Cerita Koran

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah diajarkan untuk membaca koran. Tentu saja saya tak begitu ingat dengan berita-berita yang dimuat pada saat jaman itu. Tapi saya ingat betul rutinitas kedatangan koran di rumah kami pada pukul dua siang. Pada saat itu Kompas, koran pilihan kami, belum dicetak di Jawa Timur sehingga koran pagi ini berubah menjadi koran siang di Jawa Timur. Beberapa kali terjadi keterlambatan yang menyebabkan koran baru tiba pada sore hari atau bahkan datang pada keesokan harinya.

Begitu koran datang, saya akan duduk di ruang tamu, mengangkat kaki ke kursi (kalau gak ketahuan) dan mulai membaca-baca berita. Jaman tersebut, pilihan berita di televisi sangat terbatas, sementara internet belum dikenal. Otomatis koran menjadi salah satu sumber berita pilihan. Kendati koran Kompas datang pada siang hari, Eyang Putri saya tak mau mengganti Kompas dengan media-media lokal yang terbit di pagi hari. Bagi beliau isi koran-koran lain tak menarik dan tentunya tak bermutu. Dan saya yang anak kencur tak paham kenapa  saya tak diperkenankan membaca koran lokal yang memuat berita-berita pembunuhan, kecelakaan dan juga berita ajaib lainnya yang lebih juicy dan dibicarakan orang banyak.

Ketika awal-awal pindah ke Jakarta, saya sempat tak berlangganan kompas dan hanya membeli edisi Kompas Minggu secara eceran. Sampai kemudian saya menemukan tukang koran dan mulai berlangganan. Lama-lama empet juga saya berlangganan dengan tukang koran di Jakarta, karena koran yang seharusnya lebih murah ketika berlangganan bulanan dibandrol dengan harga eceran dikalikan jumlah hari dalam satu bulan. Saya menyebutnya harga kreatif, dan di Jakarta tukang koran tak hanya kreatif dengan harga langganan tapi juga harga majalah. Tempo, misalnya, dijual di perempatan jalan dengan harga 59.000, lebih mahal 30.000 dari harga aslinya. Modusnya, harga asli dihapus dan ditimpa dengan bolpen. Kreatif dan rapi.

Saya kemudian membaca Kompas cetak  secara daring dan pada saat itu masih gratis. Sampai suatu saat  Kompas menetapkan biaya. Ketika internet dipenuhi koran-koran gratis, mana mau saya membayar. Kebiasaan mencari gratisan ini gak bertahan lama, karena baca koran gratisan itu tak enak. Berita yang ditampilkan kebanyakan kurang bermutu dan bahasanya acak-acakan. Parahnya, untuk mengejar jumlah klik dari pembaca, mereka memutus berita menjadi beberapa artikel yang sebenarnya tak perlu. Contohnya: ini rumah si korban, ini rumah pelaku, ini kata tetangga korban, ini kata teman sekolah, ini kata Kapolres, ini kata media sosial, begini begitu. Pembaca dibuat tertarik untuk terus menerus mengklik demi traffic, soal kualitas tak dipedulikan.

Akhirnya saya memutuskan berlangganan Kompas cetak online dan membayar secara tahunan. Tak hanya dapat hadiah, saya juga diberi kompas cetak. Enaknya berlangganan daring, saya bisa membaca berita-berita terkini dari Nusantara melalui handphone. Dan karena saya bermukim di Eropa, berita-berita tersebut bisa saya baca ketika orang-orang di Indonesia sedang terlelap. Seringkali berita-berita tersebut saya printscreen dan saya muat di Twitter.

Sahabat saya mengamati bahwa ketidakbiasaan saya dalam berpikir dan menganalisa banyak dipengaruhi oleh Kompas. Harus diakui bahwa analisis dan kualitas tulisan di Kompas memang sangat bagus. Tak hanya itu, bahasa Indonesia baku yang digunakan Kompas juga memperkaya kosakata saya. Walapun terkadang ada kosakata baru yang cukup membingungkan. Konon, halaman luar negeri Kompas juga wajib dibaca secara rutin bagi mereka yang ingin lolos tes menjadi PNS di Kementerian Luar Negeri. Testimoni salah satu sahabat yang sudah bolak-balik lolos tes tertulis, soal-soal tes memang sering keluar dari halaman tersebut.

Media memiliki peran kuat dalam membentuk karakter dan membangun cara bepikir kita. Tak heran, banyak orang-orang kaya dan politikus yang membeli media supaya bisa mengatur persepsi publik. Kontrol untuk memilih media terbaik, baik daring maupun cetak, sepenuhnya ada di tangan kita.  Jadi menurut saya, ada baiknya kita mulai membayar kembali koran yang kita baca untuk mendukung berita-berita bermutu dan tentunya untuk menikmati kembali kenikmatan membuka lembaran-lembaran koran di pagi hari. Koran toh tak begitu mahal, bahkan mereka yang tinggal di Jakarta bisa mendapatkan Kompas dengan murah di halte-halte TransJakarta pada pagi hari. The early bird gets the worms. Lalu saya mendengar mereka yang tinggal di luar Jakarta berteriak, gak adil kenapa lagi-lagi yang di Jakarta bisa dapat akses koran murah.

Masih baca koran cetak? Apa koran favoritmu?

xx,
Tjetje

 

 

Aneka Rupa Cerita Tentang Nama

Di desa-desa di Jawa, ada tradisi dan kebiasaan mengganti nama ibu-ibu menjadi nama suaminya. Istrinya Pak Edi  misalnya dipanggil menjadi Ibu Edi atau Nyonya Edi. Sementara di Papua, ada tradisi mengganti nama ibu dengan nama anak pertamanya. Jika anak tertua bernama Thomas, maka si Ibu berganti menjadi Mama Thomas. Satu kampung tahunya mama Thomas.

Kendati tradisi ini merupakan tradisi yang dipegang selama bertahun-tahun dan dilestarikan banyak orang, ada hal-hal yang kurang mengenakkan. Pertama, perempuan menjadi kehilangan nama yang diberikan sebagai hadiah (dan dibeberapa keluarga dianggap sebagai doa) dari orang tuanya. Selain itu, secara administrasi jadi menyusahkan. Ambil contoh ketika urusan surat harus dikirimkan dan alamat rumah tak lengkap karena sistem yang belum sempurna. Pak Pos pun bakal kerepotan karena tak tahu siapa sebenarnya Ibu Valensia, kecuali jika diberikan tambahan Mama Thomas.

