Angkutan Umum di Dublin & Irlandia

Saya menerima beberapa email dari pembaca Blog ini yang menanyakan dengan detail sistem transportasi di Dublin maupun di Irlandia. Nah jika di postingan saya sebelumnya saya ngomel karena banyak pembaca yang gak riset, kebanyakan yang nanya tentang sistem transport biasanya sudah riset tapi sedikit bingung jadi akan saya coba bantu melalui postingan super panjang ini.

Leap Card

Leap Card merupakan kartu yang berfungsi untuk mempermudah proses pembayaran transportasi dan membuat harga tiket lebih murah beberapa persen. Kartu kecil ini bisa didapatkan di toko kelontong, atau bisa dipesan secara daring. Untuk turis yang mendarat di Dublin, kartu ini juga bisa didapatkan di toko kelontong di terminal kedatangan bandara. Penambahkan saldo sendiri dapat dilakukan di toko kelontong atau di mesin-mesin penjual tiket tram.

Dublin Bus

Bis kota berwarna kuning yang dilengkapi wifi ini merupakan andalan Dublin dan tak beroperasi secara sembarangan. Ia hanya datang pada jam-jam tertentu seusai jadwal dan hanya berhenti pada perhentian yang ditentukan. Jadwal hari kerja dan akhir pekan pun tak sama. Halte bis ini diberi nomor dan pada sebagian kecil halte terdapat jadwal bis yang berhenti di halte tersebut, serta perkiraan ketibaan. Sebagian besar halte bis hanya berupa tiang-tiang tanpa informasi apapun. Makanya melakukan riset dan mencatat jadwal kedatangan bis sangat penting. Mereka yang menggunakan telepon genggam juga bisa mengunduh aplikasi Dublin Bus.

Bayar bis sendiri bisa dilakukan dengan uang koin dan harus pas. Koin tersebut dimasukkan ke dalam wadah di depan pengemudi. Jika uang tak pas, akan ada tanda terima untuk mengambil kembalian di tempat tertentu. Pengguna Leap Card bisa menempelkan kartunya di mesin yang terletak di sebelah kanan pintu masuk dan membayar ongkos paling mahal atau menyebutkan tujuan (untuk jarak pendek) dan menempelkan kartu di mesin di depan pengemudi.

Kebanyakan bis memiliki informasi berupa layar serta suara yang memandu halte-halte yang dituju, tetapi banyak juga bis yang tak memberikan informasi. Biasanya, saya mengakali dengan membuka google map atau mengkomunikasikan pada pengemudi. Oh ya untuk menghentikan bis cukup memencet tombol-tombol merah di dalam bis dan ketika keluar jangan lupa bilang terimakasih pada pengemudi. #IrishBanget

https://www.instagram.com/p/_bgTBewxgt/?taken-by=binibule

Bis Antar Kota (Bus Éireann atau AirCoach)

Ada beberapa bis untuk ke luar kota tapi dua bis ini yang paling sering saya gunakan. Tiket-tiket bis bisa dibeli secara daring dan tiket tak perlu dicetak, cukup dengan menunjukkan telepon genggam saja. Pembelian daring ini sangat saya sarankan karena pemegang tiket daring lebih diprioritaskan dan bisa memotong antrian. Selain itu, harga tiket akan sedikit lebih murah jika dipesan jauh-jauh hari.

Jika Dublin bis bisa terlambat, bis antar kota relatif tepat waktu. Jika jadwal keberangkatan pukul 4 berarti bis akan tutup pintu pada pukul 4 (atau bahkan empat kurang satu menit) dan pemegang tiket daring sekalipun tak akan diperkenankan naik. Enaknya, penumpang bisa mengubah jadwal seenaknya dan pergi pada bis selanjutnya pada hari yang sama. Perlu dicatat, tak ada kondektur untuk bis-bis ini, jadi tas harus dinaikkan dan diturunkan sendiri.

DART dan Kereta Api

Kereta Api di Irlandia melayani perjalanan jauh, tak hanya di Republik Irlandia, tetapi hingga Irlandia Utara yang merupakan bagian dari Inggris. Sementara DATR, yang artinya Dublin Area Rapid Transit, merupakan kereta komuter di sekitaran Selatan dan Utara Dublin. Kereta ini tak hanya beroperasi di sekitar Dublin saja, tapi juga hingga County Wicklow. County ini terkenal sebagai tempat shooting film PS. I Love you.

Jika tiket kereta api bisa dibeli di stasiun ataupun secara online, tiket DATR hanya bisa dibeli di stasiun atau menggunakan Leap Card (dengan menempelkannya ke pintu masuk menuju kereta dan menempelkan lagi pada saat keluar). Membeli tiket kereta secara daring SANGAT saya sarankan, karena harga tiket kereta akan menjadi lebih mahal, bahkan mencekik, ketika dibeli mendadak. Catatan penting bagi turis-turis supaya tak keliru, stasiun kereta api yang besar di Irlandia ada dua, Heuston (untuk wilayah selatan, barat dan juga barat daya) serta Conolly.

Taksi

Tak seperti di Jakarta, tak banyak taksi yang lewat di Dublin, kecuali di pusat kota. Mencari taksi lebih mudah ke tempat-tempat dimana pengemudi taksi nongkrong menunggu penumpang. Tarif taksi sendiri relatif mahal, apalagi pada saat jam pulang dugem. Semakin banyak penumpang juga akan semakan mahal, karena ada biaya tambahan. Dari pusat kota ke bandara misalnya berkisar 25 hingga 30 Euro. Di Irlandia sendiri UberX merupakan taksi umum yang menggunakan aplikasi ini. Soal keamanan taksi, duh gak usah dibahas lah, kebanyakan aman kok, tapi tetap ada saja yang gak aman dan supirnya kurang ajar (saya kebetulan sudah punya banyak pengalaman buruk dengan pengemudi taksi).

Luas (Tram)

Luas merupakan tram dalam kota Dublin yang terbagi menjadi dua, jalur merah dan jalur hijau. Jalur merah beroperasi dari The Point hingga Tallaght, sementara jalur hijau beroperasi dari St. Stephen’s Green hingga Sandyford. Lucunya, kedua jalur tram ini tak tersambung sehingga penumpang yang akan berpindah harus berjalan kaki dulu sejauh 1.4 km [Update 2019: Luas dari dua jalur ini sudah disambungkan].

Luas System

Tiket Luas, yang rata-rata harganya 2.6 hingga 3 euro ini bisa dibeli melalui mesin-mesin yang tersedia di setiap halte dan pembayaran dapat dilakukan dengan uang kertas, koin ataupun kartu. Selain tiket per perjalanan, ada juga opsi tiket harian, mingguan, atau bahkan tiket bulanan. Tak ada  yang mengecek tiket di dalam tram, tapi jika ada pemeriksaan secara acak, penumpang tanpa tiket bisa didenda sebesar 45 hingga 100 Euro.

Semoga postingan panjang ini bisa membantu mereka yang akan berjalan-jalan di sekitaran Dublin dan Irlandia. Jika ada yang perlu ditanyakan, jangan segan untuk mengirimi saya email atau meninggalkan komentar. Tapi jangan kaget juga kalau sayanya nyolot karena jawabannya sudah ada di postingan ini.

Kamu, pengguna transportasi umum atau kendaraan pribadi?

Xx,
Tjetje

PS: postingan ini tak diupdate secara rutin, jadi informasi di postingan ini mungkin saya berubah.

