Tukang Palak

Saya mendefiniskan tukang palak sebagai orang-orang yang mengambil penghasilan, keuntungan atau bahkan kekayaak orang lain demi kepentingan pribadi dengan cara mengintimidasi dan model premanisme. Di Indonesia sendiri tukang palak banyak macamnya dan tersebar dimana-mana, dengan pola pemalakan yang serupa.

Tukang malakin temen

Sebelum membahas ke tukang palak professional, yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan palak-memalak, ada tukang palak yang sebenarnya tersebar dalam jaringan pertemanan kita. Mereka ini biasanya yang nomor satu r, yang selalu menjadi kompor atau memprovokasi orang lain untuk minta traktir saat ada teman yang berulang tahun, naik gaji, mendapatkan promosi atau momen-momen lainnya. Bagi tukang palak yang model begini: urusan perut nomor satu. Tak hanya ditemukan di kantor, mereka juga ada di dalam keluarga, apalagi jika ada anggota keluarga yang berlebih.

tukang palak

illustration: internethotline.jp

Kuli Angkut Barang

Pernah menengok cara kerja kuli angkut barang, terutama di terminal-terminal atau di bandara? Biasanya mereka tak segan-segan untuk langsung mengerubuti bagasi taksi atau kendaraan dan memaksa mengangkut barang-barang tersebut tanpa permisi. Orang-orang yang galak macam saya sih biasanya langsung pasang muka kenceng dan menolak, tapi banyak sekali orang-orang yang sering pasrah dan polos.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri mereka bisa ditemukan di dekat parkiran dimana para pejalan yang baru kembali dari perjalanan menanti kendaraan pribadi yang menjemputnya. Tanpa aba-aba mereka mengangkut koper dan kardus ke dalam bagasi kendaraan.

Kedua tipe pekerjaan ini punya satu kesamaan: tak jelas tarifnya dan seringkali berakhir pada ‘perkelahian halus’ karena uang yang diberikan tak cukup atau tak sesuai. Sesuai dengan kemauan hati. Bandara Soekarno-Hatta sendiri sudah menerapkan tarif 50.000 untuk maksimal 3 trolley per kuli. Jadi jangan mau tertipu (seperti saya ya).

Tukang Parkir Liar

Bisnis perparkiran adalah bisnis yang menggiurkan, karena hanya bermodalkan tangan, peluit, suara yang kencang, kemampuan berlari serta ketahanan terhadap perubahan cuaca. Di satu sisi, tukang parkir membantu kelancaran dan kemudahan memarkir kendaraan. Idealnya tukang parkir ini memberikan tiket yang dikeluarkan oleh pemerintah kota atau kabupaten untuk setiap kendaraan yang terparkir. Tarif yang dikenakan pun harus sesuai dengan tarif yang dibuat pemerintah.

Tapi kenyataannya, tukang parkir tak hanya menghindari memberikan tiket, tapi juga memberikan harga yang mencekik leher. Terutama di area-area wisata pada musim liburan. Pertengkaran mulut seringkali terjadi karena tarif yang tak sesuai, tapi kebanyakan pengemudi kendaraan mejadi takut, karena takut kendaraannya dibaret. Ngotot minta karcis parkir pun juga sering berakhir dengan kekecewaan, karena tiket parkir yang diberikan palsu. Ah orang kecil pun berkorupsi kan.

Jasa makelar

Dalam hukum kebiasaan, makelar memang berhak mendapatkan 2,5% dari setiap transaksi yang terjadi, baik urusan pertanahan maupun urusan jual beli rumah. Tapi menurut saya, harus ada kesepakatan terlebih dulu siapa yang menjadi makelar dalam sebuah transaksi. Nggak yang ujug-ujug tiba-tiba merasa bisa mengklaim uang orang lain dan main intimidasi dalam mengklaimnya. Ah tapi begitulah repotnya urusan kebiasaan ini.

Pak Ogah

Pak Ogah adalah orang-orang yang berdiri di pertigaan atau perempatan sempit dan padat untuk membantu mengatur lalu lintas, supaya tidak terjadi kemacetan. Jasa Pak Ogah ini tak gratis, jika dulu pak Ogah diberi cepek (Seratus), jaman sekarang Pak Ogah ya bakalan ngamuk jika hanya diberi cepek.  Masalahnya, Keberadaan Pak Ogah ini bisa membantu tapi di banyak kesempatan justru merepotkan dan membuat kemacetan bertambah parah. Yang makin mengesalkan jika pak Ogah ini bekerja rame-rame dan segera memberikan jalan jika ada kendaraan yang memberikan uang dalam jumlah besar. Di Jakarta, uang memang berbicara dengan keras.

Meter Angkot

 Bagi saya, ini jawaranya tukang palak di Indonesia. Tukang meter angkutan, alias tukang malakin supir-supir angkut dan juga taksi yang mengangkut penumpang di sebuah daerah. Pendek kata si meter angkot ini adalah penguasa daerah tersebut dan merasa berhak mendapatkan uang dari penghasilan orang lain. Masalahnya, dari semua tukang palak di atas, tukang meter angkot ini tak punya kontribusi apa-apa. Tak memindahkan barang, tak membantu memarkir, tak membantu menghentikan kendaraan. Hanya diam tertegun dan sesekali berteriak. Kalau dipikir-pikir, meter angkot ini mirip dengan tukang malakin temen. Engga bisa lihat orang lain berhasil baik dan menghasilkan, bawaannya pengen minta aja.

Parahnya, mereka bisa ditemukan di mana saja di Indonesia, dari kota besar hingga kota kecil, apalagi jika kendaraan tersebut ngetem, alias berhenti selama beberapa waktu. Di Jakarta sendiri, taksi-taksi yang mengangkut penumpang di samping Sarinah juga sering dipalakin. Yang kasihan, jika penumpang tersebut ternyata hanya ke tujuan jarak dekat. Untungnya habis, atau bahkan minus untuk memberi si tukang palak.

Maraknya tukang palak di Indonesia, baik di jalanan atau bahkan di pasar (sengaja gak dibahas karena di pasar terlalu banyak pemalakan) adalah bukti kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja. Pemalakan dan premanisme yang dianggap sebagai sebuah kewajaran dan tak pernah diprotes ini tentunya tak akan pernah mati selama kita terus-menerus membiarkannya. Kalaupun diprotes, mungkin hanya sekedar bergerutu seperti saya ini, sambil kemudian mendinginkan kepala dan beralasan: “ah bantuin orang miskin, ngamal”. Gerutuan yang tentunya tak akan merubah keadaan.

Pernah ngalamin dipalak?

Xx,
Tjetje
Tukang menggerutu

*ngamal (bahasa Jawa) = beramal

Generasi Instan

Berbagi informasi melalui blog bagi saya adalah sebuah kesenangan yang memberikan kepuasan batin tersendiri. Ambil contoh postingan saya tentang cara kawin di Hong Kong yang “sukses mengawinkan” banyak pasangan beda agama. Duh tak terkira deh senangnya saya setiap kali menerima informasi tentang orang-orang yang berhasil mengikat janji setia sehidup semati. Makanya, penting bagi saya untuk sesegera mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan dokumen perkawinan.