Perubahan nama ini juga seringkali merepotkan di dunia sosial media. Bagi saya, yang paling mengganggu adalah ibu-ibu yang mengganti namanya menjadi Bundanya X, Ibunya Y, Mamanya Z, kemudian memasang foto profil dengan foto anaknya dan request friend di facebook.  Lha siapa yang bisa memperkirakan siapa kira-kira ibu dari anak-anak tersebut dan kemudian mencari data-data wajah dari masa SMP atau SMA. Aduh, aku kan bukan google image yang bisa cari wajah asli.

Kawin dengan orang asing sedikit banyak juga berurusan dengan kemungkinan pergantian nama keluarga. Saya sendiri tak berganti nama keluarga, karena seperti kebanyakan orang Indonesia dokumen-dokumen saya tak ada nama keluarga. Well, sebenarnya saya punya nama keluarga tapi nama keluarga ini tak pernah dituliskan di dalam dokumen-dokumen resmi. Jadi, saya pun mudah tinggal mengadopsi secara tidak resmi nama keluarga pasangan saya (kalau mau adopsi resmi mesti lewat pengadilan). Ketiadaan nama keluarga sendiri juga sempat merepotkan ketika pihak catatan sipil di Hong Kong melihat dokumen-dokumen saya. Lha bapak ini nampaknya belum ketemu Pak Suharto ataupun Ibu Suharti yang dagangan ayam enak itu.

Pergantian nama sendiri sebenarnya merupakan pilihan dan tak selayaknya menjadi paksaan, seperti di Jepang di mana perempuan diwajibkan mengganti nama keluarganya menjadi nama suaminya. Bagi banyak perempuan, mengganti nama keluarga itu menjadi satu hal yang berat karena nama keluarga merupakan identitas yang sudah melekat semenjak lahir. Perubahan nama untuk mengadopsi nama pria juga dilihat sebagai dominasi dan sisa jejak patriarkis. Tak hanya itu, pergantian nama juga dianggap merepotkan ketika terjadi perceraian. Makanya banyak perempuan yang tak mengganti nama keluarga, atau kemudian menggabungkan nama keluarga, seperti Jolie-Pitt. Di Spanyol sendiri wajib hukumnya untuk menuliskan dua nama keluarga dari pihak ibu dan  bapak. Jadi jangan heran kalau nama mereka kemudian menjadi sangat panjang.

last name

Bicara tentang nama tentunya tak bisa lepas dari salah pengucapan nama. Nama saya, Ailsa, yang sering salah diucapkan menjadi Ailisa, Alisa, Elisa, Eilisa, Aisyah, Aisah, Ashley, dan seribu satu salah ucap lainnya. Nama saya sebenarnya tak terlalu susah diucapkan, apalagi kalau dibandingkan dengan nama-nama Irlandia yang antara penulisan dan pengucapannya jauh berbeda. Ambil contoh nama Saoirse, pemeran utama film Brooklyn, yang namanya salah diucapkan pada saat nominasi Golden Globe. Saoirse sendiri dilafalkan sebagai Seer-sha. Kalau kata Ryan Gosling, “It’s Seer-sha like inertia”.

Masih banyak lagi nama-nama Irlandia yang penulisan dan pengucapannya jauh berbeda. Beberapa di antaranya saya list disini:

Caoimhe      : KEE-va atau KWEE-va

Siobhan       : shi-VAWN

Sadhbh         : Sa-iv

Aoife             : EE-fa

Ciara             : KEE-ra atau KEE-ar-a

Maeve          : Mayv

Niamh          : Nee-av atau NEEV

Sinéad          : Shi-NAYD

Daithi           : DAH-hee

Eoin              : O-in

Oisin             : UH-Sheen atau O-sheen (persis karakter film Jepang itu)

Seamus        : Shay-mus

Cian               : Kee-an atau KEEN

Nah karena saya sudah merasakan betapa gak enaknya dipanggil seenak udelnya orang, saya berusaha keras untuk bisa belajar mengucapkan nama-nama tersebut dengan benar. Tapi yang jelas, saya belum pernah mendengar orang Irlandia yang mengganti namanya karena keberatan nama.

Bagaimana dengan kalian, punya cerita seru tentang nama?

Mengapa Mengajak Bule Kawin Itu Susah

Pertanyaan susahnya mengajak bule ke pelaminan merupakan pertanyaan populer yang sudah pernah saya bahas sekilas di postingan ini dan juga pernah dibahas beberapa blogger seperti Mbak Yoyen dan Noni. Tapi pertanyaan ini tak pernah basi dan herannya masih sering ditanyakan. Saya melihat, penanya biasanya sedikit frustasi karena pasangannya yang orang asing enggan untuk untuk segera mengikat janji. Saya mencoba merangkum dan membahas beberapa hal yang saya anggap sebagai alasan untuk merusak hubungan dan tentunya menghambat proses hubungan percintaan naik ke pelaminan. Perlu dicatat, saya bukan ahli yang berhasil mengajak banyak pria asing ke pelaminan, ini murni hasil observasi iseng-iseng saya dan mendengarkan beberapa curhatan kawan-kawan ekspat saya di Jakarta.

Baru kenal udah cepet-cepet ngajak kawin

Di Indonesia, perkawinan memang menjadi sebuah tujuan hidup dan pencapaian. Tak heran mereka yang memiliki pacar biasanya punya satu tujuan dan berlomba-lomba untuk segera minta dikawini. Kadang-kadang, disertai ultimatum putus jika janur kuning tak segera dilengkungkan. Bagi banyak pria-pria asing, hal-hal seperti ini membuat mereka mundur. Pertama, mereka mundur beberapa langkah, kemudian setelah dinilai aman, mereka akan lari terbirit-birit tak menoleh lagi ke belakang. Apalagi jika hubungan tersebut baru seumur jagung.

Salah satu argumen yang sering digunakan untuk urusan kawin ini adalah soal keseriusan atau tidak. Jika dalam usia hubungan yang baru hitungan bulan itu tak segera diajak kawin, maka si pria dituduh tak serius.  Ya ela, padahal di banyak negara, kawin itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan menandatangani secari kertas. Ada tahapan-tahapan dulu yang seringkali melibatkan tinggal bersama sebelum memutuskan bahwa mereka adalah pasangan yang benar-benar cocok. Kawin dimana-mana tak murah dan cerai, lebih nggak murah lagi. Jadi banyak yang kemudian sangat berhati-hati. Dipikirkan baik-baik dan pilihan pun perlu dimatangkan dulu. Makanya jangan heran kalau banyak yang kabur kalau dipaksa-paksa kawin cepet.