Menjadi Au Pair di Irlandia

Akhir-akhir ini saya seringkali mendapatkan email dan pertanyaan-pertanyaan tentang menjadi au pair di Irlandia. Saya sebetulnya tak keberatan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Irlandia dan hidup di Irlandia jika saya tahu topik yang ditanyakan. Membantu mencari tahu pun akan saya lakukan jika saya tertarik dan tentunya jika saya punya waktu. Tapi dari banyak email yang saya terima ada satu garis besar yang bikin saya gondok: kebanyakan yang pengen jadi au pair ke Irlandia itu gak riset dulu tentang banyak hal, bahkan yang paling mendasar dan asal nanya aja. Mintanya disuapin diberikan petunjuk secara jelas bagaimana menjadi au pair di Irlandia. Daripada saya pusing dan emosi menghadapi orang-orang seperti ini, maka saya putuskan sekalian aja ditulis biar gak ada lagi yang nanya.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita perjelas dulu arti au pair. Au pair yang diambil dari bahasa Perancis ini merupakan orang dari negara asing yang tinggal dan menjadi bagian dari sebuah keluarga dan biasanya membantu mengurusi anak serta sedikit pekerjaan rumah. Sebagai kompensasi, au pair biasanya menerima uang saku dan seringkali diikutkan kursus. Au pair biasanya dibatasi hingga usia-usia tertentu saja. Perlu dicatat, au pair tidaklah sama dengan pengasuh, atau yang lazim disebut sebagai nanny, karena au pair biasanya tidak memiliki kualifikasi khusus.

Sebagai warga negara non-Eropa, menjadi au pair di Irlandia itu ribet. Keribetan utama tentunya urusan visa yang memang tak mudah. Banyak yang bertanya pada saya, visa apa yang digunakan jika ingin jadi au pair di Irlandia? Berhubung saya gak pernah kerja di imigrasi ataupun kedutaan Irlandia, saya pun tak tahu. Tapi saya google dong, karena saya anak rajin dan tak malas #NyinyirModeOn. Dari hasil googling saya, visa yang digunakan seharusnya visa kerja. Dampak dari memberikan visa kerja ini berbuntut panjang pada kewajiban memberikan upah yang layak dan tentunya merembet hingga ke urusan pajak. Untuk informasi saja, upah minimum di Irlandia itu berkisar sekitar 9 Euro per jam.  Jangan dibayangin uang banyak ya, karena ada pajak yang bisa sesak napas kalau lihat hitung-hitungannya. Nah jangan heran kalau host sudah mundur teratur ketika mendengar kata visa dan birokrasi. Kendati sedikit lebih baik dari di Indonesia, birokrasi disini gak kalah ribet.

Desember 2015 lalu, RTÉ, saluran televisi Irlandia (macam TVRI-lah kalau di negeri kita) membuat dokumenter tentang kondisi au pair di Irlandia yang posisinya lemah karena tidak dilindungi oleh undang-undang. Ketidakadaan regulasi ini membuat au pair seringkali dieksploitasi hingga harus bekerja dalam waktu yang panjang, dengan uang saku seadanya dan tak sesuai dengan upah minimum. Kasus-kasus au pair menuntut pemberi kerja karena perlakukan yang tak baik juga tak sedikit, bahkan ada  yang memenangkan kasus dan mendapatkan kompensasi hingga 10.000 Euro. Dari dokumenter itu dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian dari 10.000 au pair disini diperlakukan sebagai budak modern. Tapi orang-orang tak gentar, masih saja mau menjadi au pair dan banyak keluarga masih mau menjadi tuan rumah.

Tak usah heran jika au pair sangat diminati banyak keluarga di Irlandia. Harga penitipan anak di sini luar biasa mahalnya. Menitipkan dua anak selama empat hari kerja saja bisa mencapai 2000 Euro sendiri, ini empat hari kerja lho ya, gak lima hari. Maka tak heran au pair menjadi alternatif penitipan anak yang lebih murah.

Having said that, bukan berarti harus mundur menjadi au pair di Irlandia. Silahkan saja kalau memang benar-benar berniat dan siap tempur dengan birokrasi. Nah daripada ribet ngurusin visa kerja, lebih baik daftar kursus bahasa Inggris saja di Irlandia. Sang host bisa diminta membayari kursus yang kira-kira harganya 3000 – 5000 Euro per tahunnya. Lalu setelah daftar kursus bisa mengajukan visa pelajar ke Irlandia. Ingat ya, cari kursusnya dulu, daftar dulu baru mengajukan visa. Bukan ngajuin visa dulu baru nyari sekolah. Saya jamin visa bakalan ditolak kalau salah urutan.

Model menjadi pelajar bahasa Inggris ini banyak sekali dipakai oleh mereka yang berasal dari Amerika Latin, seperti Brasil. Mereka kemudian belajar bahasa Inggris selama bertahun-tahun dan bekerja sampingan di kedai kopi ataupun restauran-restauran. Satu hal yang perlu dicatat, pelajar di Irlandia hanya diperbolehkan bekerja selama 20 jam saja, tak bisa lebih. Selain itu, bolos kelas juga ada hitungannya tak boleh terlalu rajin membolos. Kalau kerajinan bolos, bisa-bisa seperti anak kos saya yang mendapatkan panggilan penuh cinta dari imigrasi dan disuruh pulang dengan paksa ke negerinya. Jadi, jika menjadi au pair dengan model ini, ada baiknya jadwal bekerja menjaga anak dibicarakan terlebih dahulu supaya tetap bisa menghadiri kelas bahasa Inggris.

Nah sudah jelas kan urusan ribetnya jadi au pai dan cara mengakalinya? Kalau belum jelas, silahkan di google saja, karena saya tak pernah menjadi au pair seumur hidup saya, apalagi jadi au pair di Irlandia. Jadi memberikan jawaban yang spesifik dan teknis akan sangat susah bagi saya. Sekian curhatan di hari Jumat ini dan selamat berakhir pekan!

xx,
Tjetje

Ketika Matahari Menyapu Irlandia

Akhir-akhir ini saya memang tak begitu rajin menulis lagi. Selain disibukkan dengan pekerjaan, dari pekerjaan rumah tangga sampai pekerjaan lainnya saya juga sibuk menikmati matahari. Sedikit sapuan matahari di Irlandia saja sudah membuat saya geret-geret kursi ke halaman belakang untuk berjemur. Matahari 18 derajat saya rasanya sudah berkah indah, dan kalau saja ada mbah dukun di negeri  ini, sudah saya kirim jampi-jampi supaya sang surya mau lengket dengan Irlandia. Saya tak sendirian, ribuan atau bahkan jutaan orang Irlandia kalau lihat matahari memang bawaannya pengen berjemur dan berjemur bisa dilakukan dimana-mana, dari di taman hingga di luar pub, seperti yang dilakukan para pubgoers ini.

Kendati matahari hanya menyapa Irlandia sesaat saja, teras-teras restauran dan pub bisa dipastikan dipenuhi orang-orang yang nongkrong untuk menikmati makanan dan minuman. Saking hausnya dengan matahari, akhir pekan kemarin saya melihat beberapa orang yang berjemur di sebuah parkiran di County Wicklow. Tak tanggung-tanggung, salah seorang di antara mereka bahkan buka baju, di parkiran. Jadi kalau kemudian kalian melihat turis-turis asing piknik di lapangan bola di Ubud sana, jangan heran. Mereka memang bawaannya pengen gelar tikar dan selonjoran kalau lihat matahari dan rumput.

