Menonton Drama di Media Sosial

Konon katanya media sosial itu merubah dunia dan memperbanyak drama. Tapi sesungguhnya, media sosial itu hanya media. Kuasa untuk membuat atau menghindari drama ada pada para penggunanya. Yang tak suka drama tak akan terlalu banyak mengumumkan permasalahannya di media sosial, tapi ada juga yang senang melakukan hal tersebut. Semuanya diunggah ke media sosial, dari hal ringan hingga konflik besar.

Nah bicara soal konflik ini, ada beberapa tipe pengumbar konflik yang menarik untuk diamati. Mungkin, sebagaian besar dari kita pernah bertemu dengan tipe-tipe ini:

Tukang sindir

Punya masalah dengan pasangan, teman, kolega, atau keluarga lalu memutuskan  untuk menulis semuanya di status media sosial? Umbar kesalahan-kesalahan atau uneg-uneg supaya dunia tahu. Terkadang mereka tak hanya mengumbar hal-hal yang dianggap salah, tapi juga menyindir karakter orang yang dituju. Untuk memberi sedikit elemen misteri,  mereka tak sebut nama orang yang dituju. Sindirannya pun dibuat dengan kasar, mungkin kalau terlalu halus nanti yang dituju justru tak paham.

Bagaimana kalau kemudian status ini dibaca sasaran?  Berarti misi tercapai dan target bisa kacau hatinya. Tapi kalau salah sasaran, karena ada ribuan teman lainnya yang bisa baca tulis? Oh tak masalah, nanti kalau ada yang nanya seperti ini sih tinggal bilang aja kalau status itu bukan untuk dia, tapi untuk yang lain. Kalimat saktinya, “Ini bukan untuk kamu kok, tapi untuk orang lain.” Kalau lagi baik biasanya ditambahin: “Kamu gak usah keGRan deh.”

Tukang klarifikasi gosip

Namanya manusia pasti pernah diomongin oleh orang lain, atau bahkan sering, kalau banyak yang ngiri. Omongan-omongan seperti ini biasanya ada aja yang iseng menyampaikan kekorban pergosipan.

Nah, tak semua orang tahan mendengarkan hal ini, lalu mau berdiam diri dan membiarkan waktu menunjukkan kebenaran. Lagi-lagi emosi, lalu ngamuk di media sosial, mengklarifikasi gosip tersebut. Koentji terpenting dari klarifikasi ini adalah bagian ngamuknya,kalau gak ngamuk, kita yang baca juga gak semangat. 😆

Keseruan juga terjadi di antara teman-teman sang pengunggah status, karena biasanya timbul rasa penaran untuk mencari tahu pembuat gosip. Ada pula yang mendinginkan suasana dengan meminta pengunggah status  untuk sabar.

Tukang Balas Status

Dari semua pelaku drama, ini saya tempatkan di tempat teratas. Dua manusia dewasa yang memutuskan saling sindir tentang satu hal di status masing-masing. Nah kalau kita berada di dua lingkaran pertemanan ini, langsung ketahuan siapa yang berbalas status. Lucunya, kadang-kadang dua orang yang berselisih ini saling ngeblok, tapi statusnya masih tetep bisa sahut-menyahut. Ternyata, sahut-menyahut ini terjadi karena adanya mata-mata yang menyampaikan status-status terbaru dari dua kubu ini. Nggak cuma negara aja yang perlu mata-mata, tapi pergaulan dunia maya pun juga perlu.

Penutup

Saya bertanya-tanya, mengapa ada yang mau mengumbar permasalahan pribadi  seperti ini di media sosial? Dari membaca banyak artikel saya jadi ngeh kalau ada orang-orang yang memang butuh perhatian, baik yang positif atau yang negatif. Orang-orang seperti ini biasanya disebut sebagai excessive attention seeker. Konon sih memang mereka kesepian atau mungkin masa kecilnya pernah terlantar secara emosional. 

Alhasil, ketika dewasa mereka akan melakukan apa saja untuk mencari perhatian, termasuk mengumbar apa saya yang bisa diumbar dan mendramatisir hal-hal yang tak perlu. Argumen ini masuk akal sih, mengingat mereka yang mengumbar hal-hal seperti ini memang mencari reaksi di media sosial.

Pada saat yang sama, saya melihat kegagalan untuk komunikasi. Kalau ada masalah, ya ngomong aja ke orangnya. Teorinya emang gampang, prakteknya ada yang enggan karena gak berani (mungkin ini kultur kita), atau memang ada yang tak mau karena merasa tak ada yang perlu dibicarakan, karena memang tak ada masalah. Soal yang satu ini menarik, karena keengganan ini muncul demi memghindari timbulnya masalah-masalah baru.

Apapun alasannya, mereka ini yang membuat media sosial jadi berwarna-warni dan seru untuk dilihat. Drama-drama ini mempermudah kita dalam menilai karakter seseorang.

Kamu, sering baca drama di media sosial?

xx,
Tjetje

Suka menonton drama gratisan 🤣

Fotografer Murah Meriah

Baru-baru ini, salah satu rekan saya, seorang fotografer (dia fotografer beneran, kalau saya bukan, saya cuma suka foto) membuat survey tentang berapa harga fotografer yang orang bersedia bayar. Hasilnya mencengangkan!

https://twitter.com/ridzki_n/status/899115140129316868

Mayoritas orang yang mengisi polling twitter itu tak mau bayar mahal untuk fotografer. Padahal, harga fotografer yang ditawarkan di atas termasuk murah meriah. Saya pun bertanya-tanya, kenapa banyak yang enggan membayar mahal fotografer? Mungkin karena motret itu dianggap kerjaan remeh? Mungkin karena foto gak dianggap sebagai hal yang terlalu penting? Atau mungkin karena HP dan aplikasinya membuat kita berpikiran motret itu gampang?

Sebagai orang yang menyukai foto (tapi saya bukan fotografer ya), saya paham betapa susahnya mengambil sebuah foto dalam sebuah acara. Ngambil foto mesti cepet, kalau gak cepet momennya hilang. Kalau momennya hilang juga gak mungkin bilang sama para orang tua untuk balik lagi ngulang lamarannya. Atau nyuruh para mbak-mbak pengicar buket di bawah ini untuk balik foto lagi. Wah bisa berantem tuh yang udah dapat bunga.

https://www.instagram.com/p/xzN8bnQxsH/?taken-by=binibule

Makanya fotografer itu sebaiknya berombongan banyak supaya beberapa orang bisa merekam momen dari berbagai sudut. Fotografer-fotografer seperti ini tak bisa dibandingkan dengan fotografer yang bermodalkan lensa kits. Kudu modal lensa yang okay punya, kalau gak ya modyaaar.

Pada saat yang sama, fotografer itu juga harus melalukan proses edit terhadap foto. Pekerjaan mereka tak hanya pada saat hari H saja; ada pencahayaan yang harus dikoreksi, foto bomb yang harus dihilangkan, atau detail-detail lain yang mengganggu kecantikan sebuah foto. Pekerjaan mengedit ini jauh lebih lama daripada mengambil gambar-gambar perkawinan. Biasanya butuh beberapa minggu atau bahkan bulan.

Fotografer-fotografer kawinan saya bahkan super hebat. Dalam kondisi super teler karena kena DBD, mereka bisa mengambil gambar-gambar saya tanpa kelihatan kalau saya sebenarnya udah harus masuk ICU karena nyamuk keparat. Ini kalau fotografernya ecek-ecek ya lupakan aja.

