Perisakan di Dunia Maya (Cyberbullying)

Pernah tahu kampanye anti perisakan UNICEF di tahun 2015 yang memenangkan penghargaan? Judul kampanyenya “One Shot is Enough”, dan seperti biasa, kampanye-kampanye UNICEF memang selalu menampar dan menarik. ini foto-foto kampanye tersebut:

One Shot unicef 1 One shot 2 one shot 3

Kampanye UNICEF ini menggambarkan betapa seriusnya kondisi perisakan di dunia maya (cyberbullying), dan dunia maya tak terbatas pada internet dan media sosial saja tetapi juga melalui gawai. Perisakan ini juga tak mengancam anak-anak saja, tetapi juga orang dewasa, tapi kali ini saya akan lebih fokus pada anak-anak, karena mereka lebih rentan dan karena data yang saya dapat memang berfokus pada anak-anak.

Data yang saya peroleh (data Unicef dan sebuahkementerian) menunjukkan bahwa 6 dari 10 anak-anak tak paham apa itu perisakan di dunia maya dan setidaknya 1 dari 10 anak mengalami perisakan di dunia maya. 1 dari 10 yang pernah dirisak, mengalami perisakan di sosial media. Ini data diambil di Indonesia tahun 2012 ya, empat tahun yang lalu. Angka ini, kalau saya perkirakan sih gak turun, tapi meningkat seiring dengan bertambahnya sosial media dan tentunya, seiring dengan makin mudahnya akses terhadap gawai.

Terdapat banyak tipe perisakan di dunia maya beberapa di antaranya saya sarikan di bawah ini:

  • Eklusi (Exclusion) : kesengajaan untuk tidak mengikutsertakan individu-individu baik di dalam grup-grup di sosial media maupun di kelompok-kelompok chatting. Eklusi ini mengirimkan pesan kuat (tanpa perlu diutarakan) bahwa korban tak diterima sebagai bagian dari sebuah grup. Bagi anak-anak dan remaja, eklusi ini sangat menekan, apalagi anak-anak muda merasa perlunya pengakuan dari teman-teman mereka. Kok anak remaja, orang dewasa aja suka kebakaran jenggot kalau ada obrolan di grup-grup yang eklusif yang mereka tak diajak.
  • Outing: Saya tahu apa bahasa Indonesia yang tepat untuk menggambarkan outing, yang jelas outing disini tidak berarti jalan-jalan dalam grup besar ke luar kantor atau ke luar sekolah ya. Outing disini merupakan tindakan mempermalukan dengan menyebarkan komunikasi antara pelaku dengan komunikasi antara korban yang tujuannya untuk mempermalukan. Yang parah, beberapa outing juga melibatkan foto-foto ataupun video yang bersifat sangat pribadi.
  • Harassment: Nah ini apalagi terjemahannya?Entahlah, tapi  harassment saya artikan sebagai  pengusikan secara terus-menerus dengan cara mengirimkan pesan-pesan yang tidak menyenangkan dan yang bersifat melecehkan.
  • Cyberstalking:  Masih berkaitan dengan harassment, cyberstalking ini membuntuti secara daring. Kemanapun perginya sang korban akan dipantau terus-menerus oleh sang pelaku untuk entah dicari kesalahannya, dicuri data-datanya (foto-foto) dan juga diusik.
  • Impersonation: Nah ini persis kayak yang dialami sepupu saya di sini.  Kalau sepupu saya diambil foto-fotonya untuk disalahgunakan dengan memukau perempuan-perempuan serta mengambil uang mereka, impersonation disini bertujuan untuk memalukan  dan merusak image sang korban. Jadi tak heran kalau sang pelaku yang berkedok sebagai korban kemudian banyak melakukan hal-hal diluar kebiasaan seperti menawari foto seksi atau mengajak melakukan hubungan seksual.
  • Merusak image: Tak hanya dilakukan dengan cara impersonation, merusak image juga dapat dilakukan dengan menyebarkan gosip tak benar. Ini gak cuma anak-anak ya, tapi orang dewasa juga rajin melakukan ini.
  • Trickery: Semacam phising. Memancing sang korban untuk memberikan tak hanya kata sandi, tetapi juga informasi-informasi lain yang bersifat pribadi. Dalam hubungan percintaan remaja pun hal ini banyak terjadi dengan mengatasnamakan cinta. Oh halo…kalau kamu cinta, gak usah minta kata sandi segala lah.
  • Flaming: Teknik memancing argumen di dunia maya, biasanya di forum, dengan menggunakan kata-kata vulgar dan tak sopan. Cari ribut kalau kata kita, tapi cari ributnya terus-terusan. Kalau di kaskus yang kayak gini sih biasanya dilempari batu bata. Tapi masalahnya di media sosial yang lain, tak ada sistem lempar bata.
  • Pemerasan: Nah ini yang tak kalah membahayakan. Mengancam menyebarkan foto atau pribadi yang bersifat pribadi jika sang korban tak memberikan uang ataupun foto/ video seksi. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Amanda Todd di Canada sana. Foto pribadi Amanda diancam akan disebarluaskan dan ia dipaksa untuk memberikan lebih banyak foto yang bersifat pribadi. Amanda akhirnya bunuh diri. Pelakunya warga negara Belanda dan Turki yang ada di sisi lain, jauh dari Canada.

Resikonya perisakan di dunia maya memang tak hanya stress, serta depresi, tetapi juga bisa menyebabkan kematian seperti kasus Amanda di atas. Pelakunya tak harus orang-orang jauh seperti yang dialami Amanda Todd, tapi bisa juga orang-orang terdekat seperti mantan pacar yang dendam membara. Salah satu kasus yang terkenal adalah kasus Jessica Logan yang kemudian membuat perubahan di dunia hukum. Tapi ya tetep, sang korban tak bisa dibawa kembali, karena terlanjur bunuh diri.

Salah satu hal penting untuk mencegah perisakan di dunia maya adalah dengan mengedukasi diri sendiri ataupun anak-anak di lingkungan kita. Seperti saya tulis di atas, anak-anak jauh lebih rentan dalam menghadapi resiko perisakan. Batasi juga akses terhadap gawai bagi anak-anak termasuk media sosial. Jika mereka belum cukup usia, mendingan gak memaksakan diri membuat profil di media sosial deh, daripada terpapar dengan segala macam “kekerasan dunia maya.”

Selain hal-hal di atas, jangan pernah memberikan informasi yang bersifat pribadi. Apalagi jika berhubungan dengan foto-foto yang bersifat privat. Pesan penting ini tak hanya untuk anak-anak saja tapi juga para mbak-mbak di luar sana, terutama para bule hunter, yang pengen punya pacar atau suami bule. Sepengen-pengennya, jangan pernah kasih foto seksi.Pengguna media sosial sendiri sangat saya sarankan untuk mengubah pengaturan menjadi lebih privat. Ingat, hal-hal yang sudah keluar di internet sana, tak bisa dengan mudahnya dihapus. Jadi tak ada salahnya parno sedikit.

Bagaimana dengan para bloggers? Jangan salah, blogger juga berisiko dirisak oleh pembacanya atau sesama blogger lainnya. Komentar-komentar pedas (apalagi kalau pedasnya campur-campur bodoh) sih tak pernah saya anggap sebagai sebuah bentuk perisakan, kecuali jika dilakukan secara rutin dan sudah merambah media sosial lainnya. Kalau masih kelas-kelas teri aja paling tak saya tanggapi dan saya tandai ke dalam spam. Huh! Yang mulai perlu diberi perhatian jika komentar tersebut sudah mengarah pada ancaman kekerasan atau bahkan ancaman pembunuhan.

Punya tips lain untuk mencegah cyberbullying?

xx,
Tjetje
Masih memendam hasrat kerja di UNICEF

Baca juga: Hati-hati Mencari Bule Online yang mengulas tentang scammer cinta. 

