Teh Indonesia yang Tersisih di Negeri Sendiri

 

Sebagai orang Indonesia yang tinggal di negeri asing, kembali ke Indonesia berarti menyesap segala hal yang berbau Indonesia untuk melepas rasa rindu. Selain urusan perut, perjalanan pulang juga biasanya diwarnai dengan pertemuan-pertemuan dengan anggota keluarga dan juga teman-teman untuk sekedar berbagi kabar, ataupun diskusi dan ngobrol berbagai topik penting, termasuk politik yang sangat panas.

https://www.instagram.com/p/BHIaF7hh2yw/

Di Jakarta, bertemu dengan teman-teman biasanya saya lakukan di berbagai tempat, dari hotel, kantor hingga mal. Tempat yang terakhir ini tentu saja menjadi tempat favorit warga ibukota. Biasanya, ngobrol-ngobrol  di pusat perbelanjaan ini jika tak di tempat makan ya di warung kopi, coffee shop, Café. Tempat-tempat ini biasanya menawarkan kenyamanan, dari colokan, hingga pilihan menu yang beragam, dari camilan ringan hingga makanan berat.

Ada satu hal yang bikin saya jadi norak dan nista banget ketika masuk kedai-kedai kopi mahal ini, karena saya selalu minta teh asli Indonesia. Permintaan saya ini selalu dibalas dengan tatapan aneh penuh penghakiman dan kemudian dibalas dengan jawaban TIDAK ADA TEH INDONESIA yang dijual karena mereka hanya menjual teh impor. Lalu, para barista mulai menyebutkan nama-nama teh yang mereka punya, dari earl grey, hingga English Breakfast. Sebagai orang Indonesia, saya SEDIH BANGET, karena saya ingin mendengarkan teh tubruk, teh melati atau Indonesian Breakfast. Salah satu barista yang saya curhati mencoba menghibur saya dengan mengatakan bahwa mereka punya kopi-kopi Indonesia. Btw, ini gak cuma kejadian di kota besar lho, di Malang saya juga mengalami hal yang sama dan tentunya bukan di warung kopi jaringan internasional.

https://www.instagram.com/p/BK6ILjjh3Ak/

Saya yang patah hati ini kemudian teringat dengan kunjungan ke sebuah perkebunan teh milik pemerintah di kawasan kabupaten Malang lebih dari satu dekade lalu. Disana saya dan rekan-rekan kuliah mendapatkan penjelasan tentang proses pembuatan teh, dari mulai pemetikan, pemrosesan serta proses ekspor teh tersebut. Disana pula saya terkejut ketika tahu bahwa ternyata daun teh yang memberikan teh berkualitas baik itu dikirimkan ke luar negeri, semuanya! Kalaupun ada, biasanya dijual dalam jumlah terbatas di koperasi milik kebuh teh tersebut. Bagi kantong saya saat itu, teh tersebut memang lebih mahal ketimbang teh di pasar. Selain teh pucuk pertama, teh lapisan ke dua juga dikirim ke luar Indonesia. Teh untuk konsumsi dalam negeri hanya sisa-sisa di bagian bawah. Saya menyebut teh Indonesia itu teh KW 3.

Terus terang itu pengalaman lebih dari satu dekade lalu, dan saya tak tahu bagaimana perkembangan industri the nusantara. Tapi apapun situasinya, rasanya menyedihkan sekali ketika teh yang ditanam dan dipetik ibu-ibu Indonesia ini bahkan tak layak untuk duduk bersanding dengan kopi-kopi nusantara.

https://www.instagram.com/p/BM0ro9cBAlk/

Bicara tentang teh saya pernah beberapa kali menulis bahwa di Irlandia konsumsi tehnya sangat tinggi dan mereka, orang Irlandia, sangat bangga terhadap tehnya, padahal mereka tak punya kebun teh. Saking bangganya, bagasi mama saya yang kelebihan beberapa kilo pun bisa lolos tanpa biaya tambahan ketika kami minta maaf karena koper dipenuhi dengan Irish tea dan juga Irish chocolate.

Kebanggaan itu yang tidak saya lihat di Indonesia, mungkin karena kita memang tak punya budaya minum teh yang kuat. Mungkin juga karena kualitas teh Indonesia dianggap tak layak masuk ke dalam warung-warung kopi. Teh kita cuma bisa disesap di abang-abang starbike, di rumah-rumah, ataupun di warung-warung sederhana tanpa pendingin ruangan, apalagi jaringan internet.

Ah sudahlah, mungkin saya yang mintanya terlalu banyak dan terlalu nyinyir. Kamu sukanya teh apa?

https://www.instagram.com/p/BA-A1l_wxs6/?taken-by=binibule

 

Xx,
Tjetje

Nasib Musik Indonesia 

Jaman kaset masih berjaya, saya termasuk orang yang rajin membeli kaset yang seingat saya harganya tiga puluh ribu rupiah. Saat itu, membeli kaset-kaset terbaru menjadi sebuah hal yang menyenangkan karena bisa update dengan musik terbaru, apalagi jika kemudian bisa menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Harap maklum ya, jaman itu belum ada internet, jadi anak-anak muda mengisi waktunya dengan aneka hal yang mungkin dianggap norak oleh anak jaman sekarang. Termasuk mengkoleksi lirik lagu yang pernah dibahas oleh Mas Agung Mbot di postingan ini.
Bagi yang tak tahu, mendengarkan kaset itu ada seninya. Apalagi jika lagu favorit ada di sisi A dan selalu ingin didengarkan kembali tanpa merewind supaya pita tak rusak. Saya mengakalinya dengan membalikkan kaset ke sisi B, lalu mendengarkan satu lagu dan membaliknya kembali ke sisi A. Terdengar ribet mungkin, tapi jaman dulu kami punya banyak waktu dan tak disibukkan dengan perkelahian politik dan agama di media sosial.
Aktivitas merekam musik secara ilegal marak dilakukan di rumah, dengan bermodalkan kaset kosong seharga lima ribu atau delapan ribu rupiah. Tergantung mereknya. Lagu-lagu kemudian direkam melalui musik yang diputar di radio. Tangan harus cepat tentunya supaya bisa menekan tombol rekam di detik yang pas, dan menghentikannya persis ketika musik berhenti. Butuh kecekatan khusus. Radio sendiri mengurangi perekaman ilegal dengan memutar nama stasiun radionya persis saat lagu dimulai. #Cerdas

Ketika CD mulai masuk, kaset mulai tergusur. Apalagi ketika muncul CD-CD bajakan, serta musik-musik digital yang tak memerlukan kecekatan tangan. Lagu-lagu juga bisa diunduh secara gratis kemudian didengarkan melalui komputer. Jaman kuliah, saya termasuk salah satu pelakunya.

