Pembicaraan Gila di Tan Son Nhat Airport

Postingan ini pernah dimuat di dalam blog lama saya multiply yang sudah tamat riwayatnya.

Halo, saya punya oleh-oleh cerita setelah jalan-jalan keliling Vietnam dari Ho Chi Minh hingga Halong Bay. Bukan cerita perjalanan, tapi cerita unik di hari terakhir di Vietnam. Tepatnya, cerita dari bandara. Warning, buat yang nggak suka bergunjing, lebih baik skip postingan ini karena ini edisi rumpi abis tanpa manfaat.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, saya bertemu dengan perempuan Indonesia, sebut saja namanya Mawar. Ketika itu perempuan berusia 23 tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari duduk sendiri. Sambil menikmati roti lapis yang tak enak saya iseng-iseng ngobrol. Obrolan kami dimulai dengan kota-kota yang telah kami kunjungi, mbak Mawar mengindikasikan bahwa dia baru selesai liburan ke sebuah pantai, lupa namanya, bersama kekasihnya. Si Mbak Mawar ini rupanya memiliki pacar orang asing, dari Jerman yang merupakan GM sebuah perusahaan minyak di Indonesia.

Lalu, secara terbuka si Mbak menceritakan (tanpa ditanya) bahwa dia lulus SMP pergi ke Hong Kong, bekerja di keluarga Amerika sebagai nanny selama tiga tahun. Lalu kembali ke Indonesia dan bekerja di Bali. Di sanalah dia bertemu kekasihnya. Lalu berhenti bekerja, karena menurutnya kalau bekerja paling-paling gajinya hanya 1,5 juta, sementara kiriman dari kekasihnya jauh lebih besar dari itu. Disamping itu, hampir setiap saat dia harus pergi ke luar negeri mengikuti kekasihnya yang keliling-keliling. Ibunya, bekerja sebagai TKW juga di Malaysia. Tiap kali diajak jalan-jalan ke Malaysia, ia selalu seneng, karena bisa ketemu ibunya.

Lalu sampailah kami pada topic clubbing. Mbak mawar rupanya hobi clubbing dan tempat favoritnya B.A.T.S di Hotel Shangrilla. Buat yang belum pernah ke B.A.T.S, ini club ada di lantai dasar Hotel Shangrilla Jakarta. Kalau malam penuh dengan partygoers dan juga mereka yang menawarkan jasa kehangatan terutama pada pria-pria kulit putih. Perlu dicatat gak semua yang pergi ke B.A.T.S lagi buka lapak dagangan ya, jadi jangan digeneralisasi. Kenapa mbak Mawar suka B.A.T.S? Karena di sana suka ada bule error, dua kali dia ditemplokin duit 500.000.Saya pun menimpali kegerahan saya karena di hotel ini banyak yang menjajakan kehangatan. It’s their body their business lah ya. Tapi dari pengalaman saya, yang nyari cowok di sini itu suka reseh. Saya dan rombongan teman-teman datang ke BATS membawa teman WNA yang penasaran dengan gemerlap Jakarta. Ini kita serombongan pada disikutin, karena banyak yang rebutan pengen ngobrol dengan teman kami yang orang asing. Kami pun ternganga, karena keseharian kami, ini orang kagak ada yang mau. Tiba-tiba jadi super laku, super populer dan diperebutkan. Parahnya, kami, para teman-temannya kena sikut. Oh Jakarta, kadang kejam!

Entah gimana ceritanya, saya kemudian membahas harga service kencan yang konon USD 200 per malam. Sok-sokan baru tahu harga segitu, eh ternyata salah dan saya dikoreksi. USD 200 itu untuk short time. Lalu, sampailah kami pada pembicaraan yang membuat saya terbungkam, terdiam dan tercenung.

Si mbak Mawar bercerita bahwa dia pernah dua kali ketemu bule yang mau memakai dia, tarifnya 3 juta rupiah saja. Tapi tak seperti penjaja jasa kehangatan profesional yang lebih suka milih bule tua (karena mainnya singkat dan uangnya banyak),  si mbak Mawar hanya mau sama yang ganteng. Si Mbak Mawar  kemudian berkata:

Lalu saya pun tertegun, hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk tapi tak bisa menyembunyikan kekagetan. Too much information, otak saya nggak bisa mencernanya, apalagi komentar.