Perisakan di Sekolah

Dunia Waria

Pekerjaan saya yang saya tinggalkan di Jakarta, memberikan banyak sekali kesempatan dan juga ruang belajar, apalagi ketika berkaitan dengan diskriminasi dan kelompok-kelompok terpinggirkan. Nah salah satu kelompok terpinggirkan yang pernah saya pelajari secara singkat adalah transjender atau yang lebih dikenal sebagai waria.
Waria ini merupakan kelompok yang sangat termarjinalisasi. Saking termarjinalisasinya, bos saya sampai pernah berpesan (rasanya pesan ini pernah saya tulis juga di blog ini): jika bertemu dengan transjender yang sedang mengamen atau mengemis, berilah mereka sedikit uang karena hidup mereka sangatlah berat.
Transjender itu hidupnya berat, sangat berat dan penuh dengan pergulatan sejak usia dini. Mereka berperang dengan dirinya karena merasa terperangkap di dalam tubuh yang salah. Dalam kondisi seperti ini, seringkali mereka mengalami tekanan dan juga perisakan dari lingkungan sosialnya. Soal perisakan dan LGBT, kapan-kapan saya bahas terpisah karena blogger malas ini masih belum selesai baca materinya. Keluarga yang seharusnya memberikan dukungan juga seringkali gagal karena malu terhadap lingkungan. Pada banyak kasus, transjender yang beranjak remaja dan mulai berani menunjukkan identitasnya, seringkali diusir atau bahkan dibuang dari keluarga (baca: tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga) karena mereka dianggap aib. Anak-anak transjender juga tak sedikit yang lari dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya.
Transstudent org
Pada saat yang sama, para transjender juga harus berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah bisa memahami pergulatan mereka. Wajar jika kita tak paham pergulatan mereka, karena mungkin kita tak punya informasi apa yang sebenarnya mereka alami. Nah jika ingin memahami mereka, mungkin salah satu kasus menarik yang bisa dipakai sebagai referensi adalah kasus David Reimer. David Reimer ini terlahir sebagai pria, tapi kemudian dioperasi menjadi perempuan ketika masih kecil kemudian dibesarkan sebagai perempuan. Sepanjang hidupnya ia mengalami pergulatan batin yang luar biasa, karena memang ia bukan perempuan dan ia tahu bahwa ia bukan perempuan. Pergulatan inilah yang dialami oleh para transjender, terjebak dalam tubuh yang salah, sementara hati dan pikiran mereka mengatakan bahwa mereka memiliki jender yang berbeda.
Kembali lagi pada transjender yang lari ke jalanan. Jalanan menjadi ruang yang lebih terbuka dalam menerima mereka, tentunya jalanan hanya ramah ketika Satpol PP tak sedang iseng beroperasi. Di jalanan yang keras ini banyak dari mereka yang terpaksa menjadi pengamen, atau pekerja seksual (bahkan menghadapi resiko diperkosa dan juga terpapar HIV/AIDS). Sementara beberapa yang lebih beruntung berada pada pekerjaan lain, seperti dunia hiburan ataupun kecantikan. Tapi harus diakui, pekerjaan bagi para waria memang hanya terbatas pada hal-hal tertentu, padahal saya yakin banyak dari mereka yang memiliki potentsi tapi kondisi menghentikan impian mereka.
Menariknya, di sebuah dokumenter saya mendengar bahwa di jaman Pak Harto yang konon sangat opresif para transjender hidup lebih nyaman dan damai. Dokumenter ini judulnya waria zone dan DVDnya bisa didapat dengan harga 12 Euro dari website ini. Sayangnya trailer dari film ini ada di Vimeo, jadi kemungkinan tak bisa ditonton oleh sebagian dari kalian, karena  #YangMuliaTukangSensorTiffie meninggalkan pencapaian indah selama masa jabatannya: SENSOR!
Kendati bicara tentang diskriminasi dan kerasnya hidup para waria, dua tahun lalu, ketika film ini diputar di lingkungan tempat saya bekerja, saya menengar bisik-bisik para waria yang terlibat di dalam film ini tak mendapatkan komisi apa-apa dari penjulan film ini. Mereka sudah dipaksa menandatangi pelepasan hak. Ini dua tahun lalu ya, semoga saja sekarang mereka sudah mendapatkan setidaknya segenggam beras.
Kendati waria sudah ada di lingkungan kita sejak lama, banyak dari kita yang tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan baik dan benar dengan mereka. Beberapa tips dari saya untuk berinteraksi dengan mereka:
  • Jangan pernah panggil mereka banci atau bencong. Tak sopan dan menyakitkan.  Jika punya anak, ajari juga mereka untuk bisa lebih baik pada waria. Setidaknya, tak perlu bisik-bisik dan meneriaki mereka, apalagi sampai lempar batu. Come on, they are human too.
  • Dalam berinteraksi, wajib hukumnya bertanya bagaimana mereka mau dipanggil. Jika mereka mempresentasikan diri sebagai perempuan, jangan sekali-sekali manggil mereka Mas, Abang atau Bli. Panggil mereka Mbak, Neng, Mbok, Kakak, ataupun Nona. Yang paling utama, jangan pula memanggil mereka dengan nama lahir mereka, kecuali mereka meminta hal tersebut. Bayangin aja kalau ketemu Caitlyn Jenner di Starbucks, gak bener kan kalau kita teriak-teriak Mas Bruce  lalu minta selfie.
  • Kelamin dan operasi menjadi sebuah hal tabu yang tak patut ditanyakan, dalam situasi apapun dan sedekat apapun. Mengapa? Ya mereka aja tak sibuk menanyakan bagaimana bentuk kelamin kita, kok kita tiba-tiba merasa punya hak untuk kepo menanyakan apa saja yang sudah mereka lakukan dengan kelaminnya. Kalau nanya tak boleh, megang-megang juga tak boleh dilakukan ya.
Sebagai manusia yang katanya berbudi luhur, tugas kita bukan menghakimi apalagi sibuk ngurusin kemana mereka pergi setelah mereka meninggal dunia (baca: sibuk ngumpatin mereka masuk neraka sambil komat-kamit, dosa…dosa…dosa padahal dirinya lagi bikin dosa). Tugas kita sebagai manusia itu cuma satu, memanusiakan mereka supaya mereka tak termarjinalisasi dan bisa mendapatkan hidup yang tenang. Kalau belum bisa, ya cukup seperti saya, rogoh kocek setiap kali melihat para pengamen transjender. Ingat ya, hidup mereka penuh dengan pergulatan dan kita tak perlu ikut-ikut bikin hidup mereka makin susah.
Permisi dulu, saya mau menghabiskan akhir pekan dengan ikutan ikut Gay Pride. Nanti foto-fotonya bisa dilihat di IG saya.

Happy Pride!

xx,
Tjetje

Merendahkan Pekerja Rumah Tangga

 

Halo selamat siang warga Indonesia. Apa kabar kalian semua? Gimana sudah mulai deg-degan karena si Mbak sudah mulai beberes tasnya dan siap-siap mau mudik selama beberapa minggu? Apakah kepala sudah pusing karena panic harus mengurus rumah sendiri? Saya yakin sebagian dari kalian juga ikutan packing kan? Ikutan mudik ke kampung dan tentunya sebagian dari kalian mudik ke hotel karena ditinggal Mbak.

Disaat seperti ini, sebagian warga (terutama warga Jakarta ya) memang dilanda kepanikan karena tak ada si Mbak. Peran para pekerja rumah tangga yang bertanggung jawab atas manajemen rumah tangga ini memang sangat vital. Nah pertanyaan besar yang selalu saya tanyakan: “Jika manajemen rumah tangga begitu pentingnya, mengapa kemudian pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan rendahan. Parahnya, kenapa pekerja rumah tangga dianggap sebagai pekerja rendahan dan dianggap tak setara dengan kita. Di jaman yang sudah tak mengenal kasta lagi, mereka masih dianggap sebagai orang-orang dengan kasta rendahan. Padahal manusia itu sama-sama sederajat dan setara. Pekerjaan tak mendefinisikan derajat kita.”

Pertanyaan saya ini membawa saya pada beberapa kesimpulan:

  • Pekerjaan rumah tangga dianggap tak memerlukan keterampilan

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, ada anggapan dalam masyarakat kita yang melihat pekerjaan rumah tangga ini tak memerlukan keterampilan apalagi kemampuan intelektual. Yang diperlukan hanya kemampuan fisik.Padahal kalau kita mau sedikit lebih cerdas melihatnya, diperlukan kemampuan manajemen yang luar biasa untuk mengatur rumah tangga. Dari mulai skala prioritas, menentukan pekerjaan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, hingga manajemen stok supaya tak ada kepanikan akibat beras ataupun telur habis. Prinsip manajemen FIFO, first in first out pun juga harus diterapkan supaya makanan yang dibeli tak membusuk di dalam kulkas.

