Takut Dengan Bule Hunter

Beberapa hari lalu di Twitter saya berbagi screen shot komentar dari orang yang nyasar ke Blog saya. Setelah membaca tulisan Dear Bule Hunter, orang ini mengambil kesimpulan bahwa pelaku perkawinan campur (dan saya sebagai blogger) biasanya takut dengan bule hunter karena takut pasangan dirampas oleh para bule hunter, makanya banyak yang nyap-nyap soal bule hunter. Lap keringat sambil ngedumel, gini deh kalau pada gak paham sarkasme. Tarik napas sambil ucap mantra, ya riset pun sudah membuktikan cuma yang IQnya nyampe yang bisa baca tulisan model sarkasme. 

pexels-andrea-piacquadio-3907760

Bule hunter yang saya definisikan sebagai orang-orang yang mencari pasangan dengan spesifikasi warna kulit dan mengeklusikan pilihan lain, merupakan sebuah fenomena yang terjadi di Indonesia sejak jaman baheula. Di jaman baheula berburu bule itu untuk menaikkan kelas sosial, biar jadi Nyai dengan mengawini orang Belanda. Di jaman sekarang, sebagian masih berprinsip seperti itu, biar kaya, kelas sosial naik dan jadi nyonya-nyonya bule. Fenomena ini  tak hanya ada di Indonesia saja tapi juga ada di negara-negara lain. Rusia misalnya dikenal dengan mail order bridenya.

Nah apakah kemudian bule hunter itu menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti seperti layaknya kita diajarkan untuk takut pada pocong, kuntilanak, kuyang, nenek lampir, suster ngesot, sundel bolong, wewe gombel, dan banyak hantu lainnya (yang kok kebanyakan perempuan)? Atau layaknya sebagian orang takut pada badut-badut yang sedang musim dan sedang senang berkeliaran menjelang Hallowen ini? ya kaleeeee.

Ketakutan yang digambarkan oleh sang komentator (dan menurut dugaan saya banyak orang disana berpikiran sama) ini, menurutnya, para bini-bini bule itu pada takut kalau lakinya disamber bule hunter. Saya yakin di luar sana ada yang takut lakinya disamber bule hunter dan tak mempercayai loyalitas suami. Saya sendiri sangat percaya bahwa hidup itu harus berusaha keras, tapi bagi ada tiga hal yang sekeras apapun kita kerja tak akan bisa kita paksakan, hidup, mati dan jodoh. Jadi lagi-lagi, mengapa harus ketakutan pasangan direbut bule hunter, kalau jodoh toh tak kemana.

Ada satu hal yang gagal dipahami oleh sang komentator, yaitu soal ketidaknyamanan sebagian orang ketika melihat bule hunter. Sebagian mengeluhkan penampilan mereka yang norak. Tapi sejujurnya kenorakan pakaian ini ada dimana-mana dan dilakukan siapa saja. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan buang muka saja. Atau kalau mau nekat, samperin aja bilang bajunya norak. Paling disiram air atau kalau beruntung disiram wine. Pastikan ketika nyamperin gak pas pegang sup panas ya.

Sebagian lagi mengeluhkan perilaku mereka yang seringkali dianggap murahan dan kurang berkelas  sehingga menuai  cibiran. Ini kemudian mengakibatkan sebagian besar perempuan yang memiliki pasangan orang asing dicibir dan disamaratakan. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, banyak orang yang risih ketika para bule hunter crashing party apalagi acara resmi hari-hari nasional dari negara-negara asing di Indonesia. Cara masuknya bermacam-macam, ada yang masuk ketika pengamanan acara sudah mulai berkurang, ada juga yang pura-pura menjadi bagian dari rombongan diplomat beneran. Saya sendiri terpukau sembari sedikit malu karena keberanian dan kenekatan mereka. Sampai segitunya kah kalau harus berburu pria?

Sebagian lainnya mengeluhkan keagresifan mereka yang luar biasa. Engga bikin takut kok, tapi meminjam istilah jaman sekarang: gengges banget! Jelas-jelas #CincinKawinSegedeBagongGakDilihat, bahkan ketika istri dan anak dibawa pun masih digodain. Atau dalam konteks hubungan pekerjaan, tukar menukar nomor telpon tiba-tiba mengirimi foto selfie super seksi yang alasannya salah alamat. Sah-sah aja kok, tapi seperti saya bilang, hal-hal seperti ini membuat  sebagian orang gengges dan jadi mikir, ” apaan sih?”

Nah yang bikin makin gengges lagi tuh, kalau kemudian para orang asing itu bertanya pada orang Indonesia (ini sering banget saya alami, karena saya kerja di lingkungan yang banyak ekspatnya. Kalau nanya ya ke saya). Mengapa mereka sangat agresif ketika berkaitan dengan urusan pria, tapi begitu berurusan dengan pekerjaan super lelet. Mengapa mereka tak malu meraba-raba diplomat yang sudah dibuai alkohol di depan publik, seakan tak ada norma lagi. Atau mengapa mereka menelpon-nelpon tanpa henti dan juga mengirimkan pesan, permintaan pertemanan di media sosial. Lalu pertanyaan lainnya, apakah mereka seperti ini juga pada orang-orang yang bukan orang asing? Nanti kalau dijawab, engga cuma sama bule aja, akan berbuntut panjang. Mengapa mereka rasis dan hanya berlaku seperti itu pada orang kulit putih.Ya ndak tahu, tanya aja sendiri. Dan masih banyak mengapa-mengapa lain yang kadang membuat saya lagi-lagi malu dan pusing menjawabnya.

Di forum-forum di dunia maya fenomena ini juga banyak dibahas dan tentunya dinikmati oleh kedua belah pihak. Sah-sah saja wong sama-sama dewasa. Tapi tetap di relung hati saya ada rasa sedih yang mendalam ketika para bule itu berkata, hidup di Indonesia itu enak, mau ganti-ganti cewek  gampang. Meski sang bule gak bermaksud mengenelirasi, tetep bikin sedih. Rasanya kok perempuan Indonesia itu jadi gak berharga dan gak bernilai banget.

Terlepas dari segala hal yang gengges di atas, bule hunter adalah sebuah fenomena yang banyak menginspirasi tulisan-tulisan saya. Bagi saya, perilaku mereka sangat menarik untuk diamati dan direkam. Jadi, mengapa mereka harus ditakuti?

xx,
Tjetje

Mimpi Buruk Tinggal Bersama Mertua 

Bagaimana judul di atas? Sudahkah mewakili perasaan sebagian dari mereka yang tinggal dengan mertua? Bagi sebagian orang, tinggal dengan mertua itu adalah sebuah mimpi buruk. Apalagi jika mertua dan menantu tak akur dan kemudian menolak menjalin hubungan manis dan menyatakan perang dingin. Jreng…jreng…drama heboh deh, persis seperti sinetron. *camera zoom in, mata melotot, zoom out, awas jangan berkedip*

Anggapan tinggal dengan mertua sebagian mimpi buruk itu tak sepenuh benar, karena ada banyak menantu yang dekat dengan mertuanya dan memiliki hubungan manis. Tapi tentu saja cerita-cerita tersebut sangat tak menarik untuk dibaca, karena monster-in-law jauh lebih menggigit.