Nyuruh pindah agama

Urusan agama di Indonesia memang ribet. Negara tak mengakui perkawinan beda agama.  Satu-satunya yang saya tahu memperbolehkan perkawinan beda agama adalah gereja Katolik, dengan perjanjian anak-anak yang lahir akan dibesarkan secara Katolik. Tapi kawin di gereja pun tak mudah, karena secara administrasi perkawinan masih harus dicatatkan menjadi satu agama. Karena sistem adminsitrasi dan juga agama yang melarang perkawinan beda agama, banyak yang kemudian meminta atau bahkan pasangannya untuk pindah agama. Jika pasangan tak mau pindah agama dituduh tak cinta, sementara dirinya sendiri yang mengklaim mencintai pasangan gak mau pindah agama. Double standard jadinya.

Cerita bule-bule pindah agama memang banyak, banyak juga yang sukses menemukan kedamaian di agama barunya. Good for them. Tapi banyak juga yang susah diajak memeluk atau pindah agama, apalagi mereka yang atheis atau yang besar di negara yang sangat relijius dengan satu agama.

Bicara tentang pindah agama jadi mengingatkan saya pada beberapa orang asing  yang sakit hati luar biasa karena urusan sunat maksa. Bagi orang dewasa, pindah agama itu tak mudah, apalagi kalau harus diikuti keputusan memotong bagian dari kelamin. Memotong kulit ini memang tak semudah motong kuku, jadi diperlukan pendalaman agama dan pendalaman agama itu butuh proses, tak instan. Tapi ada kasus-kasus dimana keluarga tak memikirkan perasaan si pria, lalu si pria tiba-tiba dijebak dan diserahkan ke dukun sunat. Modyar, tanpa ba bi bu keluar dari ruang dukun sunat sudah kehilangan secuil anggota tubuh ditambah lagi dengan rasa nyeri. Kebayang gimana jengkelnya? gondoknya membekas sampai sisa hidup!

Minta duit

Topik lama, tapi layak diulang kembali biar banyak yang tahu kalau minta-minta duit sama bule itu bikin susu sebelanga rusak semua. Banyak orang asing yang lama-lama gerah juga kalau masih pacaran sudah dijadiin sapi perah, buntutnya sebagian perempuan Indonesia jadi identik dengan tukang minta-minta, apalagi minta duit untuk ngasih keluarga, encing, babah, tetangga dan juga temen.

Memberi uang  untuk keluarga memang menjadi tradisi bagi sebagian orang Indonesia dan tak ada yang salah dengan hal tersebut. Tapi hal serupa tak semestinya diharapkan pada bule karena budaya memberi uang ke seantero dunia, seperti Olo Panggabean*, tak eksis. Ketika ada ekpektasi mereka harus menghidupi keluarga ekstra di Indonesia, beberapa memutuskan untuk balik badan dan jauh-jauh dari ide pelaminan. Ini salah satu topik sensitif yang saya tahu banyak merusak hubungan percintaan, bahkan perkawinan orang.

Hal yang juga jadi perhatian adalah ekspektasi “gaya hidup mewah” yang dianut sebagian kecil orang-orang yang memiliki pacar orang asing. Lucunya, banyak yang nodong pacar, bahkan nodong pacar bayarin makan temen-temennya hanya untuk menujukkan kekuatan ekonomi. Capek-capek kerja untuk bayarin orang satu desa.

Tukang ngelarang dan pencemburu

Harus diakui memang di Indonesia punya pasangan orang asing itu pusingnya gak karu-karuan, banyak bule hunter yang berkeliaran dimana-mana yang siap menyergap bule, baik yang masih lajang, suami orang, masih muda atau yang sudah tua banget sekalipun. Mereka tersebar dimana-mana, dari tempat fotokopi hingga hotel dan restaurant mewah.  Tapi bukan berarti ini menjadi alasan untuk cemburu lalu melarang dan tentunya mengekang.

Konsep cemburu juga seringkali dilencengkan sebagai bukti cinta, padahal, bagi kebanyakan warga dunia cemburu adalah perwujudan rasa tidak aman yang tak semestinya dipupuk. Cemburu sedikit mungkin bisa dianggap sebagai hal yang lumrah, tapi cemburu berlebihan apalagi cemburu dengan masa lalu bikin hubungan runyam. Parahnya, kecemburuan ini seringkali diikuti dengan stalking dan snooping sungguh bikin pria makin cepet kaburnya.

Sebenarnya ada pertanyaan besar yang patut ditanyakan sebelum mengajak mereka ke pelaminan, kenapa sih mesti buru-buru? Takut hilang? Kalau memang jodoh tak kemana-mana kok.

xoxo,
Tjetje
*Olo Panggabean: raja judi dari Medan yang terkenal sangat dermawan. 

Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak

Selamat tahun baru, kali ini saya datang kembali untuk membangunkan para bule hunter dari mimpinya, terutama mereka yang bermimpi tinggal di luar negeri. Beneran lho ada yang mimpi pengen tinggal di luar negeri, lalu buntutnya cari bule karena di luar negeri dianggap lebih enak ketimbang di Indonesia. Ealah kasihan bener cari pria kok buat batu loncatan ke luar negeri. shallow.  Entah darimana sumber mimpi ini, tapi perkiraan saya media seperti televisi dan sosial media yang menggambarkan sudut-sudut yang indah saja membuat negara barat terkesan lebih wah. Akibatnya banyak yang kemudian bermimpi untuk menjadi nyonya-nyonya besar di negara orang sambil menenteng tas bermerek bak Syahrini.  Bahkan, di abad ke 21 ini masih banyak yang berpikiran hidup di luar negeri itu mengangkat derajat gengsi dan martabat.

Kebiasaan mengagungkan luar negeri dan orang-orang di dalamnya secara tak langsung merendahkan negeri kita sendiri. Benar memang, ada hal-hal tertentu yang lebih baik di luar negeri, tapi bukan berarti kawin dengan bule dan tinggal di luar negeri itu bisa seenak para nyai-nyai di jaman penjajahan. Kata suami saya sih, para bule hunter jangan sampai matanya tak bisa melihat realita kerasnya hidup di luar negeri karena fantasi tinggal di luar negeri yang terlalu muluk-muluk.

Salju itu jorok dan ngerepoti

Luar negeri itu katanya cantik karena saat musim dingin tertutupi salju yang putih. Wajar banyak yang penasaran pengen main salju, karena di Indonesia gak ada salju. But let me tell you something, salju yang cantik itu begitu meleleh jadi jorok, licin, membahayakan dan yang paling penting ngerepotin. Silahkan digoogle kalau gak percaya.