Buat saya apapun pekerjaan dia, selama itu bikin dia happy nggak masalah. Tapi saya nggak tahu mesti bereaksi apa kalau dapat informasi seperti ini, salah juga ngapain reseh ngobrol-ngobrol sama orang di Bandara.  Mestinya kan baca buku aja!

Jadi kalau ketemu yang model begini mesti jawab apa? 

xx,
Tjetje

Menghitung Prorata Salary

Postingan ini pernah dimuat di Multiply pada Jan 20, ’09 12:09 PM
Banyak di antara kita yang bingung bagaimana menghitung gaji secara prorata, hal sepele, kalau menyangkut uang, bisa jadi pemicu keributan yang buntutnya musuhan, nggak ngomong, atau bahkan membunuh. Berdasarkan pengalaman di kantor saya terdahulu, serta konsultasi pada bagian HR serta keuangan dari berbagai organisasi, sampailah saya pada kesimpulan cara menghitung gaji secara prorata. Ini merupakan kesimpulan saya sendiri yang digunakan pada banyak organisasi, tetapi bukan merupakan general konsensus. Tiap organisasi memiliki cara perhitungannya masing-masing. Jadi silahkan dikonsultasikan dengan bagian HRD.

Continue reading

Cara Memasak Nasi Jepang

Seringkali orang bertanya mengapa nasi di restoran Jepang rasanya lebih enak dari nasi dari tempat lain. Setelah diajak teman ke kursus Sushi, saya jadi tahu kalau ternyata rahasia kelezatan nasi Jepang itu terletak pada kesabaran, ketelatenan dan kekuatan kantong dalam membeli nasi. Beras berkualitas bagus, tidak datang dengan harga yang murah.

Beras Jepang terbagi dalam beberapa kualitas, untuk membuat sushi, beras yang dipilih harus yang kualitas super dan tak mudah patah. Tentunya beras ini tak boleh disemprot obat nyamuk apalagi bensin dalam membunuh hamanya. OOT: Baru-baru ini saya menghadiri seminar tentang hama wereng coklat dan perubahan iklim. Ternyata oh ternyata, banyak sekali petani yang membunuh hama wereng coklat itu dengan menyemprotkan hal-hal yang tidak seharusnya disemprotkan. Bahkan, banyak pestisida di Indonesia ternyata sudah lama dilarang di Eropa.

pexels-chevanon-photography-359992

Photo by Chevanon Photography: https://www.pexels.com/photo/prawn-sushi-on-black-platter-359992/ Beras Jepang merek ternama biasanya Nishiki.

Beras jepang biasanya short-grain, atau kalau kata keluarga saya beras yang gendut dan pendek. Jenis ini biasanya disebut juga oryza sativa var. Japonica. Daripada repot-repot ngapalain nama latin, cari saja berat Nishiki. Beras nan mahal yang harganya bisa mencapai ratusan ribu ini bisa dibeli di supermarket Jepang atau supermarket yang menjual barang-barang import. Di Jakarta, beras ini bisa dibeli di Papaya, Kamome, atau Grand Lucky.

Menurut chef sushi yang mengajari saya, cara memasak beras Jepang adalah sebagai berikut:

  1. Cuci beras, tapi ketika mencuci beras jangan diaduk-aduk dengan kasar, harus halus dan menggunakan perasaan. Jika mengaduk tanpa perasaan dan kasar, ditakutkan berasnya patah. Setelah satu atau dua kali mencuci, kucuri beras dengan air selama 2 (dua) menit.
  2. Setelah itu, tiriskan beras di atas kain (atau saringan yang teramat kecil lubangnya) selama 15 (lima belas) menit supaya berasnya mekar, merekah dengan sempurna.
  3. Setelah 15 (lima belas) menit, beras dapat dimasak. Nah rumus beras Indonesia yang airnya diukur pakai jempol itu jangan dipakai lagi, karena jempol orang yang satu dan yang lain berbeda. Supaya konsisten, gunakan takaran 1 kg beras = 1.8 lt air; tapi jika memasak  ½ kg beras airnya 1 liter, bukan 900 ml.
  4. Masukkan beras dalam rice cooker atau magic jar selama 45 menit dan jangan dibuka-buka sebelum 45 menit. Kalaupun sudah masak, biarkan saja hingga 45 menit. Mengapa begitu? Supaya matangnya sempurna, katanya.

Setelah empat puluh lima menit makan beras siap disajikan. Patut diingat, kandungan gula dalam beras Jepang ini sangatlah tinggi, makanya enak. Jadi kalau ambil nasi, harap tahu diri, terutama mereka yang level gula darahnya tinggi.