Dan bagian kanal ini pun siap diisi air supaya kapal bisa berpindah ke sisi yang lebih tinggi (tak terlihat, karena ada di balik pintu yang belum dibuka)

Bagi orang tropis seperti saya, matahari panjang ini, matahari terbit pada pukul 5 pagi dan tenggelam pada pukul 9.30 malam, memberikan energi luar biasa. Saya bawaannya pengen jalan terus dan tak bisa tinggal di rumah. Maka tak heran jika saya pun terlalu sibuk menjelajahi Irlandia. Beberapa minggu lalu, saya dibawa ke sebuah perjalanan kejutan menaiki barge, kapal kecil, menyusuri canal di Sallins, County Kildare. Yang menarik, kami merasakan bagaimana pintu kanal dibuka dan dibanjiri air, hingga kemudian kapal kami bisa naik ke bagian kanal yang lebih tinggi. Dalam perjalanan pulang, kami melewati pintu yang sama, tetapi kali ini kapal kami harus diam selama kurang dari lima menit, menunggu air surut, sehingga kapal kami bisa turun ke bagian kanal yang lebih rendah. Gak kebayang? Mungkin gambar ini bisa memberikan bayangan.

Pemandangan di sekitar kanal itu sangat cantik, bisa ditengok di instagram saya @binibule dengan hashtag #JelajahIrlandia.

https://www.instagram.com/p/BFb8x62Qxsi/?taken-by=binibule

Kapal kecil yang kami naiki membuat bebek liar terbang ketakutan.

Masih berhubungan dengan air, kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Danau Blessington di County Wicklow. Danau buatan cantik ini menjadi bagian tak terpisahkan dari film PS I Love You. Beberapa adegan dari film Braveheart juga di ambil di wilayah ini. Danau yang aslinya bernama Poulaphouca ini  “terlihat biasa-biasa” saja dengan latar belakang pegunungan Wicklow, tapi konon jika air sedang rendah, kita bisa melihat bagian atas sebuah gereja yang terendam di bawah danau ini. Danau ini sendiri dibuat, dengan cara merendam sebuah desa, pada sekitar 1930-an untuk menampung air dan menyediakan listrik bagi Dublin.

Tak hanya menikmati air, saya juga menikmati hutan kecil di Irlandia. Baru-baru ini kami menelusuri hutan kecil di rumah terpanjang dan tercantik di Irlandia yang bernama Russborough House. Sekali lagi gara-gara matahari, saya lebih tertarik untuk duduk-duduk berjemur di bawah matahari bersama para sapi dan domba ketimbang masuk ke bagian dalam rumah. Tapi saya janji akan kembali, membawa mama saya melihat bagian dalam rumah ini dan tentunya mencoba menyusuri labirin di bagian belakang rumah ini. (Ssst..bagian ini pasti dibaca mama saya dan pasti ditagih).

Oh btw, di dalam hutan saya menemukan pintu-pintu dari rumah para peri, fairy doors, begitu orang Irlandia menyebutnya. Imajinasi anak-anak di Irlandia memang ditumbuhkan dengan kebohongan-kebohongan indah, salah satunya ya dengan peri ini. Rumah-rumah yang memiliki anak biasanya dihiasi dengan pintu peri ini yang diletakkan di bawah tangga. Di hutan di dekat Russborough House ini, pintu-pintu indah ini diletakkan di berbagai bagian pohon. Anak-anak kecil pun bisa membeli peta seharga 3 Euro dan mencari pintu-pintu yang tersebar. Sebuah aktivitas yang lebih menyenangkan ketimbang berkutat di depan gawai menonton youtube. Saya pun tak kalah senangnya dan mencoba menggedor sebuah pintu untuk minta nomor lotere. Sayangnya, saya terlalu pendek sehingga tak bisa meraih pintu tersebut.

Dear peri-peri Irlandia, bagi nomor lotere dong

Perjalanan menjelajah Irlandia masih belum usia, masih banyak sudut-sudut negeri cantik nan mungil ini yang akan saya lihat. Akhir pekan besok misalnya, saya sudah berencana akan ke Virginia. Bukan Virginia di Amerika sana, tapi Virginia versi Irlandia. Tunggu foto-fotonya di Instagram dengan hashtag #JelajahIrlandia ya.

Jadi apa kabar matahari di tempat kalian tinggal, masih menyengat?

xx,
Tjetje

Budaya Malu Bertanya

 

“Malu bertanya sesat di jalan”, begitu kata guru-guru bahasa Indonesia kita serta buku-buku bahasa yang pernah kita pelajari. Peribahasa ini mengajarkan orang untuk selalu berani bertanya supaya bisa tahu kebenaran dan pada akhirnya tidak hilang arah. Secara teori memang kita diajarkan hal ini sejak dini, tapi pada prakteknya masih saja kita malu bertanya, terutama bertanya hal-hal yang substansial.

Saya yakin sebagian besar dari kita pernah mengalami masa dimana hati ingin mengangkat tangan dan bertanya, tapi kepala enggan melakukannya karena ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Atau situasi dimana pertanyaan itu justru tak dilempar kepada ahlinya, tetapi ditanyakan pada orang-orang yang ada di sekitar kita (dan parahnya mereka bukan ahlinya). Situasi kedua ini seringkali saya temui di dalam seminar, workshop, atau bahka pertemuan-pertemuan formal lainnya. Lucunya, jika disarankan untuk bertanya, sang penanya biasanya akan merespons dengan kalimat “kamu aja deh yang nanya, saya malas”.

Di balik kata malas itu sebenarnya ada banyak alasan mengapa orang enggan bertanya. Pertama, orang malas bertanya karena takut. Ketakutan ini bermacam-macam, yang paling sering kita temui di sekolah misalnya, takut dengan guru yang kelihatannya galak atau guru yang kelihatan tak senang jika menerima pertanyaan. Pada pelajaran yang materinya saling berkaitan, seperti matematika atau fisika, kegagalan memahami satu hal akan berdampak pada pemahaman materi selanjutnya. Tapi apa daya, rasa takut dimarahi guru lebih besar ketimbang rasa takut mendapat angka merah di rapor.

Selain takut dimarahin, banyak orang takut bertanya karena malu disangka bodoh. Tak memahami satu hal bukanlah sebuah kebodohan, apalagi kelambatan berpikir. Mungkin saja gagal paham ini karena penjelasan yang terlalu cepat atau karena kurang konsentrasi yang pecah. Tetapi karena adanya “ketakutan disangka bodoh” dan juga label masal di lingkungan kita, orang jadi enggan bertanya.

Budaya juga membawa peran penting dari keengganan ini. Di Bali misalnya ada budaya koh ngomong, alias enggan berbicara atau mengungkapkan pendapat. Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan pun sering dijawab secara singkat dengan kalimat “nak mule keto” sudah dari sononya begitu. Akibatnya, bibit malu dan malas bertanya semakin subur. Ya ngapain capek-capek nanya kalau jawabannya pun seperti itu? Saya rasa tak hanya di Bali saja, budaya malu bertanya juga ada di berbagai tempat di Indonesia serta di negara-negara tetangga kita.