Tapi kenikmatan mendengarkan musik dari komputer dan dari alat pemutar musik itu tak sama. Saya pun kembali ke cara konvensional dengan membeli pemutar CD dan mulai mengkoleksi CD. Tak cuma saya, Ibunda saya juga ikutan. Koleksi CDnya berjibun. Kami senang memutar lagu dengan kencang sambil melakukan hal-hal lain, termasuk duduk membaca majalah atau sambil ngobrol. Khas Indonesia bangetlah.

https://www.instagram.com/p/BMT4vKMBZ51/?taken-by=binibule

Ketika pindah ke Irlandia, sebagian CD saya saya berikan pada mama, sementara sebagian lainnya saya bawa ke Irlandia untuk menemani saya.Saat liburan kemarin, saya mengagendakan untuk membeli beberapa CD supaya bisa saya bawa kembali ke Irlandia. Ternyata, toko kaset dan CD di Jakarta tinggal satu saja, di Duta Suara, di jalan Sabang. Tokonya sendiri sepi, tak ada pembelinya. Dan saya pun kalap membeli banyak CD musik Indonesia.

Terus terang saya sedih sekali melihat kondisi ini. Tapi apa daya, dunia sudah berubah ke arah digital dimana akses terhadap musik terbuka luas melalui iTunes, Spotify atau perpustakaan lagu lainnya. Penikmat musik diberi akses pada jutaan lagu-lagu tetapi dibatasi oleh ketersediaan baterai pada gawai.
Perilaku kita yang masih mengunduh musik secara ilegal ini tak heran membuat banyak musisi meradang. Janji bersama dari para pedagang bajakan untuk tidak menjajakan musik ilegal Indonesia patut dihargai dan diapresiasi, tapi sayangnya tak bisa menyelamatkan musisi dari perampokan karya intelektualnya, karena masih banyak dari kita yang merampas hak mereka. Ah mentalitas gratisan ini.

Bagaimana dengan kalian, suka musik bajakan atau rajin beli?

xx,
Tjetje

Khas Indonesia Banget 

Mungkin beberapa hal yang saya tulis di bawah ini terdengar biasa-biasa saja bagi kebanyakan dari kalian. Tapi semenjak pindah ke luar, hal-hal sepele ini membuat saya melihat perbedaan mencolok dengan negara tempat tinggal saya. Lucunya, perbedaan ini tak saya lihat sebelumnya ketika saya kerap menengok pasangan di Dublin. Memang beda ya kalau tinggal dan liburan.

Musik
Pernah merhatiin gak kalau orang Indonesia itu suka sekali dengan musik dan selalu memainkan musik dimana-mana. Maksudnya sih biar ramai dan gegap gempita. Di salon (yang bikin susah ngobrol dengan hairstylistnya), di restauran (yang bikin susah ngobrol dengan teman) bahkan di kendaraan umum. Nulis ini saya jadi inget abang mikrolet yang suka pasang speaker segede gaban (gaban itu apaan sih?) dengan suara musik dangdut yang menggelegar. Kalau sudah gitu malas naik deh, karena kuping bisa sakit.
Di Irlandia saya jarang sekali mendengar musik di ruang-ruang publik, apalagi yang kenceng, kecuali mereka yang mengamen di jalanan. Pada kendaraan pun pemusik ini tak diperkenankan mengamen, tak seperti di Perancis yang jadi nyeni karena metronya diwarnai pengamen. 
Kehadiran musik dimana-mana tak diwarnai dengan usia toko kaset dan CD yang panjang. Di Jakarta saya kesulitan mencari toko kaset dan hanya tinggal satu Duta Suara yang tersisa. Nampaknya musik-musik ini hasil bajakan semua. 
Colokan dimana-mana 
Power bank saya teronggok di dalam laci sejak lama. Bagi saya colokan lebih baik ketimbang Power bank demi kelangsungan usia baterai yang lebih lama. Di Indonesia, menemukan colokan itu gampang banget. Bahkan di beberapa Café saya semakin banyak menemui charging station untuk meninggalkan handphone.
Nampaknya cara Restaurant, Café dan rumah makan di desain untuk mengakomodasi seribu colokan. Jauh berbeda dengan Irlandia yang miskin colokan. 
WiFi friendly 
Ada guyonan Warung-warung kopi di Indonesia itu sebenernya jualan wifi, bukan. Jualan kopi. Ya gimana, kopinya segelas, wifinya dipakai buat mengunduh film. Makenya pun berjam-jam.
Beberapa coffee shop bahkan meletakkan kata sandi untuk wifi di dekat kasir supaya tak ditanya lagi. Tingginya kebutuhan akan wifi ini memang harus dipahami mengingat mahalnya harga Internet di Indonesia. Saya yang pengguna setia Telkomsel ini menghabiskan lebih dari lima ratus ribu untuk liburan dua minggu. Ini internetnya paketan lho ya. Entah gimana data kayak kesedot mesin. Mungkin ini sebabnya orang lebih banyak menggunakan wifi ketimbang data di telepon genggam.
Kamar mandi tanpa kode


Di Irlandia itu kamar mandi diberi kode, termasuk yang Di Starbucks. Orang sini memang pelit dengan akses terhadap kamar mandi dan orang-orang yang akan akses kamar mandi harus memasukkan kode yang ada di tanda terima.
Di Indonesia mau ke kamar mandi gampang, gak perlu repot-repot cari kode atau berhadapan dengan barista yang nyolot ketika dimintai kode. Tapi, biarpun tanpa kode, kamar mandi di Indonesia joroknya masih luar biasa. Becek, bekas kaki, bahkan tissu berserakan.
Kamu, pernah merhatiin gak hal-hal yang Indonesia banget? 
xx,

Tjetje 

Seputar SIM dan Menyetir di Indonesia

Saya tak pernah melihat kebutuhan untuk bisa menyetir selama tinggal di Indonesia. Tapi cerita ini kemudian berubah ketika saya pindah ke Irlandia dan belajar menyetir dengan baik dan benar. Saya tulis baik dan benar, karena disana belajar menyetir itu jelas aturan mainnya.