Cara masak yang panjang ini sebenarnya adalah cara masak nasi untuk sushi-meshi (nasinya sushi). Setelah nasi matang, nasi ini harus diletakkan di wadah kayu untuk didinginkan, dicampur dengan sedikit kecap asin dan juga miri, sake manis Jepang, untuk kemudian dibuat menjadi sushi yang cantik. Tapi, cara ini boleh diterapkan untuk memasak beras Indonesia yang biasa-biasa saja supaya nasi lebih enak.

Masih menurut chef sushi yang mengajari saja, sushi di Indonesia itu kebanyakan tidaklah halal, karena kecap asin yang disajikan di restaurant sushi, Kikkoman, mengandung alkohol. Konon, baru Singapura yang bisa jualan sushi halal, dengan kecap tanpa alkohol. Selain kecap, nasi untuk sushi, atau sushi-meshi juga sering dicampur dengan mirin yang sudah saya sebut di atas. Tak semua chef mencampurkan mirin, tapi penambahan mirin ke dalam nasi membuat sushi, menurut saya, jauh lebih enak.

Beberapa restaurant terkemuka sushi juga tak mencantumkan label halal di restaurantnya, menariknya, tak banyak orang yang tahu atau masa bodo dengan hal-hal tersebut. Mungkin karena sushi identik dengan ikan yang bukan hewan terlarang.

xx,
Tjetje

The Passage of Colourful Batik Madura

Attack dan Elle Magazine berbaik hati mengajak 15 orang perempuan jalan-jalan ke Madura dengan ongkos 500rb rupiah saja. Judul tripnya Attack Batik Trip. Biaya itu termasuk harga pesawat garuda PP, hotel 2 malam di Santika Surabaya serta makan. Sebagai penganut prinsip travel semurah dan senyaman mungkin saya pun tidak melewatkan kesempatan jalan-jalan mengelilingi Madura. Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya rangkum buat bahan referensi untuk yang mau ke Madura ya!

Museum Tjakraningrat Bangkalan.

Museum yang bisa berjarak sekitar 1 jam dari Surabaya ini tergolong kecil. Lebih kecil dari lapangan sepakbola. Isinya juga tak banyak dan kondisinya begitulah. Kursi bekas ratu dan rajanya pun tanpa anyaman, berlubang sana-sini. Debunya jangan ditanya lagi, bahkan laba-laba pun bersarang di salah satu sudut museum ini. Kondisi museum di Indonesia emang mengenaskan ya.

Selain bercerita sejarah pak pemandu juga bersemangat membagikan cerita mistis di museum ini. Jadi, ada satu set gamelan yang suka bunyi sendiri pada hari-hari tertentu, mungkin gamelannya sudah di auto play untuk waktu-waktu tertentu. Konon, jika gamelan dan sitarnya bunyi, tandanya lapar, minta sesajian. Ada lagi gamelan yang tak boleh dilangkahi oleh perempuan, kalau perempuan melangkah, alamat nggak akan punya anak. Wah, daripada pemerintah susah-susah bikin program KB alangkah baiknya jika ibu-ibu yang anaknya lebih dari dua diminta berlomba melangkahi gamelan ini.

Ole Olang Restaurant

Restaurant Makyus, karena pernah dikunjungi oleh Pak Bondan. Kalau pak Bondan doyan cumi kuning yang empuk (empuk, tapi pedes banget) saya berpegang teguh dengan niat makan nasi jagung. Sebagai orang Malang yang sudah terekspos dengan nasi jagung sejak kecil, kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Biasanya di Malang nasi jagung disajikan dengan ikan asin, tempel mendol, sayur berkuah santan dan rempeyek kacang. Ini menu sarapan yang bisa di beli di pasar-pasar tradisional di Malang. Tapi di Madura, nasi jagung disajikan dengan cara yang berbeda. Ketika itu sayur yang ditawarkan adalah sayur daun katu bening. Ini salah sayur kesenangan saya dan dulu kami hanya perlu memetik dari halaman rumah (jadi nostalgia). Tapi tetep, percampuran nasi jagung dan sayur bening buat saya kurang bergreget.

Batik Patimura, Tanjung Bumi

Saya menyebutnya toko batik pejabat, karena toko ini telah pernah dikunjungi bu Ani Yudhoyono serta pejabat pemerintahan lainnya. Biarpun langganan pejabat, harga tetep bersahabat. Saya “hanya” sukses memborong tiga lembar batik tulis, itupun berhutang dahulu karena toko ini tak kenal alat gesek, baik penggesek ATM maupun penggesek kartu kredit. Semuanya harus cash!  Ada satu batik yang khas dari daerah ini, namanya batik gentong, tapi saya menahan diri tak membeli karena harganya yang mencapai 1,2 juta.