Banyak alasan orang tinggal dengan mertua, keuangan yang belum cukup salah satunya. Tapi tak sedikit yang tinggal dengan mertua karena ingin berbakti dan merawat mertua yang biasanya sendirian. Ada juga mertua yang memang posesif, maunya anak menantu tinggal berdekatan hingga membangun satu wilayah perumahan sendiri.

mother-in-law-nickandzuzu

nickandzuzu.com

Drama antara menantu dan mertua biasanya sudah dimulai sebelum perkawinan dimulai. Salah satu pihak, atau bahkan dua-duanya tak saling menyukai. Akibatnya merembet ke urusan memilih produk rumah tangga, hingga urusan manajemen keuangan. Jangan heran kalau kemudian mertua beli beras Jepang, sementara mantu beli beras Thailand. Lalu keduanya berakhir ribut urusan listrik dan air yang sedikit lebih mahal karena masak nasi dua kali.

Keributan tak penting semakin merembet ketika satu pihak mencampuri atau berkomentar soal keuangan yang cukup sensitif dan seharusnya tak menjadi urusan pihak lain. Menantu yang dianggap tak pandai mengurus keuangan dan boros akan jadi bahan bulan-bulanan dan mendapat penghargaan menantu kurang ideal. Apalagi jika uang yang digunakan adalah uang sang anak. Makin meradang deh.

Sayangnya penghargaan ini tidak langsung diberikan di depan mata, tapi di hadapan abang tukang sayur sembari memilih pete dan jengkol untuk dilalap. Mungkin besok-besok abang tukang sayur harus mulai mengenakan biaya tambahan ketika harus mendengarkan curhatan rumah tangga. Tak mau kalah, yang lebih muda pun berkoar-koar di media sosial mengumbar hubungan tak manis. Satu dunia pun tahu soal drama yang tak penting.

https://www.instagram.com/p/idFACdQxj7/?taken-by=binibule

Tak hanya soal manajemen dapur dan keuangan, manajemen tidur juga menjadi pembicaraan tak mengenakkan. Anak perempuan dipaksa bangun pagi dan menyiapkan sarapan supaya bisa menyandang predikat menantu ideal. Sementara anak laki-laki tidur aja, santai-santai tunggu sarapan #LemparSandalJepit. Lalu ketika sang menantu bangun siang, sindiran-sindiran tajam dan tak mengenakkan pun dilemparkan.

Tapi dari semua itu keributan yang paling tak menyenangkan konon jika sudah menyangkut anak. Mertua yang kadung sebel dengan mantu suka ngumpat atau menyindir menantu yang belum kunjung mengandung. Mereka yang sudah punya bayi pun tak lepas dari konflik. Dari mulai memaksa memasang gurita hingga soal cara mendidik anak. Yang satu merasa sudah berpengalaman, sementara yang satu membaca panduan mendidik masa kini yang sudah jauh berbeda. Runyam.

Di antara keributan ini ada banyak pihak yang tersiksa. Sang anak akan sangat pusing karena berada di antara ibu dan istri, lalu untuk menambah drama disuruh milih. Padahal memilih antara ibu dan istri itu sungguh sulit. Sementara sang pekerja rumah tangga juga tak kalah pusing karena mertua minta masak sayur bayam, sementara sang mantu minta gudeg. Begini terus setiap hari, lama-lama si mbak pun pamit mundur karena akan kawin di kampung. Entah kapan pacarannya.

Pada beberapa kasus yang saya tahu, drama menantu dan mertua ini berakhir di pengadilan agama dengan diketuknya palu perceraian. Saat tak ada anak, tentunya jadi lebih mudah, cukup katakan selamat tinggal. Tapi begitu ada anak, hak asuh anak ada pada ibunya, dan sang nenek kesulitan akses menengok cucunya. Dan babak kedua perseteruan pun dimulai, kali ini dengan pemain tambahan, sang cucu.

Dan di sebuah kasus yang ekstrem, saat sang anak meninggal dunia, mantu meninggalkan rumah membawa cucu, mertua pun merana. Kehilangan anak dan juga kehilangan cucu. Kesempatan untuk berhubungan dengan cucu hilang karena sang ibu terlanjur sakit hati. Nah lho kalau udah gini menyesal pun tak berguna.

Jadi, bagaimana hubunganmu dengan ibu mertua, buruk atau manis?

Xx,
Tjetje
Mencintai ibu mertua yang super baik

Catatan: tulisan ini hanya membahas satu sisi saja, monster-in-law. Mantu monster sengaja tak dibahas karena bahannya belum cukup. Jadi gak usah nyinyir-nyinyiran ya.

Tertimpa Gosip dan Rumor

Lebih dari satu dekade lalu seorang tetangga saya berdiri di depan rumah sambil berteriak-teriak, marah tak jelas. Kendati pendidikannya tinggi dan pekerjaannya menjadi pendidik anak bangsa, sang tetangga satu ini memang terkenal tak bisa mengatur temperamennya dan hobi marah-marah. Di tengah-tengah amarahnya, ia tiba-tiba menghujat saya, anak kuliahan yang baru kenal cinta monyet sebagai perempuan simpanan. Darah muda saya mendidih, apalagi saat itu saya masih jomblo. Sebagai jomblo yang merindukan cinta, bagai pungguk merindukan bulan, kejadian itu saya ibaratkan seperti peribahasa bagaikan jomblo tertimpa tangga. Apes bener. Tetangga itu berakhir diam tak berkutik ketika saya labrak.

Dalam kehidupan, seringkali kita ditimpa gosip ataupun rumor. Artis bukan, motivator juga bukan, tapi ada saja orang yang iri dan dengki lalu membuat gosip dan rumor aneh-aneh. Pada saat yang sama, banyak dari kita yang terlibat baik secara aktif maupun pasif dalam kegiatan pergunjingan. Dari bergunjing sambil ngopi-ngopi dan arisan cantik, hingga bergunjing kelas teri bersama abang tukang sayur ataupun ketika usai ibadah. Lha abis ibadah kok nggosip.

Saya mendefiniskan bergosip sebagai kegiatan membicarakan orang. Yang dibicarakan biasanya fakta tetapi banyak dari informasi ini harusnya disimpan dalam lingkungan terbatas. Kendati hal-hal yang dibicarakan dalam pergosipan adalah fakta, tujuan dari membahas hal-hal ini bukanlah mengulas fakta atau investigasi untuk mengungkap sebuah permasalah. Tujuannya hanya untuk olahraga lidah, mulut dan telinga. Satu hal yang seringkali dilupakan, ada informasi-informasi yang seharusnya disimpan dalam sebuah ruang terbatas yang tiba-tiba dikeluarkan dan diumbar untuk untuk mengatasi kebutuhan membicarakan orang lain. Berbeda dari gosip, rumor merupakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sumbernya tak jelas, dasarnya tak jelas, kebenarannya apalagi.  Rumor menurut saya jauh lebih kejam dari gosip.