Mudik kali ini, saya jadi memperhatikan bagaimana para pengemudi mengendarai kendaraan. Lalu saya yang anak ingusan ini jadi gemes, pengen mengoreksi cara beberapa supir menyetir, karena bagi saya mereka merusak mobil dengan gaya menyetirnya yang awut-awutan. Selain pasang gigi untuk kecepatan yang salah, mereka juga tak bisa jalan lurus dan mematuhi marka.

Suasana ujian SIM, ditemani blower-blower AC. Jangan bayangkan panasnya deh. Gak heran kalau foto SIM itu pada lecek semua.

Bicara tentang awut-awutan, saya juga gondok luar biasa dengan sepeda motor di Jakarta dan Malang yang entah gimana bisa dapat SIM dengan gaya menyetirnya yang amburadul, serobot kanan serobot kiri. Sepeda motor ini merasa memiliki seluruh jalanan di Indonesia dan merasa paling berhak menyetir dimana saja tanpa mengindahkan peraturan. Gak semua memang, tapi buanyaaaaaak banget yang gini dan membuat pengalaman menyetir jadi melelahkan jiwa.


Di media sosial dan di masyarakat sendiri ada stereotype untuk Ibu-Ibu yang katanya kalau nyetir ngawur. Dari kacamata saya stereotype ini salah, karena yang nyetir ngawur gak cuma Ibu-Ibu saja lho, tapi juga bapak-bapak, abang-abang, Mbak-mbak dan para remaja belasan tahun yang bahkan belum tahu pentingnya mengenakan helm. Semuanya ngaco dan saya yakin kalau tes SIM akan gagal.

Ngomongin soal SIM, saya ke Samsat dong untuk bikin SIM. Luar biasa, Samsat sekarang bebas dari calo. Semua orang harus mengurus sendiri dari tes mata sampai tes praktek. Tes mata yang dibandrol seharga 25ribu rupiah hanya menyajikan dua soal dan mata saya yang langsung dinyatakan sehat. Kelihatan sebagai formalitas aja kan? Tetapi begitu tes tertulis, semuanya berubah menjadi menyeramkan. Konon, dari 2000 aplikasi, yang gagal bisa mencapai 1300. Salah satunya saya. Tapi saya tak menyerah, setelah gagal mencoba lagi. Fiuh….

Anyway, waktu saya tes tertulis ada mbak-mbak media yang mengalungkan kalung media ternama berwarna hitam yang nampaknya meminta perlakuan khusus. Si Mbak sukses dibentak polisi, begini kalimat pak Polisi: “soalnya semua sama Mbak, gak ada soal khusus wartawan dan umum”. Agaknya Mbak wartawati ini tak tahu bahwa wajah kepolisian mulai berubah, bahkan anggota Polisi saja duduk mengikuti tes bersama saya. Bapak-bapak Polisi ini pelit lho, tak bisa dimintai jawaban jumlah denda jika tak memiliki SIM. Mungkin juga mereka tak tahu.

Saya senang melihat perubahan-perubahan di instansi di Indonesia. Tapi, hati kecil saya jadi ingin tau, apakah perubahan ini akan bertahan atau hanya hangat-hangat tai ayam? Entahlah, yang jelas jalanan Jakarta masih akan tetap berantakan, karena tak ada kendaraan yang bisa berjalan sesuai aturan. Di Jakarta, jalannya adalah rimba dimana semua orang bisa saling maju-mundur seruduk sana sini. Satu-satunya yang menyelamatkan Indonesia adalah fakta bahwa menyetir di sini kebanyakan setengah kopling dan gigi yang digunakan paling banter gigi tiga. Kendati kendaraan-kendaraan yang berlenggok-lenggok laksana merak yang lagi terbuai birahi ini berkecepatan rendah, kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Kamu punya SIM lokal? Jangan sampai terlambat perpanjang ya, satu hari keterlambatan saja harus mengulang proses.

Xx,
Tjetje

Basa-basi di Irlandia 

Dulu ada seorang blogger di Multiply  yang pernah cerita sama saya kalau orang Irlandia itu persis banget sama orang Indonesia, suka basa-basi. Jaman dia cerita itu saya gak punya ide sama sekali tentang Irlandia (selain boyband) dan gak begitu tertarik menjejak di Irlandia. Jadi cerita basa-basi itu melintas begitu saja dan tak pernah saya tanggapi dengan antusiasme.

Begitu nasib membawa saya ke Irlandia, saya terekspos pada basa-basi khas Irlandia. Interaksi basa-basi tak hanya terjadi dengan petugas atau pegawai yang melayani ruang publik (contohnya supir taksi, supir bis, petugas penjual tiket, kasir) tetapi juga dengan orang asing yang tak dikenal di dalam tram, bis ataupun di dalam kereta.

Ada aturan tak tertulis di Irlandia untuk menyapa dan bertanya kabar, sekedar “Hi, how are you?” sebelum berinteraksi. Ini basa-basi standar dimana-mana sih, bukan di Irlandia saja, mungkin sama standarnya dengan basa-basi Indonesia yang nanya “eh sudah kawin apa belum?” atau ketika berpapasan dengan tetangga yang nanya “Mau kemana?”#MauTahuAjaSih

Dengan pengemudi bis, pertanyaan-pertanyaan seperti ini biasanya tak dijawab. Dalam pergaulan sehari-hari sendiri, jawaban standar untuk menanggapi pertanyaan kabar di Dublin biasanya grand, opsi lainnya untuk menjawab adalah not too bad. Untuk good atau fine sendiri saya malah jarang banget dengar dan kebanyakan saya dengar dari mulut saya sendiri.

Selain basa-basi menanyakan kabar, orang Irlandia juga suka memulai basa-basi dengan membicarakan cuaca. Obsesi banget, mau mendung, cerah, hujan dibahas semua. Saat cuaca buruk biasanya ngomel tapi dicampur dengan syukur, karena untung gak banjir, untung gak angin dan untung lainnya. Sementara saat cuaca indah, mood para basa-basier ini ikutan bagus.