Resiko memilih fotografer murah

Seseorang yang saya kenal menggunakan fotografer yang tak seberapa mahal untuk perkawinannya. Ketika kemudian hasil foto perkawinan selesai dan dicetak di dalam album, SELURUH foto keluarga ujung-ujungnya ngeblur dan tak jelas saudara-saudara.

Ketika melihat foto-foto tersebut saya langsung ngeh kalau sang fotografer salah mengatur setting kamera. Katanya, sang fotografer menggunakan kamera baru. Bah ini pun bukan alasan, karena sebelum mengaku menjadi fotografer, ilmu dasar bukaan dan kecepatan harus sudah dikuasai. Tapi apa daya, momennya sudah lewat dan tak bisa diulang lagi. Kalau sudah begini cuma bisa menyesal.

Foto yang “rusak” bukan satu-satunya risiko yang harus dihadapi ketika memilih fotografer yang tidak tepat. Kualitas pengambilan sudut gambar yang buruk juga membuat foto jadi terlihat kurang menarik, kaku dan tak hidup sama sekali. Sedih banget kalau lihat foto yang kayak gini.

Beberapa tips untuk memilih fotografer:

  • Profesional. Tahu cara memotret dan cara mengedit foto. Baca review dan cari rekomendasi juga. Pastikan juga mereka tahu runutan acara dan tiba-tiba tak hilang (ini saya pernah kejadian lho di sebuah acara penting; akibatnya saya harus lari-lari keliling gedung mencari sang fotografer)
  • Punya pengalaman segudang. Pengalaman itu yang menempa seseorang menjadi lebih baik, jadi lihat portfolio sang fotografer.
  • Gayanya cocok dengan kita. Bisa diajak kerja sama dan nyambung. Beberapa fotografer ada yang keras kepala dan gak bisa diajak kerjasama. Pada saat yang sama, kalau gayanya gak sesuai dengan selera kita jangan dipaksain juga. Masih banyak fotografer bagus kok.
  • Minta diskon boleh, tapi jangan sadis-sadis. Inget, kerjaan fotografer itu gak gampang!

Biaya fotografer itu memang mahal, karena merekam momen penting foto itu susah. Tapi untuk momen yang penting dan tak bisa diulang, wajib untuk memilih fotografer yang berkualitas. Kecuali kalau memang foto menjadi elemen yang tak begitu penting dalam prosesi tersebut. Pada saat yang sama, fotografer jaman sekarang kerjanya susah, mesti bersaing dengan tamu yang terobsesi memotret kawinan orang. 

Jadi, kamu mau atau mikir-mikir kalau harus bayar biaya tinggi untuk fotografer?

xx,
Tjetje
Membawa Inpairsphoto dari Malang ke Bali.

Heboh Foto di Perkawinan Orang

Bulan Agustus lalu saya berada di Indonesia untuk dua perkawinan penting, perkawinan sahabat saya dan perkawinan seorang kerabat. Berhubung Indonesia sedang musim kawin, kami pun mendapatkan beberapa undangan lainnya. Konon bagi sebagian orang, bulan-bulan setelah lebaran dipercaya sebagai bulan baik untuk melangsungkan perkawinan.

Dari banyak perkawinan yang saya hadiri, ada satu pola perilaku yang bagi saya sangat mengganggu, yaitu soal pengambilan foto. Sebetulnya, perilaku ini sudah ada sejak lama, tapi semakin lama kok semakin  parah, sang tamu semakin tak tahu aturan dan menurut saya, tak menghormati empunya hajat. Berikut hasil pengamatan saya:

Akad nikah sudah siap akan dilaksanakan, para hadirin sudah duduk, begitu juga dengan para sesepuh. Salah satu saksi pengantin kebetulan orang penting di negeri ini. Jreng…jreng….di tengah khidmatnya acara tiba-tiba ada satu tamu yang seharusnya duduk manis berdiri dengan membawa kamera poket. Ah masalah!


Benar saja, sang tamu yang nampaknya terobsesi memotret saksi ini tiba-tiba berdiri menghalangi para tetamu demi ambisinya mengambil foto-foto untuk memenuhi koleksi pribadinya, sementara para fotografer yang dibayar secara profesional sibuk berjongkok supaya tak menghalangi para tamu. Tamu ini bukan satu-satunya, sesaat setelah pengantin disahkan dalam ikatan perkawinan, tamu-tamu lainnya tiba-tiba berdiri dan sibuk mengambil foto bermodalkan handphone.

Kejadian di atas merupakan sebuah akad nikah yang tergolong “biasa-biasa” saja, di beberapa perkawinan lainnya, para tamu yang sibuk bersaing dengan fotografer untuk mengabadikan perkawinan jauh lebih ganas. Saking ganasnya, mereka tak segan untuk menutupi fotografer yang sudah bersiap di titik-titik terbaik. Lihat ini saya jadi pengen punya bisnis bodyguard yang bertugas menarik tamu-tamu ini kembali ke kursinya.

Saya melihat, ada beberapa alasan mengapa para tamu ini bukannya sibuk menikmati jalannya  prosesi dan malah sibuk berkompetisi mengambil foto:

  • Eksistensi diri

Ingat dengan Mbak-mbak yang membuat heboh dunia Twitter yang sibuk merusak momen perkawinan orang lain dengan handphonenya, sibuk berinstastory dan mengabaikan peringatan dari fotografer? Jaman sekarang eksistensi diri itu begitu penting, membuat kita lupa siapa yang sebenarnya punya hajat dan buntutnya membuat kita lupa tentang tata krama. Hasilnya, ngerusak momen bahagia orang lain. Padahal sang empunya hajat itu sudah menabung darah dan air mata selama hidupnya supaya bisa membuat momen yang tak terlupakan.

Eksistensi diri yang dimau dari tamu juga sebenarnya gak penting sama sekali, cuma untuk update media sosial untuk menunjukkan kalau ia sedang berada di sebuah perkawinan. Hello world, look at me, I am at the wedding and you are not! Pada saat yang sama dunia bisa teriak: kamu segitu kesepiannya ya sampai sibuk dengan diri sendiri di tengah kemeriahan pesta?

  • Update teman

Alasan selanjutnya untuk mengupdate teman-teman yang tak datang ke acara perkawinan, jadi berdirilah di barisan terdepan, bersaing dengan fotografer resmi demi mendapatkan foto dan video dengan bermodalkan handphone dan power bank. Setelah itu, semua foto dan video diunggah ke dalam media sosial dan grup chat. Salah?

Engga kok, engga ada yang salah dari berbagi. Tapi sebelum melakukan hal tersebut ada baiknya juga untuk selalu sadar lingkungan ketika mengambil foto-foto tersebut. Para tamu yang sudah berjuang untuk bisa hadir itu layak untuk dihormati, bukan ditutupi dengan punggung dan tangan yang saling berebut untuk berada di atas supaya bisa mengambil foto terbaik.

Lagipula, apa susahnya sih nunggu sang penganten unggah foto sendiri yang lebih oke punya?