Sialnya, ada saja orang-orang yang malas membaca postingan saya dan seringkali memberikan pertanyaan yang jawabannya sudah ada. Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali saya jawab secara manis “informasinya ada di postingan tersebut”, tapi sejujurnya kalau boleh saya menjawab secara pahit, saya ingin sekali-sekali nyolot dan menjawab: “sebenarnya yang butuh situ apa saya ya? Situ kan? kalau situ yang butuh, usaha dikit kek meluangkan lima atau sepuluh menit untuk baca. Bagus lho cuma 5-10 menit aja bacanya, saya nulis itu bisa setengah hari sendiri, atau bahkan berhari-hari karena perlu riset dan baca banyak informasi. Itu informasi sudah disarikan demi kemudahan situ”. Oh tak lupa pengen saya tambahin lagi: “baca buat diri sendiri malas, kapan majunya?!”. Fiuh leganya ngomel-ngomel.

Sungguh saya tak paham, mengapa orang jaman sekarang malas untuk baca, padahal di jaman ini mencari informasi itu mudah sekali, cukup modal jempol, telepon genggam dan koneksi internet. Memang harus diakui tak semua orang senang dan bisa cepat memahami dari membaca. Tapi sekali lagi, yang perlu kan diri sendiri, jadi apa salahnya juga dibaca dulu. Kalaupun tak ingin membaca semua informasi  ada tombol control F yang bisa mencari kata-kata kunci dengan mudah. Kesimpulan saya, mereka yang malas baca ini adalah orang yang maunya disuapin melulu dan tak pernah belajar memegang sendok sendiri. Bahasa gaulnya: generasi instan yang maunya cepet gak mau susah.

lazy parents

ilustration: ivebecomemydad.com

Generasi instan ini tak hanya ditemukan dalam urusan perblogan dan sosial media saja, tapi ditemukan dimana-mana dalam kehidupan kita. Dalam dunia perblogan tak hanya ada pencari informasi yang males baca, tapi juga ada blogger yang hobi banget nyontek tulisan orang. Dalam sosial media sendiri ada mereka yang ingin terkenal instan dengan memiliki banyak followers di sosial media yang dipunyai. Entah beli akun yang sudah memiliki banyak pengikut atau dengan membeli pengikut, harganya pun murah. Lha tapi apa gunanya punya pengikut satu milyar kalau pengikut ini hanya akun-akun bot yang tak jelas, akun yang bahkan tak bisa diajak komunikasi, apalagi diajak kopdaran. Lha fungsinya sosial media itu kan untuk berinteraksi, bukan untuk gaya-gayaan.

Selain ditemukan di dunia maya, mereka juga bisa ditemukan di dalam kantor, sekitar pemukiman kita hingga dalam jaringan pertemanan. Contoh paling mudah aja mereka yang malas mencari pekerjaan sendiri dan mengandalkan jabatan dari orang-orang sekitarnya, baik yang sedarah atau sekadar sekampung. Akibat persaingan tak sehat ini, mereka yang memiliki potensi dan tak punya koneksi pun harus merana. Dan di Indonesia yang seperti ini buaaaaanyak banget. Kalau yang ini sih bukan hanya sang generasi sekarang, tapi juga salah orangtua yang tak mengajarkan anaknya untuk berjuang dan repot menyuapi kendati si anak sudah dewasa.

Kelompok-kelompok instan ini mungkin pada jaman sekolah dulu jarang belajar dan lebih sering menggunakan sistem kebut semalam. Masih bagus sih kalau mau ngebut belajar, yang parah tentunya yang repot nyontek teman sebangku, beli kunci jawaban atau tentunya yang paling top: yang repot nyogok gurunya supaya dapat nilai bagus.

Pada akhirnya, membaca, mencari teman, mencari pekerjaan atau bahkan belajar adalah sebuah proses yang seringkali tak enak dan menyakitkan. Tapi sesakit apapun proses itu, hasilnya yang menikmati kan diri sendiri. Jadi mengutip kata-kata saya di atas: “Situ jangan males dong”.

Pernah berurusan dengan generasi instan ini?

xx,
Tjetje

Serba-serbi Warisan

Seorang teman bercerita bahwa dulu di Inggris terdapat insitusi keuangan yang mendatangi orang-orang yang sudah tua untuk membeli rumah mereka dengan sistem  pembayaran sejumlah besar uang setiap tahunnya hingga kematian orang tersebut.  Pada saat orang tersebut meninggal, hak atas rumah tersebut akan jatuh pada perusahaan yang membeli rumah tersebut. Sebuah perusahaan kemudian “sial” karena membeli rumah dari seorang nenek berusia 76 tahun yang usianya mencapai 106 tahun. Saking panjangnya hidup sang nenek, petugas sales yang membeli rumah tersebut meninggal sebelum sang nenek meninggal.

Perdagangan semacam ini konon sudah tak diperkenankan lagi di Inggris, karena banyaknya kasus yang berakhir di pengadilan. Anak-anak yang merasa punya hak waris banyak yang tak mengetahui rumah orang tuanya sudah dijual dan mereka, merasa punya hak atas rumah tersebut, sehingga menuntut. Terlebih lagi, mereka merasa orang tua mereka ditipu, karena mereka dalam keadaan rentan dan sendiri.

Perbincangan kami kemudian berlanjut pada masalah warisan, sebuah isu yang sangat sensitif di banyak tempat. Sama seperti di Indonesia, disini ada saja anak-anak yang memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap harta kekayaan orangtuanya. Perebutan harta dalam keluarga yang seringkali berakhir di pengadilan, biasanya terjadi antara anak yang belum kawin (dan masih tinggal dengan orang tua) dengan anak yang sudah kawin. Orangtua sering meninggalkan harta untuk si lajang, sementara yang kawin merasa tak terima dengan keputusan itu. Sudah ada surat waris sekalipun masih ada ribut-ribut soal warisan ini dan seringkali hubungan persaudaraan menjadi rusak. Dalam beberapa kasus yang kami diskusikan bahkan ada salah satu anggota keluarga yang merelakan membagi-bagi harta warisannya, sekalipun ia adalah ahli waris sah sesuai  surat waris, karena ia menghindari perkelahian di pengadilan (yang bakalan mahal).

Menariknya, tak semua orang berpikiran seperti itu, saya masih banyak bertemu dengan anak-anak yang mengatakan bahwa orang tua itu tak perlu memberikan apa-apa kepada anaknya. Masing-masing individulah yang harus berjuang untuk bisa melanjutkan hidup. Modal pendidikan sendiri disini disedikan oleh pemerintah, dari mulai yang formal hingga kursus-kursus bagi mereka yang bergantung pada jaminan sosial.

Di Indonesia sendiri, “cakar-cakaran” banyak terjadi karena yang satu merasa memiliki hak yang lebih besar. Ada pula kasus dimana saudara laki-laki merasa punya hak atas kekayaan saudara prianya, sehingga sang paman harus berebut harta dengan keponakan-keponakan perempuannya. Tapi dari semua urusan perebutan ini, yang  “paling seru” tentunya perebutan harta antara istri pertama dengan istri kedua. Istri pertama yang selama hidup merana karena sang suami membagi cintanya, biasanya memiliki posisi lebih kuat secara hukum, sementara istri kedua dan anak-anaknya seringkali kalah, karena lemah di mata hukum. Makanya jangan heran jika banyak istri kedua yang harus memastikan masa depannya terjamin, karena posisi mereka yang lemah. Seringkali mereka dituduh memeras pasangannya, padahal mereka hanya ingin memastikan keamanan keuangan anak-anaknya.