Mereka yang ngobrol tentang cuaca biasanya suka nanya soal cuaca di negara asal saya. Menurut saya, ini metode menggiring dan bertanya tak langsung negara asal saya, tanpa terdengar kepo. Kebanyakan orang menyangka saya ini suster yang aslinya dari Filipina. Bisa dipahami sih, orang Filipina dan Indonesia kan memang mirip. Plus, di negeri ini suster (nurse ya, bukan nanny) memang banyak didatangkan dari Filipina. (nah tuh yang mau hunting bule sekolah suster aja, terus cari kerjaan di luar negeri). Negara Indonesia sendiri banyak ga dikenal sama orang Irlandia. Saking gak terkenalnya, mama saya sampai frustasi ketika jalan-jalan dan ditanya pihak museum. Biasanya, mama saya bilang dekat Australia atau deket Bali. Beres deh.

Cara saya mendeskripsikan Indonesia sedikit berbeda dengan cara mama. Saya selalu mendeskripsikan Indonesia sebagai negara asal matahari. Nah dari situ molor deh pembicaraan kemana-mana, tapi lagi-lagi topik cuaca diulas lebih dulu. Lucunya, begitu dengar Indonesia biasanya gak jauh-jauh dari 30 derajat mereka langsung keder. Terlalu panas katanya. Lha kok 30 derajat, orang Irlandia tuh ya dikasih 20 derajat dengan sedikit panas aja udah ngomel, kepanasan.

https://www.instagram.com/p/BMi563_hg0e/?taken-by=binibule

Jika ada waktu kepo akan berlanjut dan menanyakan saya kuliah di mana. Ada anggapan umum bahwa orang Asia disini ini pelajar (yang kemudian dapat kerja). Sementara orang-orang berkulit lain, selalu identik dengan migran ekonomi. Dan tahu sendiri migran ekonomi sering dijadikan alasan untuk tak suka orang lain apalagi jika terjadi kegagalan integrasi.

Keponya orang Irlandia nanyain status kawinan juga lho, padahal gak kenal. Yang nanya soal anak juga ada, walaupun caranya halus banget. Saya perhatikan orang-orang yang kepo ini biasanya orang tua. Sementara yang muda cenderung cuek dan lebih individualis. Mereka lebih suka mendengarkan musik  dengan headset yang suaranya bisa kedengeran sampai kampung sebelah.

Bicara tentang basa-basi dengan orang asing, satu hari saya ngantri di sebuah supermarket. Tiba-tiba ada mbak-mbak yang nanya asal saya dari mana. Kelihatannya memang agak gak sopan, gak kenal nanya-nanya. Tapi rupanya mbak ini emang tulus ingin tahu tentang negara asal saya. Dan saya berakhir bercerita panjang tentang Indonesia dan segala kekayaan budaya serta alamnya, sampai tenggorokan kering. Persis kayak duta pariwisata Indonesia, Di akhir perbincangan ia mengucapkan terimakasih telah tinggal di Dublin dan memperkaya Irlandia. Super sweet.

Anyway, gara-gara kebiasaan basa-basi Irlandia ini, pas pulang kampung ini saya jadi lebih demen basa-basi pada orang tak dikenal lho. Di parkiran, di toilet, di kasir, pramusaji, semuanya saya sapa dengan ramah. Padahal, biasanya saya kayak orang Jakarta pada umumnya, cuek dan gak merasa perlu basa-basi. Dan saya pun terheran-heran, ini karena saya hanya liburan di Jakarta, atau karena Irlandia telah sukses menyuktikkan kebiasaan basa-basi pada saya. Entahlah.

Kamu, kapan terakhir kali basa-basi dengan orang yang tidak dikenal? Ngobrolin apa?

Xx,
Tjetje

Reverse Culture Shock: Tantangan Pulang Kampung

Tiga belas bulan, tiga minggu sejak meninggalkan Jakarta, saya menjejak kembali ke tanah air. Sebelum pesawat mendarat, perasaan saya rasanya campur aduk, tapi didominasi dengan rasa senang dan semangat, dan tentunya sedikit kedongkolan, karena di pesawat toilet diwarnai dengan basah di sana-sini, khas orang Indonesia.

Menjejak di Soekarno Hatta, senyum dan sapaan selamat malam saya layangkan pada petugas imigrasi. Tapi ya, petugas imigrasi negara kita itu emang super ngebetein dan memasang kegalakan khas tentara. Padahal tentara Indonesia saja jauh lebih ramah. Mungkin petugas-petugas itu lelah, karena harus bekerja hingga malam, tapi tetep saja itu bukan alasan. Lalu saya mulai membandingkan dengan petugas imigrasi di Irlandia yang keramahan dan kebaikannya bikin saya merasa diterima dan tak terintimidasi.

Lokasi pengambilan bagasi sendiri masih semrawut, sementara ruangan itu begitu panas, karena ACnya kurang maksimal, mungkin karena ruangan itu begitu padat. Begitu kaki saya melangkah keluar, saya pun dihajar dengan panasnya Jakarta. Tak cukup itu, telinga saya juga disuguhi dengan suara klakson, padahal hari sudah malam. Setahun di Irlandia, saya tak pernah mendengarkan suara klakson sama sekali, lha disini, semuanya pencet klakson untuk hal-hal yang tak jelas.

https://www.instagram.com/p/BMTG0dohwkI/?taken-by=binibule

Jalanan Jakarta Jumat tengah malam itu juga sangat macet. Mobil-mobil tak ada yang bisa berjalanan lurus, karena setiap mobil sibuk pindah dari satu lajur ke lajur lainya untuk mencari celah, konon supaya bisa cepat, tapi malah menghambat. Saya juga jadi memperhatikan bahwa kebanyakan orang yang menyetir kendaraan di Jakarta, kurang paham bagaimana menyesuaikan gigi dengan kecepatan, akibatnya saya banyak mendengar erangan mobil karena salah gigi, baik di kendaraan pribadi yang saya tumpangi, hingga Uber ataupun taksi.