Lebih gak enak lagi kalau gak punya garasi dan mesti parkir di luar rumah. Tiap malam mesti nginget-nginget mobil diparkir di mana, begitu pagi datang harus bawa shovel untuk bersihin salju. Sambil ngebersihin salju mesti berdoa, supaya mobil yang dibersihkan bukan mobil tetangga. Itupun sambil berharap engga kepleset es.

everyday-im-shoveling

photo: weknowmemes.com

Shaun the sheep

Di Indonesia urusan pakaian itu gampang dan santai, saking santainya, belanja di supermarket pun bisa pakai daster dan sandal jepit, selama gak malu. Di luar negeri yang sering diagungkan ini, pakai baju saat musim dingin itu mesti berlapis-lapis. Akibatnya badan jadi menggelembung karena kebanyakan lapisan dan tentunya makin mirip dengan shaun the sheep, apalagi kalau ketumpahan salju. Masang pakaian berlapis-lapis itu ribet, harus ektra beberapa menit. Belum lagi jalan dengan badan menggelembung dan harus melawan angin. Berat neng.. berat…. Pilihan untuk pakai baju yang lebih santai juga gak mungkin, salah pakai baju bisa menggigil kedinginan. Sementara kalau kelebihan lapisan, bisa kepanasan macam ayam di dalam oven. Masih mikir tinggal di luar negeri enak?

i-love-winter

Jemuran

Di negeri sendiri, jemur baju sejam dua jam sudah pasti kering. Di luar negeri, jemur baju itu pakai deg-degan, apalagi di negeri yang cuacanya berubah terus menerus. Matahari bisa bersinar super cerah, semua jemuran dikeluarin. Eh dalam sekedipan mata, hujan turun dengan derasnya. Kalau sudah gini, mau diambil mesti mikir-mikir karena keluar rumah, walaupun ke jemuran doang mesti berubah jadi Shaun the Sheep. Pasang jaket, pasang sepatu, cari kunci. Ribetlah. Kalaupun diambil, jemuran juga sudah kepalang basah lagi. Mau teriak “Mbaaaaak tolong dong jemurannya diangkat” juga gak bakalan bisa. Wong para bule itu gak semuanya bisa bayar pekerja rumah tangga. Baju-baju itu kalau gak kering juga baunya minta ampun, biar disiram Chanel number 5 seember juga tetep bau apek.

Gak ada kopaja, taksipun mahal

Katanya hidup di luar negeri itu enak, karena sistem transportasi lebih tertata dan rapi. Duh gimana-gimana lebih enak di negeri sendiri, mau berangkat jam berapa aja pasti nemu angkutan umum. Nunggunya pun gak pakai lama-lama. Di luar negeri ketinggalan bis itu sengsara, mesti nunggu lagi sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan satu jam kemudian. To make it worse, nunggu kendaraan di halte pas musim dingin itu juga gak enak, apalagi kalau kesamber angin musim dingin yang kekuatannya dasyat. Mau naik taksi setiap saat juga mikir, bayarnya gak semurah taksi di negeri sendiri. Mau nyetir sendiri lebih mikir lagi, karena dalam kondisi berangin mobil bisa bergeser-geser sendiri.

Memburu pria berkulit putih karena mimpi untuk tinggal di luar negeri dengan bayangan hidup di luar negeri itu enak, bagi saya adalah sebuah kekonyolan dan kedangkalan pikiran. Apalagi kalau mimpi itu ditambahi dengan anggapan bahwa hidup di luar negeri itu glamor dan wah, persis seperti yang digambarkan di televisi ataupun majalah-majalah. Padahal, hidup di luar negeri jauh lebih keras ketimbang Jakarta yang segala sesuatu bisa didapat dengan mudah. Jadi sebelum memburu para bule, apalagi laki orang, untuk untuk mewujudkan mimpi tinggal di luar negeri dan menikmati hidup yang katanya enak, mendingan dipikir lagi deh. Sayangkan kalau kuku sudah rapi-rapi harus patah karena mesti cepet-cepet ngangkat jemuran?

xx,
Tjetje
Bahagia karena gak ada salju di Irlandia

Good Bye 2015, Hello 2016

The year 2015 is the year where few of my wishes (both the silly and the serious one) came true. Back to August 2014 when I attended the UNAOC Conference, I secretly wished that I could meet the first lady of that time. For me, the Instagram superstar was more interesting than any other world leaders. At exactly a year later, my wish came true. In August 2015, I had the chance to meet her and took selfie in the most stylist Javanese way. I supposed we never know how the universe works to make any dream and wish come true.

https://www.instagram.com/p/6vDoupQxvC/?taken-by=binibule

Another wish that I made is I wanted to attend upacara before leaving Indonesia. I made this silly wish because I miss the feeling of standing in an upacara. Again, I got what I wanted. My cool boss assigned me to attend Upacara Hari Pramuka in Monas. The happy me sitting in a front row until few people tapped my shoulder to tell me that the seat is reserved for someone else. Poor me, I had to flash my badge to few different people in order to tell them that I am indeed from that institution. I guess this people did not expect a young petite Indonesian lady. Perhaps, again perhaps, they were expecting someone tall with fair complexion who can’t speak an Indonesian word to sit there. Funnily, it wasn’t there first time that people doubt my affiliation during a formal event. Again, perhaps people are not aware that Indonesian woman could work in an international organisation. D’oh.

https://www.instagram.com/p/6WPFNrwxhX/?taken-by=binibule

This year, my wish to visit Banda Neira was also materialised. I received a fabulous invitation to go to a luxurious trip to see the underwater creatures and the historical places. The morning walk around the island was lovely, the underwater was superb and the seafood was just succulent. One thing that I could not forget is of course the unbroken sun that made everything so beautiful. Oh how I miss the sun! Darn it winter!

https://www.instagram.com/p/2McgaswxsI/?taken-by=binibule

The year 2015 also taught me that there is always good bye in a hello. After more than four years of working in the institution, I had to leave in order to join my other half in Ireland. It was not an easy farewell, but that’s what life is. The new life in Ireland is surprisingly an easy one, though I dearly miss the spicy food that I used to dislike. If I could share one good thing to do in the next year, is to stop gluing your eyes to your gadget and do enjoy every single second that you have with your lovely friends, family and colleagues while they are still there beside you. You never know when you have to bid them farewell and when the time arrives, it sucks!

Have a lovely New Year’s Eve Celebration everyone. I hope all your wishes come true!