Ada pula kasus dimana semua pihak tak setuju terhadap apa yang akan dilakukan terhadap harta warisan. Yang satu ingin dijual, sementara yang satu masih menyimpan banyak kenangan dan tak mau menjual. Mencapai kesepakatan seperti ini tentunya tak mudah dan memerlukan kesabaran luar biasa. Kalau tidak sabar, bisa-bisa salah satu pihak berakhir di pemakaman, sementara pihak lainnya berakhir di hotel prodeo. Kemudian cerita perseteruan ini menghiasi koran-koran murah yang beredar di lampu merah. Herannya, tak ada parang, pistol ataupun santet-menyantet jika warisan yang ditinggalkan adalah warisan hutang.

warisan

cartoon: toonpool.com

Menariknya, jika di Indonesia warisan tidak dikenakan pajak khusus di Irlandia warisan dikenakan pajak. Ada pengeculian tentunya, untuk mereka yang mendapat warisan dari pasangannya yang meninggal dunia (disinilah posisi perkawinan setara menjadi penting). Pajak yang dikenakan pada harta warisan ini jumlahnya “kecil”, 33% saja saudara-saudara. Konon memang jauh lebih kecil daripada di negara lain, saking kecilnya ada orang Amerika yang melepaskan kewarganegaraannya dan menjadi orang Irlandia. Persentase tersebut memang terlihat kecil, tapi begitu dapat warisan rumah senilai 100 juta Euro, pusing aja nyiapin pajaknya yang gak karu-karuan gedenya. Alhasil, rumah-rumah hasil warisan ini seringkali terpaksa dijual untuk membayar pajaknya.

Saya melihat warisan sebagai sebuah pemberian, nah karena sistemnya pemberian maka tak selayaknya jika warisan dikejar-kejar, apalagi kalau ngejarnya bawa senjata tajam. Apalagi sampai memaksa orang tua menjual asetnya supaya anaknya bisa segera mendapatkan porsi yang dimaui. Lha yang kerja keras orang tuanya kok anaknya yang repot minta-minta.

Pernah dengar cerita keluarga yang berkelahi karena warisan?

Xx,
Tjetje

Pinjam Duit

Saya punya prinsip tak mau meminjamkan uang pada teman. Bagi saya, pinjam-meminjam uang itu berpotensi merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin selama kurun waktu tertentu. Parahnya, hubungan ini bisa menjadi rusak karena nilai uang yang kadang tak seberapa, sekedar ratusan ribu rupiah. Padahal, membangung pertemanan itu susah dan yang paling penting, pertemanan itu begitu berharga sehingga tak layak dirusak oleh rupiah.

Kendati sudah terkenal pelit dalam urusan meminjamkan uang, masih saja ada orang-orang yang nekat mencoba. Alasan orang minjam biasanya macam-macam, tapi yang paling banyak saya terima karena kepepet, ada musibah yang memerlukan biaya besar. Selain itu, ada pula yang terpaksa meminjam karena perlu membayar tagihan rutin yang harusnya sudah bisa diprediksi ketika gajian. Bad money management. Tergantung kedekatan saya dengan sang peminjan, tapi jika kami benar-benar dekat, biasanya saya akan memberikan uang tanpa perlu dikembalikan. Jumlah yang saya berikan pun lebih rendah dari yang diminta. Cara ini terbukti efektif untuk menghentikan percobaan pinjaman-pinjaman di masa yang depan, karena sang peminjam biasanya gak enak. Yay!!

Selain dua alasan di atas, ada lagi satu alasan yang bikin gondok: “buat modal usaha”. Nah kalau yang minjam dengan alasan ini biasanya jumlah yang akan dipinjam bukan ratusan lagi, tapi jutaan. Resiko meminjamkan uang jutaan bagi saya agak mengerikan, apalagi gak ada jaminan dari BLBI jika terjadi gagal bayar. Nistanya, kalau pinjaman ini nekat kita tolak, seringkali ada komentar miring macam: “masak sih duit segini aja ga punya, kan gajinya kerja disini [sambil menyebut institusi tempat saya bekerja dulu] pasti gede.” Walaupun tak pernah mengalami, tapi saya sering mendengar mereka yang memiliki pasangan orang asing dikomentari tak enak: “ya kan suaminya bule, duitnya banyak.” Lha kalau pasangannya orang asing, apa mereka mesti buka koperasi simpan pinjam?

Ngomong-ngomong tentang pinjam duit, di tiap negara dimana ada komunitas orang Indonesia pasti ada peringatan-peringatan supaya berhati-hati jika si A, B, C atau D meminjam uang, karena catatan buruknya. Catatan buruk ini apalagi kalau tidak pernah mengembalikan uang pinjaman. Enaknya di Irlandia, mereka yang nekat minjam uang dan tak dikembalikan bisa diperkarakan, bahkan dipaksa membayar secara cicilan dengan cara dipotong dari gajinya. Enak sih uang kembali, tapi capeknya itu lho.

pinjam duit

source: bankrollup.com

Bicara tentang pinjam meminjam, tentunya kita tak bisa lepas dari institusi seperti koperasi, pegadaian dan juga bank. Saya kadang bingung, mengapa orang-orang yang perlu uang untuk usaha ini tak memulai menyimpan uang di koperasi, membangun reputasi lalu meminjam uang ketika saatnya sudah tiba. Berdasarkan pengalaman orang-orang, proses meminjam di koperasi itu lebih mudah daripada di bank, walaupun bunganya sungguh mengerikan. Koperasi tak hanya dikenal di Indonesia saja, di Irlandia pun saya menemukan institusi serupa.

Selain koperasi, alternatif tempat ‘pinjam uang’ lainnya adalah pegadaian yang punya reputasi beres dalam waktu lima menit. Sekitar enam tahun yang lalu saya pernah berurusan dengan pegadaian ketika gaji saya terlambat dikirimkan. Telatnya sudah gak main-main lagi dan sialnya tabungan saya tak bisa dijamah karena diprogram untuk rentang waktu tertentu. Menggadaikan barang ternyata mudah sekali, cukup bermodal kartu identitas dan barang yang digadaikan. Bunga pinjaman dihitung dalam waktu mingguan, jadi semakin cepat menebus semakin rendah bunganya. Jika tak ditebus dalam kurun waktu 16 minggu, barang tersebut kemudian akan dilelang.

Dengan akses seperti itu, mestinya pinjam-meminjam uang pada teman tak perlu dilakukan. Cukup ke pegadaian yang bisa ditemukan dimana saja, dan menggadaikan barang berharga. Bebas dari rasa malu pada teman, apalagi pada orang tua. Di pegadaian pun petugas juga tak bertanya kenapa kita memerlukan uang.

Bicara tentang pinjam-meminjam, tentunya kita tak bisa melupakan institusi perbankan. Perbankan di Indonesia tak hanya gencar menawarkan kartu kredit tapi juga gencar menawarkan KTA, kredit tanpa agunan. Beberapa tahun lalu saya ditawari KTA yang bunganya sungguh mencekik leher. Ketika itu, KTA yang prosesnya luar biasa mudah tersebut ditawarkan sebagai sebuah paket dari employee banking yang ada di institusi tempat saya bekerja. Sang marketing menawarkan KTA dan saya menolak, karena tak sedang memerlukan uang tunai dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat (saya juga tak rela bayar bunga yang mencekik). Mas marketing kemudian berkata: “Ya siapa tahu ingin liburan ke luar negeri atau ganti handphone yang lebih canggih. Sayang lho mbak, kesempatan bagus dilewatkan”. Oalah mas, nampaknya pinjam uang sekarang bukan karena kebutuhan yang mendesak lagi, tapi karena memaksakan gaya hidup tertentu.