Tak hanya itu harus ada kemampuan negosiasi yang baik, apalagi jika anggaran rumah tangga terbatas, sementara inflasi (apalagi menjelang lebaran ini) meroket gila-gilaan. Saya yakin para ibu-ibu juga banyak yang frustasi ketika berhadapan dengan pekerja rumah tangga yang baru datang dari kampung kan dan harus ngajarin kan? Nah kalau sudah gitu masih mau ngenyek pekerja rumah tangga sebagai pekerja rendahan dan yang tak memerlukan otak sama sekali?

  • Pendidikan Pekerja Rumah Tangga yang rendah

Tak bisa dipungkiri, sebagian pekerja rumah tangga memiliki pendidikan yang kurang tinggi. Kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan mengapa mereka tak bisa meraih pendidikan yang layak. Teorinya memang pendidikan di Indonesia sudah gratis, tapi faktanya, masih banyak sekolah yang tak segan minta biaya tambahan ini itu. Nah jangan salahkan pekerja rumah tangga jika mereka tak punya pendidikan yang cukup. Salahkan pemerintah yang gagal memberikan pendidikan layak pada semua orang serta memberantas kemiskinan dan mensejahterakan seluru masyarakatnya.

Pada saat yang sama, rendahnya pendidikan tak membuat pekerjaan itu menjadi pekerjaan rendahan. Jika pola pikir kita dalam melihat pekerjaan rumah tangga itu sebagai pekerjaan rendahan, ya jangan heran kalau kemudian perempuan yang bersekolah tinggi kemudian terkenal komentar negatif macam:

“Sayang kan sudah sekolah tinggi-tinggi kok kerjanya di dapur aja”

Sebuah pemikiran yang norak yang tak bersahabat dengan kemajuan perempuan dan sayangnya masih banyak terjadi di lingkungan kita. Dan parahnya sebagian lingkungan sosial kita mendikte perempuan tak perlu bersekolah tinggi-tinggi karena akhirnya pasti akan ke dapur juga.

  • Perbudakan Modern

Pekerja rumah tangga serta pekerjaan rumah tangga kemudian semakin identik dengan pekerjaan rendahan karena pekerjaan ini tak ubahnya perbudakan modern. Dan sejujurnya, mbak-mbak yang ada di rumah kalian itu mungkin lebih memilih bekerja di toko ketimbang terkurung di dalam rumah, rumah mewah dengan mobil 15 biji dan kolam renang sebesar lapangan sepakbola sekalipun.

Pertama, bekerja di rumah memberikan mereka gaji yang jauh di bawah UMR. Pendidikan mereka yang rendah serta akomodasi dan makanan yang disediakan menjadi alasan  untuk memberikan mereka upah yang kadang-kadang hanya sepertiga dari UMR.

Seperti saya telah tulis berulang kali, tidak ada jam kerja yang jelas bagi mereka. Pada bulan Ramadan seperti ini, para pekerja rumah tangga biasanya bekerja lebih keras. Mereka harus bangun lebih pagi untuk memastikan sahur disajikan sebelum waktu imsak, sementara pada saat jam buka puasa mereka harus membuat menu tambahan seperti kolak, es buah, ataupun penganan kecil lainnya (nulisnya sambil miris karena membayangkan indahnya penganan berbuka di nusantara). Sementara, pekerjaan rumah lainnya tetap berjalan dengan normal. Tambahan waktu bangun pagi ini tak pernah dianggap sebagai over time dan dihargai lebih. Lagi-lagi alasannya karena tugas mereka kan ringan, santai, mereka bisa tidur di tengah hari dan seabrek lainnya. Tapi coba balik kondisi ini pada diri kita sendiri, pasti kita sudah berteriak-teriak menuntut hak yang lebih banyak.

Para pekerja rumah tangga juga sering terkurung di dalam rumah. Saat malam minggu hanya boleh nonton TV, tak boleh jalan-jalan dengan abang tukang gado-gado, ataupun tukang bangunan yang sedang mengerjakan proyek rumah sebelah. Sang pemberi rumah tangga biasanya takut jika si mbak jadi cepat-cepat minta kawin ataupun hamil di luar perkawinan. Padahal si Mbak pengen cepet-cepet kawin supaya tak terus menerus diperbudak.

Pekerja rumah tangga yang akan mudik ini juga diberi cuti yang tak jelas. Pulang kampung selama 2 minggu saja omelan sang pemberi kerja sudah panjang. Maunya sepuluh hari atau bahkan seminggu saja. Padahal, kebijakan negeri ini mengatur cuti 12 hari. Selain cuti mereka juga berhak atas hari libur pada akhir pekan. Nah jumlahkan saja akhir pekan yang mereka tak diperkenankan keluar rumah, ada 104 hari. 52 hari Minggu dan 52 hari Sabtu yang terampas dari hidup mereka, tanpa uang lembur.

Nah karena mereka diperlakukan seperti budak inilah mereka dilihat sebagai pekerja rendahan. Padahal sebagai manusia-manusia yang ngakunya intelektual dan berpendidikan tinggi (dan punya Tuhan juga), kita tak selayaknya memperlakukan mereka seperti ini.

Seperti saya tulis di atas, kegagalan kita dalam menghargai para pekerja rumah tangga dan pekerjaan mereka secara tak langsung juga berimbas pada ibu-ibu rumah tangga  yang sering dipandang sebelah mata karena pilihannya untuk bekerja di rumah. Para Ibu rumah tangga dan para pekerja rumah tangga ini dianggap sebagai pekerja rendahan.Tak ada yang salah dari pekerjaan rumah tangga dan pekerja rumah tangga. Yang salah itu cara pikir kita yang terlalu mengkasta-kastakan pekerjaan orang lain. Ini yang mestinya dirubah.

Kamu, pernahkah menganggap pekerjaan rumah tangga dan pekerja rumah tangga sebagai hal rendahan?

Xx,
Tjetje
Pekerja Rumah Tangga paruh waktu yang tak mampu bayar pekerja rumah tangga karena disini mereka sangat dihargai dan biaya memperkerjakan mereka sangat mahal. 

Perisakan di Sekolah

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman Indonesia yang tinggal di Jazirah Arab menuliskan pengalaman anaknya dirisak oleh anak lain di dalam bis sekolah. Sang anak yang belum genap sepuluh tahun melaporkan pada orang tuanya dan sang ibu tak tinggal diam. Pihak sekolah, yang bukan sekolah murah, bergerak cepat dalam menangani hal tersebut dan sang anak pun selamat dari dampak lebih lanjut perisakan. 👋

Ini bukan kasus perisakan di sekolah yang saya dengar. Saat saya bersekolah di sebuah sekolah Katolik di kawasan Jaksa Agung Suprapto Malang, saya pernah dirisak oleh seorang guru. Saat itu, saya yang masih SD tetapi tidak bau kencur bisa melihat bahwa sang guru ini tak akan merisak anak-anak yang datang dari keluarga kaya. Sementara yang datang dari keluarga biasa-biasa, tak mengambil kursus privat dengan sang guru serta tak rajin memberi upeti, seperti saya, rajin dirisak dengan kata-kata kasar. Perisakan ini berlangsung terus menerus lho. Bahkan ketika saya sakit, saya pernah dituduh pura-pura sakit. Dituduh seperti itu di depan lebih dari 30 orang teman sekelas rasanya menyesakkan dan sampai hari ini hal tersebut membekas di kepala saya.

Bullying

Diambil dari NYdailynews.com

Guru yang sama merisak salah satu orang dekat saya. Jika saya cuek dan menelan semua perilaku sang guru, korban selanjutnya menolak untuk bersekolah. Bahkan rayuan dari suster kepala sekolah tak juga diindahkan dan kegiatan mogok sekolah dilakukan. Korban perisakan ini kemudian menolak untuk sekolah disana selamanya dan lebih memilih untuk pindah sekolah. Padahal kepindahan sekolah pada tahun terakhir studi membuat sang korban harus menunggu tahun ajaran berikutnya (karena masalah administrasi Ebtanas). Sampai detik ini saya tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang saya tahu perisakan itu telah mengakibatkan hilangnya satu tahun hidup sang korban. Beginilah kalau guru tak memahami psikologi anak.