Penutup

Momen perkawinan, apalagi upacara keagaaman menjadi momen yang sangat sakral. Bisa berada di dalam acara tersebut, bagi saya adalah sebuah kehormatan, karena biasanya pasangan pengantin membatasi jumlah undangan yang diperkenankan hadir. Di banyak kesempatan saya enggan mengambil foto, karena foto-foto tersebut biasanya berakhir di tong sampah, karena kualitasnya yang kurang baik. Saya lebih suka duduk menikmati momen sakral tersebut, lebih enak ketimbang merusak momennya. Lagipula, saya kan diundang untuk hadir dan menyaksikan, bukan untuk jadi fotografer dadakan.

Kamu sering lihat tamu yang terlalu heboh foto-foto di kawinan orang?


xx,
Tjetje
Tak memperkenankan para tamu mengunggah foto kawinannya di media sosial. 

Mbak TKW Penghibur Hati

Perjalanan saya ke tanah air sangatlah panjang, lebih dari 18 jam. Dari Dublin ke Dubai perjalanan saya tak terlalu menarik, tapi dari Dubai ke Jakarta perjalanan ini menjadi menarik karena saya duduk bersebelahan dengan Mbak TKW. Sebenarnya saat itu saya tak duduk bersebelahan dengan ia, tapi seorang perempuan Irish minta tukar tempat duduk dengan saya supaya ia bisa bercengkerama dengan teman-temannya. Tentu saja kesempatan emas ini tak saya tolak.

Si Mbak langsung tersenyum sumringah ketika tahu saya bisa berbahasa Indonesia. Tentunya basa-basi kami dimulai dengan pertanyaan dari mana. Saya menjelaskan bahwa saya tinggal di Dublin, sementara ia menceritakan bahwa ia bekerja di Dubai dan memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya di Dubai. Dari berbagai interaksi saya dengan TKW, mereka selalu mengambil asumsi bahwa semua orang yang bekerja di luar negeri adalah TKW. Makanya ketika ia bertanya pekerjaan saya, saya menjelaskan bahwa saya bekerja di sebuah kantor di Dublin. Dan sang Mbak pun bertanya:

"Oh Mbaknya kerja di Maktab?"

Saya pun bertanya balik, apa itu Maktab, lalu ia menjelaskan bahwa Maktab adalah kantor yang mencari pekerja rumah tangga. Ia tentunya menggunakan bahasa pembantu, bukan pekerja. Saya lalu menjelaskan bahwa kebanyakan orang di Eropa tak mampu membayar PRT, karena gaji mereka cukup tinggi. Di Dublin, mereka setidaknya harus dibayar 9 Euro per jam.

Si Mbak yang bekerja di Dubai dengan gaji sekitar 3-4 juta rupiah ini mengakhiri pekerjaannya di Dubai dan memutuskan untuk kembali for good. Pembicaraan soal gaji bukan saya yang memulai, dia yang memulai dengan bertanya berapa gaji saya di Irlandia. Sejujurnya saya males ditanya-tanya soal gaji. Tapi hari itu saya iseng menyebut sebuah angka yang langsung dibalas “Innalilahi” oleh si Mbak. Ia juga setengah memeluk saya, karena kaget. Tapi interaksi tersebut menampar saya, mengingatkan bahwa kadang yang kita lihat sebagai sebuah hal yang normal, atau bahkan kecil itu bisa menjadi sangat tinggi bagi orang lain.

Pertanyaan pribadi selanjutnya soal anak. Begini pertanyaan si Mbak:

“Kamu sudah punya anak?”

“Nggak punya Mbak.”

“Ah masak sih, kok badan kamu gendut?!”

Untungnya hari itu mood saya lagi ceria, jadi gak nyolot ketika dibilang gendut. Jadi saya tanggapi saja dengan kalimat: “Saya makan mbak, makan!”. Dan sang Mbak pun masih menimpali: “Saya juga makan, tapi saya gak gendut”. Saya senyum-senyum saja, lalu cepat-cepat pasang headset.

Interaksi selanjutnya soal menu, ketika makan akan disajikan. Si Mbak tak paham menu yang disajikan. Saya pun menjelaskan pilihan menu ayam dengan kentang atau nasi dengan udang. Si Mbak ini nanyanya mendetail, udangnya dimasak seperti apa, rasanya seperti apa. Begitu juga dengan ayamnya. Tentunya saya tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya, si Mbak memilih udang karena ada nasinya.

Ketika makan, ia sibuk sendiri dengan pilihan minuman, coca cola, lalu ganti Marinda (sic), hingga akhirnya Pepsi. Nah, saya sendiri memilih wine. Lalu terjadi pembicaraan menarik:

“Kamu minum apa itu?”

“Anggur Mbak”

Ia tiba-tiba tertawa terbahak, lalu berkata “Wah, gaya kamu”, kemudian ia menyikut saya.

Ia lalu bertanya untuk apa saya minum anggur, yang saya jawab dengan pertanyaan untuk apa ia minum Pepsi?

Masih belum selesai. Si Mbak kemudian bertanya bagaimana rasanya anggur, yang saya jawab dengan tawaran “Mau coba?”

Lalu diam.

Selama awal perjalanan, si Mbak ini sibuk sekali dengan telpon genggam dan tabletnya. Sibuk swafoto. Melihat itu saya jadi mikir dan bertanya, berapa uang yang harus dihabiskan untuk membeli gawai-gawai tersebut.

Soal posisi tidur dan privacy space jangan ditanya lagi deh, tapi sekali lagi, mood saya lagi  indah. Jadi ya saya maklumi aja ketika tangannya menguasai pegangan tangan di kursi. Atau kemudian ketika ia memposisikan diri sedemikian rupa hingga ujung kakinya mendekati kaki saya.

Dua jam menjelang pesawat mendarat, ia menanyakan jam berapa pesawat akan mendarat. Terus terang ini bikin saya kaget bukan kepalang, sekaget ia ketika tahu pesawat mendarat di malam hari, pukul sepuluh malam. Duh…gimana ceritanya bisa tak tahu kapan pesawat mendarat. Saya pun berceramah panjang supaya ia berhati-hati, apalagi jika ada mencoba menipu atau memeras.

Semakin kesini, saya semakin sedih kalau kebarengan sama TKW. Kekepoan mereka emang ngeselin, tapi cara pandang dan pengetahuan mereka yang begitu sederhana menusuk hati saya sebagai WNI dan juga sebagai perempuan. Perempuan-perempuan ini berjuang untuk keluarganya dan ketika pulang harus disambut dengan orang-orang yang siap memangsa penghasilan mereka yang tak seberapa itu.  Ah sudahlah, semoga mereka selalu dilindungi.

Semoga minggu kalian menyenangkan!

xx,
Tjetje

Tabrakan Kekeluargaan

Cerita  saya pulang kampung memang selalu aneh-aneh dan berwarna. Alkisah dua minggu lalu saya naik Uber di Malang dan kendaraan yang saya tumpangi ditabrak dari belakang oleh seorang anak remaja yang nampaknya baru belajar menyetir kendaraan matic. Pengemudi Uber berinitiatif turun untuk menyelesaikan permasalahan ini dan si bocah meminta kendaraan untuk minggir saja. Ternyata, si bocah dan kendaraan Ford Everestnya kabur! Terjadilah kejar-mengejar di dalam Uber, di tengah kemacetan kota Malang.