Herannya, kita tak mendorong budaya bertanya tapi justru repot menghina, berbisik-bisik, atau mencela mereka yang bertanya. Entah bertanya hal yang sederhana atau menanyakan hal-hal yang rumit sekalipun. Celaannya macam-macam, tapi yang paling sering saya dengar sih dianggap tak sopan, atau “pertanyaannya kok gitu sih”. Anehnya, pertanyaan “gitu sih” ini biasanya  pertanyaan kritis, cerdas dan teknis. Bukan pertanyaan ecek-ecek.

Lebih aneh lagi pertanyaan basa-basi seperti gaji, status perkawinan, ukuran kemaluan pasangan atau bahkan alasan mengapa tak kunjung punya anak tak dianggap sebagai pertanyaan vulgar atau sopan. Pertanyaan yang jauh dari hal ilmiah ini dianggap sebagai sebuah kewajaran. 

Padahal, mengajukan pertanyaan di luar forum resmi, apalagi jika pembicaraan di antara dua orang, ada seninya. Seni merangkai kata supaya tak terdengar menyerang juga seni membangun hubungan supaya yang ditanya pun nyaman. Baru setelah kedua belah pihak sama-sama nyaman, latar belakang bertanya dijelaskan lalu pertanyaan bisa mulai diajukan. Nah, dalam bertanya pun mata tak boleh lepas mengamati bahasa tubuh, supaya tahu yang ditanya nyaman atau tidak. Ketika yang ditanya mulai tak nyaman, penanya harus mencoba kreatif mengalihkan pertanyaan.

Kebiasaan saya untuk bertanya, baik di forum resmi atau dalam pembicaraan privat  tak datang dalam satu malam. Harus diakui sebagai anak yang tumbuh dan besar di generasi Soeharto, ada dampak kultur pembungkaman secara tak langsung pada diri saya.  Tetapi, kebiasaan ini saya tumbuhkan, karena saya mengharuskan diri untuk haus dengan informasi dan penasaran dengan banyak hal. Selain itu saya juga gerah kalau dalam satu meeting tak ada yang nanya, padahal sang presenter sudah susah-susah menjelaskan. Kok sepertinya tak ada yang berminat atau bahkan tak ada yang paham.

Google memang bisa membantu rasa ingin tahu kita, tapi dalam hal-hal tertentu, bertanya pada manusia secara langsung lebih baik daripada dengan google. Ada elemen lain yang tak ada di google, hubungan antar manusia. Dan satu prinsip yang saya tanamkan pada diri saya sendiri, there’s no such thing as a stupid question. Engga ada pertanyaan bodoh. Yang paling penting, kita sudah tak hidup di jaman  opresif lagi, jadi kebebasan untuk bertanya harus kita gunakan sebaik-baiknya. Mumpung masih ada.

Kamu, malu bertanyakah?

Xx,
Tjetje

 

Makan Pagi di St. George Market Belfast

Seperti pernah saya tulis di postingan ini, Irlandia dibagi menjadi dua. Bagian Utara merupakan bagian Inggris, sementara bagian Selatan, yang lebih lazim disebut sebagai Republik, merupakan negara independen. Jika Republik Irlandia beribukota di Dublin dengan penduduk lebih dari 700ribu jiwa, Belfast, ibukota Irlandia Utara, relatif lebih kecil, hanya berpenduduk 350ribu jiwa. Kecil, kalau menurut standar Indonesia. Perjalanan saya ke Belfast ini sebenarnya dalam rangka membawa turis Indonesia yang ngetop di jagat twitter, dengan hestek #JodohUntukAling. Hestek yang dipopulerkan salah satu travel blogger Indonesia Cerita Eka.

IMG_7636

Belfast sebenarnya tak jauh, hanya 2 jam saja dari Dublin, atau 2.5 jika salah mengambil bis non-express Tak ada perbatasan antara Irlandia Utara dan Selatan, akibatnya saya tak tahu kapan saya sudah masuk di bagian Utara. Satu-satunya informasi yang saya dapat dari telepon genggam yang tiba-tiba berteriak-teriak roaming…roaming…. Internet di dalam bus pun tiba-tiba ngadat. Mungkin ikutan roaming. Cara lain untuk mengetahui saya sudah berada di Utara adalah mencari tahu penggunakan satuan imperial seperti miles, karena di Irlandia menggunakan satuan metrik, seperti kilometer. Sayangnya, saya tak bisa menemukan papan-papan penunjuk ini.

Ada beberapa tempat turistik yang perlu dikunjungi di Belfast, dari mulai museum Titanic, City Hall, Museum Science, lokasi-lokasi pengambilan gambar Film Game of Thrones hingga pasar. George’s Market, pasar akhir pekan yang menawarkan interaksi dengan para seniman lokal dengan karya-karyanya, juga wisata kuliner. Pasar bergaya Victoria ini   ini tak hanya bisa ditemukan di Belfast, tapi juga di Cork, sebuah kota ‘besar’ di Irlandia.

Begini suasana George’s Market di Sabtu pagi itu:

IMG_7628

Dari atas terlihat sangat sibuk, terutama stand makanan. Tak hanya stand makanan, pedagang ikan, lilin, dan aneka rupa pernak-pernik pun juga sibuk menjajakan dagangannya. Bagi orang Indonesia, pasar ini mungkin terlihat tak terlalu sibuk, karena tak terlalu padat tak bisa senggol-senggolan, tapi bagi orang Irlandia pasar ini sudah cukup sibuk.

IMG_7630

Pasar ini sendiri dibangun pada tiga tahap, di antara tahun 1890 hingga 1896. Kendati berusia lebih dari seratus, bangunannya masih kokoh dan megah. Adapun nama bangunan, diambil dari nama sebuah gereja yang terletak tak jauh dari pasar ini.  Pada saat perang dunia kedua, pasar ini juga dipakai untuk menampung jenasah, saat itu tercatat 255 korban dibawa ke pasar ini untuk diidentifikasi. Wah kalau saja pasar ini ada di Indonesia, pasti sudah ada yang menawarkan tur gaib.

IMG_7606

Matahari sedang cantik, langit pun membiru

Tak seperti pasar-pasar di Indonesia, disini menggesek kartu ketika berbelanja sangat dimungkinkan, bahkan tanpa biaya tambahan 3%. Cocok untuk orang Indonesia yang hobi membeli oleh-oleh untuk encing, babah di kampung. Setelah berbelanja oleh-oleh saya sangat merekomendasikan untuk makan di pasar. Kami sendiri memutuskan untuk memesan menu sarapan, walaupun waktu menunjukkan saat makan siang.

Seperti saya tulis di postingan ini, menu sarapan di Utara tidaklah sama dengan di Selatan. Dan karena saya sudah terlalu terbiasa dengan sarapan Selatan, saya tak menyukai sarapan Irlandia Utara. Roti Kentang yang menjadi bagian dari sarapan ini bagi saya bikin tenggorokan sakit, karena kandungan minyak yang rasanya cukup tinggi. Tak hanya membandingkan roti, tapi juga membandingkan rasa sosis. Ya jelasnya rasanya tak akan sama wong yang masak pun tak sama. Kendati sarapannya tak sesuai dengan lidah saya, ada satu hal yang bagi saya jawara, minumannya yang bernama Black Velvet, percampuran prosecco dan Guinness. Rasanya enak dan menyegarkan, sayang porsinya kurang banyak. Eh tapi kalau banyak-banyak nanti dimarahin Uni karena pagi-pagi sudah minum alkohol.

