Hidung dan Bullying

Hidung manusia itu bentuknya bermacam-macam, ada yang mungil, sedang dan besar. Adapula yang mancung dan juga yang pesek. Kendati bentuknya berbeda-beda, hidung manusia memiliki fungsi yang sama, beberapa diantaranya sebagai indera pembau dan juga sebagai alat untuk bernafas. Hidung juga dianggap sebagai ‘aksesoris’ yang mendefinisikan kecantikan ataupun ketampanan.

Di Indonesia, hidung yang tak mancung, baik itu yang pesek maupun yang besar seringkali menjadi bahan celaan dan guyonan, karena bentuk hidung yang seperti itu dianggap tidaklah bagus. Untuk yang pesek dicela karena kacamata akan selalu melorot, padahal belum tentu hal tersebut benar, hingga kemudian diberi nama yang indentik dengan anggota tubuh tersebut. Yati pesek contohnya, artis yang terkenal karena hidungnya yang pesek. Sementara hidung yang besar disamakan dengan buah seperti jambu bol. Mereka yang memiliki hidung sedikit bengkok kemudian disamakan seperti burung paruh bengkok.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, hidung mancung dianggap lebih baik ketimbang hidung yang tak mancung. Hidung mancung tanpa lebih indah dan menarik, walaupun konon secara fengshui tak terlalu membawa hoki. Kendati tak seperti di Korea dimana obsesi untuk membenahi anggota tubuh sangat tinggi, di Indonesia tetap ada kelompok-kelompok yang memiliki obsesi untuk memancungkan hidungnya. Mereka tentunya orang-orang yang memiliki uang berlebih untuk melakukan operasi ini. Tentu saja operasi ini kemudian menjadi bahan bincang-bincang dan bisik-bisik. Seringkali orang menganggap mereka kurang mensyukuri anggota tubuhnya. Sebuah ejekan yang tentunya bertolak belakang jika dikaitkan dengan celaan yang diberikan kepada mereka.

Sementara mereka yang tak punya uang, cukup berpuas diri dengan proses menarik-narik hidung untuk memancungkan hidung, memijat daerah sekitar hidung atau bahkan membeli alat pemancung hidung. Keefektifan alat ini bagi saya sangat tak jelas, sama tak jelasnya dengan dampak negatif yang muncul karena menggunakan alat ini.

pexels-cottonbro-studio-7585026

Hidung saya sendiri cukup mancung walaupun tak sepanjang hidung para orang-orang asing. Jika orang berhidung pesek banyak dicela karena bentuk hidungnya yang mungil, saya yang berhidung mancung ini bolak-balik diremehkan. Mungkin bagi mereka tak wajar perempuan berkulit sawo matang seperti saya memiliki hidung yang mancung. Suatu ketika, saya sedang terbaring di tempat tidur di sebuah rumah sakit untuk melakukan perawatan wajah secara rutin. Seorang suster yang membersihkan wajah saya berbasa-basi menanyakan apakah hidung saya asli atau bukan. Yang kemudian saya jawab dengan jujur bahwa hidung saya memang asli. Eh jawaban saya ketika itu tak dirasa cukup, lalu suster itu mulai meraba-raba hidung, digoyang kanan kiri, kemudian dipencet untuk mengecek keasliannya. Baru kemudian setelah dipastikan asli dia berkata: “Oh Asli”. Sumpah ya ini suster emang reseh dan gak sopan.

Seorang petugas Imigrasi di Jakarta Timur juga pernah melemparkan guyonan tak pantas tentang hidung saya. Ketika itu saya ditanya akan kemana kok memperpanjang passport saya. Saya pun asal menjawab ke Thailand. Eh sang petugas kemudian berujar: “Ngapain ke Thailand kan hidungnya sudah mancung?”. Reseh banget ya, saya mau kemana aja kan bukan urusan petugas dan tubuh saya juga bukan obyek guyonan buat petugas.

Mereka yang memiliki hidung pesek kemudian kawin dengan pasangan dengan hidung mancung juga seringkali dibully, apalagi ketika hamil. Doa-doa yang diucapkan biasanya tak jauh-jauh dari harapan supaya hidung si anak yang sedang dikandung memiliki hidung yang mancung seperti bapak atau ibunya. Apalagi kalau bapaknya orang asing, makin sering dengar doa-doa seperti ini: “Duh semoga hidungnya mancung seperti Bapaknya ya”. Lha emang kalau hidungnya pesek kenapa? Kok sepertinya hidung pesek itu nista banget.

Bagi sebagian orang hidung juga dianggap sebagai sarana untuk membaca kepribadian orang tersebut. Dari berbagai macam kepribadian ini saya hanya ingat bahwa pria-pria hidung bengkok identik dengan hal-hal yang kurang baik, termasuk dianggap kurang setia. Nah masalahnya kalau kemudian terjadi operasi plastik untuk mengubah bentuk hidung, apakah kepribadiannya akan berubah dan masih bisa diterawang? Entahlah.

Pada akhirnya, hidung dan tubuh kita adalah hadiah yang patut kita syukuri. Mau mancung ataupun pesek,sudah sewajarnya disukurin. Kalau kemudian mau dioperasi juga itu urusan dari masing-masing individu. Tapi yang pasti, sebagai individu kita tak berhak untuk menghakimi orang lain karena pilihannya untuk merubah bentuk anggota tubuh tersebut, apalagi mencela orang lain karena bentuk hidungnya yang dianggap tak indah. Padahal indah itu tergantung dari persepsi masing-masing dan sesungguhnya, semua hidung itu indah, karena mereka memainkan fungsi penting bagi tubuh kita.

Sukakah dengan bentuk hidung yang kalian punya?

Xx,
Tjetje

Otrivine-Did-You-Nose-It-Infographic-v3

Pemeriksaan Imigrasi

Saya suka banget nonton acara “Nothing to Declare” seri dokumenter tentang orang-orang yang melewati imigrasi di berbagai negara. Ada empat negara yang selama ini saya lihat, Australia, UK, Canada maupun America. Favorit saya Australia, karena negara tetangga ini peraturannya banyak, ketat dan juga sering didatangi orang Indonesia. Dari pelajar, pencari kerja hingga penari cabaret.

Banyak kasus-kasus menarik yang muncul di acara ini, dari mulai penyalahgunaan visa hingga penyelundupan barang terlarang seperti narkotik. Baru-baru ini dua orang pria Indonesia masuk NtD karena mereka berencana untuk menghadiri konferensi keamanan di Australia. Konyolnya mereka masuk pada hari terakhir konferensi tersebut. Nah ini bapak menurut saya salah strategi, dimana-mana itu orang Indonesia datang konferensi hari pertama dan hari selanjutnya ngabur entah kemana. Abis itu catatan rapat tinggal minta sama network yang sudah dibangun di hari pertama. Mereka kemudian dicecar dengan aneka rupa pertanyaan dan dibantu dengan seorang penerjemah lewat telepon. Ketika ada pertanyaan tentang perkawinan, si bapak mengaku sudah kawin, tapi oleh penerjemah diterjemahkan belum. Ngaco…ngaco bener deh penerjemahnya. Pihak Australia sendiri akhirnya membatalkan visa dan mendeportasi dua orang pria ini karena mereka dicurigai akan mencari kerja.