Batik gentong itu batik khas Madura yang pewarnaannya dilakukan di dalam gentong selama berbulan-bulan. Ada kepercayaan, kalau ada tetangga atau kerabat yang meninggal, proses pewarnaan bisa kacau. Ya kalau ada yang meninggal hati aja kacau, apalagi mewarnai. Oh ya, ilmu menawar sadis nggak berguna di Madura. Biarpun jurus bahasa Madura pas-pasan dikeluarkan, tetep aja mereka nggak terpukau. Diskon paling banyak yang diberikan, 20 ribu saja! Setelah belanja, kami juga sempat disuguhin demo mencuci dengan Attack.

Batik Love Story

Makan malam kami ditemani dengan film karya Teh Nia Dinata yang berjudul “Batik Love Story”. Film documenter ini menceritakan tentang batik di Jawa, dari Cirebon sampai ke Madura. Duh..setelah  menonton film ini saya jadi ngenes sendiri melihat para pembatik yang resah dengan regerasi. Sayangnya film ini nggak didistribusikan dengan luas, tapi kalau berminat nonton boleh kontak Attack atau Teh Nia Dinata untuk nonton bareng.

Day 2 – 9 September 2012

Pasar 17 Agustus

Sebenarnya kami akan diinapkan di Madura sehingga nggak perlu wira-wiri melintasi jembatan Suramadu.  Tapi karena konflik Syiah dan Sunni, rencana ini buyar. Tuh kan, konflik itu gak bagus, gak bagus buat traveler dan gak bagus buat pedagang batik. Tapi beruntungnya kami diinapkan di Hotel Santika Surabaya. Sarapan tradisionalnya bikin saya gak mau meninggalkan hotel, tapi tetep harus ditinggalkan, kalau nggak timbangan meronta-ronta.

Jadilah kami menempuh perjalanan panjang dari Surabaya menuju pasar 17 Agustus yang letaknya nun jauh di ujung timur Madura. Pasar ini cuma buka dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu, dan  bubar pada saat adzan Dhuhur dikumandangkan. Ya nasib, setelah pantat diratakan dengan perjalanan selama 3 jam lebih, adzan berbunyi lima belas menit setelah kami tiba. Pasar bubar, saya tegar, dompet tetap bugar!!

Akhirnya saya ngekor Eka memilih batik di Asmara Batik. Lumayan dapat motif klasik junjung drajat. Diharapkan dengan memakai kain ini, derajat kita akan naik. Harganya, 125 ribu saja & batiknya tulis saudara-saudara. Murah banget kan? Sayang pewarnanya naptol, bukan pewarna

Kendati selama perjalanan ini waktu habis “terbuang” untuk mondar-mandir Surabaya-Madura, melintasi Jembata Suramadu & Madusura, saya tetep seneng karena bisa melihat kekayaan negeri ini & bisa menjejakkan kaki di Madura. Jadi orang Jawa Timur, tapi nggak pernah menjejak di Madura.

Rangkaian perjalanan ini merupakan rangkaian terakhir dari attack batik trip setelah sebelumnya diadakan di Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Terimakasih Attack dan Elle Magazine yang telah membawa saya jalan-jalan pintar. Terimakasih juga buat Iwet yang sudah menambah pengetahuan saya tentang batik. 

 

xx,
Tjetje

Lokasi Konsulat Irlandia di Jakarta

Menjadi warga negara Indonesia, dengan passport hijau memanglah tidak mudah. Setiap kali mau jalan-jalan ke negara tetangga jauh, dokumen yang disiapkan mesti segambreng. Saya yang berencana syuting sequel P.S I love you jenguk calon mertua ke Irlandia, minggu lalu harus apply visa dengan membawa dokumen ½ rim saja. Karena saya daftar di konsulat, otomatis dokumen ½ rim ini harus di copy lagi untuk konsulat, sedangkan yang asli dikirim ke Singapore. Jadi total dokumennya, satu rim saja ya bow!