Mal-mal di Jakarta sendiri masih dipenuhi dengan kaum menengah atas yang berdandan cantik dan bergaya, sambil menenteng tas-tas bermerek, entah asli ataupun KW. Rambut mereka sendiri begitu tertata rapi, dengan make up yang membuat penampilan menjadi lebih segar. Sungguh sebuah pemandangan yang bagi saya menarik karena di Dublin, saya terbiasa melihat orang-orang berbalut jaket tebal, pucat tanpa make up dan tentunya dengan rambut yang tak berkibar ibarat gadis shampoo

Bicara shampoo, saya juga jadi kaget melihat shampo khusus hijab yang harganya jauh lebih mahal dari shampoo di Irlandia. Tak hanya shampo, saya juga kaget lihat harga-harga kebutuhan pokok yang meroket. Begitu tingginya kah inflasi di Indonesia? Entahlah, yang jelas malam ini saya akan ngobrol dengan seorang sahabat untuk membahas topik ini. #ObrolanBeratYangTakSayaDapatdiIrlandia

https://www.instagram.com/p/BMN9pBFB6QH/?taken-by=binibule

Ekonomi negara ini bergerak cepat, tapi sayangnya, perilaku sebagian orang pada pelayan yang mengantarkan makanan masih tak ramah. Berulangkali saya melihat orang terlalu sibuk dengan gawainya hingga tak mengindahkan tangan-tangan para pelayan yang mengantarkan makanannya. Boro-boro makasih, ingat muka sang pelayan pun saya sangsi. Tapi saya salut, para pelayan disini begitu sigap mengambil foto, dengan cahaya minimal dan dengan sudut yang baik. Mereka mungkin harus beralih profesi menjadi fotografer.

Dalam satu kesempatan saya berkesempatan menaiki transjakarta, dua stop saja, dari Ratu Plaza ke Halte Polda dan dibayari seorang teman yang akan pulang karena saya tak punya kartu. Akibatnya, saya terjebak di halte, tak bisa keluar karena tak punya kartu. Sementara petugas halte ngotot tak bisa membantu mengeluarkan saya karena ia diawasi oleh CCTV (well done Ahok). Akibatnya, saya harus meminjam kartu orang lain untuk keluar. Beberapa orang yang berpenampilan profesional dengan galaknya menolak, tapi satu orang bapak dengan penampilan sangat sederhana berbaik hati meminjamkannya pada saya. Bless him for his kindness. 

Tj mungkin sudah berubah menjadi sedikit lebih nyaman, tapi trotoar Jakarta bagi saya menjadi mimpi buruk. Selain harus berjalan lebih hati-hati untuk menghindari lubang di trotoar, saya juga harus menghindari asap tukang sate yang akan membuat keringat saya bercampur dengan asapnya dan membuat pakaian dan rambut saja jadi aduhai. Pada saat yang sama, mata saya juga harus dijaga, karena butiran debu yang terbawa angin bisa membuat mata saya merah kapan saja. Soal polusi yang menerpa kulit, jangan ditanya lagi. Beberapa hari disini, saya jadi merindukan segarnya udara Irlandia yang membuat saya bisa berjalan dengan nyaman, ketika musim dingin sekalipun.

Tulisan ini tolong jangan dibaca sebagai keluh kesah, atau bahkan sebagai sebuah catatan kesombongan karena tinggal di luar negeri. Saya hanya kaget dan pada saat yang sama bersyukur dengan segala kenyamanan yang saya punya di hidup saya.  Membanding-bandingan sendiri merupakan sebuah kewajaran. Kok orang dewasa, sebagai Ailsa kecil yang kembali pulang dan tinggal di Indonesia saya pernah menolak dengan keras untuk masuk ke kamar mandi Indonesia hanya karena lantainya basah.

https://www.instagram.com/p/BMMnfUnBNhX/?taken-by=binibule

Tapi apapun kondisinya, saya masih orang Indonesia, memegang paspor hijau (jadi jangan panggil saya WNA ya) dan masih mencintai Nusantara ini dengan segenap hati saya. Dan dari lubuk hati terdalam saya berdoa, semoga Jakarta dan Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik dan satu hari nanti, saya, kamu dan dia, bisa menyusuri trotoarnya, tanpa perlu merasa tak nyaman dengan polusi atau bahkan lubang, serta genangan airnya.

xx,
Tjetje
Berulang kali hampir tersambar pintu, karena tak laki tak perempuan, tak menahan pintu  *Sigh*

Pulang Kampung 

Tradisi pulang kampung biasanya dilakukan menjelang hari-hari khusus, baik itu perayaan keagamaan maupun perayaan tahun baru. Di Indonesia, lebaran menjadi ajang pulang kampung terbesar, karena mayoritas penduduk  mudik bersama. Menjelang lebaran  jutaan orang berebut pulang, demi menikmati beberapa hari di kampung halaman bersama keluarga terdekatnya. Jalanan yang diledaki dengan pemudik dan juga kendaraan pun tak menghentikan niatan untuk bergabung dengan keluarga. Tak hanya lebaran, menjelang Natal, Imlek, bahkan Nyepi, banyak juga dari kita yang mudik. Tentunya jumlah mereka tak sebanyak pemudik lebaran.

Pulang kampung, kendati pendek, menjadi sebuah ritual yang wajib dilakukan bagi yang mampu. Sederetan aktivitas dan kegiatan direncanakan untuk melepas rindu dan bernostalgia. Urutan pertama tentunya menghabiskan waktu dengan keluarga. Baik keluarga yang masih hidup ataupun yang sudah dikebumikan. Bagi mereka yang berstatus jomblo, kegiatan ini seringkali menjadi siksaan karena serangan pertanyaan-pertanyaan dari para tante dan oom. Jangan salah lho, tak cuma orang Indonesia yang suka bertanya blak-blakan. Beberapa teman saya yang bukan orang Indonesia banyak tersiksa dengan pertanyaan serupa.
Starbike

Halo Abang Starbike!