Ada pula kelompok penari kabaret  dari Indonesia yang katanya akan berlibur. Tapi ketika blackberrynya diperiksa petugas, ada pembicaraan dari temannya yang memberi arahan jika ditanya oleh imigrasi. Dalam sms arahan itu, dia harus mengatakan sedang liburan. Liburan tapi bawa kostum kerja. Hebatnya ya, itu sms walaupun dalam bahasa Indonesia bisa tetep dideteksi.

Banyak juga kasus-kasus dimana para penumpang bawa makanan yang jelas-jelas dilarang di Australia. Para penumpang ini juga sering tidak mendeklarasikan makanan yang dibawa, padahal mendeklarasikan bawaan itu penting supaya tidak kena denda. Orang Indonesia mah aneh-aneh yang dibawa, termasuk kerupuk, tempe dan babi panggang merah. Alamat, makanan disita, mereka pun didenda dari mulai ratusan hingga ribuan dollar Australia. Ada yang heboh nangis-nangis juga karena ditegur petugas. Pada episode terakhir yang saya tonton, ada satu keluarga dari Australia yang mendeklarasikan bawaan mereka, salami dan keju. Tapi karena makanan tersebut dilarang masuk ke Australia, mereka duduk rame-rame di bandara sambil ngabisin makanan tersebut. Ya kalau cuma bawa salami sama keju mah enak bisa langsung ditelan, kalau bawa rendang mah kudu masak nasi putih dulu sama sambel biar mantap. Urusan makanan ini jadi seru kalau yang kena tangkap adalah ibu-ibu dari China. Alamak ributnya dipastikan seru dan kocak. Perdebatannya juga seringkali mbulet dan gak masuk akal. Tapi tetap aja petugas menang wong mereka menegakkan aturan.

Talking-Travel-Nothing-to-declare

tagnya bisa dibeli di http://www.annabeltrends.com

Selain urusan makanan, ada kasus-kasus dimana penumpang menyelundukan narkoba ataupun rokok. Waktu itu bahkan ada yang ngaku mau liburan bersama istrinya tapi as mereka berdua isinya rokok semua, tak ada sehelai bajupun. Aduh kasihan deh lihat yang kayak gini pasti mereka ini kurir yang dikerjain mafia.

Selama liburan ke berbagai negara saya hanya pernah berurusan dengan imigrasi di Dublin ketika baru pertama kali datang ke Irlandia. Mungkin ketahuan ya bahasa tubuhnya kalau baru datang ke sebuah negara. Selain itu bawaan saya segambreng, sementara biasanya saya hanya bermodalkan tas punggung. Ketika itu petugas imigrasi mengecek apakah saya membawa susu dan daging. Pertanyaan yang kurang cocok bagi saya karena tak mengkonsumsi susu dan daging. Kendati tak membawa susu dan daging, saya tetap mengikuti prosedur dan membiarkan mereka mengecek tas saya.

Imigrasi di Indonesia konon sedang berbenah untuk meningkatkan pendapatan cukai mereka, terutama dari mereka yang hobi berbelanja di luar negeri. Menurut peraturan, belanjaan di bawah 250 dollar sih tidak akan dikenakan cukai. Tetapi di atas angka tersebut akan dikenakan cukai. Prakteknya bagaimana saya tak tahu, tapi ada banyak cara tersebar di internet untuk mengakali para petugas imigrasi. Tips mengakali petugas ini dari mulai melepas label, membuang bungkus hingga bukti pembayaran sampai menggunakan barang tersebut sebelum dibawa kembali ke Indonesia supaya tak terlihat baru. Soal membuang tanda terima sih buat saya akan berbahaya, karena petugas bisa seenaknya menetapkan harga yang dia mau dengan harga setinggi mungkin.

Saya memahami keengganan orang Indonesia untuk membayar cukai. Kok bayar cukai, ngisi formnya ada pada males semua. Selain karena belanjaan di luar ini seharusnya mendapatkan privilege harga luar negeri (apalagi sudah bayar tiket dan hotel), juga karena orang tidak mempercayai kebersihan bea cukai Indonesia. Soal yang pertama sih saya tak bisa berkomentar, karena saya lebih suka belanja di Indonesia (apalagi saat Inacraft). Sementara soal yang kedua, tinggal sistemnya saja yang diperbaiki, supaya mereka yang belanja di luar negeri bisa membayarkan cukai secara transfer dan tak melibatkan uang tunai sama sekali.

Kalau sudah begini, saya mah cuma bisa menyarankan mereka yang hobi belanja di luar negeri sambil foto-foto di depan butik untuk menghentikan kebiasaan. Bukan apa-apa, nanti kalau telepon genggam di cek oleh petugas imigrasi, persis seperti petugas imigrasi di Australia tadi ya modyar lah ketahuan abis beli tas. Apalagi kalau pamernya model Syahrini yang belanjaannya dihamparkan di depan mata. Yang hobi belanja untuk dijual kembali dan hobi dititipin juga mesti hati-hati nih. Sudah direpotin masih harus nanggung biaya-biaya lain.

Kamu jika belanja di luar negeri sudikah membayar cukai masuk?

Xx,
Tjetje

Jaminan Rumah di Irlandia

Bulan Januari lalu, televisi di Irlandia dihebohkan dengan tayangan tentang keluarga homeless. Ada beberapa keluarga yang ditayangkan, tapi salah satunya seorang ibu tunggal dengan seorang anak perempuan. Mereka tinggal di dalam hotel, memiliki kendaraan dan ibunya menggenggam iphone teranyar. Kepala saya yang asli Indonesia itu otomatis mikir, bagaimana bisa tak punya rumah tapi punya kendaraan dan memegang gawai terbaru. Dalam kalkulasi à la Indonesia, rumah seharusnya menjadi prioritas utama ketimbang kendaraan, apalagi gawai. Tapi di Irlandia, semuanya berbeda.

Dalam bahasa Indonesia, homeless saya artikan sebagai gelandangan, tapi istilah ini nampaknya tak tepat, karena homeless berarti tak punya tempat tinggal tapi tak harus menggelandang. Ada visible homeless yang terlihat di jalan-jalan dan ada hidden homeless yang kemarin ditayangkan di televisi. Mereka yang numpang tinggal dengan keluarga pun ternyata bisa dimasukkan dalam kategori hidden homeless.

Di Irlandia, isu homeless ini adalah isu yang panas dan terjadi dimana-mana. Nah, setelah baca-baca website citizen di Irlandia, ternyata orang-orang Irlandia yang tak punya penghasilan, alias bergantung pada jaminan sosial itu bisa mendapatkan rumah dengan harga sangat murah atau bahkan dana bantuan untuk menyewa rumah. Tentunya tak semua orang bisa dapat dan prosesnya panjang dengan seleksi administrasi terlebih dahulu. Tapi tetap ada pemberian rumah secara murah dari uang pajak. Murahnya kebangetan, untuk seumur hidup, sampai seringkali ini disebut sebagai rumah gratisan.