Singkat cerita, sang penabrak yang belum juga genap berusia 20 tahun ini tertangkap dan sang pengemudi Uber meminta kartu identitasnya. Soal tabrak-menabrak ini kemudian diselesaikan dengan negosiasi. Pengemudi meminta 700 ribu rupiah untuk bagian belakang kendaraannya yang penyok yang kemudian ditawar ke angka 500 ribu rupiah. ATM sudah siap akan diambil lalu tiba-tiba Ibu dari pelaku turut campur melalui telepon. Runyamlah, karena korban harus berbicara melalui telepon dengan ibu-ibu yang teriak-teriak penuh emosi dengan aneka tuduhan ini itu.

Intinya, ibu sang pelaku hanya mau memberikan uang 250ribu rupiah saja, karena ini musibah. Namanya musibah itu dua belah pihak harus mengerti. Kemudian, Ibu pelaku yang tak mengindahkan fakta bahwa anaknya kabur dan tak minta maaf sama sekali atas hal ini, menuduh bapak pengemudi Uber ini melakukan pemerasan karena kerusakan kendaraan tak begitu parah. Kerusakan kendaraan memang tak begitu parah, bagian belakang kendaraan sedikit penyok, sementara mobil pelaku baik-baik saja (karena mobilnya besar).

Ada banyak hal yang membuat saya tercengang dari kejadian ini:

  • Asuransi

Jaman saya kecil dulu, ada dua tante teman mama saya arisan yang mengalami tabrakan ketika parkir dan mobilnya saling beradu. Urusannya gak pakai ribut-ribut, semua diselesaikan secara elegan oleh asuransi dan arisan pun berjalan lancar tanpa drama. Peristiwa itu membekas sekali di kepala saya, kalau mau punya kendaraan itu ya harus bayar asuransi. Jadi kalau ada apa-apa akan terlindungi.

Saya mendengar kendaraan-kendaraan jaman sekarang juga sudah banyak yang diasuransikan all-risk, apalagi jika masih mencicil. Tapi, untuk setiap klaim asuransi dikenakan biaya klaim setidaknya 300ribu rupiah. Untuk kerusakan yang lebih parah, dana yang diminta akan lebih tinggi.

  • Definisi musibah

Bagi korban, kejadian ini memang musibah. Tapi bagi pelaku, saya melihatnya sebagai sebuah kelalaian, apalagi menyetir kendaraan matic itu cenderung lebih mudah. Ditambah lagi, pelaku juga nekat melarikan diri yang menunjukkan bahwa si bocah ini memang tak berniat bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Pendekatan si Ibu yang ngotot bahwa ini musibah sungguh tak berperikemanusiaan sama sekali. Ia beranggapan karena ini musibah, maka kedua belah pihak harus sama-sama menghadapinya dengan cara yang dimau oleh si Ibu; harus ditanggung oleh kedua belah pihak. Pengemudi Uber harus bersedia menerima 250ribu rupiah yang diberikan oleh si pelaku dan masalah harus selesai sampai di situ saja. Ia sama sekali tak mikir bahwa korban, selain dirugikan dengan kendaraan yang penyok juga dirugikan dengan waktu yang harus hilang ketika kendaraan diperbaiki. Buat saya, keengganan untuk bertanggung jawab secara penuh ini egois sekali.

  • Kekeluargaan

Sudah menjadi tradisi, kejadian-kejadian seperti ini diselesaikan secara kekeluargaan dengan cara negosiasi tadi. Saya melihat, cara kekeluargaan ini sebetulnya bukan cara yang efektif sama sekali, karena tidak ada perhitungan yang tepat. Urusan kekeluargaan ini sebenarnya hanya melatih kepandaian tawar-menawar. Salah satu pihak pasti dirugikan, apalagi jika pihak tersebut tak punya ilmu negosiasi yang baik.

Berdasarkan pengalaman orang yang saya kenal, kehadiran aparat sendiri tak akan banyak membantu. Peristiwa kecil seperti ini pasti disarankan untuk diselesaikan secara kekeluargaan dan pelaku diharapkan memberi santunan selayaknya. Kalaupun ada kematian, beberapa orang sekalipun, tak ada ada hukum yang berlaku keras e.g pelaku dicabut SIMnya hingga puluhan tahun, pelaku dimasukkan penjara.

Jadi sekali lagi, fungsi aparat apa untuk memberikan solusi terbaik?

  • Intimidasi

Ibu dari si bocah tersebut juga melancarkan aksi intimidasi kepada pengemudi Uber. Padahal ini anaknya yang nabrak, anaknya yang kabur. Ia ngamuk-ngamuk dan mengatakan ia akan membawa kakaknya dan beberapa orang lain yang lebih ahli untuk menganalisis berapa kira-kira ongkos kerusakan.

Padahal pengemudi sudah menginformasikan kepada sang anak, berapapun biaya yang dikeluarkan ketika perbaikan, tagihannya akan diberikan pada sang anak untuk dibayar. Tapi tetap, si Ibu ngotot bahwa bapak pengemudi Uber memeras anaknya.

Sampai saya meninggalkan Malang, pengemudi Uber tersebut baru dibayar 250ribu rupiah. Mobilnya belum juga diperbaiki. Sementara sang penabrak melenggang bebas, tak ada catatan bahwa ia pernah menyetir dengan cara yang ngawur. Coba kalau ini kejadiannya di Irlandia, premi asuransi pelaku pasti langsung melonjak karena keteledorannya.

Di Indonesia, menyetir kendaraan itu susah. Aturan lalu lintasnya sungguh kurang jelas. Belum lagi ilmu menyetir yang digunakan ilmu lincah, bukan ilmu menyetir lurus sesuai marka jalan. Dalam kejadian seperti ini, saya melihat ada tiga hal yang bisa menyelamatkan pelaku, ilmu negosiasi, uang, serta anggota keluarga yang memiliki jabatan tinggi. Nilai santunan uang sendiri juga tak pernah ditulis dengan jelas, berapa yang harus dibayarkan untuk tiap-tiap kejadian. Semuanya tergantung keiklasan masing-masing pihak. Susah sudah kalau pakai ilmu iklas ini, karena gak semua orang punya ilmu tersebut.

Kamu, pernah menghadapi negosiasi tabrakan?

xx,
Tjetje

Diskriminasi di Westin Nusa Dua Bali

Empat tahun lalu saya dan pasangan mengadakan resepsi kecil perkawinan di Westin Nusa Dua Bali. Sahabat-sahabat saya datang dari berbagai belahan dunia. Bahkan, pagi sebelum resepsi berlangsung, tukang rias, fotografer, saudara serta teman-teman saya bebas melenggang keluar masuk hotel tanpa harus saya jemput di depan hotel. Semuanya berjalan dengan lancar.

Empat tahun kemudian, ceritanya berubah. Saya bahkan tak boleh menjejakkan kaki di lobby hotel.

Jadi begini ceritanya:

Pagi itu saya akan menemui Fascha yang saya kenal dari dunia WordPress. Rupanya pada saat bersamaan ia sedang ada di Bali. Dan karena saya berada di Bali, saya tak berdandan. Pakai sandal jepit, celana pendek, atasan tipis, kacamata hitam menggantung di kepala, kulit terbakar matahari dari hasil berjemur, rambut dicepol ke belakang dan tangan menjinjing tas. Jangan tanya soal make up.