Pernah dipinjami uang oleh teman, atau mungkin dipaksa utang oleh bank?

Xx,
Tjetje

Kartu Plastik Nan Sakti

Kartu plastik berisikan enam belas digit angka ajaib serta tiga angka yang lebih ajaib lagi merupakan barang biasa di Indonesia. Proses mendapatkan kartu kredit di tanah air boleh dibilang luar biasa mudah dan cepat, walaupun tak secepat proses menggadaikan barang berharga di pegadaian. Kartu kredit juga menjadi senjata ampun bagi para pegawai untuk tetap bisa melampiaskan napsu belanja ketika gaji belum tiba.

Mendapatkan kartu kredit terbilang mudah, cukup dengan mengisi dan menandatangani beberapa lembar formulir dan menyertakan kartu identitas. Slip gaji yang biasanya menjadi acuan untuk menentukan limit kartu juga bukan sesuatu yang benar-benar diperlukan. Bahkan terkadang para marketing kartu kredit mengambil inisiatif untuk menaikkan gaji di aplikasi. Status sebagai pekerja kontrakan pun tak menjadi masalah, karena semuanya bisa diatur. Diatur oleh para aplikan ini sendiri.

Ketika pihak bank menelpon ke kantor, HRD yang bertugas memverifikasi data-data aplikan bisa dengan mudahnya ‘dipalsukan’. Cukup bekerja sama dengan resepsionis kantor untuk mengalihkan telpon pada orang-orang yang sudah ditentukan, maka urusan pun akan lancar. Perlu dicatat, pihak HRD gadungan ini haruslah orang yang memiliki ketenangan dan juga kepercayaan diri untuk bisa menjalankan akting dengan baik. Data-data pun harus sudah dipersiapkan supaya ‘HRD’ tak kagok ketika menerima pertanyaan.

Kerjasama terorganisir ini tak hanya memudahkan fasilitasi akses hutang aplikan tapi juga mempermudah sales kartu kredit mencapai targetnya. Di sebuah halte TransJakarta saya pernah iseng ngobrol dengan seorang sales dan ia mengatakan honor 250.000 baru bisa didapatkan ketika seorang aplikan sudah mengaktifkan kartu kreditnya. Jadi ya jangan heran kalau kita sering dibujuk mengaktifkan kartu.

credit card

Memiliki kartu kredit tidak selamanya gratis, ada biaya tahunan yang seringkali diberikan secara gratis hanya pada tahun pertama. Biaya tahunan di tahun selanjutnya jarang sekali gratis. Jika ingin digratiskan seumur hidup, konsumen cukup menelpon pemberi kartu dan mengancam menutup kartunya. Seringkali gertak sambal ini berhasil, tapi ada kalanya tak berhasil.

Kartu kredit memang mempermudah banyak hal, termasuk urusan belanja-belanja online yang jika tak direm bisa keblablasan. Urusan tak bisa mengerem ini sebenarnya cukup berbahaya, apalagi bunga kartu kredit di Indonesia tingginya melebihi gedung-gedung pencakar langit. Bunga yang seringkali disamarkan menjadi sangat rendah, serendah 2 atau bahkan 3 persen per bulan dan membuat orang lupa bahwa bunga harus dikalikan 12 bulan terlebih dahulu. Bunga yang tinggi ini kemudian masih dibungakan lagi ketika terjadi kegagalan pembayaran. Makanya jika melakukan transaksi yang diniatkan untuk dibayar secara cicilan, ada baiknya transaksi tersebut diproses untuk menjadi cicilan, entah enam bulan entah satu tahun. Konon bunga-berbunga ini sudah dihapuskan setelah terjadi kematian nasabah Citibank yang diintimidasi oleh tukang tagihnya, tapi tak membuat suku bunga menjadi lebih rendah.

Tukang tagih atau lazim disebut sebagai debt collector ini memang sangat mengerikan dan entah mengapa selalu datang dari timur Indonesia. Banyaknya tukang tagih dari Timur Indonesia ini seakan mengukuhkan kegalakan orang-orang dari Timur. Sungguh sebuah label yang saya tak sukai. Anyway, di sebuah kantor saya dulu ada tukang tagih menyeramkan datang untuk menagih hutang salah satu pekerja di gedung kami. Singkat cerita, sang tukang tagih hutang tersebut pulang dengan hampa, bahkan tak sempat menunjukkan giginya, karena satpam di kantor kami berasal dari daerah yang sama. Yang berhutang pun aman, tak tersentuh.

Kendati ada kasus buruk dengan orang kartu kredit, orang-orang masih saja tak gentar dan ingin punya kartu kredit. Bahkan tak sedikit orang yang memiliki lebih dari lima kartu kredit dan menumpuk hutang-hutang pada kartu kredit tersebut. Beberapa orang yang saya kenal bahkan dengan mudahnya “melarikan diri” dari belitan hutang ini karena identitas yang mereka gunakan palsu. Pada saat yang sama, ada beberapa orang yang mengalami kesialan ketika harus berhadapan dengan melonjaknya tagihan karena data yang bocor.

Kartu kredit menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang modern di kota-kota besar di Indonesia. Kartu ini menjadi semacam identitas semu untuk melambangkan bahwa sang empunya bukanlah orang sembarangan dan memiliki penghasilan dalam jumlah fantastis sehingga bisa memiliki kartu-kartu berwarna emas atau berwarna platinum. Nampaknya gaya seperti orang-orang kaya masa lalu yang membawa segepok uang tunai di dalam karung bukanlah gaya hidup yang dianggap stylish lagi. Orang kaya jaman sekarang modalnya cukup kartu plastik bukan uang tunai lagi.

Kamu punya berapa banyak kartu kredit?

Xx,
Tjetje

Hebohnya Parade Hari Santo Patrick di Dublin

St. Patrick’s Day merupakan salah satu hari terpenting di Irlandia. Tak hanya dirayakan di Irlandia, St. Patrick’s Day juga banyak dirayakan di negara-negara dimana banyak terdapat diaspora Irlandia, seperti Amerika. Berbagai gedung dan landmark di dunia juga berubah warna menjadi hijau untuk memperingati St. Patrick’s Day ini. Jika tahun lalu saya bersedih hati karena visa belum juga keluar, tahun ini saya bersemangat karena bisa menonton parade ini secara langsung untuk pertama kalinya.