Dokumen sebanyak satu rim itu terdiri dari foto cantik saya yang di belakangnya dibubuhi angka pendaftaran aplikasi online. Surat referensi kerja dari Pak Bos yang menjamin bahwa saya akan kembali pulang setelah cuti. Slip gaji selama tiga bulan terakhir, bank statement selama 6 bulan terakhir, masih ditambah pula surat referensi dari bank. Surat referensi selembar ini dihargai Bank Mandiri 50rb saja. Iya, 50ribu aja. Sadis! Tak lupa saya lampirkan copy passport hijau yang tidak sakti itu dan berkas asuransi beserta polisnya.

Host saya di Irlandia juga harus mengirimkan mengirimkan bank statement selama 6 bulan terakhir, surat undangan, rekening utilities selama 3 bulan terakhir dan copy passport. Karena saya baik, saya memberi ekstra dokumen, kontrak kerja saya dari awal saya kerja di kantor ini dan form cuti yang sudah disetujui oleh direktur kantor.

Konsulat Irlandia Nyempil

Di website ditulis bahwa alamat konsulat Irlandia ada di Gedung BEJ tower I, lantai 12. Duh..kalau masuk di gedung yang super ajaib gini saya jadi suka nervous dan norak. Sampai urusan masuk lift aja saya mengalami kebingungan, untung ada mas-mas dari World Bank yang yang membantu saya. Nama si Mas, Bli Ida Bagus Oka. Semoga jodoh dan rejeki si Bli Oka ini lancar ya.

Setelah sampai di lantai 12, saya clingak-clinguk toleh kanan dan kiri, pilihannya Cuma dua: Ernst and Young atau  Kantor Roosdiono & partners. Saya puterin lantai 12 itu sampai ke depan pintu tangga darurat, mushola juga gak ketemu. Nanya-nanya, nggak ada yang tahu dimana letak. Sementara telpon selalu nyambung ke mesin fax. Akhirnya, setelah berkutat selama 15 menit nelpon konsulat (di dalam kamar mandi) tanpa henti, ketahuan lokasinya: di dalam kantor pengacara Roosdiono itu. Pantesan gak ada yang tahu! Catat baik-baik ya: Konsulat Irlandia itu ada di dalam kantornya Roosdiono.

Saya disambut ibu Anna yang kemudian mengecek kelengkapan dokumen saya. Ternyata saya harus menyertakan copy akte kelahiran yang sudah di translate, untungnya dokumen tersebut bisa di email. Kemudian saya diberi tanda terima dan diminta bayar 500ribu. Lha, katanya visanya gratis kok bayar? Ternyata uang 500rb ini adalah administrasi, karena mereka harus kirim dokumen ke Singapore.

Proses visa ini katanya akan memakan waktu 3-4 minggu. Jadi selama 4 minggu ini saya akan berdoa secara rajin biar prosesnya lancar. Semoga!

Update: Lokasi Konsular sudah pindah ke alamat sbb:

Embassy of Ireland, Jakarta-Indonesia
CEO Suite, Indonesia Stock Exchange Building (BEJ)
17th Fl, Tower II, Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53
Jakarta 12190
Phn : (021) 5291 7453 atau 5291 7455
Fax : (021) 515 77 99
 
Update lagi: urusan visa sekarang ditangani oleh kedutaan langsung, silahkan baca cara mendaftar visa ke Irlandia di sini. 
 
xoxo,
Ailtje

Omed-omedan: Ciuman Basah a la Warga Sesetan

Omed-omedan..

Saling kedengin, saling gelutin.

Diman-diman….
Omed-omedan ..Besik ngelutin,

ne len ngedengin .

Diman-diman….

Setelah menyepi selama 24 jam, warga banjar Kaja, Sesetan merayakan tahun barunya dengan cara unik: pesta ciuman dan berbasah-basah ria. Omed-omedan, yang berarti tarik-menarik dimulai sekitar jam 3 sore persis di depan balai banjar Kaja. Kendati ini pesta ciuman, para peserta wajib hukumnya menghadap Tuhan dan sembahyang dulu.

 

babi bangkung 1

foto milik penulis

 

Acara Omed-omedan dimulai dengan tarian tradisional yang melibatkan Barong Bangkung (Barong babi) yang mengalami trance (kerauhan ataupun kemasukan). Tak hanya si barong, beberapa peserta juga tampak ikut kemasukan. Dengan sedikit percikan tirta  serta mantra-mantra suci, mereka yang kerauhan pun segera tersadarkan dan siap untuk memulai pesta menarik ini. Mari berciuman!