Sekolah-sekolah tempat perisakan di atas terjadi bukanlah sekolah murah. Perisakan memang tak kenal sekolah mahal ataupun sekolah murah. Dari sebuah presentasi UNICEF awal tahun ini, data menunjukkan bahwa 50% anak-anak kelas 8-9 mengalami perisakan. Korban perisakan anak laki-laki sendiri jauh lebih tinggi ketimbang perempuan. Yang mengejutkan, Indonesia ternyata merupakan negara kedua dengan perisakan tertinggi, setelah Jepang..mengejutkan!

Dicomot dari presentasi UNICEF

Bagaimana dengan pelakunya? Pelaku perisakan tak hanya guru, seperti yang saya alami, tetapi juga teman satu sekolah, baik yang di dalam kelas yang sama atau yang lebih senior. Soal senioritas ini tentunya kita masih ingat dengan kasus perisakan fisik yang berujung kematian di sebuah sekolah terkenal di Jakarta.

Perisakan tak hanya yang sekali di awal tahun ajaran dalam masa yang lebih pendek, tetapi juga terus menerus sepanjang masa studi. Di jaman modern ini perisakan juga sudah melebar hingga ke ranah media sosial. Yang membahayakan, perisakan ini menyebabkan kerusakan tak hanya diisi rapi juga psikologis. Pada beberapa kasus bahwa menyebabkan kematian dan bunuh diri.

Bagi orang tua, ada beberapa hal penting yang rupanya perlu dilakukan:

1. Beritahu anak apa itu perisakan, termasuk cyber bullying. Soal ini nanti kapan-kapan saya tulis terpisah ya. Datanya tak kalah mengagetkan
2. Ajarkan juga anak untuk bercerita. Ini orang tuanya juga mesti belajar mendengarkan ya. Jangan sibuk main gawai aja. Pada saat yang sama, orang tuanya juga jangan bereaksi secara berlebihan. Apalagi langsung nyamperin si anak yang melakukan perisakan. Jangan ya jangan!
3. Komunikasikan pada sekolah dan minta sekolah mengeluarkan rencana yang jelas untuk menangani hal ini.
4. Sebelum memilih sekolah ada gunanya menanyakan apakah sekolah memiliki kebijakan perlindungan anak (child protection policy) dan ramah anak. Ini mestinya diletakkan di nomor satu ya. Btw, Sekolah Cikal di Jakarta konon punya kebijakan ini. Ah tahu gitu saya sekolah di sana aja, gak usah repot-repot sekolah di Malang dan dirisak guru edan itu.

Bagaimana dengan kalian, pernah mengalami perisakan di jaman sekolah?

Xx,
Tjetje

Baca informasi lebih lanjut tentang program anti bullying UNICEF di Indonesia di sini.
Booklet untuk orang tua bisa diunduh di sini (dalam bahasa Inggris)

Baca juga: Perisakan di Dunia Maya (Cyberbullying)

Diskriminasi Dunia Kerja

Dalam sebuah sesi pekerjaan yang saya hadiri di Jakarta beberapa tahun lalu, tantangan bagi para penderita disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan di Indonesia ada beberapa. Dari mulai akses fasilitas hingga stigma yang melekat. Di sebuah pabrik di Jawa Timur bahkan ada yang enggan mempekerjakan orang dengan disabilitas karena takut masyarakat menganggap kerja di pabrik itu mengakibatkan disabilitas. Tak heran jika kemudian perusahaan (termasuk negara) sering mencantumkan kalimat sakti “sehat jasmani dan rohani” untuk mendiskriminasi penyandang disabilitas. Padahal mereka juga sehat-sehat lho.

Diskriminasi karena disabilitas bukan satu-satunya diskriminasi yang timbul karena mencari pekerjaan. Beberapa yang saya catat termasuk tinggi badan, kecantikan, status perkawinan, kehamilan, jenis kelamin, hingga latar belakang ras dan agama.

Tinggi Badan 
Di banyak lowongan pekerjaan yang ditulis di koran atau media lainnya, minimal tinggi badan menjadi salah satu ketentuan yang dicari oleh pemberi kerja. Biasanya tinggi badan minimal yang diperlukan 160cm. Untuk pekerjaan seperti pramugari sih saya paham betul karena pramugari harus memiliki jangkauan tangan tertentu untuk meraih head compartment. Tapi yang saya kurang paham, bagaimana orang-orang yang kurang tinggi, seperti saya harus dibatasi kesempatannya untuk menjadi SPG ataupun front line staff. Mungkin saja persyaratan ini erat kaitannya dengan persepsi konsumen yang tak menganggap serius orang yang kurang tinggi. Atau mungkin, target market para SPG dan front line staff tersebut para raksasa yang tak mungkin digapai jika tubuh hanya 1.5 meter.
Akibat dari diskriminasi ini, orang-orang bertubuh pendek diidentikkan dengan kecerdasan. Saya tak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi yang jelas yang bertubuh pendek harus lebih rajin belajar supaya bisa masuk jajaran manajemen.

Berpenampilan menarik
Nah ini salah satu persyaratan mencari pekerjaan lain yang bagi saya mengganggu karena definisi menarik itu sangatlah relatif. Selain itu persyaratan ini saya lihat sebagai bentuk patriarkis. Maunya disuguhi perempuan-perempuan cantik. Cantiknya pun menggunakan standard tak jelas, seperti kulit putih, tubuh tinggi, rambut lurus. Padahal, semua perempuan itu cantik dan menarik.

Angelina Jolie misalnya bisa dianggap menarik dan cantik oleh Brad Pitt dan para fansnya. Tapi bagi saya ia tak menarik sama sekali. Lha kalau sudah gitu, apakah Angelina Jolie tak patut dipekerjakan kendati memenuhi kualifikasi?

Urusan kelamin dan rahim
Jika para Tante dan Oom sering berlomba menanyakan status hubungan dengan kekasih yang tak kunjung resmi, para pemberi kerja justru sebaliknya. Tak ingin sebagian calon pekerjanya segera menikah. Kesiapan untuk tidak menikah selama beberapa tahun ini kemudian dikunci dalam perjanjian kerja yang membatasi ruang. Saya menduga lahirnya kebijakan ini karena sering terjadi pengunduran diri dari pegawai setelah menikah. Nah MUI tuh daripada ngurusin yang engga-engga, harusnya mengurusi pembatasan hak yang seperti ini.

Urusan lain yang tak menjadi hak perusahaan untuk mengurus adalah urusan penggunaan rahim. Perusahaan tak mengijinkan pegawai perempuannya untuk hamil dalam periode tertentu (sementara pegawai pria dibebaskan untuk menghamili pasangannya?). Padahal urusan penggunaan rahim adalah urusan pemilik tubuh, bukan urusan pemberi kerja. Pada saat yang bersamaan, ada tempat-tempat kerja tertentu yang tak mau menerima perempuan yang hamil (dan memilih pria) sebagai pekerja karena keengganan memberikan cuti hamil. Mereka menganggap memperkerjakan perempuan hamil itu “merugikan”.

Ajaibnya, saya pernah tahu beberapa perempuan yang marah-marah karena hal ini. Bukan karena tak dipekerjakan tapi karena mereka tak mau memperkerjakan perempuan hamil. Sesama perempuan lho. Ya jangan heran kalau kemudian banyak yang menyembunyikan status pekerjaan anda atau status kehamilan, karena perusahaan seringkali mempertimbangkan kondisi ini sebagai dasar menerima atau menolak kandidat. Sebuah diskriminasi yang tak dialami oleh pria.

Btw, aturan ini muncul, saya rasa, karena mereka yang membuat kebijakan ini lahirnya dari telur yang dierami. Begitu lahir mereka bisa langsung berhamburan seperti anak ayam, sehingga mereka tahu tahu jika perempuan hamil perlu waktu untuk mengurus bayi menjelang dan setelah kehadiran sang bayi.

Urusan agama dan kesukuan
Ada satu anggapan bahwa salah satu institusi keuangan di sebuah negeri ini lebih memilih memperkerjakan orang-orang dari latar belakang tertentu dan keberagaman di institusi tersebut kurang. Saya tak pernah bekerja di institusi tersebut, sehingga tak bisa memberikan komentar lebih jauh. Tapi anggapan ini beredar kencang di masyarakat kita, hingga nama institusi ini pun diplesetkan menjadi nama suku tertentu.