IMG_1839

Sarapan saya yang terdiri dari sosis, pudding, roti kentang, bacon, serta telur setengah matang dan juga black velvet, perpaduan Guinness dan prosecco.

Yang perlu diketahui tentang St. George’s Market:

  • Hari Jumat pasar ini buka pada pukul 6 pagi hingga 2 siang. Fokusnya aneka rupa ikan dari Atlantik. Ada juga barang-barang antik serta  buah.
  • Hari Sabtu, yang saya datangi, pasar buka pada pukul 9 pagi hingga pukul 3, fokusnya makanan dari berbagai belahan dunia, serta kerajinan tangan.
  • Hari Minggu, pasar buka pada pukul 10 – 4, masih menjual kerajinan, makanan dan juga barang-barang antik.
  • Ada bis gratis setiap 20 menit dari pusat kota. Bis berangkat jam 8 pagi  pada hari Jumat dan pada pukul 9 di hari Minggu.

Jadi sarapan apa tadi pagi?

xx,
Tjetje

Tentang Kewarganegaraan Ganda

Pada saat jam makan siang beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang kewarganegaraan ganda. Seperti banyak diketahui, Indonesia belum memperbolehkan kewarganegaraan ganda kecuali untuk anak-anak yang lahir dari perkawinan campur. Kewarganegaraan ganda bagi mereka pun bersifat terbatas, hanya sampai usia tertentu, lalu mereka harus memilih satu kewarganegaraan. Entah mengikuti ayahnya, atau mengikuti ibunya.

Di luar kelompok tersebut, memiliki kewarganegaraan ganda adalah hal yang ilegal dan melanggar undang-undang. Tapi pada prakteknya ada saja WNI yang memiliki dua paspor, paspor hijau dan paspor negara barunya. Nah dalam perbincangan makan siang itu, kami membahas secara teknis bagaimana Indonesia bisa mengetahui individu-individu yang memiliki kewarganegaraan ganda. Menurut teman saya, negara tak punya informasi dan kuasa untuk mengecek status warga negaranya yang ganda. Sehingga, negara tak bisa dengan semena-mena mencabut kewarganegaraan WNI yang melakukan hal tersebut. Saya sendiri bersikukuh bahwa negara punya hak untuk melakukan hal tersebut, karena hal tersebut ilegal. Perbicangan itu tak sempat memanas, apalagi mendidih karena kami berdua tak tahu bagaimana teknisnya negara bisa mengetahui hal tersebut.

Dan tentunya saya pulang dengan rasa penasaran lalu UU no. 12 tahun 2006. Negara ternyata berhak untuk mencabut kewarganegaraan seseorang karena memiliki kewarganegaraan ganda. Dalam bahasa UU sih mereka yang memiliki kewarganegaraan lain atas kemauan sendiri otomatis akan kehilangan kewarganegaraannya. UU ini juga membahas tentang lembar negara yang mengumumkan mereka yang kehilangan kewarganegaraan. Dan saya pun semakin penasaran ingin tahu bentuk lembar negara tersebut. Tapi ya namanya UU, tak ada detailnya, wong bukan juklak, apalagi juknis. Busyet bahasanya.

Penasaran saya tak berhenti disitu saja, ketika kesempatan datang, saya pun menanyakan secara detail pada pegawai plat merah. Pertanyaan saya terjawab dong, bahkan secara rinci termasuk bagaimana negara melakukan penyelidikan, dari yang paling sederhana seperti melihat jejak dokumen perjalanan atau bahkan mendapatkan informasi resmi dari negara tersebut. Jadi bukanlah hal yang aneh jika petugas KBRI tiba-tiba menolak memberikan perpanjangan paspor pada WNI karena dianggap memiliki paspor lain, atau lebih ektrem, paspor hijau tiba-tiba disita lalu dihancurkan.

Saat ini, beberapa kelompok perkawinan campur serta diaspora sedang berjuang untuk meloloskan kewarganegaran ganda. Kewarganegaran ganda yang diinginkan bukan kewarganegaraan ganda terbatas, tetapi kewarganegaraan ganda secara penuh. Saya sendiri memahami latar belakang perjuangan ini, karena urusan administrasi dengan paspor hijau kita tidaklah mudah. Saya contohnya harus antri di luar bangunan imigrasi negara ini pukul 7 pagi, berdiri melawan dingin, untuk memperpanjang visa. Perjuangan saya ini membuahkan hasil perpanjangan visa satu tahun saja dan tahun depan saya harus melawan dingin lagi. Mungkin tahun depan saya akan bawa kursi atau bahkan buka usaha menyewakan kursi di luar gedung imigrasi.

Mereka yang punya anak juga seringkali mengalami perpisahan singkat yang tak mengenakan di depan imigrasi. Sang anak belok ke antrian yang lebih pendek, sementara sang ibu belok ke antrian EU. Kok ibu-ibu, saya pun sering mengalami hal ini dan dibombardir beraneka rupa pertanyaan.

Ketidakmudahan administrasi ini secara tak langsung juga berdampak pada hilangnya putri dan putra terbaik Indonesia. Ambil contoh yang paling mudah, Anggun Cipta Sasmi yang menjadi warga negara Perancis atau. Anggun tak sendiri, ada banyak orang-orang Indonesia yang cerdas dan memiliki keahlian terpaksa melepaskan status WNInya karena urusan administrasi paspor hijau yang kurang sakti. Kasihan lho mereka ini sering dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan dianggap tak punya nasionalisme. Padahal, nasionalismeitu tak sebatas paspor, tapi dilihat dari hati.

Di sisi lain, kewarganegaraan ganda juga menciptakan kerumitan tersendiri, terutama jika berkaitan dengan pajak. Maka tak heran jika banyak negara seperti, bahkan negara maju tak memperbolehkan kewarganegaran ganda. Di ASEAN, Indonesia setidaknya ditemani Singapura, Thailand, Malaysia, dan juga Myanmar. Sementara negara maju lainnya, seperti Norway dan Jepang tak memperkenankan kewarganegaraan ganda. Berbeda dengan Australia, Amerika dan Irlandia yang memperbolehkan. Irlandia bahkan akan memberikan paspor dengan mudahnya pada orang-orang keturunan Irlandia.  Sebuah kemudahan yang didambakan banyak diaspora dan keturunannya di berbagai belahan dunia.

Setujukah kalian dengan ide kewarganegaraan ganda bagi WNI?

Xx,
Tjetje

Makanan Irlandia Terenak

Halo…halo…sudah lama saya tak menulis blog, karena sibuk dan juga sedikit malas. Cuaca di Dublin akhir-akhir ini selalu galau seperti Cinta dan Rangga 14 tahun lalu, tapi sedikit lebih baik dari musim dingin. Dengan cuaca yang lebih baik ini kami jadi lebih rajin keluar dan menjemur diri untuk vitamin D dan vitamin G, alias gosong. Sambil berjemur tentunya tak lupa tangan menggenggam botol bir atau gelas anggur, biar dimarahin Tifatul Sembiring karena minum alkohol. Tiffie kok ditanggepin.

https://twitter.com/BiniBuleID/status/729562720111071232

Bicara tentang alkohol, baru-baru ini saya berkunjung ke sebuah pub yang terletak bersebelahan dengan pemakaman. Pub ini termasuk sebagai salah satu pub terbaik di Dublin yang wajib dikunjungi karena keunikannya. Yang tak minum alkohol, bahkan anak-anak pun juga masuk ke pub. Seperti pernah saya tulis di sini, pub di Irlandia tak sama dengan pub di Jakarta. Anak-anak boleh masuk untuk makan, tidak untuk minum.