Tak lama setelah, sederatan pemuda dan pemudi dibariskan di depan balai banjar beberapa pemuda lainnya mengiringi mereka dengan lagu yang penggalannya saya tuliskan di atas (Maaf kalau salah mengutip, Bahasa Bali saya tak bagus). Pestapun dimulai & para pemuda ini berlari menuju bibir gadis-gadis di seberang mereka. Konon, hanya mereka yang masih single yang boleh ikut acara ini. Beberapa bahkan ada yang menemukan jodohnya karena ciuman di acara ini.

running toward the girls

Untuk lebih menghayati, saya berangkat ke acara ini dengan mengenakan kamen, kain panjang. Ternyata oh ternyata, para fotografer disediakan dek khusus untuk memotret. Jadilah saya yang berkamen ini harus naik ke atas dek tersebut. Entah bagaimana ceritanya, saya sukses naik ke atas dek itu. Tak hanya saya, ada banyak penyuka fotografi yang ikut berdiri bersama saya di atas dek itu. Tak hanya saya, tapi ada juga anak-anak kecil yang bahkan belum genap berusia 7 tahun.

Selain memotret, saya juga menjadi juru teriak, meneriaki orang yang nekat bergelantungan di bawah dek kami. Setiap kali ada orang yang mencoba naik, adik kecil yang duduk di dekat kaki saya akan mencolek kaki saya, lalu menunjuk si pelaku. Meneriaki mereka yang bergelantungan jadi wajib dilakukan demi keselamatan saya dan juga kamera tercinta. Urusan keselamatan sepertinya terlupakan karena selama saya berada di atas dek tersebut, tidak ada satu orang pecalang pun yang mencoba mengatur para fotografer (dan penonton) di atas dek. Semua bebas untuk naik, sementara kekuatan kayu tak bisa diandalkan. Tapi seperti biasa di Indonesia, nunggu ada kecelakaan dulu baru akan ada tindakan preventif. Kalau gak ada kecelakaan, biarkan saja.

 

Dan saya menjadi satu-satunya perempuan

Terdapat tiga dek fotografer dan saya menjadi satu-satunya perempuan. Selama kurang lebih 2 jam, telinga saya mendengarkan berbagai celotehan, dari yang tak senonoh hingga masalah asuransi kamera. Pria-pria ini dengan tak segannya berkomentar tentang kemolekan peserta, teknik berciuman hingga menanyakan speed untuk memotret (lha sudah di atas kok baru kursus kilat tentang speed), tak hanya itu, mereka juga sempat membahas ketiadaan asuransi kamera di Indonesa. Beberapa pria juga berceletuk mengenai FPI, mereka bersyukur karena ketidakadaan FPI di Bali. Jika mereka ada di Bali, alamat omed-omedan akan diharamkan. Nggak sih, jika mereka ada di Bali, maka pecalang harus bersatu mengusir FPI dari Tanah 1000 Pura.

gak mau dicium

Yang gak mau dicium pasti tutup muka begitu melihat lawannya.

Apa yang saya takutkan terjadi. Ketika acara hampir usai, dek yang saya tempati dengan sukses berbunyi kriet…kriet dan kayunya patah. Para peminat fotografi di atas dek itu pun langsung membubarkan diri, termasuk saya. Saya yang bisa naik, kali ini kesulitan turun karena kamen yang melilit bagian bawah tubuh. Alhasil, saya berteriak pada seorang pria: “Bli tolong dong, gendong saya!”. Pria pertama melengos dan untungnya ada pria kedua yang dengan baiknya mengulurkan tangan membantu saya turun, tanpa menggendong tentunya. Fiuh….Semoga bli yang membantu saya turun dimudahkan jodohnya dan dilancarkan rejekinya!

 

omed2an3

Tips untuk yang mau motret Omed-omedan:

  1. Datang lebih awal dan segera cari tempat yang tinggi (kecuali kalau kameranya tahan air)
  2. Bungkus kamera dengan plastik. Biarpun sudah di atas, peluang kesemprot masih tinggi karena air disiramkan melalui selang dan ember.
  3. Bawa baju ganti karena bakalan basah.
  4. Pakai sunblock dan kacamata hitam, karena posisi dek ada di sisi timur.
  5. Tinggalkan tripod karena tempat di dek sangat terbatas
  6. Kalau punya uang lebih, silahkan cari asuransi kamera!

 Jadi gimana, berminat untuk melihat pesta ciuman akbar nan basah ini?

…Muach…

Operasi Amandel/ Tonsillectomy: Bagaimana dan Berapa?

