Annoying itu karena dia yang menginspirasi saya untuk bikin postingan itu. Jadi, mbak annoying, terimakasih banyak dan semoga Kedutaan membaca niatmu untuk overstay! #TetepPedesKaretTiga

Punya tips untuk memilih asuransi?

Obsesi Instansi Pemerintahan di Indonesia

Tahun lalu ketika memperpanjang passport, saya datang ke imigrasi mengenakan dress super cantik berwarna kuning. Dress ini tak memiliki kerah, tapi sangat rapi, profesional dan serius. Yakinlah, saya seperti mbak-mbak kantoran, walaupun saya ga pakai sepatu hak tinggi lima belas centimeter. Begini penampakannya:

http://instagram.com/p/nYJ046wxu0/?modal=true

Ketika tiba waktunya foto, tiba-tiba petugas menyuruh saya mengenakan blazer berwarna hitam nan buluk karena baju saya tidak berkerah. Sumpah ya ini petugas minta diuleg karena obsesi gilanya dengan kerah yang bagi saya, nggak penting.

Imigrasi juga melarang penggunaan rok mini di area kantor mereka. Masalahnya, definisi rok mini ini tak jelas berapa centimeter dari atas lutut. Seorang warga negara asing yang saya tahu pernah ngomel panjang urusan rok ini karena imigrasi menolak melayaninya. Urusan rok ini akhirnya terpecahkan setelah si WNA mengenakan kardigan untuk menutupi roknya yang tak semini mbak-mbak di BATS. Alih-alih fokus meningkatkan layanan, instansi negara ini malah ketakutan tidak dihormati oleh orang asing karena pakaian yang mereka gunakan.

Kantor pemerintahan di negeri ini juga punya obsesi ajaib dengan warna untuk latar belakang foto. Tak pernah jelas warna apa yang diperlukan karena tidak ada aturan baku yang mengatur hal ini. Setiap instansi bisa meminta warna yang berbeda-beda, biru, merah, atau putih, tergantung mood mereka. Di kantor A background merah lazim digunakan, sementara di kantor B background merah menjadi pantangan. Di tempat kerja saya yang dulu, kami pernah membuat kartu identitas dengan background warna merah. Setelah susah-susah bikinnya, kartu tersebut dilarang digunakan karena hanya PNS yang boleh mengenakan background warna merah. Kami yang orang proyek tak boleh menggunakan warna merah, padahal, judul kartu identitas kami jelas-jelas berbeda.

Permintaan latar belakang warna ini sering menyusahkan WNA yang harus melampirkan foto untuk aplikasi dokumen keimigrasian. Di Eropa, mencari foto dengan background warna tertentu tidaklah mudah karena foto passport biasanya diambil di box foto, bukan di studio. Ongkos mempekerjakan manusia di sana tidaklah murah, makanya foto studio, walaupun ada, bukanlah tempat yang rajin disambangi. Saking merepotkannya, seorang WNA yang saya kenal pernah harus menyusun beberapa kertas merah untuk background, lalu membawa selotip dan kertas tersebut ke ke dalam foto box.

Kampus saya, Universitas Brawijaya juga punya aturan ajaib. Ijazah kelulusan di kampus saya wajib menggunakan foto hitam putih dengan kebaya dan sanggul. Demi foto ini saya harus pasang make-up di salon, pasang sanggul besar, sewa kebaya lalu berfoto yang tak sampai lima menit. Waktu dan uang jadi terbuang. Yang lebih kasihan, teman-teman saya yang bukan orang Jawa berakhir dengan foto serupa untuk ijazahnya. Jawanisasi!

image

Instansi di Indonesia masih banyak terobsesi dengan hal-hal yang tak penting. Lucunya, instansi-instansi ini selalu ribut urusan latar belakang warna dan tak pernah ribut urusan komposisi muka si empunya foto. Padahal menurut saya, yang lebih penting itu komposisi muka si empunya foto. Apa gunanya foto background merah, hijau, kuning ataupun biru kalau muka si empunya cuma 50%. Foto passport jadi kehilangan fungsinya sebagai alat acuan identifikasi. Ya sama kayak foto saya di atas, secantik-cantiknya saya, orang pasti nggak ngeh kalau itu saya, karena muka saya penuh dempul.

Keadaan ini sungguh berbeda dengan Hong Kong, misalnya. Saking tak cerewetnya dengan urusan pakaian, saat perkawinan kami, salah satu saksi datang ke kantor catatan sipil menggunakan celana pendek dan sandal. Dia tetap bisa menjadi saksi, tidak diusir pulang. Nampaknya petugas disana terlalu repot kerja sampai lupa ribut ngurusin pakaian orang lain dan tentunya lupa minta sogokan. *ahem ahem*

Mendadak Semua Jadi Dokter

Cedera punggung saya masih belum sembuh dan saya masih berjalan tertatih-tatih seperti nenek-nenek. Berusia muda dan berjalan tertatih-tatih tentunya mengundang mata orang untuk melihat. Tak menyenangkan memang, tapi kalau urusan dilihatin saja, saya bisa melotot balik. Sayangnya, orang tak sekedar melihat, banyak yang bertanya saya sakit apa. Pertanyaan ini biasanya saya jawab baik-baik dengan kata ‘kecetit’.