Ketika mengunjungi Papua, salah satu partner yang kami temui pernah berkeluh kesah tentang kesulitan yang dihadapi oleh generasi kedua transmigran. Di Papua sana, prioritas menjadi PNS diberikan kepada putra daerah, bukan kepada seluruh warga Papua. Pemberian prioritas ini bagus, untuk memajukan orang-orang Papua. Tapi kemudian timbul masalah anak-anak transmigran generasi yang besar dan tumbuh di Papua kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai PNS. Situasi ini serba salah, karena sang anak memang tidak memiliki karakteristik Papua tapi pada saat yang sama mereka tak punya ikatan dengan kampung halaman sang orang tua.

Menariknya, saya justru pernah menemukan lowongan pekerjaan yang dikhususkan kepada pemeluk agama minoritas. Analisis saya sih mereka dicari karena terkenal jujur dan tak mau mencuri, sehingga bagus untuk bisnis. Tapi, kejujuran seharusnya tak mengenal agama atau suku tertentu.

Diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan tak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di berbagai belahan dunia. Bahkan negara maju seperti Perancis pun masih bergulat dengan isu ini. Ah semoga saja Indonesia bisa segera melihat masalah ini dan melakukan sesuatu ya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah menghadapi diskriminasi untuk mendapatkan pekerjaan?

Xx,
Tjetje

Terpukau Tentara di Sosial Media

Minggu lalu, seorang adik sepupu saya yang mengabdi di sebuah kesatuan tetara mengunggah tangkapan layar Instagramnya yang dibajak oleh seorang perempuan cantik dengan email berakhiran .ru. Saya menduga sang pembajak adalah spammer yang berniat membagikan link-link busuk. Ternyata dugaan saya benar, foto profil sepupu saya diganti dengan foto mbak-mbak bule cantik dan seksi, sementara link biodata sepupu saya ini juga berubah menjadi .xyz. Bisa diduga, pria-pria yang melihat perempuan seksi dan link yang mengajak chatting akan terpancing untuk mengklik link tersebut. Padahal saya yakin tak ada perempuan seksi di balik link tersebut. Yang ada hanya malware yang akan merusak gawai.

Akun profil yang tadinya terbuka juga berubah menjadi tertutup. Menyebalkan, apalagi saudara saya ini followersnya tak sedikit. Lebih dari seribu followers. Saya tak tinggal diam dan langsung mengirimkan formulir supaya akun yang diretas ini bisa dilaporkan. Tapi yang mengesalkan, ia diharuskan menunggu hingga 7 hari. Hadueh Instagram….mau ngunci akun ke hacked kok harus sampai 7 hari sih. Btw, sepupu saya bukan satu-satunya orang yang saya tahu akunnya dihacked, adik ipar saya juga mengalami hal serupa dan kehilangan akunnya.

Terus terang saya bergerak cepat mengirimkan formulir dan ngotot supaya ia melaporkan agar akunnya tak disalahgunakan untuk penipuan. Ternyata oh ternyata, adik saya ini sudah pensiun dari dunia Facebook, karena akunnya dicopy, bukan dibajak, orang dan disalahgunakan untuk menipu. Deg…..rasanya kaget dengar hal seperti itu.

Jadi begini modusnya:

Foto-foto sepupu saya ini diunduh oleh sang penipu, lalu dibuat menjadi profil-profil bajakan oleh penipunya. Profil bajakan ini, tak hanya satu tetapi setidaknya ada 7 yang ia tahu. Oleh sang penipu, adik saya di blok, sehingga tak bisa menemukan dan melaporkan akun tersebut. Ia mengetahui akun bajakan tersebut dari rekan-rekannya. Terlebih lagi melaporkan akun ini juga ribet, karena ia harus mengunggah identitasnya.

Masalahnya, muncul ketika nama dan fotonya disalahgunakan untuk menipu perempuan-perempuan dan mengambil uang dari mereka. Alasan yang digunakan penipu macam-macam, dari mulai kecelakaan dan memerlukan uang hingga dijanjikan kawin. Dan bodohnya, saya ulang lagi ah pakai huruf besar: BODOHNYA banyak yang terjebak dan rela memberikan uang padahal belum pernah bertemu dan baru kenal seumur jagung, di dunia maya pula.

Meminta uang ataupun meminjam uang karena alasan kecelakaan itu bagi TNI kok terdengar sebagai sebuah hal yang bodoh, karena TNI (dan juga Polri) itu sudah dijamin biaya kesehatannya oleh negara. Tapi ya harap dimaklumi saja, mungkin para korban ini sudah kadung mabuk, mabuk cinta dan juga dibuai mimpi untuk menjadi ibu Persit.

Tak cukup sampai sana, adik sepupu saya juga disamperin oleh salah satu Bapak korban. Niat ya bow nyamperin, padahal ia dinas di perbatasan utara Indonesia. Masalah yang ini kemudian ditutup dengan penutupan akun FB oleh sepupu saya. Tapi akun-akun bajakan dengan foto-fotonya masih banyak bertebaran di Facebook sana. Saya pun yakin, sepupu saya bukan satu-satunya orang fotonya disalahgunakan. Ada banyak polisi dan juga TNI yang mengalami hal yang sama.

Dari kejadian ini, ada pelajaran berharga yang tak hanya bisa dipetik para anggota TNI (dan Polri), para perempuan yang bermimpi punya suami berseragam, tapi juga oleh kita para pengguna media sosial. Beberapa diantaranya saya rangkum dibawah ini:

  • Kalau dipinjamin duit oleh anggota TNI atau Polri yang dikenal dari dunia maya karena alasan apapun jangan mau. Sekali lagi, JANGAN MAU. Apalagi kalau alasannya kecelakaan. Biarkan saja mereka diurus oleh RS Tentara ataupun RS Polri. Soal pinjam uang karena alasan apapun juga sama, TNI dan Polri memiliki Koperasi dan saya yakin para anggotanya bisa meminjam uang dengan mudah. Nggak perlu pinjam uang dari orang secara acak dari dunia maya kan?
  • Jika menerima pesan mencurigakan seperti meminjam uang, laporkan profil tersebut. Laporkan profilnya, laporkan pesannya, laporkan fotonya. Semua yang bisa dilaporkan, laporkan saja. Apalagi kalau satu orang punya beberapa akun. Laporkan saja semua.
  • Kalaupun kemudian kenalan dengan anggota TNI atau Polri di sosial media, verifikasi dulu apakah ia benar-benar anggota atau hanya penipu abal-abal. Caranya? Ajak Skype, atau kalau mereka dinas di pedalaman, suruh foto dengan pakaian warna kuning, hijau di landmark kota sambil menggigit sendok. Atau suruh foto dengan koran terbaru sambil memegang gorengan dan cabe, cabenya dua biji. Apa aja deh yang penting aneh dan tak mungkin dilakukan oleh sang penipu.
  • Para pengguna media sosial, apalagi yang mengabdi sebagai TNI atau POLRI, masih lajang dan ganteng, atur akunnya supaya lebih privat. Atur supaya fotonya hanya bisa dilihat oleh teman-teman dekat saja. Tak usah dibuka untuk publik. Selain foto, tanggal lahir dan email juga perlu disembunyikan supaya tak bisa diretas.
  • Jika ada tawaran untuk melakukan pengamanan berlapis, seperti fitur memasukkan nomor handphone, jangan lupa dilakukan juga. Tapi, ada tapinya ya, jangan hobi ganti-ganti nomor handphone juga. Kan percuma kalau sudah memasukkan satu nomor, tahu-tahu ganti nomor tiap bulan.
  • Yang terakhir, jangan menerima permintaan menjadi teman dari orang-orang yang tak pernah ditemui. Pria atau perempuan, apalagi perempuan cantik yang seksi sekalipun. Bukan apa-apa, jangan-jangan foto-foto tersebut hanya foto palsu yang diambil dari google untuk meretas ataupun mengcopy akun orang. Seperti sepupu saya di atas.

Kalian, pernah dengar cerita penipuan yang mengatasnamakan anggota TNI atau Polri di dunia maya? Punya tips keamanan lainnya?

xx,
Tjetje

Suka Duka Bertubuh Pendek

Saya mendeskripsikan tinggi tubuh saya sebagai “imut-imut” karena hanya berkisar di angka 1,5 meter saja. Dengan ketinggian (atau lebih tepatnya “kependekan”) tersebut saya tak pernah mengalami kesusahan ataupun berkeluh kesah.