Parade tahun ini juga menjadi spesial karena grand marshal (yang memimpin parade) adalah seorang anak remaja penyandang disabilitas berusia 19 tahun. Ia mengalami tetra Amelia, suatu kondisi dimana ia lahir tanpa kaki dan tangan. Di dunia hanya ada 7 orang dengan kondisi seperti ini. Selain Joanne O’Riordan, ada setidaknya 5 anak down syndrome serta beberapa anak-anak di kursi roda yang mengikuti parade ini sebagai partisipan. Mereka yang di kursi roda mengenakan kostum khusus yang dirancang menutupi kursi mereka. Dari pengamatan saya para penyandang disabilitas juga mendapatkan wilayah khusus untuk menonton sehingga tak perlu berdesakan dengan 500 ribu orang lainnya. Beberapa orang yang mengisi parade juga mampir ke area ini untuk selfie atau bersalaman. Bagi saya yang pernah bergulat dengan isu disabilitas, perhatian yang diberikan pada mereka yang menyandang disabilitas ini bikin ngiri, ngiri kapan Indonesia bisa seperti ini.

https://www.instagram.com/p/BDDqkF-wxoX/?taken-by=binibule

Selain diisi 10 kelompok drumband dari Amerika, saya juga melihat kelompok drumband dari Perancis. Kata suami, ada daftar tunggu panjang untuk bisa ikutan parade ini, jadi tak heran kalau ada ratusan orang Amerika yang rela menempuh perjalanan jauh demi tampil disini. Sekelompok polisi dari Berkeley Amerika juga datang dan berparade di depan. Mereka ini cukup spesial bagi orang-orang Irlandia, karena mereka merupakan first responders saat adanya balkon ambruk di Berkeley musim panas lalu. Saat itu lima orang Irlandia dan satu pelajar Amerika meninggal dunia dan seluruh Irlandia berduka cita, termasuk Presidennya. Bendera-bendera juga langsung setengah tiang untuk menghormati para pelajar yang meninggal tersebut. Di Irlandia, kematian dan tragedi rupanya ditanggapi secara serius.

Anjing K-9 yang sedang berparade bermain-main dengan penonton anak-anak.

Parade ini tidaklah terlalu panjang, karena tahun ini ada peringatan 100 tahun Easter Rising di Irlandia, yang berarti akan ada parade lagi. Tapi cukuplah saya puas berdiri dari sebelum jam 10, dua jam sebelum parade dimulai, hingga parade berakhir pada pukul 2 siang. Beruntungnya matahari hari itu bersinar cerah, langit biru, walaupun sesekali muram dan suhu udara tak terlalu dingin.

Bagi saya, St. Patrick’s Day yang diperingati sebagai hari penting Santo Patrick ini berubah menjadi hari minum-minum di mana saja, terutama setelah parade usai. Alkohol yang baru-baru saja diperkenankan dikonsumsi pada saat St. Patrick’s Day tak hanya dikonsumsi oleh orang-orang dewasa tapi juga anak-anak di bawah umur. Mereka minum di jalan-jalan dan juga di dalam pub dan pada hari itu, Polisi memperbolehkan orang-orang untuk minum di jalan.

Masuk dan membeli minum di pub sendiri memerlukan usaha, karena banyaknya manusia. Saya yang duduk bersama pasangan di bar bersimpati luar biasa pada bartender yang berjuang keras untuk bisa memberikan minum secepatnya. Di pub tempat saya nongkrong, sang bartender menyiapkan minuman dan juga menjadi kasir. Perlu dicatat juga bahwa membeli minuman di bar berarti harus datang ke bar, memesan, menunggu minuman dan langsung bayar; tak ada sistem menunggu di meja. Saking penuhnya, pub yang saya datangi sampai sempat kehabisan gelas.

Anak-anak muda yang di bawah umur dan tak diperkenakan masuk pub tak kehabisan akal. Di depan mata saya mereka memindahkan sebotol whisky ke dalam botol soda. Tanpa malu mereka meletakkan botol whisky kosong tersebut di samping saya yang sedang berdiri menanti suami. Ketika itu saya hanya tertegun dan speechless. Wajar saja jika pada pukul 4 sore sudah banyak anak-anak di bawah umur yang mabuk dan berlaku gila. Menurut seorang teman, saya seharusnya melaporkan anak-anak tersebut ke Polisi yang banyak berkeliaran supaya minuman tersebut disita. Ah biarlah, biar mereka tahu enaknya hungover.

Daerah Temple Bar yang terkenal sebagai daerah turis juga dipenuhi lautan manusia yang mengenakan aneka ornamen hijau warna yang identik dengan St. Patrick. Polisi berjaga-jaga di setiap gang kecil yang menuju kawasan ini. Mungkin jika ada insiden atau perkelahian mereka bisa segera merespons dengan cepat. Jumlah polisi yang ada di Dublin saat itu juga mengalahkan jumlah polisi pada saat pengamanan demo besar. Agaknya orang mabuk memang lebih membahayakan ketimbang demonstran.

Peringatan St. Patric’s Day awalnya identik dengan warna biru, tapi kemudian diganti dengan warna hijau, supaya sesuai dengan warna shamrock, daun keberuntungan Irlandia yang juga menyimbolkan Katolik trinity. Bicara tentang Shamrock, John sang penunggu pintu di Brown Thomas, salah satu pusat perbelanjaan papan atas di Dublin juga mengenakan daun shamrock di topinya. Saya perhatikan ada beberapa orang yang berdandan formal (mungkin duduk di tribun kehormatan bersama orang-orang penting di Irlandia) serta orang-orang tua yang memasang daun tersebut. Rupanya ini merupakan tradisi. Kata suami, jaman dulu daun itu bisa didapatkan dari gereja, tentunya setelah lebih dulu diberkati.

https://www.instagram.com/p/BDEJnLcwxpM/?taken-by=binibule

Setelah melihat langsung kegilaan St. Patrick’s Day, saya paham betul mengapa orang-orang lebih memilih untuk duduk di rumah saja melihat televisi ketimbang datang ke kota. It was mad! Sudut-sudut kota menjadi kotor, orang duduk di trotoar sambil makan karena tak ada tempat tersisa di restoran cepat saji, sementara trotoar menjadi lengket karena tumpahan bir. Pada saat yang sama orang tua yang membawa kursi dorong bayi tak bisa bergerak leluasa, sementara para gelandangan duduk di pinggir jalan mengharapkan recehan. Kendati luar biasa dipenuhi manusia dan ‘gila’, saya tak kapok. Tahun depan, saya akan tinggal di pusat kota lebih lama supaya saya bisa melihat dan mengamati kegilaan yang lebih parah.

Postingan ini akan saya akhiri dengan video kocak dari seorang kakek-kakek yang memilih untuk duduk di halaman belakangnya bersama anjingnya (perhatikan dia berkata: me dog) karena dia sebel lihat banyaknya orang Amerika di Dublin saaat St. Patrick’s Day. Si kakek ini langsung terkenal karena gayanya menirukan turis Amerika.

Have a nice week everyone!

xx,
Tjetje

3 Restauran Sushi Terenak di Jakarta

Sebenarnya saya ini bukan food blogger, saya lebih suka memanggil diri sebagai sosial blogger. Tapi apa daya, berhubung sedang rindu berat dengan masakan Jepang jadi tergerak untuk menulis cerita tentang restauran Jepang. Komunitas Jepang di Indonesia memang cukup besar, jadi tak heran jika di Indonesia, apalagi di Jakarta, jumlah restauran Jepang sangat banyak tersebar di berbagai sudut kota. Dan tanpa disadari, lidah saya memang sudah banyak terekspos dengan masakan Jepang.

Alkisah, bulan Februari lalu saya dan pasangan memutuskan untuk mengunjungi salah satu restauran Jepang yang konon TOP BGT di Dublin. Dari beberapa review, restauran ini menduduki peringkat tinggi dan banyak disukai oleh Dubliner. Halah ternyata makanan di restauran ini biasa-biasa  saja. Bahkan sushinya berantakan ngerollnya. *ya maklum sudah pernah kursus sushi jadi agak belagu*. 