Bisa ditebak, pembicaraan setelah kata kecetit menjadi lebih panjang, lama dan bikin capek. Saya sebenanrya tak keberatan sharing panjang tentang kondisi punggung saya, karena ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain supaya hati-hati ketika masih muda. Sharing ini tapi dengan catatan selama yang ngedengerin gak sok-sokan jadi dokter ya. Tapi kayaknya ini cuma mimpi, karena di Indonesia banyak orang bercita-cita jadi dokter dan cita-cita ini nggak segera dikubur ketika gagal masuk fakultas kedokteran.

Kemana saya melangkah, berinteraksi dengan orang, bisa dipastikan saya menerima nasihat makan ini, minum ini, coba metode ini, pengobatan itu, kunjungi dukun ini atau dokter itu. Pengemudi taksi yang membawa saya beberapa waktu yang lalu melakukan hal tersebut. Si pengemudi menjelaskan dahulu bahwa latar belakang etnisnya adalah Tionghoa-Jawa. Bapaknya Tionghoa, ibunya orang Jawa. Lalu dia menjelaskan bahwa bagi orang Tionghoa, pengobatan paling mujarab untuk masalah punggung adalah bulus yang dimasak pi oh. Menurut pengemudi taksi tersebut, bulus terkenal mengandung banyak minyak sehingga kalau saya makan bulus, kandungan minyaknya bisa meminyaki punggung saya.

Disc-Problems

Aneka rupa masalah punggung

Menurut bapak pengemudi, pi oh yang enak, yang isinya daging semua bukan di daerah Glodok, tapi ada di jembatan tiga. Nah seperti layaknya orang Indonesia lainnya, saya tak diberi alamat, melainkan diberi patokan jalan, kanan, kiri, putar balik, lurus, perempatan ini itu. Selamat deh hanya yang niat yang bisa nyari warung pi oh yang katanya jam enam buka, jam sembilan sudah habis. Iseng-iseng saya google tentang bulus yang dimasak pi oh dipercaya menyembuhkan rematik, mengencangkan anggota tubuh, mengobati diri dari guna-guna, diare, asma, awet muda, hingga menambah stamina pria. Tak heran kalau hewan kalau hewan kecil ini kini statusnya terancam.

Selain merekomendasikan bulus, si bapak juga merekomendasikan Sinshe di wilayah Rawamangun dekat Arion. Lagi-lagi tak ada alamat, hanya patokan untuk mencari tempat ramai di sekitar Rawamangun. Sishe hebat ini katanya sudah berhasil mengobati banyak orang, termasuk orang yang tak bisa jalan karena stroke.Si sinshe juga tak mematok harga untuk jasanya, cukup donasi seiklasnya ke dalam laci.

Pengemudi tersebut bukanlah satu-satunya orang tak dikenal yang memberi saya saran berobat. Di sebuah toko saya sempat bertemu Oom-oom yang merekomendasikan obat merek A, B, C untuk dengkul saya.  Halo…halo..yang sakit punggung saya kok dengkul saya dibawa-bawa? Ini Oom-oom ngeyel banget, katanya punggung dan dengkul itu berhubungan (ga salah) dan banyak kasus dengkul kekurangan pelumas. Daripada capek dengernya, saya pun cuma senyum-senyum saja sama membatin, situ dokter?

Tanpa ditanya orang memang suka memberi rekomendasi obat-obatan kimia, herbal, hingga alternatif Niatnya mulia, pengen membantu orang. Tapi tak selamanya orang berniat membantu teman yang sakit. Ada saja teman lama (atau tetangga) yang lama tak menyapa tiba-tiba hadir ketika kita sakit. Layaknya penyelamat, Sang teman lama ini datang tanpa sekeranjang buah-buahan, apalagi majalah untuk teman istirahat. Ia datang membawa katalog multi-level marketing yang penuh obat-obatan yang diklaim sebagai yang paling mujarab. Nggak gratis tentunya, karena teman ini tak benar-benar ingin membantu, ia hanya ingin jualan dagangannya dengan kedok membantu orang sakit. Oh sungguh kalau sudah begini rasanya pengen asah-asah benda tajam deh!

Hamil Duluan

Berapa banyak dari kita yang jaman SMA dulu bergosip karena kasus kehamilan pra-kawin yang terjadi di sekolah? Guilty. Saya termasuk salah satu yang pernah mendengar dan bergunjing. Saat itu (dan hingga saat ini), hamil duluan dianggap sebagai aib. Saat dimana orang merayakan kehamilan sebagai kebahagiaan, hamil diluar perkawinan dianggap sebagai hal yang memalukan.