Paling-paling saya sedikit tak nyaman, hanya tak nyaman, ketika berada di kolam renang yang kedalaman terpendeknya 1,5 meter. Di dalam kolam seperti itu saya harus berjinjit dan tak bisa nongkrong cantik sambil ngobrol. Ya tapi fungsi kolam renang kan untuk berolahraga, bukan nongkrong. #NyindirOrangJakartaYangLiburanKeBali

Selain urusan kolam renang, saya juga sedikit kurang nyaman dengan meja kerja yang tak bisa disesuaikan. Meja kerja saya di Jakarta memang tak secanggih meja kerja saya sekarang, bisa naik turun sesuai tinggi badan dan sesuai kemauan, mau duduk atau berdiri. Untuk mengakali meja yang tak sesuai dengan tubuh, sekardus kertas saya letakkan di bawah meja sebagai ganjalan supaya kaki bisa diselonjorkan. Aman, bisa kerja sambil selonjoran.

Di Irlandia, saya merasakan betapa susahnya menjadi orang yang tak terlalu tinggi. Padahal orang-orang di negeri ini tak setinggi orang Belanda atau orang Jerman. Tantangan pertama dihadapi di dapur sendiri. Lemari-lemari di dapur didesain untuk orang yang setidaknya memiliki tinggi tubuh 160 atau 165 cm. Akibatnya jika ingin mengambil barang di lemari yang lebih tinggi, saya harus naik ke kursi kecil  yang sengaja disediakan khusus untuk naik-naik. Bagi kalian yang tinggi, urusan naik turun ini mungkin remeh, tapi bagi saya sedikit mengesalkan. Mau ambil piring di ujung kiri harus jalan dulu ke ujung dapur yang lain untuk ambil dingklik. Padahal dapur disini itu mungil, masih juga ngomel. Eh tapi saya juga merasa beruntung lho, beruntung karena toilet di rumah sesuai dengan tubuh, tak seperti di rumah mama mertua yang agak tinggi. Dengan toilet yang tak terlalu tinggi ini, kaki saya tak perlu menggantung.

Mau ngetuk gak sampai deh

Ketidaknyamanan karena lokasi yang tinggi ini juga sering saya alami di beberapa supermarket atau toko baju. Dalam kondisi seperti itu saya bisa dipastikan loncat-loncat seperti bajing karena seringkali tak ada orang yang bisa dimintai tolong. Tapi tak setiap saat saya “sengsara”. Di Supermaket, susu yang diletakkan di rak tinggi biasanya diletakkan di atas rangka plastik. Jika susu yang di bagian depan habis, rangka ini bisa ditarik dan susu yang ada di bagian belakang otomatis akan maju ke depan. Penemuan sederhana tapi sangat berguna untuk orang seperti saya.

Selain harus loncat untuk ambil baju, saya juga harus memotong pakaian, terutama celana. Di Indonesia, potong celana atau lengan baju hanya 20-30 ribu saja, bahkan kadang hanya 5000 rupiah. Disini, jasa memotong celana itu lebih mahal ketimbang harga celana nya sendiri, bisa 25 – 30€. Mungkin ini bisa jadi alasan untuk beli celana yang lebih mahal dari ongkos potong, atau beralih ke rok saja.

Angkutan umum juga menjadi “mimpi buruk”. Luas (tram di Irlandia) dan bis yang menjadi andalan transportasi saya, didesain untuk orang-orang yang lebih tinggi dari 1.5 meter. Otomatis setiap pagi dan sore, kaki terpaksa menggantung. Rasanya tak nyaman sekali. Kadang jika angkutan umum sepi (yang mana ini jarang terjadi), saya  menaikkan kaki ke kursi. Buka sepatu dulu tentunya karena tak enak menaikkan kaki dengan sepatu. Pesawat udara juga tak nyaman bagi saya, kecuali ketika saya terbang di kelas bisnis yang disediakan ganjalan kaki. Berhubung #BukanSyahrini, frekuensi naik kelas ekonomi tentunya jauh lebih tinggi dari kelas binis.  Akibatnya, perjalanan dekat, ataupun jauh, apalagi kalau mudik yang seringkali hingga 24 jam, bisa dipastikan membuat kaki saya cenut-cenut karena kaki terlalu lama “digantung”. Biasanya, ketidaknyamanan ini saya “akali” dengan meletakkan tas di lantai untuk ganjalan kaki. Sebagus apapun tas saya, sudah bisa dipastikan pernah menjadi ganjalan kaki. Serba salah ya, bertubuh pendek kaki digantung, bertubuh tinggi kaki terbentur kursi di depannya.

Tempat bagasi yang tinggi. Menyiksa, menyiksa.


Nah Baru-baru ini ketika ke Virginia (Virginia di Irlandia, bukan di USA), saya mengalami pengalaman lucu yang sedikit menggemaskan. Bis tingkat ini ternyata bagasinya berada di bagian tengah bus. Saya bisa dengan mudah memasukkan koper ke dalamnya, cukup angkat koper hingga setinggi kepala, persis seperti perempuan Bali, lalu didorong. Masalahnya muncul ketika harus mengeluarkan koper, karena biar jinjit sekalipun tangan saya tak sepanjang jangkauan para pramugari. Eh ternyata saya tak sendiri, seorang ibu yang lebih tinggi dari saya pun tak bisa mengeluarkan kopernya hingga harus minta bantuan pengemudi. Ah ini pasti yang mendesain bis tingginya dua meter, kalau ngedesain gak mikirin orang-orang seperti saya.

Bagaimana dengan kalian, sering menghadapi tantangan karena tinggi badan?

Xx,
Tjetje

Angkutan Umum di Dublin & Irlandia

Saya menerima beberapa email dari pembaca Blog ini yang menanyakan dengan detail sistem transportasi di Dublin maupun di Irlandia. Nah jika di postingan saya sebelumnya saya ngomel karena banyak pembaca yang gak riset, kebanyakan yang nanya tentang sistem transport biasanya sudah riset tapi sedikit bingung jadi akan saya coba bantu melalui postingan super panjang ini.

Leap Card

Leap Card merupakan kartu yang berfungsi untuk mempermudah proses pembayaran transportasi dan membuat harga tiket lebih murah beberapa persen. Kartu kecil ini bisa didapatkan di toko kelontong, atau bisa dipesan secara daring. Untuk turis yang mendarat di Dublin, kartu ini juga bisa didapatkan di toko kelontong di terminal kedatangan bandara. Penambahkan saldo sendiri dapat dilakukan di toko kelontong atau di mesin-mesin penjual tiket tram.

Dublin Bus

Bis kota berwarna kuning yang dilengkapi wifi ini merupakan andalan Dublin dan tak beroperasi secara sembarangan. Ia hanya datang pada jam-jam tertentu seusai jadwal dan hanya berhenti pada perhentian yang ditentukan. Jadwal hari kerja dan akhir pekan pun tak sama. Halte bis ini diberi nomor dan pada sebagian kecil halte terdapat jadwal bis yang berhenti di halte tersebut, serta perkiraan ketibaan. Sebagian besar halte bis hanya berupa tiang-tiang tanpa informasi apapun. Makanya melakukan riset dan mencatat jadwal kedatangan bis sangat penting. Mereka yang menggunakan telepon genggam juga bisa mengunduh aplikasi Dublin Bus.

Bayar bis sendiri bisa dilakukan dengan uang koin dan harus pas. Koin tersebut dimasukkan ke dalam wadah di depan pengemudi. Jika uang tak pas, akan ada tanda terima untuk mengambil kembalian di tempat tertentu. Pengguna Leap Card bisa menempelkan kartunya di mesin yang terletak di sebelah kanan pintu masuk dan membayar ongkos paling mahal atau menyebutkan tujuan (untuk jarak pendek) dan menempelkan kartu di mesin di depan pengemudi.