Pukul 10.13, saya turun dari taksi dan melalui proses pemeriksaan petugas. Tas saya letakkan di meja dan saya melewati metal detektor. Petugas kemudian bertanya tentang keperluan saya. Pertanyaan standar yang saya balas dengan ramah bahwa saya mau menemui seorang teman. Ia menanyakan di mana saya akan menemui teman tersebut, saya katakan bahwa teman saya menunggu di pinggir pantai. Lalu petugas bertanya nomor kamar teman saya. Ya jelas saya tak tahu dan tak perlu tahu. Lain halnya kalau saya memang mau bertemu di dalam kamar. Layanan ini sungguh berbeda dengan di hotel-hotel lain. Di hotel lain, saya akan langsung ditunjukkan arah tempat pertemuan saya.

Lalu, petugas berkata teman saya itu harus menjemput saya. Posisi saya saat itu masih berdiri di depan metal detector. Lalu ia menyuruh saya menunggu di luar saja, di depan pintu masuk. Gila UN Building aja gak segininya lho, setidaknya masih dikasih masuk lobby, tidak disuruh menunggu di luar. Bagi saya, perlakukan tersebut sangat aneh. Yang aneh lagi, tas saya tidak diberikan kembali oleh petugas. Hanya diletakkan di depan dia. Jadi untuk mengambil tas tersebut, saya harus menjangkau tas saya sendiri. Benar-benar pelayanan kelas dunia kan?

Petugas keamanan tersebut kemudian bertanya:

"Tamunya orang asing ya?"


Sumpah ini emosi saya sudah mendidih. Jadi, karena si Satpam menduga TEMAN, bukan TAMU, saya orang asing kemudian saya tidak diperkenankan langsung menemuinya? Kendati saya marah, saya masih menjawab ramah bahwa teman saya orang Indonesia. Ketika Fascha  datang bersama anaknya. Satpam langsung saya panggil dan saya menginformasikan bahwa saya sudah dijemput. Biar si satpam sekalian lihat, bahwa teman saya orang Indonesia. Lagipula, apa sih urusan dia, kalau saya menemui orang asing juga bukan urusannya kan? Dalam situasi ini, urusan kebangsaan orang yang saya temui tak ada hubungannya dengan keamanan sama sekali.

Dalam sejarah saya berurusan dengan banyak hotel-hotel di Nusa Dua (biasanya emang acara resmi dan gak pernah pakai sandal jepit sih), saya tak pernah ada perlakukan seperti ini. Baru hari itu saja saya menerima perlakuan yang berbeda. Dari mulai tak dilayani semestinya (tas tak diberikan kembali kepada saya), hanya diperbolehkan menunggu di luar, harus dijemput di luar hotel, hingga ditanya pertanyaan yang bersifat pribadi dan tak sopan.

Saya tak sempat melihat nama pak Satpam. Ketika satu jam kemudian saya meninggalkan hotel, nama Bapak tersebut tetap tak terlihat oleh saya. Tapi saya tak kehabisan akal, begitu kembali ke hotel, saya langsung menelpon Westin dan meminta email GMnya. Saya diberikan email Managing Director Westin Nusa Dua. Dan saya kirimkanlah email panjang protes saya terhadap perlakuan yang bagi saya, sangat diskriminatif. Kenapa hanya saya, perempuan Indonesia yang datang sendirian ke hotel berbintang dengan mengenakan sandal jepit diperlakukan seperti itu? Tamu-tamu lain tak ada yang diperlakukan serupa.

Managing Director Westin menanggapi dengan cepat, kurang dari 30 menit, email permintaan maf dilayangkan kepada saya. Twitter saya juga direspon dengan cepat. Beberapa email juga langsung dikirimkan untuk proses investigasi. Dalam waktu kurang dari tiga jam semua urusan beres.

Tweet

Mungkin ada dari kalian yang berpikiran bahwa saya lebay, terlalu berlebihan dalam bereaksi. “Urusan gini kan gak penting, biarin aja, toh sudah lewat.” Bagi saya, urusan seperti ini sangatlah penting. Apa yang saya coba dapatkan dari protes saya? Di masa yang akan datang tak ada lagi ceritanya orang lain, terutama perempuan Indonesia, diperlakukan seperti itu. Yakinlah, kalau hari itu rambut saya blonde, kulit saya putih saya tak akan diperlakukan sama. Pada saat yang sama kalau hari itu saya pria Indonesia, gak bakalan kejadian seperti ini.

Kamu, pernah mengalami diskiriminasi serupa?

xx,
Tjetje

Reverse Culture Shock: Semakin Kaget Ketika Pulang Kampung

Musim gugur lalu saya berada di Indonesia untuk melepas rindu pada keluarga, makanan dan teman. Tak sampai satu tahun, saya kembali lagi ke tanah air untuk menghadiri acara-acara penting bersama keluarga, melepas rindu dengan sahabat-sahabat saya terbaik dan tentunya untuk berburu vitamin D. Kulit saya harus digelapkan sebelum saya kembali ke Dublin.

Seperti biasa, beberapa hal kecil membuat saya tercengang dan tersenyum-senyum sendiri. Kekagetan saya yang pertama bukan soal culture shock, tapi dengan kondisi ekonomi Indonesia. Lesu sekali ya. Mal Ambasador yang menjadi tempat wajib bagi saya untuk berbelanja sekarang sungguh sepi. Pegawai-pegawai yang dulunya seakan tak peduli jika pengunjung hanya lihat-lihat, sekarang mendadak ramah walau kita hanya lihat-lihat. Bahkan di satu toko saya dilayani oleh dua orang pegawai. Kepala saya juga masih berada di harga-harga dua tahun lalu ketika saya meninggalkan Indonesia. Jadi setiap kali berbelanja dan melihat angkanya yang ‘mencengangkan’ karena inflasi, saya cuma bisa mikir, yang bergaji UMR itu bagaimana bertahan hidup? Bahkan kalau UMRnya 3 juta rupiah, rasanya berat sekali.

Premanisme juga sukses membuat saya tercengang. Pengemudi taksi daring di Malang digebukin oleh supir angkutan umum jika tertangkap mengangkut penumpang dari tempat-tempat umum seperti mall, hotel, restaurant atau stasiun. Tak hanya dipukuli, kendaraan mereka juga berisiko ditabrak atau dipecahkan kacanya. Bagi saya, taksi daring itu bukan saingan angkutan umum, tapi nampaknya angkutan umum semakin tergerus dan sakit hati ketika melihat orang beramai-ramai naik taksi daring dan membagi biayanya sama rata. Sungguh barbar sekali cara manusia mempertahankan penghidupannya. Tolong jangan tanya dimana hukum.

https://www.instagram.com/p/BX8UB9wATGd/?taken-by=binibule

Soal aparat hukum, seperti kalian baca di postingan ini, seorang teman saya kehilangan tasnya berserta semua barang berharga di dalamnya. Ketika laporan ke polisi, kami diperlakukan dengan tidak baik. Pak polisi begitu kasar dan galak, seakan-akan perlu menunjukkan otoritas bahwa ia adalah aparat, padahal ia itu pelayan masyarakat yang dibayar dengan uang pajak kita. Kepolisian nampaknya masih perlu banyak berbenah, apalagi soal bantuan biaya administrasi. Sungguh tak bisa saya pahami, orang kehilangan kok disuruh bayar. Di Dublin, polisi itu tegas, tapi juga bersahabat. Sungguh jauh berbeda dari di sini.