Bono Mengamen di Dublin

Sebelum baca postingan ini, saya sarankan untuk baca dulu postingan ini yang membahas masalah sosial di Irlandia termasuk gelandangan. Gelandangan ini masalah sosial di banyak kota besar, termasuk di Dublin. Nah, setiap kali Natal, banyak badan amal yang mengumpulkan dana untuk para gelandangan ini, termasuk Simon Community. Mereka punya satu ritual tahunan setiap Christmas Eve yang melibatkan penyanyi Irlandia untuk mengamen. Tak hanya untuk mengumpulkan uang bagi para gelandangan, acara ngamen ini juga untuk menghibur para gelandangan supaya pada saat Christmas Eve mereka tidak kesepian.

https://www.instagram.com/p/_ruHYXwxtv/

Ngamen ini secara rutin diadakan dari jam lima hingga jam tujuh malam, di Grafton Street, shopping street-nya Dublin. Grafton Street ini mirip dengan Champs Elysee di Paris, tapi jauh lebih kecil dan tentunya dengan toko-toko yang lebih sederhana. Di sepanjang jalan yang tak boleh dilalui kendaraan ini bisa ditemukan tak hanya pusat perbelanjaan seperti Brown Thomas dan Marks and Spencer, tetapi juga toko gelato yang selalu ramai pada saat hujan sekalipun dan para pedagang bunga tradisional. Yang menarik, di ujung jalan ini terdapat gerbang St. Stephen’s Green, taman terkenal di Dublin. Nah gerbang ini mirip dengan Arc de Triompe  di Paris, hanya ukurannya jauh lebih kecil dan tentunya tak bisa dinaiki.

https://www.instagram.com/p/4FCwBRQxoM/?taken-by=binibule

Selain ukurannya, yang membedakan Grafton Street dengan Champs Elysee adalah suasananya. Grafton bagi saya jauh lebih meriah karena kehadiran para artis jalanan dan juga pengamen, dari pengamen ecek-ecek hingga pengamen yang suaranya keren. Mereka yang sudah menelurkan album pun tak segan untuk ngamen disini. Ada banyak pengamen keren di Grafton Street dan salah satu lulusan terbaiknya adalah Glen Hasard yang pernah dapat Academy Award dari film Once.

Glen Hasard dan Bono termasuk dua orang penyanyi yang rutin ngamen untuk para gelandangan. Dan jika tahun lalu Bono absen karena tangannya patah, tahun ini Bono muncul kembali ditemani dengan Glen Hasard, The Script, Ronan Keating, Hozier, Kodaline, juga Imelda May serta Liam O’Maonlai. Beberapa nama mungkin tak terdengar populer di telinga orang Indonesia, karena mereka penyanyi lokal. Para pengamen beken ini berdiri di panggung kayu yang tingginya kira-kira hanya 20 atau 30 cm. Buat saya panggung ini seadanya banget, masih bagus panggung dangdut saat 17-an di kampung-kampung di Indonesia.

Beruntungnya, saya bisa berdiri di dekat panggung karena datang sebelum Bono muncul. Begitu Bono datang, para pasukan pengaman dan Polisi (Gardai dalam bahasa Irlandia) langsung ribet meminta orang-orang untuk mundur dan menguasai pinggiran panggung. Yang lain mundur, saya pun nyelip-nyelip mendekat ke depan. Berdiri di belakang saya bayangkan tak akan menyenangkan. Selain tertutup punggung para penonton yang rata-rata jauh lebih tinggi saya mungkin tak akan bisa mendengarkan ciamiknya suara para penyanyi ini, karena mereka mengamen tanpa microphone.

Beberapa penyanyi sudah menyiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Bono misalnya menyanyikan Every Breaking Wave yang salah satu liriknya diganti dengan Grafton Street, sementara Hozier menyanyikan Take Me to the Church. Ronan Keating, yang pernah jadi asisten di sebuah toko sepatu di Grafton Street, tak menyiapkan lagu yang akan dinyanyikan. Jadi sebelum nyanyi ia masih repot nanya lagu apa yang hendak dinyanyikan. Nggak hanya Ronan, Imelda May bahkan nanya lagu ke penonton, google lirik dan nyontek dari handphone. Danny O’Donoghue, vokalis The Script pun nanya ke publik mau lagu apa lagi, sebelum akhirnya menyanyikan Hall of Fame. Nyatai dan tanpa jarak.

https://www.instagram.com/p/_r6kKawxuc/?taken-by=binibule

Pengumpulan dana sendiri dilakukan secara casual. Bahkan para artis sempat kebingungan mencari wadah untuk menampung koin. Tak ada yang merelakan topinya digunakan untuk menampung koin, karena takut topi tersebut tak dikembalikan. Baru ketika ada penonton yang memberikan tas kecil koin-koin pun dikumpulkan dan entah dari mana tiba-tiba topi Santa (yang dibenci sebagian kecil orang di Indonesia) bermunculan untuk menampung koin. Sungguh sebuah fund raising yang brilliant dan sederhana.

Postingan ini menjadi postingan terakhir dalam bahasa Indonesia di tahun 2015 ini. Tahun depan, saya akan kembali dengan tulisan “Dear Bule Hunter” edisi musim dingin yang akan muncul pada tanggal 4 Januari.

Selamat Tahun Baru 2016, apa harapanmu di 2016?

Xx,
The the

Tradisi Natal di Dublin

Setiap kali menjelang Natal di Indonesia, selalu ada keributan urusan memberi ucapan selamat Natal atau tidak kepada mereka yang merayakan hari raya Natal. Ribut-ribut ini, seingat saya tak pernah mencuat ketika saja kecil dan beranjak besar. Baru belakangan ini saja terjadi. Jengah dengernya, urusan memberi ucapan selamat Natal aja mesti ribut-ribut panjang.

Di Irlandia, untungnya, tak ada ribut-ribut memberi ucapan selamat. Yang ada semua orang repot belanja hadiah Natal, berbagi dengan charity favorit dan tentunya makan…makan…makan…makan dan makan lagi sampai perut rasanya mau meledak karena tiap hari makan besar. Selama bulan Desember ini undangan untuk makan malam memang jauh lebih banyak ketimbang bulan-bulan biasanya, persis seperti undangan buka puasa saat bulan puasa. Bedanya, porsi makan disini biasanya sudah ditentukan dan tidak buffet seperti di Indonesia. Makan malam pun termasuk makanan pembuka, makanan utama dan juga pencuci mulut, lalu ditambah dengan teh atau kopi, mince pie (pie khas Natal) serta biskuit-biskuit. Biskuit-biskuit yang disajikan di bulan ini juga berlapiskan coklat. Kaya kalori deh!