Sedari kecil hingga dewasa (mendadak merasa dewasa), saya nggak pernah mengalami permasalahan amandel. Hingga beberapa waktu belakangan ini saya sering mengalami radang tenggorokan. Setelah konsultasi dengan beberapa dokter, disarankan supaya tonsils/ amandel saya ini di operasi saja untuk dibuang. Duh..ide untuk operasi itu rasanya terdengar mengerikan di kepala saya. Jadi saya mencoba berbagai cara supaya tidak perlu operasi. Dari menjaga makanan (berhenti makan gorengan pinggir jalan), hingga minum air 2., liter setiap harinya. Tapi tetep, usaha itu gagal, amandel saya tidak bisa mengecil. Bahkan usaha saya untuk mengkonsumsi obat cina juga gagal berantakan. tenggorokan tetep meradang, tidur agak ngorok, sulit menelan (bahkan liur sendiri) dan yang paling parah kesusahan napas pada saat tidur.

Akhirnya tanggal 23 Juli 2012 saya nyerah dan nekat minta di operasi oleh dr. Bono di RS THT Ciranjang. Pak dokter sempat bengong melihat saya yang sudah siap dengan tas dan sudah puasa. Ternyata oh ternyata, operasi di RS THT Ciranjang itu hanya 2 kali setiap minggunya, hari SELASA dan JUMAT. Saya pun dipulangkan dan dijadwalkan untuk operasi pada hari Selasa.

Tidak banyak informasi di google mengenai pre-op dan post-op tonsillectomy. Makanya saya bertekad membagi informasi ini (sampai ke detail biayanya). Siapa tahu berguna.

Pre-op

Hari Selasa pagi, saya diharuskan datang di RS jam 9 pagi, dalam keadaan sudah makan pagi. Test pertama adalah EKG. Telanjang dada di depan dokter dan di pasangi alat yang mirip alat pencubit. Ibu dokter sempat berujar, “Agak kurang nyaman ya.” Saya yang sebenernya malu harus telanjang dada ngaco aja jawab “Gak papa kok Dok, kalau di salon lagi luluran kan hampir sama”. Setelah EKG, saya diambil darah dan dipersilahkan menunggu di kamar. Nggak lama nunggu, saya dipanggil untuk tes radiologi, lagi-lagi gak pakai bra.

Ternyata ada aturan unik, anak-anak didahulukan operasinya. Sementara yang tua belakangan. Nasib…..Sekitar jam 13.30 saya dipanggil ke ruang operasi dan dilarang pakai bra. Takutnya kalau tiba-tiba ada emergency dan harus dipasang alat, ribet harus  ngelepasin bra segala. Selain dilarang pakai bra, rambut saya juga harus diikat ke atas, menyerupai sanggul gitu. Nantinya di ruang operasi ada penutup kepala, seperti shower cap yang dipakai untuk menutupi kepala saya.

Ini pengalaman pertama operasi (semoga ini menjadi yang terakhir) dan pengalaman pertama masuk rumah sakit. Jadi masuk dalam ruang operasi, sambil naik ke meja operasi saya masih sempat ngoceh-ngoceh “Wah ternyata ruang operasinya nggak seperti di Grey’s Anatomy ya Dok, nggak ada lampu bulat yang besar itu”. Dokter anastesinya repot masang infus, sementara di dekat kepala saya ada nurse yang bolak balik bilang “ini masker…ini masker…”. Nggak lama saya pun terlelap. Jadi saya nggak tahu bagaimana proses operasinya.

Post-op

Operasi saya selesai menjelang pukul 3 sore. Saya bangun dengan keadaan sakit di tenggorokan, terutama untuk menelan ludah. Tenggorokan rasanya kayak dibakar. Daripada nelan ludah, sakit, saya memilih untuk ngiler saja, lagipula saya setengah sadar ..jadi nggak malu-malu amat. Pas di samping saya ada nurse yang setia membersihkan liur.

Dari ruang operasi, saya dimasukkan ke dalam kamar. Di RS Ciranjang ini hanya ada 9 kamar dan masing-masing pasien mendapatkan 1 kamar. Harga per malam untuk kamar kelas I adalah 500.000. Luas kamarnya sekitar 25 m2, dilengkapi dengan TV, TV cable, kamar mandi air panas dan air dingin, serta kulkas.