Pemakaman Glasnevin sendiri cukup penting karena orang-orang berpengaruh dan juga pahlawan-pahlawan banyak dimakamkan disini. Nah pub yang didirikan pada tahun 1833 dan merupakan pub keluarga (yang masih dijalankan oleh keluarga yang sama) ini tak kalah pentingnya dari si kuburan, terutama di antara para penggali kubur. Jaman dulu, penggali kubur sering sekali minta satu pint bir  (568 milimiter) melalui tembok belakang pub ini. Maka tak heran, Kavanagh’s pub ini lebih dikenal sebagai Gravediggers (penggali kubur). Kalau di Indonesia pub ini mungkin dijauhi orang dan dipenuhi dengan cerita-cerita horor, sementara disini pub ini dicari turis.

Saat masuk ke pub ini, kami dalam kondisi kelaparan karena belum sarapan padahal waktu sudah melewati waktu makan siang. Makanan pub di Irlandia termasuk makanan yang membosankan, menunya biasanya tak jauh-jauh dari stew, Irish pie, atau fish and chips (gorengan ikan dan kentang). Ketika kami masuk ke pub tersebut, makanan yang disajikan hanya berupa roti lapis. Sebagai orang Indonesia sejati, saya tak bisa dikasih makan roti doang, engga nampol rasanya, tapi apa daya di negeri orang lidah mesti menyesuaikan. Lalu saya iseng-iseng membaca artikel-artikel yang ditempel di tembok pub.

Salah satu artikel di tembok bercerita tentang Anthony Bourdain yang berkunjung ke pub ini saat Bloomsday. Bloomsday ini merupakan perayaan karakter Leopold Bloom di novel James Joyce yang berjudul Ulysses. Nah di Dublin dan di beberapa tempat lainnya, hari ini itu sangat penting dan tentunya sangat sibuk. Anthony Bourdain saat itu datang ke pub ini lengkap dengan kru kameranya. Kebayang kan hebohnya? Di tengah kehebohan itu, ia mendapatkan suguhan coddle. Saya yang tak pernah tahu tentang coddle pun langsung bertanya dan tentunya ingin pesan. Sayangnya hari itu coddle tak ada dimenu.

Saya yang biasanya santun dan berbicara dengan suara halus #boongbanget, entah mengapa hari itu berbicara agak kencang pakai toa. Alhasil, sang chef, Ciaran Kavanagh, mendengar permintaan saya. Tiba-tiba ketika mulut sedang mengunyah roti lapis tanpa semangat, pelayan pub membawakan satu piring coddle ke meja saya. Sang pelayan berkata: “The Chef overheard a customer asking for coddle and made you one”. Seperti inilah penampakan sang coddle:

https://www.instagram.com/p/BFHF9pewxlI/?taken-by=binibule

Wah rasanya saya pengen jejingkrakan riang gembira melihat piring yang penuh dengan sapi berkaki pendek. Jadi coddle ini terdiri dari sosis Irlandia, iga dan juga kentang (kadang-kadang juga dengan rasher/ back bacon) direbus bersama garam, merica dan dihiasi dengan sedikit parsley. Sederhana, sangat sederhana untuk lidah Indonesia yang terbiasa makan dengan aneka rupa bumbu. Tapi biarpun sederhana rasanya sangat gurih, mungkin karena lemak-lemak sapi kaki pendek yang bercampur menjadi satu. Coddle buatan chef Ciaran ini memang terkenal dan konon, ada ada orang-orang tua yang mengatakan rasanya mirip dengan buatan ibunya. Duh rasanya memang sungguh nikmat, apalagi ketika tahu sang chef membuat khusus untuk saya. Saking nikmatnya, roti lapis saya pun berpindah ke piring pasangan saya, sementara sepiring coddle dengan dua sendok itu saya habiskan sendiri. #kemaruk

Ciaran herald

Chef baik hati itu!

Coddle ini bukan satu-satunya hal yang bikin saya pengen kembali ke pub ini. Konsep menu tapas untuk makan malam dan menunya berbeda-beda setiap harinya membuat saya ingin datang lagi. Pub untuk pencinta makanan ini juga tak menyajikan menu anak-anak macam nuggets and chips, selain karena tak sehat, juga untuk membiasakan anak-anak untuk menyukai makanan sehat. Btw, ketika mengucapkan terimakasih pada sang chef, saya mengobrol banyak tentang makanan dan tentunya saya menyarankan menu Indonesian untuk tapasnya. Tahu menu apa yang dia kenal dari Indonesia? Apalagi kalau bukan rendang!

Jadi mau makan siang apa hari ini?

xx,
Tjetje
Lupa memotret pubnya!

 

Cuti

Ketika masih bekerja di Jakarta, saya memiliki hak cuti sebanyak 30 hari kerja setiap tahunnya. Cuti yang tak bisa dipindahkan ke tahun berikutnya selalu saya habiskan, bahkan terkadang kurang. Maklum saja, hobi jalan-jalan tak hanya menguras tabungan tapi juga menguras cuti.

Menghabiskan cuti 30 hari bagi saya adalah hal yang mudah. Ketika itu atasan saya  punya prinsip penting bahwa CUTI MERUPAKAN HAK KARYAWAN. Maka tak heran jika cuti saya selalu disetujui dengan mudahnya, berapapun lamanya. Bahkan, ketika ada acara penting di kantorpun saya diperkenankan untuk cuti tanpa mempertanyakan alasannya. Lagipula, saya bukan cuti untuk melarikan diri dari pekerjaan dan tanggung jawab.

Namun sayangnya, banyak sekali bos-bos di luar sana yang menyalahgunakan kekuasan dan menggunakan cuti sebagai alat untuk mengontrol anak buahnya. Padahal, cuti di Indonesia itu termasuk dalam kategori sadis, hanya 12 hari saja setiap tahunnya (ditambah aneka rupa cuti khusus yang tak seberapa). Cuti yang pendek ini pun masih sering terpotong lagi dengan cuti bersama. Praktis cuti di Indonesia semakin pendek. Dan kalau sudah pendek mengapa harus dipersulit?

Dari perbincangan saya, para atasan ini biasanya punya banyak modus dan alasan untuk menghambat anak buahnya mengambil cuti. Modus yang paling sering digunakan adalah menunda memberikan persetujuan atas permintaan cuti. Kendati cuti sudah diajukan dari beberapa waktu sebelumnya, si bos tetep keukeuh untuk tak memberikan. Alasannya: lihat nanti. Lihat nanti ini alasan ampuh untuk bilang: saya males ngasih kamu cuti tapi saya lagi nyari alasan.

Alasan paling umum tentunya pekerjaan. Padahal pekerjaan di kantor itu tak akan pernah habis dan selalu ada. Ada kalanya memang load pekerjaan menumpuk karena kejadian-kejadian khusus. Ketika sang staf sangat diperlukan maka diperlukan common sense dari kedua belah pihak. Eh tapi jika staf tak terlalu diperlukan dan sang atasan menahan dengan alasan ini? Errr.. Nanti dulu.