Bandara Soekarno Hatta sendiri mulai berbenah menjadi cantik. Terminal 3 Ultimate itu sungguh luar biasa cantik, megah dan tentunya bersih. Kebersihan ini tentunya tak mencakup kebersihan dudukan kloset yang selalu dihiasi dengan bekas-bekas sepatu. Semoga saja kebersihannya bisa terus terjaga. Dampak dari kepindahan ini menyebabkan terminal dua jadi kurang terurus. Hanya ada dua lounge yang tersisa dan salah satu lounge yang kami masuki diwarnai dengan kecoa kecil. Si kecoa menjelajahi kaki saya dan orang Indonesia biasa-biasa saja melihat kecoa di area di mana makanan disajikan. Coba kalau di Irlandia, kejadian seperti ini bisa langsung saya laporkan untuk diinspeksi kebersihannya.

Soal makan, di 2017 ini saya masih melihat orang-orang makan dengan mulut terbuka dan membuat meja berantakan. Saya sungguh bersimpati dengan mereka yang bekerja di lounge ataupun restauran dan masih mampu bersikap manis terhadap orang-orang ini, walaupun wajah mereka begitu lelah dan orang-orang ini tak mempedulikan eksistensi mereka, kecuali jika para tamu ini membutuhkan sesuatu.

Saya menemukan bahwa orang yang nyetir di Malang itu jauh lebih lambat ketimbang di Jakarta. Wajar kalau mereka lambat, karena sepeda motor yang jumlahnya semakin membludak itu tak bisa nyetir lurus. Pada saat yang sama, mobil-mobil juga melakukan hal yang sama. Salah satu sopir taksi yang saya tumpangi berkata bahwa menyetir mobil itu “harus lincah” dan bisa mencari celah-celah sempit. Preeeeet!

Dulu, ketika saya di Indonesia memang saya begitu terbiasa dengan suara klakson, di Dublin, klason menjadi sesuatu yang jarang didengar, bahkan dalam sejarah saya menyetir di Dublin, saya baru satu kali membunyikan klason. Dalam perjalanan dari Soekarno-Hatta ke kediaman saya, pengemudi yang menjemput saya sukses membunyikan klakson sebanyak tiga kali dari bandara hingga depan rumah. Yang di depan rumah itu agak menyebalkan, karena suara klakson meminta supaya pintu pagar dibukakan, padahal waktu sudah mendekati tengah malam. Para tetangga, mohon maaf jika tidur Anda malam itu terganggu.  Di Indonesia sendiri saya tahu Prambors FM rajin menyiarkan iklan layanan masyarakat. Terlalu sering membunyikan klakson itu tanda orang tak memahami cara menyetir yang benar.

Kamu sudah dengar berapa klakson hari ini?

xx,
Tjetje
Yang selalu dianggap aneh kalau pakai kacamata hitam di bawah terik mentari

Kerampokan Tas

Akhir pekan lalu, saya dan rombongan teman-teman berada di Malang untuk menghadiri perkawinan seorang sahabat. Di sela-sela waktu, kami menyempatkan untuk berwisata, mengunjungi beberapa tempat wisata di Batu serta menikmati kuliner Malang. Di salah satu kesempatan, salah satu rekan kami kehilangan tas di Warung Soto Lombok di daerah Raya Tlogomas. Tulisan ini akan berisikan kronologi, serta beberapa informasi. Tulisan ini akan saya link di Facebook, untuk mencari pemilik KTP serta terduga pelaku.

Sabtu, 12 Agustus 2017 19.45
Kendaraan yang kami sewa parkir di Soto Lombok di jalan Raya Tlogomas. Kami berlima duduk di sebuah meja dengan kapasitas delapan kursi yang terletak di dekat tembok di bagian tengah. Sementara dua pengemudi kendaraan sewaan kami duduk di meja yang lebih dekat dengan pintu keluar. Meja di belakang kami dalam kondisi kosong.

Teman saya yang kebetulan sedang sakit meletakkan tasnya di atas kursi di samping tembok. Ia duduk di samping kursi tersebut dan meletakkan kepalanya di atas meja karena sedang sakit. Kami sempat melihat dua orang pria duduk di meja belakang kami. Mereka duduk di dekat lorong, tidak di dekat tembok. Tapi kami tak terlalu memperhatikan mereka.

Sabtu, 12 Agustus 2017 20.13

Terjadi transaksi pembelian telepon genggam merek Oppo di Ivan Cell yang terletak di daerah Dinoyo. Transaksi menggunakan kartu kredit teman saya dan jumlahnya lebih dari 6,6 juta. Transaksi tanpa PIN ini diperbolehkan oleh toko dengan syarat menunjukkan kartu identitas. Kartu identitas yang ditunjukkan, saya rasa kartu identitas curian karena tak sama dengan muka yang membeli handphone. Pada saat yang bersamaan, beberapa transaksi dengan kartu kredit lainnya dilakukan di toko yang berbeda, tapi gagal karena ketidakadaan limit.

Sabtu, 12 Agutus 2017 20.20

Saya membayar soto dan teman saya mulai menyadari tasnya tak ada. Seusai membayar, saya menemukan sebuah dompet berwarna coklat di meja tempat dua orang pria tersebut duduk. Dompet tersebut saya serahkan kepada bagian kasir di warung soto tersebut.

Sabtu, 12 Agustus 2017 20.25

Kami mulai menghubungi beberapa bank untuk memblokir kartu-kartu. Ternyata proses blokir itu super panjang, karena petugas memiliki banyak pertanyaan untuk verifikasi. Salah satu bank menginformasikan telah terjadi transaksi yang terjadi pada pukul 20.13.

Pada saat bersamaan saya meminta kembali dompet yang saya temukan. Di dalamnya saya menemukan beberapa receh ringgit, uang dua ribu rupiah, bukti transaksi di toko emas di Solo sebesar lebih dari 30 juta rupiah serta kartu identitas ini:

Sabtu, 12 Agutus 2017 20.48

Kami mengarah ke Ivan Cell dan tiba di sini sekitar pukul 20.55. Pintu toko sudah hampir tertutup semua, tapi lampu masih menyala. Satpam pun sudah menginformasikan bahwa toko sudah tutup. Tapi kami tak peduli dan beramai-ramai masuk untuk bertanya mengenai transaksi HP sebar 6,6 juta. Petugas langsung ngeh dengan transaksi tersebut dan mengambil bukti transaksi. Mereka menceritakan kronologi pembelian, dimana pelaku enggan melakukan pengecekan ponsel yang katanya untuk hadiah anaknya.

Kami pun meminta berbicara dengan manajer toko, karena minta CCTV. Mereka menginformasikan tak punya akses terhadap CCTV dan harus menunggu orang IT. Kami pun bertukar nomor telpon.

Sabtu, 12 Agustus 2017 21.40

Kami lapor ke Polsek. Jangan tanya soal pengalaman di sini. Petugas yang menyambut kami tak hanya tak ramah sama sekali, tapi malah menyarankan kami untuk membuat laporan di JAKARTA padahal TKP ada di Malang. Akhirnya setelah menjelaskan kronologi, laporan bisa dibuat dan proses pelaporan usai pada saat tengah malam. Ada lebih dari 10 lembar laporan yang dibuat dan tentunya ada biaya administrasi. Sudah kecopetan, tak punya uang sepeserpun, masih juga harus membayar biaya administrasi.

Minggu, 13 Agutus 2017

Toko menghubungi kami, belum bisa memberikan CCTV karena menurutnya orang IT pergi ke luar kota. Ia berjanji menghubungi saya pada hari Senin.