Dengan krisis yang baru saja menghantam Irlandia, terjadi banyak keruwetan di negara ini. Krisis yang menghempas negeri ini membuat banyak orang kehilangan rumah karena rumah mereka disita oleh bank, ongkos sewa kamar atau bahkan rumah di Irlandia juga tak murah. Kamar sendiri berkisar dari 800  hingga lebih dari seribu Euro, ini tentunya harga sewa pada saat tulisan ini dituliskan dan harganya terus-menerus naik. Keruwetan ini kemudian ditambah dengan tingginya permintaan rumah  sosial yang tak berimbang dengan tingginya persediaan rumah.

Niat pemerintah untuk mendirikan rumah-rumah sosial pun tak mudah diwujudkan. Di dekat daerah tempat saya tinggal misalnya, ada tanah lapang yang luas, tapi rencana ini ditolak mentah-mentah oleh masyarakat di wilayah tersebut. Alasan penolakannya beraneka rupa, dari mulai takut harga rumah mereka akan turun drastis hingga keengganan bertetangga dengan orang-orang yang bergantung pada jaminan sosial karena adanya kemungkinan perilaku anti-sosial.

Pusingnya pemerintah Irlandia pun makin bertambah ketika mereka menawarkan rumah-rumah yang sudah ada kepada orang-orang yang memerlukan. Studi yang baru-baru ini dikeluarkan menunjukkan bahwa banyak penolakan dari mereka yang membutuhkan rumah. Alasan mereka menolak rumah yang ditawarkan pemerintah beraneka rupa, tapi alasan terbanyak karena rumah yang ditawarkan tak memiliki  halaman, tak memiliki tempat parkir, berlokasi di daerah yang tinggi perilaku anti-sosialnya, lokasi apartemen di lantai atas atau karena terlalu kecil. Padahal, ketika mereka menolak tawaran, mereka tidak akan ditawari rumah lagi hingga satu tahun ke depan.

Selain diberikan tawaran rumah, orang-orang yang memerlukan rumah juga diberikan dana subsidi untuk menyewa rumah. Besarannya tergantung dari wilayah tempat tinggal, di Dublin misalnya ongkos sewa yang diberikan sekitar 950 – 1000 Euro. Tentunya ini tak untuk semua orang, hanya untuk mereka yang memiliki gaji kecil dan kurang mampu.

Di Irlandia sendiri, banyak pemilik rumah yang enggan menyewakan rumahnya kepada mereka yang mendapatkan alokasi untuk sewa rumah dari pemerintah. Mereka yang melakukan ini bisa dilaporkan dan mendapatkan hukum. Tapi perlu dipahami juga bahwa ketakutan mereka karena mereka takut tak dibayar karena uang sewa tak diberikan langsung kepada pemilik rumah dan enggan berurusan dengan dokumen yang lebih panjang daripada sewa-menyewa biasa. Ditambah lagi, jika terjadi masalah di masa datang, ‘mengusir’ penyewa ternyata tak mudah. Ada tata cara panjang secara tertulis untuk mengosongkan rumah. Tak seperti di Indonesia yang menggunakan preman atau Satpol PP.

Nah kalau sudah gini, saya jadi teringat dengan koh Ahok yang menyediakan rumah gratis di Jakarta sana. Prinsip dan tujuannya mirip-mirip lah dengan di Irlandia, walaupun ada banyak keributan di sekitarnya, termasuk ribut soal uang iuran sepuluh ribu rupiah hingga soal lokasi yang tak sesuai. Rumah gratis ini juga mengingatkan saya pada pak becak di Yogyakarta yang rumahnya luluh-lantak dihancurkan gempa. Sambil mengayuh becaknya, pak becak tak berhenti bersyukur padahal rumahnya hanya mendapatkan bantuan setengah tembok dan setengah dinding bambu. Sungguh sebuah pendekatan yang berbeda dengan orang-orang di sini yang hanya mau rumah di daerah tertentu, dengan parkiran dan halaman.

Sebagai pembayar pajak, apakah kalian setuju jika pajak yang kalian bayarkan ke negara kemudian digunakan untuk memberikan rumah-rumah murah bagi masyarakat yang dianggap kurang mampu?

Xx,
Tjetje

Makanan Bayi Bule

Saya pernah menertawakan orang yang menggoogle judul postingan ini. Ketika itu saya tak habis pikir kenapa ibu-ibu ini repot pengen niru makanan bayi bule. Eh ternyata adik ipar saya juga sempat ingin melakukan hal serupa akibat melihat makanan bayi bule di youtube. Ia menggalau dan menulis postingan panjang di Facebook sambil bertanya-tanya apakah anaknya cukup gizi dan vitamin? Pinter dan sehat?

Ipar saya membandingkan makanan bayi bule dengan makanan bayi di Indonesia. Si bayi bule misalnya diberi 5 makanan yang berbeda dan terlihat bergizi tinggi seperti salmon atlantis, yoghurt, roti diolesi keju dan tuna. Bayi-bayi bule ini juga diberi cemilan sehat seperti blueberry dan kiwi. Jauh berbeda dengan bayi Indonesia yang makannya nasi dengan kuah bakso, sop, bayam.  Selain urusan menu, ipar saya juga terpukau melihat bayi-bayi yang umurnya belum setahun ini ‘makannya pinter’, gak berantakan.

Ijinkan saya, yang belum menjadi ibu dan belum punya rencana untuk menjadi ibu, memberikan sedikit cerita tentang bayi-bayi bule yang saya lihat dalam hidup saya (baca: keponakan-keponakan saya yang lucu) juga tentang makanan yang mereka makan.

Pertama, soal makanan bergizi. Buah-buahan yang dianggap kaya gizi seperti blueberry, kiwi dan berries lainnya adalah buah-buahan lokal bagi masyarakat disini. Harganya pun relative murah dan terjangkau. Ambil contoh kiwi, seringkali dijual seharga 49 atau 99 sen saja untuk enam biji. Sementara berries, sedikit lebih mahal dari kiwi tapi harganya memang tak semahal di Indonesia. Saat musim panas bahkan kita bisa memetik berries liar, asal telaten. Kenapa buah-buahan ini murah? Karena mereka buah lokal. Sama lokalnya dengan pisang kepok, mangga, manggis, rambutan, durian, jeruk dan juga pepaya di Indonesia.

Di Indonesia, mendapatkan buah-buahan ini memang tidaklah mudah dan tidaklah murah. Tapi seperti saya sebut di atas, ada buah-buahan lain yang ‘lebih lokal’ dan lebih mudah didapatkan.  Berries mungkin saja disebut sebagai buah super, tapi sebenarnya buah tropis seperti pepaya dengan enzim papain-nya juga gak kalah supernya kok, plus harganya murah. Satu hal yang perlu disyukuri oleh ibu-ibu di Indonesia, walau tak punya berries murah, Indonesia punya matahari dan matahari ini memberi vitamin D. Disini anak-anak usia 1  hingga 3 tahun itu banyak sekali yang mengalami kekurangan vitamin D. Jadi, count your bless.

https://www.instagram.com/p/BBFzgI6QxlO/?taken-by=binibule
Modyar aja kan kalau ibu-ibu disini pengen beli buat tropis.