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan keluarga, dari mulai menghabiskan waktu di atas meja makan hingga piknik bersama ke tempat-tempat wisata. Tak heran jika pada saat liburan area wisata dipenuhi lautan manusia yang pergi beramai-ramai dengan keluarganya. Tempat wisata murah meriah, seperti Ragunan atau TMII misalnya, dipadati dengan pengunjung. Kendati setiap tahun masuk berita karena pengunjung yang luar biasa banyaknya, orang-orang masih tetap bersemangat. Semuanya demi momen indah bersama keluarga.
Selain urusan bertemu keluarga, pulang kampung juga berarti bertemu teman-teman. Baik teman sekolah maupun teman masa kecil. Menyambung kembali pembicaraan atau mengenang masa lalu. Bagi sebagian orang, bertemu teman masa lalu itu terkadang menjadi momen canggung, karena seringkali   pembicaraan sudah tak nyambung lagi.  Belum lagi adanya ketidakcocokan pemikiran. Yang satu mendadak jadi ekstrem dan rajin menyisipkan ayat  suci di setiap pembicaraan, sementara yang lain merasionalisasi dan bertanya tentang banyak hal. Biasanya, yang merantau merasa terbuka dan menganggap yang tak merantau tak modern; sementara yang tak merantau merasa temannya sudah terlalu banyak berubah dan terkena racun pergaulan ibu kota. Tapi tentunya tak sedikit yang masih bisa nyambung dengan teman-teman lamanya dan kemudian rajin meminjam uang #eh.
Sebagai negara yang memiliki kekayaan kuliner, urusan perut juga merupakan agenda penting dalam perjalanan pulang. Tumbuh dan besar dengan rasa-rasa makanan tertentu membuat lidah merindu untuk digoda dengan kelezatan rempah. Rempah-rempah yang mungkin ditemukan di sudut bumi lain, tapi pengolahan serta suasanya membuat rasanya jauh berbeda. Kegiatan makan-makan ini tentunya sedikit berbahaya, berbahaya bagi kantong karena harus terus-menerus jajan di luar dan tentunya berbahaya untuk kesehatan. Timbangan bisa melonjak, sementara bagi yang punya masalah kesehatan, kolesterol, asam urat, kadar gula bisa ikut meroket setinggi langit.
Urusan pulang kampung tak lengkap jika tak melibatkan belanja, dari mulai sekedar belanja barang-barang khas, seperti kain-kain tradisional di pasar atau pengrajin lokal hingga membeli aneka rupa buah tangan paling mutakhir dan paling gaul di toko oleh-oleh. Tahu sendiri bagaimana doyannya orang Indonesia berbelanja. Yang dibelanjakan satu kampung dan seringkali kalap, semuanya ingin dibeli. Tapi kebiasaan inilah yang menggerakkan ekonomi negara kita. Membuat para pengrajin-pengrajin kecil di berbagai sudut negara meraup pundi-pundi untuk penghidupan banyak orang.
Sebagai seorang migran, saya migran ya, bukan expat, yang tinggal di negeri jauh, mudik pun menjadi ritual yang diagendakan secara rutin. Tahun ini sebenarnya saya tak ingin pulang, inginnya jalan-jalan ke negara lain, tapi apa daya, kesempatan untuk menyesap harumnya aroma teh tubruk sembari menyesap kembali nikmatnya rempah yang menari-nari di lidah datang. Jadi siapa yang bisa menolak, apalagi jika kulit yang mulai terang ini rindu dibakar teriknya matahari khatulistiwa. Eh tapi kalaupun tak ada matahari, saya rela kaki terendam kotornya banjir yang menggenangi Jakarta, karena sesungguhnya, menjejak di rumah itu sebuah kemewahan dan obat rindu yang mujarab.
Kamu, kalau pulang kampung ngapain aja?
Xx,
Tjetje
Punya daftar makanan panjang dan tak tahu apakah akan mampu melahap semuanya dalam waktu dua minggu. Ikuti perjalanan berburu makanan di IG @binibule (bukan @ailsadempsey ya, karena itu work account)

Mencari Bahan Pangan Indonesia di Dublin 

Ada beberapa orang yang penasaran bagaimana kehidupan dapur di negeri seberang. Beberapa bahkan bertanya-tanya apakah kemudian saya (dan banyak orang lainnya) berubah selera dan hanya mau makan roti saja. 

Saya tentunya tak bisa menjawab selera makan orang lain. Tapi yang jelas begitu pindah ke Dublin, konsumsi menu asing saya jauh lebih rendah ketimbang saat saya tinggal di Jakarta. Di Dublin saya maunya makan makanan Indonesia terus, karena makanan Irlandia rasanya amburadul, tak berbumbu. Irlandia emang gak punya kultur makan seperti di Perancis atau Spanyol. Jadi ya wajar kalau yang amburadul aja laku keras dan dibilang enak.


Mencari bahkan pangan Asia di Dublin tergolong mudah. Toko Asia bisa ditemukan di banyak tempat serta ada toko daring yang siap mengirimkan segala pesanan, selama kantong kuat bayar. Tapi bagi saya ada tiga hal yang penting untuk masakan Indonesia: beras, tempe dan bumbu segar.

Beras
 
Jika di Jakarta beras basmati sangatlah mahal, sampai orang India sering mengeluh, di Irlandia berat basmati lebih mudah ditemukan dan seringkali lebih murah. Saya sendiri lebih memilih beras Jepang atau beras Thailand.Harga beras sendiri beraneka rupa. Tergantung berapa banyak dan dimana kita membeli. Satu kilo beras biasanya dipatok dengan harga €2. Sementara, di tempat-tempat seperti Tesco bisa mencapai €4. 
Saya sendiri punya langganan toko China yang juga importir. Lokasinya di area industri dan target marketnya bukan individu tapi Restaurant. Disana, sepuluh kilo beras dari Kamboja dibandrol €13, sementara beras Jepang untuk Sushi sekitar €15. Jangan dibandingkan dengan di Indonesia ya.

Tempe
 

Satu hari saya ngobrol dengan pemilik toko Asia tentang tempe. Ia bercanda bahwa orang Indonesia itu tak bisa makan tanpa tempe. Bahkan saking tingginya peminat tempe, 40 bungkus tempenya yang baru datang pernah diborong habis oleh orang Indonesia yang tinggal di luar Dublin. 
Tempe disini barang langka yang didatangkan dari Belanda hampir setiap minggu. Sepertiga papan (20 potong) dibandrol dengan harga € 2.40 Euro. Memborong tempe buat saya sangat penting, karena seringkali tempe tak datang. 
Supaya awet, tempe harus dimasukkan freezer. Jika ingin masak, tempe tersebut didefrost terlebih dahulu atau dikukus. Rasanya memang tak serenyah tempe segar, tapi ya bagaimana lagi, beggars cannot be choosers. 

Aneka bumbu



Jahe, kunyit, Laos, cabe, sereh dan kunci misalnya bisa ditemukan dengan mudah. Bahkan daun jeruk bisa ditemukan dengan harga yang menurut saya jauh lebih murah daripada di Indonesia. Semudah-mudahnya, saya tak akan nekat bikin sate lilit dengan batang sereh karena harganya tak semurah di Indonesia.