Selasa, 15 Agustus 2017

Setelah komunikasi di hari sebelumnya tak direspons, hari ini saya menghubungi toko. Berita buruknya, CCTV ternyata tak terekam karena datanya penuh. Tapi ia memberikan foto orang yang menggunakan kartu kredit teman saya untuk membeli HP.

Ini terduga malingnya yang bohong dan mengatakan HP ini untuk anaknya. Ada yang kenal?

Untuk transaksi tersebut, Bapak terduga maling ini menggunakan kartu identitas sebagai berikut:

Kartu identitas ini tak ada bersama saya, tapi berada bersama komplotan sang maling. Tolong jangan tanya kenapa Ivan Cell mau menjual HP dengan kartu kredit atas nama perempuan, kepada bapak-bapak yang mukanya jauh berbeda dengan kartu identitas ini. Semuanya terlihat tak beres!

Penutup

Kejadian pengambilan tas di Soto Lombok (cabang Tlogomas) ini bukan kejadian yang pertama. Tempat ini sudah sering diincar dan menurut Pak Polisi, setidaknya sudah ada tiga kejadian. Kartu identitas yang kami temukan, diduga merupakan milik korban lainnya.

Update:
Tadinya saya mengira KTP ini milik seorang korban, tapi ternyata KTP ini digunakan untuk kejahatan serupa di Bandung. Jadi saya menduga KTP ini KTP palsu!

Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal dan orang-orang yang tidak baik.

xx,
Tjetje

Nostalgia Anak Pramuka 

Tepuk pramuka

Prok…Prok…Prok…
Prok…Prok…Prok….
Praja Muda Karana
Hayo siapa yang masa mudanya pernah dihabiskan menjadi anak pramuka? Saya salah satunya dan saya masih memendam kebanggaan karena menjadi anak Pramuka Indonesia. Indonesia sendiri merupakan negara dengan anggota Pramuka terbesar di dunia, karena semua pelajar wajib jadi anak Pramuka. Walaupun tak wajib ikut kegiatannya setiap minggu.
Perkenalan pertama saya dengan Pramuka bermula saat sekolah dasar. Tapi tentunya saat itu di sekolah swasta saya, pramukanya “priyayi abis”. Tak ada ceritanya bermain pasir, masuk sungai ataupun terekspos dengan perkemahan. Hanya sekedar baris-berbaris dan tali-temali ketika matahari sudah mulai meredup. Kami yang “priyayi” ini tak pernah terpapar teriknya matahari.
Lalu, di masa SMP saya mulai berkenalan dengan pramuka yang sesungguhnya. Pramuka yang mengharuskan kami semua menggunakan sepatu warrior yang murah meriah. Jaman itu saya super kaget ngelihat warrior yang harganya hanya 30 ribu (ini jaman sebelum Pak Harto lengser ya). Saya juga merasakan kemah yang sesungguhnya di saat SMP. Kemah pramuka saya bermula di sebuah kabupaten di Malang. Persis di tanah kosong di belakang SMP 7 Malang. Saat itu, di belakang lahan kemah kami terdapat sungai yang digunakan oleh masyarakat setempat. Ketika pertama kali diberitahu penduduk lokal untuk sikat gigi di sungai tersebut saya hanya mengiyakan, tapi menunggu matahari terbit terlebih dahulu, untuk melihat kondisi sungai. Keputusan yang tepat karena  seperti layaknya sungai di berbagai tempat, segala aktivitas kehidupan dipusatkan disini. Segalanya! Dari mulai buang air, mandi, mencuci piring, hingga mencuci beras. Dan tak seperti di Badui yang mengatur perempuan untuk menggunakan sungai bagian atas (karena mereka yang mencuci beras), di sungai ini tak ada pembagian. Jadi ya jangan heran kalau tiba-tiba melihat bongkahan emas mengembang ketika sedang mandi. Selama masa kemah beberapa hari tersebut, saya sukses tak mandi tapi tetap sikat gigi dengan air kemasan.
Kekagetan saya tak berhenti disitu saja, ketika mengikuti jelajah Malang kota dan desa, kami nyemplung ke dalam sungai untuk menyeberangi sebuah area. Padahal tak jauh dari tempat kami nyemplung ada jembatan yang sudah susah payah dibangun dengan uang para pembayar pajak. Semua yang tergabung dalam regu kami, saya tak ingat lagi naa regunya, saling memegang tongkat kayu panjang yang menjadi senjata wajib anak Pramuka. Di dalam sungai itulah saya terjebak bersama bongkahan emas yang mengambang, lewat dengan tenangnya. Sialnya saya tak bisa langsung mandi tujuh kembang, karena harus melanjutkan perjalanan yang masih beberapa puluh kilometer. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan kepulangan saya ke rumah dengan kaki sekeras batu. Jaman itu cari tukang pijit di malam hari tak dimungkinkan. Tak kekurangan akal, kaki saya pun dipijat dengan botol kaca yang diisi air hangat. Mama saya pintar! 😀
Pramuka tak selamanya soal terpapar matahari hingga kulit kelam, berjalan jauh hingga kaki membatu, menghapalkan morse atau semaphore yang sampai sekarang tak pernah digunakan lagi, tali-temali, memanggul teman yang paling kecil, tapi juga melihat realita kota Malang dan Kabupatennya saat itu. Labelnya mungkin kota, tapi akses air bersih dan sanitasi pada tahun itu begitu buruk. Begitu juga dengan kondisi jalanan. Buat saya yang selalu melihat keindahan kota modern, Pramuka membuka mata saya akan dunia lain, dunia yang belum sepenuhnya terbangun dengan baik dan akhirnya menjadi bagian dari dunia pekerjaan saya. Pramuka juga membuat saya melihat kebaikan orang-orang desa yang menyemangati kami untuk terus melakukan perjalanan. Mereka yang rela memberikan semua air matang yang mereka punya untuk bekal minum kami.
Hubungan saya dengan Pramuka berhenti di tahun ketiga, saat saya harus fokus dengan ujian nasional. Sementara teman-teman saya sibuk ikut Jambore di Cibubur, saya asyik menikmati liburan saya di Jakarta sambil melihat mereka dari televisi (jaman dulu hebohnya luar biasa ketika melihat teman masuk TV).
Dua tahun yang lalu, sebelum saya meninggalkan kantor saya di Jakarta, saya ditugaskan bos besar di kantor untuk menghadiri upacara hari Pramuka dengan koh Ahok. Upacara ini pernah sekilas saya tulis di postingan berbahasa Inggris ini. Penugasan menyenangkan ini menghidupkan kembali banyak kenangan saya tentang Pramuka.
Ternyata setelah lebih dari dua puluh tahun saya masih bisa menyanyikan hymne dan membacakan Dasa Dharma Pramuka. Sang pemimpin upacara, Koh Ahok juga kocak. Beliau rupanya tak pernah jadi anak Pramuka sehingga tak tahu urutan dan protokol upacara. Akibatnya ketika baru memberikan pidato, beliau kembali menuju kursinya. Untung saja beliau segera dihentikan. Seperti diduga, sebelum upacara berakhir pun, hadirin menyeruak ke atas panggung untuk selfie. Ah anak pramuka sekarang tak sama lagi dengan anak pramuka jaman saya dulu. Satu hal yang agak saya sesalkan dari penugasan itu, saya tak bisa bersalaman dengan Ahok, padahal saya mewakili bos besar kantor. Koh Ahok hanya menyalami beberapa pejabat saja Deretan tempat saya duduk, kendati deretan terdepan dan VIP tak disalami. Dalam situasi seperti ini, saya agak baper, karena sebagai perempuan seringkali dianggap invisible dan tak lihat. Mungkin postingan ini harus saya cetak dan saya kirim ke Koh Ahok, supaya semua orang di deretan terdepan disalami oleh beliau.
Anyway, Selamat hari Pramuka! Semoga Pramuka Indonesia makin maju. Kalian, punya kenangan manis dengan Pramuka?
Xx,
Kakak Ailtje