Saya jadi tergerak untuk berbagi beberapa restauran Jepang favorit saya di Jakarta. Berbicara tentang restauran Jepang tentunya tak bisa lepas dari satu restauran sushi yang banyak dicintai orang Jakarta. Gak usah disebut lah namanya, yang jelas kalau bulan puasa ini restauran antriannya panjang. Anyway, saya pernah mengajak seorang rekan dari Jepang untuk makan di restauran ini sambil berpromosi bahwa sushi itu enak. Ternyata bagi lidah orang-orang Jepang yang saya kenal, restauran ini terlalu fushion, kurang tradisional. Jadi dimana enaknya makan sushi yang tradisional?

Sushi Sei

Terletak di bagian belakang Plaza Senayan, persis di seberang X2, Sushi Sei menawarkan sushi dan sashimi yang benar-benar segar dengan kualitas super, bukan KW1. Memesan sushi disini tak bisa cepat-cepat dan tentunya tak bisa minta wasabi dan ginger segambreng karena semua sudah diatur oleh sang Chef. Dalam tata krama makan sushi, konsumen memang harus mempercayakan pada chef untuk mengatur jumlah wasabi. Makan siang di restauran ini juga seringkali dibuat set menu, yang termasuk dessert (biasanya buah) dan juga chawan musi. Bagi yang mengadakan pesta atau arisan, sushi sei juga menjual sushi dalam wadah super jumbo yang khas Jepang. Kerusakan makan siang disini biasanya berkisar 150 ribu rupiah.

Marufuku

Restauran ini nyempil di kawasan little Tokyo di Blok M.  Saya ingat ketika pertama kali mencari restauran ini tak mudah dah harus bertanya pada tukang parkir dan juga mbak-mbak yang menjajakan jasa karaoke. Sushinya enak dengan harga yang tak terlalu mahal. Selain sushi, ada banyak kudapan dalam porsi kecil-kecil yang bisa dibagi (jika rela berbagi makanan, karena porsinya yang kecil). Marufuku juga menyediakan ruangan untuk “lesehan à la Jepang”. Kerusakan di Marufuku biasanya tak jauh-jauh dari angka 200 ribu per kepala.

Sakura

Ini jawaranya sushi di Jakarta. Chef di Sakura sudah beberapa kali menjadi jawara dalam perlombaan sushi di Jakarta dan menu sushi champion, begitu mereka menyebutnya, seringkali dimunculkan di dalam menu ketika mereka baru menjadi juara. Tetapi ketika tak ada di menu kita masih bisa meminta sushi champion.

Sakura yang terletak di Cilandak (dan Graha Niaga), juga menawarkan kelas untuk belajar membuat sushi. Ongkosnya tak terlalu mahal dan pada akhir kelas masing-masing peserta bisa membawa pulang sushi hasil karyanya dan juga mat untuk membuat sushi. Tips tentang salmon segar yang pernah saya tulis disini juga saya dapatkan setelah mengikuti kelas sushi di Sakura ini.

Selain restauran di atas Jakarta masih banyak diberkahi dengan masakan Jepang yang endang bambang. Little Tokyo di Blok M misalnya tak hanya menjadi surga karaoke, tapi juga gudangnya makanan jepang. Bochi-bochi termasuk salah satu restauran yang sangat ngetop, tapi restauran ini tutup di awal tahun 2014 dan berubah nama menjadi Tanba. Sayangnya saya belum pernah mencoba Tamba. Ada juga Basara yang terletak di seberang Ratu Plaza yang tiap makan siang pasti penuh dengan orang Jepang. Untuk restauran kelas rumahan juga ada Ootoya yang sangat bersahabat dengan kantong. Btw, setelah lebaran kami pernah makan di Ootoya dan sang manajer memberi tahu bahwa kualitas tofu untuk saladnya tak sama, karena berbeda supplier. Sample tofu juga diberikan supaya kami tak kecewa. Sungguh layanan yang membekas di hati.

Soal ramen, jawara ramen bagi saya masih diduduki oleh Marutama Ramen yang punya beberapa outlet di Jakarta, disusul dengan Ippudo ramen di Pacific Place yang terkenal dengan dapur haram dan dapur tidak haram, bahkan alat-alat haram dan tak haram pun dipisahkan. Dan tentunya tak boleh dilupakan Ikkudo ramen di Utara Jakarta yang juga haram. Bagi saya yang halal kurang menggigit. Ah kalau sudah gini saya jadi rindu makan okonomiyaki yang nyempil di Melawai sana. Aduh Jakarta, I miss you.

Selamat berakhir pekan!
Apa makanan Jepang favoritmu?

Xx,
Tjetje

Perempuan Bekerja

Dalam sebuah obrolan ringan saya tak sengaja menangkap sebuah topik menarik tentang perempuan bekerja. Perempuan bekerja memang bukanlah hal yang aneh lagi di abad ini, tetapi ketika perempuan tersebut memiliki pasangan yang sangat mapan, atau bahkan kaya timbul pertanyaan yang menjadi pertanyaan lumrah: “Ngapain kerja kalau suaminya kaya?”. Nampaknya, ada sebuah kewajaran bagi perempuan di masyarakat kita untuk tidak bekerja jika suaminya sudah mampu menanggung biaya hidup.

Di lingkungan yang patriarkis, beban biaya rumah tangga biasanya dibebankan pada pria, sementara perempuan kebagian tugas mengurus rumah tangga. Pekerjaan yang sering kali identik dengan leyeh-leyeh dan juga shopping untuk membelanjakan uang suami. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bagi sebagian orang, menjadi ibu rumah tangga merupakan sebuah kemewahan.

Mengapa saya sebut sebagai kemewahan? Karena tidak semua perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga dapat sepenuhnya melakukan hal tersebut. Ada perempuan-perempuan yang karena tingginya tuntutan kebutuhan hidup harus berbagi beban biaya bersama suami. Saya sebut berbagi, karena saya tak menyukai ide dan konsep membantu ekonomi rumah tangga. Bagi saya konsep membantu itu terkesan mengurangi nilai kontribusi perempuan. Sudah kerjanya sama-sama capek, eh cuma dianggap sebagai bantuan, tidak dianggap sebagai kontribusi yang sama-sama utamanya.

Selain kelompok di atas, ada juga perempuan yang memang tak mau menjadi ibu rumah tangga secara penuh dan memilih bekerja. Ada banyak hal yang mendorong hal tersebut, dari mengaktualisasi diri, mengejar karir, tak ingin ilmunya hilang begitu saja, mengisi waktu karena bosan di rumah, hingga karena ingin kebebasan finansial dan segudang hal lainnya.

Kelompok yang terakhir dinilah yang tak hanya seringkali dipertanyakan dorongannya untuk bekerja, tetapi juga seringkali dicela karena keputusannya untuk bekerja, terutama ketika sudah memiliki anak. Mereka seringkali dianggap sebagai ibu yang kurang baik, kurang bertanggung jawab, tidak berperasaan dan segudang tuduhan-tuduhan lainnya yang bikin saya gemes. Bahkan, seringkali ada meme yang beredar di sosial media yang mempertanyaan mengapa sang ibu tega meninggalkan anaknya untuk diasuh dengan pekerja rumah tangga yang pendidikannya jauh lebih rendah ketimbang pendidikan sang ibu.

stay home dad

Bapak rumah tangga seringkali dituduh sebagai pria malas yang gagal menghidupi keluarga. Cartoon: http://www.onabrighternote.ca

Mengapa muncul hal-hal seperti itu? karena perempuan bekerja tidak dilihat sebagai sebuah hal yang normal dan wajar. Di lingkungan kita, perempuan bekerja memerlukan alasan, memerlukan dorongan, serta aneka kondisi lainnya. Sementara, jika pria bekerja dianggap sebagai sebuah hal yang normal yang tak perlu dipertanyakan alasannya  sama sekali.