Begitu saya sadar, sepiring bubur sum-sum dan dua buah puyer sudah disiapkan. Duh…nelan ludah sendiri aja sakit, apalagi bubur sumsum. Tapi susternya menyemangati, semakin banyak minum semakin cepat sembuh. Saya yang dasarnya kuat minum air putih langsung menegak air, ternyata malah tambah sakit! Obat puyer yang masuk tenggorokan pun membuat tenggorokan semakin terbakar. Mitos setelah operasi bisa makan ice cream sebanyak-banyakan juga gila. Baru makan satu sendok ice cream saja, telinga saya rasanya seperti naik pesawat dalam keadaan flu, tertekan dan ngilu. Kata dokter, ini efek normal dari operasi. Apalagi amandel saya katanya gede banget. Selain ngilu, tenggorokan juga agak semriwing karena ada benang jahit yang menggelitik. Benang ini juga memicu dahak.

Hari pertama dan kedua saya sukses makan kurang dari 1 piring bubur sumsum dan kurang dari 1 buah agar-agar. Badan saya jangan ditanya, langsung naik satu kilo. Hahaha..iya naik, bukan turun. Ajaib.

Di hari ke dua, suster datang membawa sandwhich, bubur sumsum, susu, telur rebus. Saya udah girang aja liat roti, ternyata rotinya untuk yang nungguin pasien, sementara saya tetep harus makan bubur sumsum. Baik banget ya,  yang nunggu dapat makan juga.

Hari ketiga hingga ke lima, saya sudah makan bubur nasi ditemani abon. Tetap susah mengunyah dan menelan. Pada hari ke lima saya berhasil makan sepotong ayam kecil, total waktu yang dibutuhkan 1.5 jam aja. Bangganya luar biasa! Saya juga rajin ngoceh a, i, u, e, o sendiri. Habisnya kalau ngajak ngomong orang lain, yang diajak ngomong suka geli dan kasihan denger suara saya.

Teorinya di hari ke 6 saya bisa makan keras (tapi di larang makan chiki, keripik dan kerupuk). Tapi prakteknya, saya masih belum sanggup karena luka di sisi yang kanan belum menutup dengan sempurna. Jadi ya tetap makan bubur dan marie regal. Kata dokter, proses recovery ini bisa mencapai 3 minggu saja. Fiuh..siap-siap badan mengurus.

Nggak ada satupun blog yang menuliskan total kerusakan operasi amandel. Saya dengan bodohnya menyangka operasi ini akan menghabiskan maksimal 3 juta. 3 juta ternyata gak cukup buat bayar dokter THTnya dan dokter anastesi. Biaya operasi amandel ini 4 kali lipat dari prediksi saya. Mahal ya bow. Untung ada asuransi.

Amit-amit deh jangan sampai ada yang harus operasi amandel, apalagi kalau udah tua. Proses recoverynya benar-benar menghilangkan lemak dari tubuh dan lama. Tapi berita baiknya, saya jadi lebih sopan kalau makan, lebih perlahan. Makan pun tak bisa dalam jumlah banyak. Yang paling saya rindukan adalah tertawa terbahak-bahak karena sekarang saya cuma bisa senyum bak Ratu.

UPDATE
8 hari setelah operasi saya baru bisa makan nasi, tapi harus pelan-pelan. 6 sendok nasi selesai dimakan dalam waktu 2 jam saja. Wohoooo…..

Hari ke 9 saya sudah makan KFC, persis seperti perkiraan teman sekantor. Tapi makannya setengah mati dan gorengan bukanlah makanan yang baik untuk tenggorokan saya.

Hari ke 15 setelah operasi saya masih kesulitan menguap, ini cukup menyiksa terutama di pagi hari. Alhasil kalau akan menguap saya menggigit jari.

Hari ke 17 setelah operasi, saya mencoba makan sushi. Bad idea, karena ternyata mulut saya nggak bisa dibuka lebar-lebar.

Satu tahun setelah operasi, saya kena batuk. Gejala awal tenggorokan mengering, sakit pastinya, tapi gak kayak abis operasi. Gelontor air putih nggak sukses, akhirnya minum antibiotik. Tapi emang setelah operasi saya jadi jarang flu dan radang.

Tiga tahun setelah operasi: saya jadi rajin menjauh dari orang yang batuk atau pilek karena takut ketularan. Kalau tenggorokan sudah tak enak, saya tidur, minum yang banyak dan mengkonsumsi vitamin C. Aman!

Untuk kalian yang berada di sini karena sedang mencari tahu bagaimana proses operasi amandel. Jangan takut  ya, operasinya gak sakit kok.

Semoga kalian semua selalu sehat!