Gosip dan rumor tak bisa dilepaskan dari tukang gosip  yang juga berperan sebagai tukang sulut masalah ataupun provokator.  Provokator sekelas RT atau RW yang punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, bukan provokator yang bikin rusuh di depan kantor DPR. Tukang bikin rusuh ini biasanya punya ciri khas tak bisa menyimpan informasi dan hal-hal yang dia dengar dapat dipastikan tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga orang yang dibicarakan.
facebook-gossiping
Menghadapi tukang gosip atau penyebar rumor tidaklah mudah. Tapi yang paling utama, kita tidak boleh terpancing. Baik terpancing ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan informasi ataupun terpancing secara emosi. Pada saat yang sama, semua informasi yang kita dengar, dari siapapun, harus berhenti pada diri sendiri. Segatal-gatalnya mulut jangan sampai mengeluarkan informasi ke tukang gosip, apalagi ke para korbannya. Tak ada gunanya menyampaikan informasi tersebut pada orang lain, karena hanya membuat suasana semakin runyam.
Mereka yang mendengar berita diri digosipkan juga sebaiknya  tak mudah terprovokasi lalu tergoda labrak-melabrak, macam saya ketika masih muda belia. Apalagi jika sumber dari pergosipan ini adalah orang-orang yang memang terkenal sebagai tukang gosip dengan kalimat standar “Katanya si X, kamu begini, katanya si Y suamimu begini; aku dengar dari si Z kemarin begina begitu”. Semua katanya.
Sebuah sumber bacaan saya mengatakan bahwa orang-orang yang bergosip biasanya tak merasa percaya diri, sehingga merasa lebih baik ketika membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain. Pada saat yang sama ada kemarahan ataupun kecemburuan pada sang korban gosip. Nah, orang-orang seperti ini tak selayaknya diberikan panggung untuk menaikkan kepercayaan dirinya. Cuekin saja, anggap angin lalu.
Apakah ini berarti kita tak boleh membicarakan hidup orang lain? Sah-sah saja kok, apalagi jika hal tersebut adalah berita baik yang patut dirayakan. Tapi sudah selayaknya etika dan norma menjadi pembatas, baik pembatasan topik yang layak dibahas, maupun ekslusifitas informasi tersebut (Baca: gak perlu ngember kemana-mana).
Jika dulu saya melabrak-labrak orang, sekarang saya jauh lebih dingin dalam menghadapi gosip. Kadang saya menganggap gosip sebagai sebuah kewajaran, apalagi banyak yang tak cocok  (atau tak paham tapi pura-pura paham) dengan jalan pikiran dan gaya bicara saya. Pada saat bersamaan, saya juga bisa belagak jadi artis kan? Artis tanpa film, tanpa sinetron, tapi tak kalah penuh drama. Tentu saya yang menggosipkan saya tak akan saya beri somasi, apalagi somasi dengan 18 pengacara.
Mengutip kata Dedi Cobuzier, kita itu manusia dan bukan malaikat. Jadi wajar saya jika sebagai manusia yang tak sempurna kita banyak salahnya. Nah ketika manusia tak sempurna, bukan berarti mereka bisa dengan semena-mena dibicarakan dan digosipkan habis-habisan.
Bagaimana dengan kalian, pernah berurusan dengan tukang gosip, tertimpa gosip atau rumor tak sedap? Atau malah menjadi tukang gosip? #Eh
xx,
Tjetje
Ketularan Cerita Eka menjadi penikmat gosip super somasi.

Kembali Tinggal dengan Orang Tua

Di beberapa negara maju, anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa diharapkan tinggal sendiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Harapannya, anak-anak tersebut bisa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.


Di Indonesia, konsep melepas anak supaya mandiri itu kurang populer. Sebaliknya, anak dimanjakan hingga usia dewasa. Mereka disuapi dengan kemudahan; disediakan pekerja rumah tangga, pengemudi, hingga tabungan serta pekerjaan. Kemanjaan ini tak semerta-merta berhenti begitu memasuki jenjang perkawinan. Ada banyak keluarga muda yang entah terpaksa karena keadaan, atau mungkin dipaksa supaya orang tua tak kesepian, yang tinggal bersama orang tua. Bahkan ketika cucu lahir pun masih bersama orang tua. Menurut orang tua sih supaya dekat dengan cucu dan supaya ada orang terpercaya yang merawat cucu. Di Indonesia kita melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Disini, berusia dewasa, apalagi sudah kawin masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai keanehan.

Bicara tentang anak-anak yang dilepas, saya jadi teringat seorang teman WNA yang harus kembali ke negaranya setelah magang di Indonesia. Saat itu ia panik dan tak nyaman karena harus kembali tinggal dengan orang tuanya selama satu minggu karena belum mendapat tempat tinggal. Tinggal satu minggu dengan orang tua nampaknya dianggap sebagai sebuah siksaan luar biasa. Sungguh sebuah reaksi yang bagi saya menarik (dan berlebihan).

Saya sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal mandiri tanpa keterlibatan orang tua dan tak tahu apakah bisa tinggal satu atap lagi dengan ibunda saya. Ternyata, dikunjungi mama selama hampir tiga bulan saya malah tambah senang. Paling enak tentunya urusan perut, karena makanan nusantara seringkali tersaji. Sering ya, tapi tak selalu. Tentunya ada harga mahal yang harus dibayar, berat badan melonjak.

Tentunya dikunjungi tak sama dengan tinggal bersama. Dalam tinggal bersama ada keputusan-keputusan yang harus dibuat. Dari keputusan sederhana memilih merek sabun cuci hingga memilih penyedia jasa.

Tak heran jika kemudian pasangan-pasangan muda yang menumpang hidup dengan orang tua atau mertuanya seringkali berargumen, dari argumen yang penting hingga yang tak penting.

Yang tua sudah punya pola yang tersusun selama berpuluh tahun dan sudah memiliki pengalaman, sementara yang muda masih ingin mencoba berbagai hal baru atau sudah terbiasa dengan cara yang berbeda. Yang kasihan tentunya sang anak yang harus berada di tengah-tengah, antara orang tua dan pasangan jiwa.

Dalam situasi ini kedua belah pihak harus pintar-pintar menjadi fleksibel. Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak harus berkomitmen untuk memberikan ruang pribadi dan tak terlalu mencampuri urusan pihak yang lain. Komunikasi kemudian menjadi kunci penting. Seperti biasa, teorinya mudah tapi prakteknya tak mudah sama sekali karena bercampur dengan ego.