Bahkan, ketika baru lulus kuliah pun masih seringkali ada orang tua yang mengharapkan anak perempuannya langsung kawin dan tak perlu sekolah lebih tinggi lagi (karena akan berakhir di dapur). Sementara, anak pria langsung diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, beli rumah, beli mobil dan melamar anak gadis orang. Ketika bekerja pun, apalagi jika pekerjaannya menuntut jam kerja yang panjang (contohnya menjadi jurnalis), perempuan seringkali diminta untuk berhenti bekerja. Kalimat aneh yang pernah saya dengar seperti ini: “Gak usah kerja sampai harus pulang malam, bapak masih bisa kok ngasih makan kamu”. Ya emangnya perempuan cuma perlu makan? Gak perlu mengaktualisasi diri?

Jika ditanya apakah hal ini bisa diubah? saya pribadi merasa pesimis hal ini bisa diubah secara cepat. Perlu banyak waktu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang bekerja. Tapi setidaknya, diri kita sendiri bisa mulai melihat perempuan bekerja sebagai hal yang normal dan yang tak perlu dipertanyakan lagi alasannya.

Pernahkah kamu mempertanyakan mengapa seorang perempuan bekerja?

Xx,
Tjetje
Perempuan bekerja

Pengungsi

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang menjadi relawan dan Wulan yang pernah menghabiskan waktunya menulis isu tentang pengungsi di Indonesia meminta saya menulis tentang isu ini. Isu pengungsi merupakan isu yang panas di Eropa sejak beberapa waktu (atau bahkan tahun) belakangan ini. Herannya, setiap kali ngobrol dengan beberapa orang di tanah air tentang  ini, kok saya mendapat kesan banyak orang yang tak peduli atau bahkan tak tahu. Jadi, ijinkan saya berbagi sekilas tentang isu ini dari kacamata saya.

Sebelum beranjak lebih lanjut, ada baiknya kita bahas dulu tentang terminologi. Ada tiga terminologi yang bisa digunakan ketika membahas isu ini, yaitu pengungsi, pencari suaka, dan juga migran. Pengungsi menurut definisi saya adalah orang atau sekelompok orang yang mencari perlindungan ke negara lain karena dalam situasi terancam di negaranya. Beberapa situasi terancam ini antara lain minoritas satu agama atau etnis yang ditekan di negaranya (Rohingya contohnya), LGBT yang dihukum karena orientasi seksualnya, pembela HAM yang dicari pemerintah karena aktivitasnya, jurnalis yang dicari mafia, atau bahkan masyarakat sipil yang negaranya dalam keadaan genting. Sebelum diputuskan menjadi pengungsi biasanya mereka disebut asylum seeker/ pencari suaka. Pencari suaka ini mereka yang mengklaim sebagai pengungsi tetapi status mereka sebagai pengungsi belum diputuskan karena masih diproses. Soal lamanya proses bermacam-macam tergantung negara yang dituju.

Kelompok ketiga adalah migran yang berpindah ke negara lain karena banyak alasan, biasanya alasan ekonomi (atau meminjam istilah Mbak Yoyen, migran cinta seperti saya) tapi kelompok ini bukanlah kelompok yang berada dalam keadaan bahaya. Dalam ilmu tolong-menolong, kelompok ini paling belakangan ditolong karena mereka tidak dalam keadaan bahaya. Di berita-berita pun istilah migran lebih banyak digunakan, karena mengatakan seseorang sebagai pengungsi ataupun pencari suaka itu gak bisa langsung, lagi-lagi mesti pakai proses. Dalam logika saya sih sederhana, ketika mereka belum minta suaka, belum diputuskan jadi pengungsi, masih di atas kapal di dekat Yunani ya otomatis disebut sebagai migran karena mereka berpindah.

Eropa sendiri, terutama di bagian barat dan di daratan utamanya, serta Inggris  dibanjiri oleh migran ini karena adanya gejolak keamanan di berbagai tempat di jazirah Arab dan juga di Afrika. Terus terang sebagai orang yang tinggal di Irlandia, saya tak tahu betapa parahnya keadaan di daratan Eropa sana. Yang saya baca hanya keriuhan penutupan perbatasan, migran yang setiap hari meninggal di dekat Yunani dan juga masalah penyerangan seksual oleh sebagian kecil migran yang terlambat ditulis media dan akhirnya bikin kisruh dan labelisasi parah pada para migran.

Sebagian kelompok tidak menyukai migran dan juga pengungsi karena banyak hal, beberapa hal yang saya tangkap misalnya takut adanya Islamisasi Eropa, takut perbedaan budaya terutama dalam hal memperlakukan perempuan dan yang paling utama takut kehilangan pekerjaan. Migran dianggap sebagai pencuri pekerjaan, bahkan di Eropa Timur sana ada yang sampai demo bawa-bawa poster. Agak lucu dan aneh ngelihat kelakukan mereka, karena sebagian penduduk dari negara itu migrasi ke Irlandia dan juga negara-negara Eropa lainnya untuk bekerja. Lha ya mereka boleh cari kerja kok yang dari negara lain gak boleh. Rasis!

Nah beberapa waktu terakhir ini, saya banyak menghabiskan waktu untuk sekadar ngobrol, ngopi atau bahkan makan siang dengan rekan-rekan dari jazirah Arab dan juga Afrika Utara untuk bertanya tentang pengalaman mereka selama tinggal di Irlandia. Hasilnya? Semua orang yang saya ajak ngobrol bahagia tinggal di Irlandia dan gak pernah mengalami diskriminasi ataupun perlakuan rasis di Irlandia. Bahkan mereka yang berjilbab sekalipun. Ini bukan berarti disini rasisme dan diskriminasi tak ada sama sekali, saya yakin pasti ada.

Keterbukaan orang Irlandia ini saya simpulkan dilandasi banyak hal, pertama karena orang-orang Irlandia pernah sengsara ketika terjadi kelaparan karena gagalnya panen kentang di jaman 1845-an. Sebagian penduduknya bermigrasi ke berbagai sudut dunia termasuk ke Amerika. Maka tak heran jika orang-orang di negeri ini, bahkan yang tua sekalipun, menerima manusia yang berpindah dari negara lain.

Bicara sejarah tentunya tak boleh lupa juga dimana orang Irlandia banyak ditekan karena agamanya yang Katolik, didiskriminasi urusan pekerjaan, pendidikan bahkan dianggap teroris (Catatan: jaman dulu hanya mereka yang Anglican yang bisa maju). Maka tak heran jika kepiluan dan didiskriminasi ini tak diulang oleh orang-orang Irlandia termasuk terhadap muslim. Jadi ya jangan heran kalau negara dan orang-orang di negara ini dianggap berperilaku Islami. Satu hal lagi yang bagi saya sangat menarik, keterbukaan ini juga dilatarbelakangi oleh fakta bahwa orang Irlandia itu moyangnya dari mana-mana, ada yang dari Spanyol, Inggris bahkan Viking.