Refleksi Tinggal di Negeri Orang

Waktu berjalan dengan cepat dan tak terasa saya sudah hampir dua tahun tinggal di Irlandia. Meninggalkan keluarga untuk membangun keluarga baru; meninggalkan teman-teman selama belasan, bahkan puluhan tahun dan harus memulai pertemanan yang baru, serta meninggalkan pekerjaan yang begitu saya cintai dan memulai bekerja dari nol, dari bawah.

Proses perubahan ini tentu saja mengubah saya sebagai individu dan mengubah cara saya melihat berbagai hal. Bullshit, kalau orang bilang tinggal di luar negeri itu tak akan mengubah apapun dari kita. Tinggal di luar negeri dan melihat hal-hal yang ajaib dan yang indah itu mengubah banyak sekali cara berpikir saya. Saya juga mendapat banyak pelajaran berharga yang tak saya dapatkan di sekolah.

Soal telepon genggam

Seperti yang pernah saya tulis di sini, transportasi umum di Irlandia itu lumayan okay. Kebanyakan tepat waktu, walaupun ada meleset-melesetnya satu atau dua menit. Tergantung kondisi jalan. Meleset yang sampai sejam gak muncul pun juga bisa kejadian, tapi biasanya kondisi seperti ini diumumkan di media sosial supaya penumpang gak bengong nungguin bis.

Karena bis umum tak muncul setiap saat, saya belajar untuk tepat waktu. Biasanya saya sudah berada di halte bis beberapa menit sebelum jadwal. Suatu hari, saya datang 10 menit lebih cepat, lalu membunuh waktu dengan menjelajah internet. Sementara itu bis saya tak kunjung muncul. Tunggu punya tunggu, bis saya tak muncul dong ya. Berhubung sudah agak gelap, saya pun menelpon ke pusat bis menanyakan apakah bis saya mengalami masalah. Petugas tersebut menginformasikan bahwa bis saya sudah berada sekitar lima stop dari halte saya. Berhubung bis selanjutnya baru akan muncul lebih dari satu jam, saya pun terpaksa naik taksi (dan jangan dibayangin naik turun taksi di sini semurah di Jakarta ya). Sejak saat itu saya KAPOK dan gak mau lagi terlalu terpaku pada media sosial ketika menunggu bis.

Menghargai matahari

Matahari di Irlandia itu barang langka, cuaca di sini cenderung mendung dan kelabu. Bagi kami, hari yang kering dan tak hujan itu, adalah hari yang menyenangkan. Sementara hari yang indah itu ya yang ada mataharinya. Dikasih matahari 15 derajat aja kami sudah bersyukur banget. Kalau dikasih 20-24 derajat, yang mana sangatlah jarang, pantai-pantai di sini bakalan penuh dengan orang-orang yang berjemur.

Bagi kalian yang tinggal di Indonesia yang terik mataharinya bisa bikin kulit terbakar, hal-hal sederhana ini tentunya satu hal yang biasa saja. Tapi Irlandia mengajarkan saya bahwa matahari itu menyenangkan, kulit terpapar matahari (dengan sunblock ya), juga sebuah hal yang menyenangkan. Irlandia juga mengajarkan saya untuk selalu aktif, asal ada matahari harus keluar jalan kaki, biar gak depresi kekurung di dalam rumah terus karena cuaca yang hujan melulu. 

Hidup sederhana

Satu hal penting yang saya hargai dari orang-orang Irlandia adalah kesederhanaan mereka dalam menjalani hidup. Kebanyakan orang Irlandia gak diburu dengan gaya hidup yang mengejar kemewahan. Bagi mereka, bisa beli baju murah meriah Penney’s (di luar Irlandia disebut Primark) adalah sebuah kebanggaan luar biasa. Gak punya tas bermerek di sini juga bukan hal yang memalukan. Sungguh jauh berbeda dengan gaya hidup Indonesia yang rela nyicil tas bermerek atau bahkan menghabiskan seluruh gaji demi sebuah tas. Menariknya, jika kita menggunakan tas bermerek di sini, suka malu hati sendiri kalau dipuji tasnya bagus, atau ditanya merek tasnya. Reaksi kekagetan mereka ketika mengetahui barang mahal itu bikin was-was.

Menariknya, dengan gaya biasa-biasa saja kita sebagai konsumen sangat dihargai. Coba di Jakarta, gaya biasa-biasa aja masuk mall. Kok ya di Jakarta, di Malang saja deh, gaya biasa-biasa aja bakalan menimbulkan pertanyaan. Saya sendiri pernah mengalami berhadapan dengan kasir yang ragu-ragu (dan tak enggan mempertanyakan keraguannya pada saya yang belanja dengan kartu kredit. Kartu hutang padahal, bukan kartu debit unlimited).

Pertemanan

Pertemanan saya rata-rata awet, berusia belasan, hingga puluhan tahun. Mencari teman itu memang seperti mencari jodoh, memerlukan proses panjang untuk mencari tahu kecocokan. Sejak menjelang pindah ke Irlandia, saya sudah banyak menerima wejangan dari para sesepuh yang tinggal di berbagai tempat di Eropa untuk berhati-hati dalam berteman dengan orang Indonesia. Pilih dengan hati-hati dan jangan terlalu banyak gaul dengan orang Indonesia.

Terus terang, cultural shock saya terbesar di Irlandia adalah soal pergaulan orang Indonesia. Memfitnah, melempar gosip, berargumentasi dengan emosi, atau bahkan menceritakan kembali rahasia dapur orang itu menjadi sebuah hal yang “biasa”. Orang-orang yang dengan entengnya membicarakan “teman-temannya” ini membuat saya mempertanyakan, apa yang akan mereka bicarakan tentang saya dengan orang lain?

Hidup dan pergaulan di Jakarta yang katanya kejam itu, ternyata gak ada apa-apanya dengan pergaulan di luar negeri. Pergaulan di sini keras, sangat keras. Satu wejangan yang saya pegang dengan teguh adalah untuk tidak menceritakan apapun dari dalam rumah tangga, yang baik, apalagi yang buruk, karena satu Irlandia (dari Selatan sampai Utara) bisa dengar. Tentunya dengan bumbu sana-sini. Beruntungnya, saya sudah dididik oleh Ibunda untuk menyimpan semua yang saya dengar dan tak menyampaikan apapun ke orang lain.

Now,
ijinkah saya pulang sejenak ke Indonesia, untuk menikmati matahari dan sembari bercanda-tawa dengan teman-teman terbaik saya, because I terribly miss them.

Kalian, punya pengalaman yang mengubah cara pandang dalam melihat hidup? Sharing dong!

xx,
Tjetje