Begitu juga dengan salmon, di sini, salmon adalah ikan lokal yang mudah didapatkan dalam kondisi segar dan lagi-lagi harganya murah. Satu ikan salmon utuh misalnya dijual dengan harga 12€. Tuna sendiri sedikit lebih mahal, kalaupun ada tuna murah biasanya tuna dalam kaleng. Sepengen-pengennya ngasih makan salmon, kalau kata saya sih mendingan gak usah, selain mahal, juga karena salmon yang di Indonesia itu sudah tak begitu segar. Ikan-ikan ini sudah menempuh perjalanan jauh dari Norwegia, jadi mendingan beli ikan lokal yang memang baru saja di panen dari lautan Indonesia. Soal keju tak perlu dibahas lah ya, sudah bukan rahasia lagi kalau makanan berbasis susu adalah makanan yang kurang sehat, walaupun rasanya enak.

Kedua soal bayi-bayi makan sendiri dan gak berantakan. Aduh ini video bohong bener deh. Ponakan saya yang umurnya tiga tahun pun biar dikasih makanan yang sudah dipotong kecil-kecil, dipasangin bip, juga masih berantakan sampai di lantai. Tapi proses belajar makan sendiri gak berhenti karena lantai berantakan dan mereka tetap disuruh makan sendiri. Sementara ponakan lain yang umurnya hampir setahun belum bisa makan sendiri, apalagi makan pakai sendok. Kalaupun megang sendok biasanya dibuat mainan aja. Bukan berarti dia gak diajarin makan sendiri, tetep diajari dengan memberikan makanan yang dipotong kecil-kecil supaya bisa langsung masuk ke mulut. Nah pertanyaannya Ibu-ibu di Indonesia bisa sabar dan telaten kalau lihat makan berantakan di meja dan di lantai? Ada juga gemes karena makanan terbuang lalu ngomel-ngomel.

Baby covered in spaghetti

Photo: huffington post

Ada satu lagi komentar ipar saya yang bikin saya ngakak kencang, soal dapur-dapur bersih à la katalog IKEA yang seperti tak ada kehidupannya. Ia juga berkomentar soal para ibu-ibu yang langsing, sempet dandan cantik dan rambutnya halus. Untungnya ipar saya sadar kalau para ibu-ibu ini cantik karena mau nongol di video youtube. Tapi selain itu ada satu hal yang mesti dipahami, dapur-dapur di sini cenderung bersih karena kecil dan begitu selesai masak langsung dibersihkan. Ditambah lagi, dapur disini tidak dipakai goreng terasi dan gorengan-gorengan lainnya yang minyaknya menyebar kemana-mana. Jadi bersih, gak berminyak. Ibu-ibu ini juga bisa segera mengecil, selain karena ngurus rumah tanpa pembantu pekerja juga karena pakai usaha ke gym. Patut dicatat, bapak-bapak juga sering ikutan bersih-bersih rumah. Jadi ya monggo itu bapak-bapaknya disuruh ikutan bersih-bersih rumah supaya ibu-ibu bisa segera ke gym.

Di akhir postingannya ipar saya berdamai dengan kenyataan bahwa meniru makanan bayi bule itu memerlukan seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah per hari (Oh I love you adik Ipar). Ipar saya juga berdamai dengan kenyataan bahwa keponakan saya yang lucu adalah bayi Jawa yang lebih cepat disuapi nasi kuah kaldu, wortel dan bayam sembari digendong kain jarik sambil nonton kucing di teras #IndonesiaBanget. Bayi Irlandia mana bisa digendong di teras, selain harus dibungkus dengan baju berlapis, juga karena nyuapin di teras itu dingin. Lagipula disini tak ada kebiasaan makan sambil berdiri, semua duduk di kursi bayi atau di stroller.

Kesimpulannya, rumput tetangga tak selamanya lebih hijau dan percayalah, luar negeri tak selalu sebagus di video-video youtube itu. Jadi jangan berkecil hati karena makan makanan Indonesia dengan gaya Indonesia. Buah dan sayuran lokal kita toh sebenarnya tak kalah bermutu, walau tak bisa dipungkiri nyari buah lokal di Indonesia itu susah, karena pasar buah kita sudah tergempur dengan buah dari Cina yang murah dan kualitasnya dipertanyakan.

Btw, sudah tahu kan kalau hari Senin adalah hari terlarang untuk beli salmon di Indonesia?

xx,
Tjetje

Label Jelek Untuk Janda

Akhir tahun lalu jagat pergosipan di Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Mulan Jameela yang mengadakan wawancara dengan Dedi Cobuzier. Inti bincang-bincang itu ada dua, pertama minta maaf ke Maia  dan yang kedua soal haters yang punya banyak waktu untuk komentar ajaib di IGnya Mulan  Komentar-komentar di IG Mulan itu sadisnya gak karu-karuan, bahkan bawa-bawa almarhum ibunya. Coba deh kalau punya waktu iseng-iseng bacain.

Tapi benang merah yang saya baca, para haters ini kesel luar biasa karena Mulan mengawini Dhani yang pada saat itu belum bercerai secara resmi dari Maia yang merupakan bekas partner Mulan bernyanyi. Label perusak rumah tangga pun semakin kencang di tempelkan pada Mulan. Padahal siapa yang tahu kalau rumah tangga tersebut mungkin sudah rusak dan guncang ketika Mulan datang. Perbincangan itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah tulisan saya yang tak kunjung usai, tentang janda dan ketakutan masyarakat kita.

Tidak bisa dipungkiri masyarakat kita, terutama di daerah yang tidak terlalu individualis, banyak yang tidak menyukai dan ‘takut’ pada janda. Takut jika rumah tangga mereka mendadak menjadi berantakan karena ada janda yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Ketakutan ini tak hanya kepada janda cerai saja tetapi juga janda mati dan akan semakin menjadi-jadi ketika janda tersebut cantik, masih muda dan tak punya anak, atau biasa disebut sebagai janda kembang.  Herannya, ketika ada anak gadis orang yang cantik, masyarakat cenderung tak terlalu takut pada anak gadis ini. Mungkin masyarakat kita menyamakan janda dengan vampire, vampire memangsa darah sementara janda memangsa laki orang.

Ketakutan-ketakutan ini juga dipupuk oleh media televisi melalui adopsi tayangan-tayangan di televisi yang menggambarkan kecemburuan berlebihan ketika seorang pria yang sudah kawin berbicara dengan janda. Cuma berbicara doang lho ya. Seringkali kemudian para istri tersebut menjadi sangat cemburu dan berakhir dengan adu mulut atau bahkan adegan murahan saling menarik rambut.

Lucunya, yang ditakuti tak hanya janda saja, tetapi juga anak-anak janda. Ibu-ibu insecure banyak yang cemburu kalau kalau suaminya ngobrol ataupun memberi perhatian pada anak janda. Takut jika bapaknya jatuh cinta pada anak tersebut dan buntutnya tertarik mengawini ibunya.