Selain bumbu segar, bumbu instant seperti bumbu bambu juga bisa ditemukan. Bahkan ada rasa-rasa yang tak ditemukan di Indonesia. Tak hanya bumbu Indonesia, saya juga sering menggunakan bumbu Malaysia untuk memasak. Nah Baru-baru ini saya menemukan bumbu sop buntut Malaysia yang akan saya gunakan untuk membuat Soto Banjar. Nah kalau gini rasanya bersyukur banget deh satu rumpun dengan orang Malaysia. 
Bumbu-bumbu yang tak bisa ditemukan, seperti kencur dan salam, ataupun bahan pelengkap dengan merek tertentu harus dibawa dari Indonesia. Jadi ya jangan kaget kalau lihat Freezer dan lemari saya penuh dengan kerupuk, Emping, bumbu instant, petis, hingga kecap yang baru akan habis tahun depan.


Oh ya, mie instant disini bisa ditemukan dengan mudahnya. Bahkan bisa beli kardusan. Harganya memang sedikit mahal, 45 sen per bungkus. Tapi setidaknya gak perlu bawa mie dari Indonesia dan bagasi bisa diisi dengan makanan lain.

Kira-kira ada saran makanan apa lagi yang mesti saya timbun dan bawa ke Dublin? 

Xx,

Tjetje 

Takut Dengan Bule Hunter

Beberapa hari lalu di Twitter saya berbagi screen shot komentar dari orang yang nyasar ke Blog saya. Setelah membaca tulisan Dear Bule Hunter, orang ini mengambil kesimpulan bahwa pelaku perkawinan campur (dan saya sebagai blogger) biasanya takut dengan bule hunter karena takut pasangan dirampas oleh para bule hunter, makanya banyak yang nyap-nyap soal bule hunter. Lap keringat sambil ngedumel, gini deh kalau pada gak paham sarkasme. Tarik napas sambil ucap mantra, ya riset pun sudah membuktikan cuma yang IQnya nyampe yang bisa baca tulisan model sarkasme. 

pexels-andrea-piacquadio-3907760

Bule hunter yang saya definisikan sebagai orang-orang yang mencari pasangan dengan spesifikasi warna kulit dan mengeklusikan pilihan lain, merupakan sebuah fenomena yang terjadi di Indonesia sejak jaman baheula. Di jaman baheula berburu bule itu untuk menaikkan kelas sosial, biar jadi Nyai dengan mengawini orang Belanda. Di jaman sekarang, sebagian masih berprinsip seperti itu, biar kaya, kelas sosial naik dan jadi nyonya-nyonya bule. Fenomena ini  tak hanya ada di Indonesia saja tapi juga ada di negara-negara lain. Rusia misalnya dikenal dengan mail order bridenya.

Nah apakah kemudian bule hunter itu menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti seperti layaknya kita diajarkan untuk takut pada pocong, kuntilanak, kuyang, nenek lampir, suster ngesot, sundel bolong, wewe gombel, dan banyak hantu lainnya (yang kok kebanyakan perempuan)? Atau layaknya sebagian orang takut pada badut-badut yang sedang musim dan sedang senang berkeliaran menjelang Hallowen ini? ya kaleeeee.

Ketakutan yang digambarkan oleh sang komentator (dan menurut dugaan saya banyak orang disana berpikiran sama) ini, menurutnya, para bini-bini bule itu pada takut kalau lakinya disamber bule hunter. Saya yakin di luar sana ada yang takut lakinya disamber bule hunter dan tak mempercayai loyalitas suami. Saya sendiri sangat percaya bahwa hidup itu harus berusaha keras, tapi bagi ada tiga hal yang sekeras apapun kita kerja tak akan bisa kita paksakan, hidup, mati dan jodoh. Jadi lagi-lagi, mengapa harus ketakutan pasangan direbut bule hunter, kalau jodoh toh tak kemana.

Ada satu hal yang gagal dipahami oleh sang komentator, yaitu soal ketidaknyamanan sebagian orang ketika melihat bule hunter. Sebagian mengeluhkan penampilan mereka yang norak. Tapi sejujurnya kenorakan pakaian ini ada dimana-mana dan dilakukan siapa saja. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan buang muka saja. Atau kalau mau nekat, samperin aja bilang bajunya norak. Paling disiram air atau kalau beruntung disiram wine. Pastikan ketika nyamperin gak pas pegang sup panas ya.

Sebagian lagi mengeluhkan perilaku mereka yang seringkali dianggap murahan dan kurang berkelas  sehingga menuai  cibiran. Ini kemudian mengakibatkan sebagian besar perempuan yang memiliki pasangan orang asing dicibir dan disamaratakan. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, banyak orang yang risih ketika para bule hunter crashing party apalagi acara resmi hari-hari nasional dari negara-negara asing di Indonesia. Cara masuknya bermacam-macam, ada yang masuk ketika pengamanan acara sudah mulai berkurang, ada juga yang pura-pura menjadi bagian dari rombongan diplomat beneran. Saya sendiri terpukau sembari sedikit malu karena keberanian dan kenekatan mereka. Sampai segitunya kah kalau harus berburu pria?

Sebagian lainnya mengeluhkan keagresifan mereka yang luar biasa. Engga bikin takut kok, tapi meminjam istilah jaman sekarang: gengges banget! Jelas-jelas #CincinKawinSegedeBagongGakDilihat, bahkan ketika istri dan anak dibawa pun masih digodain. Atau dalam konteks hubungan pekerjaan, tukar menukar nomor telpon tiba-tiba mengirimi foto selfie super seksi yang alasannya salah alamat. Sah-sah aja kok, tapi seperti saya bilang, hal-hal seperti ini membuat  sebagian orang gengges dan jadi mikir, ” apaan sih?”

Nah yang bikin makin gengges lagi tuh, kalau kemudian para orang asing itu bertanya pada orang Indonesia (ini sering banget saya alami, karena saya kerja di lingkungan yang banyak ekspatnya. Kalau nanya ya ke saya). Mengapa mereka sangat agresif ketika berkaitan dengan urusan pria, tapi begitu berurusan dengan pekerjaan super lelet. Mengapa mereka tak malu meraba-raba diplomat yang sudah dibuai alkohol di depan publik, seakan tak ada norma lagi. Atau mengapa mereka menelpon-nelpon tanpa henti dan juga mengirimkan pesan, permintaan pertemanan di media sosial. Lalu pertanyaan lainnya, apakah mereka seperti ini juga pada orang-orang yang bukan orang asing? Nanti kalau dijawab, engga cuma sama bule aja, akan berbuntut panjang. Mengapa mereka rasis dan hanya berlaku seperti itu pada orang kulit putih.Ya ndak tahu, tanya aja sendiri. Dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang kadang membuat saya lagi-lagi malu dan pusing menjawabnya.