Selain alasan-alasan di atas, atasan biasanya agak susah memberikan cuti ketika pegawai yang akan cuti merupakan pegawai penting yang tahu segala-galanya. Pegawai andalan kantor atau jantung hatinya kantor lah. Begitu sang pegawai cuti, bosnya pun kebakaran jenggot karena sang bos kurang tahu teknis pekerjaan. Ya kalau begini mah sengsara.

Bicara tentang cuti, di Indonesia ada beberapa cuti yang bagi saya menarik seperti cuti kawin (sekali lagi penggunaan kata kawin disini mengacu pada UU Perkawinan) diberikan selama 3 hari kerja. Sementara cuti menikahkan anak selama 2 hari. Cuti ini relatif pendek mengingat perkawinan di Indonesia sangat ribet dan biasanya memakan persiapan beberapa hari (bahkan bulan atau tahun). Tapi mending daripada tak ada lah ya.

Bagi mereka yang mengkhitankan anak juga diberikan cuti selama dua hari. Sementara mereka yang beragama Katolik diberikan akses cuti selama 2 hari juga ketika anaknya dibaptis. Cuti khusus ini nampaknya hanya untuk pemeluk agama Islam dan Katolik. Sementara yang beragama lain tak mendapatkan keistimewaan. Mungkin karena memang tak ada kegiatan khusus yang berkaitan dengan anak atau yang membuat UU tak kepikiran.

Bagi yang berduka cita, Indonesia juga mengatur pemberian cuti 2 hari bagi yang keluarga inti yang meninggal dunia. Sementara jika ada anggota keluarga di rumah yang meninggal dunia dan pertalian darahnya tak sekuat keluarga inti (suami, istri, mertua, orang tua dan anak) cuti yang diberikan hanya satu hari saja. Wajar sih cuti ini pendek, karena proses pemakaman di Indonesia cukup cepat.

Selain berduka cita, negara juga memberikan hak cuti untuk mereka yang melahirkan dan keguguran. Kendati cuti keguguran diberikan pada suami, cuti melahirkan, atau lazim disebut paternal leaves dalam bahasa Inggris, belum diberikan kepada kaum pria di Indonesia. Padahal cuti ini penting sekali untuk kesetaraan pria dan perempuan. Belum adanya cuti ini menunjukkan betapa peran kehadiran sang bapak pada bulan-bulan pertama saat anak lahir dianggap kurang penting. Bisa juga karena urusan anak dianggap tanggung jawab perempuan. Pada saat yang sama cuti yang diberikan kepada ibu yang melahirkan relatif pendek, hanya 3 bulan, 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Bagi saya, cuti ini sudah saatnya diperpanjang. Apalagi untuk mendukung pemberian ASI di Indonesia.

Satu cuti yang menurut saya unik adalah cuti haid bagi perempuan selama dua hari kerja. Cuti ini berguna bagi mereka yang mengalami sakit parah ketika datang bulan. Nampaknya cuti ini jarang diambil oleh pegawai, karena malu jika para kolega mengetahui jadwal bulanan. Padahal cuti yang satu ini paling mudah didapatkan, karena datang bulan tak bisa ditunda.

Selamat menyambut hari buruh rekan-rekan. Semoga cuti di Indonesia bisa diperpanjang hingga satu bulan.

Xx,
Tjetje
Buruh juga

Perisakan (Bullying) di Lingkungan Kerja

Saya mendefinisikan perisakan sebagai perilaku agresif yang dilakukan secara sadar dan terus-menerus untuk mengintimidasi dan meneror orang lain, baik secara fisik ataupun secara psikis. Perisakan tak memandang latar belakang individu dan terjadi dimana-mana, dari mulai di sekolah, sosial media hingga di kantor.

Kantor yang idealnya dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang profesional seringkali menjadi tempat melakukan perisakan dan tak ditangani dengan serius. Saya beruntung pernah bekerja di insitusi yang menganggap perisakan dengan serius, karena perisakan jika tak segera ditangani bisa mengarah pada penurunan kualitas kerja, stress, depresi, bahkan kematian (biasanya karena bunuh diri).

Sebagai orang-orang yang seharusnya dewasa, ada baiknya kita melihat berbagai tipe perisakan yang ada di lingkungan kerja. Selain menghindari terseret menjadi perisak juga supaya kita bisa mengenali tipe-tipe perisakan untuk kemudian menghentikan.

Anak baru

 Konsep anak baru dikerjain merupakan sebuah konsep yang dianggap menjadi sebuah kewajaran di Indonesia. Kita semua tak menganggap ini sebagai sebuah hal yang aneh, karena tradisi mengerjai anak baru sudah mengakar di Indonesia, bahkan diajarkan di sekolah pada saat hari pertama.

Di beberapa kantor, ada individu-individu yang arogan dan masih membawa budaya tak sehat ini. Saya sendiri pernah mengalami ketika masih jadi anak baru dan disuruh beli materai di bawah panas dan pengapnya Jakarta. Yang nyuruh sesama pegawai dan bukan penyelia. Saya langsung menolak dan menyarankan ia menyuruh pramu bakti di kantor. Bukan masalah tugasnya yang remeh, tapi karena tujuan menyuruh ini jelas-jelas untuk ngerjain dan merendahkan peran saya sebagai anak baru. Sang penyuruh, bagi saya juga semena-mena dan ingin menunjukkan kekuasaan yang sebenarnya tak ia punyai. Gak usah repot-repot ngebayangin yang begini jadi bos beneran.

Selain diminta melakukan tugas-tugas yang tak seharusnya, anak baru juga sering dimarah-marahin karena tak tahu dengan kalimat sakti: “Gimana sih, gini aja gak tahu”. Padahal dimana-mana yang namanya anak baru itu memang tak tahu sehingga harus dilatih terlebih dahulu. Hal yang terlihat remeh ini saya kategorikan sebagai perisakan ringan di kantor.

Ada juga perisakan dengan cara memberikan tugas yang hampir mustahil dikerjakan. Tugas-tugas susah ini harus diselesaikan dalam tenggat waktu yang tak masuk akal. Akibatnya tugas tak selesai dan performa kerja pun terlihat tak bagus.

Eklusi dalam kehidupan sosial kantor 

Urusan kantor tak hanya sebatas datang dan bekerja saja. Ada kehidupan sosial perkantoran seperti makan siang, makan malam, acara kesenian (contohnya karaoke atau menonton pertujuan seni), hingga sekadar nongkrong-nongkrong cantik di warung kopi. Salah satu bentuk perisakan yang sering terjadi dan berkaitan dengan kehidupan sosial perkantoran adalah eklusi.

Yang paling sepele aja, nggak ngajak makan siang bersama sehingga rekan kerja harus makan siang sendirian; atau sebaliknya, jika diajak sang kolega makan siang selalu menolak. Alasannya berbagai macam, tapi yang paling utama memang malas bersosialisasi dengan kolega tersebut yang biasanya berakhir dengan mengisolasi sang kolega dari kegiatan sosial perkantoran. Seaneh apapun kolega kita, isolasi dan eklusi adalah sebuah perisakan yang berat.

 Menyindir & bergosip

Perisakan lain yang tak kalah beratnya adalah menyindir dengan pedas untuk memberi tekanan secara terus-menerus dan juga bergosip untuk merusak reputasi rekan kerja. Soal ini tak perlu diberi contoh ya, karena kita pasti sudah pernah melihat (atau bahkan melakukan).