Janda tak hanya kurang disukai dalam lingkaran ibu-ibu insecure, tapi juga seringkali tidak disukai oleh calon ibu mertua. Ibu-ibu yang memiliki anak lajang seringkali berang ketika tahu anaknya berpacaran dengan janda. Seringkali ibu dan kadang bapaknya, enggan memberikan restu karena malu jika harus memiliki menantu janda. Rasa malu ini biasanya berangkat dari pemikiran yang menyamakan janda dengan barang yang sudah terpakai. Menyedihkan memang di jaman abad 21 ini masih ada yang menganggap manusia seperti itu. Tak hanya soal restu, orang tua juga biasanya seringkali menganggap anaknya tak kompeten karena tak bisa mencari anak gadis. Padahal cinta tak mengenal status, mau janda, mau duda, mau lajang, semuanya bisa ditembak cupid kapan saja.

Janda baik itu yang kawin ataupun yang cerai sering kali dilabeli hal-hal buruk seperti pengeruk uang, perebut suami, simpanan, tukang guna-guna laki orang dan banyak label jelek lainnya. Herannya label-label negatif terhadap janda ini tak diberikan kepada para duda, baik itu duda yang istrinya meninggalataupun duda yang bercerai. Nampaknya masyarakat kita jauh lebih bersimpati kepada para duda ini, sehingga memunculkan istilah duren, ataupun duda keren. Padahal jaren – janda keren, atau jantik – janda cantik juga banyak. Kalau begini harus diakui masyarakat kita memang masih seringkali tak adil pada perempuan, apalagi terhadap janda.

divorce marriage

Jumlah angka perceraian di Indonesia naik setiap tahunnya dan otomatis jumlah janda dan duda semakin meningkat. Perempuan-perempuan masa kini tak takut lagi untuk menjanda,  selain karena kemandirian ekonomi juga karena adanya keberanian untuk meninggalkan perkawinan tak sehat. Bagi saya, perempuan yang berani meninggalkan perkawinan yang tidak sehat harusnya diberikan acungan jempol karena butuh nyali untuk melakukan hal tersebut. Apalagi dalam lingkungan yang  masih sering takut pada janda. Tugas kitalah sebagai anak-anak muda untuk berhenti takut dan berhenti memberi label negatif kepada janda.

Di lingkunganmu, adakah kekejaman mulut pada janda?

Xx,
Tjetje

Pengguna Internet Kejam?

Pernah dengan tentang #HasJustineLandedYet? Hashtag ini muncul pada tahun 2013 setelah Justine Sacco, seorang PR dari sebuah perusahaan di New York menulis twitter yang offensive. Bunyi tweetnya saat itu seperti ini:

Justine Sacco

Twit itu dituliskan ketika ia sedang menunggu penerbangan lanjutan dari London ke Afrika Selatan. Ketika kemudian twit itu menjadi viral, karena dipopulerkan oleh BuzzFeed, Justine sedang berada di atas pesawat dan tak bisa membela dirinya. Wah bisa dibayangkan keriuhan yang terjadi di twitter, ancaman mati pun dilayangkan ke Justine. Tak lama setelah Justine mendarat, dia dipecat dari pekerjaannya dan dunia pun bersorak-sorak menikmati kemenangan. Satu penjahat virtual berhasil dilumpuhkan. 1-0.

Kasus serupa tapi tak sama baru-baru ini terjadi dengan Holly Jones, seorang penata rambut di Amerika yang marah-marah karena urusan tagihan di sebuah bar tempat dia merayakan tahun barunya. Holly Jones kemudian memuat keluhan di Facebook bar tersebut sambil ngomel-ngomel tentang pengalaman tak mengenakkan di bar tersebut apalagi ketika seseorang ditandu keluar dari bar tersebut. Ia yang kepalang emosi menuduh orang yang ditandu tersebut adalah pengguna narkoba yang overdosis. Ternyata oh ternyata, yang ditandu adalah seorang nenek-nenek yang mengalami sakit jantung. Ya sudah bayangkan saja betapa marahnya para pengguna internet terhadap Holly.

holly-jones

Akun facebook Holly kemudian dihapus dan Holly mengatakan bahwa akunnya dibajak (ya kaleee…). Dan yang paling parah, laman Facebook salon tempat Holly bekerja dibombardir dengan tekanan-tekanan untuk segera memecat Holly. Konon si Holly sudah dipecat karena keluhannya ini.

Screen Shot 2016-01-09 at 16.54.12

Di Indonesia sendiri, kasus mirip pernah terjadi dengan Florence Sihombing, mahasiswa UGM yang berkicau tak enak tentang Yogyakarta di Path. Florence, harus menghadapi hukuman dari kampus dan diseret ke pengadilan karena menjelek-jelekkan orang Yogyakarta. Kasus ini kemudian berlanjut dan  tahun lalu ia dihukum percobaan selama enam bulan. Dalam kasus Florence tak ada pemecatan dari pekerjaan, tetapi langkah besar untuk membawa Florence ke pengadilan berhasil menempelkan  catatan tak mengenakkan yang tak hilang seumur hidup.

Dari kejadian tersebut bisa dilihat bahwa internet dan penggunanya bisa menjadi ‘ruang yang kejam’ ketika berhadapan dengan orang yang mengatakan hal-hal yang salah ataupun dianggap salah. Tak ada ruang dan celah untuk bisa melenggang meminta maaf seperti layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Mendadak definisi keadilan yang baru bagi para pengguna internet yang berbuat salah adalah kehilangan pekerjaan, kembali ke level terdasar dalam karir dan hidup hancur berantakan.

Seperti biasa saya kemudian bertanya mengapa para netizen berubah menjadi monster yang senang dan mau berkontribusi terhadap kehancuran hidup orang lain? Jawaban yang tepat mungkin karena internet memberikan ruang bagi orang untuk bisa berekpresi marah tanpa takut kehilangan muka dan tanpa takut dihakimi orang lain. Internet memberikan ruang kebebasan untuk bisa berkomentar dan melepaskan marah kepada siapa saja yang sdianggap lah. Dan tentunya muncul norma untuk bersama-sama menghujat sang pendosa; kekuatan bersama inilah yang kemudian akan menjatuhkan orang-orang yang bersalah.

Tapi sepadankan hukuman yang diberikan kepada orang-orang tersebut? Kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, malu tak karuan, belum lagi tak bisa tidur dengan nyenyak dan  dikenali orang. Jeleknya, mereka dikenali dengan cara yang kurang baik dan dengan label yang kurang baik.  Salah sendiri memang. Tapi, tidakkah mereka layak mendapatkan kesempatan kedua, diberi kesempatan untuk belajar dan mungkin pengampunan? Entahlah, mungkin kasus-kasus tersebut menjadi moment belajar bagi mereka.

Yang jelas setelah melihat kasus-kasus itu saya jadi belajar untuk semakin berhati-hati dalam mengekspresikan diri dan tentunya, berusaha untuk menjadi lebih baik. Pada orang-orang seperti Holly Jones sekalipun, karena mereka adalah manusia yang tak luput dari  kesalahan. Sama seperti kita semua.

Xx,
Tjetje

Baca juga: Belajar dari kasus Florence Sihombing

Komentar Ajaib

Punya blog itu enak gak enak, seru gak seru. Di satu sisi kita bisa berbagi pikiran dan pendapat, tapi disisi lain ada pendapat dan komentar yang kadang gak enak dibaca dan gak enak dilihat. Untungya ya, saya ini bukan Syahrini ataupun Mulan Jameela yang dihujani dengan komentar gak enak secara rutin. Jadi komentar ajaib-ajaib ini hanya muncul sesekali.