Kalian pernah kembali tinggal dengan orang tua atau bahkan dengan mertua?

xx,
Tjetje

Cara Daftar Visa Spouse Irish 

Banyaknya forum-forum di dunia maya memberikan kesempatan pada mereka yang kebingungan untuk bisa bertanya dan berkonsultasi tentang hal-hal yang tidak diketahui. Tetapi pada saat yang bersamaan, dunia maya, yang juga disingkat sebagai dumay, juga rajin menjerumuskan orang pada lubang hitam pekat besar. Di dunia maya, semua orang merasa paling benar, dan cara yang ditawarkan adalah cara terbaik. Padahal, banyak hal-hal kecil yang harus ditanyakan dahulu sebelum memberi saran atau berbagi pengalaman. Terlebih jika pertanyaan yang diajukan terkait dengan visa. Salah sedikit bisa runyam dan catatan penolakan visa akan melekat seumur hidup.

Visa untuk joining Irish spouse, atau bergabung dengan pasangan (disini ga penting mau pasangan kawin atau pasangan tinggal bersama) pengurusannya sangat mudah tapi prosesnya lama. Terkadang lebih lama dari menunggu jodoh. Perlu dicatat, digarisbawahi dan dicetak tebal, proses visa untuk yang pasangannya Irish TIDAK SAMA dengan mereka yang pasangannya warga negara Eropa. Mereka tak hanya mendapatkan kemudahan, tetapi juga langsung mendapat visa sesuai umur passport. Sementara yang memiliki pasangan Irish dan mendaftar visa long visit joining spouse dari pengalaman saya hanya akan mendapatkan visa selama tiga bulan saja.

Ketika saya mengecek di kedutaan Irlandia di Jakarta yang berlokasi di gedung WTC, dokumennya relatif sama dengan visa kunjungan pendek untuk jalan-jalan ke Irlandia. Daftar dokumennya sebagai berikut:

1. Hasil cetak pendaftaran visa secara Online yang sudah ditandatangani. Ini bisa dididapat  di situs INIS.

2. Surat permohonan visa. Saya menjelaskan secara panjang sejarah kami bertemu diikuti dengan sejarah kunjungan-kunjungan saya.

3. Surat undangan dari pihak pasangan WN Irlandia. Surat ini senada dengan surat kedua. Penuh sejarah percintaan yang dilengkapi dengan detail tanggal.

4. Fotokopi akte kelahiran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Akte asli harus dibawa untuk verifikasi

5. Fotokopi surat kawin serta terjemahannya. Surat kawin asli harus dibawa untuk verifikasi. Perlu dicatat pemerintah Irlandia mengakui perkawinan di luar negeri, jadi tak perlu repot-repot dicatatkan.

6. Bank statement selama enam bulan terakhir untuk membuktikan bahwa pasangan memang punya uang yang cukup dan tak akan membebani negara. Jika saya tak salah, ada penghasilan minimum untuk pasangan. Tapi saya belum ketemu linknya.

Bank statement saya juga disertakan untuk menunjukkan status keuangan. Selain itu saya memberikan aneka rupa bonus dokumen keuangan termasuk slip gaji dari saya dan pihak suami.

7. Surat keterangan dari tempat kerja pasangan yang menjelaskan bahwa ybs memang bekerja. Irlandia tak ingin orang-orang yang tak bekerja dan bergantung pada social welfare membawa pasangannya dan membebani negara. Konon prakteknya sih dimungkinkan, tapi tak saya sarankan.

Saya juga menyertakan surat keterangan dari kantor saya yang menyatakan masa kerja.

8. Asuransi perjalanan. Dikarenakan ini long stay, saya mengambil asuransi perjalanan tahunan. Bisa dibeli di situs AXA Indonesia.

9. As silly as it sounds, bukti booking pesawat. Kenapa saya bilang silly, karena proses visanya lama jadi booking pesawat sebenernya gak berguna karena kita juga gak bisa prediksi kapan pergi.

10. Fotokopi Passport kedua belah pihak dengan seluruh copy visa di dalamnya. Passport asli juga harus dibawa untuk verifikasi.

11. Foto background putih dua buah tidak ditempel dan di baliknya ditulis nomor aplikasi. Soal ukuran silahkan intip postingan saya tentang visa liburan.

Saya memberikan dokumen tambahan Foto-foto perkawinan saya. Sebenarnya tak diperlukan lagi, karena pihak embassy juga tahu saya sudah rajin wira-wiri Jakarta Dublin. Merekapun juga menolak.  Tapi, mereka yang melakukan review ada di Dublin dan belum tentu ngeh.

Seperti saya sebut berulang kali, visa ini prosesnya lama sekali. Proses normalnya ketika saya daftar enam bulan, tapi rupanya sekarang sudah molor jadi satu tahun. Pengecekan dokumen sendiri bisa dilakukan di sini. Beberapa waktu lalu saya cek, dokumen yang diproses baru yang dimasukkan pada 12 Januari. Sementara saat saya cek sudah akhir bulan Agustus. Delapan bulan saja euy….

Saya sendiri tak tahu apakah selama proses ini berlangsung kita bisa mengajukan visa kunjungan, karena pada saat saya mengajukan visa joining spouse, saya sudah memiliki multiple entry visit visa  untuk beberapa tahun. Jadi tak perlu repot-repot mengajukan. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanya kedutaan. Tapi yang jelas jangan coba-coba datang dengan short visa (category C) lalu datang ke imigrasi minta perpanjangan karena di Web Imigrasi ditulis dengan huruf tebal gak boleh.

Judul visa yang diajukan memang long stay joining spouse, tapi visa yang diberikan ternyata hanya tiga bulan saja. Dalam masa tiga bulan itu kita harus segera pindah dan segera melapor ke Imigrasi di kota masing-masing untuk mendapatkan kartu GNIB. Perlu dicatat, pasangan harus dibawa pada proses ini, karena petugas akan bertanya. Setumpuk dokumen juga perlu disertakan. Di Dublin sendiri, antrian kantor imigrasi ini konon dimulai sejak pukul lima pagi. Awal tahun ini saya antri disini pukul 7 pagi dan baru dilayani pukul 2 siang. Konon pada saat masa penerimaan mahasiswa baru di musim gugur, antrian akan semakin menggila. Btw ini kita antri di luar gedung ya karena gedung baru dibuka pukul delapan pagi. Jika terjadi di Indonesia, saya jamin ada abang tukang gemblong, nasi kuning, tahu dan juga jasa penyewaan kursi dan payung yang menawarkan kenyamanan. Disini, yang ada hanya angin, hawa dingin dan air hujan.

Setelah mendapatkan GNIB card dengan rentang waktu hanya satu tahun (dan harus diperpanjang setiap tahun selama tiga tahun), masih ada proses mendaftar multiply entry visa sehingga bisa keluar masuk Irlandia. Proses pendaftaran visa ini bisa dilakukan secara daring tanpa perlu mengantri. Dari sana kita tinggal urus PPS number (nomor jaminan sosial). Tapi ya jangan harap bisa dapat uang alokasi untuk pencari kerja.