Selain sindiran dan gosip, penggunaan bahasa yang tak layak dalam lingkungan kantor, apalagi jika digunakan secara terus-menerus juga dapat dikategorikan sebagai perisakan. Jika bertemu dengan yang seperti ini, amit-amit, jangan segan untuk melaporkan.

Silent treatment

Mendiamkan orang dengan alasan apapun, tak hanya sebuah kejahatan yang merusak kondisi psikologis orang lain, tapi juga menunjukkan ketidakmatangan pelakunya. Sebagai orang dewasa yang tentunya tahu cara berkomunikasi, masalah-masalah apapun harusnya bisa diselesaikan dengan cara bicara, baik secara langsung ataupun menggunakan perantara. Satu hal yang pasti, mendiamkan orang dalam lingkungan kerja menunjukkan ketidakprofesionalan, apalagi jika hal tersebut menghambat pekerjaan tim.

Penutup

Menyalahkan korban perisakan karena menjadi pihak yang dianggap lemah dan tak bisa melawan juga merupakan hal yang salah dan tak patut dilakukan, karena tidak semua orang memiliki kekuatan untuk melawan, apalagi ketika perisakan dilakukan secara terus-menerus hingga menggerus kepercayaan diri sang korban.

Seperti saya tulis di atas, perisakan yang terdengar remeh ini bisa sangat berbahaya. Pada kasus yang ekstrim, bisa terjadi pengakhiran hidup, alias bunuh diri. Makanya jangan segan untuk mengingatkan pelaku dan juga berbicara pada korbannya. Untuk menyemangati sang korban ya, bukan untuk memperburuk situasi. Penting juga untuk tahu kemana kita bisa melaporkan perisakan.

Pernah mengalami atau melihat perisakan di kantor?

Xx,
Tjetje
Pernah menjadi korban perisakan

Warna-warni Kelam Grup WhatsApp

Berapa banyak dari kalian yang punya Whatsapp di telepon genggam? Saya yakin hampir semua dari kalian memiliki aplikasi yang mempermudah dan membuat biaya komunikasi lebih murah. Whatsapp, seperti juga Blackberry Messenger, memberi ruang pada individu-individu untuk membuat kelompok-kelompok yang kita kenal sebagai WhatsApp group.

Dalam grup WA biasanya terdapat batasan orang yang bisa tergabung, Hanya 100 orang saja untuk setiap grup (silahkan dikoreksi kalau angka ini salah). Dengan jumlah yang 100 orang saja, grup WA ini biasanya selalu berisik. Berisik karena banyak hal, tapi yang pasti karena hampir semua orang ingin berbicara. Tak heran jika kemudian ada fitur silent yang bisa diatur hingga satu tahun.

Saya sendiri tergabung dalam beberapa grup WA dan aktif menjadi penonton kelakuan orang-orang. Berdasarkan pengamatan saya, ada berbagai tipe orang yang ada di dalam grup. Beberapa di antaranya saya ulas di bawah ini:

Tukang kirim hoax (penipuan)

Membagikan informasi yang tak benar, atau tanpa mengecek ulang bagi saya adalah perbuatan tercela. Sangat tercela. Apalagi jika informasi ini membuat orang panik dan cemas, terutama berkaitan dengan bencana ataupun kesehatan, duh makin gemas saya. Herannya, orang-orang masih banyak yang tak memahami bahwa informasi yang diakhiri dengan kata “bagikan pada teman, saudara tercinta” atau bantu broadcast seringkali menyesatkan. Banyak juga informasi yang sudah basi, seperti informasi anak hilang, dan terus-menerus disebarkan. Atau bahkan informasi-informasi lowongan pekerjaan yang belum tentu benar atau bahkan sudah lewat batas akhir pengiriman dokumennya.

Tukang dagangan 

Berdagang itu sah-sah saja, wong namanya orang berjuang melanjutkan hidup. Tapi bagi saya berdagang dan mempromosikan barang juga harus etis. Di banyak grup saya sering melihat orang-orang yang mempromosikan dagangannya lagi, lagi, lagi dan lagi sampai bosan. Tiap hari promosi tentang dagangan yang sama, lama-lama rasanya bosan.

“Serunya” lagi, diskusi tentang produk-produk dagangan ini seringkali berlangsung di dalam grup, bukan dalam pembicaraan private. Akibatnya, grup menjadi berisik karena salah satu anggota ingin membeli sebuah produk tetapi harus mengajukan seribu pertanyaan terlebih dahulu. Ah capek deh.

Tukang guyon tak sensitif

Orang Indonesia itu seneng bercanda dan bercanda itu sehat untuk kesehatan jiwa. Guyonan bisa ditemukan dengan mudahnya di dalam  grup, karena ada saja anggota grup yang menyebarkan joke. Tapi yang tak mengenakkan ada saja orang-orang yang menyebarkan guyonan yang tak sensitif. Entah tak sensitif jender atau tak sensitif bencana. Jika kemudian ditegur, alamat yang menegur kena tegur balik karena dianggap tak bisa santai dalam hidup. Susah memang menjelaskan bahwa ada hal-hal, termasuk pemerkosaan, yang tak pantas dibuat bahan ketawaan.

Tukang ngobrol tanpa henti 

Seperti saya bilang di atas, notifikasi grup whatsapp itu tak berhenti. Kalaupun diatur dalam mode silent tanpa notifikasi, pembicaraan di grup akan terus-menerus diunduh oleh sistem. Entah mengapa ada saja orang-orang yang ngobrol terus-menerus, seringkali hal-hal yang tak penting hingga larut malam. Pembicaraan tanpa henti hingga malam ini bagi saya tak sensitif karena tak mempertimbangkan 90 orang lainnya yang ada di dalam grup dan kebutuhan mereka untuk beristirahat. Kalaupun telepon genggam diposisikan silent, baterai telepon genggam mereka juga perlu istirahat.

Tukang Menyebar Ayat

Baru-baru ini salah satu orang di grup yang saya ikuti memutuskan untuk keluar dari grup karena: terlalu banyak ayat di dalam grup tersebut. Mengindahkan ayat-ayat tersebut memang sebuah hal yang mudah, tapi tentunya lama-lama gerah juga kalau grup yang harusnya dibuat menjadi ajang memperkuat pertemanan berubah menjadi rumah ibadah. Apalagi jika ayat-ayat yang dibagikan tak relevan dengan agama dari sebagian anggota grup. Saya sendiri sangat memahami ketidaknyamanan ini karena sudah beberapa kali mengalami sendiri.

Grup whatsapp itu dibuat untuk menjalin komunikasi dan pertemanan. Informasi yang dibagi-bagikan selayaknya informasi yang penting dan tak menipu. Soal bagi-bagi informasi ini saya jadi ingat kata-kata Femi Oke, presenter Al-Jazeera: ketika menyebarkan informasi yang salah, kredibilitas kitalah yang dipertaruhkan. Tak hanya itu, dalam bergaul di grup WhatsApp, kita dituntut untuk bisa sensitif dan menjaga kenyamanan bersama. Ketika tak ada kenyamanan lagi, jangan heran jika banyak orang-orang yang keluar dari grup. Ngapain juga masuk di grup jika berisik, kurang bermanfaat dan menghabiskan baterai.

Menurut kalian adakah hal lain yang mengganggu di grup whatsapp?

Xx,
Tjetje
Gak suka ngucapin selamat ulang tahun di grup WA

 

Whatsapp-infographic

source: http://www.jeffbullas.com (data 2015)