Di forum-forum di dunia maya fenomena ini juga banyak dibahas dan tentunya dinikmati oleh kedua belah pihak. Sah-sah saja wong sama-sama dewasa. Tapi tetap di relung hati saya ada rasa sedih yang mendalam ketika para bule itu berkata, hidup di Indonesia itu enak, mau ganti-ganti cewek  gampang. Meski sang bule gak bermaksud mengenelirasi, tetep bikin sedih. Rasanya kok perempuan Indonesia itu jadi gak berharga dan gak bernilai banget.

Terlepas dari segala hal yang gengges di atas, bule hunter adalah sebuah fenomena yang banyak menginspirasi tulisan-tulisan saya. Bagi saya, perilaku mereka sangat menarik untuk diamati dan direkam. Jadi, mengapa mereka harus ditakuti?

xx,
Tjetje

Mimpi Buruk Tinggal Bersama Mertua 

Bagaimana judul di atas? Sudahkah mewakili perasaan sebagian dari mereka yang tinggal dengan mertua? Bagi sebagian orang, tinggal dengan mertua itu adalah sebuah mimpi buruk. Apalagi jika mertua dan menantu tak akur dan kemudian menolak menjalin hubungan manis dan menyatakan perang dingin. Jreng…jreng…drama heboh deh, persis seperti sinetron. *camera zoom in, mata melotot, zoom out, awas jangan berkedip*

Anggapan tinggal dengan mertua sebagian mimpi buruk itu tak sepenuh benar, karena ada banyak menantu yang dekat dengan mertuanya dan memiliki hubungan manis. Tapi tentu saja cerita-cerita tersebut sangat tak menarik untuk dibaca, karena monster-in-law jauh lebih menggigit.

Banyak alasan orang tinggal dengan mertua, keuangan yang belum cukup salah satunya. Tapi tak sedikit yang tinggal dengan mertua karena ingin berbakti dan merawat mertua yang biasanya sendirian. Ada juga mertua yang memang posesif, maunya anak menantu tinggal berdekatan hingga membangun satu wilayah perumahan sendiri.

mother-in-law-nickandzuzu

nickandzuzu.com

Drama antara menantu dan mertua biasanya sudah dimulai sebelum perkawinan dimulai. Salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya tak saling menyukai. Akibatnya merembet ke urusan memilih produk rumah tangga, hingga urusan manajemen keuangan. Jangan heran kalau kemudian mertua beli beras Jepang, sementara mantu beli beras Thailand. Lalu keduanya berakhir ribut urusan listrik dan air yang sedikit lebih mahal karena masak nasi dua kali.

Keributan tak penting semakin merembet ketika satu pihak mencampuri atau berkomentar soal keuangan yang cukup sensitif dan seharusnya tak menjadi urusan pihak lain. Menantu yang dianggap tak pandai mengurus keuangan dan boros akan jadi bahan bulan-bulanan dan mendapat penghargaan menantu kurang ideal. Apalagi jika uang yang digunakan adalah uang sang anak. Makin meradang deh.

Sayangnya penghargaan ini tidak langsung diberikan di depan mata, tapi di hadapan abang tukang sayur sembari memilih pete dan jengkol untuk dilalap. Mungkin besok-besok abang tukang sayur harus mulai mengenakan biaya tambahan ketika harus mendengarkan curhatan rumah tangga. Tak mau kalah, yang lebih muda pun berkoar-koar di media sosial mengumbar hubungan tak manis. Satu dunia pun tahu soal drama yang tak penting.

https://www.instagram.com/p/idFACdQxj7/?taken-by=binibule

Tak hanya soal manajemen dapur dan keuangan, manajemen tidur juga menjadi pembicaraan tak mengenakkan. Anak perempuan dipaksa bangun pagi dan menyiapkan sarapan supaya bisa menyandang predikat menantu ideal. Sementara anak laki-laki tidur aja, santai-santai tunggu sarapan #LemparSandalJepit. Lalu ketika sang menantu bangun siang, sindiran-sindiran tajam dan tak mengenakkan pun dilemparkan.

Tapi dari semua itu keributan yang paling tak menyenangkan konon jika sudah menyangkut anak. Mertua yang kadung sebel dengan mantu suka ngumpat atau menyindir menantu yang belum kunjung mengandung. Mereka yang sudah punya bayi pun tak lepas dari konflik. Dari mulai memaksa memasang gurita hingga soal cara mendidik anak. Yang satu merasa sudah berpengalaman, sementara yang satu membaca panduan mendidik masa kini yang sudah jauh berbeda. Runyam.

Di antara keributan ini ada banyak pihak yang tersiksa. Sang anak akan sangat pusing karena berada di antara ibu dan istri, lalu untuk menambah drama disuruh milih. Padahal memilih antara ibu dan istri itu sungguh sulit. Sementara sang pekerja rumah tangga juga tak kalah pusing karena mertua minta masak sayur bayam, sementara sang mantu minta gudeg. Begini terus setiap hari, lama-lama si mbak pun pamit mundur karena akan kawin di kampung. Entah kapan pacarannya.

Pada beberapa kasus yang saya tahu, drama menantu dan mertua ini berakhir di pengadilan agama dengan diketuknya palu perceraian. Saat tak ada anak, tentunya jadi lebih mudah, cukup katakan selamat tinggal. Tapi begitu ada anak, hak asuh anak ada pada ibunya, dan sang nenek kesulitan akses menengok cucunya. Dan babak kedua perseteruan pun dimulai, kali ini dengan pemain tambahan, sang cucu.

Dan di sebuah kasus yang ekstrem, saat sang anak meninggal dunia, mantu meninggalkan rumah membawa cucu, mertua pun merana. Kehilangan anak dan juga kehilangan cucu. Kesempatan untuk berhubungan dengan cucu hilang karena sang ibu terlanjur sakit hati. Nah lho kalau udah gini menyesal pun tak berguna.

Jadi, bagaimana hubunganmu dengan ibu mertua, buruk atau manis?

Xx,
Tjetje
Mencintai ibu mertua yang super baik

Catatan: tulisan ini hanya membahas satu sisi saja, monster-in-law. Mantu monster sengaja tak dibahas karena bahannya belum cukup. Jadi gak usah nyinyir-nyinyiran ya.