Kendati prosesnya panjang dan melelahkan, semua proses visa dan tetek bengeknya GRATIS. Dan dengan stamp 4 yang diberikan, kita memiliki hak yang sama dengan warga negara Irlandia. Hanya satu hal saja yang tak kita punya, hak untuk mengikuti pemilu tingkat nasional. Dan karena Irlandia bukan bagian dari Schengen, visa mengunjungi negara-negara Schengen pun masih diperlukan dan tak gratis, kecuali bawa pasangan.

Semoga bermanfaat!
Cheers,

Ailsa
Link yang berguna bisa ditengok di sini

Tukang Bohong 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan sebuah “riset kecil” di google untuk bahan pembahasan makan siang. Gelo emang, mau ngobrol makan siang aja pakai riset dulu dan bikin rangkuman singkat sepanjang hampir dua halaman yang didistribusikan lewat Email. Topik makan siang saya saat itu: mythomania atau yang kerap disebut pathological liar. Entah apa terjemahannya di dalam bahasa Indonesia,mungkin pembohong kronis.

Perkenalan saya dengan mythomania sendiri berawal dari sebuah artikel di majalah Perancis, yang judulnya “Je Suis Mythomane”. Awalnya ketika membaca pengakuan tersebut, saya menganggap hal tersebut tak eksis. Sampai kemudian saya dan banyak rekan lainnya melihat sebuah kebohongan yang terjadi secara terus-menerus dari seorang teman.

Awalnya, kami termakan kebohongan tersebut. Bahkan yang fantastis sekalipun. Namanya juga teman, tentu saya mempercayainya. Tetapi kemudian banyak fakta bergulir dan bertabrakan dengan informasi yang kami dengar. Ajaibnya, semua informasi ini sumbernya sama-sama dari satu orang, bukan dari orang yang berbeda. Bahasa gaulnya sih, bukan gosip. Jadi wajarlah kalau ketika itu kami sangat percaya. Bahkan saking meyakinkannya, hal-hal tersebut juga disampaikan kepada para penjabat tinggi dalam forum resmi. Kurang meyakinkan apa coba?

Lalu beginilah hasil riset tak ilmiah saya….

Berbohong kronis ternyata bukanlah sebuah penyakit tapi merupakan sebuah gejala dari kelainan kepribadian. Hanya gejala dari narcissist personality disorder atau borderline personality disorder. Bagi para pelakunya, membeberkan kebenaran merupakan sebuah hal yang sulit. Sebaliknya, berbohong memberikan mereka kenyamanan dan bisa dilakukan dengan mudah. Nah jika kita menunjukkan bahasa tubuh yang tak nyaman ketika mengungkap kebohongan, para pembohong kronis ini bisa melakukannya dengan tenang.

Kebanyakan kebohongan yang saya dengar saat itu sih tak merugikan, karena hanya bualan-bualan yang bisa dianggap angin lalu saja. Tapi dalam pertemanan, dimana kepercayaan menjadi sebuah landasan yang penting, kebohongan ini jadi sedikit mengganggu dan lama-lama melukai kepercayaan pertemanan. Dalam banyak kesempatan saya bahkan bertanya-tanya, mengapa sang pelaku perlu untuk berbohong untuk memukau orang lain? Dan saya yang bukan ahli pun membatin, mungkin memang tingkat kepercayaan dirinya terlalu rendah. Atau sebaliknya, terlalu tinggi sehingga merasa yang paling oke. Sementara orang lain dianggap sebagai pelupa yang tak punya daya rekam.

Dari hasil baca-baca, ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengkonfrontasi dan membantu mereka. Saya sendiri tak tergoda mengkonfrontasi dan lebih tergoda untuk mengamati, untuk melihat sejauh mana level kebohongan yang akan dilakukan. Selain itu, saya juga sok-sokan pengen membaca latar belakang sang pelaku.

Jika berminat mengkonfrontasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Harus sabar mendengarkan segala kebohongan. Bahkan ketika tahu itu sebuah kebohongan besar, mulut harus ditutup rapat dan tak boleh menginisiasi argumentasi sementara telinga dibuka lebar-lebar.

2. Buat catatan hal-hal yang dibicarakan. Syukur-syukur kalau pembicaraan itu terekam dalam media chatting. Seringkali sang pelakunya lupa lho dengan hal ini. Atau bahkan sang pelaku membalikkan semua fakta dan menganggap kita sebagai tukang gosip yang kejam. Playing victim.

3. Jika pertemanan tersebut worth it, tawarkan bantuan dengan membeberkan semua catatan kebohongan, tanpa memojokkan pelaku. Jika tak berharga, kabur aja. Hidup terlalu pendek untuk ngurusin Kebohongan-kebohongan yang seringkali tak masuk akal.

Pathological liar tidaklah sama dengan sociopath. Sociopath biasanya punya tujuan dan akan melakukan kebohongan apapun demi tujuan itu, sementara pathological liar hanyalah orang yang hobi berbohong.

Nah, kalian pernah berurusan dengan pembohong kronis kah? Lalu apa yang kalian lakukan jika bertemu mereka?

xx,
Tjetje

Romantisme Tragis di Dublin Bay 

Masih dalam rangka membawa mama saja melakukan #JelajahIrlandia, kali ini kami sok romantis naik kapal menyusuri Dublin Bay dari Howth ke Dun Laoghaire. Howth sendiri merupakan sebuah area pelabuhan di County Dublin yang terkenal dengan seafoodnya. Saking terkenalnya mereka punya prawn festival.

Ada beberapa operator kapal di Howth dan pilihan kami jatuh pada Dublin Bay Cruise. Bukan hanya karena reviewnya bagus, tapi juga karena ada diskon di living social. Nah yang mau jalan-jalan ke Irlandia, kalau telaten boleh nih cari-cari disana atau di groupon karena banyak tiket murah. #BukanPesanSponsor. Ada beberapa route yang ditawarkan, selain dari Howth ke Dun Laoghaire (dua wilayah ini ada di County Dublin) ada juga route yang menawarkan perjalanan ke tengah kota Dublin dan akan berhenti persis di dekat jembatan cantik yang mirip harpa ini.

Perlu dicatat, semua turis harus booking dulu sebelumnya dan gak bisa beli tiket mendadak di tempat. Eksistensi calo tiket juga tak ditemukan. Biarpun begitu, saya masih melihat beberapa turis yang nekat ngantri dan berakhir malang, karena tak ada ruang tersisa. Bahkan ada satu keluarga yang ngotot pengen naik dengan tiket salah booking. Sang Nakhkoda tak bergeming, tak berniat melebihi muatan demi beberapa Euro karena berkaitan dengan asuransi dan keselamatan. Saya masih suka terpukau kalau urusan beginian, karena pernah naik kapal kelebihan muatan dari Tidung ke Angke dan sepanjang jalan berdoa sambil pegang life jacket.