Mince Pie Telegraph

Photo courtesy of telegraph.co.uk

Selain Christmas Parties, Natal juga identik dengan tradisi mengirimkan kartu Natal. Tradisi yang di Indonesia, menurut saya, sudah punah. Dari bulan November lalu, kantor pos juga sudah memberi jadwal kapan tanggal terakhir kartu-kartu Natal bisa dikirimkan supaya kartu bisa tiba tepat waktu. Seringkali, kartu Natal juga diberikan langsung ketika bertemu. Kartu-kartu ini kemudian dipasang sebagai bagian dari hiasan Natal. Tahun ini untuk pertama kalinya saya belanja kartu Natal di Irlandia, setelah beberapa tahun sebelumnya membawa kartu dari Indonesia. Menariknya, ada banyak pilihan kartu yang dikeluarkan oleh organisasi-organisasi amal dan pilihan saya tahun ini jatuh pada Irish Cancer Society.

https://www.instagram.com/p/_XFe3Qwxus/?taken-by=binibule
Bûche de Nöel atau biasa disebut juga dengan yule log. Makanan pencuci mulut khas Natal di Perancis

Tradisi bertukar hadiah juga masih dijalankan saat Natal. Tak hanya di antara anggota keluarga dan teman, tetapi juga untuk tetangga, terutama anak-anak kecil. Saya sendiri tak kenal tetangga, jadi relatif aman dari memberi hadiah *ngeles*. Yang saya heran, memberi kado Pak Pos bukanlah hal yang umum. Padahal kalau ada orang yang pengen banget saya kadoin ya mereka. Hujan badai mereka masih tetep antar surat lho. Dedikatif bener. 

Satu hal yang khas dari pusat kota Dublin adalah Bono mengamen di jalan untuk beramal. Tak hanya Bono saja, tapi ada banyak artis-artis dari Irlandia yang mengamen di Grafton Street, jalanan terkenal yang juga pusat belanja di Irlandia. Jalanan ini pernah saya sebut dalam postingan tentang para gelandangan di sini (Kapan-kapan saya akan bercerita banyak tentang jalanan ini.). Tahun ini saya berencana untuk menonton mereka ngamen dan semoga saja cuaca Dublin yang sering hujan mengijinkan.

Bono Charity

Photo: independent.ie

Bicara tentang Natal tentunya tak bisa lupa dengan gereja yang merupakan bagian utama dari Natal. Menjelang Natal di Katedral Christchurch di Dublin, biasanya diadakan carol service untuk para anjing. Anjing-anjing, yang kebanyakan adalah anjing yang memberikan pelayanan  atau terapi serta membantu penyandang disabilitas dibawa ke Katedral untuk mendapatkan pemberkatan khusus. Tahun depan, saya sudah berencana untuk menghadiri carol service ini, walaupun tak punya anjing dan tahun ini pengen banget dikasih anjing sebagai hadiah Natal *gak bakalan terwujud*.

https://www.instagram.com/p/-62y5aQxhs/?taken-by=binibule

Menu khas Natal sendiri di Irlandia gak menarik, cenderung meh dan tidak saya nanti-nantikan. Kebanyakan keluarga menyajikan kalkun dengan ham, dikombinasikan dengan gravy, kentang tumbuk,  brussel sprouts dan yorkshire pudding. Perlu dicatat, menu makanan ini biasanya hambar, tanpa rasa. Sejujurnya Natal ini saya ingin makan nasi kuning lengkap dengan aneka lauk pauk pelengkapnya, pecel dengan mendol, atau nasi jagung dengan sayur santan dan ikan asin. *hasyeeeem*.

Selamat Natal 2015 bagi semua rekan-rekan yang merayakan.
Dari jauh saya berdoa semoga Natal di Indonesia lancar dan damai.

xx,
Tjetje
Akan kembali ngeblog tanggal 27 esok. 

Search Term Ajaib

Bagi saya, melakukan pencarian melalui google merupakan kebebasan masing-masing individu, tapi sebagai manusia saya tak tahan tak bisa tertawa (dan juga prihatin) membaca beberapa kata kunci yang ajaib. Tahun 2015 ini, search term masih tetap dihiasi dengan para bule hunter, baik perempuan maupun pria, dengan kata kunci: tante bule, bule perempuan, hingga punya istri bule dan tentunya PIN BB bule.

Ilustrasi diambil dari google

Ilustrasi diambil dari google

Masih juga ya rajin nyari PIN BB bule dan masih juga pakai blackberry. Daripada repot googling cari PIN dan gak dapat, bukankah mendingan keluar rumah, menjalin pertemanan dan membuka jaringan yang luas. Kalau emang ngebet banget pengen dapat bule, mbok ya pakai usaha sedikit yang lebih keras dari sekedar googling. Kalau perlu nongkrong di kantor-kantor imigrasi.

Selain urusan pacar bule, ada banyak search term lucu-lucu yang seperti biasa akan saya komentari dan saya jawab. Semoga mereka yang pernah googling dengan kata-kata ini kembali melakukannya dan bisa menemukan jawabannya.

Rumah di Eropa kok bagus?

Saya tak tahu apa definisi rumah bagus. Mungkin saja rumah bagus adalah rumah-rumah yang dilihat di televisi ataupun foto-foto cantik lainnya. Gambar-gambar cantik tersebut tentunya kurang menggambarkan keseluruhan kondisi sosial semua masyarakat di Eropa, terutama yang berada di kawasan rumah-rumah sosial dan bergantung pada tunjangan sosial.

Jika dibandingan dengan di Indonesia, pembangunan rumah disini, terutama di daerah perkotaan, memang lebih tertata. Jauh berbeda dengan rumah di Indonesia yang dibangun secara mencicil ketika ada kayu ataupun semen. Tapi percayalah rumah yang berantakan, yang dalamnya gak karu-karuan ada banyak. Padahal rumah di Eropa itu relatif kecil (jadi lebih mudah dibersihkan) jika dibandingkan dengan rumah-rumah di Amerika. Orang tak punya rumah di negera-negara Eropa, apalagi di Dublin, juga banyak. Baca postingan ini kalau tak percaya.

Kenapa bule susah diajak nikah

Sebab bule bukan orang Indonesia yang gerah sendiri lalu cepet-cepet kawin karena kupingnya panas keseringan disindir soal usia yang sudah di atas 25 tahun tapi belum ada “yang ngurusin”. Keputusan untuk kawin itu mesti dipikirkan dengan matang-matang dan gak asal kawin karena usia udah mendekati kepala 3. Lagipula, biaya kawinan itu tak murah, sehingga perlu dipersiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam budaya barat jarang sekali yang mengenal gotong royong Engkong, Tante, Encing, apalagi rekanan bisnis untuk bayar biaya kawinan.

Bagi bule yang memiliki pasangan dengan kewarganegaran berbeda, perkawinan juga mesti disiapkan dengan matang, apalagi jika menyangkut visa. Baru kenal dua hari, dua minggu, atau bahkan dua bulan lalu kawin, akan menjadi pertanyaan besar bagi kantor imigrasi di negara-negara tertentu. Akibatnya, kesulitan mendapatkan visa tinggal. Biaya visa juga bukan hal yang murah, apalagi bagi mereka yang memiliki pasangan orang Australia. Silahkan digoogle berapa biaya visa spouse untuk yang pasangannya orang Australia.