Kehamilan di luar perkawinan dianggap aib, karena banyak hal, tapi yang utama karena sistem sosial kita mendikte pasangan untuk kawin secara legal, atau setidaknya secara agama, sebelum hamil. Mereka yang hamil duluan, tak hanya dihukum secara sosial tetapi juga dipersulit untuk  melanjutkan sekolah (jika masih di SMA). Pengecualian bisa diberikan jika orang tua si perempuan mampu bernegosiasi dengan sekolah untuk memberikan ijin melanjutkan sekolah. Itu dulu, sekarang saya tak tahu apakah diskriminasi tersebut masih ada. Tapi saya berharap semoga hari ini sekolah tidak melarang siswi yang hamil untuk mendapatkan haknya, melanjutkan pendidikan.

Gunjingan masyarakat terhadap perempuan yang hamil di luar perkawinan itu kejam. Herannya, perempuan lebih sering disudutkan ketimbang laki-laki. Koreksi, pria justru tidak pernah disudutkan. Ketika terjadi kehamilan, hanya tubuh perempuan yang berubah secara mencolok, otomatis merekalah yang menjadi korban kekejaman masyarakat. Perempuan-perempuan ini kemudian dituduh sebagai pihak yang murahan, tak bisa menjaga diri dan segala hal yang tak enak didengar. Padahal, dalam peristiwa kehamilan pasti ada pihak laki-laki yang terlibat. Saking tak adilnya masyarakat kita terhadap perempuan dan pria, pria tak pernah dituduh murahan, diminta menjaga kesucian, apalagi dilarang sekolah jika menghamili perempuan. Apa iya ini karena perempuan dianggap lebih berharga ketimbang perempuan? Perempuan dan pria kan sama berharganya.

Ketika terjadi hamil di luar perkawinan, tak hanya perempuan dan keluarganya yang digunjingkan dan dihukum secara sosial. Si anak akan selalu diberi embel-embel anak yang lahir di luar perkawinan; at least itu yang tertulis di dalam akta kelahirannya. Anak-anak ini kemudian rentan dicemooh seumur hidupnya. Kejamnya masyarakat kita menghukum anak yang tak tahu apa-apa, padahal mereka sama seperti anak lainnya, sama-sama tak berdosa.

Keputusan perempuan untuk tetap melanjutkan kehamilan, walaupun digunjingkan dan dihukum masyarakat patut dihargai. Eh tapi perempuan yang memutuskan untuk menggugurkan juga tak boleh dicela lho, itu kan tubuh mereka sendiri, jadi mereka berhak memutuskan apa yang akan mereka lakukan terhadap tubuhnya. Ada beberapa solusi yang diambil perempuan dan keluarganya ketika terjadi kehamilan yang tak direncanakan; kawin dengan bapaknya untuk mendapatkan akta kelahiran yang layak salah satunya. Setelah si anak lahir, banyak yang kemudian memutuskan bercerai.

Banyak juga cerita dimana bayi-bayi yang lahir di luar perkawinan diserahkan untuk diadopsi. Hebatnya, ada bidan-bidan yang mau memberikan surat keterangan lahir dengan nama ibu adopsi dan menghilangkan nama ibu kandungnya begitu saja. Jika suatu hari si anak belajar golongan darah di SMA dan sadar kalau dia memiliki golongan darah yang berbeda, bagaimana cara dia mencari tahu orang tua kandungnya?

Adopsi paksa mengingatkan saya pada skandal Magdalene laundry di Irlandia. Awal tahun 1900an, ketika Irlandia masih sangat Katolik (sekarang mereka juga masih sangat religius), tabu bagi perempuan untuk punya anak di luar perkawinan. Perempuan-perempuan yang punya anak di luar perkawinan biasanya dikirimkan ke kesusteran untuk melahirkan bayinya dan pada saat yang sama mereka harus bekerja di laundry kesusteran untu membalas jasa. Bayi-bayi yang lahir di kesusteran, pada jaman itu akan diserahkan untuk diadopsi, hingga ke luar Irlandia. Yang menyedihkan, perempuan-perempuan tersebut, kebanyakan, tak punya akses untuk menghubungi anaknya. Philomena adalah satu dari ribuan kasus dari jaman dahulu yang sempat dibukukan dan difilmkan. Ceritanya tragis, anaknya mencari Ibunya, tapi Kesusteran tak mau memfasilitasi pertemuan mereka. Si anak meninggal tanpa tahu Ibu kandungnya. Hebatnya, Philomena tak punya dendam pada Gereja dan Tuhan.

unplanned pregnancy

Tak semua orang menganggap kehamilan sebagai aib yang harus ditutup-tutupi. Banyak perempuan, yang surprisingly punya akses terhadap kontrasepsi, tahu tentang kontraksepsi dan konsekuensi hubungan tanpa pengaman memilih hamil duluan supaya prianya bertekuk lutut. Bahasa halusnya, menggunakan anak sebagai senjata supaya si bapak melamar dan supaya tunjangan dari si Bapak lancar. Nah kalau kehamilan di luar perkawinan saya anggap sebagai kegagalan sistem pendidikan untuk mengedukasi anak-anak muda tentang resiko seks seks pra-kawin, kehamilan direncanakan atau kehamilan untuk senjata ini saya anggap sebagai keberhasilan pendidikan, karena bikin orang jadi pinter banget.

xx,

Tjetje