Lucunya komentar-komentar ini seringkali berlindung didalam jubah anonim. Eh halo…. jaman sekarang jadi anonim itu susah, ada teknologi yang bisa mencari jejak komentator. Belum lagi ada tombol spam yang bisa dengan mudahnya dipencet dan memudahkan proses screening komentar di masa depan. Selain pencet tombol spam, saya biasanya juga repot mengalisa lebih jauh mengapa orang-orang ini berkomentar aneh-aneh.

Di postingan tentang “dear bule hunter” disini, saya menuliskan tentang jemuran yang kesiram hujan dan akibatnya berbau apek. Disiram Chanel no. 5 seember pun bakalan bau apek. Nah salah satu orang di Indonesia sana berkomentar kurang lebihnya: “Gak punya dryer ya?”. Komentar persisnya saya tak ingat karena keburu saya tandai SPAM. Tapi dibaca dari tonenya, sang penulis terlihat sekali ngenyek atau menghina karena saya tak punya dryer.

Dihina karena dianggap tak punya dryer itu bukan hal yang penting. Saya memang gak punya dan gak pernah beli dryer. Kalaupun ada dryer di dapur, itu juga bukan hasil keringat saya jadi saya gak bisa klaim. Sekalian saya tambahin informasi biar ada bahan untuk ngenyek, saya di Irlandia juga gak punya rumah, kulkas, kompor, mesin cuci, mangkok, serbet, keset, dan makin panjang lagi daftarnya. Lha wong saya datang ke negara ini hanya bermodalkan koper yang berisikan buku-buku, tas, pakaian, sepatu seadanya saja.

Di balik komentar pendek tersebut, saya melihat sebuah kesombongan dan penghinaan terhadap kemampuan ekonomi orang lain. Betapa materialistisnya orang-orang di sekitar kita dan betapa dangkalnya cara menilai orang lain, apalagi yang tak memiliki apa-apa. Jadinya jangan heran kalau dalam lingkungan seperti ini ada orang-orang tak punya yang tak kuat iman sehingga memaksakan diri untuk terlihat kaya dan supaya lebih dihargai, bahkan hingga kartu kreditnya jebol.

Ada lagi komentar lain yang sampai sekarang gak saya approve karena emailnya abal-abal, walaupun IPnya gak bisa bohongIsinya begini:

menurut gue sih ada baiknya kalo istri-istri bule yang tinggal di indo, dandan yang cakep dong. jadi stigma istri bule mukanya kayak pembokat bisa ilang.
nggak cuma dandan cakep tapi elegant terus juga berpakaiannya mode yg lagi trendy.
jadi biarpun misalnya punya muka standart tapi setidaknya ditolong dengan dandanan yg manis dan baju oke, otomatis siapapun jadi respeklah.

ditempat gue bermukim di negara suami(bule); rata-rata perempuan bule juga pada modis loh sehari-hari. nggak ngasal. kalo dandan & pakaiannya ngasal, biasanya mereka juga jadi malu sendiri karena perempuan yang lain pada berusaha agar terlihat uptodate.

kalo di indo ada baiknya perempuan indo juga gitu deh. nggak perlu mahal-mahal bajunya yg penting dandannya oke tapi elegant.

gue sendiri beruntung punya muka diatas standard &modis trendy ….cieeee…gubrak…., jadi nggak ada dan mudah2an selamanya nggak ada label2an spt diatas.

artikelnya bagus loh..

Jreng-jreng…….muka pembantu pekerja rumah tangga dibahas lagi. Nampaknya masih ada orang-orang yang tak mengetahui bahwa PRT jaman sekarang itu penampilannya luar biasa dan dandanan mereka juga keren. Pola pikir yang masih menyuruh-nyuruh orang untuk dandan menurut saya tak menyelesaikan masalah. Orang kan gak setiap saat bisa dandan dan gak semua orang juga mau dandan. Menurut pemikiran saya, yang harus dirubah bukan dandanan orang lain, tapi pola pikir kita dalam menghargai orang lain. Orang harusnya dihargai karena mereka adalah manusia, bukan karena make up yang mereka tempelkan di kulitnya. Tapi sekali lagi di Indonesia orang memang sangat dinilai dari penampilan, biar kata gayanya selangit dengan dandangan heboh, dan kartu kredit yang sudah di ambang limit, pasti lebih dihormati. Sementara yang tak dandan dan duitnya banyak tak bakalan dilirik.

Screen Shot 2016-01-09 at 23.03.31

Photo: polyvore

Ada satu lagi komentar-komentar ajaib dari satu orang di postingan saya tentang pamer tas bermerek. Nah ini satu ngebom postingan saya dengan banyak komentar. Pendek kata komentar-komentar tersebut kalau digabungkan bakal jadi satu postingan tersendiri. Nggak perlu dikutip disini lah ya, tapi silahkan dibaca sendiri komentar-komentar di postingan lama tentang pamer tas bermerek tersebut. Hitung-hitung untuk menghibur diri.

Sering terima komentar ajaib di blog?

xx,
Tjetje

Catatan Kecil dari Serangan Sarinah

Kamis pagi itu waktu Dublin saya kaget luar biar ketika mendengar ada ledakan bom di Sarinah, Jakarta. Pikiran saya langsung melayang ke sebuah gedung tempat banyak kolega, kenalan dan juga teman-teman saya bekerja. Tak hanya teman-teman, saya juga teringat para penggerak ekonomi pagi hari di sekitar Sarinah. Abang gorengan, tukang taksi, tukang bajaj, tukang palak supir taksi (supir taksi kalau angkut penumpang dari daerah tersebut harus bayar) dan pekerja informal lainnya.

Saat itu saya membayangkan akan ada banyak korban karena kepadatan lokasi. Ternyata,  Polisi Indonesia bekerja dengan cepat di area ring 2 ini sehingga jumlah korban dapat diminimalisasi. Bravo banget deh Polisi Indonesia yang bergerak cepat dan sigap untuk mengamankan lokasi dan melumpuhkan korban. Tentunya Polisi Indonesia tak bisa dibandingkan dengan Polisi di Irlandia yang modalnya cuma pentungan sama semprotan merica.

Dari serangan di Starbucks dan juga di Sarinah itu, saya melihat masih banyak sekali perilaku-perilaku negatif  yang bermunculan di sosial media, dari mulai nyebarin berita tanpa ngecek dahulu (e.g kematian WN Belanda yang bekerja di UN padahal ybs masih hidup), media bikin berita hoax, foto-foto korban yang berceceran di sosial media bahkan selfie. Konon saking banyaknya yang selfie sampai Polisinya ngeluh. Ah Indonesia.

  

Tapi di sisi lain, banyak sekali hal-hal positif yang bermunculan dari mulai inisiatif Jakarta Safety Check,  Gojek yang gratis, hingga yang nawarin nebeng. Bom kemarin juga memunculkan hashtag kontrovesial #KamiTidakTakut.  Bagus sih, ketidaktakutan pada teroris memang harus dipupuk untuk menggagalkan tujuan teroris. Tapi ada baiknya juga dalam kondisi seperti ini untuk menyegarkan kembali ingatan tentang hal-hal yang mesti dilakukan dalam kondisi emergency supaya tidak menambah korban dan bikin tugas aparat semakin rumit.