Menikah dengan bule yang lebih tua 30 tahun

Kalau memang mau kawin dengan orang yang usianya di atas tiga puluh tahun dan siap dengan segala tantangannya kenapa tidak? Tantangannya aneka rupa, dari mulai dilihatin orang setiap saat karena disangka bapak dan anak, dihujat karena tidak pantas bagi sebagian masyarakat, dituduh matre, hingga tantangan internal seperti beda pemikiran dan selera hingga tiga dekade. Yang satu generasi saja sering beda, apalagi yang bedanya tiga dekade. Pikirkan juga nanti orang tua manggil menantunya apa? Nggak mungkin manggil nak kan kalau umurnya sepantaran.

Screen Shot 2015-12-16 at 11.50.29

Jampi-jampi biar tidak di keluarkan dari pekerjaan

Screen Shot 2015-12-16 at 11.57.21

Dari semua search term, ini yang paling epic. Siapapun yang melakukan ini, saya sungguh salut dengan segala idenya. Sebagai hadiah, saya beri jampi-jampi yang paling mujarab. Sebelum baca jampi-jampi ini, sediakan cermin yang sudah di lap dengan kain bersih, semakin besar cerminnya juga semakin bagus. Lalu lihat baik-baik wajah di cermin tersebut sambil ucapkan jampi-jampi ini:

“Duhai segala kekuatan di muka bumi ini, berikanlah saya kemampuan untuk bekerja dengan baik. Berikanlah saya kemampuan untuk fokus bekerja dan tidak sibuk cari jampi-jampi di internet, buka-buka facebook, twitter, mainan candy crush, apalagi baca blog binibule saat jam kerja. Jauhkanlah saya dari rekan kerja yang suka buang-buang waktu dengan ngerumpi tak jelas tentang gosip kantor. Kalaupun saya melakukan hal tersebut di atas, jangan biarkan atasan saya mengetahui, apalagi orang IT yang bisa baca sejarah penggunaan internet di masing-masing komputer ”

Dasar kempluk* jaman kayak gini kok masih nyari jampi-jampi. Nyarinya pun di internet. Kalau mau nyari jampi-jampi itu modal sedikit lah ke Ki Joko Bodo atau para Ki-Ki yang lainnya.

Selamat hari Senin, habis ini libur. Hore!!!

Xx,
Tjetje
*kempluk: Bahasa Jawa yang tak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Manajemen Sampah di Dublin

Banyak orang yang berpikiran bahwa kawin dengan bule itu enak. Hidup di luar negeri juga dianggap sangat enak, tinggal leyeh-leyeh, bisa gaya-gaya pakai Fendi kayak Ibu Irina (eh membanggakan si ibu pakainya Fendi bukan LV), dan menjadi nyonya besar. Padahal, hidup di luar negeri itu tak semudah hidup di negeri sendiri karena banyak hal yang harus dipelajari, dari mulai bahasa, sistem transportasi, administrasi kependudukan hingga yang paling remeh seperti sampah.

Di Indonesia, urusan sampah tergolong mudah, plastik, kertas hingga sisa makanan dicampur semua menjadi satu. Pemilah-milahan sampah kemudian dilakukan di pusat pembuangan akhir dan melibatkan berpuluh, atau bahkan beratus-ratus pemulung. Manajemen sampah yang buruk ini tak hanya mengancam kesehatan pemulung tapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ah entah kapan Indonesia berhenti membuat gunungan sampah seperti yang diabadikan CNN ini:

a62bf32e-022e-4723-8ea8-b4be8f14a276_169

Di Dublin, saya harus ‘riset’ terlebih dahulu untuk menentukan perusahaan mana yang akan saya percaya untuk menangani urusan sampah. Ternyata, sebelum memilih perusahaan sampah, kita harus tahu dulu, berapa kira-kira sampah yang akan kita buang setiap bulannya. Dari situ, perusahaan baru bisa memberikan penawaran harga. Harganya beraneka rupa (informasi harga sengaja saya cantumkan supaya mereka yang akan pindah ke Dublin bisa membuat perkiraan biaya untuk hidup di Dublin) dari 17€ per bulan hingga 24€. Harga termahal memberikan fleksibilitas untuk membuang sampah sebanyak-banyaknya, sementara harga yang paling murah memberikan batas yang dihitung berdasarkan kilogram. Tak heran kalau kemudian banyak keluarga yang tak membeli jasa sampah dan membuang ataupun membakar sampah di lapangan-lapangan terbuka *noh bule bisa jorok juga kan!*

Kepusingan ini masih ditambah dengan urusan pemilah-milahan sampah. Di sini, sampah dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan warna. Sampah warna hijau, sampah warna coklat serta hitam. Prinsip pembagian sampah ini sebenarnya sangat sederhana, sampah hijau berarti bisa didaur ulang, sampah coklat merupakan sisa makanan yang kemungkinan bisa diolah menjadi kompos, sedangkan sampah hitam merupakan sampah yang tak bisa diapa-apakan.

Ilustrasi pembagian sampah seperti ini:

what_goes_to_my_bin

Sampah warna coklat termasuk yang termudah dipahami, karena isinya hanya kulit telur, sisa sayur, atau sisa makanan lainnya. Yang agak membingungkan adalah sampah hitam dan hijau. Tadinya saya pikir semua yang berbentuk plastik dan terlihat seperti kertas bisa didaur ulang. Tapi rupanya, wadah ayam, ikan, daging sapi ataupun daging babi yang dibeli dari supermarket tidak bisa didaur ulang (disini, wadah ikan yang dibeli di supermarket ditempatkan dalam film plastik dan tidak menggunakan Styrofoam seperti kebanyakan supermarket di Indonesia). Yang mengejutkan, gelas-gelas dari restauran cepat saji rupanya juga tak bisa didaur ulang.

Beberapa hari ini saya sudah pusing urusan sampah, karena tak ada informasi yang jelas dimana harus membuang botol-botol dan sampah kaca. Rupanya, botol-botol ini tidak termasuk dalam tiga warna tersebut. Mereka harus dikumpulkan disetorkan ke tempat tertentu. Begitu juga dengan baterai yang biasanya bisa dibuang dikotak-kotak yang disediakan di supermarket. Halah sudah bayar mahal-mahal, gak semua sampah diangkut pula.

Masing-masing rumah tangga yang berlangganan sampah mendapatkan tempat sampah beroda sesuai kebutuhan masing-masing. Pada hari-hari tertentu wheelie bins ini akan diambil isinya. Hebatnya, jadwal pengambilan sampah selama satu tahun ke depan sudah dibagikan dan satu hari sebelum pengumpulan sampah ada sms yang mengingatkan. Dalam satu bulan, sampah ini hanya dikumpulkan sebanyak dua atau tiga kali saja dan petugasnya muncul sesuka hati, kadang pagi sekali, kadang siang sekali. Makanya, wheelie bins ini harus dikeluarkan malam hari, supaya tak ketinggalan truk penjemput sampah. Yang tak menggenakkan, ketika ada angin kencang, tempat sampah ini bisa berterbangan. Satu kebiasaan yang sudah lama saya terapkan dan ternyata berguna adalah meremas botol hingga pipih (botol plastik tentunya, bukan botol kaca #bukanAhliDebus) dan melipat-lipat kertas. Kebiasaan ini membuat kapasitas tempat sampah bisa maksimal.