Ketika akan menaiki kapal kami sudah diwarning dulu bahwa laut hari ini agak choppy, berombak. Tapi semua penumpang, termasuk seekor anjing, semangat luar biasa. 30 menit pertama berlangsung dengan menyenangkan. Lautnya berombak sedikit, pemandangan sangat indah.

Sayangnya saya tak bertemu anjing laut yang beberapa minggu lalu sempat diabadikan oleh mama saya. Dengan riang gembira, kami juga naik turun dek ke atas dan ke bawah untuk memotret.


Bagian atas penuh dengan turis latin Amerika yang nampaknya sedang belajar bahasa Inggris (Irlandia merupakan salah satu negara tujuan untuk belajar bahasa Inggris) sementara bagian belakang kapal dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang sedang merayakan ulang tahun. Anak-anak muda yang sibuk minum ini juga tak segan mengeluarkan f bomb, padahal banyak keluarga dan anak kecil yang ikut perjalanan tersebut. Sungguh kurang nyaman.

Selepas 30 menit, perjalanan kami berubah menjadi mencemaskan. Dimulai dari siraman air laut ke kelompok anak-anak muda di belakang kapal. Dasar anak muda, disiram air malah seneng. Padahal air asin dan dingin itu lengket semua. Ombak kemudian mengombang-ambingkan kapal, perut mulai sedikit mual. Lalu, pemandangan horor pun terjadi. Bukan Nyi Roro Kidul yang memunculkan diri di laut Irlandia ya, tapi

petugas kapal memegang gulungan plastik dan mulai membagi-bagikan pada penumpang yang terlihat pucat pasi. Bagi saya ini pemandangan mengerikan karena tandanya akan ada kompetisi mengeluarkan isi perut.

Saya yang tadinya super pede, karena sudah mengalahkan ombak dari Ambon ke Banda (yang membuat hampir satu kapal mabuk laut), mulai ciut. Lalu ketika beberapa orang mulai mengosongkan perut, saya mulai pucat pasi. Semakin pucat ketika tahu tak ada antimo apalagi minyak angin. Tak ada abang-abang yang jual permen juga. Tak kehilangan akal, saya pun minta tobacco ke seorang pria yang sedang sibuk melinting rokok (disini buruh rokok mahal ya, jadi rokok mesti ngelinting sendiri). Ya lumayan lah buat diciumi jadi fokus kepala ke bau tembakau.

Pemandu yang berada dengan kami juga tak sibuk menerangkan apa-apa, mungkin ia mabuk laut juga. Baru di menit ke 70 atau 80 ia mulai menerangkan tentang Dun Laoghaire. Informasi yang diberikan sayangnya hanya sedikit, tak memuaskan. Kalaupun sang pemandu bicara banyak hal, mungkin juga tak ada yang peduli karena hampir semua orang sibuk menyelamatkan perutnya.

Ketika kapal bersandar, kami disambut dengan pemandangan Dun Laoghaire yang kelam seperti ini.


Mood yang sudah kelabu ini makin jelek ketika melihat cuaca yang tak bersahabat. Untungnya, hujan tak jadi turun. Dan sang Mama yang juga pernah naik kapal di beberapa lautan di Indonesia kapok, tak mau lagi naik kapal di laut Irlandia. Ketika saya menceritakan ini kepada mama mertua, mama mertua menceritakan pengalaman yang serupa. Lautan disana rupanya terkenal berombak dan bikin mual. Lesson learned, yang pengen sok romantis seperti saya, ada baiknya minum antimo dulu.

Bagaimana dengan kalian, pernah menaiki kapal dengan kondisi laut yang super memabukkan?
Xx,

Tjetje

Enggan Berobat ke Dokter

Di masyarakat kita ada anggapan yang beredar bahwa dokter-dokt ergampang memberikan antibiotik. Sakit apapun dihajar dengan antibiotik. Bahkan konon ketika tidak perlu, sehingga tubuh lebih kebal terhadap antibiotik.

Terus terang saya tak tahu apakah anggapan ini hanya rumor yang berimbas buruk pada reputasi kebanyakan dokter di Indonesia, atau disebabkan oleh keengganan kita ke dokter hingga harus menunggu infeksi dulu (dan perlu dihajar antibiotik), ataukah memang dokternya mendapatkan fee yang lebih besar jika menjual antibiotik sehingga rela melanggar janji dokter. Entahlah, yang jelas, pengalaman saya dengan dokter tak selalu buruk, ada kalanya saya bertemu dokter yang enak dan bisa diajak diskusi tapi ada kalanya juga saya pulang bawa obat satu plastik (yang jika dihitung baru akan habis setelah tiga bulan) dan tentunya bikin asuransi bocor. Bahkan pernah saya dirawat secara heboh macam alkoholik veteran dengan biaya menjulang tapi ternyata second opinion menunjukkan saya hanya sakit demam! Deman saudara-saudara!!!!

Keengganan kita ke dokter, menurut saya disebabkan banyak hal. Faktor ekonomi salah satunya. Dokter di banyak tempat identik dengan jasa yang mahal. Wajar saja karena sekolah mereka juga tak murah. Munculnya BPJS harusnya menumbuhkan kesadaran untuk berkunjung ke sistem kesehatan masyarakat seperti puskesmas, tapi yang saya baca, masyarakat ke dokter bukan untuk minta pengobatan tapi minta langsung dirujuk ke rumah sakit. Padahal dokter tak bisa sembarang merujuk.

Selain faktor ekonomi, ada faktor lain, yaitu kepercayaan akan “penyakit mitos”, contohnya angin duduk atau masuk angin. Dalam dunia kedokteran, masuk angin bukanlah sebuah penyakit. Nah karena semua hal dianggap masuk angin (pegel-pegel, perut kembung, pusing), otomatis intervensi dokter tak diperlukan. Cukup disembuhkan dengan tolak angin, kerokan (dikerik) atau dibalur penghangat seperti minyak kayu putih atau balsem serta dilawan dengan berbagai macam ramuan herbal. Biasanya, hal-hal tersebut manjur, sehingga menguatkan ketidakperluan ke dokter.

Penyakit-penyakit mitos ini semakin memperlemah kebutuhan mengunjungi dokter, karena anggapan penyakit tersebut bisa diselesaikan secara alternatif. Ya kalau sakit sekelas “masuk angin” saja memang bisa disembuhkan dengan istirahat. Tapi penyakit seperti kanker, HIV/AIDS mana bisa dikasih jampi-jampi lalu mendadak hilang dari tubuh?