Ada beberapa tips sederhana dari saya yang ada di kepala dan kebetulan saya ingat. Menghindari bom dan baku tembak tentunya tak semudah ini, tapi semoga tips sederhana ini bisa berguna untuk merubah kebiasaan kita:

  • Buat kebiasaan untuk tahu dimana pintu keluar alias emergency exit. Ini kebiasaan penting supaya segera tahu kemana harus keluar, tak hanya kalau ada bom dan baku tembak tapi juga bencana lain, termasuk kebakaran.
  • Hindari duduk di dekat jendela. Apalagi jika jendela tersebut dekat dengan alur lalu lintas kendaraan. Memang sih duduk di jendela menyenangkan bisa lihat orang lalu lalang, tapi begitu ada apa-apa, kaca jendela itu kalau pecah, jadi kecil, masuk kulit. Aduh mak gak kebayang deh gimana ngebersihinnya.
  • Jika ada ledakan dan bisa lari menghindar, lari menghindar. Gak usah ngetweet dulu ya, lari aja dulu. Nanti kalau sudah selamat baru ngetweet. Gak usah repot bawa barang-barang berharga juga, tinggal aja! Jika sepatu, apalagi kalau hak tinggi, mengganggu juga lepas aja. Prinsipnya sama kayak lari dari pesawat, barang berharga mesti ditinggal.
  • Jika kemudian ada baku tembak seperti di Thamrin kemarin, lari juga, jangan repot nonton dan membuat kerumunan. Kalau gak bisa lari sembunyi.
  • Kenapa gak boleh repot nonton dalam kejadian bom dan juga tembakan kemarin? Ini logika banget, selain menghindari peluru nyasar juga karena kita harus selalu mengasumsikan ada ledakan kedua dan kerumunan adalah target paling bagus. Ya kebayang kalau di antara orang nonton kemarin  itu tiba-tiba ada bom meledak lagi, berapa banyak korbannya? Aparat tambah repot pula kan?
  • Kalau mau nolong orang, tolong tapi hanya jika memungkinkan dan jika orangnya tidak dalam kondisi terluka parah. Di Indonesia ada kebiasaan orang terluka, apapun kondisinya pasti dipindahkan, apalagi kalau tabrakan. Padahal ya, memindahkan korban itu bisa bikin kondisi makin parah. Niatnya baik, malah nyakitin atau bahkan ‘membunuh’ orang.
  • Speed dial nomor-nomor penting di handphone (e.g Polisi, pemadam kebakaran, ambulans).

Manusiawi kok jika manusia itu penasaran terhadap sebuah kejadian, tapi bukan berarti rasa ingin tahu yang besar ini harus mengalahkan kewaspadaan. Berani sih berani, tapi juga bukan berarti nekat untuk nonton kemudian menantang maut. Btw, ada sebuah artikel menarik yang ditulis Kompas Minggu kemarin, menurut penulis, orang Indonesia itu pasrah dan nrimo. Tapi ya, apa sepadan kalau kemudian jadi korban karena nonton baku tembak. Entahlah, tapi lebih baik kita sama-sama belajar tanpa menunggu ada yang tak sengaja tertembak.

Dalam kondisi seperti di Sarinah kemarin, apa saja hal-hal yang akan kalian lakukan?

xx,
Tjetje

Cerita dari Supermarket

Salah satu kegemaran saya jika berkunjung ke negara-negara baru adalah mengunjungi supermarket dan pasar untuk melihat barang-barang yang mereka jual. Terkadang saya tak membeli apa-apa, hanya sekedar mengitari untuk melihat produk-produk yang ditawarkan dan tentunya membanding-bandingkan harga. Tapi seringkali kebiasaan ini berakhir dengan belanja camilan-camilan dan sabun mandi. Camilan dan sabun mandi bisa langsung dihabiskan dan tak perlu dibawa pulang.

Dari berbagai negara yang saya kunjungi supermarket yang paling ‘berkesan’ bagi saya ada di Nha Trang, Vietnam. Saya diteriaki satpam ketika masuk supermarket membawa tas. Teriakan tersebut dalam bahasa Vietnam tanpa henti yang tentunya tak saya pahami sama sekali. Rupanya, sama seperti di Indonesia, tas harus dititipkan. Tapi saat itu saya berhasil bikin satpam keki, karena tas saya berisi kamera, lensa dan dompet yang tentunya tak bisa dititipkan.

Kendati di Indonesia penitipan barang masih diwajibkan, beberapa supermarket di Jakarta seperti Ranch Market sudah mulai tak peduli jika pengunjung membawa tas-tas besar. Saya bahkan sering melenggang dengan tas gym super besar untuk berbelanja. Sementara supermarket Perancis, Carrefour, sering memberi cellotape untuk ‘mengunci’ tas-tas yang dibawa pengunjung. Perubahan perilaku ini mungkin karena petugas keamanan sudah lebih percaya terhadap konsumen, atau karena gerak-gerik sudah dipantau CCTV. Lagipula kalau mau mencuri, tak perlu bawa tas besar yang menyolok, cukup modal kaki saja untuk mengapit kaleng-kaleng susu. Eh…

Supermarket di Indonesia, bagi saya sangat identik dengan budaya mencicipi buah-buahan. Kebiasaan mencicipi ini akan sangat terlihat apabila buah-buahan yang dijual adalah kelengkeng. Wah bisa dipastikan banyak orang yang berkerumun, membungkus kelengkeng sambil tak berhenti “mencicipi”. Tentu saja kelengkeng yang dimasukkan mulut tersebut tak dibayar dan tak ada satpam yang menegur. Entah kenapa orang-orang suka sekali mencicipi kelengkeng, mungkin karena mudah dimasukkan mulut juga karena harganya yang “relatif lebih mahal”.

Tak seperti di Indonesia, di Dublin mencicipi beresiko ditegur satpam. Beberapa bulan lalu saya melihat ibu-ibu yang memasukkan tangannya ke dalam wadah kacang almond dan mengambil segenggam almond. Ternyata segenggam almond tersebut memang tak direncanakan untuk dibayar, tapi untuk dimakan. Hebatnya, petugas pengaman pun langsung menegur dan memberikan plastik sebelum kacang tersebut masuk mulut. Ketika anak laki-laki ibu tersebut datang, perang mulut pun terjadi antara si anak dengan petugas keamanan. Anak laki-laki itu menuduh petugas rasis, karena mereka imigran berkulit hitam. Ya kale gak ada hubungannya kali. Lagian itu almond dikeruk gitu aja pakai tangan, jorok.

Sama seperti di Indonesia, disini orang menggunakan troli untuk mengangkut belanjaan. Bedanya, troli baru bisa digunakan setelah menyelipkan koin satu atau dua Euro. Jika sudah selesai menggunakan, para pengguna troli bisa mengembalikan di tempat semula dan koin bisa diambil kembali. Di Irlandia, mempekerjakan orang untuk mengumpulkan trolley tentunya tak murah, tak seperti di tanah air. Repotnya, jika kebetulan mau belanja dan tak punya koin mesti menukarkan koin dulu. Makanya saya sekarang mengakali dengan membeli gantungan kunci dengan koin berukuran sama. Di Indonesia, orang seringkali malas mengembalikan troli dan meninggalkan begitu saja di tempat parkir, tapi menurut saya konsep koin ini tak bisa digunakan karena koin di Indonesia nilainya tak seberapa. Mungkin supermarket mesti menciptakan koinnya sendiri untuk dibeli para pengunjung.