Ketika tahu betapa ribetnya urusan sampah di Dublin, saya kemudian baru paham kenapa ada orang yang kreatif bikin tempat sampah keren seperti ini:

24758_4

Tempat sampah cantik yang dilengkapi dengan pengharum ini dijual di Brown Thomas, departemen store, terkemuka di Dublin seharga 300€ saja. Sementara di Amazon UK, tempat sampah ini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah. Ah coba apa tempat sampah ini ada di Indonesia, pasti KWnya sudah berkeliaran dibawa para pedagang ember plastik yang sering teriak-teriak di depan rumah sambil menghantam-hantamkan dagangannya sambil berteriak: “anti pecah, anti pecah”.

Bagaimana kalian memilah sampah?

xx,
Tjetje

Sarapan Pagi Khas Irlandia

Banyak yang penasaran orang bule makannya apa dan seringkali mereka googling lalu nyasar ke blog ini. Daripada tak mendapatkan jawaban, maka ada baiknya saya berbagi tentang sarapan orang Irlandia. Selain kentang, orang bule juga makan nasi, pasta, mie dan juga roti. Mereka tak selalu makan roti, karena dunia sudah lebih terbuka dan kuliner negara-negara lain bisa ditemukan dimana pun dengan mudahnya. Bahkan, mencari restauran Indonesia di Irlandia pun bisa. Tapi rasanya ya gak sama kayak rasa warteg yang lebih menggigit, karena kebanyakan micin.

Bicara tentang makanan tak bisa lepas dari sarapan, makanan paling penting untuk tubuh. Di Irlandia, sarapan yang cukup terkenal adalah full Irish breakfast. Sarapan tersebut terlihat seperti ini:

https://www.instagram.com/p/77VSnWQxun/?taken-by=binibule

Sarapan porsi jumbo ini berisi rasher, atau bacon goreng (ada di bawah roti), sosis Irlandia (Irish sausage) serta puding hitam dan putih (black and white pudding) yang juga digoreng. Di foto tersebut tidak ada gambar pudding karena saya kurang suka. Kemudian ada tomat yang dipanggang, disertai dengan telur yang dimasak sesuai keinginan (bisa diorak-arik, atau telur mata sapi; jangan harap bisa dapat telur mata sapi yang super matang ya), serta ‘oseng-oseng jamur’. Tak lupa disertakan juga kacang merah (beans) serta roti (biasanya soda bread) untuk menemani keriuhan piring di pagi hari. Beberapa tempat juga suka menyajikan hash brown potato, kentang pipih berbentuk oval yang digoreng. Supaya tidak tersedak, karena kebanyakan minyak di dalam sarapan ini, segelas kopi dengan susu ataupun teh dengan susu disajikan untuk menyempurnakan. Terkadang segelas jus jeruk juga ikut menemani.

Ada sedikit kemiripan antara orang Irlandia dengan orang Indonesia untuk urusan sarapan, yaitu sama-sama sarapan gorengan. Bedanya, di Indonesia yang digoreng adalah tahu, pisang, aci, ataupun bakwan. Dan tentunya, gorengan di Irlandia tidak dibungkus kertas bekas, apalagi digoreng minyak yang bercampur plastik.

Bagi orang Indonesia, porsi sarapan orang Irlandia memang luar biasa. Porsi seperti ini bahkan mengalahkan porsi kuli. Namun harus dipahami bahwa orang Irlandia, terutama di masa lalu, kebanyakan bertani, sehingga memerlukan energi yang luar biasa untuk bisa melakukan pekerjaannya. Apalagi, cuaca di Irlandia cenderung dingin. Walaupun sarapannya jumbo, makan siang bagi orang Irlandia cenderung porsi kecil, hanya roti lapis yang berisikan ham, telur, tuna, ataupun sedikit ayam.  Baru pada saat makan malam mereka bisa makan dalam porsi yang agak besar. Sebagai ilustrasi, foto di bawah ini menggambarkan makan siang saya:

https://www.instagram.com/p/3_enxrQxtw/?taken-by=binibule

Tidak setiap hari orang Irlandia sarapan pagi seperti itu. Wah kalau seluruh Irlandia sarapan seperti itu otomatis rumah sakit akan dipenuhi dengan pasien-pasien sakit jantung karena ada serangan jantung nasional. Sarapan  mereka tak jauh-jauh dari sereal, roti dengan selai dan juga buah-buahan. Tapi yang saya perhatikan, menu yang ditawarkan pada saat sarapan pagi di hotel-hotel di Irlandia, dari B&B sampai hotel berbintang hanya  Irish Breakfast (full ataupun mini; porsi mini biasanya  lebih bersahabat), sereal, atau buah-buahan (dan seringkali buah kaleng). Jauh berbeda dengan sarapan pagi di hotel-hotel di Indonesia yang berlimpah dan kadang ditemani dengan nasi liwet, soto Banjar, nasi pecel, bubur ayam atau aneka rupa makanan nusantara yang menggiurkan.

Sarapan khas Irlandia ini tak hanya ditemui di hotel-hotel, tapi juga di pub, ataupun cafe-cafe kecil. Harga yang ditawarkan beraneka rupa, dimulai dari harga sekitar 7€ hingga puluhan Euro. Salah satu pemecah rekor untuk Irish breakfast termahal adalah Westbury Hotel yang menawarkan sarapan dengan harga 25€ saja. Sudah mahal, kopinya pun tak gratis.

Tulisan ini diinspirasi oleh Zilko yang baru saja berkunjung ke Irlandia Utara (Terimakasih Zilko). Di Belfast, Zilko menikmati sarapan pagi serupa yang disebut ulster fry. Yang membedakan ulster fry dengan Irish Breakfast adalah roti yang menyertainya. Ulster Fry diberi soda bread yang dipanggang dan berbentuh pipih yang lazim disebut sebagai griddle bread. Pada prinsipnya griddle bread ini bahannya sama dengan soda bread, hanya proses pemanggangannya dan bentuknya saja yang berbeda. Tak heran kalau griddle bread sering disebut juga sebagai soda bread. Silahkan tengok postingan Zilko di pranala ini.

Sarapan apa tadi pagi?

xx,

Tjetje

Sarapan soto ayam