Kebanyakan bis memiliki informasi berupa layar serta suara yang memandu halte-halte yang dituju, tetapi banyak juga bis yang tak memberikan informasi. Biasanya, saya mengakali dengan membuka google map atau mengkomunikasikan pada pengemudi. Oh ya untuk menghentikan bis cukup memencet tombol-tombol merah di dalam bis dan ketika keluar jangan lupa bilang terimakasih pada pengemudi. #IrishBanget

https://www.instagram.com/p/_bgTBewxgt/?taken-by=binibule

Bis Antar Kota (Bus Éireann atau AirCoach)

Ada beberapa bis untuk ke luar kota tapi dua bis ini yang paling sering saya gunakan. Tiket-tiket bis bisa dibeli secara daring dan tiket tak perlu dicetak, cukup dengan menunjukkan telepon genggam saja. Pembelian daring ini sangat saya sarankan karena pemegang tiket daring lebih diprioritaskan dan bisa memotong antrian. Selain itu, harga tiket akan sedikit lebih murah jika dipesan jauh-jauh hari.

Jika Dublin bis bisa terlambat, bis antar kota relatif tepat waktu. Jika jadwal keberangkatan pukul 4 berarti bis akan tutup pintu pada pukul 4 (atau bahkan empat kurang satu menit) dan pemegang tiket daring sekalipun tak akan diperkenankan naik. Enaknya, penumpang bisa mengubah jadwal seenaknya dan pergi pada bis selanjutnya pada hari yang sama. Perlu dicatat, tak ada kondektur untuk bis-bis ini, jadi tas harus dinaikkan dan diturunkan sendiri.

DART dan Kereta Api

Kereta Api di Irlandia melayani perjalanan jauh, tak hanya di Republik Irlandia, tetapi hingga Irlandia Utara yang merupakan bagian dari Inggris. Sementara DATR, yang artinya Dublin Area Rapid Transit, merupakan kereta komuter di sekitaran Selatan dan Utara Dublin. Kereta ini tak hanya beroperasi di sekitar Dublin saja, tapi juga hingga County Wicklow. County ini terkenal sebagai tempat shooting film PS. I Love you.

Jika tiket kereta api bisa dibeli di stasiun ataupun secara online, tiket DATR hanya bisa dibeli di stasiun atau menggunakan Leap Card (dengan menempelkannya ke pintu masuk menuju kereta dan menempelkan lagi pada saat keluar). Membeli tiket kereta secara daring SANGAT saya sarankan, karena harga tiket kereta akan menjadi lebih mahal, bahkan mencekik, ketika dibeli mendadak. Catatan penting bagi turis-turis supaya tak keliru, stasiun kereta api yang besar di Irlandia ada dua, Heuston (untuk wilayah selatan, barat dan juga barat daya) serta Conolly.

Taksi

Tak seperti di Jakarta, tak banyak taksi yang lewat di Dublin, kecuali di pusat kota. Mencari taksi lebih mudah ke tempat-tempat dimana pengemudi taksi nongkrong menunggu penumpang. Tarif taksi sendiri relatif mahal, apalagi pada saat jam pulang dugem. Semakin banyak penumpang juga akan semakan mahal, karena ada biaya tambahan. Dari pusat kota ke bandara misalnya berkisar 25 hingga 30 Euro. Di Irlandia sendiri UberX merupakan taksi umum yang menggunakan aplikasi ini. Soal keamanan taksi, duh gak usah dibahas lah, kebanyakan aman kok, tapi tetap ada saja yang gak aman dan supirnya kurang ajar (saya kebetulan sudah punya banyak pengalaman buruk dengan pengemudi taksi).

Luas (Tram)

Luas merupakan tram dalam kota Dublin yang terbagi menjadi dua, jalur merah dan jalur hijau. Jalur merah beroperasi dari The Point hingga Tallaght, sementara jalur hijau beroperasi dari St. Stephen’s Green hingga Sandyford. Lucunya, kedua jalur tram ini tak tersambung sehingga penumpang yang akan berpindah harus berjalan kaki dulu sejauh 1.4 km [Update 2019: Luas dari dua jalur ini sudah disambungkan].

Luas System

Tiket Luas, yang rata-rata harganya 2.6 hingga 3 euro ini bisa dibeli melalui mesin-mesin yang tersedia di setiap halte dan pembayaran dapat dilakukan dengan uang kertas, koin ataupun kartu. Selain tiket per perjalanan, ada juga opsi tiket harian, mingguan, atau bahkan tiket bulanan. Tak ada  yang mengecek tiket di dalam tram, tapi jika ada pemeriksaan secara acak, penumpang tanpa tiket bisa didenda sebesar 45 hingga 100 Euro.

Semoga postingan panjang ini bisa membantu mereka yang akan berjalan-jalan di sekitaran Dublin dan Irlandia. Jika ada yang perlu ditanyakan, jangan segan untuk mengirimi saya email atau meninggalkan komentar. Tapi jangan kaget juga kalau sayanya nyolot karena jawabannya sudah ada di postingan ini.

Kamu, pengguna transportasi umum atau kendaraan pribadi?

Xx,
Tjetje

PS: postingan ini tak diupdate secara rutin, jadi informasi di postingan ini mungkin saya berubah.

Menjadi Au Pair di Irlandia

Akhir-akhir ini saya seringkali mendapatkan email dan pertanyaan-pertanyaan tentang menjadi au pair di Irlandia. Saya sebetulnya tak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Irlandia dan hidup di Irlandia jika saya tahu topik yang ditanyakan. Membantu mencari tahu pun akan saya lakukan jika saya tertarik dan tentunya jika saya punya waktu. Tapi dari banyak email yang saya terima ada satu garis besar yang bikin saya gondok: kebanyakan yang pengen jadi au pair ke Irlandia itu gak riset dulu tentang banyak hal, bahkan yang paling mendasar dan asal nanya aja. Mintanya disuapin diberikan petunjuk secara jelas bagaimana menjadi au pair di Irlandia. Daripada saya pusing dan emosi menghadapi orang-orang seperti ini, maka saya putuskan sekalian aja ditulis biar gak ada lagi yang nanya.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita perjelas dulu arti au pair. Au pair yang diambil dari bahasa Perancis ini merupakan orang dari negara asing yang tinggal dan menjadi bagian dari sebuah keluarga dan biasanya membantu mengurusi anak serta sedikit pekerjaan rumah. Sebagai kompensasi, au pair biasanya menerima uang saku dan seringkali diikutkan kursus. Au pair biasanya dibatasi hingga usia-usia tertentu saja. Perlu dicatat, au pair tidaklah sama dengan pengasuh, atau yang lazim disebut sebagai nanny, karena au pair biasanya tidak memiliki kualifikasi khusus.

Sebagai warga negara non-Eropa, menjadi au pair di Irlandia itu ribet. Keribetan utama tentunya urusan visa yang memang tak mudah. Banyak yang bertanya pada saya, visa apa yang digunakan jika ingin jadi au pair di Irlandia? Berhubung saya gak pernah kerja di imigrasi ataupun kedutaan Irlandia, saya pun tak tahu. Tapi saya google dong, karena saya anak rajin dan tak malas #NyinyirModeOn. Dari hasil googling saya, visa yang digunakan seharusnya visa kerja. Dampak dari memberikan visa kerja ini berbuntut panjang pada kewajiban memberikan upah yang layak dan tentunya merembet hingga ke urusan pajak. Untuk informasi saja, upah minimum di Irlandia itu berkisar sekitar 9 Euro per jam.  Jangan dibayangin uang banyak ya, karena ada pajak yang bisa sesak napas kalau lihat hitung-hitungannya. Nah jangan heran kalau host sudah mundur teratur ketika mendengar kata visa dan birokrasi. Kendati sedikit lebih baik dari di Indonesia, birokrasi disini gak kalah ribet.

Desember 2015 lalu, RTÉ, saluran televisi Irlandia (macam TVRI-lah kalau di negeri kita) membuat dokumenter tentang kondisi au pair di Irlandia yang posisinya lemah karena tidak dilindungi oleh undang-undang. Ketidakadaan regulasi ini membuat au pair seringkali dieksploitasi hingga harus bekerja dalam waktu yang panjang, dengan uang saku seadanya dan tak sesuai dengan upah minimum. Kasus-kasus au pair menuntut pemberi kerja karena perlakukan yang tak baik juga tak sedikit, bahkan ada  yang memenangkan kasus dan mendapatkan kompensasi hingga 10.000 Euro. Dari dokumenter itu dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian dari 10.000 au pair disini diperlakukan sebagai budak modern. Tapi orang-orang tak gentar, masih saja mau menjadi au pair dan banyak keluarga masih mau menjadi tuan rumah.