Seperti pernah saya tulis disini, plastik di Irlandia tak diberikan gratis. Makanya banyak orang yang membawa tas belanja sendiri. Selain membawa tas belanja dari kain, atau dari plastik yang agak kuat, banyak juga yang membawa shopping trolley. Shopping trolley ini banyak digunakan orang-orang tua untuk belanja karena mereka tak perlu repot-repot mengangkut belanjaan. Saya sendiri mulai mengikuti trend belanja seperti nenek-nenek ini karena males angkut-angkut belanjaan. Tapi shopping trolley saya lebih keren dan lebih berwarna ketimbang punya nenek-nenek yang beroda empat dan kaku. Shopping trolley ini juga tak mudah untuk dinavigasi, selain karena berat juga karena rodanya cuma dua, jadi mesti dimiringkan dulu untuk ditarik. Jika sedang menarik troli ini saya seringkali teringat para abang sampah di Indonesia yang menariki gerobak di bawah teriknya matahari. Duh betapa beratnya beban mereka dan betapa kacaunya bau sampah yang belum dipilah-pilah itu.

Bulan Februari ini rencananya beberapa kota besar di Indonesia akan mulai berdiet dengan plastik. Wah ini berita super baik. Setidaknya mulai sekarang para pedagang di Instagram bisa mulai berlomba-lomba menjual tas belanja yang cakep. Kalau perlu para fakeshionista di Indonesia juga bisa mulai minta para pedagang di mangga dua untuk jualan versi KW shopping trolley Louis Vuitton di bawah ini. Shopping trolley ini dibandrol dengan harga 5000 dollar saja. Ya belanjaan sayur kangkung cuma dua ribuan masak tasnya lima ribu dollar.

LV shopping trolley

Bagaimana dengan kalian, sudah siap bawa kantong belanja sendiri?

xx,
Tjetje

Baca juga: Sampah Plastik

Tukang Telat

Satu hari di Malang saya janjian dengan seorang teman untuk sarapan pecel. Kami janjian bertemu jam 7 pagi. Janjian pukul 7, jam 6.50 saya baru bangun, karena saya yakin banget teman saya akan terlambat. Ternyata saya salah sangka, dia muncul lebih awal itupun sudah nyasar  ketika mencari rumah saya. Saya yang ketika itu sudah bergulat dengan ketidaktepatan waktu selama rentang hidup saya di Jakarta pun langsung terpukau dengan ketepatan waktu ini. Akibatnya bisa diduga, saya tak mandi demi makan pecel tumpang:

https://www.instagram.com/p/zYoVn-wxi8/?taken-by=binibule
Penampilan pecel di dalam pincuk kalah keren dengan gelas jadul, tapi rasanya jawara

Orang-orang yang tinggal di Jakarta memang terkenal tak bisa tepat waktu. Bukan hanya karena tak disiplin, tapi karena kondisi kemacetan luar biasa yang seringkali tak bisa diprediksi. Janjian makan  misalnya, bisa molor hingga satu atau bahkan dua jam. Menanti orang saat perut lapar itu tentunya siksaan. Makanya jangan heran kalau orang banyak yang makan dahulu sambil menunggu. Kebiasaan makan duluan ini bagi sebagian orang dianggap sebagai kebiasaan tak sopan dan tentunya bikin bule yang lagi ngedate ilfil. (Baca tips ngaco biar dipacari bule

Faktor lain yang membuat orang Jakarta sering terlambat adalah sistem transportasi yang amburadul dan tak bisa diandalkan. TransJakarta misalnya, tak jelas kemunculannya setiap berapa menit sekali. Belum lagi armadanya selalu penuh sehingga penumpang yang berjejal tak bisa memprediksi lama perjalanan. Cari taksi sendiri juga seringkali susah, apalagi pada jam-jam tertentu. Jaman Uber belum masuk, pengemudi taksi mau yang biru apalagi yang putih, juga sering belagu. Mereka seringkali menolak penumpang jarak dekat. Kondisi ini semakin parah saat hujan datang, jalanan tambah macet, taksi tambah susah, datang makin terlambat.

Saking terbiasanya dengan jam karet ini, saya pun seringkali sengaja terlambat. Janjian jam sebelas, ya jam sebelas itu saya baru mandi. Tinggal di jantung kota memberikan kemudaan akses bagi saya untuk bisa pergi ke berbagai tempat dengan cepat, apalagi di akhir pekan. Dengan gaya menerlambatkan diri seperti ini, saya masih sering datang lebih awal ketimbang yang lainnya. Kebayang kalau saya datang tepat waktu, bakalan garing di tempat janjian.

Jaman sekolah, saya termasuk pelajar yang disiplin dan selalu datang tepat waktu. Saat SMA kelas dua, saya pernah dua kali datang terlambat, dua-duanya disengaja. Kali pertama saya terlambat sepuluh menit sementara kali kedua, saya terlambat lebih dari sepuluh menit. Dalam dua kesempatan itu saya tak diperkenankan masuk ke dalam kelas dan harus menunggu di kantin sekolah. Tentunya sebelum dibebaskan dari pelajaran saya dihukum membersihkan sekolah dengan bulu ayam. Hukuman tak jelas yang hanya formalitas belaka karena sekolahan sudah dibersihkan. Oh ya, saat itu saya sengaja terlambat karena saya tak suka dengan pelajaran pada jam pertama, nggak usah dibahas lah ya mata pelajarannya apa.

Di Irlandia, saya kembali ke jalan yang benar, jalan tepat waktu. Transportasi disini bisa diprediksikan dengan baik. Jadwal tram dan jadwal bis sangat jelas, bahkan ada aplikasi yang bisa diunduh di gawai yang bisa menunjukkan kapan kendaran-kendaraan tersebut akan datang. Apesnya, jika ada masalah di tram, penumpang diminta turun dan harus cari alternatif transportasi lain. Waktu awal-awal pindah, saya suka panik sendiri kalau mengalami ini, selain karena takut terlambat, saya juga tak tahu mesti pergi ke arah mana dan naik bis apa. Sekarang saya sudah lebih tenang dan lebih nekat menaiki bis yang lewat.

https://www.instagram.com/p/BAcYPRMwxnG/?taken-by=binibule

Bagi saya, datang terlambat itu rasanya tak mengenakkan. Eh tapi tunggu dulu, ternyata di Irlandia ada: Irish Standard Time. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya: jam karet. Janjian ketemu di pub jam 9, jam 10 baru muncul. Begitu muncul, gak minta maaf karena telat, gak ngasih alasan dan gak ada yang peduli. Yang paling penting muncul dan having fun ketemu temen. Haiyah…sama aja kayak di Jakarta.

Bagaimana dengan kalian, suka telat?
Have a nice weekend!

xx,
Tjetje