Nah tapi walaupun Irlandia negara yang kelihatannya menarik, bahkan menjadi magnet para migran dari Eropa Timur, terutama Polandia, negara ini rupanya tak terlalu diminati oleh para migran dan pengungsi dari negara-negara yang terlanda konflik. Seorang pengacara yang fokus pada migran dan pengungsi pernah bercerita, satu hari ada trayek penerbangan baru yang dibuka dan langsung dari sebuah negara di Afrika ke Dublin (saya tak ingat negaranya). Pada penerbangan pertama ini sang pengacara memperkirakan pesawat ini akan dipenuhi oleh para migran dan para pencari suaka. Ternyata oh ternyata ia salah, saat itu hanya 7 orang saja yang mencari suaka.

Irlandia beberapa waktu lalu dikritisi oleh Merkel karena tidak menolong banyak migran dan juga pengungsi. Ya apa mau dikata, negara ini baru dihempas krisis ekonomi, terjadi krisis rumah yang bikin banyak orang menjadi homeless dan menggelandang. Bukan alasan juga untuk tidak menolong mereka, tapi ya apa pantas kalau orang-orang ini kemudian sampai di negeri ini kemudian menggelandang dan malah jatuh sengsara (ini yang banyak terjadi di daratan Eropa dan memicu sebagian kecil dari mereka kembali ke negaranya).

Anyway, cerita migran ini bisa berlanjut semakin panjang, tapi sebaiknya saya akhiri dulu dengan sebuah poster cantik yang tersebar di beberapa sudut Dublin:

Refugee Welcome

Bagaimana dengan kalian, ngikutin berita pengungsi juga gak?

xx,
Tjetje

Perempuan dan Aborsi

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah sekitar belasan tahun lalu, seorang teman menelpon ke rumah saya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, ia tiba-tiba bertanya tentang tempat untuk melakukan aborsi. Kata dia, teman kuliahnya hamil dan ia berinisiatif membantu mencarikan tempat untuk aborsi. Seketika itu juga saya langsung menangkap bahwa dialah yang hamil.

Pada saat itu saya banyak mendengar teman-teman yang melakukan aborsi, tapi hanya sebatas mendengar dari mulut kesekian. Hanya satu orang teman pria saja yang pernah menceritakan dengan gamblang bagaimana proses aborsi berlangsung. Aborsi yang saya bicarakan ini tentunya aborsi ilegal, tetapi dilakukan oleh tenaga medis, seorang dokter yang berada di luar Malang. Bagaimana mengerikannya proses aborsi tak perlu diceritakan lah ya karena sungguh bikin ngilu.

Kengiluan ini bertambah parah ketika tahu bahwa dokter yang melakukan proses itu tak memperkenankan pasien untuk menginap di tempat praktek. Ya ampun yang kepikiran di kepala saya tentunya perut diobok-obok lalu tak lama ‘diusir’ keluar (eh bayar dulu dong ya dan biayanya ketika itu cukup buat bayar kuliah satu tahun). Dalam kondisi mental dan fisik yang tentunya saya bayangkan tak karu-karuan, masih ada perjalanan yang harus ditempuh dari luar Malang untuk kembali ke Malang, yang rata-rata harus ditempuh oleh anak-anak mahasiswa jaman 90-an dengan naik motor atau naik bis. Sementara secara mental dan fisik sang perempuan pasti kelelahan tak karu-karuan.

pexels-cottonbro-studio-7585026

Teman-teman saya tersebut beruntung bisa melakukan aborsi yang ditangani oleh tenaga medis. Setidaknya prosesnya berlangsung dengan aman walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ilegal. Ada banyak sekali proses-proses aborsi yang dilakukan tak aman, salah satunya dengan melakukan pijat. Pijatan yang dilakukan di area perut yang bertujuan untuk melepaskan fetus dari rahim, lalu dilanjutkan dengan peluruhan.

Proses peluruhan ini bisa dilakukan dengan pijat-memijat atau bahkan dengan meminum aneka rupa jamu-jamuan atau ramuan lainnya.  Selain minum jamu-jamuan, ada juga yang memakan nanas muda yang konon ‘panas’ sehingga menyebabkan kandungan yang masih muda luruh. Entah luruh semua atau luruh sebagian. Kalau luruh semua ya syukur, sementara kalau luruh sebagian dan infeksi, haduh…..

Bicara tentang aborsi tentunya tak bisa lepas dari proses menguburkan janin-janin tersebut. Konon tempat-tempat prakter dokter kandungan biasanya agak berhantu karena banyak terjadi proses aborsi. Nah, salah satu orang yang saya kenal pernah menguburkan janinnya di sebuah rumah miliknya yang tak ditempati. Rumah ini tak ditempati karena sedang mencari peminat untuk mengontrak. Orang-orang di perkampungan itu kemudian heboh karena di malam hari sering terdengar suara bayi menangis dari rumah kosong ini. Selidik punya selidik dan nampaknya penyelidikan tersebut melibatkan ‘orang pintar yang tidak minum tolak angin’, terungkaplah bahwa ada janin di rumah tersebut. Sang kenalan ini kemudian harus berurusan dengan warga kampung tersebut gara-gara urusan  janin bayi yang menangis tersebut. Saya sendiri tak tahu harus percaya atau tidak percaya dengan hal seperti ini.

Di Indonesia, aborsi sebenarnya bukanlah hal yang ilegal dan bisa dilakukan pada kasus-kasus tertentu, pada usia kehamilan tertentu tetapi hanya pada pasangan yang sudah kawin. Jauh berbeda dengan di Irlandia yang tidak memperbolehkan aborsi dalam kondisi apapun. Bahkan ketika nyawa ibunya menjadi taruhan, tak ada dokter yang berani melakukan tindakan karena takut dibawa ke pengadilan karena membunuh janin. Aturan ini merujuk pada agama Katolik yang dominan di Irlandia. Jeleknya, aturan ini berlaku pada siapapun, dengan agama apapun. Termasuk pada Savita Halappanavar, pelajar beragama Hindu yang meninggal karena ada kasus dengan kehamilannya. Saat itu tak ada dokter yang berani mengaborsi bayinya, sehingga menyebabkan infeksi dan kerusakan organ yang berujung kematian sang ibu. Tragis, sungguh tragis.

Savita

photo: thejournal.ie

Perempuan-perempuan yang hendak melakukan aborsi dengan alasan apapun harus melakukan perjalanan ke luar Irlandia. Persis dengan pengalaman teman saya di paragraf atas yang harus pergi ke luar Malang dahulu. Ketika mereka punya cukup waktu untuk mempersiapkan perjalanan untuk aborsi sih ‘masih okay’, tapi begitu dalam kondisi emergency, aduh gak kebayang deh berapa Savita lagi yang harus meninggal sampai peraturan di Irlandia berubah.

Dalam urusan aborsi, saya memposisikan diri untuk tidak menghakimi perempuan yang melakukan hal tersebut karena banyak hal. Tetapi yang paling utama, perempuan adalah penguasa tubuhnya, bukan negara, bukan politikus dan bukan orang-orang lain di sekitarnya. Maka ketika seorang perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi, sudah sepatutnya ia mendapatkan akses aborsi yang aman. Aman secara medis, aman secara hukum dan tentunya aman dari kecaman dan hujatan, karena sesungguhnya, memutuskan untuk melakukan aborsi itu tak semudah mulut-mulut mengeluarkan hujatan kepada mereka.

Selamat hari Perempuan!
Bagaimana dengan kalian, setujukah kalian dengan aborsi?

Xx,
Tjetje
Kematian Savita Halappanavar (Bahasa Inggris)