Tak usah heran jika au pair sangat diminati banyak keluarga di Irlandia. Harga penitipan anak di sini luar biasa mahalnya. Menitipkan dua anak selama empat hari kerja saja bisa mencapai 2000 Euro sendiri, ini empat hari kerja lho ya, gak lima hari. Maka tak heran au pair menjadi alternatif penitipan anak yang lebih murah.

Having said that, bukan berarti harus mundur menjadi au pair di Irlandia. Silahkan saja kalau memang benar-benar berniat dan siap tempur dengan birokrasi. Nah daripada ribet ngurusin visa kerja, lebih baik daftar kursus bahasa Inggris saja di Irlandia. Sang host bisa diminta membayari kursus yang kira-kira harganya 3000 – 5000 Euro per tahunnya. Lalu setelah daftar kursus bisa mengajukan visa pelajar ke Irlandia. Ingat ya, cari kursusnya dulu, daftar dulu baru mengajukan visa. Bukan ngajuin visa dulu baru nyari sekolah. Saya jamin visa bakalan ditolak kalau salah urutan.

Model menjadi pelajar bahasa Inggris ini banyak sekali dipakai oleh mereka yang berasal dari Amerika Latin, seperti Brasil. Mereka kemudian belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun dan bekerja sampingan di kedai kopi ataupun restauran-restauran. Satu hal yang perlu dicatat, pelajar di Irlandia hanya diperbolehkan bekerja selama 20 jam saja, tak bisa lebih. Selain itu, bolos kelas juga ada hitungannya tak boleh terlalu rajin membolos. Kalau kerajinan bolos, bisa-bisa seperti anak kos saya yang mendapatkan panggilan penuh cinta dari imigrasi dan disuruh pulang dengan paksa ke negerinya. Jadi, jika menjadi au pair dengan model ini, ada baiknya jadwal bekerja menjaga anak dibicarakan terlebih dahulu supaya tetap bisa menghadiri kelas bahasa Inggris.

Nah sudah jelas kan urusan ribetnya jadi au pai dan cara mengakalinya? Kalau belum jelas, silahkan di google saja, karena saya tak pernah menjadi au pair seumur hidup saya, apalagi jadi au pair di Irlandia. Jadi memberikan jawaban yang spesifik dan teknis akan sangat susah bagi saya. Sekian curhatan di hari Jumat ini dan selamat berakhir pekan!

xx,
Tjetje

Ketika Matahari Menyapu Irlandia

Akhir-akhir ini saya memang tak begitu rajin menulis lagi. Selain disibukkan dengan pekerjaan, dari pekerjaan rumah tangga sampai pekerjaan lainnya saya juga sibuk menikmati matahari. Sedikit sapuan matahari di Irlandia saja sudah membuat saya geret-geret kursi ke halaman belakang untuk berjemur. Matahari 18 derajat saya rasanya sudah berkah indah, dan kalau saja ada mbah dukun di negeri  ini, sudah saya kirim jampi-jampi supaya sang surya mau lengket dengan Irlandia. Saya tak sendirian, ribuan atau bahkan jutaan orang Irlandia kalau lihat matahari memang bawaannya pengen berjemur dan berjemur bisa dilakukan dimana-mana, dari di taman hingga di luar pub, seperti yang dilakukan para pubgoers ini.

Kendati matahari hanya menyapa Irlandia sesaat saja, teras-teras restauran dan pub bisa dipastikan dipenuhi orang-orang yang nongkrong untuk menikmati makanan dan minuman. Saking hausnya dengan matahari, akhir pekan kemarin saya melihat beberapa orang yang berjemur di sebuah parkiran di County Wicklow. Tak tanggung-tanggung, salah seorang di antara mereka bahkan buka baju, di parkiran. Jadi kalau kemudian kalian melihat turis-turis asing piknik di lapangan bola di Ubud sana, jangan heran. Mereka memang bawaannya pengen gelar tikar dan selonjoran kalau lihat matahari dan rumput.

Dan bagian kanal ini pun siap diisi air supaya kapal bisa berpindah ke sisi yang lebih tinggi (tak terlihat, karena ada di balik pintu yang belum dibuka)

Bagi orang tropis seperti saya, matahari panjang ini, matahari terbit pada pukul 5 pagi dan tenggelam pada pukul 9.30 malam, memberikan energi luar biasa. Saya bawaannya pengen jalan terus dan tak bisa tinggal di rumah. Maka tak heran jika saya pun terlalu sibuk menjelajahi Irlandia. Beberapa minggu lalu, saya dibawa ke sebuah perjalanan kejutan menaiki barge, kapal kecil, menyusuri canal di Sallins, County Kildare. Yang menarik, kami merasakan bagaimana pintu kanal dibuka dan dibanjiri air, hingga kemudian kapal kami bisa naik ke bagian kanal yang lebih tinggi. Dalam perjalanan pulang, kami melewati pintu yang sama, tetapi kali ini kapal kami harus diam selama kurang dari lima menit, menunggu air surut, sehingga kapal kami bisa turun ke bagian kanal yang lebih rendah. Gak kebayang? Mungkin gambar ini bisa memberikan bayangan.

Pemandangan di sekitar kanal itu sangat cantik, bisa ditengok di instagram saya @binibule dengan hashtag #JelajahIrlandia.

https://www.instagram.com/p/BFb8x62Qxsi/?taken-by=binibule

Kapal kecil yang kami naiki membuat bebek liar terbang ketakutan.

Masih berhubungan dengan air, kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Danau Blessington di County Wicklow. Danau buatan cantik ini menjadi bagian tak terpisahkan dari film PS I Love You. Beberapa adegan dari film Braveheart juga di ambil di wilayah ini. Danau yang aslinya bernama Poulaphouca ini  “terlihat biasa-biasa” saja dengan latar belakang pegunungan Wicklow, tapi konon jika air sedang rendah, kita bisa melihat bagian atas sebuah gereja yang terendam di bawah danau ini. Danau ini sendiri dibuat, dengan cara merendam sebuah desa, pada sekitar 1930-an untuk menampung air dan menyediakan listrik bagi Dublin.

Tak hanya menikmati air, saya juga menikmati hutan kecil di Irlandia. Baru-baru ini kami menelusuri hutan kecil di rumah terpanjang dan tercantik di Irlandia yang bernama Russborough House. Sekali lagi gara-gara matahari, saya lebih tertarik untuk duduk-duduk berjemur di bawah matahari bersama para sapi dan domba ketimbang masuk ke bagian dalam rumah. Tapi saya janji akan kembali, membawa mama saya melihat bagian dalam rumah ini dan tentunya mencoba menyusuri labirin di bagian belakang rumah ini. (Ssst..bagian ini pasti dibaca mama saya dan pasti ditagih).

Oh btw, di dalam hutan saya menemukan pintu-pintu dari rumah para peri, fairy doors, begitu orang Irlandia menyebutnya. Imajinasi anak-anak di Irlandia memang ditumbuhkan dengan kebohongan-kebohongan indah, salah satunya ya dengan peri ini. Rumah-rumah yang memiliki anak biasanya dihiasi dengan pintu peri ini yang diletakkan di bawah tangga. Di hutan di dekat Russborough House ini, pintu-pintu indah ini diletakkan di berbagai bagian pohon. Anak-anak kecil pun bisa membeli peta seharga 3 Euro dan mencari pintu-pintu yang tersebar. Sebuah aktivitas yang lebih menyenangkan ketimbang berkutat di depan gawai menonton youtube. Saya pun tak kalah senangnya dan mencoba menggedor sebuah pintu untuk minta nomor lotere. Sayangnya, saya terlalu pendek sehingga tak bisa meraih pintu tersebut.

Dear peri-peri Irlandia, bagi nomor lotere dong

Perjalanan menjelajah Irlandia masih belum usia, masih banyak sudut-sudut negeri cantik nan mungil ini yang akan saya lihat. Akhir pekan besok misalnya, saya sudah berencana akan ke Virginia. Bukan Virginia di Amerika sana, tapi Virginia versi Irlandia. Tunggu foto-fotonya di Instagram dengan hashtag #JelajahIrlandia ya.

Jadi apa kabar matahari di tempat kalian tinggal, masih menyengat?

xx,
Tjetje