Selain itu, saya perhatikan masyarakat kita juga masih banyak yang takut dengan prosedur kesehatan. Contohnya, sakit amandel yang pernah saya bahas di sebuah postingan. Jika ditilik, ada beberapa komentar yang menanyakan pengobatan alternatif untuk mengecilkan amandel sehingga tak perlu operasi. Aneka rupa ramuan pun dicoba dengan harapan amandel bisa mengecil, sehingga tak perlu dioperasi. Tentu saja tak akan berhasil dan jika tak berhasil (serta kondisi sudah parah), barulah kembali ke dokter. Jangan salah, saya juga seperti ini lho, enggan dioperasi karena kebanyakan lihat Grey’s Anatomy. Keengganan ini tentu saja dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh tak lain tak bukan, para sales multi level marketing yang berdagang obat herbal. Sakit apapun, diklaim bisa disembuhkan dengan obat herbal. Bukannya saya anti obat herbal, tapi tak adil jika orang yang berjuang untuk hidup harus diberi harapan palsu dan “diperas” supaya sang pedagang MLM bisa naik jenjang ke tingkat  berlian atau bagian naik ke langit ke tujuh.

Kendati takut pada dokter dan prosedur kesehatan, masih banyak juga orang yang  tak takut pada sangkal putung, alias dukun tulang. Dukun tulang ini mengobati patah atau retak tulang tanpa sekolah kedokteran dengan melihat hasil rontgent daerah yang patah. Harganya pun “Lebih mahal” dari dokter, apalagi jika di kemudian hari tulang ini salah pengobatan dan harus dipatahkan lagi untuk diperbaiki. Nah lo!!!

Btw, baru-baru ini saya membaca orang yang menolak diobati dokter walau sudah didiagnosis sipilis. Lalu saya pun iseng menggoogle dampak negatif sipilis jika tak diobati, hasilnya mengerikan. Silahkan di Google sendiri.

Keengganan mengunjungi dokter, mendapat pengobatan yang tepat ini nampaknya banyak terjadi di masyarakat kita. Kesadaran asuransi kesehatan juga tak kalah rendahnya. Bahkan dengan BPJS yang cukup murah saja masih banyak  yang membayar iuran ketika sakit saja. Saat sehat tak mau bayar iuran.

Saya sendiri beruntung, bisa punya teman dekat dokter yang bisa dimintai pendapat kesehatan, masukan atau bahkan reset obat-obatan. Sang dokter bahkan bisa diajak berdiskusi tentang antibiotik tanpa merasa tersinggung dan mendadak defensif (pernah ketemu dokter yang model begini). Nah dokter seperti ini nih yang harusnya kita jadikan dokter keluarga. Sayangnya di Indonesia yang seperti ini jarang banget.

Bagaimana dengan kalian, suka ke dokter, dukun atau malah dokter Google?

xoxo,
Ailtje

Budaya Cium Tangan 

Konon Indonesia itu negara yang berbudi luhur. Salah satu wujud budi luhur ini tampak dari tradisi yang masih dijaga, yaitu penghormatan terhadap orang yang lebih tua dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua. Budaya ini tak jelas darimana asalnya. Ada yang bilang dari Arab, tapi ada juga yang mengatakan dari Eropa.

Kendati darah saya darah Indonesia (baca: bercampur dari banyak suku), tradisi Jawa jauh lebih kental dalam kehidupan saya, karena saya memang dibesarkan di tanah Jawa. Otomatis, tradisi mencium tangan jadi tradisi yang melekat dalam keseharian saya. Walaupun saya yakin tradisi ini juga ada di banyak tempat di tanah lain.

Cium tangan yang saya tahu ketika tumbuh dan besar hanya cium tangan kepada orang tua ataupun kepada keluarga yang lebih tua dan bertalian darah, seperti Tante, Budhe, Oom, Pakde, dan para Eyang. Dengan sepupu yang lebih tua pun saya tak pernah mencium tangan, hanya sebatas cium pipi kanan dan kiri saja, jika mereka mau.

Saat saya masih kecil, cium tangan kepada tante dan oom ini menjadi ritual yang menyenangkan karena para tante dan oom sering menyelipkan uang di tangannya. Salam tempel namanya. Saat itu nilai uang dan elemen kejutannya bikin saya girang. Ya namanya anak-anak, belum tahu susahnya kerja, jadi ya girang aja ditempelin uang jajan yang nilainya cukup besar. Tradisi ini tentunya sudah tak berlaku lagi dan sudah berbalik, karena sayalah yang sekarang menjadi tante-tante dan tugas sayalah menempelkan uang, supaya mereka bisa menikmati keriaan masa kecil saya.

Di sisi lain keluarga saya, yang keturunan Arab, tradisi cium tangan juga ada. Tapi bedanya, kami hanya menunjukkan niatan untuk mencium tangan, lalu tangan akan ditarik oleh sang empunya tangan sebelum tercium. Perbedaan yang mencolok ini tentu saja mengejutkan dan membingungkan saya. Untuk apa repot-repot mencium tangan jika buntutnya ditarik juga? Mending salaman aja sekalian kan? Tapi sekarang saya sudah berdamai dengan kebingungan ini dan malah sering melakukannya.

Semakin kesini saya semakin melihat bahwa tradisi cium tangan ternyata tak hanya untuk keluarga saja tapi sudah merembet ke lingkup yang lebih luas termasuk kepada kolega, teman dan juga kenalan dari orang tua. Anak-anak yang dibawa ke kantor misalnya, akan disapa oleh rekan-rekan orang tuanya dengan sapaan “Namanya siapa? Ayo *salim* dulu.” Ketika anak-anaknya itu menolak, karena orang-orang ini adalah orang yang tak dikenal dan biasanya sangat agresif (apalagi kalau anaknya lucu), akan muncul anggapan bahwa anak tak terdidik secara baik. Nggak pintar. Sementara kalau si anak menurut dan mau mencium tangan, mereka langsung dipuji anak pintar.

Tak hanya itu, saya juga juga banyak mengamati pasangan yang masih berpacaran berciuman tangan seusai pacaran. Bukan di Irlandia ya, tapi di Indonesia. Pasangan-pasangan seperti ini bisa dengan mudahnya ditemukan berpacaran di pinggir lapangan atapun di depan mall-mall ketika shift bekerja dimulai. Duh baru pacaran aja udah pakai cium tangan segala.

IMG_0840

Nggak nampak di foto, tapi adik kecil itu lagi nyium tangan si boneka gede. Ditemukan tahun kemaren di Car Free Day.

Bicara tentang cium tangan, saya paling tak suka dengan mereka yang dengan semena-mena menyodorkan tangannya untuk minta dicium. Bagi saya, mencium tangan itu bagian dari menghormati, jadi biarkan saya yang menentukan, kamu pantas dihormati atau tidak. Kalau engga, tapi jangan harap saya mau repot-repot cium tangan.

Bagaimana dengan kalian? Suka cium tangan sembarang orang?

Xx,
Tjetje
Tiap pagi selama summer cium tangan nyokap. Yaaaay!

Game of Thrones dan Irlandia Utara

Jika Irlandia terkenal dengan romantisme dan keindahan à la P.S I Love you (Braveheart, Star Wars dan sederet film lainnya) Irlandia Utara lebih dikenal sebagai rumahnya Game of Thrones. Kendati tak menggemari Game of Thrones (karena banyaknya kekerasan di dalam seri ini) kami nekat mengikuti tur khusus Game of Thrones karena tak bisa menolak iming-iming mengunjungi sudut-sudut cantik di Irlandia Utara. Seperti dark hedges ini:

IMG_7934

Deretan pohon-pohon beech ini ditanam oleh keluarga Stuart pada abad ke 18. Pada saat itu, pohon-pohon ini ditujukan untuk memukai para tamu yang akan melewati pintu masuk mansion mereka yang bergaya Georgia. Mansion ini sendiri diberi nama Gracehill House yang sayangnya tidak kami kunjungi. Sudut yang pernah dipakai shooting ini menjadi tempat favorit para turis, akibatnya jalanan ini dipenuhi turis-turis yang selfie di tengah jalan, sementara kendaraan yang akan lewat harus merayap. Coba saja kalau tempat ini ada di Indonesia, dipastikan diujung-ujung jalan ada anak-anak muda membawa tempat sampah, meminta uang kontribusi serelanya. Sementara disini: GRATIS.

Kenekatan kami dan juga Aling (celeb twitter yang dipopulerkan oleh ceritaeka.com dengan hashtag #JodohUntukAling)  mengakibatkan kami tak nyambung dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Tapi ya bodo amat, yang penting lokasi-lokasi yang kami kunjungi cantik walaupun agak muram durja, karena cuaca yang kurang bagus. Saking muramnya, perhentian pertama tempat Ned Stark mengeksekusi entah siapa yang dieksekusi, terpaksa dilewati karena kabut yang terlalu tebal.

Tur seharian yang dipatok seharga lebih dari 50 Euro ini dipandu oleh salah satu pemain figuran Game of Thrones yang sedang libur shooting. Kendati libur shooting, ia tetap memanjangkan janggutnya, karena janggut ini adalah aset yang berharga. Menariknya, di salah satu tempat kami bertemu dengan pemain figuran lain yang juga berjanggut panjang. Saya menduga-duga, semua pria berjanggut di Irlandia Utara adalah figuran Game of Thrones.

IMG_7941 Andrew, guide kami menunjukkan scene dimana dia jadi pemain figuran

Selain dibawa mengunjungi dark hedges, kami juga dibawa mengunjungi rope bridge. Bagi orang yang takut ketinggian seperti saya, jembatan ini jadi satu tantangan tersendiri, apalagi cuaca yang tak jelas dan berangin, rasanya badan seperti akan tersapu angin. Ternyata jembatannya tak terlalu mengerikan, yang mengerikan justru turun dari tangga menuju jembatan tersebut.

Ada batasan maksimal 8 orang yang diperkenankan untuk menyeberang bersamaan, dan tentunya tak boleh ambil selfie di jembatan ini. Nekat selfie bisa kena semprit petugas, tapi sayangnya petugas hanya nyemprit aja. Akibatnya banyak orang yang masih tetap ambil selfie dan menghambat puluhan orang lain yang akan menyeberang. Btw, di bawah jembatan ini juga dikenal sebagai kuburan kamera dan hp. Banyak orang yang kameranya jatuh dan tak terselamatkan lagi.

Belfast -1

Karena ikut tur, waktu kami untuk keliling tak begitu banyak. Jalan pun harus cepat-cepat dan tentunya tak bisa mengambil 1000 selfie #BuatApaCoba.  Saat keluar dari area ini, dua orang dari rombongan kami, termasuk satu orang Indonesia terpaksa ditinggal ke pub lokal untuk makan siang, karena mereka terlambat muncul kembali. Mereka tentu saja dijemput kembali.

Belfast -4

Makan siang tak termasuk dalam harga tur, masih harus rogoh kocek sekitar 8 – 10 pounds untuk pub food. Pub food itu makanan-makanan seperti fish and chips, guinness stew atau chicken goujon. Harga yang ditawarkan sendiri harga normal, tak ada pemalakan seperti di Indonesia. Seusai makan siang, kami dibawa kembali ke area rope bridge, tapi ke sisi yang berlawanan. Rupanya, ada tiga titik yang digunakan untuk shooting GoT. Salah satunya Larrybane yang menjadi lokasi camp King Renly Baratheon’s camp. Lokasi ini sendiri sekarang menjadi lapangan parkir kendaraan-kendaraan turis yang ke rope bridge.

Belfast -3

Dari sini, kami dibawa ke Ballintoy Harbour. Serunya, kami semua diperkenankan untuk menggunakan kostum-kostum sambil terus dijelaskan cerita-cerita dibalik pembuatan GoT dan dipertontonkan cuplikan-cuplikan GoT yang diambil di tempat tersebut. Sayangnya tak semua orang kebagian kostum, apalagi mereka-mereka yang bertubuh besar.

Kendati tempat ini sudah terkenal sebagai tempat shooting GoT, bahkan oleh pemerintah lokal diberi banyak papan-papan yang menjelaskan adegan yang diambil, jalan-jalan di wilayah ini dengan kostum tetap membuat kami jadi bahan tontonan. #KibasRambutBerasaArtis

Nah kalau ini lokasi tempat pembabtisan Theon. Cakep ya?

Belfast

Selain mengunjungi tempat di atas, kami juga diajak menuju Dunluce castle. Sayangnya kami hanya dibawa melihat dari jauh sambil dijelaskan bagaiaman CGI merubah Dunluce Castle. Bonus tambahan di tour ini adalah jalan-jalan ke Giant Causeway, yang di dalam bahasa Irish dikenal sebagai Clochán an Aifir or Clochán na bhFomhórach. Aduh jangan tanya bagaimana melafalkan kata tersebut. Giant Causeway sendiri merupakan area dengan 40 ribu basalt columns. Bebatuan dengan bentuk hexagon yang terbentuk dari proses pendinginan lava basaltik.

Dengan kondisi yang dingin, berangin serta gerimis, area ini jadi sangat licin. Beberapa petugas berjaga untuk mengamankan orang-orang yang nekat naik ke bagian atas. Seperti biasa, peluit jadi modal untuk mengingatkan mereka. Tapi tak selamanya sistem ini berhasil, banyak juga yang masih nekat naik-naik ke atas.

Saya kemudian ngobrol dengan petugas, menanyakan berapa orang yang jatuh dan mati di Giant Causeway. Tak ada angka yang disebutkan petugas. Tapi yang jelas, banyak kejadian jatuh terpleset atau tersapu ombak karena KEBODOHAN. Obsesi selfie nampaknya menjadi salah satu alasan mereka mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, pencarian harus dilakukan dengan mengerahkan helikopter serta kapal. Menariknya, menurut sang petugas fotografer atau penghobi foto menjadi salah satu kelompok yang paling susah diberitahu dan paling nekat.

Di akhir perjalanan, saya naik bis kembali ke tempat parkir, disini bis dipatok dengan harga 1 pounds. Untuk yang tak mau naik bis bisa jalan mendaki.

Selamat berakhir pekan kawan-kawan. Apa rencana kalian akhir pekan ini?